PENGEMBANGAN ECO-TOURISM UNTUK KONSERVASI SUMBER DAYA ALAMIAH DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG

PENGEMBANGAN ECO-TOURISM UNTUK KONSERVASI SUMBER DAYA ALAMIAH DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG

(Analisis Tourist Area Life Cycle, Index of Irritation, dan SWOT)

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana

Abstract

Tourism development in three case studies has got a rejection from the local community due to lack of information regarding the intent and purpose of an alternative offer. Tourist Area Analysis lifecyle, Indext of Irritation, and SWOT is used to analize each of the destinations. Wildlife tourism destinations in Zimbabwe put on involment or engagement phase and phase antagonism when using the analytical index of irritation. While the development of alternative Photo Safari Tourism in Kenya, put the destination on the development phase and the antagonism phase because of an open rejection by the local community so that the government may be harder to negotiate an alternative tourism in order to be accepted by local communities and nature conservation purposes can be implemented. SWOT Analysis is used to describe the strengths and weaknesses of each destination, in the three destinations that have the power of nature resources. The weaknessess occurred almost evenly on the weakness of local human resources, especially human well educated. While the challenge and the biggest threat happening is nature-based tourism development itself can destroy itself if not managed according to carrying capacity.

 

Keyword: Tourist Area lifecyle, Indext of Irritation, SWOT, antagonism, wildlife tourism

  1. 1.    Pendahuluan

 

1.1.Latar Belakang Masalah

[1]Pembangunan ekonomi pada negara-negara berkembang saat ini cenderung menimbulkan terjadinya kerusakan sumber daya alamiah dan di beberapa, tempat hutan-hutan ditebang tanpa terkendali, batubara diexploitasi tanpa mempertimbangkan kebutuhan masa depan, binatang liar diburu untuk keperluan bisnis sehingga terjadi kepunahan. Hutan-hutan tropis berkurang sangat drastis sehingga fungsi hutan sebagai vegetasi yang dapat meresap air hujan tidak dapat menjalankan fungsinya dengan semestinya dan akibatnya terjadilah banjir diberbagai tempat khususnya pada negara berkembang seperti Indonesia, Brazil, Banglades, dan sementara di beberapa negara di Afrika terjadi kekeringan yang berkepanjangan.

[2]Akibat kerusakan sumberdaya alamiah tersebut telah berdampak pada penduduk yang bermukim di kawasan perdesaan dan sebagian besar mereka adalah penduduk yang tergolong miskin. Terjadinya kerusakan alam, punahnya beberapa jenis binatang telah berimplikasi pada sulitnya penduduk perdesaan untuk mempertahankan hidupnya karena mereka masih sangat tergantung pada alam di sekitarnya dan sebagian besar mereka masih melakukan aktivitas berburu khususnya pada negara-negara di Afrika.

Pertanian Ladang berpindah [3](Nomadic Farm) juga menimbulkan berbagai permasalahan tersendiri bagi kerusakan hutan, dan ditambah lagi dengan penebangan hutan secara komersial [4](illegal logging) ditengarai sebagai menyebab utama rusaknya hutan-hutan pada kawasan tropis. Implikasi berikutnya adalah rusaknya habitat beberapa jenis binatang (Fauna) tertentu sehingga menimbulkan kepunahan. Praktek perdagangan binatang langka juga berakibat maraknya perburuan illegal yang memicu kepunahan.

Untuk keluar dari permasahan besar tersebut, ditawarkanlah pariwisata sebagai sektor pembangunan alternatif untuk mengurangi perusakan sumber daya alamiah (Flora dan Fauna) khususnya pembangunan pada negara-negara yang sedang berkembang. Pariwisata sebagai alternatif disebabkan oleh beberapa alasan yang rasional, menurut IUOTO (International Union of Official Travel Organization) yang dikutip oleh Spillane (1993), [5]pariwisata dikembangkan karena: (1)Pariwisata dapat sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3)Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinnasi. (5)Penghasil devisa. (6)Pemicu perdagangan international. (7)Pemicu pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal dan santun, dan (8)Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi.  Dan yang lebih penting lagi, pariwisata dapat berfungsi sebagai pelestari sumberdaya alamiah karena sektor pariwisata pada hakekatnya adalah sebuah sektor jasa yang memerlukan sedikit sumberdaya alamiah dalam proses produksinya.

 

1.2.Pariwisata Dunia

Saat ini pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara, tanpa terkecuali di Afrika. Namun pada kenyataannya, pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. [6]Pariwisata internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi tersebut meningkat 11% dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Seiring dengan hal tersebut, diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2020 akan menembus angka 1,6 miliar orang per tahun (UN-WTO, 2005) seperti nampak pada grafik.1 di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafik 1, [7]Tourism Vision 2020 – UNWTO.

 

Melihat trend positif dari pertumbuhan pariwisata global, optimisasi pembangunan pariwisata sebagai sebuah alternatif pembangunan untuk pengganti sektor agraris dan industri yang cenderung merusak sumber daya alamiah semakin mendapat sambutan yang lebih meyakinkan. Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2005, dalam Sapta, 2011:1) menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang sangat mulia dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

a)         Tujuan pemersatu dan mempererat kesatuan Bangsa karena pariwisata dianggap mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.

b)         Tujuan penghapusan kemiskinan [8](Poverty Alleviation) karena pembangunan pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharapkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapannya adalah bahwa pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.[9]

c)         Tujuan pembangunan berkesinambungan (Sustainable Development) karena dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Artinya penggunaan sumberdaya yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relative lama.

d)         Tujuan pelestarian budaya [10](Culture Preservation) dengan pembangunan kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara ataudaerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan diberbagai daerah.

e)         Tujuan pemenuhan [11]Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia: Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema paid holidays.

f)          Tujuan Peningkatan Ekonomi dan Industri; Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa.

g)         Tujuan Pengembangan Teknologi; Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya.

Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataan akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

 

1.3. Paradox Pembangunan Ekonomi

Pariwisata ditawarkan sebagai alternatif untuk keluar dari pembangunan ekonomi yang cenderung membenarkan exploitasi alam dalam meningkatkan kapasitas produksinya karena pariwisata dianggap sebagai sector pembangunan yang menganut prinsif pembangunan berkesinambungan ([12]Sustainable Development), dan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan serta pelayanan, sehingga sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini, artinya penggunaan sumberdaya yang habis pakai ([13]Un-renewable resources) cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relatif lama.

 

1.4.Tujuan dari penelitian ini adalah:

(1)   Melakukan Explorasi Informasi terhadap potensi masing-masing kawasan dengan menggunakan [14]Analisis Tourist Area Life Cycle.

(2)   Melakukan [15]Analisis Irritation Index untuk mengidentifikasi adanya kemungkinan-kemungkinan gesekan yang akan timbuk jika pariwisata dikembangkan pada masing-masing kawasan tersebut.

(3)   Melakukan Analisis SWOT untuk setiap potensi utama yang akan dikembangkan pada wilayah tersebut dengan cara menganalisis data dan informasi yang telah tersedia.

(4)   Melakukan Analisis secara general terhadap hambatan-hambatan terhadap pembangunan pariwisata dan penciptaan peluang usaha untuk mendapatkan solusi yang tepat.

(5)   Membuat Kesimpulan dan Rekomendasi secara terintegrasi dari hasil analisis yang telah dilakukan.

 

  1. 2.     Kajian Teoritis

Dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata khususnya pengembangan kawasan wisata atau obyek wisata pada umumnya mengikuti alur atau siklus kehidupan pariwisata yang lebih dikenal dengan Tourist Area Life Cycle (TLC) sehingga posisi pariwisata yang akan dikembangkan dapat diketahui dengan baik dan selanjutnya dapat ditentukan program pembangunan, pemasaran, dan sasaran dari pembangunan pariwisata tersebut dapat ditentukan dengan tepat.

 

 

 

2.1.    Tourist Area Lifecycle

Siklus hidup pariwisata pada umumnya mengacu pada konsep [16]TLC (Butler’s 80, Tourist Area Lifecycle) yang dapat dijabarkan pada Grafik 2.  (Hypothetical Evolution of a Tourist Area) sebagai berikut :

 

[17]Grafik 2.  Hypothetical Evolution of a Tourist Area.

Source: Butler, R. W. 1980. “The Concept of a Tourism Area Life Cycle of Evolution:  Implications  for Management of Resources.” The Canadian Geographer 24(1), p. 8.

 

Tahap 1.  Penemuan (Exploration)

Potensi pariwisata berada pada tahapan identifikasi dan menunjukkan destinasi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi daya tarik atau destinasi wisata karena didukung oleh keindahan alam yang masih alami, daya tarik wisata alamiah masih sangat asli, pada sisi lainnya telah ada kunjungan wisatawan dalam jumlah kecil dan mereka masih leluasa dapat bertemu dan berkomunikasi serta berinteraksi dengan penduduk local. Karakteristik ini cukup untuk dijadikan alasan pengembangan sebuah kawasan menjadi sebuah destinasi atau daya tarik wisata.

 

Tahap 2. Pelibatan (Involvement)

Pada tahap pelibatan, masyarakat lokal mengambil inisiatif dengan menyediakan berbagai pelayanan jasa untuk para wisatawan yang mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan dalam beberapa periode,. Masyarakat dan pemerintah local sudah mulai melakukan sosialiasi atau periklanan dalam skala terbatas, pada musim atau bulan atau hari-hari tertentu misalnya pada liburan sekolah terjadi kunjungan wisatawan dalam jumlah besar, dalam kondisi ini pemerintah local mengambil inisiatif untuk membangun infrastruktur pariwisata namun masih dalam skala dan jumlah yang terbatas.

 

Tahap 3. Pengembangan (Development)

Pada tahapan ini, telah terjadi kunjungan wisatawan dalam jumlah besar dan pemerintah sudah berani mengundang investor nasional atau internatsional untuk menanamkan modal di kawasan wisataw yang akan dikembangkan. Perusahaan asing (MNC) Multinational company[18]) telah beroperasi dan cenderung mengantikan perusahan local yang telah ada, artinya usaha kecil yang  dikelola oleh penduduk local mulai tersisih hal ini terjadi karena adanya tuntutan wisatawan global yang mengharapkan standar mutu yang lebih baik. Organisasi pariwisata mulai terbentuk dan menjalankan fungsinya khususnya fungsi promotif yang dilakukan bersama-sama dengan pemerintah sehingga investor asing mulai tertarik dan memilih destinasi yang ada sebagai tujuan investasinya.

 

Tahap. 4 Konsolidasi (consolidation)

Pada tahap ini, sektor pariwisata menunjukkan dominasi dalam struktur ekonomi pada suatu kawasan dan ada kecenderungan dominasi jaringan international semakin kuat memegang peranannya pada kawasan wisataw atau destinasi tersebut. Kunjungan wisatawan masih menunjukkan peningkatan yang cukup positif namun telah terjadi persaingan harga diantara perusahaan sejenis pada industri pariwisata pada kawasan tersebut. Peranan pemerintah local mulai semakin berkurang sehingga diperlukan konsolidasi untuk melakukan re-organisasional, dan balancing peran dan tugas antara sector pemerintah dan swasta.

 

Tahap. 5 Stagnasi (Stagnation)

Pada tahapan ini, angka kunjungan tertinggi telah tercapai dan beberapa periode menunjukkan angka yang cenderung stagnan. Walaupun angka kunjungan masih relative tinggi namun destinasi sebenarnya tidak menarik lagi bagi wisatawan. Wisatawan yang masih datang adalah mereka yang termasuk [19]repeater guest atau mereka yang tergolong wisatawan yang loyal dengan berbagai alasan. Program-program promosi dilakukan dengan sangat intensif namun usaha untuk mendatangkan wisatawan atau pelanggan baru sangat sulit terjadi.  Pengelolaan destinasi melampui daya dukung sehingga terjadi hal-hal negative tentang destinasi seperti kerusakan lingkungan, maraknya tindakan kriminal, persaingan harga yang tidak sehat pada industry pariwisata, dan telah terjadi degradasi budaya masyarakat lokal.

 

Tahapan. 6  Penurunan atau Peremajaan (Decline/Rejuvenation)

Setelah terjadi Stagnasi, ada  dua kemungkinan bisa terjadi pada kelangsungan sebuah destinasi. Jika tidak dilakukan usaha-usaha keluar dari tahap stagnasi, besar kemungkinan destinasi ditinggalkan oleh wisatawan dan mereka akan memilih destinasi lainnya yang dianggap lebih menarik. Destinasi hanya dikunjungi oleh wisatawan domestik saja itupun hanya ramai pada akhir pekan dan hari liburan saja. Banyak fasilitas wisata berubah fungsi menjadi fasilitas selain pariwisata. Jika Ingin Melanjutkan pariwisata?, perlu dilakukan pertimbangan dengan mengubah pemanfaatan destinasi, mencoba menyasar pasar baru, mereposisi attraksi wisata ke bentuk lainnya yang lebih menarik. Jika Manajemen Destinasi memiliki modal yang cukup?, atau ada pihak swasta yang tertarik untuk melakukan penyehatan seperti membangun atraksi man-made, usaha seperti itu dapat dilakukan, namun semua usaha belum menjamin terjadinya peremajaan.

 

2.2.Index of Irritation

Ada teknik lain yang dapat digunakan untuk menentukan perkembangan sebuah destinasi yakni [20]Index of Irritation yang terdiri dari empat tahapan atau fase yakni: Euphoria, Apathy, annoyance, dan antagonism. Metode ini lebih mengarah pada analisis social yang mengukur dampak pariwisata dari sisi social. Hasil dari analisis ini dapat mengukur perubahan perilaku masyarakat lokal terhadap kehadiran pariwisata di daerahnya.

(1)   Phase Euphoria ditandai dengan temukannya potensi pariwisata kemudian pembangunan dilakukan, para investor datang menanamkan modal dengan membangun berbagai fasilitas bisnis pendukung pariwisata, sementara wisatawan mulai berdatangan ke sebuah destinasi yang sedang dibangun, namun perencanaan dan kontrol belum sepenuhnya berjalan dengan baik.

(2)   Phase Apathy dintandai dengan adanya perencanaan terhadap destinasi khususnya berhubungan dengan aspek pemasaran termasuk promosi pariwisata. Terjadinya hubungan antara penduduk local dengan penduduk luar dengan tujuan bisnis, sementara wisatawan yang datang berusaha menemukan keistimewaan yang dimiki oleh destinasi namun tidak menemukannya.

(3)   Phase berikutnya adalah Phase Annoyance dengan ditandai terjadinya kelesuan pada pengelolaan destinasi mulai terasa atau dapat dikatakan mendekati titik jenuh. Para pemegang kebijakan mencari solusi dengan meningkatkan pembangunan infrastruktur tanpa berusaha mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke destinasi sehingga kedatangan wisatawan dianggap sudah mengganggu masyarakat local.

(4)   Phase yang terakhir dalam analisis Index of Irriatation adalah Antagonism dimana masyarakat local merasa telah terjadi gesekan social secara terbuka akibat kehadiran para wisatawan dan wisatawan dianggap sebagai penyebab dari segala permasalahan yang terjadi pada sebuah destinasi. Perencanaan pada destinasi dilakukan dengan melakukan promosi untuk mengimbangi menurunnya citra destinasi.

 

2.3.Teknik SWOT

Sedangkan Teknik yang umum dilakukan pada tahap awal pembangunan sebuah destinasi adalah [21]SWOT: Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats   sebuah analisis yang didasarkan pada evaluasi terhadap factor internal untuk melakukan identifikasi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh sebuah destinasi, kemudian analisis dilanjutkan pada evaluasi terhadap factor external untuk menentukan peluang dan ancaman yang mungkin terjadi saat ini dan saat yang akan datang. Dan sebuah Destinasi sudah berkembang, analisis SWOT dilakukan untuk merumuskan strategi baru khususnya yang berhubungan dengan strategi bersaing.

 

  1. 3.     Metode Analisis

 

Data sekunder yang tersedia di sejumlah publikasi dan laporan penelitian, menjadi sumber data utama yang akan dianalisis. Sedangkan data dan informasi yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan 3 (tiga) alat analisis yakni TLC (Tourist Area Life Cycle), Irritation Index, dan SWOT. Hasil analisis selanjutnya dibandingkan dengan teori pendukung dan hasil penelitian sebelumnya yang memiliki kesamaan dan kemiripan.

 

  1. 4.      Hasil Analisis dan Pembahasan

 

Pembahasan pada analisis ini menggunakan tiga sample destinasi dimana ketiganya termasuk dalam jenis eco-tourism. Dua diantaranya berada di Afrika yakni di Zimbabwe dan di Kenya. Sementara sebuah destinasi yang terletak di Tamil, India disertakan dalam pembahasan karena memiliki kemiripan maksud tujuan ditawarkannya sebagai sebuah Alternatif terbaik untuk pembangunan ke depan yakni pariwisata.

 

4.1.         National Park in Zimbabwe

 

Pengeloaan Taman Nasional di Zimbabwe didasarkan atas pertimbangan untuk mengindari perburuan liar yang belebihan dan tak terkontrol.  Zimbabwe telah mengalami sejarah kekerasan dan intimidasi politik. Namun demikian, ada daerah yang berhasil mengembangkan inisiatif ekonomi yang menguntungkan. Orang-orang Mahenye misalnya, merupakan contoh dari komunitas yang telah memetik manfaat dari Program Pengelolaan Sumber Daya untuk pemberdayaan masyarakat adat. Proyek pengelolaan satwa liar (Wildlife Management) melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaannya.

Gambar 1. Taman Nasional CAMPFIRE, Zimbabwe

Sumber: TED Case Studies CAMPFIRE pada http://www1.american.edu/ted/campfire.htm

Zimbabwe adalah sebuah negara yang dikelilingi oleh daratan di Afrika bagian selatan, berbatasan dengan Mozambik dan Afrika Selatan, dengan populasi sekitar 13 juta orang. Negara ini memiliki sector manufaktur yang relatif berkembang dengan baik diversifikasi pertanian, sumber daya mineral yang bervariasi dan potensi wisata alam. Meskipun kondisi ekonomi memburuk dengan cepat selama dekade terakhir (s) dengan PDB tumbuh dengan hanya 1,1%, antara 1990 dan 2003 dan PDB per kapita hanya 471 US $. Lebih dari 36% dari penduduk hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan  $/1US. Meskipun Pemerintah Presiden Mugabe sejak tahun 1990 memulai reformasi ekonomi, mereka gagal untuk menghentikan keterpurukan ekonomi terutama sebagai akibat dari pengeluaran pemerintah yang berlebihan dan korupsi yang meningkat.

[22]The CAMPFIRE project merupakan contoh pengelolaan satwa liar berbasis masyarakat. Proyek ini diimplementasikan di bangsal Mahenye, sebuah komunitas kecil yang meliputi 210 kilometer persegi di selatan-timur distrik Chipinge. The ward adalah tanah dataran sempit antara Taman Nasional Gonarezhou dan perbatasan internasional dengan Mozambik. Mahenye memiliki dua loge wisata. Daerah ini dihuni oleh sekitar 3,700 orang Shangaan. Kepadatan penduduk rendah, dengan 20 orang per kilometer persegi. Mopane dan hutan combretum menutupi sebagian besar dari dataran tersebut, dan di kelilingi Sungai, hutan lebat, bunga-bunga liar, ikan dan spesies burung. Penduduk setempat hidup dari peternakan yang dikelola secara intensif dan budidaya tanaman seperti jagung, millet sorgum, dan kacang tanah. Satwa liar merupakan aset alam penting yang menghasilkan pendapatan bagi masyarakat Mahenye. Secara politis, The ward dikelola oleh pemerintahan kabupaten dan dikelola secara mandiri pada tingkat desa. Wilayah tersebut memiliki pemerintahan sendiri yang memungkinkan orang untuk secara kolektif mengelola aset alami mereka.

Sejak di deklarasikannya Wildlife Management pada tahun 1966 oleh pemerintah kolonial, sejarah nenek moyang orang Shangaan terhapus dan digantikan sejarah taman nasional yang mereka sendiri tidak pernah mereka bayangkan. Negara pada saat ini, mengeluarkan larangan bahwa perburuan dan kepemilikan satwa liar oleh penduduk lokal adalah sebuah kejahatan, dan segala bentuk kepemilikan dan perburuan dikelola oleh Negara. Negara melarang masyarakat setempat untuk memanfaatkan satwa liar sebagai asset mata pencaharian mereka. Akibat dari intervensi pemerintah inilah yang menyebabkan terjadi konflik yang berkepanjangan. Penduduk setempat menganggap bahwa pemerintah telah merampok hak-hak mereka untuk mengelola alam mereka di mana mereka telah hidup berabad-abad sejak dari nenek moyang mereka.

Namun karena pemerintah secara terus menerus melakukan pendekatan pada penduduk local dengan bantuan Yayasan/NGO dan komite tentang pentingnya konservasi dan mensosialisasikan keuntungan-keuntungan pengelolaan satwa liar, maka saat ini pengelolaan satwa liar dapat berjalan dengan baik, dengan rincian keuntungan sebagai berikut:

Periode  tahun 1991 sampai dengan 1997, komite menerima pendapatan dari pengeloaan satwa liar yang dikelola oleh perusahaan (tabel 1). Dengan perjanjian dengan perusahaan  swasta menyatakan bahwa 15% dari pendapatan kotor perusahaan diperuntukkan bagi masyarakat. Penciptaan Kesempatan kerja baru bagi penduduk setempat di sector pariwisata.

 

Kurun waktu 1997 sebanyak 11 dari total 18 staf di Mahenye yang direkrut secara lokal.  Secara keseluruhan, kemitraan dengan perusahaan pariwisata telah menyediakan 70 jenis pekerjaan.  Komite satwa liar juga mempekerjakan staf lapangan lokal yang memantau satwa liar,  perburuan dan kegiatan safari.

Pengelolaan satwa liar juga mampu mengurangi angka kemiskinan, pariwisata mampu menggerakkan masyarakat lokal keluar dari garis kemiskinan. Distribusi pendatan dari sector pariwisata telah meningkatkan pendapatan secara positif sehingga perilaku penduduk local mulau berubah secara positif untuk menerima hadirnya dunia pariwisata di wilayahnya. Berikut rincian pendapatan yang diterima rumah tangga dari sector pariwisata pada table 2,

 

Dari beberapa paparan data sekunder di atas, maka dapat diuraikan kondisi pengelolaan satwa liar sebagai daya tarik wisata di Zimbabwe adalah sebagai berikut: Menurut Analisis Index of Irritation, pada awalnya masyarakat menolak kehadiran pariwisata dan teridentifikasi pada Phase yang terakhir dalam analisis Index of Irriatation adalah Antagonism dimana masyarakat local merasa telah terjadi gesekan social secara terbuka akibat kehadiran pariwisata dan tawaran pemerintah tentang konservasi alam dianggap dapat menyebabkan timbulnya permasalahan bagi masyarakat local. hal ini terjadi karena belum dilakukannya sosialisasi yang menyeluruh dan pola pendekatan yang digunakan pada tahap awal terkesan menggunakan unsur pemaksaan. Setelah dilakukan Perencanaan pada destinasi dilakukan dengan melakukan sosialiasi untuk mengimbangi persepsi negative penduduk local tentang kehadiran pariwisata maka pariwisata dapat membuktikan dirinya sebagai factor penggerak perekonomian penduduk local dan mereka keluar dari garis kemiskinan.

Masyarakat lokal di Zimbabwe kini justru menikmati Phase Euphoria yang ditandai dengan dikembangkannya potensi pariwisata lainnya kemudian pembangunan dapat dilakukan, para investor datang menanamkan modal dengan membangun berbagai fasilitas bisnis pendukung pariwisata seperti mobil safari, tour agency dan fasilitas lainnya, sementara wisatawan mulai berdatangan ke sebuah taman nasional tersebut namun perencanaan dan kontrol belum sepenuhnya berjalan dengan baik.

Jika dilihat dari analisis Tourist Area Life Cycle, dapat diklasifikasikan bahwa pengembangan daya tarik wisata Satwa Liar di Zimbabwe telah berada pada phase Pelibatan (Involvement) dimana Pada tahap pelibatan, masyarakat local mengambil inisiatif mau bekerja pada berbagai pelayanan jasa untuk para wisatawan yang mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan dalam beberapa periode. Masyarakat dan pemerintah lokal sudah mulai melakukan sosialiasi atau periklanan dalam skala terbatas, padalam kondisi ini pemerintah lokal bekerjasama dengan perusahaan swasta dan yayasan pecinta alam mengambil inisiatif untuk membangun infrastruktur pariwisata namun masih dalam skala dan jumlah yang terbatas. Paparan data deskriptif di atas juga memaparkan bahwa pariwisata telah mampu menggerakkan perekonomian bagi penduduk local dengan memberikan kontribusi pendapatan yang diterima langsung tiap rumah tangga dan penduduk local dilibatkan sebagai pekerja pariwisata seperti guide safari dan sebagainya.

Jika dilihat dari [23]Analisis SWOT, Zimbabwe memiliki kekuatan yang masih dapat diandalkan sebagai kekuatan pariwisata alam liar, seperti landscape dan padang gurun yang begitu luasnya dengan berbagai satwa liar yang masih hidup di dalamnya. Walaupun demikian, Zimbabwe juga memiliki kelemahan yang cukup berarti seperti ketidakstabilan politik dalam negeri, musim hujan yang tidak menentu bahkan diperiode tertentu terjadi kemarau yang berkepanjangan sehingga berpotensi matinya satwa liar karena kekurangan air seperti tampak pada Gambar

Gambar 2. Kematian Bintang Gajah pada Musim Kemarau

Sumber: TED Case Studies CAMPFIRE pada http://www1.american.edu/ted/campfire.htm

 

Lemahnya sumberdaya manusia pendukung pariwisata khususnya tenaga supervisor dan manajerial. Sedangkan tantangan yang dihadapi adalah semakin banyak Negara-negara dibelahan bumi yang lainnya termasuk juga di beberapa Negara di kawasan Afrika mulai sadar akan pentingnya konservasi dan memilih pariwisata sebagai alternative terbaik untuk melakukan konservasi dan sekaligus sebagai generator pemberdayaan masyarakat keluar dari kubangan kemiskinan, hal ini akan menjadi pesaing baru bagi Zimbabwe. Sedangkan Ancaman akan muncul berupa konflik wilayah, konflik sektoral, termasuk juga konflik pengeloaan alam liar sebagai daya tarik wisata jika tidak dikelola sesuai Carrying Capacity justru akan merusak alam dan habitatnya secara luas.

 

4.2.         Photo Safaris in Kenya

Untuk dapat mempromosikan bentuk pariwisata Photo Safari di Kenya, diperlukan stabilitas politik termasuk didalamnya kesetabilan nilai mata uang Kenya terhadap mata uang asing seperti Dollar Amerika. Keharusan berikutnya adalah ketersediaan infrastruktur pariwisata, keahlian atau ketrampilan khusus bagi para pemandu wisata. Pembangunan infrastruktur pariwisata, pembangunan penginapan, rumah sakit, pengelolaan taman nasional dalam luasan yang besar juga menjadi pertimbangan yang sangat penting untuk wisata photo safari.

Gambar 3. wisata photo safari

Sumber: http://www.safaripics.co.uk/safaris/Kenyan-safaris-handbook.pdf[24]

 

Kenya merdeka dari Inggris pada tahun 1963, Kenya terletak di garis khatulistiwa di kawasan Afrika dan dikelilingi oleh Somalia pada sebelah Timur, Ethiopia pada bagian tenggara, Sudan di bagian Utara, Uganda untuk Barat Daya, Tanzania untuk Barat dan Barat Laut dan Samudera Hindia pada bagian Selatan.

Penduduk Kenya adalah sebuah “group etnis” yang kaya terdiri dari 42 suku adat, mereka hidup bersama-sama dengan keturunan Arab, Asia dan Kaukasia. Ada dua bahasa resmi, Bahasa Inggris dan Kiswahili yang masih kebanyakan orang di Kenya berbicara dalam bahasa suku mereka khsusunya untuk komunikasi sehari-hari di rumah mereka. Pariwisata Margasatwa “Safari” adalah industri paling penting di Kenya dan tidak ada negara Afrika lainnya,  yang melibatkan banyak usaha dan sumber daya dalam melestarikan flora dan fauna.

Lahirnya Wisata Safari di Kenya terinspirasi oleh adanya perdagangan gading gajah afrika yang melibatkan jaringan pemburu internasional dan sindikat perdagangan. Pariwisata dijadikan sebuah alternative untuk mengimbangi adanya larangan terhadap aktivitas perburuan komersil dan perdagangan gading gajah. Inisiatif ini diwujudkan dengan terbentuknya Kenya Wildlife Service yang beroperasi pada Taman Nasional Kenya dan Game Reserves dan Rangers [25]KWS berada di garis depan perang melawan perburuan di seluruh Kenya. Sejak KWS dibentuk pada tahun 1990, lebih dari lima puluh Rangers telah kehilangan nyawa mereka melindungi satwa liar, flora dan geologi negeri indah ini. Memilih alternative wisata safari di Kenya tidak hanya akan mengubah hidup masyarakat, juga akan menyediakan dana untuk memungkinkan KWS untuk melanjutkan pekerjaannya dalam usaha melestarikan alam untuk masa depan kehidupan satwa, flora dan fauna.

 

Gambar 3. Kawanan Gajah pada photo safari Sumber: http://www.safaripics.co.uk/safaris/Kenyan-safaris-handbook.pdf

 

Menurut hasil investigasi yang dilakukan oleh para wisatawan dari Inggris (www.safaripics.co.uk), terdapat kelebihan dan kekurangan dari aktivitas wisata safari di Kenya yang dapat ditampilkan pada Tabel 3 berikut ini:

Tabel 3. Kelebihan dan Kekurangan Wisata Safari di Kenya

Kelebihan

  • Wisatawan dapat melihat satwa dari jarak dekat, berkemah di dalam hutan sambil menderang suara raungan bintang liar secara langsung.
  • Biaya yang relative murah dimana 3 minggu safari di Kenya setara dengan 1 minggu safari mewah di tempat lainnya.
  • Belum terlalu banyak adanya intervensi dari non photographer sehingga para wisatawan dapat mengambil photo safari secara leluasa.
  • Wisatawan dapat melihat Kenya secara nyata dan bertemu dengan masyarakat asli di sana.
  • Wisatawan dapat mengunjungi beberapa sumber daya alam safari yang memilki kelangkaan dan keunikan yang tidak ditemukan di taman nasional ditempat lainnya.
  • Perusahaan tour mempekerjakan team pemandu, yang dapat berkomunikasi satu sama lain dengan radio gelombang pendek, sehingga memungkinkan bagi mereka untuk mempercepat obyek ke Photo safari.
  • Perusahaan tour menyediakan porter untuk membawa barang-barang wisatawan, sehingga wisatawan tidak dibebani dengan barang bawaan.

 

 

Kekurangan

  • Perusahaan tour hanya menyediakan akomodasi dalam bentuk tenda statis
  • Wisata Safari adalah self-drive dan menghabiskan banyak cadangan makanan dan energy yang diperlukan untuk perjalanan panjang di jalan kurang sempurna.
  • Fasilitas toilet sangat minim ketika berkemah di alam liar di Afrika/Kenya.

Sumber: http://www.safaripics.co.uk/safaris/Kenyan-safaris-handbook.pdf

 

Jika di lihat dari karakteristik wisata safari seperti hasil investigasi oleh para wisatawan/photographer safari dari Inggris, dapat diterangkan bahwa wisata safari termasuk niche market yang lebih cenderung hanya diminati oleh wisatawan tertentu “specific interest tourist”. Wisatawan minat khusus biasanya tergolong pada allowcentris yang cenderung menerima keberadaan destinasi apa adanya, seperti tampak pada gambar 4, mereka rela tinggal di sebuah tenda.

Gambar 4. Kawanan Gajah pada photo safari Sumber: http://www.safaripics.co.uk/safaris/Kenyan-safaris-handbook.pdf

 

Jika dilihat dari analisis Tourist Area Life Cycle, dapat diklasifikasikan bahwa pengembangan daya tarik wisata Safari di Kenya telah berada pada phase Pengembangan (Development) dimana Pada tahapan ini, telah terjadi  kunjungan wisatawan dalam jumlah besar untuk ukuran wisatawan minat khusus “eco-tourist”  dan pemerintah sudah berani mengundang investor nasional atau internatsional untuk menanamkan modal di kawasan wisata  yang akan dikembangkan.  Alternatif pengembangan daya tarik wisata Photo safari agak berbeda dengan pengembangan daya tarik wisata satwa liar seperti yang dikembangkan di Zimbabwe.  Daya tarik wisata Photo Safari lebih khusus bagi  mereka “tourist” yang benar-benar tertarik dengan dunia photografi khususnya tentang kehidupan binatang liar di Kenya dengan tujuan untuk mendapatkan photo atau gambar bahkan video secara langsung. Sementara wisata satwa liar tidak terbatas untuk tourist photografi saja tetapi bagi siapa saja yang tertarik untuk melihat binatang liar.

Dampak utama dari inisiatif  konservasi satwa liar pada lembaga-lembaga lokal di Eselenkei Kenya telah meningkatkan ketegangan dalam masyarakat,  terutama antara anggota kelompok Peternakan dan berbagai kelompok lainnya seperti Kelompok Peternakan Komite, para tua-tua, orang  berpendidikan, dan lainnya. Kegiatan konservasi, dianggap membatasi ruang gerak masyarakat dalam melakukan aktivitas peternatakan dan pertanian karena luasan lahan peternakan mereka menjadi berkurang karena dicaplok menjadi lahan konservasi oleh pemerintah.

Menurut Analisis Index of Irritation, pada awalnya masyarakat menolak kehadiran pariwisata dan teridentifikasi pada Phase yang terakhir dalam analisis Index of Irriatation adalah Antagonism dimana masyarakat lokal merasa telah terjadi gesekan sosial secara terbuka akibat kehadiran pariwisata dan tawaran pemerintah tentang konservasi alam dianggap dapat menyebabkan timbulnya permasalahan bagi masyarakat local, Shift of Paradigm yang tiba-tiba juga menimbulkan gesekan. Pola pembangunan dilakukan tanpa melibatkan penduduk lokal secara maksimal sehingga dari awal pengembangan wildlife tourism di Kenya telah mengalami penolakan oleh sebagian besar masyarakat local. Pemerintah dalam hal ini Tourism sector dan departemen konservasi (KWS Kenya Wildlife Services) belum mampu memberikan lahan pencaharian baru bagi penduduk local dan pengembangan wildlife tourism “photo safari” hanya melibatkan sedikit tenaga kerja local hal ini terjadi karena karakteristik dari jenis wisata ini memerlukan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus dan orang Kenya tidak banyak yang kompeten di bidang photografi dan pemanduan wildlife tourism.

Jika dilihat dari [26]Analisis SWOT, Kenya memiliki kekuatan pariwisata alam liar berupa gajah dan binatang buas lainnya yang telah popular di dunia. Kenya juga memiki padang gurun dan hutan tropis yang luasnya dengan berbagai satwa liar yang masih hidup di dalamnya. Walaupun demikian, Kenya juga memiliki kelemahan yang cukup berarti seperti musim hujan yang tidak menentu bahkan musim tertentu terjadi kekeringan yang berkepanjangan sehingga berpotensi mematikan satwa liar karena kekurangan air. Lemahnya sumberdaya manusia pendukung pariwisata khususnya tenaga supervisor dan manajerial. Sedangkan tantangan yang dihadapi adalah semakin banyak Negara-negara dibelahan bumi yang lainnya termasuk juga di beberapa Negara di kawasan Afrika mulai sadar akan pentingnya konservasi dan memilih pariwisata sebagai alternative terbaik untuk melakukan konservasi dan sekaligus sebagai generator pemberdayaan masyarakat keluar dari kubangan kemiskinan, hal ini akan menjadi pesaing baru bagi Kenya. Sedangkan Ancaman saat ini adalah masih terjadinya konflik dalam masyarakat karena mereka memilki banyak kelompok yang berbeda kepentingan, dan ancaman lainnya akan muncul berupa konflik wilayah, konflik sektoral, termasuk juga konflik pengeloaan alam liar sebagai daya tarik wisata jika tidak dikelola sesuai Carrying Capacity justru akan merusak alam dan habitatnya secara luas.

 

4.3.         Ecotourism in The Gulf Of Mannar, Tamil Nadu, India

 

Teluk Mannar (GOM) seperti terlihat pada Gambar 5, terletak di sepanjang pantai timur negara bagian Tamil Nadu India antara pantai selatan Pulau Pamban (tempat kota suci Rameshwaram) dan Thuthukodi (Tuticorin) adalah situs dari Laut Biosphere Reserve, yang memilki 21 pulau karang dan sebuah pelabuhan yang semakin terancam keanekaragaman hayatinya,  yang telah menjadi subjek penelitian ekologi selama bertahun-tahun.

 

Gambar 5. The Gulf of Mannar

Sumber: http://salamlanka.blogspot.com/2010/06/mannar-pearl-bank-and-muslims.html

Sejak penggunaan perahu mekanik yang menggunakan metode penangkapan ikan pukat harimau diperkenalkan sekitar 50 tahun yang lalu dan karena populasi masyarakat yang tergantung pada penangkapan ikan untuk mata pencaharian mereka, dan intensitasnya telah semakin meningkat, sedangkan sumber daya laut di cagar biosfer GOM semakin di bawah tekanan.  Ikan, karang, teripang, chanks (cangkang Keong suci), sapi laut, penyu laut dan sumber daya lainnya  sekarang semakin menurun jumlah dan keragamannya, bahkan semakin beresiko atas kepunahan spesies.

Berhubungan dengan hal di atas, dianggap sangat mendesak untuk mencari sebuah pilihan baru sebagai alternative agar penduduk tidak terlalu tergantung pada aktifitas penangkapan kekayaan hayati laut khususnya masyarakat di sepanjang pantai teluk Mannar. Ekowisata dan Usaha-eko adalah sebuah pilihan yang dapat dikembangkan.

Tujuan dari penelitian ini adalah “untuk mengidentifikasi produk ekowisata apa yang sesuai dan usaha-eko yang akan menyediakan peluang pendapatan bagi nelayan local?”. Data primer yang dikumpulkan selama kunjungan 7 hari ke GOM daerah oleh interaksi dengan banyak para pemangku kepentingan yang berpotensi terlibat dan pengamatan dari beberapa bidang primer yang mungkin dikembangkan.

Data sekunder yang tersedia di sejumlah publikasi dan laporan internal, terutama yang dihasilkan oleh M.S. Swaminathan Research Foundation (MSSRF) dan Teluk Benggala Program (BOBP). Dalam konteks ini ekowisata yang dikembangkannya mengacu pada pariwisata yang berpihak pada masyarakat miskin (yaitu yang menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, budaya atau lingkungan bersih untuk orang miskin), pro-alam (misalnya menjamin pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam), partisipatif dan melibatkan pengalaman belajar/pertukaran budaya bagi pengunjung dan host.

Ekowisata ini melibatkan  tiga (3) macam jenis pariwisata lainnya, yaitu wisata pendidikan, wisata keagamaan (yang ada pasar sektor penting) dan wisata alam/rekreasi dan menggunakan istilah ‘ecotourism’ untuk jenis produk wisata yang dihasilkan.  Selain itu hasil penelitian ini mengidentifikasi peluang usaha-usaha tertentu yang dapat dikembangkan oleh masyarkat setempat yang berkaitan langsung dengan pariwisata, dan berorientasi pada mengurangi dampak negatif dari pariwisata atau mungkin pilihan mata pencaharian alternatif yang tidak terkait dengan pariwisata.Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini telah diidentifikasi terlebih dahulu dan telah dilakukan observasi terhadap aktifitas masyarakat setempat khususnya berhubungan dengan aktifitas penangkapan ikan oleh nelayan local maupun oleh nelayan professional yang menggunakan bantuan kapal bermotor.

Kajian yang dilakukan menggunakan pendekatan pembangunan ekonomi yang berbasis pemberdayaan masyarakat miskin yakni pro-poor, community base tourim, dengan mengkolaborasikan dengan bentuk dan jenis pariwisata yang pro konservasi alam yakni pendekatan ecotourism. Penulis artikel juga menawarkan beberapa jenis usaha atau bisnis kecil yang dapat dilakukan oleh penduduk local dalam mendukung pembangunan ekowisata sehingga ketergantungan penduduk terhadap eksploitasi alam dan sumberdaya hayati dapat dikurangi.

Metode dan teknik penelitian juga telah menggabungkan beberapa metode yakni metode partisipatif atau peneliti terlibat langsung, konfirmatif yakni dengan melakukan FGD atau focus group discussion sehingga mendapatkan feedback secara langsung dari para stakeholder yang dilibatkan pada penelitian tersebut. Sementara teknik analisis yang digunakan juga telah dapat menggambarkan hasil penelitian secara komprehensif walaupun masih dalam kategori deskriptif namun telah mampu mengidentifikasikan dan menentukan factor kekuatan dan kelembahan internal dari kawasan Teluk Mannar jika dikembangkan menjadi kawasan ekowisata. Selain menemukan factor kekuatan dan kelemahan internal, penelitian ini juga telah menemukan factor eksternal dengan mengidentifikasi dan menentukan peluang khususnya adanya perbaikan ekonomi masyarakat setempat dan differensiasi atau menciptaan usaha baru bagi masyarakat local dan ancaman yang mungkin akan terjadi jika ekowisata  dikembangkan.

Selain melakukan analisis SWOT, penelitian ini juga melakukan analisis kelayakan wilayah dan sekaligus melakukan prediksi terhadap beberapa kelompok pulau (21 pulau) yang tersebar di wilayah pesisir teluk Mannar, dan hasil analisis disajikan dalam bentuk tabular dan matrik yang cukup lengkap dan dapat dijadikan informasi yang sangat penting bagi pelaksana pembangunan ekowisata Teluk Mannar.

 

Hasil Analisis  SWOT pembangunan ekowisata secara umum pada 21 pulau di kawasan Teluk Mannar

Kekuatan/Strengths, yang meliputi:

  • Keindahan Alam yang mampu menarik minat wisatawan
  • Daya Tarik Agama
  • Nilai keilmuan tentang studi biologi
  • Keberadaan Usaha kecil yang telah berkembang secara informal
  • Fasilitas sebelumnya yang masih sangat mudah untuk direnovasi

Kelemahan/Weaknesses yang meliputi:

  • Sulitnya melibatkan masyarakat miskin
  • Tinggi biaya untuk melibatkan beberapa usaha kecil.
  • Kurangnya jaminan keamanan terhadap para wisatawan
  • Kurangnya fasilitas pendukung seperti jalan raya, air bersih, system pembungan sampah, dan sebagainya.
  • Kurangnya akan pengetahuan pemasaran

Peluang/Opportunities umumnya meliputi:

  • Peningkatan pengetahuan tentang kehidupan biota laut untuk masyarakat setempat
  • Mempetahankan ketrampilan dan pengehatuan yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat khususnya tentang kehidupan laut.
  • Mobilitas Sosial yang semakin dinamis
  • Fasilitas Kredit untuk usaha kecil
  • Ketersediaan tenaga pendukung yang ahli.

Ancaman/Threats meliputi:

  • Berpotensi berdampak negative terhadap kerusakan lingkungan khususnya berhubungan dengan karang laut, polusi, dan sampah dan sebagainya
  • Berpotensi adanya kurangnya perijinan pemerintah yang berwenang untuk peluang pembangunan wilayah.
  • Berpotensi terjadinya Pemanfaatan kaum miskin
  • Berpotensi mendatangkan banyak wisatawan sehingga akan melebih daya dukung wilayah.

 

Ditemukan ada tiga jenis pariwisata yang mungkin dapat dikembangkan  di kawasan Teluk Manar, yakni wisata pendidikan, wisata religious, dan wisata alam atau wisata leisure. Ketiga jenis  wisata tersebut dapat dikemas dalam beberapa bentuk yakni:

  • Wisata pendidikan yang menawarkan CD atau website interaktif, Pusat interpretasi, studi lapangan di pulau Krusadai, oceanarium (aquarium for showing marine life), student conservation volunteer holidays, improvements in CMFRI’s aquarium and museum, snronelling and diving school.
  • Wisata Religius yang menawarkan package tour of religious site, Yoga ashram development with village tourism, pilgrimage to Muniya Swami shrine on Nallathanni island, renovation of temples and tanks.
  • Wisata Alam atau Leisure Tourism yang menawarkan boat trips for snorkelling, diving or viewing through glass-bottomed boat; ecobeach resorts for village tourism.

 

Sementara Usaha pendukung pariwisata yang mungkin dikembangkan dalah sebagai berikut: Fasilitas Warnet atau Internet, Penyewaan Sepeda dan bengkelnya, pramuwisata perempuan khususnya bagi wisatawan bepergian seorang diri, koperasi nelayan yang menangani dan menampung ikan kering, kerajinan untuk souvenir, penjualan sesajen,  keranjang palma, tas, dan produk lain yang terkait pariwisata.

Walaupun penelitian ini sudah dapat memberikan gambaran dan informasi cukup lengkap namun masih menyisakan beberapa kelemahan yang sangat mungkin menjadi permasalahan baru bagi pengembangan ekowisata di masa yang akan datang. Kelemahan-kelemahan tersebut diantaranya adalah; penelitian ini belum didukung oleh data sekunder tentang dampak aktifitas para nelayan terhadap kerusakan biota laut dan sumber daya alam di wilayah tersebut. Penelitian ini juga belum didukung informasi tentang kelompok nelayan dari luar GOM teluk Mannar yang juga ikut menangkap ikan di wilayah tersebut sehingga hipotesis yang dibangun oleh peneliti sangat mungkin tidak benar. Adapun hipotesis yang dibangun adalah kerusakan biota laut dan sumberdaya hayati pada cagar alam “marine” Teluk Mannar diakibatkan oleh aktifitas nelayan local baik yang tradisional dan yang bermotor sehingga masyarakat harus diberdayakan.

Sementara jenis pariwisata yang ditawarkan yakni ekowisata juga sangat rentan terhadap perusakan alam yang lebih luas, khususnya yang berhubungan kapasitas wilayah dan daya dukung lainnya. Hipotesis tentang tawaran ekowisata dan usaha-eko mungkin akan paradox dengan idealisme konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan yang dicita-citakan.

 

 

  1. 5.     Simpulan dan Saran

 

Pembangunan ekonomi di beberapa kasus menimbulkan paradok terhadap kelestarian sumberdaya alam, baik sumberdaya alam yang dapat diperbaharui maupun yang tak dapat diperbaharui. Pembangunan ekonomi tanpa kendali hanya melahirkan hasrat exploitasi yang pastinya akan menguras sumberdaya alam khususnya yang tak dapat diperbaharui dan merusak sumberdaya hayati seperti hutan, binatang, dan biota laut. Dari tiga  studi kasus yang ditampilkan dalam laporan ini, nampak bahwa eco-tourism adalah pilihan terakhir yang dianggap dapat menyelamatkan perusakan sumberdaya hayati yang berupa satwa liar, kehidupan alam liar wildlife, biota laut, flora fauna dan sumberdaya hayati lain.

Pada awalnya, penawaran eco-tourism sebagai alternatif pada ketiga kasus tersebut, mendapat penolakan dari masyarakat lokal karena kurangnya informasi tentang maksud dan tujuan alternatif ditawarkan. Penolakan juga dapat dipicu karena masyarakat belum siap untuk terlibat dalam sektor pariwisata yang biasanya mengharuskan seseorang memiliki ketrampilan khusus.

Analisis Tourist Area lifecyle, Indext of Irritation, dan SWOT digunakan untuk menempatkan posisi masing-masing destinasi pada phase daur hidup destinasi, dimana penawaran wildlife tourism di Zimbabwe menempatkan destinasi tersebut pada phase involment atau pelibatan dan phase antagonism jika menggunakan analisis index of irritation.  Sedangkan pengembangan alternative Photo Safari Tourism di Kenya, menempatkan destinasi tersebut pada phase Development atau pengembangan, dan pada phase antagonism karena mengalami penolakan secara terbuka oleh masyarakat lokal sehingga pemerintah mungkin harus lebih keras melakukan negosiasi agar alternative tourism dapat diterima oleh masyarakat lokal dan tujuan konservasi alam dapat dilaksanakan tanpa harus mengabaikan jeritan masyarakat lokal yang hidup di sekitarnya.

Analisis SWOT digunakan untuk menguraikan kekuatan dan kelemahan masing-masing destinasi, dan ketiga destinasi tersebut memiliki kekuatan berupa alam dan sumberdaya yang tersimpan didalamnya, sementara kelemahannya hampir merata terjadi pada kelemahan sumberdaya manusia khususnya SDM local. Sedangkan tantangan dan ancaman terbesar terjadi justru pengembangan pariwisata berbasis alam itu sendiri dapat menghancurkan dirinya sendiri jika tidak dikelola sesuai carrying capacity.

 


 

Daftar Pusaka

 

A Door is Reopened to the Ivory Trade. (2011) U.S. News and World Report. 122: June 30, 1997 p4.

 

Alder, Joseph. (2011) “Should Heads Keep Rolling in Africa?.” Science 255/6 March, p1206-1207.

 

Butler, R. W. 1980. “The Concept of a Tourism Area Life Cycle of Evolution:  Implications  for Management of Resources.” The Canadian Geographer 24(1), p. 8.

 

MSSRF 1998.  Gulf of Mannar Marine Biosphere Reserve Programme. In: “Biodiversity of Gulf of Mannar Marine Biosphere Reserve.” pp. 1- 22. MSSRF Proceeding no. 24.

 

MSSRF 1999.  Gulf of Mannar: Project for promotion of  alternative livelihood options for the poor in `the vicinity of the biosphere reserve. Project document submitted to Ministry of Rural Development,  Govt. of India and UNDP.

 

Panoramic photo of elephants is courtesy of Paul MacKenzie’s webcite: Elephant Information Repository

 

Photo of ivory tusks is copyright of World Wide Fund for Nature published in “Conserving Africa’s Elephants: Current Issues and Priorities for Action”

 

Sapta Nirwandar (2011) Pembangunan Sektor Pariwisata: Di Era Otonomi Daerah, di unduh pada 21 Maret 2011 pada http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1

 

Still in Business: The Ivory Trade in Asia, Seven Years After the CITES Ban (2011) http://www.trafic.org/publications/summaries/summary_ivorytrade.htm

 

Sugal, Cheri, “Elephants of southern Africa must now pay their way.” (2011) WorldWatch. Vol. 10, (September 1997) pp. 9.

 

 

Tourism Vision 2020 – UNWTO: pada http://pandeputusetiawan.wordpress.com

 

United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid

 


[1] Magnitude of the problem

[2] Predominantly Poor people living in rural or in forested areas

[3] Nomadic Farm

[4] illegal logging

[5] IUOTO (International Union of Official Travel Organization)

[6]Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid

[7]Tourism Vision 2020 – UNWTO.

[8] Poverty Alleviation

[9] Sustainable Development

[10] Culture Preservation

[11] Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia

[12] Sustainable Development

[13] Un-renewable resources

[14] Tourist Area Life Cycle

[15] Irritation Index

[16] Tourist Area Life Cycle (TLC)

[17] Butler, R. W. 1980. “The Concept of a Tourism Area Life Cycle of Evolution:  Implications for Management of Resources.” The Canadian Geographer 24(1), p. 8.

 

[18] Multinational company: Hotel Chain, Franchising, Tour agency, etc

[19] repeater guest adalah mereka  yang tergolong wisatawan yang loyal dengan berbagai alasan

[20] Index of Irritation: Euphoria, Apathy, annoyance, dan antagonism

[21] SWOT: Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats

[22] Wildlife management in Zimbabwe pada http://povertyenvironment.net/files/CASE%20Zimbabwe.pdf

[23] TED Case Studies CAMPFIRE pada http://www1.american.edu/ted/campfire.htm

[25] KWS is Kenya Wildlife Service dibentuk pada tahun 1990 untuk melindungi satwa liar, flora dan geologi negeri Kenya.

[26] TED Case Studies CAMPFIRE pada http://www1.american.edu/ted/campfire.htm

About these ads

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 18, 2011, in Journal, Leisure. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. nice post, untuk ikut mengupayakan konservasi alam sambil berwisata silahkan klik di sini

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: