Pariwisata: Kualitatif atau Kuantitatif?

QUALITATIVE OR QUANTITATIVE

TOURISM INDUSTRY ANALYSIS

(Data Analysis)
Tourism Method Research

 

Oleh

I GUSTI BAGUS RAI UTAMA

NIM:10907710010

MAHASISWA PROGRAM PASCA SARJANA

s3 doktor pariwisata

Universitas Udayana

DENPASAR

2011

 

  1. Pendahuluan

 

1.1 Paradigma

Di tengah perdebatan tentang kemandirian pariwisata sebagai sebuah ilmu mandiri, banyak kalangan bertanya-tanya, paradigma mana yang dipakai oleh pariwisata dalam memilih alat analisis untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi pada pariwisata. Ada yang berpendapat bahwa ilmu pariwisata menggunakan paradigma ilmu social dan ada pula yang menggunakan peradigma semi sain yakni ilmu ekonomi yang cenderung lebih mengarah kuantitatif.

 

1.2 Ontologi

Aspek ontologi dari ilmu pariwisata menguak hakekat perjalanan wisata, gejala-gejala pariwisata, karakteristik wisatawan, prasarana dan sarana wisata, tempat-tempat serta daya tarik destinasi yang dikunjungi, sistem dan organisasi, dan kegiatan bisnis terkait, serta komponen pendukung di daerah asal maupun di sebuah destinasi wisata.

 

1.3  Aksiologi

Sementara aspek aksiologi dari ilmu pariwisata adalah memberikan manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Perjalanan dan pergerakan wisatawan adalah salah satu bentuk kegiatan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang beragam, baik dalam bentuk pengalaman, pencerahan, penyegaran fisik dan psikis maupun dalam bentuk aktualisasi diri.

Sementara kontribusi pariwisata untuk pembangunan ekonomi pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir.

Lebih lanjut, menurut UN-WTO, pariwisata telah menjadi industri terbesar dan memperlihatkan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun. Kontribusi pariwisata yang lebih konkret bagi kesejahteraan manusia dapat dilihat dari implikasi-implikasi pergerakan wisatawan, seperti meningkatnya kegiatan ekonomi, pemahaman terhadap budaya yang berbeda, pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan manusia.

 

1.4  Epistimologi

Namun Aspek epistemologi ilmu pariwisata dapat ditunjukkan pada cara-cara pariwisata memperoleh kebenaran ilmiah, objek ilmu pariwisata  didasarkan pada logika berpikir yang rasional dan dapat diuji secara empirik. Dalam memperoleh kebenaran ilmiah dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan kualitatif atau kuantitatif dan atau sangat tergantung dengan permasalahan yang akan dipecahkan, tapi pada ilmu pariwisata itu sendiri, pendekatan pemecahan permasalahan pariwisata dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yakni:

(1)        Pendekatan system: Pendekatan ini menekankan bahwa pergerakan wisatawan, aktivitas masyarakat yang memfasilitasi serta implikasi kedua-duanya terhadap kehidupan masyarakat luas merupakan kesatuan yang saling berhubungan “linked system” dan saling mempengaruhi. Setiap terjadinya pergerakan wisatawan akan diikuti dengan penyediaan fasilitas wisata dan interaksi keduanya akan menimbulkan pengaruh logis di bidang ekonomi, social, budaya, ekologi, bahkan politik. Sehingga, pariwisata sebagai suatu system akan digerakkan oleh dinamika subsistemnya, seperti pasar, produk, dan pemasaran. Pendelatan yang kedua, yakni; (2)            Pendekatan Kelembagaan: Pendekatan kelembagaan adalah dimana setiap perjalanan wisata akan melibatkan wisatawan sebagai konsumen, penyedia sebagai supplier jasa transportasi, penyedia jasa akomodasi atau penginapan, serta kemasan atraksi atau daya tarik wisata. Kesemua komponen ini memiliki hubungan fungsional yang menyebabkan terjadinya kegiatan perjalanan wisata, dan jika salah satu dari komponen di atas tidak menjalankan fungsinya maka kegiatan perjalanan tidak akan berlangsung. Dan pendekatan yang terakhir adalah (3)        Pendekatan Produk: Pendekatan yang digunakan untuk mengkategorikan bahwa pariwisata sebagai suatu komoditas yang dapat dijelaskan aspek-aspeknya yang sengaja diciptakan untuk merespon kebutuhan masyarakat. Pariwisata adalah sebuah produk kesatuan totalitas dari empat aspek dasar yakni; Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus dipenuhi produk pariwisata sebagai sebuah totalitas produk, yakni: (1)Attractions (daya tarik); (2)Accesability (transportasi); (3)Amenities (fasilitas); (4)Ancillary (kelembagaan)

Sedangkan metode yang dapat digunakan untuk mencari kebenaran ilmiah ilmu pariwisata seperti (1) metode eksploratif dari jenis penelitian eksploratori (exploratory research) dan metode membangun teori (theory-building research) (2) kuantitatif (3) kualitatif (4) studi komparatif (5) eksploratif (6) deskriptif dan metode lainnya sesuai dengan permasalah dan tujuan penelitiannya.

 

  1. Pembahasan: Tourism, Qualitative or Quantitative?

2.1 Qualitative is Social Approach

2.1.1 Filosofis

Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan atau tidak mendalam. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas.

Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (creswell, 1998:15). Sementara menurut Bogdan dan taylor (moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Lebih lanjut, penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.

2.1.2 Jenis-jenis Penelitian Kualitatif dan Analisis Datanya

Penelitian kualitatif saat ini dikelompokkan menjadi lima jenis penelitian, yaitu:

  1. Biografi

Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri. Sedangkan teknik analisis data jenis Biografi dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:

  1. Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.
  2. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
  3. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.
  4. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
  5. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
  6. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.

  1. Fenomenologi

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. Sedangkan teknik analisis data jenis Fenomenologi dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:

  1. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
  2. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
  3. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).
  4. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
  5. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).
  6. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.
  7. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.

 

  1. Grounded theory

Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari. Sedangkan teknik analisis data jenis grounded theory dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:

  1. Mengorganisir data
  2. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
  3. Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.
  4. Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.
  5. Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.
  6. Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.

 

  1. Etnografi

Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok. Sedangkan teknik analisis data jenis Etnografi dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:

  1. Mengorganisir file.
  2. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
  3. Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.
  4. Menginterpretasi penemuan.
  5. Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.

  1. Studi kasus

Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu. Sedangkan teknik analisis data jenis Studi Kasus dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:

  1. Mengorganisir informasi.
  2. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
  3. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
  4. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
  5. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.
  6. Menyajikan secara naratif.

2.2 Quantitative is Business Approach

2.2.1 Pendekatan Analisis Ekonomi

Sampai saat ini, pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara, tanpa terkecuali di Indonesia.

Seiring dengan hal di atas, menurut IUOTO (International Union of Official Travel Organization) yang dikutip oleh Spillane (1993), pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara karena delapan alasan utama seperti berikut ini: (1)Pariwisata sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3)Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinnasi. (5)Penghasil devisa. (6)Pemicu perdagangan international. (7)Pemicu pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal dan santun, dan (8)Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi.

Berdasarkan uraian di atas, masih banyak anggapan bahwa pariwisata hanya sebuah bagian dari spectrum pembangunan ekonomi, yang lebih cocok di pelajari dan dianalisis dengan pendekatan analisis yang sudah lazim digunakan pada ilmu ekonomi karena untuk mengukur posisi pariwisata sebagai sebuah industry relative masih sangat sulit (Hara, 2008:1)

2.2.2 Quantitative Tourism Industry Analysis

Menurut (Bendesa, 2010), Metode Kuantitatif merupakan alat analisis yang dapat membantu pelaku usaha dalam dunia bisnis termasuk bisnis pariwisata dalam pengambilan keputusan karena keputusan dalam dunia bisnis dapat dalam bentuk atau berkaitan dengan, antara lain: optimasi, estimasi, identifikasi, maupun eksplorasi masalah yang dihadapi. Sedanghkan  alat analisis lebih bersifat terapan sehingga metode kuantitatif lebih merupakan unifikasi antara alat dengan teori ekonomi dan manajemen.

Sementara Hara (2008) telah membukukan beberapa teknik analisis yang semestinya, Berbagai teknik analisis kuantitatif, yaitu sering berkaitan dan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensia, yang terdiri dari statistik non parametrik, statistik parametrik, ekonometrika persamaan tunggal dan simultan, dan model-model makro regional, yaitu model  Input-Output Leontief regional dan Interregional atau sekarang dikenal dengan istilah Tourism Satellite Account (TSA), model Social Accounting Matrix regional dan interegional (SAM), dan sebagainya. Alat analisis yang popular digunakan untuk memecahkan masalah-masalah quantitative pariwisata, diantaranya adalah:

 

  1. Input-Output Analysis

Heng dan Low (1990) menjelaskan bahwa pada tataran praktis, Input-Output Analysis  adalah alat analisis yang sangat baik untuk mengukur dampak pariwisata.

“Heng and Low (1990) illustrates well the type of practical use which can be made of input-output analysis in considering the impact of tourism

 

Input-output sebenarnya  menangkap potret perekonomian suatu wilayah melalui aliran inter-industri pada periode waktu tertentu, dengan menggunakan prinsip keseimbangan umum (General Equilibrium) artinya jika terjadi ketidakseimbangan atau keseimbangan di satu sektor akan berpengaruh terhadap ketidakseimbangan atau keseimbangan sektor lainnya.

 

  1. Social Accounting Matrix Model

West (1993) berpendapat bahwa SAM atau social accounting matrix sangat tepat untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu.

“West (1993) uses a Social Accounting Matrix (SAM) to overcome the first problem and an integrated model to allow for changes in the relationship with the passage of time”

 

Dia mengganggap bahwa analisis input-output dianggap belum mampu memecahkan persoalan dampak pariwisata karena hanya mengukur hubungan produser dengan produser dan tidak menyertakan perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor publik lainnya. Sepintas Nampak bahwa SAM hanya sekedar perluasan alat analisis dari I-O namun sebenarnya tidak sesederhana itu.

“The importance of SAM derives not only from the point that it is  a technical expansions of the I-O, but from point that additional wealth of data can be turned into highly useful information for development of national or regional economy” (Hara, 2008:116)

Menurut Hara (2008: 116) menjelaskan bahwa SAM memang menyertakan model I-O namun SAM bukan sekedar perluasan dari I-O namun lebih daripada sekedar perluasan, dimana SAM mampu memberikan gambaran yang lebih luas tentang analisis tingkat kesejahteraan sebuah Negara atau regional , dan menyertakan institusi, aktivitas produksi, dan factor-faktor produksi.

 

  1. Tourism Satellite Account

“The purpose of a tourism satellite account is to analyze in detail all the aspects of demand for goods and services associated with the activity of visitors; to observe the operational interface with the supply of such goods and services within the economy; and to describe how this supply interacts with other economic activities” (TSA: RMF 2008)

 

Tujuan dari TSA adalah untuk menganalisis secara rinci terhadap semua variabel permintaan barang dan jasa yang berkaitan dengan aktivitas wisatawan  pada suatu destinasi. TSA juga untuk mengamati variabel lainnya seperti penyediaan sarana, barang dan jasa yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi lainnya.

Our team possesses particular experience developing Tourism Satellite Accounts (TSAs) as ratified by the UN as the global standard for measuring the economic value of tourism. Our staff has implemented Tourism Satellite Account research for over two-dozen clients over the past decade, significantly raising the profile and understanding of tourism’s role in the economy.” (Tourism Economics, Inc, 2011)

 

Menurut (Tourism Economics, Inc, 2011) bahwa TSA telah diratifikasi oleh United Nation sebagai alat analisis yang berstandar global untuk mengukur economic value dari pariwisata, TSA sampai saat ini telah banyak diterapkan pada dunia penelitian untuk mengukur peranan pariwisata dalam perekonomian. Model TSA yang telah diratifikasi oleh UN dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Jadi pada prinsifnya TSA adalah alat analisis yang menganalisis terhadap variable-variabel permintaan dan penawaran pariwisata beserta dengan variable bisnis terkait langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas pariwisata dan kegiatan ekonomi di suatu destinasi (provinsi, atau Negara) pariwisata, dan telah diratifikasi oleh United Nation sebagai alat analisis resmi untuk mengukur peran pariwisata dalam pembangunan ekonomi negara atau regional.

 

  1. Social cost-benefit analysis

Archer dan Cooper (1994), berpendapat bahwa: penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harus menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya.

“Impact analysis can be extended to other dimensions as summarised by Archer and Cooper (1994) including social cost-benefit analysis”

 

Dan social cost-benefit analysis mestinya digunakan, menurutnya untuk mengukur manfaat dan dampak pariwisata bukanlah pekerjaan yang mudah karena tidak sekedar menghitung dampak ekonomi hanya dengan mencari multiplier efeknya saja.

 

  1. 3. Penutup

Thomas D.Cook and Charles Reichardt (1978) menyatakan  “to the conclusion that qualitative and quantitative methods themselves can never be used together. Since the methods are  linked to defferent paradigms and since one must choose between mutually exclusive and antagonistic world views, one must  also choose between the methods type”

Sampai pada kesimpulan bahwa metode kualitatif dan kuantitatif sendiri tidak pernah dapat digunakan bersama-sama. Karena metode yang terkait dengan paradigma defferent dan karena kita harus memilih antara pandangan dunia yang saling eksklusif dan antagonis views, orang juga harus memilih antara jenis metode. Perbedaan yang paling menonjol adalah perbedaan aksioma, proses penelitian, dan karakteristik penelitiannya,

Pada konteks Pariwisata, kedua paradigma baik qualitative maupun quantitative dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan pariwisata dan pemilihan paradigma tersebut sangat tergantung dengan proposisi maupun hipotesisnya, sehingga ada keharusan untuk memilih satu diantara dua paradigma tersebut karena pada prinsifnya kedua paradigma tersebut tidak dapat digabung “mixing” namun hanya dapat digunakan secara bergantian khususnya yang berhubungan dengan teknik penelitiannya dan sifatnya saling melengkapi.

Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Peneliti akan membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15).

Sementara Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, dan pendekatan kualitatif sangat mungkin digunakan untuk memecahkan masalah pariwisata karena pada hakekatnya pariwisata mendalami hakekat perjalanan wisata yang  dilakukan oleh manusia.

Sementara, masih banyak anggapan bahwa masih relatif sulit memposisikan pariwisata sebagai entitas industri secara mandiri, karena masih terlalu banyak terkait dengan  entitas lainnya sehingga teknik analisis kuantitatif lebih sering dipakai untuk memecahkan masalah pariwisata. Analisis kuantitatif yang berkaitan sering menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensia, yang terdiri dari statistik non parametrik, statistik parametrik, ekonometrika persamaan tunggal dan simultan.

Acapkali masalah-masalah pariwisata sering dikaitkan dengan masalah makro ekonomi sehingga lahirlah model-model makro regional, seperti model  Input-Output Leontief regional dan Interregional atau sekarang dikenal dengan istilah Tourism Satellite Account (TSA), model Social Accounting Matrix regional dan interegional (SAM), dan sebagainya.

Bahkan  Hara (2008) menjelaskan bahwa masih sangat diperlukan adanya penemuan-penemuan baru yang berhubungan dengan analisis data kuantaitatif yang berhubungan dengan pemecahan masalah-masalah pariwisata dan peranannya untuk pembangunan. Dia mendiskripsikan bahwa perlu ada alat analisis yang mengukur dampak pariwisata terhadap pengentasan kemiskinan “poverty alleviation effects of tourism as an industry” dan juga diperlukan model analisis dampak lingkungan dari pembangunan pariwisata “modeling environmental effect of industrial activities”.

 

 

 

Daftar Pustaka

Archer, B. and Cooper, C. (1994) “The Positive and Negative Impacts of Tourism”. Pp. 73-91 in W.F. Theobald (ed.) Global Tourism: The Next Decade, Butterworth-Heinemann, Oxford.

 

Archer, B.H. (1982) “The Value of Multipliers and the Policy Implications”, Tourism

 

Bungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta.
Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT Rajagrafindo Persada: Jakarta.

 

Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design. Sage Publications, Inc: California.

 

Fletcher, J.E. (1989) “Input-Output Analysis and Tourism Impact Studies”, Annals of Tourism Research, 16, 514-529.

 

Heng, T.M. and Low, L. (1990) “Economic Impact of Tourism in Singapore”, Annals of Tourism Research, 17, 246-269. Management, 3(4), 236-241.

 

Sinclair, M.T. (1991) “The Economics of Tourism”. Pp.1-27 in C.P. Cooper and A. Lockwood (Eds) Progress in Tourism, Recreation and Hospitality Management, 3, John Wiley, Chichester, UK.

 

Spillane, James.1993. Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.Yogyakarta: Kanisius.

Tourism Vision 2020 – UNWTO: pada http://pandeputusetiawan.wordpress.com

 

Tourism Economic Impact: Tourism Satellite Accounts (TSAs) as ratified by the UN as the global standard for measuring the economic value of tourism, retriave on 3rd April 2011 from http://www.tourismeconomics.com/services-economic-impact.php

 

United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on April 11, 2011, in Journal. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: