<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Leisure and Tourism</title>
	<atom:link href="http://tourismbali.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tourismbali.wordpress.com</link>
	<description>Koleksi Pribadi I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA.ILTS</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Oct 2011 11:01:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tourismbali.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/fede3e2e5f4bfb4eb205c1d44108b0fd?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Leisure and Tourism</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tourismbali.wordpress.com/osd.xml" title="Leisure and Tourism" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tourismbali.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KAJIAN DAMPAK EKONOMI DAN KEUNGGULAN PARIWISATA KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BALI</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/kajian-dampak-ekonomi-dan-keunggulan-pariwisata-kabupatenkota-di-provinsi-bali/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/kajian-dampak-ekonomi-dan-keunggulan-pariwisata-kabupatenkota-di-provinsi-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 08:04:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[DIMENSI EKONOMI PARIWISATA KAJIAN DAMPAK EKONOMI DAN KEUNGGULAN PARIWISATA KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BALI I Gusti Bagus Rai Utama Mahasiswa Program Pascasarjana S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana AbstraCt Measuring the impact of tourism on the economy is still being debated by some of economists, especially for the tourism’s economist who has conducted study about economic impact   of tourism development. While the UN-WTO stated that tourism sector is still as a leading sector of development in some countries [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=286&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">DIMENSI EKONOMI PARIWISATA</p>
<p align="center">KAJIAN DAMPAK EKONOMI DAN KEUNGGULAN PARIWISATA KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BALI</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>I Gusti Bagus Rai Utama</strong></p>
<p align="center">Mahasiswa Program Pascasarjana S3 (Doktor) Pariwisata</p>
<p align="center">Universitas Udayana</p>
<p align="center">
<p align="center">AbstraCt</p>
<p>Measuring the impact of tourism on the economy is still being debated by some of economists, especially for the tourism’s economist who has conducted study about economic impact   of tourism development. While the UN-WTO stated that tourism sector is still as a leading sector of development in some countries in the world because it has a positive dynamics trends. This paper also describes some of the positive impact of tourism on the economy and criticized some of negative impact. On the other hand, this paper also presented a scientific reflection on the current condition of Bali tourism development; indeed its still can be debated.</p>
<p align="center"><strong><em>Keyword: economic impact, positive, negative, development.</em></strong></p>
<h2 align="left"><strong>1.   </strong><strong>Pendahuluan</strong><strong></strong></h2>
<p>Pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu Negara, tanpa terkecuali di Indonesia. Namun demikian pada kenyataannya, pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara.</p>
<p>Seiring dengan hal di atas, menurut IUOTO (<em>International Union of Official Travel Organization</em>) yang dikutip oleh Spillane (1993), pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara karena delapan alasan utama seperti berikut ini: (1)Pariwisata sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3)Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinnasi. (5)Penghasil devisa. (6)Pemicu perdagangan international. (7)Pemicu pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal dan santun, dan (8)Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi.</p>
<p>Dari sisi kepentingan nasional, <a title="" href="#_ftn1">[1]</a>Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005) dalam Sapta (2011:1) menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p><strong>a)   </strong><strong>Persatuan dan Kesatuan Bangsa: </strong>Pariwisata dianggap mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.</p>
<p><strong>b)   </strong><strong>Penghapusan Kemiskinan (<em>Poverty Alleviation</em>): </strong>Pembangunan pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharpkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapannya adalah bahwa pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.</p>
<p><strong>c)    </strong><strong>Pembangunan Berkesinambungan (<em>Sustainable Development</em>): </strong>Dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Artinya penggunaan sumberdaya yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relative lama.</p>
<p><strong>d)   </strong><strong>Pelestarian Budaya (<em>Culture Preservation</em>): </strong>Pembangunan kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara ataudaerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan diberbagai daerah.</p>
<p><strong>e)   </strong><strong>Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia: </strong>Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema<em> paid holidays</em>.</p>
<p><strong>f)    </strong><strong>Peningkatan Ekonomi dan Industri: </strong>Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa..</p>
<p><strong>g)   </strong><strong>Pengembangan Teknologi: </strong>Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataanakan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.</p>
<p>Sedangkan dari sisi kepentingan Internasional, <a title="" href="#_ftn2">[2]</a>Pariwisata internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi tersebut meningkat 11% dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Seiring dengan hal tersebut, diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2020 akan menembus angka 1,6 miliar orang per tahun (UN-WTO, 2005) seperti Nampak pada grafik di bawah ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Graph 1, </strong><a title="" href="#_ftn3">[3]</a>Tourism Vision 2020 – UNWTO<strong>. Source: </strong>http://pandeputusetiawan.wordpress.com<strong></strong></p>
<p align="center">
<p>Pada sisi yang berbeda, walaupun pariwisata telah diakui sebagai faktor penting stimulator penggerak perekonomian di beberapa negara di dunia, namun pariwisata juga menyembunyikan beberapa hal yang jarang diungkap dan dihitung sehingga sangat sulit untuk ditelusuri perannya atau kerugiannya.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>Beberapa biaya tersembunyi atau <em>hidden cost</em> diantaranya adalah:  industri pariwisata bertumbuh dalam mekanisme pasar bebas sehingga seringkali destinasi pada negara berkembang hanya menjadi obyek saja, hal lainnya pengembangan pariwisata memang telah dapat menigkatkan kualitas pembangunan pada suatu destinasi namun akibat lainnya seperti peningkatan harga-harga pada sebuah destinasi terkadang kurang mendapat perhatian dan korbannya adalah penduduk lokal,  dan banyak hal akan di ungkap dalam paper ini.</p>
<h2 align="left"><strong>2.    </strong><strong>Metode </strong><strong></strong></h2>
<p>Kajian ini menggunakan metode desk research dengan teknik penelusuran data dan informasi secara online, sumber sekunder, dan sumber publikasi ilmiah lainnya.</p>
<p>Sementara teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuanlitatif, analogi, dan komparasi beberapa hasil penelitian dan publikasi ilmiah lainnya yang terkait dengan permasalahan dimensi ekonomi pariwisata.</p>
<h2 align="left"><strong>3.   </strong><strong>Hasil Kajian dan Pembahasan</strong><strong></strong></h2>
<p>Mengukur manfaat dan kerugian pembangunan pariwisata pada beberapa negara saat ini, masih menjadi perdebatan diantara para ahli ekonomi khususnya yang telah melakukan riset dan evalusi terhadap ekonomi pariwisata. Beberapa pandangan para fakar mewarnai pembahasan paper ini dari sudut pandangan yang berbeda-beda.</p>
<p><em>“Frechtling (1987a) considers alternative methods of collecting data about expenditure by tourists and the shortcomings of these. He also reviews methods such as impact multipliers and input-output analysis used to measure the economic impacts generated by tourism expenditure”</em></p>
<p>Frechtling (1987), menyatakan bahwa untuk mengukur manfaat pariwisata bagi perekonomian suatu Negara harus tersedia data yang cukup lengkap, Dia menawarkan metode alternative khususnya berhubungan dengan metode pengumpulan data tentang pengeluaran   wisatawan di saat yang akan datang, dan dia juga mereview beberapa metode yang telah digunakan oleh para ahli sebelumnya, dengan menggunakan impact multipliers dan input-output analysis untuk mengukur pengeluaran sector pariwisata.</p>
<p><em>“Impact analysis can be extended to other dimensions as summarised by Archer and Cooper (1994) including social cost-benefit analysis”</em></p>
<p>Sementara Archer dan Cooper (1994), berpendapat bahwa: penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harus menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya, dan <strong><em>social cost-benefitanalysis</em></strong> mestinya digunakan. Menurutnya, untuk mengukur manfaat dan dampak pariwisata tidak sekedar menghitung dampak ekonomi hanya dengan mencari multiplier efeknya saja.</p>
<p><em>“</em><em>Sinclair and Sutcliffe (1988) discuss the complexities of estimating Keynesian income multipliers for tourism at the sub-national level”</em><em></em></p>
<p>Sedangkan, Sinclair dan Sutcliffe (1988), menjelaskan bahwa pengukuran <strong><em>multiplier income</em></strong> untuk sektor pariwisata pada tingkat sub nasional memerlukan pemikiran dan data yang lebih kompleks disebabkan sering terjadinya <em>“</em><em>leakages” </em>kebocoran sehingga analisis ini sebaiknya dilakukan pada tingkat local regional tertentu dan <strong><em>leakages</em></strong> inilah yang mestinya harus diukur dan dibandingkan dengan manfaat yang  diharapkan.</p>
<p><em>“Heng and Low (1990) illustrates well the type of practical use which can be made of input-output analysis in considering the impact of tourism</em>”</p>
<p>Lebih tegas, Heng dan Low (1990) pada tataran praktis, mereka menjelaskan bahwa untuk mengukur dampak pariwisata akan lebih baik menggunakan analisis <strong><em>input-output</em></strong>.</p>
<p><em>“Johnson and Moore (1993) concentrate on measuring the economic impact of a particular tourist activity and tourism resource”</em></p>
<p>Tapi, Johnson dan Moore (1993) justru menitikberatkan bahwa pengukuran dampak ekonomi pariwisata akan lebih tepat dilakukan focus pada aktifitas wisata tertentu yang sedang berkembang pesat dan sumberdaya pariwisata yang dipergunakannya serta segala dampak-dampaknya.</p>
<p><em>“West (1993) uses a Social Accounting Matrix (SAM) to overcome the first problem and an integrated model to allow for changes in the relationship with the passage of time”</em></p>
<p>Sementara West (1993) menawarkan SAM atau <strong><em>social accounting matrix</em></strong> untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu.Dia mengganggap bahwa analisis <strong><em>input-output</em></strong> dianggap belum mampu memecahkan persoalan dampak pariwisata karena hanya mengukur hubungan produser dengan produser dan tidak menyertakan perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor publik lainnya.</p>
<p><em>“Harris and Harris (1994) argue that “the study of tourism at the macro level (nation, State, region) is hindered by the absence of any standard industry classification for this kind of activity”</em></p>
<p>Dan akhirnya, Harris dan Harris (1994) mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata yang telah dilakukan saat ini pada tingkat nasional, dan regional cenderung mengabaikan ketiadaan standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata padahal standarisasi pada industri pariwisata ini membawa konsekuensi tersendiri terhadap biaya tambahan <strong><em>“others cost” </em></strong>baik bagi pelaku industri pariwisata dan masyarakat lokal itu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3 align="left"><strong>3.1. </strong><strong>Dampak Positip Pariwisata terhadap Perekonomian (</strong><a title="" href="#_ftn5"><strong></strong><strong>[5]</strong></a><strong><em>positive economic impacts of tourism</em></strong><strong><em>)</em></strong><strong></strong></h3>
<p><strong><em>3.1.1          </em></strong><strong>Pendapatan dari Nilai Tukar Valuta Asing</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Pengeluaran sektor pariwisata akan menyebabkan perekonomian masyarakat local menggeliat dan menjadi stimulus berinvestasi dan menyebabkan sektor keuangan bertumbuh seiring bertumbuhnya sektor ekonomi lainnya.</p>
<p>Pengalaman di beberapa negara bahwa kedatangan wisatawan ke sebuah destinasi wisata juga menyebabkan bertumbuhnya bisnis valuta asing untuk memberikan pelayanan dan kemudahan bagi wisatawan selama mereka berwisata. Tercatat juga bahwa di beberapa negara di dunia 83% dari lima besar pendapatan mereka, 38% pendapatannya adalah berasal dari “<em>Foreign Exchange Earnings</em>” perdagangan valuta asing.</p>
<p><em>“</em><em>New Delhi, Feb 26 : Highlighting the tremendous growth potential offered by the tourism sector, the Economic Survey 2010-11 has said the country&#8217;s foreign</em><em> </em><em>exchang eearnings</em><em> </em><em>(FEE) from tourist arrivals grew by 24.56 percent in 2010 at 14,193 million dolllars as compared to 11,394 dollars million in 2009”</em><em></em></p>
<p>Sebagai contoh, bahwa pariwisata mampu menyumbangkan pendapatan untuk Negara India, berdasarkan hasil survey ekonomi India pada tahun 2010-11, bahwa akibat kedatangan wisatawan asing ke India pada tahun 2010 terjadi peningkatan pendapatan dari perdangan Valas sebesar 34,56% atau sebesar 14,193 Juta US Dolar meningkat jika dibandingkan tahun 2009 yang hanya sebesar 11,394 Juta US Dolar.</p>
<p><em>“Latest statistics from National Tourism Administration show that China&#8217;s foreign-exchange earnings from tourism exceeded US$5.1 billion in the first four months this year, an increase of 18.7 percent over the same period last year, 2010”</em></p>
<p>Sementara pemerintah China mencapat bahwa sumbangan pariwisata  akibat perdagangan Valas  telah mencapai 5,1 Juta US Dolar untuk kurun waktu  hanya empat bulan saja pada tahun 2010. Dari kedua contoh tersebut sudah dianggap cukup menguatkan pendapat bahwa pembangunan pariwisata dapat meningkatkan pendapatan suatu Negara khususnya dari aktifitas perdagangan valuta asing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>3.1.2          </em></strong><strong>Penerimaan Devisa</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapat diuraikan menjadi dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung berasal dari pajak pendapatan yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi.</p>
<p>Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang di <strong><em>import</em></strong> dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung.</p>
<p>Dalam kedua konteks di atas, WTO memprediksi bahwa usaha perjalanan wisata dan bisnis pariwisata tersebut secara langsung dan tidak langsung termasuk juga pajak perorangan telah berkontribusi terhadap pariwisata dunia melampaui <strong><em>US$ 800 billion</em></strong> pada tahun 1998, dan pada tahun 2010 berlipat dua kali jika dibandingkan tahun 1998.</p>
<p><em>“According to the study, tourism generated $19.7 billion of revenue for all three levels of government combined in Canada in 2007. Spending by Canadians accounted for three out of every four dollars taken in, while one in four dollars came from international visitors to Canada”</em></p>
<p>Menurut penelitian, pariwisata Kanada menghasilkan $ 19, 7 Juta pendapatan untuk ketiga tingkat pemerintahan gabungan di Kanada pada tahun 2007.Dan Belanja Kanada menyumbang tiga dari setiap empat dolar, sementara satu dari empat dolar berasal dari wisatawan asing yang berwisata di Kanada.</p>
<p><em>“Tourism  makes  significant  direct  contributions  to  Government  revenues  through  the  sale  of  tickets  to  the Angkor  Complex  ($US  1.2 million),  visa  fees  ($US  3 million),  and  departure  taxes  at the  airports”</em></p>
<p>Sementara pemerintah Kamboja mencatat bahwa sector pariwisata secara langsung dan nyata telah memberikan sumbangan pendapatan bagi pemerintah melalui aktifitas penjualan tiket masuk wisatawan yang mengunjungi obyek wisata Angkor sebesar 1,2 Juta US Dolar, dari Visa sebesar 3 juta US Dolar, dan aktifitas  taksi dan aktifitas pelayanan di bandara.</p>
<p>Pada kedua studi kasus di atas, tidak dapat disangkal lagi bahwa pariwisata memang benar dapat meningkatkan pendapatan bagi pemerintah di mana pariwisata tersebut dapat dikembangkan dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>3.1.3    </em></strong><strong>Penyerapan Tenaga Kerja</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir dan sebagainya.</p>
<p><em>“Tourism employment is a measure of employment in tourism and non-tourism industries. It is based on an estimate of jobs rather than “hours of work”. Thus, someone who works 10 hours a week counts for as much, by this measure, as someone who works 50 hours a week”.</em> (Government Revenue Attributable to Tourism, 2007)</p>
<p>Menurut Canada Government Revenue Attributable to Tourism, (2007), mendifinisikan bahwa yang dimaksud “<em>Tourism employment</em>” adalah ukuran yang dipakai untuk mengukur besarnya tenaga kerja yang terserap secara langsung pada sector pariwisata termasuk juga besarnya tenaga kerja yang terserap di luar bidang pariwisata akibat keberadaan pembangunan pariwisata.  Dan WTO mencatat kontribusi sector pariwisata terhadap penyediaan lahan pekerjaan sebesar 7% secara internasional.</p>
<p><em>“Tourism Industry employs          large number of people and provides a wide range of jobs which extend from the unskilled to the highly specialises. Tourism is also responsible for creating employment outside the industry such as furnishing and equipment industry, souvenir industry, textile and handicraft industry, farming and food supply and also construction industry” </em></p>
<p>Hasil studi pada dampak pembangunan pariwisata di Tripura, India menunjukkan bahwa industry pariwisata adalah industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mampu menciptakan peluang kerja dari peluang kerja untuk tenaga yang tidak terdidik sampai dengan tenaga yang sangat terdidik. Pariwisata juga menyediakan peluang kerja diluar bidang pariwisata khususnya peluang kerja bagi mereka yang berusaha secara langsung pada bidang pariwisata dan termasuk juga bagi mereka yang bekerja secara tidak langsung terkait industri pariwisata seperti usaha-usaha pendukung pariwisata; misalnya pertanian sayur mayor, peternak daging, supplier bahan makanan, yang akan mendukung operasional industri perhotelan dan restoran.</p>
<p>Sedangkan menurut Mitchell dan Ashley 2010, mencatat bahwa sumbangan pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja jika dibandingkan dengan sector lainnya menunjukkan angka yang cukup berarti, dan indeks terbesar terjadi  di Negara New Zealand sebesar 1,15 disusul oleh Negara Philipines, kemudian Chile, Papua New Guinea, dan Thailand sebesar 0,93. Sementara di Indonesia indeks penyerapan tenaga kerja dari sector pariwisata sebesar 0,74, masih lebih rendah jika dibandingkan Negara Afrika Selatan yang mencapai 0,84.</p>
<p>Dalam dua kasus di atas, pariwisata memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja di hampir semua Negara yang mengembangkan pariwisata, walaupun harus diakui sector pertanian “agriculture” masih lebih besar indeks penyerapannya dan berada di atas indeks penyerapan tenaga kerja oleh sector pariwisata di hampir semua Negara pada table di atas.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>3.1.4          </strong><strong>Pembangunan Infrastruktur</strong><strong></strong></p>
<p>Berkembangnya sektor pariwisata juga dapat mendorong pemerintah lokal untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik, penyediaan air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi umum dan fasilitas pendukung lainnya sebagai konsekuensi logis dan kesemuanya itu dapat meningkatkan kualitas hidup baik wisatawan dan juga masyarakat local itu sendiri sebagai tuan rumah.</p>
<p>Sepakat membangun pariwisata berarti sepakat pula harus membangun yakni daya tarik wisata “<strong><em>attractions</em></strong>” khususnya daya tarik wisata <em>man-made</em>, sementara untuk daya tarik alamiah dan budaya hanya diperlukan penataan dan pengkemasan. Karena Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi “<strong><em>accesable</em></strong>” akhirnya akan mendorong pemerintah untuk membangun jalan raya yang layak untuk angkutan wisata, sementara fasilitas pendukung pariwisata “<strong><em>Amenities</em></strong>” seperti hotel, penginapan, restoran juga harus disiapkan.</p>
<p>Pembangunan infrastruktur pariwisata dapa dilakukan secara mandiri ataupun mengundang pihak swasta nasional bahkan pihak investor asing khususnya untuk pembangunan yang berskala besar seperti pembangunan Bandara Internasional, dan sebagainya. Perbaikan dan pembangunan insfrastruktur pariwisata tersebut juga akan dinikmati oleh penduduk local dalam menjalankan aktifitas bisnisnya, dalam konteks ini masyarakat local  akan mendapatkan pengaruh positif dari pembangunan pariwisata di daerahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.1.5          </strong><strong>Pemberdayaan Perekonomian Masyarakat Lokal</strong><strong></strong></p>
<p>Pendapatan sektor pariwisata acapkali digunakan untuk mengukur nilai ekonomi pada suatu kawasan wisata.  Sementara ada beberapa pendapatan lokal sangat sulit untuk dihitung karena  tidak semua pengeluaran wisatawan dapat diketahui dengan jelas seperti misalnya penghasilan para pekerja informal seperti sopir taksi tidak resmi, pramuwisata tidak resmi, dan lain sebagainya.</p>
<p>WTO memprediksi bahwa pendapatan pariwisata secara tidak langsung disumbangkan 100% secara langsung dari pengeluaran wisatawan pada suatu kawasan.  Dalam kenyataannya masyarakat local lebih banyak berebut lahan penghidupan dari sector informal ini, artinya jika sector informal bertumbuh maka masyarakat local akan mendapat menfaat ekonomi yang lebih besar.</p>
<p>Sebagai contoh, peran pariwisata bagi Provinsi Bali terhadap perekonomian daerah “PDRB” sangat besar bahkan telah mengungguli sector pertanian yang pada tahun-tahun sebelumnya memegang peranan penting di Bali. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada table berikut ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<table width="596" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="181">
<p align="center"><strong>Lapangan Usaha</strong></p>
<p align="center"><strong>(milyar rupiah)</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2003</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2004</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2005</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2006</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2007</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">1. Pertanian</td>
<td>
<p align="right">5.666,84</p>
</td>
<td>
<p align="right">6.011,43</p>
</td>
<td>
<p align="right">6.887,17</p>
</td>
<td>
<p align="right">7.463,26</p>
</td>
<td>
<p align="right">8.216,47</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">a. Tanaman Bahan Makanan</td>
<td>
<p align="right">2.770,40</p>
</td>
<td>
<p align="right">3.004,40</p>
</td>
<td>
<p align="right">3.391,28</p>
</td>
<td>
<p align="right">3.608,72</p>
</td>
<td>
<p align="right">3.944,28</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">b. Tanaman Perkebunan</td>
<td>
<p align="right">498,81</p>
</td>
<td>
<p align="right">516,61</p>
</td>
<td>
<p align="right">592,10</p>
</td>
<td>
<p align="right">651,84</p>
</td>
<td>
<p align="right">707,44</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">c. Peternakan dan Hasil-hasilnya</td>
<td>
<p align="right">1.435,70</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.468,57</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.792,73</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.988,97</p>
</td>
<td>
<p align="right">2.182,55</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">d. Kehutanan</td>
<td>
<p align="right">1,56</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,60</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,76</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,95</p>
</td>
<td>
<p align="right">2,28</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">e. Perikanan</td>
<td>
<p align="right">960,38</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.020,23</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.109,30</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.211,79</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.379,92</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">2. Pertambangan &amp; penggalian</td>
<td>
<p align="right">176,90</p>
</td>
<td>
<p align="right">196,47</p>
</td>
<td>
<p align="right">225,49</p>
</td>
<td>
<p align="right">257,16</p>
</td>
<td>
<p align="right">281,09</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">3. Industri pengolahan</td>
<td>
<p align="right">2.384,64</p>
</td>
<td>
<p align="right">2.610,13</p>
</td>
<td>
<p align="right">2.950,81</p>
</td>
<td>
<p align="right">3.254,65</p>
</td>
<td>
<p align="right">3.804,93</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">4. Listrik, gas &amp; air bersih</td>
<td>
<p align="right">411,01</p>
</td>
<td>
<p align="right">522,55</p>
</td>
<td>
<p align="right">627,99</p>
</td>
<td>
<p align="right">725,86</p>
</td>
<td>
<p align="right">846,07</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">5. Bangunan</td>
<td>
<p align="right">1.051,15</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.132,72</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.368,31</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.600,86</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.877,52</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181"><strong>6. Perdag., hotel &amp; restoran</strong></td>
<td>
<p align="right"><strong>7.439,35</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>8.452,94</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>9.968,55</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>10.797,66</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>12.269,74</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">7. Pengangkutan &amp; komunikasi</td>
<td>
<p align="right">2.930,52</p>
</td>
<td>
<p align="right">3.275,45</p>
</td>
<td>
<p align="right">4.022,67</p>
</td>
<td>
<p align="right">4.435,85</p>
</td>
<td>
<p align="right">5.219,10</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">8. Keu. Persewaan, &amp; jasa perusahaan</td>
<td>
<p align="right">1.725,22</p>
</td>
<td>
<p align="right">1.969,62</p>
</td>
<td>
<p align="right">2.399,26</p>
</td>
<td>
<p align="right">2.788,35</p>
</td>
<td>
<p align="right">3.108,10</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181">9. Jasa-jasa</td>
<td>
<p align="right">4.382,31</p>
</td>
<td>
<p align="right">4.815,27</p>
</td>
<td>
<p align="right">5.496,23</p>
</td>
<td>
<p align="right">6.064,82</p>
</td>
<td>
<p align="right">6.713,39</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="181"><strong>PDRB</strong></td>
<td>
<p align="right"><strong>26.167,94</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>28.986,60</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>33.946,47</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>37.388,48</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>42.336,42</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center">Tabel: PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali,<strong></strong></p>
<p align="center">Sumber: BPS, 2009</p>
<p align="center">
<p><strong>3.2. </strong><a title="" href="#_ftn6"><strong></strong><strong>[6]</strong></a><strong>Pengaruh Negatif Pariwisata <em>(Negative Economic Impacts of Tourism)</em></strong></p>
<p><strong><em>3.2.1          </em></strong><strong>Kebocoran (<em>Leakage)</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>Leakage</em></strong> atau kebocoran dalam pembangunan pariwisata dikategorikan menjadi dua jenis kebocoran yaitu keboran <strong><em>import</em></strong> dan kebocoran <strong><em>export</em></strong>. Biasanya kebocoran <strong><em>import</em></strong> terjadi ketika terjadinya permintaan terhadap peralatan-peralatan yang berstandar internasional yang digunakan dalam industri pariwisata, bahan makanan dan minuman <strong><em>import</em></strong> yang tidak mampu disediakan oleh masyarakat lokal atau dalam negeri. Khususnya pada negara-negara berkembang, makanan dan minuman yang berstandar internasional harus di datangkan dari luar negeri dengan alasan standar yang tidak terpenuhi, dan akibatnya produk lokal dan masyarakat lokal sebagai produsennya tidak biasa memasarkan produknya untuk kepentingan pariwisata tersebut.</p>
<p>Besarnya pendapatan dari sektor pariwisata juga diiringi oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan <strong><em>import</em></strong> terhadap produk yang dianggap berstandar internasional. Penelitian dibeberapa destinasi pada negara berkembang, membuktikan bahwa tingkat kebocoran terjadi antara 40% hingga 50% terhadap pendapatan kotor dari sektor pariwisata, sedangkan pada skala perekonomian yang lebih kecil, kebocoran terjadi antara 10% hingga 20%.</p>
<p>Sedangkan kebocoran <strong><em>export</em></strong> seringkali terjadi pada pembangunan destinasi wisata khususnya pada negara miskin atau berkembang yang cenderung memerlukan modal dan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya. Kondisi  seperti ini, akan mengundang masuknya penanam modal asing yang memiliki modal yang kuat untuk membangun <strong><em>resort</em></strong> atau hotel serta fasilitas dan infrastruktur pariwisata, sebagai imbalannya, keuntungan usaha dan investasi mereka akan mendorong uang mereka kembali ke negara mereka tanpa bisa dihalangi, hal inilah yang disebut dengan <em>“leakage”</em> kebocoran <strong><em>export.</em></strong></p>
<p>Hal ini membenarkan pendapat dari Sinclair dan Sutcliffe (1988), yang menjelaskan bahwa pengukuran manfaat ekonomi dari sektor pariwisata pada tingkat sub nasional harunya menggunakan pemikiran dan data yang lebih kompleks untuk menghindari terjadinya <em>“</em><em>leakages” </em>kebocoran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>3.2.2          </em></strong><strong>Kebobolan (<em>Enclave Tourism)</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p>“<em>Enclave tourism</em>” sering diasosiasikan bahwa sebuah destinasi wisata dianggap hanya sebagai tempat persinggahan sebagai contohnya, sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar dimana mereka hanya singgah pada sebuah destinasi tanpa melewatkan malam atau menginap di hotel-hotel yang telah disediakan industri lokal sebagai akibatnya dalam kedatangan wisatawan kapal pesiar tersebut manfaatnya dianggap sangat rendah atau bahkan tidak memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat di sebuah destinasi yang dikunjunginya.</p>
<p>Kenyataan lain yang  menyebabkan <em>“enclave” </em> adalah kedatangan wisatawan yang melakukan perjalanan wisata yang dikelola oleh biro perjalanan wisata asing dari “<em>origin country</em>”  sebagai  contohnya, mereka menggunakan maskapai penerbangan milik perusahaan mereka sendiri<em>, </em>kemudian mereka menginap di sebuah hotel yang di miliki oleh manajemen chain dari negara mereka sendiri, berwisata dengan armada dari perusahaan chain milik pengusaha mereka sendiri, dan dipramuwisatakan oleh pramuwisata dari negerinya sendiri, dan sebagai akibatnya masyarakat lokal tidak memperoleh manfaat ekonomi secara optimal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>3.2.3          </em></strong><strong>Pembiayaan Infrastruktur (<em>Infrastructure Cost)</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Tanpa disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang berstandar internasional dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi pemerintah dan akibatnya cenderung akan dibebankan pada sektor pajak dalam artian untuk membangun infratruktur tersebut, pendapatan sektor pajak harus ditingkatkan artinya pngutan pajak terhadap masyarakat harus dinaikkan.</p>
<p>Pembangunan pariwisata juga mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan kualitas bandara, jalan raya, dan infrastruktur pendukungnya, dan tentunya semua hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit dan sangat dimungkinkan pemerintah akan melakukan <strong><em>re-alokasi</em></strong> pada anggaran sektor lainnya seperti misalnya pengurangan terhadap anggaran pendidikan dan kesehatan.</p>
<p>Kenyataan di atas menguatkan pendapat Harris dan Harris (1994) yang mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata harusnya menyertakan faktor standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata yang sering dilupakan pada analisis dampak pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>3.2.4          </em></strong><strong>Meningkatnya Harga-harga secara Dramatis (<em>Increase in Prices or Inflation)</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan akan menyebabkan meningkatnya harga secara beruntun “<strong><em>inflalsi</em></strong>” yang pastinya akan berdampak negative bagi masyarakat lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami peningkatan pendapatan secara proporsional artinya jikalau pendapatan masyarakat lokal meningkat namun tidak sebanding dengan peningkatan harga-harga akan menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah.</p>
<p>Pembangunan pariwisata juga berhubungan dengan meningkatnya harga sewa rumah, harga tanah, dan harga-harga <strong><em>property</em></strong> lainnya sehingga sangat dimungkinkan masyarakat lokal tidak mampu membeli dan cenderung akan tergusur ke daerah pinggiran yang harganya masih dapat dijangkau.</p>
<p>Sebagai konsukuensi logiz, pembangunan pariwisata juga berdampak pada meningkatnya harga-harga barang konsumtif, biaya pendidikan, dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga pemenuhan akan kebutuhan pokok justru akan menjadi sulit bagi penduduk lokal. Hal ini juga sering dilupakan dalam setiap pengukuran manfaat pariwisata terhadap perekonomian pada sebuah Negara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>3.3.5          </em></strong><strong>Ketergantungan Sektoral (<em>Economic Dependence)</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Keanekaragaman industri dalam sebuah perekonomian menunjukkan sehatnya sebuah negara, jika ada sebuah negara yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor tertentu seperti pariwisata misalnya, akan menjadikan sebuah negara menjadi tergantung pada sektor pariwisata sebagai akibatnya ketahanan ekonomi menjadi sangat beresiko tinggi.</p>
<p>Di beberapa negara, khususnya negara berkembang yang memiliki sumberdaya yang terbatas memang sudah sepantasnya mengembangkan pariwisata yang dianggap tidak memerlukan sumberdaya yang besar namun pada negara yang memiliki sumberdaya yang beranekaragam harusnya dapat juga mengembangkan sektor lainnya secara proporsional.</p>
<p>Ketika sektor pariwisata dianggap sebagai anak emas, dan sektor lainnya dianggap sebagai anak diri, maka menurut Archer dan Cooper (1994), penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harusnya menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya. Ketergantungan pada sebuah sektor, dan ketergantungan pada kedatangan orang asing dapat diasosiasikan hilangnya sebuah kemerdekaan sosial dan pada tingkat nasional, sangat dimungkinkan sebuah negara akan kehilangan kemandirian dan sangat tergantung pada sektor pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>3.3.6          </em></strong><strong>Masalah Musiman (<em>Seasonal Characteristics)</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Dalam Industri pariwisata, dikenal adanya musim-musim tertentu, seperti misalnya musim ramai <strong><em>“high season”</em></strong> dimana kedatangan  wisatawan akan mengalami puncaknya, tingkat hunian kamar akan mendekati tingkat hunian kamar maksimal dan kondisi ini akan berdampak meningkatnya pendapatan bisnis pariwisata. Sementara dikenal juga musim sepi “<strong><em>low season</em></strong>” di mana kondisi ini rata-rata tingkat hunian kamar tidak sesuai dengan harapan para pebisnis sebagai dampaknya pendapatan indutri pariwisata juga menurun hal ini yang sering disebut “<strong><em>problem seasonal</em></strong>”</p>
<p>Sementara ada kenyataan lain yang dihadapi oleh para pekerja, khususnya para pekerja informal seperti sopir taksi, para pemijat tradisional, para pedagang acung, mereka semua sangat tergantung pada kedatangan wisatawan, pada kondisi <strong><em>low season</em></strong> sangat dimungkinkan mereka tidak memiliki lahan pekerjaan yang pasti.</p>
<p>Kenyataan di  atas, menguatkan pendapat West (1993) yang menawarkan SAM atau <strong><em>social accounting matrix</em></strong> untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu, kebermanfaatan pariwisata terhadap ekonomi harusnya berlaku proporsional untuk semua musim, baik musim sepi maupun musim ramai wisatawan.</p>
<h3 align="left"><strong>3.3. </strong><strong>Refleksi terhadap Pariwisata Bali</strong><strong></strong></h3>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.3.1 Peran Pariwisata Bagi Perekonomian Bali</strong></p>
<p>Peran pariwisata bagi provinsi Bali dalam pembangunan menunjukkankecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.Jika dilihat peranan pariwisata dalam kontribusinya terhadap PDRB Bali, maka terlihat adanya peningkatan yang nyata. Pada tahun 2003, PDRB dari pariwisata sebesar 28,43%,  kemudian meningkat menjadi 29,16% pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 meningkat lagi menjadi 29,37%. Sementara pada tahun 2006 kontribusi sector pariwisata terhadap PDRB Bali sedikit mengalami penurunan menjadi 28,88 sementara pada tahun 2007 meningkat kembali menjadi 28,98%.</p>
<p>Tabel perbandingan contributor (lapangan usaha) terhadap PDRB Bali, dapat dilihat seperti table dibawah ini:</p>
<p>Tabel: <a title="" href="#_ftn7">[7]</a>Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali</p>
<table width="559" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="235">
<p align="center"><strong>Lapangan Usaha</strong><strong> (%)</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2003</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2004</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2005</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2006</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2007</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">1. Pertanian</td>
<td>
<p align="right">21,66</p>
</td>
<td>
<p align="right">20,74</p>
</td>
<td>
<p align="right">20,29</p>
</td>
<td>
<p align="right">19,96</p>
</td>
<td>
<p align="right">19,41</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">a. Tanaman Bahan Makanan</td>
<td>
<p align="right">10,59</p>
</td>
<td>
<p align="right">10,36</p>
</td>
<td>
<p align="right">9,99</p>
</td>
<td>
<p align="right">9,65</p>
</td>
<td>
<p align="right">9,32</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">b. Tanaman Perkebunan</td>
<td>
<p align="right">1,91</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,78</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,74</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,74</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,67</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">c. Peternakan dan Hasil-hasilnya</td>
<td>
<p align="right">5,49</p>
</td>
<td>
<p align="right">5,07</p>
</td>
<td>
<p align="right">5,28</p>
</td>
<td>
<p align="right">5,32</p>
</td>
<td>
<p align="right">5,16</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">d. Kehutanan</td>
<td>
<p align="right">0,01</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,01</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,01</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,01</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,01</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">e. Perikanan</td>
<td>
<p align="right">3,67</p>
</td>
<td>
<p align="right">3,52</p>
</td>
<td>
<p align="right">3,27</p>
</td>
<td>
<p align="right">3,24</p>
</td>
<td>
<p align="right">3,26</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">2. Pertambangan &amp; penggalian</td>
<td>
<p align="right">0,68</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,68</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,66</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,69</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,66</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">3. Industri pengolahan</td>
<td>
<p align="right">9,11</p>
</td>
<td>
<p align="right">9,00</p>
</td>
<td>
<p align="right">8,69</p>
</td>
<td>
<p align="right">8,70</p>
</td>
<td>
<p align="right">8,99</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">4. Listrik, gas &amp; air bersih</td>
<td>
<p align="right">1,57</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,80</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,85</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,94</p>
</td>
<td>
<p align="right">2,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">5. Bangunan</td>
<td>
<p align="right">4,02</p>
</td>
<td>
<p align="right">3,91</p>
</td>
<td>
<p align="right">4,03</p>
</td>
<td>
<p align="right">4,28</p>
</td>
<td>
<p align="right">4,43</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235"><strong>6. <a title="" href="#_ftn8"><strong>[8]</strong></a>Perdag., hotel &amp; restoran</strong></td>
<td>
<p align="right"><strong>28,43</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>29,16</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>29,37</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>28,88</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>28,98</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">7. Pengangkutan &amp; komunikasi</td>
<td>
<p align="right">11,20</p>
</td>
<td>
<p align="right">11,30</p>
</td>
<td>
<p align="right">11,85</p>
</td>
<td>
<p align="right">11,86</p>
</td>
<td>
<p align="right">12,33</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">8. Keu. Persewaan, &amp; jasa perusahaan</td>
<td>
<p align="right">6,59</p>
</td>
<td>
<p align="right">6,79</p>
</td>
<td>
<p align="right">7,07</p>
</td>
<td>
<p align="right">7,46</p>
</td>
<td>
<p align="right">7,34</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">9. Jasa-jasa</td>
<td>
<p align="right">16,75</p>
</td>
<td>
<p align="right">16,61</p>
</td>
<td>
<p align="right">16,19</p>
</td>
<td>
<p align="right">16,22</p>
</td>
<td>
<p align="right">15,86</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235"><strong>PDRB</strong></td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: BPS, 2009</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara menurut Suarsana (2011) peningkatan  terjadi pada semua sektor ekonomi, di mana sektor perdagangan, hotel dan restoran masih tetap merupakan sektor andalan, karena mampu memberikan nilai tambah terbesar, yakni Rp 20,02 triliun. Selain itu sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang cukup besar yakni Rp 12,10 triliun serta sektor pengangkutan dan komunmikasi sebesar Rp 8,63 triliun.</p>
<p><a title="" href="#_ftn9">[9]</a>Perkembangan terakhir, lebih lanjut dikatakan bahwa untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran  mengalami pertumbuhan sebesar 8,7 persen memberikan sumbangan terhadap sumber pertumbuhan terbesar terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan yang memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2 persen.7% (Nusa Bali, 2011)</p>
<p>Karena begitu pesatnya perkembangan pariwisata Bali khususnya dalam kontribusi terhadap PDRB bila  dibandingkan sector lainnya termasuk juga dengan sector Pertanian, seiring adanya otonomi daerah yang berada pada kendali kabupaten, ditengarahi factor inilah yang menyebabkan pemerintah daerah Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Bali ingin menggalakkan sector pariwisata sebagai penggerak  perekonomian di daerahnya masing-masing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.3.2 Pembangunan Pariwisata Bali saat ini</strong></p>
<p>Dalam konteks pembangunan pariwisata, dihubungkan dengan konsep 4A, yakni daya tarik wisata “<strong><em>attractions</em></strong>”, Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi diukur dari bandara “<strong><em>accesable</em></strong>”, Adanya Fasilitas pendukung pariwisata “<strong><em>Amenities</em></strong>”, adanya lembaga pariwisata “a<strong><em>ncillary</em></strong>”.  Jika dilihat dari jumlah akomodasi yang telah ada, maka Kabupaten (++) Gianyar, Kabupaten Badung, Kodya Denpasar, Kabupaten Buleleng,  dan Kabupaten Karangasem layak mengandalkan sector pariwisata sebagai penggerak perekonomian daerah, seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">Tabel Banyaknya Hotel Non Bintang dan Akomodasi Lainnya di Bali Menurut Kabupaten/Kota dan Kelompok Kamar Tahun 2009</p>
<div align="center">
<table width="530" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" colspan="2" valign="bottom" width="146">
<p align="center">Kabupaten / Kota</p>
</td>
<td colspan="5" valign="bottom" width="320">
<p align="center">Kelompok Kamar</p>
</td>
<td rowspan="2" valign="bottom" width="64">
<p align="center">Jumlah</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">&lt; 10</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">24-Oct</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">25 &#8211; 40</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">41 &#8211; 100</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">&gt; 100</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="35">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Gianyar  ++</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">292</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">81</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">10</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">386</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="35">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Badung  ++</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">95</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">152</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">59</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">50</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">361</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="35">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Denpasar  ++</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">49</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">102</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">44</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">26</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">221</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="35">
<p align="center">4</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Buleleng  ++</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">109</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">55</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">14</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">183</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="35">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Karangasem + +</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">115</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">54</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">176</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="35">
<p align="center">6</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Tabanan</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">41</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">20</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">63</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="35">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Jembrana</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">27</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">26</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">56</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="35">
<p align="center">8</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Klungkung</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">19</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">21</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="35">
<p align="center">9</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Bangli</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">21</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">6</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">29</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="8" valign="bottom" width="530">Sumber: Bali Dalam Angka 2010</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara jika, dilihat dari jumlah hotel bintang 4 dan 5 yang telah ada pada kabupaten dan kota di Bali, serta jika diasumsikan bahwa keberanian investor membangun hotel berbintang dihubungkan popularitas pariwisata daerah, maka Kabupaten Badung paling popular (**), kemudian disusul Kota Denpasar, dan Gianyar. Sementara Kabupaten Buleleng, Karangasem, dan Tabanan belum sepopuler (*) Badung-Denpasar-Gianyar.Sedangkan  Kabupaten Jembrana, Klungkung, dan Bangli belum menunjukkan sebagai kabupaten yang memiliki popularitas di sector Pariwisata. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table di bawah ini.</p>
<p align="center">Tabel Banyaknya Hotel Berbintang di Bali Menurut Lokasi dan Kelas Hotel Tahun 2009</p>
<div align="center">
<table width="536" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" colspan="2" valign="bottom" width="152">
<p align="center"><strong>Kabupaten / Kota </strong></p>
</td>
<td colspan="5" valign="bottom" width="320">
<p align="center"><strong>Kelas Hotel </strong></p>
</td>
<td rowspan="2" valign="bottom" width="64">
<p align="center"><strong>Jumlah</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center"><strong>Bintang 5 </strong></p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center"><strong>Bintang 4 </strong></p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center"><strong>Bintang 3 </strong></p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center"><strong>Bintang 2 </strong></p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center"><strong>Bintang 1 </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="41">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Badung **</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">26</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">28</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">19</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">15</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">90</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="41">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Denpasar**</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">4</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">9</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">28</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="41">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Gianyar **</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">11</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="41">
<p align="center">4</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Buleleng *</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">9</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="41">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Karangasem *</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">5</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="41">
<p align="center">6</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Jembrana</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="41">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Tabanan *</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="41">
<p align="center">8</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">Klungkung</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">2</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="41">
<p align="center">9</p>
</td>
<td valign="bottom" width="111">B a n g l i</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="bottom" width="64">
<p align="center">-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="8" valign="bottom" width="536">Sumber: Bali Dalam Angka 2010</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika dari atraktivitas maisng-masing kabupaten/kota untuk menjadikan pariwisata sebagai sector unggulan  dilihat dari obyek wisata popular dimiliki saat ini, justru menempatkan kabupaten Karangasem sebagai kabupaten paling menarik dan layak untuk pariwisata, seperti Nampak pada table di bawah ini</p>
<p align="center">Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Karangasem</p>
<div align="center">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap">Kab/Kota</td>
<td valign="top">No</td>
<td valign="top">Obyek Wisata</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="9" valign="top" nowrap="nowrap">Karangasem</p>
<p>(6 obyek wisata populer)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top">Taman Tirta Gangga Karangasem (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top">Pelabuhan Padangbai</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top">Pantai Tulamben Karangasem (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top">Agrowisata Kebun Salak Sibetan Karangasem</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">5</td>
<td valign="top">Candi Dasa Karangasem (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">6</td>
<td valign="top">Pura Sulayukti Karangasem</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">7</td>
<td valign="top">Tenun Ikat Gringsing Tenganan (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">8</td>
<td valign="top">Pura Besakih Karangasem (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">9</td>
<td valign="top">Desa Wisata Tenganan (*)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara posisi kedua, menempatkan Kabupaten Badung dan Gianyar dengan 5 obyek wisata yang telah popular dan menjadi andalan kabupaten, seperti Nampak pada table di bawah ini:</p>
<p align="center">Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Badung dan Gianyar</p>
<div align="center">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap">Kab/Kota</td>
<td valign="top">No</td>
<td valign="top" width="379">Obyek Wisata</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">Badung</td>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top" width="379">Pantai Kuta (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">(5 obyek wisata telah populer)</td>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top" width="379">Sangeh</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top" width="379">Pantai &amp; Kawasan Wisata Nusa Dua &amp; Tanjung Benoa (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top" width="379">Pantai Jimbaran</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">5</td>
<td valign="top" width="379">Pura Uluwatu (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">6</td>
<td valign="top" width="379">Pura Taman Ayun (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">7</td>
<td valign="top" width="379">Pura Keluarga Kerajaan MengwiPura Bukit Sari Sangeh</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">8</td>
<td valign="top" width="379">Pura Dalem Sakenan Pulau Serangan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">9</td>
<td valign="top" width="379">Garuda Wisnu Kencana (*)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div align="center">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">Kab/Kota</td>
<td valign="top">No</td>
<td valign="top" width="379">Obyek Wisata</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">Gianyar</td>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top" width="379">Pulau SeranganKeindahan Alam Ubud Gianyar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">(5 obyek wisata telah populer)</td>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top" width="379">Air Terjun &amp; Bungy Jumping Blahbatuh Gianyar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top" width="379">Arung Jeram Sungai Ayung Payangan Gianyar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top" width="379">Wisata Safari Naik Gajah Taro Gianyar (Bali Zoo Park)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">5</td>
<td valign="top" width="379">Air Terjun Tegenungan Gianyar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">6</td>
<td valign="top" width="379">Pasar Seni Sukawati (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">7</td>
<td valign="top" width="379">Pura Tirta Empul Tampak Siring (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">8</td>
<td valign="top" width="379">Pusat Lukisan &amp; Kerajinan Topeng Batuan Gianyar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">9</td>
<td valign="top" width="379">Pusat Ukir Kayu Mas, Kemenuh, Tengkulak, Pujung Batuan Gianyar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">10</td>
<td valign="top" width="379">Pusat Geleri Lukisan Ubud-Peliatan (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">11</td>
<td valign="top" width="379">Goa Gajah, Ukiran Relief Yeh Pulu, Kompleks Samuan Tiga, Patung Kebo Edan, Pusering Jagat, Bulan Pejeng, Kerajinan Ukir Tempurung Kelapa Bedulu-Pejeng Gianyar (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">12</td>
<td valign="top" width="379">Pertunjukan Tari Barong, Tari Kecak, Tari Keris (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">13</td>
<td valign="top" width="379">Istana Presiden Tampak Siring</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">14</td>
<td valign="top" width="379">Monumen Gunung Kawi Tampak Siring</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung, dan Bangli, walaupun mereka memiliki obyek wisata yang cukup banyak dan beragam namun belum sepopuler Kabupaten Karangasem, Badung, dan Gianyar. Untuk Kota Denpasar, walaupun sangat berdekatan dengan  kabupaten Badung, namun tidak terlalu atraktif untuk mengandalkan sector pariwisata sebagai sector unggulan, tentu saja pendapat ini masih bisa diperdebatkan dengan realitas PAD kota Denpasar saat ini.</p>
<p>Tabel Daftar Obyek Wisata di Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung dan Bangli</p>
<div align="center">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap">Kab/Kota</td>
<td valign="top">No</td>
<td valign="top">Obyek Wisata</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">Denpasar</td>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top">Pantai Sanur (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">(3 obyek wisata telah populer)</td>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top">Werdi Budaya Art Centre Abian Kapas Denpasar (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top">Pasar Tradisional Jalan Gajah Mada Denpasar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top">Museum Bali Denpasar (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">5</td>
<td valign="top">Patung “Catur Muka” Denpasar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">6</td>
<td valign="top">Museum Seni Lukis Le Mayeur Denpasar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">Kab/Kota</td>
<td valign="top">No</td>
<td valign="top">Obyek Wisata</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="4" valign="top" nowrap="nowrap">Klungkung</p>
<p>(3 obyek wisata telah populer)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top">Pura &amp; Goa Lawah Klungkung (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top">Pulau Nusa Penida Klungkung (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top">Pusat Seni Lukis Tradisional, Seni Ukir Emas &amp; Perak, Seni Ukir Peluru Desa Kamasan Klungkung</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top">Taman Gili Kerta Gosa Kraton Semarapura Klungkung (*)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div align="center">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">Kab/Kota</td>
<td valign="top">No</td>
<td valign="top">Obyek Wisata</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="6" valign="top" nowrap="nowrap">Bangli</p>
<p>(3 obyek wisata telah populer)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top">Danau Batur, Gunung Batur, Kawah Batur, Sumber Mata Air Panas Toya Bungkah (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top">Penelokan Kintamani (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top">Pura Kehen Bangli</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top">Desa Trunyan (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">5</td>
<td valign="top">Pura Batur &amp; Pura Tegeh KoripanDesa Adat Penglipuran Bangli</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">6</td>
<td valign="top">Pura Pucaksari Desa Peninjoan Bangli</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara untuk Kabupaten Tabanan, Buleleng, dan Jembrana, jika dilihat popularitas andalan obyek wisata, sebenarnya ketiga Kabupaten ini belum layak menjadikan sector Pariwisata sebagai leading sector pembangunan daerahnya, dan sangat dimungkinkkan ada sector lainnya yang lebih unggul daripada sector pariwisata. Menurut pengamatan, sebenarnya Kabupaten Tabanan masih layak mengandalkan sector pertanian khususnya produk padi dan peternakan, sementara Kabupaten Buleleng dan Jembrana belum menunjukkan kekuatan sector pariwisata secara maksimal dan sangat mungkin disebabkan oleh jarak atau akses yang relative jauh dari pusat bisnis pariwisata Badung dan Gianyar.</p>
<p>Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Tabanan, Buleleng dan Jembrana</p>
<p>&nbsp;</p>
<div align="center">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap">Kab/Kota</td>
<td valign="top">No</td>
<td valign="top">Obyek Wisata</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">Tabanan</td>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top">Pantai &amp; Pura Tanah Lot (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">(2 obyek wisata telah populer)</td>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top">Pemandangan Alam Jati Luwih &amp; Pura Petali Tabanan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top">Pantai Dreamland Alas Kedaton Tabanan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top">Danau Beratan, Pura Ulun Danu Beratan, Desa Kembang Merta, Pasar Bukit Mungsu, Pasar Pancasari Bedugul Tabanan (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">5</td>
<td valign="top">Puri Agung Kerambitan Tabanan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">6</td>
<td valign="top">Pusat Ukir-Ukiran Penarukan, Pusat Keramik &amp; Gentang Pejaten, Pembuatan Kain Tenun Blayu Tabanan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">7</td>
<td valign="top">Taman Makam Pahlawan Margarana Tabanan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">8</td>
<td valign="top">Museum Subak Tabanan</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div align="center">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap">Kab/Kota</td>
<td valign="top">No</td>
<td valign="top">Obyek Wisata</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">Buleleng</td>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top">Bukit &amp; Pura Puncak Penulisan BangliAir Terjun Gitgit Buleleng</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">(2 obyek wisata telah populer)</td>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top">Sumber Mata Air Panas Banjar Buleleng</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top">Pemandian Air Sanih Buleleng</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top">Danau Buyan &amp; Danau Tamblingan Buleleng</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">5</td>
<td valign="top">Laut Gili Menjangan Buleleng (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">6</td>
<td valign="top">Pantai Lovina Buleleng (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">7</td>
<td valign="top">Brahma Vihara Arama – Banjar Buleleng</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" nowrap="nowrap">&nbsp;</td>
<td valign="top">8</td>
<td valign="top">Patung Singa Ambara Raja Buleleng</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap">Kab/Kota</td>
<td valign="top">No</td>
<td valign="top">Obyek Wisata</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="5" valign="top" nowrap="nowrap">Jembrana</p>
<p>(1 obyek wisata telah populer)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top">Pantai Medewi Jembrana</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top">Taman Nasional Bali Barat Jembrana (*)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top">Pantai Purancak Jembrana</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top">Pelabuhan Gilimanuk</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">5</td>
<td valign="top">Pura Rambut Siwi Jembrana</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melihat kenyataan di atas, solusi  untuk melakukan pemeratan pembangunan di semua kabupaten dan kota yang ada di Bali, sebaiknya pemerintah provinsi dapat membuat konsensus bersama untuk penentuan skala prioritas pembangunan berdasarkan keunggulan daerah masing-masing; siapa yang menjadi pusat pariwisata, dan siapa sebagai pendukungnya, bagaimana sistem pemerataan yang ideal, serta penentuan komposisi alokasi kontribusi pariwisata terhadap pembangunan daerah di provinsi Bali.</p>
<h2 align="left"><strong>4.   </strong><strong>Simpulan dan Saran</strong><strong></strong></h2>
<p>Pariwisata secara nyata berpengaruh positif terhadap perekonomian pada sebuah negara atau destinasi seperti (1)pendapatan devisa dan pemicu investasi “<em>foreign exchange earnings”, </em>(2)pendapatan untuk pemerintah “<em>contributions to government revenues”</em>, (3)penyediaan dan penciptaan lahan pekerjaan “<em>employment generation”</em>, (4)pembangunan dan perbaikan infrastruktur baik untuk host maupun tourist “<em>infrastructure development”</em>, (5)pemicu pembangunan perekonomian lokal “<em>development of local economies”. </em></p>
<p><em>                </em>Namun masih sangat disesalkan, pariwisata juga menyisakan beberapa masalah seperti (1)terjadi kebocoran terhadap neraca perdagangan “<em>leakage”</em><em>, (2)</em>usaha tanpa manfaat “<em>enclave”, (3)</em>biaya tersembunyi “<em>hidden cost” </em> khususnya yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam, serta degradasi budaya dan sosial<em>, (4)</em>ketergantungan terhadap sector pariwisata “<em>depence”</em> padahal sector ini sangat rentan terhadap krisis politik, ekonomi dunia, bencana alam dan sejenisnya<em>, (5)</em>pemicu peningkatan harga-harga yang tidak dikehendaki oleh masyarakat local “<em>inflasi”, (6)</em>ketidak pastian penghasilan dan pekerjaan bagi sebagian besar pekerja pariwisata “<em>seasonal uncertenty”<strong></strong></em></p>
<p>Sebaiknya pula, dalam setiap perencanaan pembangunan pariwisata harusnya menyertakan variable-variabel non ekonomi, baik yang <strong><em>tangible</em></strong> maupun <strong><em>intangible</em></strong>, dan dapat dievalusi setiap saat untuk mengurangi dampak <strong><em>negative</em></strong> dengan menerapkan konsep <strong><em>“Managing Service Quality” one island in one management destination</em></strong>untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Archer, B. and Cooper, C. (1994) “The Positive and Negative Impacts of Tourism”. Pp. 73-91 in W.F. Theobald (ed.) <em>Global Tourism: The Next Decade</em>, Butterworth-Heinemann, Oxford.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Archer, B.H. (1982) “The Value of Multipliers and the Policy Implications”, <em>Tourism</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Board, J., Sinclair, T. and Sutcliffe, C. (1987) “A Portfolio Approach to Regional Tourism”, <em>Built Environment</em>, <strong>13</strong>(2), 124-137.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Butler, R.W. (1980) “The Concept of a Tourist Area Cycle of Evolution: Implications for the Management of Resources”, <em>The Canadian Geographer</em>, <strong>24</strong>, 5-12.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Canada Government Revenue Attributable to Tourism, 2007. Research Paper: <strong>Income and Expenditure Accounts Technical Series: </strong>Catalogue no. 13-604-M — No. 60</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005),<strong> Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 – 2009</strong>, Jakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fletcher, J.E. (1989) “Input-Output Analysis and Tourism Impact Studies”, <em>Annals of Tourism Research</em>, <strong>16</strong>, 514-529.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Heng, T.M. and Low, L. (1990) “Economic Impact of Tourism in Singapore”, <em>Annals of Tourism Research</em>, <strong>17, </strong>246-269<strong>. </strong><em>Management</em>, <strong>3</strong>(4), 236-241.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>India: Infrastructure Development Investment Program  for Tourist: Project Number: 40648  August 2010, retrieve from <a href="http://www.adb.org/Documents/FAMs/IND/40648-01-ind-fam.pdf">http://www.adb.org/Documents/FAMs/IND/40648-01-ind-fam.pdf</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jay Kandampully, (2000) &#8220;The impact of demand fluctuation on the quality of service: a tourism industry example&#8221;, Managing Service Quality, Vol. 10 Iss: 1, pp.10 – 19</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NusaBali, Selasa 8 Pebruari 2011 Pertumbuhan Ekonomi Bali 5,83 Persen</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pitana, I Gde.2005. <em>Sosiologi Pariwisata, Kajian sosiologis terhadap struktur, sistem, dan dampak-dampak pariwisata.</em> Yogyakarta: Andi Offset</p>
<p>Sapta Nirwandar (2011) Pembangunan Sektor Pariwisata: Di Era Otonomi Daerah, di unduh pada 21 Maret 2011 pada <a href="http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1">http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sinclair, M.T. (1991) “The Economics of Tourism”. Pp.1-27 in C.P. Cooper and A. Lockwood (Eds) <em>Progress in Tourism, Recreation and Hospitality Management</em>, <strong>3</strong>, John Wiley, Chichester, UK.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Spillane, James.1993. <em>Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.</em>Yogyakarta: Kanisius.</p>
<p>Tisdell, Clem, 1998. <em>Wider Dimensions of Tourism Economics – Impact Analysis, International Aspects, Tourism And Economic Development, And Sustainability And Environmental Aspects </em>Department of Economics: The University of Queensland, Brisbane 4072</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tourism Vision 2020 – UNWTO: <strong>pada </strong>http://pandeputusetiawan.wordpress.com<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>United Nation-World Tourism Organization (2005),<strong> </strong>Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid<strong></strong></p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 – 2009</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>Tourism Vision 2020 – UNWTO<strong>. From </strong>http://pandeputusetiawan.wordpress.com</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>Economic Impact of Tourism in Global Context</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>Positive Economic Impacts of Tourism<strong></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>Negative Economic Impacts of Tourism<strong></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Sektor Usaha Pariwisata meliputi: Perdag., hotel &amp; restoran</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> NusaBali, Selasa 8 Pebruari 2011 Pertumbuhan Ekonomi Bali 5,83 Persen</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/news/'>News</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=286&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/kajian-dampak-ekonomi-dan-keunggulan-pariwisata-kabupatenkota-di-provinsi-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REFLEKSI PEMBANGUNAN PARIWISATA BALI: ANTARA PELESTARIAN BUDAYA DAN PEMBANGUNAN EKONOMI</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/refleksi-pembangunan-pariwisata-bali-antara-pelestarian-budaya-dan-pembangunan-ekonomi/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/refleksi-pembangunan-pariwisata-bali-antara-pelestarian-budaya-dan-pembangunan-ekonomi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 08:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[REFLEKSI PEMBANGUNAN PARIWISATA BALI: ANTARA PELESTARIAN BUDAYA DAN PEMBANGUNAN EKONOMI I Gusti Bagus Rai Utama Mahasiswa Program Pascasarjana S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana &#160; Abstract Perdebatan antara tujuan pelestarian dan pemberdayaan ekonomi pada pariwisata budaya dengan segala manisfestasinya, masih menjadi perdebatan yang hangat diantara para fakar pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata.Sementara pembangunan pariwisata Bali dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=284&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>REFLEKSI PEMBANGUNAN PARIWISATA BALI</strong>: <strong>ANTARA PELESTARIAN BUDAYA DAN PEMBANGUNAN EKONOMI</strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>I Gusti Bagus Rai Utama</strong></p>
<p align="center">Mahasiswa Program Pascasarjana S3 (Doktor) Pariwisata</p>
<p align="center">Universitas Udayana</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">Abstract</p>
<p>Perdebatan antara tujuan pelestarian dan pemberdayaan ekonomi pada pariwisata budaya dengan segala manisfestasinya, masih menjadi perdebatan yang hangat diantara para fakar pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata.Sementara pembangunan pariwisata Bali dari masa ke masa, telah banyak mengalami perubahan seiring dengan dinamika social yang ada dalam masyarakat Bali.Artikel ini menggunakan metode <em>desk research</em> dengan melakukan kajian terhadap pustaka yang berhubungan dengan masalah yang dipecahkan, melalui kajian terhadap jurnal ilmiah, opini, dan artikel online, kemudian membandingkan dan menemukan persamaan dan perbedaannya sehingga dapat digunakan untuk menerangkan masalah yang ingin dipecahkan.Pada pembahasan artikel ini, ditemukan masih terdapat dualisme yang perlu dipadukan untuk mewujudkan keseimbangan antara tujuan pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi bagi Bali.Ada beberapa solusi ditawarkan; seperti Picard menawarkan solusi pemahaman dan fungsi seni dan budaya dan aktivitasnya dalam pariwisata dan kehidupan beragama. Sementara Max-neef menawarkan <em>Tourism community relationships</em>, sedangkan solusi lainnya adalah perlunya <em>stakeholders involment, Blue Print,</em> dan <em>Carrying Capacity</em>.<strong></strong></p>
<p>keywords: culture, budaya, heritage, warisan budaya, tourism, pariwisata, produk, komoditas, destinasi</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>1.     </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p><strong>1.1.       </strong><strong>Perdebatan antara Konservasi dan  Pemanfataan</strong></p>
<p>Diskusi dan perdebatan tentang  budaya saat ini sudah tidak lagi berdebat tentang ekspresi, imajinasi, atau kreativitas, namun sudah membahas tentang budaya sebagai <a title="" href="#_ftn1">[1]</a>sebuah produk wisata. Menurut Hewison, (1988: 240, dikutip oleh Ho dan Bob McKercher, 2010) mengatakan bahwa budaya dikonsumsi sebagai sebuah komoditas karena didalamnya terkandung nilai <strong><em>experiences</em></strong>.</p>
<p><a title="" href="#_ftn2">[2]</a>Pada masyarakat modern, heritage seringkali dijadikan komoditas yang bernilai ekonomis khususnya untuk kepentingan industri pariwisata (Graham at al, 2000) padahal nilai yang terkandung pada <strong><em>heritage</em></strong> sebenarnya lebih dari pada anggapan <strong><em>heritage</em></strong> sebagai sebuah barang dan jasa, akibatnya terjadilah eksploitasi <strong><em>heritage</em></strong> sebagai sebuah produk pariwisata, dan jika tidak dikelola secara bijaksana akhirnya <strong><em>heritage</em></strong> akan diperjualbelikan, distandarkan seperti layaknya sebuah barang yang berwujud padahal <strong><em>heritage</em></strong> itu juga mengandung elemen tak berwujud <strong><em>“intangible”</em></strong> yang mengansng nilai yang tidak pernah dapat distandarkan dan  di hitung secara ekonomis.</p>
<p><a title="" href="#_ftn3">[3]</a>Lebih lanjut Graham at al, (2000) mengatakan, ketika Warisan Budaya “<strong><em>heritage</em></strong>” dan budaya “<strong><em>culture</em></strong>” dianggap sebagai sumber daya ekonomi dan kapital, akhirnya alasan inilah yang dijadikan sebagai legitimasi untuk menjadikan budaya dan warisan budaya sebagai sebuah produk dalam industri pariwisata. Sementara Shackley (2001) membenarkan bahwa perjalanan yang mempersembahkan warisan budaya dan budaya sebagai produk  akan berbau komersialisasi mendekati kebenaran.</p>
<p><a title="" href="#_ftn4">[4]</a>Pemanfaatan “<strong><em>cultural heritage</em></strong>” atau warisan budaya sebagai sebuah produk yang siap dikonsumsi pada industri pariwisata relatif masih baru, khususnya oleh kalangan profesional pariwisata dan kalangan ilmiah dimulai sekitar tahun 1990 (Ashworth at al, 1994).Ide pemanfaatan warisan budaya sebagai sebuah produk juga diawali adanya sebuah tujuan utama untuk memberikan kepuasan pada wisatawan, mempersembahan <strong>eksperiens</strong> yang menjadi kebutuhan wisatawan.Pola pendekatan yang digunakan adalah pendekatan produk dan pemasaran yang berimbang dengan memadukan tujuan antara pelestarian dan pengelolaan warisan budaya sebagai sebuah komoditas pariwisata.</p>
<p>Dalam konsep pengelolaannya, ada dua perbedaan mendasar yang sangat sulit untuk menemukan sebuah keseimbangan yakni antara prinsip pengelolaan warisan budaya yang lebih cenderung berdekatan dengan <strong><em>konservasi</em></strong> sedangkan pariwisata yang lebih cenderung mengarah pada industri pariwisata yang lebih cenderung pada komersialisasi.Kesulitan yang nyata terjadi ketika harus ditentukan berapa harga yang harus dipatok untuk sebuah produk warisan budaya.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a><a title="" href="#_ftn6">[6]</a>Sementara Gunn (1998: 10) menyatakan, sering terjadi kesalahan tentang pengertian produk pariwisata pada sebuah system pariwisata, dan kebanyakan sering didasarkan bahwa produk adalah sesuatu yang beruwujud. Dikatakan, perlu ada definisi yang jelas apa yang dimaksud dengan produk?, bagaimana produk tersebut dapat difungsikan?, dan sangat mungkin bahwa produk warisan budaya mungkin hanya sebatas hayalan para wisatawan saja. Seringkali terjadi konsep yang berbeda antara pengelola produk pariwisata budaya dengan konsep konsumsi para wisatawan terhadap produk warisan budaya tersebut karena adanya perbedaan caramengkonsumsinya, acapkali ada beberapa wisatawan yang memang benar-benar perduli dengan nilai yang terkadung pada sebuah warisan budaya yang dikunjunginya, namun tidak sedikit pula wisatawan yang tidak acuh dengan nilai yang termanifestasi pada sebuah warisan budaya. Untuk menyatukan konsep yang berbeda inilah  diperlukan manajemen yang mampu memadukan sehingga antara tujuan konservasi dan pemanfataan dapat bertemu dalam keseimbangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.2.       <strong><em>Heritage Tourism</em></strong> sebagai Industri</p>
<p>Christou 2005, (dikutip oleh Sigala and Leslie, 2005:8) berpendapat bahwa <strong><em>Heritage tourism</em></strong> adalah sebuah industri.Pendapatnya mengacu kepada aktifitas modern yang dapat direncanakan, dikontrol dan mempunyai tujuan untuk menghasilkan produk di pasar atau market.<strong><em>Heritage</em></strong> dan <strong><em>tourism</em></strong> merupakan perpaduan dua industri, dimana ‘<strong><em>heritage</em></strong>’ yang berperan untuk merubah sebuah lokasi menjadi destinasi dan ‘<strong><em>tourism</em></strong>’ yang merupakan pewujudan dari aktifitas ekonomi (Kirschenblatt-Gimblett,1998:151; dikutip oleh Urry, 1990:90; dan Smith,2006:13).  Pada bagan dibawah ini merupakan interelasi dan komponen pada ‘<strong><em>heritage industry</em></strong>’:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagan 1: <strong><em>Component of the Heritage Industry</em></strong> (Ashworth, 1994;Cited in Sigala et al. 2005:9)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada bagan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: <strong><em>Heritage</em></strong> dapat berwujud bagunan kuno, candi, museum, atau artefac lainnya yang dijadikan dan disajikan serta ditawarkan kepada visitor atau wisatawan. Dengan segala kreatifitas pengelolaan, situs-situs <strong><em>heritage</em></strong> tersebut kemudian dikemas sedimikian rupa pada sebuah iklan atau brosur atau presentasi audio visual sesuai target visitor yang diharapkan untuk berkunjung.Selanjutnya <strong><em>heritage</em></strong> yang telah dikemas tersebut disebut produk yang siap dikonsumsi oleh wisatawan.</p>
<p>Sebenarnya ada dua tujuan yang diharapkan pada konsepsi bagan di atas, pertama dari sisi pengelolaan <strong><em>heritage</em></strong> itu sendiri bertujuan untuk kelestarian “<strong><em>Conservation agencies</em></strong>” sementara pada sisi pengelolaan produk lebih mengacu pada kepentingan pelaku industry pariwisata <strong><em>“User Industries”</em></strong> yang lebih <strong><em>economy oriented</em></strong>. Untuk dapat menyeimbangkan keduanya diperlukan kebijaksanaan sehingga tujuan ekonomi tidak mengabaikan tujuan konservasi, begitu juga tujuan konservasi dapat berkelanjutan jika ada dukunggan pendanaan untuk <strong><em>maintenance</em></strong> dan pengelolaan secara berkala, pada konteks ini, pengelolaan harusnya menggunakan konsepsi “<strong><em>carrying capacity management”</em></strong></p>
<h2 align="left"><strong>2.   </strong><strong>Metode </strong></h2>
<p>Kajian ini menggunakan metode desk research dengan teknik penelusuran data dan informasi secara online, sumber sekunder, dan sumber publikasi ilmiah lainnya.</p>
<p>Sementara teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif, analogi, dan komparasi beberapa hasil penelitian dan publikasi ilmiah lainnya yang terkait dengan permasalahan cultural tourism, heritage tourism, dan pembangunan pariwisata</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3.     </strong><strong>Hasil Kajian dan Pembahasan</strong></li>
</ol>
<p><strong>3.1.          </strong><strong>Pariwisata Budaya dan Pembangunan Ekonomi</strong><strong></strong></p>
<p>Peran pariwisata bagi provinsi Bali dalam pembangunan menunjukkankecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.Jika dilihat peranan pariwisata dalam kontribusinya terhadap PDRB Bali, maka terlihat adanya peningkatan yang nyata. Pada tahun 2003, PDRB dari pariwisata sebesar 28,43%,  kemudian meningkat menjadi 29,16% pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 meningkat lagi menjadi 29,37%. Sementara pada tahun 2006 kontribusi sector pariwisata terhadap PDRB Bali sedikit mengalami penurunan menjadi 28,88 sementara pada tahun 2007 meningkat kembali menjadi 28,98%.</p>
<p>Tabel perbandingan contributor (lapangan usaha) terhadap PDRB Bali, dapat dilihat seperti table dibawah ini:</p>
<p align="center">Tabel: <a title="" href="#_ftn7">[7]</a>Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali</p>
<table width="559" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="235">
<p align="center"><strong>Lapangan Usaha</strong><strong> (%)</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2003</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2004</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2005</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2006</strong></p>
</td>
<td>
<p align="center"><strong>2007</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">1. Pertanian</td>
<td>
<p align="right">21,66</p>
</td>
<td>
<p align="right">20,74</p>
</td>
<td>
<p align="right">20,29</p>
</td>
<td>
<p align="right">19,96</p>
</td>
<td>
<p align="right">19,41</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">2. Pertambangan &amp; penggalian</td>
<td>
<p align="right">0,68</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,68</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,66</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,69</p>
</td>
<td>
<p align="right">0,66</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">3. Industri pengolahan</td>
<td>
<p align="right">9,11</p>
</td>
<td>
<p align="right">9,00</p>
</td>
<td>
<p align="right">8,69</p>
</td>
<td>
<p align="right">8,70</p>
</td>
<td>
<p align="right">8,99</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">4. Listrik, gas &amp; air bersih</td>
<td>
<p align="right">1,57</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,80</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,85</p>
</td>
<td>
<p align="right">1,94</p>
</td>
<td>
<p align="right">2,00</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">5. Bangunan</td>
<td>
<p align="right">4,02</p>
</td>
<td>
<p align="right">3,91</p>
</td>
<td>
<p align="right">4,03</p>
</td>
<td>
<p align="right">4,28</p>
</td>
<td>
<p align="right">4,43</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235"><strong>6. <a title="" href="#_ftn8"><strong>[8]</strong></a>Perdag., hotel &amp; restoran</strong></td>
<td>
<p align="right"><strong>28,43</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>29,16</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>29,37</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>28,88</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>28,98</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">7. Pengangkutan &amp; komunikasi</td>
<td>
<p align="right">11,20</p>
</td>
<td>
<p align="right">11,30</p>
</td>
<td>
<p align="right">11,85</p>
</td>
<td>
<p align="right">11,86</p>
</td>
<td>
<p align="right">12,33</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">8. Keu. Persewaan, &amp; jasa perusahaan</td>
<td>
<p align="right">6,59</p>
</td>
<td>
<p align="right">6,79</p>
</td>
<td>
<p align="right">7,07</p>
</td>
<td>
<p align="right">7,46</p>
</td>
<td>
<p align="right">7,34</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">9. Jasa-jasa</td>
<td>
<p align="right">16,75</p>
</td>
<td>
<p align="right">16,61</p>
</td>
<td>
<p align="right">16,19</p>
</td>
<td>
<p align="right">16,22</p>
</td>
<td>
<p align="right">15,86</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="235"><strong>PDRB</strong></td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
<td>
<p align="right"><strong>100,00</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: BPS, 2009</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara Suarsana (2011) mengatakan, untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran  mengalami pertumbuhan sebesar 8,7 persen memberikan sumbangan terhadap sumber pertumbuhan terbesar terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan yang memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2 persen.7% (Nusa Bali, 2011)</p>
<p>Lalu dimana hubungan Pariwisata Budaya dengan pembangunan ekonomi Bali?</p>
<p><em>“Tourism strategies and promotions commonly include appeals relating to traditional life and cultures. As Javier Perez de Cuellar, the former United Nations Secretary General, stated in the 1995 Yogyakarta International Conference on Culture and Tourism, “There is no tourism without culture” (Kompas, 1995). In fact, it could well be argued that the facilities and services offered to tourists are easily imitated whatever the environment. It is the local people living in a destination area, and the many material and immaterial aspects of their traditional culture that are unique and thus extremely marketable. According to Lanfant (Lanfant, Allcock and Bruner, 1995, 35 dikutip oleh <strong>Williams dan Darma Putra, 1997)</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Williams dan Darma Putra, (1997), dalam strategi promosi pariwisata biasanya selalu menghubungkan tradisi dan budaya, lebih lanjut Cuellar berpendapat bahwa tidak ada pariwisata tanpa budaya, artinya kalau sebuah daerah mempromosikan pariwisata sebenarnya mereka mempromosikan budaya di sebuah destinasi tersebut. Walaupun dalam kenyataannya para pelaku bisnis juga menawarkan fasilitas yang mewah tapi sebenarnya yang menarik untuk dipasarkan adalah keunikan dari budaya tersebut (Lanfant at al, 1995 dikutip oleh Williams dan Darma Putra, 1997)</p>
<p>Jika dihubungkan antara kedua fakta di atas yakni, sektor Pariwisata Bali telah menjadi <strong><em>leading sector</em></strong> pembangunan ekonomi Provinsi Bali saat ini, ini semata-mata karena keunikan Budaya Bali itu sendiri yang telah dijadikan icon oleh para pelaku bisnis pariwisata Bali.</p>
<p>Sementara Hasil Penelitian Suradnya (2005) dengan menggunakan teknik analisis faktor <em>(factor analysis) </em>berhasil mengidentifikasikan delapan faktor sebagai daya tarik bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Bali, yakni : (1) Harga-harga produk wisata yang wajar, (2) Budaya dalam berbagai bentuk manifestasinya, (3) Pantai dengan segala daya tariknya, (4) Kenyamanan berwisata, (5) Kesempatan luas untuk relaksasi, (6) Citra <em>(image) </em>atau nama besar Bali, (7) Keindahan alam, (8) Keramahan penduduk setempat. Hasil Penelitian Suradnya menggambarkan kondisi yang agak berbeda sedikit dengan pendapat Williams dan Darma Putra, namun factor (yakni factor ke-2) Budaya dalam berbagai bentuk manifestasinya masih menjadi daya tarik yang cukup kuat untuk menarik dan mendorong wisatawan mancanegara datang berlibur ke Bali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.2.          </strong><strong>Pariwisata Budaya di Bali sebagai sebuah Solusi Pembangunan?</strong></p>
<p><em>Vickers (1989) and Picard (1996) observe that both Indonesian presidents, in their time have hailed Bali and tourism as central to the country’s development. International agencies and organizations have also taken this stance, as did colonial administrators prior to independence. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Vickers (1989) dan Picard (1996) dalam Williams dan Darma Putra (1997) menuliskan bahwa pada era pemerintahan Presiden Soeharto yakni presiden Indonesia yang ke-dua, Bali telah dijadikan sebagai pusat pembangunan pariwisata Indonesia.Begitu juga beberapa organisasi internasional telah mengangggap bahwa pembangunan pariwisata di Indonesia sebenarnya telah dimulai di Bali sejak pemerintahan penjajahan Belanda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“The New Order of President Suharto additionally stressed the importance of national and ethnic identity to Indonesia, evident in the country’s motto of ‘unity in diversity’. This support for the rich cultural heritage of Indonesia, coupled with increases in the locals’ standard of living, are likely to have contributed to the increased interest of Balinese in their identity” (Williams dan Darma Putra, 1997). </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih lanjut Williams dan Darma Putra (1997) bahwa pada masa orde baru jaman pemerintahan Presiden Soeharto telah memberikan perhatian yang cukup penting tentang pentingnya nasionalisme dan identitas bangsa yang lebih jelas tertuang dalam konsep “<strong><em>Bhineka Tunggal Ika</em></strong>”, hal ini yang mendorong berkembangnya budaya daerah dan pada akhirnya akan memperkaya khasanah budaya nasional, karena budaya nasional tersebut sebenarnya unitas dari keberagaman budaya daerah yang ada di nusantara ini. Berkembangnya Budaya Bali juga merupakan manisfestasi dari “<strong><em>Bhineka Tunggal Ika</em></strong>” yang pada akhirnya kita bisa nikmati buahnya saat ini sebagai factor keunikan pariwisata Bali.</p>
<p><em> “How cultural tourism in Bali is defined?” Cultural Tourism is tourism developed based on local Balinese cultures which is typically characterized by Hindu religion which becomes a part of national cultures as the basic domain, harmonious, and balanced relationship between tourism and culture” (Subadra, 2011)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Subadra (2011) Pariwisata Budaya Bali adalah pariwisata yang dikembangkan berdasarkan keragaman budaya local yang berlandaskan ajaran agama Hindu dan merupakan bagian yang utuh dari kebudayaan nasional, serta mengedepankan keharmonisan antara tujuan pengembangan pariwisata itu sendiri sehingga tujuan pelestarian budaya bali yang berkelanjutan dapat terwujud.</p>
<p>Sedangkan Pariwisata Budaya Bali dapat diwujudkan dan dimanifestasikan dalam bentuk: Situs-situs bersejarah, arsitektur bali, tradisi, upacara keagamaan, kerajinan tangan, seni dan musik, pakaian daerah, makanan lokal bali, dan manifestasi lainnya yang dilhami oleh budaya dan agama Hindu Bali.</p>
<p><em>As Santeri (1992) observed, there has been increased community involvement in local ceremonies such as at Pura Besakih, the ‘mother’ temple, in the past two decades. There has been an increased thirst for religious knowledge, more attention to what it means to be Balinese, and a revitalisation of existing temples. There has also been a growth in new ones. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih lanjut Santeri (1992) telah melakukan penelitian, dan menemukan bahwa terjadi peningkatan pelibatan masyarakat pada setiap upacara besar  pada 20 tahun terakhir khususnya pada pura agung seperti pada Pura Besakih. Artinya peningkatan pengetahuan tambahan, perhatian untuk memaknai ke Baliannya semakin meningkat, dan telah terjadi perbaikan secara <strong><em>massive</em></strong> terhadap pura-pura di pulau Bali karena hampir di semua pura yang ada masih terkait dengan aktivitas keagamaan yang masih lestari sampai saat ini.</p>
<p><em>This has all helped to strengthen Bali’s culture and Agama Hindu, the Balinese religion (Vickers, 1989). A rise in the Balinese population’s standard of living has also given inhabitants greater time to address issues other than food and shelter. For example, as Cukier-Snow and Wall (1993) observed, ceremonial offerings are now much more elaborate and expensive</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Vickers, 1989 (dikutip oleh Willams dan Darma Putra, 1997), Pariwisata Budaya telah dijadikan solusi untuk memperkuat budaya bali dan agama Hindu. Pariwisata Budaya juga telah mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali, namun peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat Bali juga diiringi oleh peningkatan harga barang-barang khususnya berhubungan dengan perlengkapan upacara dan sejenisnya, dan hal ini harusnya juga menjadi perhatian kita bersama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Picard (1996) has also noted this development, especially among the new rich who seem to be using their newly acquired wealth in ceremonial offerings that compete with the more established nobility.</em></p>
<p>Lebih Lanjut Picard (1996) juga mencatat bahwa telah terjadi perubahan dalam masyarakat Bali, dengan berkembangnya pariwisata telah lahir kelompok masyarkat baru yang disebut kelompok kaya baru atau “<em>sugih mare” </em> mereka yang lahannya terpaksa harus dijual karena dipakai untuk pembangunan infrastruktur pariwisata, ada juga mereka memang benar-benar memulai bisnis atau usaha di bidang pariwisata dan berhasil. Kelompok ini mengaktualisasikan keberhasilannya pada perbaikan penyelenggaraan upacara agamanya ke lebih mewah, yang pada akhirnya dengan terjadinya perbaikan kesejahteraan masyarakat Bali, upacara keagamaan di Bali semakin semarak dan tetap lestari.</p>
<p>Topangan keberhasilan Pariwisata Budaya di Bali telah menjadi mesin penggerak bertumbuhnya perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bali dan sangat pantas dijadikan solusi pembangunan bagi Bali karena setiap aktivitas masyarakat Bali dominan digerakkan oleh aktivitas <em>ceremonial</em> keagamaan khususnya Agama Hindu yang penduduknya masih tetap mendominasi di Bali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.3.          </strong><strong>Pariwisata Budaya Bali: Apakah Bali Telah Rusak?</strong></p>
<p><em>Gelebet (1994) and Kobar (1996), cited in Williams and Darma Putra (1997)  believe the wholesale promotion of Bali, that encourages tourists to view cremation ceremonies and other rites of passage, has degraded local culture. In particular, there has been strong criticism of the Balinese wedding ceremonies for outsiders, such as that of pop celebrity, Mick Jagger.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perdebatan tentang anggapan bahwa Budaya Bali telah mengalami degradasi telah lama dilontarkan oleh Gelebet (1994) dan Kobar (1996), dimana ditandai dengan adanya promosi beberapa upacara agama yang sebenarnya tidak boleh dipersembahkan untuk kepentingan pariwisata, misalnya upacara <strong><em>ngaben</em></strong>, dan pesan-pesan degradasi lainnya seperti adanya pernikahan ala Hindu yang dilakukan oleh bukan pemeluk Hindu juga merupakan pesan telah terjadinya degradasi budaya Bali yang sebenarnya  sudah tidak dapat ditolerir lagi seperti yang telah dilakukan oleh penyanyi pop Mick Jagger.</p>
<p>Beberapa hari sebelum laporan ini ditulis, ada juga pemberitaan di sebuah media international yang mengganggap Bali sudah tidak layak untuk dikunjungi karena berbagai alasan <em>“<strong>Holidays in hell&#8217; in Bali: Aussies see the beauty in the beast”. </strong></em>Beberapa alasan tersebut adalah masalah sampah yang telah mengotori Pantai Kuta yang merupakan Icon Pariwisata Bali, seperti  tampak pada gambar di bawah ini.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Australians have a strong affinity with Bali and will keep going, travel agents say, despite it being dubbed  &#8220;holidays in hell&#8221; by Time magazine. The magazine says the island is struggling with waste and some of its famous beaches are strewn with rubbish”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Obyek wisata yang berbasiskan pantai sangat digemari oleh wisatawan Australia, dan selama ini telah berkontribusi nyata terhadap pariwisata Bali, namun dengan pemberitaan oleh <strong><em>Time</em><em> magazine</em></strong>dimungkinkan akan menyurutkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Bali.</p>
<p>Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah: apakah sampah-sampah tersebut berasal dari aktivitas pariwisata atau aktivitas masyarakat Bali? Tentu saja jika jawabannya “tidak”, tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa Bali boleh dicermari oleh sampah-sampah yang menjijikkan itu.Jika jawaban “ya”, alangkah parahnya degradasi budaya masyarakat Bali. Untuk sementara mungkin dapat dijawab bahwa sampah-sampah tersebut bukan akibat aktivitas pariwisata Bali namun berasal dari pulau lain. Lalu solusinnya bagaimana?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Bali tourism agency head Ida Kade Bagus Subhiksu said up to 300 garbage trucks a day were needed to collect rubbish in the Kuta area, a prime tourist spot”.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebenarnya Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah menaruh perhatian yang serius dengan masalah ini, bahkan setiap harinya telah diangkut sebanyak 300 truk yang dipungut hanya dari kawasan Kuta saja sebagai pusat aktivitas wisatawan namun sampah-sampah selalu menjadi ancaman, apalagi menjelang musim penghujan.</p>
<p>Apapun alasannya, masalah sampah telah berdampak negatif terhadap reputasi Bali sebagai daerah tujuan wisata yang popular, hal ini telah dibuktikan oleh hasil survey terhadap 4920 voters, survey ini dilakukan setelah adanya pemberitaan di Majalah Times tentang <strong><em>“Holidays in hell report: how hellish do you rate Bali? </em></strong>yang menanyakan kebenaran pemberitaan tersebut; 43% menyatakan bahwa pemberitaan tersebut sangat benar, sementara 24% menjawab sedikit mendekati kebenaran, 33% menyatakan bahwa pemberitaan tersebut tidak benar sama sekali dan merupakan sebuah kebohongan belaka.  Walaupun penelitian tersebut dilakukan hanya sebatas opini public dan sifatnya tidak ilmiah, tapi tetap bias dipakai untuk bahan evaluasi diri. <strong><em>“Disclaimer: These polls are not scientific and reflect the opinion only of visitors who have chosen to participate”.</em></strong></p>
<p>Pemberitaan tersebut masih bisa diperdebatkan, namun pemberitaan tersebut haruslah menjadi bahan introspeksi diri bagi <strong><em>stakeholders</em></strong> pariwisata Bali sehingga pemberitaan tentang hal-hal negatif tentang destinasi Bali dapat dieliminasi.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Construction at Kuta beach. Bali Governor Made Mangku Pastika has slapped a moratorium on new hotel development. </em><em>Photo: AFP and </em><em>Construction is pressing ahead on a massive beachfront development dubbed the Beach Walk, a $70 million &#8216;lifestyle resort&#8217; linking two luxury hotels. </em><em>Photo: AFP</em><em></em></p>
<p>Seperti nampak pada gambar di atas, Dapat dibayangkan betapa terancamnya symbol-simbol budaya bali, ketika fasilitas dan infrastruktur pendukung pariwisata dibangun dengan sangat modern dan dengan gaya <strong><em>western. </em></strong>Masih sangat diragukan, apakah  wisatawan yang datang ke Bali apakah benar-benar didorong oleh megahnya atau modernnya fasilitas pariwisata, atau masih karena factor keunikan Budaya Bali dengan segala manifestasinya?</p>
<p><em>&#8220;Tourists come to Bali to relax,&#8221; Bali Hotels Association secretary-general Perry Markus said. &#8220;I can imagine how frustrated they will be if they end up getting stuck in horrendous traffic jams like in Jakarta.&#8221;</em></p>
<p>Masalah lainnya yang cukup pelik sedang dihadapi oleh pariwisata Bali adalah masalah kemacetan lalu lintas, menurut Markus, wisatawan datang ke Bali untuk berlibur dan untuk mendapatkan kesenangan namun ketika wisatawan melihat serta terjebak dalam kemacetan lalu lintas, alangkah kecewanya mereka, tidak dapat dibayangkan apa yang akan mereka pikirkan tentang pariwisata Bali.</p>
<p>Masalah Kriminalitas terhadap para wisatawan juga menjadi masalah yang cukup pelik untuk dipecahkan, karena tanpa diduga-duga bahwa eskalasi tindak kriminalitas tidak hanya dilakukan oleh kaum pendatang  namun juga dilakukan oleh masyarakat local Bali dengan berbagai motifnya.</p>
<p>Masalah lainnya yang cukup membuat resah adalah maraknya pembangunan Villa liar yang tidak mempertimbangkan area suci, lahan produktif, bahkan lahan konservasi seperti hutan lindungpun tidak luput dari incaran para investor, dan semua masalah ini berawal dari ketidak sepakatan tentang Tata Ruang Wilayah, <em>blue print </em>pengembangan pariwisata Bali juga tidak pernah dapat diwujudkan secara nyata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>4.     </strong><strong>Simpulan dan Saran </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p>Berkenaan dengan pelestarian Budaya Bali, Picard menawarkan beberapa solusi penyeimbang:</p>
<p><em>Picard (1996, 198) dalam Williams dan Darma Putra, 1997, observes Balinese have a very clear understanding about the role and function of their art. “The Balinese know very well if they are dancing for tourists, for their community, or for their gods”. In 1971, for example, cultural experts on the island identified three forms of art in Bali, categorising them as either for the gods (wali), for ritualistic purposes (bebali) or for entertainment (balih-balihan) (Bandem, 1996; Picard, 1996).</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Picard, sebenarnya masyarakat Bali telah memiliki pemahaman yang cukup jelas tentang fungsi seni dan segala aturannya, masyarakat Bali sebenarnya paham benar tentang lingkungannya, tentang komunitasnya, dan tentang pemujaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, Dia mencontohkan tentang fungsi dan jenis tarian yang ada di Bali, sangat jelas jenis serta fungsinya, kapan jenis tarian tertentu harus di pentaskan, di mana layaknya sebuah tarian harusnya di pentaskan, semua hal tersebut telah diatur sedemikian rupa. Sebagai contohnya, ada tari Wali yang khusus ditarikan untuk keperluan upacara keagamaan, ada tarian balih-balihan atau kreasi yang biasanya dipentaskan untuk tujuan hiburan untuk penonton.Namun karena alasan kepuasan wisatawan solusi penyeimbang yang telah ada menjadi kabur bahkan sudah sangat sulit dibedakan.</p>
<p>Sementara Max-Neef (1992) menjelaskan bahwa, pembangunan berkesinambungan termasuk juga pembangunan pariwisata akan dapat berkelanjutan jika terjadi harmonisasi atau keseimbangan antara <em>residents <strong>“quality of life”, tourists “quality of experiences”, dan Provider Industries “quality of opportunity”.  </strong></em>Fundamental needs (Max-Neef) menurutnya terdiri dari 10 elemen yakni: <em>subsistence, protection, affection, understanding, participation, leisure, creation, identity, freedom and transcendence. </em>Sedangkan untuk mengukur derajat keseimbangan ketiga elemen di atas diajukan dua pertanyaan yakni: <em>(1) How does tourism contribute to dissatisfaction of needs?, (2) How can tourism contribute to satisfaction of needs?, sedangkan derajatnya  diukur berdasarkan: Being, Having, Doing, Interacting.</em></p>
<p align="center">
<p align="center">Sumber: Max-Neef (1992)</p>
<p><a title="" href="#_ftn9">[9]</a>Jika dihubungkan dengan Pariwisata Budaya Bali, tentunya masyarakat Bali sebagai <strong><em>resident’s owner of the destination</em></strong> bertujuan untuk mewujudkan tercapai <strong><em>quality of life</em></strong> yang lebih baik seiring dengan berkembangkanya pariwisata Bali, sementara Wisatawan sebagai <strong><em>consumers of the destination</em></strong> ingin mewujudkan <strong><em>quality of experience-</em></strong>nya selamat berlibur di Bali, dan pastinya para pelaku bisnis pariwisata sebagai <strong><em>providers of the destination</em></strong> ingin mewujudkan <strong><em>quality of opportunity</em></strong> atas investasi yang telah ditanamkan pada industry pariwisata Bali. Dalam konteks yang sama, Budaya Bali harus tetap lestari karena merupakan factor keunikan destinasi, sementara masyarakat Bali harus disejahterakan oleh kemajuan pembangunan pariwisata Bali agar mereka mampu berkreasi dan melestarikan tradisi yang pastinya memerlukan dukungan financial, sementara wisatawan berkepentingan akan <strong><em>“value for money” </em></strong>yakni terwujudnya antara <strong><em>expectation and satisfaction</em></strong> sehingga akan menimbulkan loyalitas terhadap Bali sebagai destinasi.</p>
<p>Namun pada saat ini, ada indikasi bahwa masyarakat Bali telah mengalami pergeseran gaya hidup, yang pada mulanya sangat teguh memegang konsep hidup harmonisasi antara alam, manusia, dan penciptanya ke arah mementingkan diri sendiri walaupun sepintas terlihat aktivitas keagamaan berjalan semakin semarak, namun sebenarnya tatanan budaya bali telah mengalami degradasi yang cukup berarti, Indikasi lainnya, masyarakat Bali telah mengalami bergeseran dari budaya <strong><em>conserver </em></strong>ke arah <strong><em>consumer</em></strong>, tidak peduli dampak negatif dari sebuah usaha yang dilakukan di Bali yang penting uang dan uang.  <strong>Solusi Penyeimbang lainnya adalah </strong>harus ada gerakan bersama pada semua elemen masyarakat, dari individu, keluarga, kelompok, golongan, kaum pejabat dan sebagainya. Jika yang peduli hanya satu atau dua elemen saja, pastilah usaha untuk ajeg Bali sangat susah untuk diwujudkan. Solusinya adalah  (1) Harus ada gerakan <strong><em>Care for all and Interinpendency</em></strong>, satu visi dan misi bersama untuk menyelamatkan Bali dari kepentingan sesaat, dan sudah sangat mendesak untuk mewujudkan “<strong><em>one island in one destination management”</em></strong>. (2) Masyarakat Bali haruslah <strong><em>proaktif</em></strong> dalam memberikan masukan tentang kebijakan-kebijakan pembangunan di daerah ini.Setiap proyek yang ditawarkan di Bali haruslah dikaji secara realitas dan faktual agar tidak bertentangan dengan budaya yang telah ada “<strong><em>stakeholder’s involment</em></strong>”.  (3) Membuat program pembangunan yang <strong><em>meminimalkan  dampak negatif</em></strong> dan memaksimalkan pengaruh positifnya sehingga generasi yang akan datang tidak dibebani dengan kebobrokan dan kehancuran para pendahulunya <strong><em>“Carrying Capacity”</em></strong>.  (4) Penomena pembangunan akhir-akhir ini di Bali sungguh membuat kita prihatin, sebab beberapa proyek yang ditawarkan oleh investor di Bali terkadang tidak sesuai dengan budaya dan tradisi Bali. Mungkin saja investor tidak salah karena memang pemegang kebijakan di Bali tidak memiliki perencanaan yang jelas tentang pembangunan di daerahnya. Begitu juga  masyarakat dengan sangat mudahnya menjual tanah miliknya. Dalam konteks ini, tidak ada pihak yang dapat dibenarkan dan disalahkan, perlunya “<strong><em>Blue Print</em></strong>” Pembangunan Pariwisata Bali  (Utama, 2006).</p>
<p>Untuk kesinambungan pembangunan Bali, semua elemen masyarakat harus berpegang teguh pada visi dan misi yang telah ditetapkan yakni pembangunan Pariwisata Budaya Bali berdasarkan keragaman budaya lokal yang berlandaskan ajaran agama Hindu dan merupakan bagian yang utuh dari kebudayaan nasional, serta mengedepankan keharmonisan antara tujuan pengembangan pariwisata itu sendiri sehingga tujuan pelestarian budaya bali yang berkelanjutan dapat terwujud dan akhirnya tujuan konservasi dan konsumsi dapat berjalan seimbang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Bali dubbed a &#8216;holiday hell&#8217; by Time magazine. (2011) retrieve from http://www.theage.com.au/travel/travel-news/bali-dubbed-a-holiday-hell-by-time-magazine-20110408-1d6vy.html</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Graham, B., Ashworth, G. J. &amp;Tunbridge, J. E. (2000).A Geography of Heritage: Power, Culture, and Economy. Arnold, London.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gunn, C. A. (1988). Tourism Planning.2nd edn, Taylor and Francis, New York.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suradnya, I Made (2005). Analisis Faktor-Faktor Daya Tarik Wisata Bali dan Implikasinya Terhadap Perencanaan Pariwisata Daerah Bali: Soca (Jurnal Sosial dan Ekonomi) Udayana University Bali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>L E Williams dan N. Darma Putra. (1997). Cultural Tourism: The Balancing Act, Department of Economics and Marketing, PO Box 84, Lincoln University, CANTERBURY</p>
<p>Max-Neef (1992), Sustainabelity Development: Quality of Leisure and Tourism, bahan kuliah School of Graduate Studies CHN University Netherlands.</p>
<p>Pamela S. Y. Ho ; Bob McKercher. (2010) Managing heritage resources as tourism products: School of Hotel and Tourism Management, The Hong Kong Polytechnic University, Hong Kong SAR, China</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Paradise lost? Bali becoming a victim of its own success. (2011). Retrieve from http://www.smh.com.au/travel/travel-news/paradise-lost-bali-becoming-a-victim-of-its-own-success-20110210-1aocc.html</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Shackley, M. (2001).Managing Sacred Sites.Continuum, London.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Utama Rai, I Gusti Bagus. (2006). MewujudkanPembangunan Bali Berkesinambungan. Bali Post, Artikel Kamis Paing, 12 Oktober 2006</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>Culture has become a commodity. (Hewison, 1988: 240)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>In contemporary society, heritage is often treated as a commodity for economic uses, especially for tourism (Graham, Ashworth &amp; Tunbridge, 2000)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>Shackley (2001), although describing a journey to a sacred site as a service “product” being consumed by its “customers” convey a very commercial feel, this is however true.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>The idea of managing cultural heritage assets as products for tourism consumption is relatively new, for cultural tourism professionals and scholars have been advocating this idea only since the late 1990s (Ashworth, 1994; Hughes, 1989; McKercher &amp; du Cros, 2002; Richards, 1996; Shackley, 2001).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Heritage selanjutnya disebut warisan budaya</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>Gunn (1988: 10), “Misunderstanding of the tourism product is often a constraint in a smoothly functioning tourism system”. Only if the true nature of a product is appreciated, will the management of it be successful and fruitful.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Sektor Usaha Pariwisata meliputi: Perdag., hotel &amp; restoran</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>Max-Neef (1992): Tourism community relationships</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/news/'>News</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/284/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=284&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/refleksi-pembangunan-pariwisata-bali-antara-pelestarian-budaya-dan-pembangunan-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STRATEGI MEMINIMALKAN “ECONOMIC LEAKAGES” PADA SEKTOR PARIWISATA</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/strategi-meminimalkan-%e2%80%9ceconomic-leakages%e2%80%9d-pada-sektor-pariwisata/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/strategi-meminimalkan-%e2%80%9ceconomic-leakages%e2%80%9d-pada-sektor-pariwisata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 07:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[STRATEGI MEMINIMALKAN “ECONOMIC LEAKAGES” PADA SEKTOR PARIWISATA Oleh I Gusti Bagus Rai Utama Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana Abstrak Economic leakages dianggap sebagai masalah yang paling sulit untuk diatasi karena sektor pariwisata akan bertumbuh pada iklim liberalisasi yang memungkinkan pihak asing dapat melakukan bisnis pada pasar domestik sehingga terjadinya economic leakages tidak dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=278&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>STRATEGI MEMINIMALKAN “<em>ECONOMIC LEAKAGES</em>” PADA SEKTOR PARIWISATA</strong><strong> </strong></p>
<p align="center">
<p align="center">Oleh</p>
<p align="center"><strong>I Gusti Bagus Rai Utama</strong></p>
<p align="center">Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p>
<p><strong><em>Economic leakages</em></strong> dianggap sebagai masalah yang paling sulit untuk diatasi karena sektor pariwisata akan bertumbuh pada iklim liberalisasi yang memungkinkan pihak asing dapat melakukan bisnis pada pasar domestik sehingga terjadinya <strong><em>economic leakages</em></strong> tidak dapat dihindari. <strong><em>Economic leakages</em></strong> dapat bersifat <strong><em>external, internal</em></strong>, dan <strong><em>invisible leakages</em></strong>, dimana ketiga jenis <strong><em>leakages</em></strong> tersebut disebabkan oleh faktor yang berbeda-beda. <strong><em>Leakages</em></strong> tidak dapat dihindari pada kondisi pasar bebas atau liberalisasi perdagangan saat ini, walau demikian <strong><em>economic leakages</em></strong> dapat diminimalkan dengan berbagai cara dan strategi. Strategi yang terbaik adalah dengan strategi struktur <strong><em>clusture</em></strong> yang harusnya dapat diterapkan oleh pemerintah melalui kesepakatan internasional baik yang dilakukan pada level export, level supplier, maupun level input ekonomi yang dapat diatur sedemikian rupa untuk mengurangi atau meminimalkan terjadinya economic leakages.</p>
<p align="center">Keyword: <strong><em>economic leakage, liberalisasi, strategi, struktur cluster</em></strong></p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<ol>
<li><strong>1.      </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p><strong>1.1.</strong><strong>Pengukuran Manfaat dan Kerugian Pariwisata</strong></p>
<p>Mengukur manfaat dan kerugian pembangunan pariwisata pada beberapa negara saat ini, masih menjadi perdebatan diantara para ahli ekonomi khususnya yang telah melakukan riset dan evalusi terhadap ekonomi pariwisata. Beberapa pandangan para fakar mewarnai pembahasan paper ini dari sudut pandangan yang berbeda-beda.</p>
<p>Frechtling (1987), menyatakan bahwa untuk mengukur manfaat pariwisata bagi perekonomian suatu Negara harus tersedia data yang cukup lengkap, Dia menawarkan metode alternative khususnya berhubungan dengan metode pengumpulan data tentang pengeluaran   wisatawan di saat yang akan datang, dan dia juga mereview beberapa metode yang telah digunakan oleh para ahli sebelumnya, dengan menggunakan impact multipliers dan input-output analysis untuk mengukur pengeluaran sector pariwisata.</p>
<p>Sementara Archer dan Cooper (1994), berpendapat bahwa: penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harus menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya, dan <strong><em>social cost-benefitanalysis</em></strong> mestinya digunakan. Menurutnya, untuk mengukur manfaat dan dampak pariwisata tidak sekedar menghitung dampak ekonomi hanya dengan mencari multiplier efeknya saja.</p>
<p>Sedangkan, Sinclair dan Sutcliffe (1988), menjelaskan bahwa pengukuran <strong><em>multiplier income</em></strong> untuk sektor pariwisata pada tingkat sub nasional memerlukan pemikiran dan data yang lebih kompleks disebabkan sering terjadinya <em>“</em><em>leakages” </em>kebocoran sehingga analisis ini sebaiknya dilakukan pada tingkat local regional tertentu dan <strong><em>leakages</em></strong> inilah yang mestinya harus diukur dan dibandingkan dengan manfaat yang  diharapkan.</p>
<p>Lebih tegas, Heng dan Low (1990) pada tataran praktis, mereka menjelaskan bahwa untuk mengukur dampak pariwisata akan lebih baik menggunakan analisis <strong><em>input-output</em></strong>.  Tapi, Johnson dan Moore (1993) justru menitikberatkan bahwa pengukuran dampak ekonomi pariwisata akan lebih tepat dilakukan focus pada aktifitas wisata tertentu yang sedang berkembang pesat dan sumberdaya pariwisata yang dipergunakannya serta segala dampak-dampaknya.</p>
<p>Sementara West (1993) menawarkan SAM atau <strong><em>social accounting matrix</em></strong> untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu.Dia mengganggap bahwa analisis <strong><em>input-output</em></strong> dianggap belum mampu memecahkan persoalan dampak pariwisata karena hanya mengukur hubungan produser dengan produser dan tidak menyertakan perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor publik lainnya.</p>
<p>Dan akhirnya, Harris dan Harris (1994) mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata yang telah dilakukan saat ini pada tingkat nasional, dan regional cenderung mengabaikan ketiadaan standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata padahal standarisasi pada industri pariwisata ini membawa konsekuensi tersendiri terhadap biaya tambahan <strong><em>“others cost” </em></strong>baik bagi pelaku industri pariwisata dan masyarakat lokal itu sendiri.</p>
<p>Dalam banyak hal, pariwisata telah terbukti berpengaruh positif terhadap perekonomian sebuah Negara yang didapatkan dari pendapatan nilai tukar valuta asing, penerimaan devisa akibat adanya konsumsi wisatawan, penyerapan tenaga kerja, pembangunan infrastruktur pariwisata yang turut dinikmati oleh masyarakat local, dan di beberapa destinasi pariwisata juga sebagai generator pemberdayaan perekonomian masyarakat local.  WTO memprediksi bahwa pendapatan pariwisata disumbangkan 100% secara langsung dari pengeluaran wisatawan pada suatu kawasan dan dalam kenyataannya, masyarakat lokal lebih banyak berebut lahan penghidupan dari sektor informal ini, artinya jika sektor informal bertumbuh maka masyarakat lokal akan mendapat menfaat ekonomi yang lebih besar. Sebagai contoh, peran pariwisata bagi Provinsi Bali terhadap perekonomian daerah “PDRB” sangat besar bahkan telah mengungguli sektor pertanian yang pada tahun-tahun sebelumnya memegang peranan penting di Bali.</p>
<p>Pada sisi lainnya, pembangunan pariwisata juga dapat berdampak negatif terhadap sebuah negara atau destinasi jika pembangunan tersebut tidak dikoordinasi dan direncanakan dengan baik, artinya pembangunan pariwisata harusnya diarahkan untuk memperdayakan masyarakat dalam negari dengan sistem yang terkait langsung dengan faktor-faktor produksi dalam negeri. Penggunaan factor-faktor produksi dalam negeri seperti tanah, air, dan semua aspek yang terkait dengan lingkungan fisik dan sosial dapat dilakukan secara bijaksana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.2.</strong><strong> Pengaruh Negative Pembangunan Pariwisata</strong></p>
<p>Beberapa pengaruh negative dari pembangunan pariwisata dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p><strong><em>1.2.1.      </em></strong><strong>Kebocoran (<em>Leakage)</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>Leakage</em></strong> atau kebocoran dalam pembangunan pariwisata dapat diakibatkan dari adanya kebocoran yaitu keboran <strong><em>import</em></strong> dan kebocoran <strong><em>export</em></strong>. Biasanya kebocoran <strong><em>import</em></strong> terjadi ketika terjadinya permintaan terhadap peralatan-peralatan yang berstandar internasional yang digunakan dalam industri pariwisata, bahan makanan dan minuman <strong><em>import</em></strong> yang tidak mampu disediakan oleh masyarakat lokal atau dalam negeri.   Besarnya pendapatan dari sektor pariwisata juga diiringi oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan <strong><em>import</em></strong> terhadap produk yang dianggap berstandar internasional. Sedangkan kebocoran <strong><em>export</em></strong> seringkali terjadi pada pembangunan destinasi wisata khususnya pada negara miskin atau berkembang yang cenderung memerlukan modal dan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya.</p>
<p>Kondisi  seperti ini, akan mengundang masuknya penanam modal asing yang memiliki modal yang kuat untuk membangun <strong><em>resort</em></strong> atau hotel serta fasilitas dan infrastruktur pariwisata, sebagai imbalannya, keuntungan usaha dan investasi mereka akan mendorong uang mereka kembali ke negara mereka tanpa bisa dihalangi, hal inilah yang disebut dengan <em>“leakage”</em> kebocoran <strong><em>export.</em></strong></p>
<p>Hal ini membenarkan pendapat dari Sinclair dan Sutcliffe (1988), yang menjelaskan bahwa pengukuran manfaat ekonomi dari sektor pariwisata pada tingkat sub nasional harunya menggunakan pemikiran dan data yang lebih kompleks untuk menghindari terjadinya <em>“</em><em>leakages” </em>kebocoran. Khusus masalah <strong><em>leakages</em></strong> pada paper ini akan dibahas pada sub-bab khusus yakni <strong><em>economic leakages</em></strong> dan strategi meminimalkan <strong><em>economic leakages</em></strong>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>1.2.2.      </em></strong><strong>Kebobolan (<em>Enclave Tourism)</em></strong></p>
<p>“<em>Enclave tourism</em>” sering diasosiasikan bahwa sebuah destinasi wisata dianggap hanya sebagai tempat persinggahan sebagai contohnya, sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar dimana mereka hanya singgah pada sebuah destinasi tanpa melewatkan malam atau menginap di hotel-hotel yang telah disediakan industri lokal sebagai akibatnya dalam kedatangan wisatawan kapal pesiar tersebut manfaatnya dianggap sangat rendah atau bahkan tidak memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat di sebuah destinasi yang dikunjunginya.</p>
<p>Kenyataan lain yang  menyebabkan <em>“enclave” </em> adalah kedatangan wisatawan yang melakukan perjalanan wisata yang dikelola oleh biro perjalanan wisata asing dari “<em>origin country</em>”  sebagai  contohnya, mereka menggunakan maskapai penerbangan milik perusahaan mereka sendiri<em>, </em>kemudian mereka menginap di sebuah hotel yang di miliki oleh manajemen chain dari negara mereka sendiri, berwisata dengan armada dari perusahaan chain milik pengusaha mereka sendiri, dan dipramuwisatakan oleh pramuwisata dari negerinya sendiri, dan sebagai akibatnya masyarakat lokal tidak memperoleh manfaat ekonomi secara optimal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>1.2.3.      </em></strong><strong>Pembiayaan Infrastruktur (<em>Infrastructure Cost)</em></strong></p>
<p>Tanpa disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang berstandar internasional dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi pemerintah dan akibatnya cenderung akan dibebankan pada sektor pajak dalam artian untuk membangun infratruktur tersebut, pendapatan sektor pajak harus ditingkatkan artinya pngutan pajak terhadap masyarakat harus dinaikkan.</p>
<p>Pembangunan pariwisata juga mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan kualitas bandara, jalan raya, dan infrastruktur pendukungnya, dan tentunya semua hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit dan sangat dimungkinkan pemerintah akan melakukan <strong><em>re-alokasi</em></strong> pada anggaran sektor lainnya seperti misalnya pengurangan terhadap anggaran pendidikan dan kesehatan.</p>
<p>Kenyataan di atas menguatkan pendapat Harris dan Harris (1994) yang mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata harusnya menyertakan faktor standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata yang sering dilupakan pada analisis dampak pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>1.2.4.      </em></strong><strong>Meningkatnya Harga-harga secara Dramatis (<em>Increase in Prices or Inflation)</em></strong></p>
<p>Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan akan menyebabkan meningkatnya harga secara beruntun “<strong><em>inflalsi</em></strong>” yang pastinya akan berdampak negative bagi masyarakat lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami peningkatan pendapatan secara proporsional artinya jikalau pendapatan masyarakat lokal meningkat namun tidak sebanding dengan peningkatan harga-harga akan menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah.</p>
<p>Pembangunan pariwisata juga berhubungan dengan meningkatnya harga sewa rumah, harga tanah, dan harga-harga <strong><em>property</em></strong> lainnya sehingga sangat dimungkinkan masyarakat lokal tidak mampu membeli dan cenderung akan tergusur ke daerah pinggiran yang harganya masih dapat dijangkau.</p>
<p>Sebagai konsukuensi logis, pembangunan pariwisata juga berdampak pada meningkatnya harga-harga barang konsumtif, biaya pendidikan, dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga pemenuhan akan kebutuhan pokok justru akan menjadi sulit bagi penduduk lokal. Hal ini juga sering dilupakan dalam setiap pengukuran manfaat pariwisata terhadap perekonomian pada sebuah Negara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>1.2.5.      </em></strong><strong>Ketergantungan Sektoral (<em>Economic Dependence)</em></strong></p>
<p>Keanekaragaman industri dalam sebuah perekonomian menunjukkan sehatnya sebuah negara, jika ada sebuah negara yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor tertentu seperti pariwisata misalnya, akan menjadikan sebuah negara menjadi tergantung pada sektor pariwisata sebagai akibatnya ketahanan ekonomi menjadi sangat beresiko tinggi.</p>
<p>Di beberapa negara, khususnya negara berkembang yang memiliki sumberdaya yang terbatas memang sudah sepantasnya mengembangkan pariwisata yang dianggap tidak memerlukan sumberdaya yang besar namun pada negara yang memiliki sumberdaya yang beranekaragam harusnya dapat juga mengembangkan sektor lainnya secara proporsional.</p>
<p>Ketika sektor pariwisata dianggap sebagai anak emas, dan sektor lainnya dianggap sebagai anak diri, maka menurut Archer dan Cooper (1994), penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harusnya menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya. Ketergantungan pada sebuah sektor, dan ketergantungan pada kedatangan orang asing dapat diasosiasikan hilangnya sebuah kemerdekaan sosial dan pada tingkat nasional, sangat dimungkinkan sebuah negara akan kehilangan kemandirian dan sangat tergantung pada sektor pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>1.2.6.      </em></strong><strong>Masalah Musiman (<em>Seasonal Characteristics)</em></strong></p>
<p>Dalam Industri pariwisata, dikenal adanya musim-musim tertentu, seperti misalnya musim ramai <strong><em>“high season”</em></strong> dimana kedatangan  wisatawan akan mengalami puncaknya, tingkat hunian kamar akan mendekati tingkat hunian kamar maksimal dan kondisi ini akan berdampak meningkatnya pendapatan bisnis pariwisata. Sementara dikenal juga musim sepi “<strong><em>low season</em></strong>” di mana kondisi ini rata-rata tingkat hunian kamar tidak sesuai dengan harapan para pebisnis sebagai dampaknya pendapatan indutri pariwisata juga menurun hal ini yang sering disebut “<strong><em>problem seasonal</em></strong>”</p>
<p>Sementara ada kenyataan lain yang dihadapi oleh para pekerja, khususnya para pekerja informal seperti sopir taksi, para pemijat tradisional, para pedagang acung, mereka semua sangat tergantung pada kedatangan wisatawan, pada kondisi <strong><em>low season</em></strong> sangat dimungkinkan mereka tidak memiliki lahan pekerjaan yang pasti. Kenyataan di  atas, menguatkan pendapat West (1993) yang menawarkan SAM atau <strong><em>social accounting matrix</em></strong> untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu, kebermanfaatan pariwisata terhadap ekonomi harusnya berlaku proporsional untuk semua musim, baik musim sepi maupun musim ramai wisatawan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>2.     </strong><strong>“<em>Economic Leakages</em>” studi kasus dan strategi</strong></li>
</ol>
<p>Dari enam pengaruh negative yang kemungkinan muncul pada pembangunan pariwisata, economic leakage dianggap paling sulit untuk mengatasinya karena sangat sulit untuk mengukurnya.  Saat ini <a title="" href="#_ftn1">[1]</a>pembangunan pariwisata paling memungkinkan terbukanya proses liberalisasi sehingga kemungkinan terjadinya economic leakage pada setiap aktivitas perekonomian yang terjadi sangat besar. Pertanyaannya sekarang bukanlah apakah hal tersebut memang dimungkinkan, tetapi jika hal tersebut memang terjadi, apakah industri pariwisata Indonesia akan mampu menguasai pasar? Belum  diketahui  secara  pasti  bagaimana  dampak  liberalisasi  perdagangan  jasa  pariwisata  di Indonesia.  Jika  dilihat  dari  aspek  tingkat  leakage (kebocoran  devisa),  sejumlah  pendapat mengatakan bahwa pariwisata Indonesia menciptakan leakage antara 50% hingga 80% (Kodhyat, 2003-www.sinarharapan.co.id).  Jika data tersebut akurat, maka leakage yang terjadi di Indonesia tergolong tidak terlalu tinggi jika hanya mencapai 50%. Sementara leakage terkecil adalah sebesar 40% yaitu di India karena  keberhasilan  mereka  meminimalisasi  jumlah  impor  kebutuhan  wisatawan,  leakage yang tertinggi di dunia jika mencapai angka 80%, menurut UNCTAD, leakage tertinggi adalah di kawasan Karibia yaitu sebesar 75% (UNCTAD, 2007: 8).</p>
<p>Selain karena liberalisasi di atas, economic leakage dalam pembangunan pariwisata dapat disebabkan karena lemahnya koordinasi  pada aktivitas pariwisata dan lemahnya system produksi local (Nyaupane and Thapa, 2004 cited in Thapa, 2005). Lebih lanjut, economic leakage dapat juga disamakan terjadinya kebocoran pendapatan dari aktivitas pariwisata yang menyebabkan masyarakat local tidak bisa menikmatinya.</p>
<p>Kondisi lainnya, economic leakage dapat disebabkan oleh penggunaan modal luar negeri, pembangunan fasilitas pada jaringan internasional atau chain khususnya pembangunan hotel berbintang yang memicu banyaknya impor hotel supplies, bahan makanan, furniture, pekerja, maskapai penerbangan asing, dan sebagainya (Andrew Holden, 2008).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.1.         </strong><strong>Jenis-jenis <em>Leakage</em> pada Pariwisata</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>2.1.1.      </em></strong><strong><em>External Leakages </em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Leakage ini terjadi akibat pengeluaran pada sector pariwisata yang terjadi  di luar destinasi dimana pengeluaran tersebut berhubungan dengan industry local. External leakages dapat terjadi disebabkan oleh, (1) investor asing membangun infrastruktur dan fasilitas pariwisata pada negara sedang berkembang, sehingga profit dan pembayaran terjadi di luar negeri. (2) Arus uang bisnis pariwisata langsung terjadi di luar negeri dikarenakan booking bisa dilakukan di luar negeri atau terjadi secara online, wisatawan datang dengan maskapai penerbangan asing, cruise ship atau kapal pesiar, atau bentuk usaha lain yang dimiliki oleh orang asing.</p>
<p>Luasnya dan dampak dari external leakages sangat bervariasi pada setiap negara dan juga berbeda pada setiap destinasi pariwisata. Untuk external leakage yang berhubungan dengan penanaman modal asing dalam pembangunan fasilitas pariwisata, leakages ini akan berpengaruh dalam waktu pendek dan bahkan waktu panjang tergantung seberapa besar modal yang ditanamkannya dan lamanya kontrak kerjasamanya. Karena keterbatasan pembiayaan dalam negeri, leakages tidak dapat dihindari khususnya pada pembangunan negera-negara yang sedang berkembang, sementara pada negara maju, leakages dapat diminimalkan karena kondisi keuangan negara maju relatif lebih baik.</p>
<p>Pada kasus <strong><em>leakages</em></strong> yang disebabkan oleh pemesanan perjalanan secara langsung dari negara asing (<strong><em>foreign booking intermediaries</em></strong>), dapat dhindari dengan menyediakan fasilitas didalam negeri yang dapat diakses dari luar negeri, mungkin dengan cara online dan cara lainnya yang memungkinkkan transaksi  wisatawan dapat diterima secara langsung oleh negara atau perusahaan dalam negeri.</p>
<p>Lebih lanjut, Diaz Benevides (2001) mengatakan, penerimaan dari aktivitas pariwisata yang melibatkan pihak asing pada setiap negara, persentase leakages bervariasi dan sulit untuk diukur dan diperkirakan, namun persentase tersebut berada pada kisaran 75%.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>2.1.2.      </em></strong><strong><em>Internal Leakages </em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a title="" href="#_ftn2">[2]</a>Rata-rata internal leakages pada kebanyakan negara sedang berkembang berada pada kisaran 40 sampai dengan 50% dari total penerimaan kotor sektor pariwisata pada skala ekonomi yang lebih kecil. Sementara dalam skala ekonomi yang lebih luas, internal leakage terjadi antara kisaran 10 sampai dengan 20% (UNEP). Internal leakages dominan disebabkan oleh penggunaan komponen import yang diukur secara domestik.  Menurut (UNEP) <a title="" href="#_ftn3">[3]</a>leakage internal dapat diukur dengan Tourism Salelite Accounts (TSA) dan hal ini telah dilakukan oleh 44 negara yang memiliki database update tentang kepariwisataannya (WTO). Internal leakages pada negara berkembang terjadi pada rantai penyediaan suplies (goods and Services)  pariwisata yang diimport.</p>
<p>Internal leakages pada beberapa destinasi biasanya terjadi akibat permintaan atau tuntutan tingkat kualitas terhadap pelayanan pariwisata dan hiburan pariwisata khususnya terkait dengan produk-produk import.  Produk-produk yang dimaksud misalnya pengadaan wine dan beberapa minuman beralkohol yang bermerek internasional yang diproduksi di luar negeri. Hotel-hotel chain dengan standar internasionalnya juga menyebabkan internal leakages yang cukup berarti karena mereka cenderung akan menuruti standar yang telah ditentukan dan diharapkan oleh wisatawan.</p>
<p>Pada kasus di Kepulauan Maldives, 83% ketersediaan pekerjaan dalam negeri berhubungan dengan sektor pariwisata dan pariwisata berhubungan dengan industri-industri dalam negerinya yang sebagian besar proses produksinya tergantung komponen import sehingga terjadinya internal leakage terjadi sangat tinggi. Sementara Diaz Benevides (2001) mengatakan, internal leakages diperkirakan terjadi antara 40 sampai dengan 50% pada kebanyakan negara sedang berkembang, dan pada negara maju internal leakages terjadi antara 10 hingga 20%.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>2.1.3.      </em></strong><strong><em>Invisible Leakages </em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Invisible leakages adalah hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendapatan dari sektor pariwisata yang terjadi secara nyata namun sangat sulit untuk didokumentasi secara nyata tetapi akan berpengaruh secara kumulatif. Aktivitas yang dapat menyebabkan invisible leakages misalnya: pajak, informal transaksi yang biasanya tidak tercatat, serta tabungan dan investasi off-shore.</p>
<p><a title="" href="#_ftn4">[4]</a><strong><em>Leakages </em></strong>ini akan dapat dikurangi dengan tindakan melihat cluster pariwisata, menerapkan kebijakan pajak pada semua cluster pariwisata, membuat kebijakan keuangan dan fiskal, dan membuat perjanjian kerjasama dengan negara lain yang berhubungan dengan kerjasama pariwisata sebagai investor maupun pemasok wisatawan.</p>
<p>Invisible leakage yang lainnya dapat berbentuk penggunaan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui, kerusakan lingkungan, degradasi budaya, hilangnya sejarah, dan rusaknya aset-aset pariwisata dalam waktu lama sehingga dapat menyebabkan menurunnya kualitas hidup masyarakat lokal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.2.<strong>Studi Kasus Leakages</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>World Bank memperkirakan secara keseluruhan dari total pendapatan pada negara-negara berkembang, 55% akan kembali “leakage” ke negara maju, namun angka tersebut bervariasi pada setiap negara yang berbeda (Frueh 1988, cited in Boo 1990). Leakages yang besar justru terjadi pada negara kecil atau kepulauan sedang berkembang di mana pariwisata pada negara-negara tersebut tergantung pada komponen import, seperti: St. Lucia 45% (Spinrad 1982:85), sedangkan Caribbean dilaporkan rata-rata 70% (Pattullo 1996) sementara negara bagian Bahamas pada tahun 1994 terjadi leakage mendekati 90% yang merupakan persentase tertinggi dari sejarah economic leakages.</p>
<p><a title="" href="#_ftn5">[5]</a>Sementara sebuah penelitian di Gambia, memperkirakan economic leakages terjada pada level 77% termasuk internal dan external leakages (Dieke 1993).  Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 1978 oleh Economic and Social Commission for Asia and the Pacific memperkirakan terjadinya leakage berkisar antara 75 hingga 78% yang disebabkan oleh maskapai penerbangan asing dan hotel berbintang yang dimiliki oleh perusahaan asing, studi yang hampir sama menemukan bahwa leakage terjadi pada kisaran 55 hingga 60% yang disebabkan oleh maskapai penerbangan asing tetapi hotel-hotel di destinasi dimiliki oleh orang lokal (Madeley 1996:18). Kedua komparasi data tersebut mengindikasikan bahwa jika kepemilikan perusahan pada industri pariwisata didominasi oleh pemilik lokal maka economic leakages dapat dikurangi.</p>
<p>Berikut data leakages yang pernah dihitung pada beberapa negara-negara yang mengembangkan pariwisata sebagai sektor pembangunan unggulan, di mana perbedaan data tersebut adalah leakages dari pengeluaran kotor (Leakage of gross tourism expenditure) yang terjadi pada kurun waktu tahun 1972 hingga 1991 seperti pada tabel 1 di bawah ini:</p>
<p align="center"><strong>Tabel 1: Leakage of gross tourism expenditure (1972 &#8211; 1991) (%)</strong></p>
<p align="center">
<p align="center">Source: Smith and Jenner (1992). Various WTO reports.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada beberapa negara memiliki strategi untuk mengurangi expenditure leakage pada sektor pariwisata dengan melakukan pemberdayaan terhadap sektor lain yang terkait pariwisata pada skala ekonomi lokal. Pada tabel 1 di atas, nampak leakage terjadi cukup rendah (40%) karena pemerintahnya melakukan pembedayaan sektor terkait pariwisata dan pertanian sehingga dapat mengurangi kebutuhan pariwisata khususnya terhadap import bahan makanan untuk keperluan sektor pariwisata World Bank (2003).</p>
<p>Sementara sembilan negara di kepualauan Karibia memiliki import rate pada kisaran 45% hingga 90% sehingga pada kondisi ini, economic leakages terjadi pada persentase yang sangat tinggi (Ramjee Singh 2002, 2003).  Hasil penelitian yang berbeda di  New Zealand dan Philippines menunjukkan economic leakages terjadi sangat rendah kisaran 11 hingga 20%, sementara di Kenya dan Korea Selatan angka economic leakages terjadai antara 20 hingga 22%, hal ini disebabkan kebutuhan komponen import relatif rendah.</p>
<p>Data di atas menunjukkan bahwa komponen import berpengaruh terhadap besaran multiplier pada sektor pariwisata, yang artinya jika terjadi leakages yang tinggi maka akan menyebabkan multiplier sektor pariwisata menjadi rendah. Terdapat banyak faktor menyebabkan tingginya leakages, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p>(1)Negara kepulauan kecil cenderung berada pada skala economi yang kecil dan memiliki ketergantung import yang tinggi karena tidak memiliki kapasitas produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan oleh sektor pariwisata. Sementara pada negara kepulauan yang lebih besar tidak menghadapi persoalan kapasitas produksi karena telah terbangun hubungan antar sektor pariwisata dan pendukung pariwisata dalam skala ekonomi domestik.</p>
<p>(2) Keterbatasan Infrastruktur pada negara sedang berkembang dapat menyebabkan tingginya leakages, berbeda dengan negara yang telah membangun infrastruktur pariwisata, dapat meningkatkan kemungkinan produksi industri domestik, dan dapat membangun hubungan yang lebih kuat antar industri dalam negeri, sehingga diharapkan dapat menciptakan efisiensi  distribusi barang dan jasa dalam negeri, dan dapat menghalangi masuknya perusahaan asing ke dalam negeri (Karagiannis 2004).</p>
<p>(3) Meningkatnya angka kunjungan wisata ke Karibia pada sepuluh tahun terakhir menyebabkan meningkatnya permintaan barang dan jasa untuk keperluan sektor pariwisata. Dan akhirnya sumberdaya domestik tidak mampu memenuhi kebutuhan sektor pariwisata, dan sektor pendukung pariwisata seperti pertanian di Karibia tidak efisien bahkan justru berbiaya tinggi atau un-efisien dan import dianggap menjadi alternatif yang lebih baik (Karagiannis, 2004).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.3.</strong><strong>  Strategi Meminimalkan Economic Leakage</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Strategi untuk meminimalkan economic leakage pada sektor pariwisata harusnya menjadi strategi pemerintah dengan cara memperhatikan semua cluster industri yang berhubungan dengan struktur perekonomian regional.</p>
<p align="center"><a title="" href="#_ftn6">[6]</a>Gambar Struktur Clusture</p>
<p align="center">
<p align="center">Sumber: James GOLLUB, <strong><em>at al (2000)</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Strategi Cluster dilakukan dengan memberikan peran kepada pemerintah baik secara nasional maupun provinsi secara fleksibel untuk memainkan perannya dalam pembangunan pariwisata. Fleksibiltas pemerintah dapat menciptakan kreativitas dan keberlanjutan pembangunan dan pemasaran pariwisata, di saat yang sama pemerinath juga harus mampu menciptakan pilihan untuk melakukan intervensi yang dapat diterima oleh semua stakeholder pariwisata untuk berkreasi dan menciptakan aturan dunia usaha yang kondusif pada sektor pariwisata. Campur tangan pemerintah diperlukan pada semua level struktur cluster yang terbagi menjadi tiga level sebagai berikut:</p>
<p>(1)   <strong><em>Export level</em></strong>, campur tangan pemerintah pada level ini didasarkan pada kenyataan bahwa pertumbuhan dan perkembangan industri pariwisata memiliki persamaan input seperti kebutuhan tenaga kerja, teknologi, pendanaan, infrastruktur pada sebuah struktur yang harus diatur sedemikian rupa untuk meminimalkan terjadinya leakeges.</p>
<p>(2)   <strong><em>Regional Supplier level</em></strong>, campur tangan pemerintah juga diperlukan untuk memfasilitasi provider asing, dimana provider asing diperlukan untuk menyediakan komponen yang tidak mampu disediakan oleh provider  domestik, kebutuhan barang dan jasa inilah yang menarik masuknya suplier asing ke regional dengan tingkat leakeges yang sekecil mungkin.</p>
<p>(3)   <strong><em>Economic Input Level</em></strong>, campur tangan pemerintah pada level ini diperlukan bagi semua pihak untuk menyediakan landasan bisnis. Organisasi swasta dan pemerintah atau agen yang lainnya memerlukan landasan untuk menjalankan bisnisnya sehingga diperlukan dukungan pendidikan dan pelatihan, innovasi, pendanaan, infrastruktur dan informasi, iklim usaha seperti pajak, aturan dan administrasi, dan jaminan kualitas hidup.</p>
<p>Lebih lanjut dapat diuraikan bahwa penanaman modal asing (<strong><em>finance</em></strong>) pada sektor pariwisata dan kerjasama antara perusahan-perusahan domestik dan asing harus dilakukan dalam hubungan regional, dan dilakukan secara selektif untuk pembangunan yang bersifat keharusan seperti (1) modernisasi yang dilakukan secara komprehensif pada sistem yang transparan khususnya yang berkaitan dengan design dan engineering, equipment dan supplies (2) Menghindari adanya peluang terjadinya tindak korupsi pada <strong><em>contract manufactoring</em></strong>. (3) melakukan regulasi pembatasan dan rasionalisasi. (4) melakukan legal protection khususnya untuk rekanan perusahaan pariwisata asing pada marketing dan distrubusi dan logistik. Keempat poin di atas dapat dilakukan pada framework kerjasama GATS dan dapat diterapkan pada keempat cluster segment pada gambar di atas. Pemerintah juga dapat meminimalkan terjadinya external leakages dengan cara membuat model kontrak kerjasama bagi perusahaan pariwisata dengan investor asing dan supplier dengan perjanjian atau kesepakatan internasional yang berpihak pada sektor pariwisata regional atau domestik.</p>
<p>Pemerintah harus juga dapat menyediakan sistem yang mendorong pemberdayaan tenaga kerja lokal (<strong><em>human resources system</em></strong>), sehingga mendorong adanya inovasi pada industri pariwisata (<strong><em>innovations system</em></strong>), pemerintah juga harus dapat menjamin keberlanjutan pemasaran destinasi (<strong><em>capital markets system</em></strong>), pembangunan  infrastruktur fisik yang baik dapat menciptakan efisiensi distribusi barang dan jasa dalam negeri, pemerintah juga diharapkan dapat menjamin iklim bisnis yang kondusif dengan menjamin adanya stabilitas politik dan keamanan yang terjamin, dan pada akhirnya pembangunan pariwisata harusnya dapat menciptakan terwujudnya kualitas hidup yang lebih baik bagi semua stakeholder pariwisata (host-wisatawan-investor-pemerintah)</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3.     </strong><strong>Simpulan dan Saran</strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengaruh positif pembangunan pariwisata sudah tidak perlu diragukan lagi seperti pendapatan nilai tukar valuta asing, penerimaan devisa akibat adanya konsumsi wisatawan, penyerapan tenaga kerja, pembangunan infrastruktur pariwisata yang turut dinikmati oleh masyarakat local, dan di beberapa destinasi pariwisata juga sebagai generator pemberdayaan perekonomian masyarakat local.</p>
<p>Selain pengaruh positif tersebut, pariwisata juga dapat menimbulkan pengaruh negatif seperti <strong><em>economic leakages, enclave</em></strong>, inflasi, tingginya pembiayaan infrastruktur dan fasilitas,  ketergantungan sektoral, dan masalah musiman. Dari sekian banyak masalah negatif yang dapat ditimbulkan oleh sektor pariwisata, economic leakages dianggap masalah yang paling sulit untuk diatasi karena sektor pariwisata akan bertumbuh pada iklim liberalisasi yang memungkinkan pihak asing dapat melakukan bisnis pada pasar domestik sehingga terjadinya economic leakages tidak dapat dihindari. Economic leakages dapat bersifat <strong><em>external, internal</em></strong>, dan <strong><em>invisible leakages</em></strong>, dimana ketiga jenis leakages tersebut disebabkan oleh faktor yang berbeda-beda.</p>
<p><strong><em>Leakages</em></strong> tidak dapat dihindari pada kondisi pasar bebas atau liberalisasi perdagangan saat ini, walau demikian <strong><em>economic leakages</em></strong> dapat diminimalkan dengan berbagai cara dan strategi. Strategi yang terbaik adalah dengan strategi struktur clusture yang harusnya dapat diterapkan oleh pemerintah melalui kesepakatan internasional baik yang dilakukan pada level export, level supplier, maupun level input ekonomi yang dapat diatur sedemikian rupa untuk mengurangi atau meminimalkan terjadinya <strong><em>economic leakages.</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pusaka</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Archer, B. and Cooper, C. (1994) “The Positive and Negative Impacts of Tourism”. Pp. 73-91 in W.F. Theobald (ed.) <em>Global Tourism: The Next Decade</em>, Butterworth-Heinemann, Oxford.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Archer, B.H. (1982) “The Value of Multipliers and the Policy Implications”, <em>Tourism</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Benevides, David Diaz (2001), “The Viability and Sustainability of International Tourism in Developing Countries”, Symposium on Tourism Services, World Trade Organisation, Geneva.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Board, J., Sinclair, T. and Sutcliffe, C. (1987) “A Portfolio Approach to Regional Tourism”, <em>Built Environment</em>, <strong>13</strong>(2), 124-137.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Butler, R.W. (1980) “The Concept of a Tourist Area Cycle of Evolution: Implications for the Management of Resources”, <em>The Canadian Geographer</em>, <strong>24</strong>, 5-12.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fletcher, J.E. (1989) “Input-Output Analysis and Tourism Impact Studies”, <em>Annals of Tourism Research</em>, <strong>16</strong>, 514-529.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gollub, James, Hosier, Amy and Woo, Grace. (2000). “Using Cluster-Based Economic Strategy to Minimise Tourism Leakages”, ICF Consulting, San Francisco, California.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Helen Mc Bain. (2007).  Caribbean tourism and agriculture: linking to enhance development and competitiveness. Economic Development Unit, E C L A C, S U B R E G I O N A L, HEADQUARTERS FOR THE CARIBBEAN studies and perspectives 2 S E R I E S, Port of Spain,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Heng, T.M. and Low, L. (1990) “Economic Impact of Tourism in Singapore”, <em>Annals of Tourism Research</em>, <strong>17, </strong>246-269<strong>. </strong><em>Management</em>, <strong>3</strong>(4), 236-241.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nepal, S.K. (.2007). <em>Indigenous Perspectives on Ecotourism in Nepal: The Ghale Kharka-Sikles and Sirubari Experience.</em> In: Higham, J. (Ed): Critical Issues in Ecotourism: Understanding a Complex Tourism Phenomenon. Elsevier Ltd.</p>
<p>Thapa, K. (2004). <em>Prospects of Sustainable Tourism in Sirubari.</em> B.Sc. Case Study Report Sumbitted to Academic Department, School of Environmental Management and Sustainable Development, Kathmandu.</p>
<p>Thapa, K. (2005). <em>Challenges and Opportunities of Village Tourism in Sirubari.</em> B.Sc. Thesis, School of Environmental Management and Sustainable Development, Pokhara Univeristy, Kathmandu.</p>
<p>Thapa, Kamal. (2008). (Environmental Management), Pokhara University, Nepal<br />
Diploma in Energy Planning and Sustainable Development, University of Oslo, Norway, Retrive from http://www.ecoclub.com/articles/488-sirubari-village-tourism-nepal</p>
<p>Thapa, S. (2004).  <em>Personal Communication. </em>Tour Guide for Japanese Village Tourists.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>UNCTAD. (2007), Trade and Development Implications of International Tourism for Developing Countries: Issues Note for Discussion  www.unctad.org/sections/ditc_tncdb_comdip0017_en.pdf.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>United Nation-World Tourism Organization (2005),<strong> </strong>Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid<strong></strong></p>
<p>Upadhyay, R. (2005). <em>Village Tourism and Nepal</em>. In: Nepal Travel Trade Reporter (NTTR) Vol. viii, Issue Nr. 43, July 25-31</p>
<p>Upadhyay, R. (2007). <em>Rural Tourism to Create Equitable and Growing Economy in Nepal. </em>http://www.hull.ac.uk/php/ecskrb/GDP2007/RuralTourism_Rudra.pdf; Site accessed on 15 April, 2010</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Kodhyat, 2003-www.sinarharapan.co.id</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Hasil penelitian UNEP dan Diaz Benevides (2001)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> leakage internal dapat diukur dengan Tourism Salelite Accounts (TSA)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Kebijakan cluster pariwisata untuk mengurangi economic leakages</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Hasil Penelitian World Bank  dan Economic and Social Commission for Asia and the Pacific</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6"><em><strong>[6]</strong></em></a><em> Using Cluster-Based Economic Strategy  To Minimize Tourism Leakages, This paper is written by Mr. GOLLUB is Senior Vide President of ICF Consulting which is an international research and consulting based in Fairfax, VA.   The firm has five areas of specialization:   Community and Economic Development, Energy, environment, Transportation and Information Technology.   This paper was prepared by the ICF Global Economic Development Practice  (GEDP), based in San Francisco, California.    The GEDP is a leader  in  strategy  for  high  performing  regions  through  applying  cluster-based  economic  strategy  for competitive,  equitable,  sustainable  and  agile  economies.    </em></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/news/'>News</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=278&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/strategi-meminimalkan-%e2%80%9ceconomic-leakages%e2%80%9d-pada-sektor-pariwisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“WORLD” HERITAGE MANAGEMENT  MANFAAT DAN KERUGIAN BAGI MASYARAKAT LOKAL</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/%e2%80%9cworld%e2%80%9d-heritage-management-manfaat-dan-kerugian-bagi-masyarakat-lokal/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/%e2%80%9cworld%e2%80%9d-heritage-management-manfaat-dan-kerugian-bagi-masyarakat-lokal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 07:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[“WORLD” HERITAGE MANAGEMENT MANFAAT DAN KERUGIAN BAGI MASYARAKAT LOKAL Oleh I Gusti Bagus Rai Utama Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana Abstract Membandingkan situs yang terdaftar di WHS atau world heritage Situs yakni The Tower of London dengan situs Pura Tanah Lot Bali dapat memberikan informasi bahwa mereka memiliki kekuatan yang hampir mirip yakni [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=274&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 align="center">“WORLD” HERITAGE MANAGEMENT</h2>
<p align="center"><strong>MANFAAT DAN KERUGIAN BAGI MASYARAKAT LOKAL</strong></p>
<p align="center">Oleh</p>
<p align="center"><strong>I Gusti Bagus Rai Utama</strong></p>
<p align="center">Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Abstract</strong></p>
<p>Membandingkan situs yang terdaftar di WHS atau world heritage Situs yakni <strong><em>The Tower of London</em></strong> dengan situs Pura Tanah Lot Bali dapat memberikan informasi bahwa mereka memiliki kekuatan yang hampir mirip yakni unsur keunikan, namun memiliki perbedaan universalitas, dimana <strong><em>The Tower of London</em></strong> memiliki universalitas yang dapat diterima oleh dunia sementara Pura Tanah Lot belum mampu menunjukkannya. Keduanya dikunjungi oleh wisatawan dalam jumlah besar sehingga memiliki ancaman terhadap usaha mitigasi atau konservasi baik konservasi  fisik maupun nilai yang terkandung dalam kedua situs tersebut. Keduanya telah dikomodifikasi untuk tujuan publik bahkan telah memasuki babak komersialisasi yang cukup berarti, pada situs Pura Tanah Lot telah menimbulkan konflik pengelolaan karena belum memiliki perencanaan jangka panjang sedangkan situs <strong><em>The Tower of London</em></strong> belum terjadi konflik pengelolaan karena telah dikelola sacara nasional dan professional. Eksistensi <strong><em>The Tower of London</em></strong> telah mendapat dukungan UNESCO-WHS sedangkan Pura Tanah Lot belum. Interpretasi terhadap situs <strong><em>The Tower of London</em></strong> telah diakui secara nasional oleh public Inggris sebagai situs wajib untuk kajian sejarah bagi para pelajar di sana, sementara Situs Pura Tanah Lot belum terintegrasi secara nasional.</p>
<p align="center">Keyword: <strong><em>Kekuatan, tantangan,</em></strong> <strong><em>World Heritage Situs, The Tower of London</em></strong></p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<ol>
<li><strong>1.    </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saat ini pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara, tanpa terkecuali di Afrika. Namun demikian pada kenyataannya, pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. <a title="" href="#_ftn1">[1]</a>Pariwisata internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi tersebut meningkat 11% dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Seiring dengan hal tersebut, diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2020 akan menembus angka 1,6 miliar orang per tahun (UN-WTO, 2005).<strong></strong></p>
<p>Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2005, dalam Sapta, 2011:1) menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang sangat mulia dan dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p>a)         Tujuan pemersatu dan mempererat kesatuan Bangsa karena pariwisata dianggap mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.</p>
<p>b)         Tujuan penghapusan kemiskinan <a title="" href="#_ftn2">[2]</a>(<strong><em>Poverty Alleviation</em></strong>) karena pembangunan pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharapkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapannya adalah bahwa pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>c)         Tujuan pembangunan berkesinambungan (<strong><em>Sustainable Development</em></strong>) karena dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Artinya penggunaan sumberdaya yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relative lama.</p>
<p>d)         Tujuan pelestarian budaya <a title="" href="#_ftn4">[4]</a>(<strong><em>Culture Preservation</em></strong>) dengan pembangunan kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara ataudaerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan diberbagai daerah.</p>
<p>e)         Tujuan pemenuhan <a title="" href="#_ftn5">[5]</a>Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia: Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema paid holidays.</p>
<p>f)          Tujuan Peningkatan Ekonomi dan Industri; Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa.</p>
<p>g)         Tujuan Pengembangan Teknologi; Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataan akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>2.      </strong><strong>Kajian Teoritis</strong></li>
</ol>
<p><strong>2.1.</strong><strong> Paradoks Komodifikasi terhadap Pelestarian Warisan Budaya</strong></p>
<p>Diskusi dan perdebatan tentang  budaya saat ini sudah tidak lagi berdebat tentang ekspresi, imajinasi, atau kreativitas, namun sudah membahas tentang budaya sebagai  sebuah produk wisata. Menurut Hewison, (1988: 240, dikutip oleh Ho dan Bob McKercher, 2010) mengatakan, budaya dikonsumsi sebagai sebuah komoditas karena didalamnya terkandung nilai <strong><em>experiences.</em></strong></p>
<p>Pada masyarakat modern, <strong><em>heritage</em></strong> seringkali dijadikan komoditas yang bernilai ekonomis khususnya untuk kepentingan industri pariwisata (Graham at al, 2000) padahal nilai yang terkandung pada <strong><em>heritage</em></strong> sebenarnya lebih dari pada anggapan <strong><em>heritage</em></strong> sebagai sebuah barang dan jasa, akibatnya terjadilah eksploitasi <strong><em>heritage</em></strong> sebagai sebuah produk pariwisata, dan jika tidak dikelola secara bijaksana akhirnya <strong><em>heritage</em></strong> akan diperjualbelikan, distandarkan seperti layaknya sebuah barang yang berwujud padahal <strong><em>heritage</em></strong> itu juga, mengandung elemen tak berwujud “<strong><em>intangible</em></strong>” dan juga mengandung nilai yang tidak pernah dapat distandarkan dan  di hitung secara ekonomi.</p>
<p>Senada dengan hal di atas, Graham at al, (2000) mengatakan, ketika <strong><em>heritage</em></strong> dan budaya “<strong><em>culture</em></strong>” dianggap sebagai sumber daya ekonomi dan kapital, akhirnya alasan inilah yang dijadikan sebagai legitimasi untuk menjadikan budaya dan <strong><em>heritage</em></strong> sebagai sebuah produk dalam industri pariwisata. Sementara Shackley (2001) membenarkan bahwa perjalanan yang mempersembahkan <strong><em>heritage</em></strong> dan budaya sebagai produk  akan berbau komersialisasi mendekati kebenaran.</p>
<p>Pemanfaatan “<strong><em>cultural heritage</em></strong>” atau warisan budaya sebagai sebuah produk yang siap dikonsumsi pada industri pariwisata relatif masih baru, khususnya oleh kalangan profesional pariwisata dan kalangan ilmiah, hal ini dimulai sekitar tahun 1990 (Ashworth at al, 1994). Ide pemanfaatan warisan budaya sebagai sebuah produk juga diawali adanya sebuah tujuan utama untuk memberikan kepuasan pada wisatawan, mempersembahan <strong><em>experiens</em></strong> yang menjadi kebutuhan wisatawan. Pola pendekatan yang digunakan adalah pendekatan produk dan pemasaran yang berimbang dengan memadukan tujuan antara pelestarian dan pengelolaan <strong><em>heritage</em></strong> sebagai sebuah komoditas pariwisata.</p>
<p>Dalam konsep pengelolaannya, ada dua perbedaan mendasar yang sangat sulit untuk menemukan sebuah keseimbangan yakni antara prinsip pengelolaan <strong><em>heritage</em></strong> yang lebih cenderung berdekatan dengan konservasi sedangkan pariwisata lebih cenderung mengarah pada industri pariwisata dan lebih cenderung mengarah komersialisasi. Kesulitan yang nyata terjadi ketika harus ditentukan berapa harga yang harus ditentukan untuk sebuah produk <strong><em>heritage</em></strong>.  Sementara Gunn (1998: 10) menyatakan, sering terjadi kesalahan tentang pengertian produk pariwisata pada sebuah system pariwisata, dan sering didasarkan pada konsep bahwa produk adalah sesuatu yang beruwujud. sehingga perlu ada definisi yang jelas apa yang dimaksud dengan produk?, bagaimana produk tersebut dapat difungsikan?, dan sangat mungkin bahwa produk <strong><em>heritage</em></strong> mungkin hanya sebatas hayalan para wisatawan saja.</p>
<p>Seringkali terjadi konsep yang berbeda antara pengelola produk pariwisata budaya dengan konsep konsumsi para wisatawan terhadap produk warisan budaya tersebut karena adanya perbedaan cara mengkonsumsinya, acapkali ada beberapa wisatawan yang memang benar-benar perduli dengan nilai yang terkadung pada sebuah <strong><em>heritage</em></strong> yang dikunjunginya, namun tidak sedikit pula wisatawan yang tidak acuh dengan nilai yang termanifestasi pada sebuah <strong><em>heritage</em></strong>. Untuk menyatukan konsep yang berbeda inilah  diperlukan manajemen yang mampu memadukan antara tujuan konservasi dan pemanfataan dapat bertemu dalam keseimbangan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.2.</strong><strong><em>Heritage Tourism</em></strong><strong> sebagai Industri</strong><strong></strong></p>
<p>Christou 2005, (dikutip oleh Sigala and Leslie, 2005:8) berpendapat <strong><em>Heritage tourism</em></strong> adalah sebuah industry di mana pendapatnya mengacu kepada aktifitas modern yang dapat direncanakan, dikontrol dan mempunyai tujuan untuk menghasilkan produk di pasar atau market. <strong><em>Heritage</em></strong> dan <strong><em>tourism</em></strong> merupakan perpaduan dua industri, dimana ‘<strong><em>heritage</em></strong>’ yang berperan untuk merubah sebuah lokasi menjadi destinasi dan ‘<strong><em>tourism</em></strong>’ yang merupakan pewujudan dari aktifitas ekonomi (Kirschenblatt-Gimblett,1998:151; dikutip oleh Urry, 1990:90; dan Smith,2006:13).  Pada bagan dibawah ini merupakan interelasi dan komponen pada ‘<strong><em>heritage industry</em></strong>’, gambaran tersebut dapat dijelaskan pada bagan 1 berikut ini,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagan 1: <strong><em>Component of the Heritage Industry</em></strong> (Ashworth, 1994;Cited in Sigala et al. 2005:9)</p>
<p>Menurut bagan 1, <strong><em>Heritage</em></strong> dapat berwujud bagunan kuno, candi, museum, atau <strong><em>artefac</em></strong> lainnya yang dijadikan dan disajikan serta ditawarkan kepada visitor atau wisatawan. Dengan segala kreatifitas pengelolaan, situs-situs <strong><em>heritage</em></strong> tersebut kemudian dikemas sedimikian rupa pada sebuah iklan atau brosur atau presentasi audio visual, bahkan mungkin pada <strong><em>UNESCO HERITAGE LISTING, </em></strong> sehingga target visitor diharapkan berkunjung akan meningkat. Selanjutnya <strong><em>heritage</em></strong> yang telah dikemas tersebut disebut produk yang siap dikonsumsi oleh wisatawan.</p>
<p>Sebenarnya ada dua tujuan yang diharapkan pada konsepsi bagan di atas, pertama dari sisi pengelolaan <strong><em>heritage</em></strong> itu sendiri bertujuan untuk kelestarian “<strong><em>Conservation agencies</em></strong>” sementara pada sisi pengelolaan produk lebih mengacu pada kepentingan pelaku industry pariwisata <strong><em>“User Industries”</em></strong> yang lebih <strong><em>economy oriented</em></strong>. Untuk dapat menyeimbangkan keduanya diperlukan kebijaksanaan agar tujuan ekonomi tidak mengabaikan tujuan konservasi, begitu juga tujuan konservasi dapat berkelanjutan jika ada dukunggan pendanaan untuk <strong><em>maintenance</em></strong> dan pengelolaan secara berkala, pada konteks ini, pengelolaan harusnya menggunakan konsepsi “<strong><em>carrying capacity management”</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em><br /> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>2.3.<strong><em>Index of Irritation dan SWOT</em></strong></p>
<p>Untuk menentukan perkembangan sebuah destinasi dapat digunakan analisis <a title="" href="#_ftn6">[6]</a><strong><em>Index of Irritation</em></strong> yang terdiri dari empat tahapan atau fase yakni: <strong><em>Euphoria, Apathy, annoyance, dan antagonism.</em></strong> Metode ini lebih mengarah pada analisis sosial yang mengukur dampak pariwisata dari sisi sosial. Hasil dari analisis ini dapat mengukur perubahan perilaku masyarakat lokal terhadap kehadiran pariwisata di daerahnya.</p>
<p>(1)   Phase <strong><em>Euphoria</em></strong> ditandai dengan temukannya potensi pariwisata kemudian pembangunan dilakukan, para investor datang menanamkan modal dengan membangun berbagai fasilitas bisnis pendukung pariwisata, sementara wisatawan mulai berdatangan ke sebuah destinasi yang sedang dibangun, namun perencanaan dan kontrol belum sepenuhnya berjalan dengan baik.</p>
<p>(2)   Phase <strong><em>Apathy</em></strong> ditandai dengan adanya perencanaan terhadap destinasi khususnya berhubungan dengan aspek pemasaran termasuk promosi pariwisata. Terjadinya hubungan antara penduduk local dengan penduduk luar dengan tujuan bisnis, sementara wisatawan yang datang berusaha menemukan keistimewaan yang dimiki oleh destinasi namun tidak menemukannya.</p>
<p>(3)   Phase berikutnya adalah Phase <strong><em>Annoyance</em></strong> dengan ditandai terjadinya kelesuan pada pengelolaan destinasi mulai terasa atau dapat dikatakan mendekati titik jenuh. Para pemegang kebijakan mencari solusi dengan meningkatkan pembangunan infrastruktur tanpa berusaha mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke destinasi sehingga kedatangan wisatawan dianggap sudah mengganggu masyarakat local.</p>
<p>(4)   Phase yang terakhir dalam analisis <strong><em>Index of Irriatation </em></strong>adalah <strong><em>Antagonism</em></strong> dimana masyarakat local merasa telah terjadi gesekan social secara terbuka akibat kehadiran para wisatawan dan wisatawan dianggap sebagai penyebab dari segala permasalahan yang terjadi pada sebuah destinasi. Perencanaan pada destinasi dilakukan dengan melakukan promosi untuk mengimbangi menurunnya citra destinasi.</p>
<p>Sedangkan Teknik yang umum dilakukan pada tahap awal pembangunan sebuah destinasi adalah <a title="" href="#_ftn7">[7]</a><strong><em>SWOT: Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats</em></strong>   sebuah analisis yang didasarkan pada evaluasi terhadap factor internal untuk melakukan identifikasi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh sebuah destinasi, kemudian analisis dilanjutkan pada evaluasi terhadap factor external untuk menentukan peluang dan ancaman yang mungkin terjadi saat ini dan saat yang akan datang. Dan sebuah Destinasi sudah berkembang, analisis SWOT dilakukan untuk merumuskan strategi baru khususnya yang berhubungan dengan strategi bersaing.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>2.4.</strong><strong>Tujuan dari penelitian ini adalah: </strong></p>
<p>(1)   Melakukan <a title="" href="#_ftn8">[8]</a>Analisis <strong><em>Irritation Index</em></strong> untuk mengidentifikasi adanya gesekan terhadap masyarakat lokal sebagai tuan rumah pada masing-masing kawasan.</p>
<p>(2)   Melakukan Analisis SWOT untuk menentukan kekuatan dan kelemahan setiap situs (<strong><em>Unesco World Heritage</em></strong>) dan menentukan peluang dan tantangan saat ini dan yang akan datang khususnya terhadap kelestarian situs.</p>
<p>(3)   Menentukan Perbedaan antara Situs yang terlisting di <strong><em>world heritage</em></strong> (<strong><em>The Tower of London</em></strong>) dan Situs <strong><em>non world heritage</em></strong> (Pura Tanah Lot, Bali).</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3.     </strong><strong>Metode Analisis</strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Data sekunder yang tersedia di sejumlah publikasi dan laporan penelitian, menjadi sumber data utama yang akan dianalisis. Sedangkan data dan informasi yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan 2 (dua) alat analisis yakni <strong><em>Irritation Index</em></strong>, dan SWOT. Hasil analisis selanjutnya dibandingkan dengan teori pendukung dan hasil penelitian sebelumnya yang memiliki kesamaan dan kemiripan serta analisis dibatasi pada <strong><em>framework</em></strong> kajian pariwisata budaya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>4.      </strong><strong>Hasil Analisis dan Pembahasan</strong><strong></strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pembahasan pada analisis ini menggunakan dua sampel situs yang terlisting di world heritage dan yang belum terlisting.  Sampel terlisting adalah The Tower of London berada di Inggris dan sampel <strong><em>non world heritage listing</em></strong>  di Indonesia yakni Pura Tanah Lot Tabanan Bali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>4.1.         <strong>The Tower of London di Inggris</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The Massive White Tower adalah contoh arsitektur khas Militer Norman, yang pengaruhnya masih dirasakan di seluruh kerajaan Inggris. Kompleks tersebut  dirancang oleh William yang disebut Sang Penakluk untuk melindungi London dan menyatakan kekuasaannya. Tower of London  adalah sebuah benteng megah dengan penuh nilai sejarah, yang telah menjadi salah satu simbol kerajaan,  dibangun sekitar  white tower. Tower of London, didirikan oleh William Sang Penakluk pada tahun 1066, memiliki Nilai Universal  untuk menyatakan kualitas budaya.</p>
<p>Menara ini dulunya digunakan untuk melakukan kendali atas kota London dan sekitarnya, fungsi yang lainnya adalah sebagai pintu gerbang memasuki ibukota. Menara tersebut berlokasi strategis di sebuah tikungan di sebuah sungai yang telah menjadi titik demarkasi penting antara kekuatan Kota London, dan juga kekuatan monarki. Hal ini memiliki peran ganda memberikan perlindungan bagi Kota London melalui struktur pertahanan dan penyediaan logistik, dan juga mengontrol warga  kota.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center"><a title="" href="#_ftn9">[9]</a>Gambar 1. Kompleks The Tower of London</p>
<p align="center">Sumber: Tower of London World Heritage Site Management Plan. 2007</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tower of London  adalah contoh sebuah model benteng istana abad pertengahan yang berkembang sejak  abad 11 sampai dengan  abad 16. Setelahnya, ada penambahan dari Henry III dan Edward I, namun sangat inovatif sehingga membuat Menara menjadi salah satu yang paling inovatif dan menjadikan benteng berpengaruh di Eropa pada abad 14 dan awal 13 yang masih bertahan sampai saat ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p align="center">Gambar 2. Perkunjungan di Kompleks Tower of London</p>
<p align="center">Sumber: Observasi, 2006</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bangunan istana yang ditambahkan ke kanan kompleks kerajaan pada  abad ke-16, Kelangsungan hidup bangunan istana di Tower memungkinkan pengunjung membayangkan tentang  kehidupan seorang raja abad pertengahan di dalam tembok benteng mereka. Kelestarian komplek menara of London memberikan makna yang berarti bagi Negara Inggris dan beradaban dunia.</p>
<p>Tower of London menjadi begitu penting karena dapat menunjukkan peranan dari beberapa lembaga Negara dari masa lampau sampai abad ini. Di kompleks tersebut tersimpan catatan-catatan sejarah tentang lembaga pertahanan Negara, catatan mata uang yang pernah digunakan sejak abad 13. Dokumen-dokuneb resmi dan barang-barang yang memiliki nilai sejarah juga tersimpan di bagunan tersebut sehingga bagunan menara tersebut seperti lemari sejarah bagi Negara Inggris.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.1.1. Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Tantangan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>1.      </strong><strong>Kekuatan dan Kelemahan</strong></li>
</ol>
<p>Menara “tower of London” memiliki karakteristik unik sehingga dapat memberikan peluang untuk dikembangkan di masa yang akan datang. Namun keunikan tersebut juga memiliki masalah-masalah yang cukup rumit yang dapat mempengaruhi kelestarian dan pengelolaan situs. Keunikan menara tersebut berpeluang mengundang pengunjung dalam jumlah besar yang dapat mengancam kelestarian keunikan tersebut jika pengelolaan tidak dapat berjalan dengan baik. Pengelolaan sebaiknya diarahkan untuk melakukan mitigasi agar menara tersebut dapat dikelola lebih lama sehingga dapat memberikan secara ekonomi, sosial, dan sejarah. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah semua pengunjung memiliki persepsi yang sama dengan pengelola situs?</p>
<p>Tower of London juga berlokasi sangat strategis di jantung kota London dan di dukung oleh beberapa hotel berkualitas di sekitarnya. Di sekita Situs tersebut juga tersedia berbagai cinderamata dan fasilitas rekreasi bagi warga kota dan juga bagi wisatawan mancanegara dengan harga yang cukup bersaing. Situs ini juga memilki aksesibiltas yang sangat mudah, dapat dijangkau oleh kendaraan umum, bus, kereta api bawah tanah, kendaraan pribadi, dan bahkan sangat mudah dijangkau oleh perahu (boat), kapal, karena sungai yang melintasi situs tersebut cukup luas dan dalam. Sebenarnya kemudahan akses menuju situs juga dapat menjadi kelemahan terhadap tujuan mitigasi atau kelestarian situs karena memiliki kecenderungan mengundang pengunjung yang lebih banyak serta bersifat massal.</p>
<p>Tower of London adalah Icon kota London dan manjadi tujuan wisata utama di Inggris baik bagi wisatawan domestic maupun mancanegara. Situs ini dikunjungi lebih dari satu juta pada setiap tahunnya.  Usaha pelestarian situ ini didukung oleh pendapatan yang diterima dari pengunjung dan juga dari sponsor  yang menaruh simpati terhadap kelestarian situs tersebut. Tower of London juga menjadi Icon promosi bagi Inggris dalam promosi pariwisata yang memikili nilai sejarah, social, dan politik pemersatu bagi kerajaan “<strong><em>monarchi</em></strong>” Inggris. Karena begitu menariknya situs tersebut, maka hal tersebut juga dapat menjadi kelemahan bagi pengelolaannya yang dapat menggiring kea rah komersialisasi yang lebih besar sehingga tujuan mitigasi akan terabaikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2.      </strong><strong>Peluang dan Tantangan</strong></li>
</ol>
<p>Situs Tower of London juga menawarkan pemahaman tentang sejarah yang memiliki nilai pendidikan yang cukup penting. Situs tersebut mengajarkan makna perjuangan yang kuat sehingga pengunjung setelah mengunjungi situs tersebut, akan terinspirasi olehnya betapa pentingnya menghargai leluhur. Situs ini dikunjungi lebih dari 70.000 pelajar tiap tahunnya yang khusus ingin mendapatkan pendidikan tentang sejarah Inggris masa lalu. Kesempatan ini menjadi peluang yang sangat penting bagi pendidikan bahkan pemerintah inggris menuangkannya dalam kurikulum pendidikan sejarah untuk menjadikan Tower of London sebagai objek kajian utama pelajaran sejarah para pelajar. Di berbagai literatur, sejarah Inggris adalah sejarah imperalisme sejak masa revolusi industri di eropa, artinya nilai pendidikan sejarah yang terkandung dalam situs tersebut juga membawa pengaruh yang  cukup nyata terhadap kelestarian isme-isme imperalisme dan ego superioritas Inggris yang sudah tidak relevan lagi dengan masa kini dan itulah yang menjadi tantangan terbesar bagi situs tersebut dan gererasi saat ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.1.2 Kepemilikan dan Pengelolaan Situs</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kepemilikan Komplek Tower of London adalah oleh satu organsasi yang khusus mengelola warisan budaya berupa komplek istana. Tujuan dari pengelolaan adalah untuk melakukan perawatan dan konservasi  dan situs ini memang diperuntukkan untuk konsumsi public.  Perencanaan tentang situs ini adalah melakukan integrasi dengan kegiatan istana yang khususnya berhubungan dengan bidang kurasi, konservasi, interpretasi, pendidikan, dan melibatkan masyarakat secara kolektif, dimana mereka bertanggungjawab untuk mewujudkan tujuan bersama yakni kelestarian situs.</p>
<p>Setiap tahun, Tower of London dikunjungi sekitar lebih dari dua juta wisatawan, dimana angka ini hampir menyamai angka kunjungan wisatawan ke Pulau Bali. Sangat sulit menentukan apakah situs tersebut telah menerapkan <strong><em>carrying capacity management</em></strong> atau belum, namun demikian dapatlah diperkirakan dengan kunjungan begitu banyaknya kemungkinan besar telah terjadi gangguan terhadap para penduduk disekitar kompleks karena pengelolaan telah memiliki perencanaan jangka panjang yang baik, maka konflik tidak kelihatan secara nyata pada kasus pengelolaan <strong><em>World Heritage Situs (WHS) The Tower of London</em></strong>. Kesimpulannya adalah pengelolaan <strong><em>World Heritage Situs (WHS) The Tower of London</em></strong> berada pada phase <strong><em>Apathy</em></strong> yang ditandai dengan adanya perencanaan terhadap destinasi khususnya berhubungan dengan aspek pemasaran termasuk promosi pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.2.         </strong><strong>Pura Tanah Lot di  Desa Adat Beraban Kediri Tabanan Bali</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>4.2.1.  </em><strong>Pendahuluan          </strong><em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pura Tanah Lot terletak di Pantai Selatan Pulau Bali tepatnya di wilayah  Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Keberadaan Pura Tanah Lot pada mulanya berhubungan erat dengan perjalanan Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra di Pulau Bali. Pura <strong>Tanah Lot </strong>didirikan pada abad ke XV masehi oleh Danghyang Nirartha atau yang dikenal sebagai Empu Bawu Rawuh yang berasal dari Kerajaan Majapahit di pulau Jawa. Saat ini, Pura Tanah Lot merupakan daya tarik utama bagi obyek wisata Tanah Lot, selain itu pula Tanah Lot memiliki daya tarik matahari tenggelam (<strong><em>SunSet</em></strong>), dan Aktivitas upacara keagamaan pada hari-hari tertentu.</p>
<p align="center">
<p align="center">Gambar 2. Aktivitas Upacara pada Pura Tanah Lot</p>
<p align="center">Sumber: www.balineseindonesia.blogspot.com</p>
<p align="center">
<p>Sejak tanggal 1 Juli 2000 pengelolaan obyek wisata Tanah Lot ditangani oleh Desa Adat Beraban dengan membentuk Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot (BPOWTL). Distribusi hasil pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot, berdasarkan surat perjanjian No. 01/HK/2000 tentang kerjasama pengelolaan obyek wisata Tanah Lot yang ditandatangani oleh Nyoman Adiwiryatama selaku Bupati Tabanan, I Made Deka selaku Bendesa Adat Beraban, I Gusti Gede Aryadi selaku pihak CV. Ary Jasa Wisata. Persentase yang disepakati bersama adalah sebesar (55%) diserahkan kepada Pemda, CV. Ari Jasa Wisata memperoleh sebesar (15%), Desa Adat Beraban sebesar (20%), Pura Tanah Lot dan Pura sekitarnya memperoleh sebesar (5%) dan sisanya (5%) dibagikan kepada Desa-Desa Adat se-Kecamatan Kediri. Persentase ini disepakati (diberlakukan) sampai tahun 2011 (Desa Adat Beraban, 2010)<strong></strong></p>
<p>Retribusi dikenakan untuk setiap pengunjung adalah sebesar Rp. 5000 untuk anak-anak Lokal, dan sebesar Rp.7500 untuk Dewasa Lokal. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan satu tariff yaitu Rp. 10.000 baik untuk wisatawan anak-anak ataupun dewasa yang sudah termasuk asuransi. Retribusi parkir untuk kendaraan roda dua dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 2000 sedangkan kendaraan roda empat dikenakan biaya sebesar Rp.5000,  serta kendaraan roda enam sebesar Rp.10.000. Setiap pedagang yang memiliki kios dikenakan biaya sebesar Rp. 1.200/hari dan untuk pedagang yang hanya menggunakan lapak, dikenakan biaya Rp. 750/hari (Observasi, 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.2.2.      </strong><strong>Kontribusi Objek Wisata Tanah Lot Terhadap Desa Adat Beraban</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1)      </strong><strong>Kontribusi terhadap Pendapatan Desa</strong></p>
<p>Saat ini Obyek Wisata Tanah Lot memiliki peranan yang sangat penting dalam kontribusinya terhadap pendapatan Desa Adat Beraban. Kontribusi Obyek Wisata Tanah Lot untuk Desa Adat Beraban digunakan untuk pembangunan dan perawatan pura yang ada di Desa Beraban, sehingga dapat meringankan beban masyarakat dalam dalam melaksanakan upacara agama. Perincian sumber-sumber pendapatan Desa Adat Beraban dari sejak tahun 2005 sampai dengan 2009 dapat dilihat dalam table 1 berikut:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tabel 1. Data Pendapatan Desa Adat Beraban Tahun 2005 – 2009</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top">No</td>
<td rowspan="2">
<p align="center">Sumber</p>
</td>
<td colspan="5" valign="top">
<p align="center">Tahun</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center">2005</p>
</td>
<td>
<p align="center">2006</p>
</td>
<td>
<p align="center">2007</p>
</td>
<td>
<p align="center">2008</p>
</td>
<td>
<p align="center">2009</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center">1</p>
</td>
<td>
<p align="center">Pendapatan Asli Desa  Pakraman</p>
</td>
<td>
<p align="center">577.181.249</p>
</td>
<td>
<p align="center">1.145.427.071</p>
</td>
<td>
<p align="center">1.473.695.623</p>
</td>
<td>
<p align="center">1.903.580.558</p>
</td>
<td>
<p align="center">2.475.818.395</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center">2</p>
</td>
<td>
<p align="center">Pendapatan Punia + Lainnya</p>
</td>
<td>
<p align="center">106.599.400</p>
</td>
<td>
<p align="center">84.909.491</p>
</td>
<td>
<p align="center">152.550.000</p>
</td>
<td>
<p align="center">225.347.110</p>
</td>
<td>
<p align="center">70.250.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center">3</p>
</td>
<td>
<p align="center">Bantuan Pemerintah Atasan</p>
</td>
<td>
<p align="center">28.000.000</p>
<p align="center">
</td>
<td>
<p align="center">45.000.000</p>
</td>
<td>
<p align="center">45.000.000</p>
</td>
<td>
<p align="center">73.400.000</p>
</td>
<td>
<p align="center">55.000.000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center">Jumlah</p>
</td>
<td>
<p align="center">711.780.649</p>
</td>
<td>
<p align="center">1.275.336.562</p>
</td>
<td>
<p align="center">1.671.245.623</p>
</td>
<td>
<p align="center">2.202.327.668</p>
</td>
<td>
<p align="center">2.601.068.395</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber : Kantor Bendesa Beraban</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari table 1 di atas, memperlihatkan pendapatan dari hasil pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot sebesar 20% merupakan Pendapatan Asli desa Pekraman Beraban dan merupakan komposisi terbesar pada beberapa sumber pendapatan desa adat Beraban.</p>
<p>Adapun Jumlah retribusi yang diperoleh obyek wisata Tanah Lot dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 disajikan dalam table 2. berikut:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Tabel 2. Hasil Pungutan Retribusi Obyek Wisata Tanah Lot Tahun 2005 &#8211; 2009</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<table width="598" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" nowrap="nowrap" width="157">
<p align="center"><strong>Keterangan</strong></p>
</td>
<td colspan="5" valign="bottom" nowrap="nowrap" width="425">
<p align="center"><strong> TAHUN</strong></p>
</td>
<td rowspan="15" nowrap="nowrap" width="16">
<p align="center"><strong><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"><strong>2005</strong></p>
</td>
<td nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"><strong>2006</strong></p>
</td>
<td nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"><strong>2007</strong></p>
</td>
<td nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"><strong>2008</strong></p>
</td>
<td nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"><strong>2009</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">     Penghasilan Kotor</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 4.387.139.700</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 9.547.884.950</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 12.143.674.400</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 14.676.335.150</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 17.333.327.100</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Premi Asuransi</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 442.554.300</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 397.712.500</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 495.389.700</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 600.050.300</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 714.068.600</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Penghasilan Bersih</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 3.944.585.400</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 9.150.172.450</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 11.648.284.700</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 14.076.284.850</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 16.619.258.500</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Biaya Operasional</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 1.479.920.000</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 2.665.000.000</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 3.939.075.153</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 3.939.075.153</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 4.082.528.507</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Pendapatan Bersih</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 2.464.665.400</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 6.485.172.450</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 7.709.209.547</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 10.137.209.697</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 12.536.729.993</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Biaya Promosi/ Pengembangan (15%)</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83"> -</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 972.775.868</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 1.156.381.432</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 1.520.581.455</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 1.880.509.499</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Pendapatan Bersih</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83"> -</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 5.512.396.583</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 6.552.828.115</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 8.616.628.242</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 10.656.220.494</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Distibusi:</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">&nbsp;</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">&nbsp;</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">&nbsp;</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> -</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> -</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Pemda Kabupaten Tabanan (55%)</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 1.355.565.970</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 3.031.818.120</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 3.604.055.463</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 4.739.145.533</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 5.860.921.272</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">CV. Arya Jasa (15%)</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 369.699.810</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 826.859.487</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 982.924.217</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 1.292.494.236</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 1.598.433.074</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Desa Adat Beraban (20%)</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 492.933.080</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 1.102.479.317</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 1.310.565.623</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 1.723.325.648</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 2.131.244.099</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Desa-Desa Adat Se Kec. Kediri (5%)</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 123.233.270</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 275.619.829</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 327.641.406</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 430.831.412</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 532.811.025</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="157">Pura Luhur Tanah Lot dan Sekitarnya (5%)</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="83">
<p align="right"> 123.233.270</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 275.619.829</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 327.641.406</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="84">
<p align="right"> 430.831.412</p>
</td>
<td valign="bottom" nowrap="nowrap" width="90">
<p align="right"> 532.811.025</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber : Badan Operasional Obyek Wisata Tanah Lot</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa setiap tahun pendapatan retribusi yang didapat oleh Obyek Wisata Tanah Lot dan yang akhirnya diterima oleh Desa Adat Beraban semakin meningkat dan retribusi dari Obyek Wisata Tanah Lot  merupakan kontribusi sumber pendapatan terbesar Desa Adat Beraban.</p>
<p>Analisisnya, jika dilihat dari konsepsi <strong><em>carrying capacity</em></strong> dengan asumsi tidak ada kenaikan harga tiket masuk dan retribusi lainnya, maka jika dibandingkan dengan terjadinya peningkatan pendapatan asli Desa Beraban, maka dapat diperkirakan bahwa pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot belum memperlihatkan adanya pengaturan jumlah pengunjung dan sangat dimungkinkkan pengelolaannya tanpa konsep <strong><em>carrying capacity.</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2)      </strong><strong>Kontribusi terhadap Penyerapan Tenaga Kerja</strong></p>
<p>Tabel 3 dibawah, menunjukkan Jumlah penduduk Desa Beraban (Desa Dinas) sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 memperlihatkan adanya peningkatan yang sangat berarti pada tahun 2009, hal ini sangat dimungkinkan adanya kaum pendatang dari sekitas Pulau Bali atau kaum pendatang dari luar Bali untuk berusaha dan bekerja di sekitar Wilayah Desa Beraban.</p>
<p align="center"><strong>Tabel 3. Jumlah Penduduk Desa Beraban Tahun 2005 – 2009</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="32">
<p align="center">        No</p>
</td>
<td>
<p align="center">Tahun</p>
</td>
<td>
<p align="center">Jumlah</p>
<p align="center">Keluarga</p>
</td>
<td>
<p align="center">Laki</p>
</td>
<td>
<p align="center">Perempuan</p>
</td>
<td>
<p align="center">Jumlah</p>
</td>
<td valign="top" width="117">
<p align="center">Perubahan (%)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="32">
<p align="center">1</p>
<p align="center">2</p>
<p align="center">3</p>
<p align="center">4</p>
<p align="center">5</p>
</td>
<td>
<p align="center">2005</p>
<p align="center">2006</p>
<p align="center">2007</p>
<p align="center">2008</p>
<p align="center">2009</p>
</td>
<td>
<p align="center">1.449</p>
<p align="center">1.456</p>
<p align="center">1.460</p>
<p align="center">1.465</p>
<p align="center">1.625</p>
</td>
<td>
<p align="center">2.726</p>
<p align="center">2.763</p>
<p align="center">2.823</p>
<p align="center">2.845</p>
<p align="center">2.938</p>
</td>
<td>
<p align="center">2.735</p>
<p align="center">2.771</p>
<p align="center">2.781</p>
<p align="center">2.805</p>
<p align="center">3.034</p>
</td>
<td>
<p align="center">5.461</p>
<p align="center">5.534</p>
<p align="center">5.604</p>
<p align="center">5.650</p>
<p align="center">5.972</p>
</td>
<td valign="top" width="117">
<p align="center">&#8212;</p>
<p align="center">1,34</p>
<p align="center">1,26</p>
<p align="center">0.82</p>
<p align="center">5.70</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center">Sumber : BPS Kabupaten Tabanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pekerja badan operasional yang langsung diserap oleh obyek wisata Tanah Lot adalah sebanyak 167 orang. Jadi secara sederhana dapat disimpulkan bahwa obyek wisata Tanah Lot telah memberikan kontribusi terhadap penciptaan lapangan pekerjaan bagi Desa Beraban. Dan jumlah tenaga kerja yang diserap dari keseluruhan pedagang tetap dan pedagang tidak tetap adalah 645 orang. Dapat diketahui bahwa obyek wisata Tanah Lot secara langsung telah menyerap 812 orang tenaga kerja (Kantor Bendesa Beraban, 2010).  Sementara pedagang yang ada di Obyek Wisata Tanah Lot  sebanyak 528 pedagang (pedagang tetap dan pedagang tidak tetap). Persentase jumlah penduduk yang bekerja di sektor wiraswasta/pedagang adalah 24% dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 607 orang.</p>
<p>Analisisnya, keberadaan Obyek Wisata Tanah Lot telah mampu melibatkan sebagian besar penduduk Desa Beraban dalam pengelolaan Obyek Wisata baik secara langsung maupun tidak langsung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3)      </strong><strong>Kontribusi terhadap pembangunan fasilitas</strong></p>
<p>Pengembangan objek Wisata Tanah Lot juga berdampak terhadap kondisi kepariwisataan di sekitar Obyek Wisata Tanah Lot itu sendiri. Oleh karena fenomena itu,  munculah beberapa hotel berbintang, villa, <em>art shop</em>, dan restoran di sekitar objek Wisata Tanah Lot yang tentunya berada pada wilayah Desa Adat Beraban. Berikut disajikan pertambahan  hotel, villa, pondok wisata, dan restoran yang ada di kawasan Desa Beraban dari tahun 2005 sampai dengan 2009.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Tabel 4. Data Jumlah Hotel, Villa, Pondok Wisata, Restoran dan <em>Artshop</em> di Desa Braban Tahun 2005-2009</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<div align="center">
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="33">
<p align="center">No</p>
</td>
<td rowspan="2" width="56">
<p align="center">Tahun</p>
</td>
<td colspan="5" width="359">
<p align="center">Jumlah</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49">
<p align="center">Hotel</p>
</td>
<td width="42">
<p align="center">Villa</p>
</td>
<td width="113">
<p align="center">Pondok Wisata</p>
</td>
<td width="77">
<p align="center">Restoran</p>
</td>
<td width="78">
<p align="center">Art Shop</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="33">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="56">
<p align="center">2005</p>
</td>
<td width="49">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="42">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="113">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="77">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="78">
<p align="center">341</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="33">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="56">
<p align="center">2006</p>
</td>
<td width="49">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="42">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="113">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="77">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="78">
<p align="center">341</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="33">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="56">
<p align="center">2007</p>
</td>
<td width="49">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="42">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="113">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="77">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="78">
<p align="center">341</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="33">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="56">
<p align="center">2008</p>
</td>
<td width="49">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="42">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="113">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="77">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="78">
<p align="center">341</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="33">
<p align="center">5</p>
</td>
<td width="56">
<p align="center">2009</p>
</td>
<td width="49">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="42">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="113">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="77">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="78">
<p align="center">341</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p align="center">Sumber : Kantor Desa Beraban</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jumlah art shop sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 menunjukkan jumlah yang tetap karena letak art shop telah diatur dengan baik pada komplek tertentu dan diatur dalam bentuk lapak (stand). Sementara pembangunan restoran juga terkesan telah diatur dan dibatasi pembangunanannya. Begitu juga dengan pembangunan hotel dan villa juga telah diatur dengan baik oleh pemda dan penguasa desa di wilayah Desa Adat Beraban.</p>
<p>Analisisnya, berdasarkan data di atas, dapat diperkirakan bahwa pembangunan di Desa Beraban telah menerapkan tata wilayah dengan baik minimal dengan pembatasan jumlah fasilitas pendukung yang sangat mungkin berdampak pada lingkungan fisik dan social.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.2.3.  </strong><strong>Pragmatisme Pengelolaan dan Keberlanjutan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Paradoksi antara kepentingan ekonomi dan pelestarian <strong><em>heritage</em></strong> khususnya terhadap asset warisan budaya Pura Tanah Lot, benar-benat telah terjadi pada beberapa bulan terakhir dan menunjukkan intensitas ketegangan yang semakin meningkat.  Ketegangan berawal dari berakhirnya masa kontrak kerjasama pengelolaan Tanah Lot antara Pemerintah Kabupaten Tabanan, CV Ari Jasa Wisata, dan Desa Adat Beraban yang masa kontraknya berakhir pada 1 April 2011 (Bali Post, Juni 2011)</p>
<p>Sebagian besar warga Desa Adat beraban menginginkan pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot  ditangani oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan dan Warga Desa Adat Beraban saja, sementara Pemerintah Kabupaten Tabanan tetap menginginkan komposisi pengelolaan yang telah berjalan pada kontrak yang telah berakhir tetap berjalan untuk pengelolaan saat ini artinya tidak perlu ada perubahan, hanya dibuatkan kontrak baru saja.</p>
<p>Usulan Warga Desa Adat Beraban yang berada pada tim perjuangan warga Beraban adalah,  pengelolaan Tanah Lot hanya dikelola oleh Pemda dan warga Desa Adat Beraban. Dengan komposisi pembagian hasil masing-masing Pemkab 50 persen, sisanya 50 persen bagi Desa Pekraman Beraban. Khusus jatah Desa Beraban akan dibagi lagi dengan rincian, 70 persen Desa Pekraman Beraban dan pura Tanah Lot 30 persen. Jatah 70 persen bagi Desa Pakraman Beraban akan dibagi lagi ke sejumlah pura dan desa adat dengan komposisi, Desa Pekraman Beraban 80 persen, Pura Dangin Bingin 2,50 persen, Pura Bomo 1 persen dan Desa Adat se Kecamatan Kediri 16,5 persen. Sementara, jatah bagi Pura Tanah Lot 30 persen akan dibagi lagi ke 8 lokasi pura, seperti Pura Tanah Lot, Pura Pakendungan, Pura Batu Bolong, Pura Jro Kandang, Pura Penataran, Pura Enjung Galuh, Pura Batu Mejan dan Pura Hyang Api (Bali Post, Juni 2011).</p>
<p>Sementara, dari pihak Pemilik CV Ari Jasa Wisata, justru berpendapat lain, karena telah berjasa, harusnya tetap mendapat jatah dari Tanah Lot karena. CV Ari Jasa Wisata merasa telah berjasa dengan dipercayainya, pihaknya mendapat bantuan dari Duta Besar Jerman dan Pemprov Bali senilai Rp 81 juta untuk membangun wisata Tanah Lot. Setelah berjuang sendirian bertahun-tahun, Tanah Lot bisa dikenal dan mendulang pendapatan bersih hingga Rp 12 miliar per tahun (Bali Post, Juni 2011).</p>
<p>Analisisnya, pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot telah membangkitkan hasrat bisnis warga Desa Beraban dan telah menimbulkan rasa percaya diri bahwa mereka telah mampu untuk mengelola <strong><em>heritage </em></strong>tersebut secara mandiri tanpa campur tangan pihak swasta, sementara pihak swasta (CV Ary Jasa Wisata) yang memang sejak berdirinya sudah bermotifkan bisnis, cenderung ingin melanjutkan klaim keberhasilannya walaupun kontrak kerjasamanya telah berakhir. Implikasinya adalah, timbulnya gesekan dalam masyarakat yang mengarah pada munculnya egoism kelompok, termasuk juga egoism kelompok masyarakat Desa Adat Beraban.</p>
<p>Pragmatisme Warga Desa Beraban cenderung mengarah pada hal-hal yang berbau material semata, sementara pertimbangan atas kepentingan pelestarian <strong><em>Heritage </em></strong>serta <strong><em>Value </em></strong>atau nilai yang tersimpan Pura Tanah Lot tersebut masih sangat diragukan karena secara historis Pura Tanah Lot adalah milik Masyarakat Bali bukan milik masyarakat Desa Adat Beraban Saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.2.4.  </strong><strong>Posisi Permasalahan Obyek Wisata “Pura Tanah Lot” sebagai <em>Heritage</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot telah berada pada phase <strong><em>Annoyance</em></strong> dengan ditandai terjadinya kelesuan pada pengelolaan destinasi, mulai terasa atau dapat dikatakan mendekati titik jenuh, bahkan dapat dikatakan telah mendekati batas atas <strong><em>carrying capacity.</em> </strong>Pengelolaan Pura Tanah Lot sebagai <strong><em>Heritage</em></strong> telah mengalami perubahan atau komodifikasi fungsi yang berarti. Secara fisik keberadaan Pura Tanah Lot sebagai daya tarik wisata telah mampu menggerakkan pembangunan fisik Desa Berabad secara keseluruhan namun perubahan perilaku masyarakat yang diharapkan  sebagai <strong><em>conserver</em></strong> (Pelestari) telah berubah menjadi <strong><em>Consumer</em></strong> (pengkonsumsi) dalam hal ini, mereka mengkemas Pura Tanah Lot sebagai “komoditas” Obyek Wisata untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya. Aspek Pelestarian fisik telah berjalan dengan baik namun aspek pelestarian budaya beserta nilai yang terkandung pada Pura Tanah Lot sebagai <strong><em>heritage </em></strong>yang<strong> </strong>merupakan milik warga Bali<strong> </strong>telah disabotase oleh Masyarakat Desa Adat Beraban hanya dengan alasan ekonomi semata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.2.5 </strong><strong>Kondisi Obyek Wisata Tanah Lot Saat ini. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>1)      </strong><strong>Kekuatan Obyek Wisata Tanah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Obyek Wisata Tanah memiliki kekuatan yang cukup berarti karena memiliki daya tarik sumber daya alam yang tidak pernah habis yakni pemandangan matahari tenggelam “<strong><em>SunSet</em></strong>”, pemandangan deburan ombak yang menawan, serta aktivitas upacara keagamaan yang secara loyal dilakukan oleh masyarakat Bali tetap berlangsung sampai saat ini.</p>
<p>Kekuatan lainnya, Obyek Wisata Tanah Lot telah memiliki pengelola yang cukup professional sehingga masih mampu memberikan kontribusi ekonomi bagi Desa Adat Beraban dan bagi Pemda Kabupaten Tabanan. Obyek Wisata Tanah Lot sebagai <strong><em>Heritage</em></strong> yang hidup, juga memiliki masyarakat sebagai penyokong dan pelestari <strong><em>Haritage</em></strong> Tanah Lot yang selama ini telah merasakan dampak positif keberadaan <strong><em>Heritage</em></strong> Tanah Lot.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2)      </strong><strong>Kelemahan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Walaupun pengelola Obyek Wisata Tanah Lot telah memiliki profesionalime yang baik, namun sebenarnya pelestarian Obyek Wisata Tanah Lot belum memiliki perencanaan jangka panjang dan hal ini merupakan kelemahan bagi Obyek Wisata Tanah Lot. Pengelolaan Obyek wisata Tanah lot belum menerapkan konsep <strong><em>Carrying Capacity</em></strong> hal ini tercermin dari peningkatan pendapatan retribusi pengunjung (yang dihitung berdasarkan besaran jumlah pengunjung) dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3)      </strong><strong>Peluang</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebenarnya Peluang dengan popularitas yang dimiliki oleh Obyek Wisata Tanah adalah penciptaan usaha baru yang terkait dengan aktifitas wisata, pencitraan pariwisata bagi Kabupaten Tabanan. Kemungkinan pencitraan dan penciptaan usaha baru bagi masyarakat di sekitas obyek wisata (tidak hanya Desa Adat Beraban) akan dapat ditingkatkan sehingga kontribusi keberadaan Obyek Wisata Tanah dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4)      </strong><strong>Tantangan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengelolan obyek Wisata Tanah Lot belum menerapkan manajemen <strong><em>Carrying Capacity</em></strong> sehingga gesekan sangat mungkin terjadi pada wisatawan terhadap wisatawan yang lainnya untuk memperebutkan tempat-tempat tertentu agar dapat menikmati atraksi utama dari Obyek Wisata Tanah Lot seperti pemandangan matahari tenggelam <strong><em>“sunset” </em></strong>(Observasi, 2011). Peningkatan jumlah pengunjung tanpa memperhitungkan daya dukung akan cenderung memicu terjadinya kerusakan bagi lingkungan di sekitar obyek dan mungkin juga bagi kerusakan  aspek fisik dan non fisik <strong><em>Heritage</em></strong> Tanah Lot.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>5.     </strong><strong>Simpulan dan Saran</strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Membandingkan kedua situs yang terdaftar di WHS atau world heritage Situs yakni The Tower of London dengan situs Pura Tanah lot Bali dapat memberikan informasi sebagai berikut: (1) kedua situs tersebut memiliki kekuatan yang hampir mirip yakni keduanya memiliki unsur keunikan, namun memiliki perbedaan tentang universalitas, dimana The Tower of London memiliki universalitas yang dapat diterima oleh kajian WHS-UNESCO sementara Pura Tanah Lot belum mampu menunjukkannya. (2) Keduanya dikunjungi wisatawan dalam jumlah besar sehingga keduanya memiliki ancaman terhadap usaha mitigasi atau konservasi baik konservasi  fisik maupun nilai yang terkandung dalam kedua situs tersebut. (3) Keduanya telah dikomodifikasi untuk tujuan publik bahkan telah memasuki babak komersialisasi yang cukup berarti, namun pada kasus situs Pura Tanah Lot telah menimbulkan konflik pengelolaan karena belum memiliki perencanaan jangka panjang namun situs The Tower of London belum menimbulkan konflik pengelolaan karena situs tersebut telah dikelola sacara nasional dan professional bahkan eksistensinya telah mendapat dukungan UNESCO-WHS. (4) Interpretasi terhadap situs The Tower of London telah diakui secara nasional sebagai situs wajib untuk kajian sejarah Inggris bagi para pelajar di sana, sementara Situs Pura Tanah Lot belum terintegrasi secara nasional.</p>
<p>Sepintas dapat dikemukakan, jika sebuah situs diusulkan menjadi <strong><em>WHS World Heritage List UNESCO</em></strong> sebaiknya dapat ditunjukkan unsur keunikannya, tentang daya dukung situs terhadap kemungkinan serbuan para pengunjung, kesiapan fasilitas pendukung situs, kesiapan penerimaan penduduk local serta segala keterlibatannya, pemaknaan situs secara universal, perencanaan pengelolaan dan tujuan mitigasi atau konservasi dari sebuah situs dalam jangka panjang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pusaka</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dharmayuda dan I Made Suasthawa. 2001. Desa Adat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Bali. Denpasar: Upada Sastra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dharmayudha, I Made Suasthawa dan I Wayan Koti Cantika.1991. <em>Filsafat Adat    Bali</em>. Denpasar: Upada Sastra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pamela S. Y. Ho ; Bob McKercher. (2010) Managing heritage resources as tourism products: School of Hotel and Tourism Management, The Hong Kong Polytechnic University, Hong Kong SAR, China</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Paradise lost? Bali becoming a victim of its own success. (2011). Retrieve from http://www.smh.com.au/travel/travel-news/paradise-lost-bali-becoming-a-victim-of-its-own-success-20110210-1aocc.html</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pitana, I Gde, 1994b. Pariwisata, Budaya, dan Lembaga Tradisional. Apresiasi Kritis Terhadap Kepariwisataan Bali, Denpasar : The Works.<em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pitana, I Gde, 1999. Pelangi Pariwisata Bali. Kajian Aspek Sosial Budaya Kepariwisataan Bali di Penghujung Abad, Denpasar: BP.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pitana, I Gde. 1994a. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Denpasar: BP.<em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pura Tanah Lot is considered as <strong><em>Dang Kahyangan</em></strong> -&#8221;One of the six main Bali temple, http://balineseindonesia.blogspot.com/2009/08/bali-travel-to-puratanah-lot-temple.html</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sapta Nirwandar (2011) Pembangunan Sektor Pariwisata: Di Era Otonomi Daerah, di unduh pada 21 Maret 2011 pada <a href="http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1">http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Shackley, M. (2001).Managing Sacred Sites.Continuum, London.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tower of London World Heritage Site Management Plan. 2007. Historic Royal Palaces, Hampton Court Palace, Surrey</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The World Heritage List. 2011. The World Heritage List includes 911 properties forming part of the cultural and natural heritage which the World Heritage Committee considers as having outstanding universal value. At http://whc.unesco.org/en/list on  May 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>United Nation-World Tourism Organization (2005),<strong> </strong>Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1"><em><strong>[1]</strong></em></a><em>Tourism Highlight 2005</em><em>, UN-WTO, Madrid</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <strong><em>Poverty Alleviation</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <strong><em>Sustainable Development</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <strong><em>Culture Preservation</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> <strong><em>Index of Irritation: Euphoria, Apathy, annoyance, dan antagonism</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> <strong><em>SWOT: Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <strong><em>Irritation Index</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Tower of London  World Heritage Site Management Plan, Published by Historic Royal Palaces © Historic Royal Palaces 2007, Historic Royal Palaces, Hampton Court Palace, Surrey, KT8 9AU. June 2007</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/news/'>News</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=274&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/%e2%80%9cworld%e2%80%9d-heritage-management-manfaat-dan-kerugian-bagi-masyarakat-lokal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGEMBANGAN ECO-TOURISM UNTUK KONSERVASI SUMBER DAYA ALAMIAH DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/pengembangan-eco-tourism-untuk-konservasi-sumber-daya-alamiah-di-negara-sedang-berkembang/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/pengembangan-eco-tourism-untuk-konservasi-sumber-daya-alamiah-di-negara-sedang-berkembang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 07:49:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[PENGEMBANGAN ECO-TOURISM UNTUK KONSERVASI SUMBER DAYA ALAMIAH DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG (Analisis Tourist Area Life Cycle, Index of Irritation, dan SWOT) Oleh I Gusti Bagus Rai Utama Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana Abstract Tourism development in three case studies has got a rejection from the local community due to lack of information regarding [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=272&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PENGEMBANGAN <em>ECO-TOURISM</em> UNTUK KONSERVASI SUMBER DAYA ALAMIAH DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG</strong></p>
<p align="center"><strong>(Analisis Tourist Area Life Cycle, Index of Irritation, dan SWOT)</strong></p>
<p align="center">Oleh</p>
<p align="center"><strong>I Gusti Bagus Rai Utama</strong></p>
<p align="center">Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Abstract</strong></p>
<p>Tourism development in three case studies has got a rejection from the local community due to lack of information regarding the intent and purpose of an alternative offer. Tourist Area Analysis lifecyle, Indext of Irritation, and SWOT is used to analize each of the destinations. Wildlife tourism destinations in Zimbabwe put on involment or engagement phase and phase antagonism when using the analytical index of irritation. While the development of alternative Photo Safari Tourism in Kenya, put the destination on the development phase and the antagonism phase because of an open rejection by the local community so that the government may be harder to negotiate an alternative tourism in order to be accepted by local communities and nature conservation purposes can be implemented. SWOT Analysis is used to describe the strengths and weaknesses of each destination, in the three destinations that have the power of nature resources. The weaknessess occurred almost evenly on the weakness of local human resources, especially human well educated. While the challenge and the biggest threat happening is nature-based tourism development itself can destroy itself if not managed according to carrying capacity.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">Keyword: <strong><em>Tourist Area lifecyle</em></strong>, <strong><em>Indext of Irritation</em></strong>, SWOT, <strong><em>antagonism, wildlife tourism</em></strong></p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<ol>
<li><strong>1.    </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1.1.</strong><strong>Latar Belakang Masalah</strong></p>
<p><a title="" href="#_ftn1">[1]</a>Pembangunan ekonomi pada negara-negara berkembang saat ini cenderung menimbulkan terjadinya kerusakan sumber daya alamiah dan di beberapa, tempat hutan-hutan ditebang tanpa terkendali, batubara diexploitasi tanpa mempertimbangkan kebutuhan masa depan, binatang liar diburu untuk keperluan bisnis sehingga terjadi kepunahan. Hutan-hutan tropis berkurang sangat drastis sehingga fungsi hutan sebagai vegetasi yang dapat meresap air hujan tidak dapat menjalankan fungsinya dengan semestinya dan akibatnya terjadilah banjir diberbagai tempat khususnya pada negara berkembang seperti Indonesia, Brazil, Banglades, dan sementara di beberapa negara di Afrika terjadi kekeringan yang berkepanjangan.</p>
<p><a title="" href="#_ftn2">[2]</a>Akibat kerusakan sumberdaya alamiah tersebut telah berdampak pada penduduk yang bermukim di kawasan perdesaan dan sebagian besar mereka adalah penduduk yang tergolong miskin. Terjadinya kerusakan alam, punahnya beberapa jenis binatang telah berimplikasi pada sulitnya penduduk perdesaan untuk mempertahankan hidupnya karena mereka masih sangat tergantung pada alam di sekitarnya dan sebagian besar mereka masih melakukan aktivitas berburu khususnya pada negara-negara di Afrika.</p>
<p>Pertanian Ladang berpindah <a title="" href="#_ftn3">[3]</a><em>(<strong>Nomadic Farm</strong>)</em> juga menimbulkan berbagai permasalahan tersendiri bagi kerusakan hutan, dan ditambah lagi dengan penebangan hutan secara komersial <a title="" href="#_ftn4">[4]</a><em>(illegal logging)</em> ditengarai sebagai menyebab utama rusaknya hutan-hutan pada kawasan tropis. Implikasi berikutnya adalah rusaknya habitat beberapa jenis binatang <em>(Fauna) </em>tertentu sehingga menimbulkan kepunahan. Praktek perdagangan binatang langka juga berakibat maraknya perburuan <strong><em>illegal</em></strong> yang memicu kepunahan.</p>
<p>Untuk keluar dari permasahan besar tersebut, ditawarkanlah pariwisata sebagai sektor pembangunan alternatif untuk mengurangi perusakan sumber daya alamiah (<strong><em>Flora dan Fauna</em></strong>) khususnya pembangunan pada negara-negara yang sedang berkembang. Pariwisata sebagai alternatif disebabkan oleh beberapa alasan yang rasional, menurut IUOTO (<em>International Union of Official Travel Organization</em>) yang dikutip oleh Spillane (1993), <a title="" href="#_ftn5">[5]</a>pariwisata dikembangkan karena: (1)Pariwisata dapat sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3)Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinnasi. (5)Penghasil devisa. (6)Pemicu perdagangan international. (7)Pemicu pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal dan santun, dan (8)Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi.  Dan yang lebih penting lagi, pariwisata dapat berfungsi sebagai pelestari sumberdaya alamiah karena sektor pariwisata pada hakekatnya adalah sebuah sektor jasa yang memerlukan sedikit sumberdaya alamiah dalam proses produksinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.2.</strong><strong>Pariwisata Dunia</strong></p>
<p>Saat ini pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara, tanpa terkecuali di Afrika. Namun pada kenyataannya, pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. <a title="" href="#_ftn6">[6]</a>Pariwisata internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi tersebut meningkat 11% dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Seiring dengan hal tersebut, diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2020 akan menembus angka 1,6 miliar orang per tahun (UN-WTO, 2005) seperti nampak pada grafik.1 di bawah ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Grafik 1, </strong><a title="" href="#_ftn7">[7]</a>Tourism Vision 2020 – UNWTO<strong>.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melihat trend positif dari pertumbuhan pariwisata global, optimisasi pembangunan pariwisata sebagai sebuah alternatif pembangunan untuk pengganti sektor agraris dan industri yang cenderung merusak sumber daya alamiah semakin mendapat sambutan yang lebih meyakinkan. Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2005, dalam Sapta, 2011:1) menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang sangat mulia dan dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p>a)         Tujuan pemersatu dan mempererat kesatuan Bangsa karena pariwisata dianggap mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.</p>
<p>b)         Tujuan penghapusan kemiskinan <a title="" href="#_ftn8">[8]</a>(<strong><em>Poverty Alleviation</em></strong>) karena pembangunan pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharapkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapannya adalah bahwa pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>c)         Tujuan pembangunan berkesinambungan (<strong><em>Sustainable Development</em></strong>) karena dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Artinya penggunaan sumberdaya yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relative lama.</p>
<p>d)         Tujuan pelestarian budaya <a title="" href="#_ftn10">[10]</a>(<strong><em>Culture Preservation</em></strong>) dengan pembangunan kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara ataudaerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan diberbagai daerah.</p>
<p>e)         Tujuan pemenuhan <a title="" href="#_ftn11">[11]</a>Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia: Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema paid holidays.</p>
<p>f)          Tujuan Peningkatan Ekonomi dan Industri; Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa.</p>
<p>g)         Tujuan Pengembangan Teknologi; Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya.</p>
<p>Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataan akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.3.</strong><strong> Paradox Pembangunan Ekonomi</strong></p>
<p>Pariwisata ditawarkan sebagai alternatif untuk keluar dari pembangunan ekonomi yang cenderung membenarkan exploitasi alam dalam meningkatkan kapasitas produksinya karena pariwisata dianggap sebagai sector pembangunan yang menganut prinsif pembangunan berkesinambungan (<a title="" href="#_ftn12">[12]</a><strong><em>Sustainable Development</em></strong>), dan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan serta pelayanan, sehingga sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini, artinya penggunaan sumberdaya yang habis pakai <strong><em>(<a title="" href="#_ftn13"><strong>[13]</strong></a>Un-renewable resources)</em></strong> cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relatif lama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.4.</strong><strong>Tujuan dari penelitian ini adalah: </strong></p>
<p>(1)   Melakukan Explorasi Informasi terhadap potensi masing-masing kawasan dengan menggunakan <a title="" href="#_ftn14">[14]</a>Analisis <strong><em>Tourist Area Life Cycle</em></strong>.</p>
<p>(2)   Melakukan <a title="" href="#_ftn15">[15]</a>Analisis <strong><em>Irritation Index</em></strong> untuk mengidentifikasi adanya kemungkinan-kemungkinan gesekan yang akan timbuk jika pariwisata dikembangkan pada masing-masing kawasan tersebut.</p>
<p>(3)   Melakukan Analisis SWOT untuk setiap potensi utama yang akan dikembangkan pada wilayah tersebut dengan cara menganalisis data dan informasi yang telah tersedia.</p>
<p>(4)   Melakukan Analisis secara general terhadap hambatan-hambatan terhadap pembangunan pariwisata dan penciptaan peluang usaha untuk mendapatkan solusi yang tepat.</p>
<p>(5)   Membuat Kesimpulan dan Rekomendasi secara terintegrasi dari hasil analisis yang telah dilakukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2.     </strong><strong>Kajian Teoritis</strong></li>
</ol>
<p>Dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata khususnya pengembangan kawasan wisata atau obyek wisata pada umumnya mengikuti alur atau siklus kehidupan pariwisata yang lebih dikenal dengan <strong><em>Tourist Area Life Cycle (TLC)</em></strong> sehingga posisi pariwisata yang akan dikembangkan dapat diketahui dengan baik dan selanjutnya dapat ditentukan program pembangunan, pemasaran, dan sasaran dari pembangunan pariwisata tersebut dapat ditentukan dengan tepat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.1.    <strong><em>Tourist Area Lifecycle</em></strong></p>
<p>Siklus hidup pariwisata pada umumnya mengacu pada konsep <a title="" href="#_ftn16">[16]</a>TLC (<strong><em>Butler’s 80, Tourist Area Lifecycle)</em></strong> yang dapat dijabarkan pada Grafik 2.  <strong><em>(Hypothetical Evolution of a Tourist Area) </em></strong>sebagai berikut :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p><a title="" href="#_ftn17">[17]</a>Grafik 2.  <em>Hypothetical Evolution of a Tourist Area. </em></p>
<p><em>Source: </em><em>Butler, R. W. 1980. &#8220;The Concept of a Tourism Area Life Cycle of Evolution:  Implications  for Management of Resources.&#8221; </em><em>The Canadian Geographer </em><em>24(1), p. 8. </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tahap 1.  Penemuan <em>(Exploration)</em></strong></p>
<p>Potensi pariwisata berada pada tahapan identifikasi dan menunjukkan destinasi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi daya tarik atau destinasi wisata karena didukung oleh keindahan alam yang masih alami, daya tarik wisata alamiah masih sangat asli, pada sisi lainnya telah ada kunjungan wisatawan dalam jumlah kecil dan mereka masih leluasa dapat bertemu dan berkomunikasi serta berinteraksi dengan penduduk local. Karakteristik ini cukup untuk dijadikan alasan pengembangan sebuah kawasan menjadi sebuah destinasi atau daya tarik wisata.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tahap 2. Pelibatan <em>(Involvement)</em></strong></p>
<p>Pada tahap pelibatan, masyarakat lokal mengambil inisiatif dengan menyediakan berbagai pelayanan jasa untuk para wisatawan yang mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan dalam beberapa periode,. Masyarakat dan pemerintah local sudah mulai melakukan sosialiasi atau periklanan dalam skala terbatas, pada musim atau bulan atau hari-hari tertentu misalnya pada liburan sekolah terjadi kunjungan wisatawan dalam jumlah besar, dalam kondisi ini pemerintah local mengambil inisiatif untuk membangun infrastruktur pariwisata namun masih dalam skala dan jumlah yang terbatas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tahap 3. Pengembangan <em>(Development)</em></strong></p>
<p>Pada tahapan ini, telah terjadi kunjungan wisatawan dalam jumlah besar dan pemerintah sudah berani mengundang investor nasional atau internatsional untuk menanamkan modal di kawasan wisataw yang akan dikembangkan. Perusahaan asing (MNC) <em>Multinational company<a title="" href="#_ftn18"><strong>[18]</strong></a>) </em>telah beroperasi dan cenderung mengantikan perusahan local yang telah ada, artinya usaha kecil yang  dikelola oleh penduduk local mulai tersisih hal ini terjadi karena adanya tuntutan wisatawan global yang mengharapkan standar mutu yang lebih baik. Organisasi pariwisata mulai terbentuk dan menjalankan fungsinya khususnya fungsi promotif yang dilakukan bersama-sama dengan pemerintah sehingga investor asing mulai tertarik dan memilih destinasi yang ada sebagai tujuan investasinya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tahap. 4 Konsolidasi <em>(consolidation)</em></strong></p>
<p>Pada tahap ini, sektor pariwisata menunjukkan dominasi dalam struktur ekonomi pada suatu kawasan dan ada kecenderungan dominasi jaringan international semakin kuat memegang peranannya pada kawasan wisataw atau destinasi tersebut. Kunjungan wisatawan masih menunjukkan peningkatan yang cukup positif namun telah terjadi persaingan harga diantara perusahaan sejenis pada industri pariwisata pada kawasan tersebut. Peranan pemerintah local mulai semakin berkurang sehingga diperlukan konsolidasi untuk melakukan re-organisasional, dan balancing peran dan tugas antara sector pemerintah dan swasta.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tahap. 5 Stagnasi (Stagnation)</strong></p>
<p>Pada tahapan ini, angka kunjungan tertinggi telah tercapai dan beberapa periode menunjukkan angka yang cenderung stagnan. Walaupun angka kunjungan masih relative tinggi namun destinasi sebenarnya tidak menarik lagi bagi wisatawan. Wisatawan yang masih datang adalah mereka yang termasuk <a title="" href="#_ftn19">[19]</a>repeater guest atau mereka yang tergolong wisatawan yang loyal dengan berbagai alasan. Program-program promosi dilakukan dengan sangat intensif namun usaha untuk mendatangkan wisatawan atau pelanggan baru sangat sulit terjadi.  Pengelolaan destinasi melampui daya dukung sehingga terjadi hal-hal negative tentang destinasi seperti kerusakan lingkungan, maraknya tindakan kriminal, persaingan harga yang tidak sehat pada industry pariwisata, dan telah terjadi degradasi budaya masyarakat lokal.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tahapan. 6  Penurunan atau Peremajaan <em>(Decline/Rejuvenation)</em></strong></p>
<p>Setelah terjadi Stagnasi, ada  dua kemungkinan bisa terjadi pada kelangsungan sebuah destinasi. Jika tidak dilakukan usaha-usaha keluar dari tahap stagnasi, besar kemungkinan destinasi ditinggalkan oleh wisatawan dan mereka akan memilih destinasi lainnya yang dianggap lebih menarik. Destinasi hanya dikunjungi oleh wisatawan domestik saja itupun hanya ramai pada akhir pekan dan hari liburan saja. Banyak fasilitas wisata berubah fungsi menjadi fasilitas selain pariwisata. Jika Ingin Melanjutkan pariwisata?, perlu dilakukan pertimbangan dengan mengubah pemanfaatan destinasi, mencoba menyasar pasar baru, mereposisi attraksi wisata ke bentuk lainnya yang lebih menarik. Jika Manajemen Destinasi memiliki modal yang cukup?, atau ada pihak swasta yang tertarik untuk melakukan penyehatan seperti membangun atraksi man-made, usaha seperti itu dapat dilakukan, namun semua usaha belum menjamin terjadinya peremajaan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2.</strong><strong>Index of Irritation</strong></p>
<p>Ada teknik lain yang dapat digunakan untuk menentukan perkembangan sebuah destinasi yakni <a title="" href="#_ftn20">[20]</a><strong><em>Index of Irritation</em></strong> yang terdiri dari empat tahapan atau fase yakni: <strong><em>Euphoria, Apathy, annoyance, dan antagonism.</em></strong> Metode ini lebih mengarah pada analisis social yang mengukur dampak pariwisata dari sisi social. Hasil dari analisis ini dapat mengukur perubahan perilaku masyarakat lokal terhadap kehadiran pariwisata di daerahnya.</p>
<p>(1)   Phase <strong><em>Euphoria</em></strong> ditandai dengan temukannya potensi pariwisata kemudian pembangunan dilakukan, para investor datang menanamkan modal dengan membangun berbagai fasilitas bisnis pendukung pariwisata, sementara wisatawan mulai berdatangan ke sebuah destinasi yang sedang dibangun, namun perencanaan dan kontrol belum sepenuhnya berjalan dengan baik.</p>
<p>(2)   Phase <strong><em>Apathy</em></strong> dintandai dengan adanya perencanaan terhadap destinasi khususnya berhubungan dengan aspek pemasaran termasuk promosi pariwisata. Terjadinya hubungan antara penduduk local dengan penduduk luar dengan tujuan bisnis, sementara wisatawan yang datang berusaha menemukan keistimewaan yang dimiki oleh destinasi namun tidak menemukannya.</p>
<p>(3)   Phase berikutnya adalah Phase <strong><em>Annoyance</em></strong> dengan ditandai terjadinya kelesuan pada pengelolaan destinasi mulai terasa atau dapat dikatakan mendekati titik jenuh. Para pemegang kebijakan mencari solusi dengan meningkatkan pembangunan infrastruktur tanpa berusaha mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke destinasi sehingga kedatangan wisatawan dianggap sudah mengganggu masyarakat local.</p>
<p>(4)   Phase yang terakhir dalam analisis <strong><em>Index of Irriatation </em></strong>adalah <strong><em>Antagonism</em></strong> dimana masyarakat local merasa telah terjadi gesekan social secara terbuka akibat kehadiran para wisatawan dan wisatawan dianggap sebagai penyebab dari segala permasalahan yang terjadi pada sebuah destinasi. Perencanaan pada destinasi dilakukan dengan melakukan promosi untuk mengimbangi menurunnya citra destinasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.3.</strong><strong>Teknik SWOT</strong></p>
<p>Sedangkan Teknik yang umum dilakukan pada tahap awal pembangunan sebuah destinasi adalah <a title="" href="#_ftn21">[21]</a><strong><em>SWOT: Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats</em></strong>   sebuah analisis yang didasarkan pada evaluasi terhadap factor internal untuk melakukan identifikasi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh sebuah destinasi, kemudian analisis dilanjutkan pada evaluasi terhadap factor external untuk menentukan peluang dan ancaman yang mungkin terjadi saat ini dan saat yang akan datang. Dan sebuah Destinasi sudah berkembang, analisis SWOT dilakukan untuk merumuskan strategi baru khususnya yang berhubungan dengan strategi bersaing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3.     </strong><strong>Metode Analisis</strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Data sekunder yang tersedia di sejumlah publikasi dan laporan penelitian, menjadi sumber data utama yang akan dianalisis. Sedangkan data dan informasi yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan 3 (tiga) alat analisis yakni TLC <strong><em>(Tourist Area Life Cycle), Irritation Index</em></strong>, dan SWOT. Hasil analisis selanjutnya dibandingkan dengan teori pendukung dan hasil penelitian sebelumnya yang memiliki kesamaan dan kemiripan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>4.      </strong><strong>Hasil Analisis dan Pembahasan</strong><strong></strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pembahasan pada analisis ini menggunakan tiga sample destinasi dimana ketiganya termasuk dalam jenis eco-tourism. Dua diantaranya berada di Afrika yakni di Zimbabwe dan di Kenya. Sementara sebuah destinasi yang terletak di Tamil, India disertakan dalam pembahasan karena memiliki kemiripan maksud tujuan ditawarkannya sebagai sebuah Alternatif terbaik untuk pembangunan ke depan yakni pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.1.         </strong><strong>National Park in Zimbabwe</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengeloaan Taman Nasional di Zimbabwe didasarkan atas pertimbangan untuk mengindari perburuan liar yang belebihan dan tak terkontrol.  Zimbabwe telah mengalami sejarah kekerasan dan intimidasi politik. Namun demikian, ada daerah yang berhasil mengembangkan inisiatif ekonomi yang menguntungkan. Orang-orang Mahenye misalnya, merupakan contoh dari komunitas yang telah memetik manfaat dari Program Pengelolaan Sumber Daya untuk pemberdayaan masyarakat adat. Proyek pengelolaan satwa liar (Wildlife Management) melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaannya.</p>
<p align="center">
<p align="center">Gambar 1. Taman Nasional CAMPFIRE, Zimbabwe</p>
<p align="center">Sumber: TED Case Studies CAMPFIRE pada http://www1.american.edu/ted/campfire.htm</p>
<p align="center">
<p>Zimbabwe adalah sebuah negara yang dikelilingi oleh daratan di Afrika bagian selatan, berbatasan dengan Mozambik dan Afrika Selatan, dengan populasi sekitar 13 juta orang. Negara ini memiliki sector manufaktur yang relatif berkembang dengan baik diversifikasi pertanian, sumber daya mineral yang bervariasi dan potensi wisata alam. Meskipun kondisi ekonomi memburuk dengan cepat selama dekade terakhir (s) dengan PDB tumbuh dengan hanya 1,1%, antara 1990 dan 2003 dan PDB per kapita hanya 471 US $. Lebih dari 36% dari penduduk hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan  $/1US. Meskipun Pemerintah Presiden Mugabe sejak tahun 1990 memulai reformasi ekonomi, mereka gagal untuk menghentikan keterpurukan ekonomi terutama sebagai akibat dari pengeluaran pemerintah yang berlebihan dan korupsi yang meningkat.</p>
<p><a title="" href="#_ftn22">[22]</a>The CAMPFIRE project merupakan contoh pengelolaan satwa liar berbasis masyarakat. Proyek ini diimplementasikan di bangsal Mahenye, sebuah komunitas kecil yang meliputi 210 kilometer persegi di selatan-timur distrik Chipinge. The ward adalah tanah dataran sempit antara Taman Nasional Gonarezhou dan perbatasan internasional dengan Mozambik. Mahenye memiliki dua loge wisata. Daerah ini dihuni oleh sekitar 3,700 orang Shangaan. Kepadatan penduduk rendah, dengan 20 orang per kilometer persegi. Mopane dan hutan combretum menutupi sebagian besar dari dataran tersebut, dan di kelilingi Sungai, hutan lebat, bunga-bunga liar, ikan dan spesies burung. Penduduk setempat hidup dari peternakan yang dikelola secara intensif dan budidaya tanaman seperti jagung, millet sorgum, dan kacang tanah. Satwa liar merupakan aset alam penting yang menghasilkan pendapatan bagi masyarakat Mahenye. Secara politis, The ward dikelola oleh pemerintahan kabupaten dan dikelola secara mandiri pada tingkat desa. Wilayah tersebut memiliki pemerintahan sendiri yang memungkinkan orang untuk secara kolektif mengelola aset alami mereka.</p>
<p>Sejak di deklarasikannya <strong><em>Wildlife Management</em></strong> pada tahun 1966 oleh pemerintah kolonial, sejarah nenek moyang orang Shangaan terhapus dan digantikan sejarah taman nasional yang mereka sendiri tidak pernah mereka bayangkan. Negara pada saat ini, mengeluarkan larangan bahwa perburuan dan kepemilikan satwa liar oleh penduduk lokal adalah sebuah kejahatan, dan segala bentuk kepemilikan dan perburuan dikelola oleh Negara. Negara melarang masyarakat setempat untuk memanfaatkan satwa liar sebagai asset mata pencaharian mereka. Akibat dari intervensi pemerintah inilah yang menyebabkan terjadi konflik yang berkepanjangan. Penduduk setempat menganggap bahwa pemerintah telah merampok hak-hak mereka untuk mengelola alam mereka di mana mereka telah hidup berabad-abad sejak dari nenek moyang mereka.</p>
<p>Namun karena pemerintah secara terus menerus melakukan pendekatan pada penduduk local dengan bantuan Yayasan/NGO dan komite tentang pentingnya konservasi dan mensosialisasikan keuntungan-keuntungan pengelolaan satwa liar, maka saat ini pengelolaan satwa liar dapat berjalan dengan baik, dengan rincian keuntungan sebagai berikut:</p>
<p>Periode  tahun 1991 sampai dengan 1997, komite menerima pendapatan dari pengeloaan satwa liar yang dikelola oleh perusahaan (tabel 1). Dengan perjanjian dengan perusahaan  swasta menyatakan bahwa 15% dari pendapatan kotor perusahaan diperuntukkan bagi masyarakat. Penciptaan Kesempatan kerja baru bagi penduduk setempat di sector pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kurun waktu 1997 sebanyak 11 dari total 18 staf di Mahenye yang direkrut secara lokal.  Secara keseluruhan, kemitraan dengan perusahaan pariwisata telah menyediakan 70 jenis pekerjaan.  Komite satwa liar juga mempekerjakan staf lapangan lokal yang memantau satwa liar,  perburuan dan kegiatan safari.</p>
<p>Pengelolaan satwa liar juga mampu mengurangi angka kemiskinan, pariwisata mampu menggerakkan masyarakat lokal keluar dari garis kemiskinan. Distribusi pendatan dari sector pariwisata telah meningkatkan pendapatan secara positif sehingga perilaku penduduk local mulau berubah secara positif untuk menerima hadirnya dunia pariwisata di wilayahnya. Berikut rincian pendapatan yang diterima rumah tangga dari sector pariwisata pada table 2,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari beberapa paparan data sekunder di atas, maka dapat diuraikan kondisi pengelolaan satwa liar sebagai daya tarik wisata di Zimbabwe adalah sebagai berikut: Menurut Analisis Index of Irritation, pada awalnya masyarakat menolak kehadiran pariwisata dan teridentifikasi pada Phase yang terakhir dalam analisis <strong><em>Index of Irriatation </em></strong>adalah <strong><em>Antagonism</em></strong> dimana masyarakat local merasa telah terjadi gesekan social secara terbuka akibat kehadiran pariwisata dan tawaran pemerintah tentang konservasi alam dianggap dapat menyebabkan timbulnya permasalahan bagi masyarakat local. hal ini terjadi karena belum dilakukannya sosialisasi yang menyeluruh dan pola pendekatan yang digunakan pada tahap awal terkesan menggunakan unsur pemaksaan. Setelah dilakukan Perencanaan pada destinasi dilakukan dengan melakukan sosialiasi untuk mengimbangi persepsi negative penduduk local tentang kehadiran pariwisata maka pariwisata dapat membuktikan dirinya sebagai factor penggerak perekonomian penduduk local dan mereka keluar dari garis kemiskinan.</p>
<p>Masyarakat lokal di Zimbabwe kini justru menikmati Phase <strong><em>Euphoria</em></strong> yang ditandai dengan dikembangkannya potensi pariwisata lainnya kemudian pembangunan dapat dilakukan, para investor datang menanamkan modal dengan membangun berbagai fasilitas bisnis pendukung pariwisata seperti mobil safari, tour agency dan fasilitas lainnya, sementara wisatawan mulai berdatangan ke sebuah taman nasional tersebut namun perencanaan dan kontrol belum sepenuhnya berjalan dengan baik.</p>
<p>Jika dilihat dari <strong><em>analisis Tourist Area Life Cycle</em></strong>, dapat diklasifikasikan bahwa pengembangan daya tarik wisata Satwa Liar di Zimbabwe telah berada pada phase Pelibatan (<strong><em>Involvement</em></strong>) dimana Pada tahap pelibatan, masyarakat local mengambil inisiatif mau bekerja pada berbagai pelayanan jasa untuk para wisatawan yang mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan dalam beberapa periode. Masyarakat dan pemerintah lokal sudah mulai melakukan sosialiasi atau periklanan dalam skala terbatas, padalam kondisi ini pemerintah lokal bekerjasama dengan perusahaan swasta dan yayasan pecinta alam mengambil inisiatif untuk membangun infrastruktur pariwisata namun masih dalam skala dan jumlah yang terbatas. Paparan data deskriptif di atas juga memaparkan bahwa pariwisata telah mampu menggerakkan perekonomian bagi penduduk local dengan memberikan kontribusi pendapatan yang diterima langsung tiap rumah tangga dan penduduk local dilibatkan sebagai pekerja pariwisata seperti guide safari dan sebagainya.</p>
<p>Jika dilihat dari <a title="" href="#_ftn23">[23]</a>Analisis SWOT, Zimbabwe memiliki kekuatan yang masih dapat diandalkan sebagai kekuatan pariwisata alam liar, seperti landscape dan padang gurun yang begitu luasnya dengan berbagai satwa liar yang masih hidup di dalamnya. Walaupun demikian, Zimbabwe juga memiliki kelemahan yang cukup berarti seperti ketidakstabilan politik dalam negeri, musim hujan yang tidak menentu bahkan diperiode tertentu terjadi kemarau yang berkepanjangan sehingga berpotensi matinya satwa liar karena kekurangan air seperti tampak pada Gambar</p>
<p align="center">
<p align="center">Gambar 2. Kematian Bintang Gajah pada Musim Kemarau</p>
<p align="center">Sumber: TED Case Studies CAMPFIRE pada http://www1.american.edu/ted/campfire.htm</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lemahnya sumberdaya manusia pendukung pariwisata khususnya tenaga supervisor dan manajerial. Sedangkan tantangan yang dihadapi adalah semakin banyak Negara-negara dibelahan bumi yang lainnya termasuk juga di beberapa Negara di kawasan Afrika mulai sadar akan pentingnya konservasi dan memilih pariwisata sebagai alternative terbaik untuk melakukan konservasi dan sekaligus sebagai generator pemberdayaan masyarakat keluar dari kubangan kemiskinan, hal ini akan menjadi pesaing baru bagi Zimbabwe. Sedangkan Ancaman akan muncul berupa konflik wilayah, konflik sektoral, termasuk juga konflik pengeloaan alam liar sebagai daya tarik wisata jika tidak dikelola sesuai Carrying Capacity justru akan merusak alam dan habitatnya secara luas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.2.         </strong><strong>Photo Safaris in Kenya</strong></p>
<p>Untuk dapat mempromosikan bentuk pariwisata Photo Safari di Kenya, diperlukan stabilitas politik termasuk didalamnya kesetabilan nilai mata uang Kenya terhadap mata uang asing seperti Dollar Amerika. Keharusan berikutnya adalah ketersediaan infrastruktur pariwisata, keahlian atau ketrampilan khusus bagi para pemandu wisata. Pembangunan infrastruktur pariwisata, pembangunan penginapan, rumah sakit, pengelolaan taman nasional dalam luasan yang besar juga menjadi pertimbangan yang sangat penting untuk wisata photo safari.</p>
<p align="center">
<p align="center">Gambar 3. wisata photo safari</p>
<p align="center">Sumber: http://www.safaripics.co.uk/safaris/Kenyan-safaris-handbook.pdf<a title="" href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kenya merdeka dari Inggris pada tahun 1963, Kenya terletak di garis khatulistiwa di kawasan Afrika dan dikelilingi oleh Somalia pada sebelah Timur, Ethiopia pada bagian tenggara, Sudan di bagian Utara, Uganda untuk Barat Daya, Tanzania untuk Barat dan Barat Laut dan Samudera Hindia pada bagian Selatan.</p>
<p>Penduduk Kenya adalah sebuah &#8220;group etnis&#8221; yang kaya terdiri dari 42 suku adat, mereka hidup bersama-sama dengan keturunan Arab, Asia dan Kaukasia. Ada dua bahasa resmi, Bahasa Inggris dan Kiswahili yang masih kebanyakan orang di Kenya berbicara dalam bahasa suku mereka khsusunya untuk komunikasi sehari-hari di rumah mereka. Pariwisata Margasatwa “Safari” adalah industri paling penting di Kenya dan tidak ada negara Afrika lainnya,  yang melibatkan banyak usaha dan sumber daya dalam melestarikan flora dan fauna.</p>
<p>Lahirnya Wisata Safari di Kenya terinspirasi oleh adanya perdagangan gading gajah afrika yang melibatkan jaringan pemburu internasional dan sindikat perdagangan. Pariwisata dijadikan sebuah alternative untuk mengimbangi adanya larangan terhadap aktivitas perburuan komersil dan perdagangan gading gajah. Inisiatif ini diwujudkan dengan terbentuknya Kenya Wildlife Service yang beroperasi pada Taman Nasional Kenya dan Game Reserves dan Rangers <a title="" href="#_ftn25">[25]</a>KWS berada di garis depan perang melawan perburuan di seluruh Kenya. Sejak KWS dibentuk pada tahun 1990, lebih dari lima puluh Rangers telah kehilangan nyawa mereka melindungi satwa liar, flora dan geologi negeri indah ini. Memilih alternative wisata safari di Kenya tidak hanya akan mengubah hidup masyarakat, juga akan menyediakan dana untuk memungkinkan KWS untuk melanjutkan pekerjaannya dalam usaha melestarikan alam untuk masa depan kehidupan satwa, flora dan fauna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p align="center">Gambar 3. Kawanan Gajah pada photo safari Sumber: http://www.safaripics.co.uk/safaris/Kenyan-safaris-handbook.pdf</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut hasil investigasi yang dilakukan oleh para wisatawan dari Inggris (www.safaripics.co.uk), terdapat kelebihan dan kekurangan dari aktivitas wisata safari di Kenya yang dapat ditampilkan pada Tabel 3 berikut ini:</p>
<p align="center">Tabel 3. Kelebihan dan Kekurangan Wisata Safari di Kenya</p>
<div align="center">
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="571">
<p align="center"><strong>Kelebihan</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="571">
<ul>
<li>Wisatawan dapat melihat satwa dari jarak dekat, berkemah di dalam hutan sambil menderang suara raungan bintang liar secara langsung.</li>
<li>Biaya yang relative murah dimana 3 minggu safari di Kenya setara dengan 1 minggu safari mewah di tempat lainnya.</li>
<li>Belum terlalu banyak adanya intervensi dari non photographer sehingga para wisatawan dapat mengambil photo safari secara leluasa.</li>
<li>Wisatawan dapat melihat Kenya secara nyata dan bertemu dengan masyarakat asli di sana.</li>
<li>Wisatawan dapat mengunjungi beberapa sumber daya alam safari yang memilki kelangkaan dan keunikan yang tidak ditemukan di taman nasional ditempat lainnya.</li>
<li>Perusahaan tour mempekerjakan team pemandu, yang dapat berkomunikasi satu sama lain dengan radio gelombang pendek, sehingga memungkinkan bagi mereka untuk mempercepat obyek ke Photo safari.</li>
<li>Perusahaan tour menyediakan porter untuk membawa barang-barang wisatawan, sehingga wisatawan tidak dibebani dengan barang bawaan.</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div align="center">
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="571">
<p align="center"><strong>Kekurangan</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="571">
<ul>
<li>Perusahaan tour hanya menyediakan akomodasi dalam bentuk tenda statis</li>
<li>Wisata Safari adalah self-drive dan menghabiskan banyak cadangan makanan dan energy yang diperlukan untuk perjalanan panjang di jalan kurang sempurna.</li>
<li>Fasilitas toilet sangat minim ketika berkemah di alam liar di Afrika/Kenya.</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p align="center">Sumber: http://www.safaripics.co.uk/safaris/Kenyan-safaris-handbook.pdf</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika di lihat dari karakteristik wisata safari seperti hasil investigasi oleh para wisatawan/photographer safari dari Inggris, dapat diterangkan bahwa wisata safari termasuk <strong><em>niche market</em></strong> yang lebih cenderung hanya diminati oleh wisatawan tertentu “<strong><em>specific interest tourist</em></strong>”. Wisatawan minat khusus biasanya tergolong pada <strong><em>allowcentris</em></strong> yang cenderung menerima keberadaan destinasi apa adanya, seperti tampak pada gambar 4, mereka rela tinggal di sebuah tenda.</p>
<p align="center">
<p align="center">Gambar 4. Kawanan Gajah pada photo safari Sumber: http://www.safaripics.co.uk/safaris/Kenyan-safaris-handbook.pdf</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika dilihat dari <strong><em>analisis Tourist Area Life Cycle</em></strong>, dapat diklasifikasikan bahwa pengembangan daya tarik wisata Safari di Kenya telah berada pada phase Pengembangan (<strong><em>Development</em></strong>) dimana Pada tahapan ini, telah terjadi  kunjungan wisatawan dalam jumlah besar untuk ukuran wisatawan minat khusus “<strong><em>eco-tourist</em></strong>”  dan pemerintah sudah berani mengundang investor nasional atau internatsional untuk menanamkan modal di kawasan wisata  yang akan dikembangkan.  Alternatif pengembangan daya tarik wisata Photo safari agak berbeda dengan pengembangan daya tarik wisata satwa liar seperti yang dikembangkan di Zimbabwe.  Daya tarik wisata Photo Safari lebih khusus bagi  mereka “tourist” yang benar-benar tertarik dengan dunia photografi khususnya tentang kehidupan binatang liar di Kenya dengan tujuan untuk mendapatkan photo atau gambar bahkan video secara langsung. Sementara wisata satwa liar tidak terbatas untuk tourist photografi saja tetapi bagi siapa saja yang tertarik untuk melihat binatang liar.</p>
<p>Dampak utama dari inisiatif  konservasi satwa liar pada lembaga-lembaga lokal di Eselenkei Kenya telah meningkatkan ketegangan dalam masyarakat,  terutama antara anggota kelompok Peternakan dan berbagai kelompok lainnya seperti Kelompok Peternakan Komite, para tua-tua, orang  berpendidikan, dan lainnya. Kegiatan konservasi, dianggap membatasi ruang gerak masyarakat dalam melakukan aktivitas peternatakan dan pertanian karena luasan lahan peternakan mereka menjadi berkurang karena dicaplok menjadi lahan konservasi oleh pemerintah.</p>
<p>Menurut <strong><em>Analisis Index of Irritation,</em></strong> pada awalnya masyarakat menolak kehadiran pariwisata dan teridentifikasi pada Phase yang terakhir dalam analisis <strong><em>Index of Irriatation </em></strong>adalah <strong><em>Antagonism</em></strong> dimana masyarakat lokal merasa telah terjadi gesekan sosial secara terbuka akibat kehadiran pariwisata dan tawaran pemerintah tentang konservasi alam dianggap dapat menyebabkan timbulnya permasalahan bagi masyarakat local, <strong><em>Shift of Paradigm</em></strong> yang tiba-tiba juga menimbulkan gesekan. Pola pembangunan dilakukan tanpa melibatkan penduduk lokal secara maksimal sehingga dari awal pengembangan <strong><em>wildlife tourism</em></strong> di Kenya telah mengalami penolakan oleh sebagian besar masyarakat local. Pemerintah dalam hal ini Tourism sector dan departemen konservasi (<strong><em>KWS Kenya Wildlife Services</em></strong>) belum mampu memberikan lahan pencaharian baru bagi penduduk local dan pengembangan <strong><em>wildlife tourism</em></strong> “photo safari” hanya melibatkan sedikit tenaga kerja local hal ini terjadi karena karakteristik dari jenis wisata ini memerlukan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus dan orang Kenya tidak banyak yang kompeten di bidang photografi dan pemanduan <strong><em>wildlife tourism</em></strong>.</p>
<p>Jika dilihat dari <a title="" href="#_ftn26">[26]</a>Analisis SWOT, Kenya memiliki kekuatan pariwisata alam liar berupa gajah dan binatang buas lainnya yang telah popular di dunia. Kenya juga memiki padang gurun dan hutan tropis yang luasnya dengan berbagai satwa liar yang masih hidup di dalamnya. Walaupun demikian, Kenya juga memiliki kelemahan yang cukup berarti seperti musim hujan yang tidak menentu bahkan musim tertentu terjadi kekeringan yang berkepanjangan sehingga berpotensi mematikan satwa liar karena kekurangan air. Lemahnya sumberdaya manusia pendukung pariwisata khususnya tenaga supervisor dan manajerial. Sedangkan tantangan yang dihadapi adalah semakin banyak Negara-negara dibelahan bumi yang lainnya termasuk juga di beberapa Negara di kawasan Afrika mulai sadar akan pentingnya konservasi dan memilih pariwisata sebagai alternative terbaik untuk melakukan konservasi dan sekaligus sebagai generator pemberdayaan masyarakat keluar dari kubangan kemiskinan, hal ini akan menjadi pesaing baru bagi Kenya. Sedangkan Ancaman saat ini adalah masih terjadinya konflik dalam masyarakat karena mereka memilki banyak kelompok yang berbeda kepentingan, dan ancaman lainnya akan muncul berupa konflik wilayah, konflik sektoral, termasuk juga konflik pengeloaan alam liar sebagai daya tarik wisata jika tidak dikelola sesuai <strong><em>Carrying Capacity</em></strong> justru akan merusak alam dan habitatnya secara luas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.3.         </strong><strong>Ecotourism in The Gulf Of Mannar, Tamil Nadu, India</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Teluk Mannar (GOM) seperti terlihat pada Gambar 5, terletak di sepanjang pantai timur negara bagian Tamil Nadu India antara pantai selatan Pulau Pamban (tempat kota suci Rameshwaram) dan Thuthukodi (Tuticorin) adalah situs dari Laut Biosphere Reserve, yang memilki 21 pulau karang dan sebuah pelabuhan yang semakin terancam keanekaragaman hayatinya,  yang telah menjadi subjek penelitian ekologi selama bertahun-tahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p align="center">Gambar 5. The Gulf of Mannar</p>
<p align="center">Sumber: http://salamlanka.blogspot.com/2010/06/mannar-pearl-bank-and-muslims.html</p>
<p align="center">
<p>Sejak penggunaan perahu mekanik yang menggunakan metode penangkapan ikan pukat harimau diperkenalkan sekitar 50 tahun yang lalu dan karena populasi masyarakat yang tergantung pada penangkapan ikan untuk mata pencaharian mereka, dan intensitasnya telah semakin meningkat, sedangkan sumber daya laut di cagar biosfer GOM semakin di bawah tekanan.  Ikan, karang, teripang, chanks (cangkang Keong suci), sapi laut, penyu laut dan sumber daya lainnya  sekarang semakin menurun jumlah dan keragamannya, bahkan semakin beresiko atas kepunahan spesies.</p>
<p>Berhubungan dengan hal di atas, dianggap sangat mendesak untuk mencari sebuah pilihan baru sebagai alternative agar penduduk tidak terlalu tergantung pada aktifitas penangkapan kekayaan hayati laut khususnya masyarakat di sepanjang pantai teluk Mannar. Ekowisata dan Usaha-eko adalah sebuah pilihan yang dapat dikembangkan.</p>
<p>Tujuan dari penelitian ini adalah &#8220;untuk mengidentifikasi produk ekowisata apa yang sesuai dan usaha-eko yang akan menyediakan peluang pendapatan bagi nelayan local?&#8221;. Data primer yang dikumpulkan selama kunjungan 7 hari ke GOM daerah oleh interaksi dengan banyak para pemangku kepentingan yang berpotensi terlibat dan pengamatan dari beberapa bidang primer yang mungkin dikembangkan.</p>
<p>Data sekunder yang tersedia di sejumlah publikasi dan laporan internal, terutama yang dihasilkan oleh M.S. Swaminathan Research Foundation (MSSRF) dan Teluk Benggala Program (BOBP). Dalam konteks ini ekowisata yang dikembangkannya mengacu pada pariwisata yang berpihak pada masyarakat miskin (yaitu yang menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, budaya atau lingkungan bersih untuk orang miskin), pro-alam (misalnya menjamin pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam), partisipatif dan melibatkan pengalaman belajar/pertukaran budaya bagi pengunjung dan host.</p>
<p>Ekowisata ini melibatkan  tiga (3) macam jenis pariwisata lainnya, yaitu wisata pendidikan, wisata keagamaan (yang ada pasar sektor penting) dan wisata alam/rekreasi dan menggunakan istilah &#8216;ecotourism&#8217; untuk jenis produk wisata yang dihasilkan.  Selain itu hasil penelitian ini mengidentifikasi peluang usaha-usaha tertentu yang dapat dikembangkan oleh masyarkat setempat yang berkaitan langsung dengan pariwisata, dan berorientasi pada mengurangi dampak negatif dari pariwisata atau mungkin pilihan mata pencaharian alternatif yang tidak terkait dengan pariwisata.Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini telah diidentifikasi terlebih dahulu dan telah dilakukan observasi terhadap aktifitas masyarakat setempat khususnya berhubungan dengan aktifitas penangkapan ikan oleh nelayan local maupun oleh nelayan professional yang menggunakan bantuan kapal bermotor.</p>
<p>Kajian yang dilakukan menggunakan pendekatan pembangunan ekonomi yang berbasis pemberdayaan masyarakat miskin yakni pro-poor, community base tourim, dengan mengkolaborasikan dengan bentuk dan jenis pariwisata yang pro konservasi alam yakni pendekatan ecotourism. Penulis artikel juga menawarkan beberapa jenis usaha atau bisnis kecil yang dapat dilakukan oleh penduduk local dalam mendukung pembangunan ekowisata sehingga ketergantungan penduduk terhadap eksploitasi alam dan sumberdaya hayati dapat dikurangi.</p>
<p>Metode dan teknik penelitian juga telah menggabungkan beberapa metode yakni metode partisipatif atau peneliti terlibat langsung, konfirmatif yakni dengan melakukan FGD atau focus group discussion sehingga mendapatkan feedback secara langsung dari para stakeholder yang dilibatkan pada penelitian tersebut. Sementara teknik analisis yang digunakan juga telah dapat menggambarkan hasil penelitian secara komprehensif walaupun masih dalam kategori deskriptif namun telah mampu mengidentifikasikan dan menentukan factor kekuatan dan kelembahan internal dari kawasan Teluk Mannar jika dikembangkan menjadi kawasan ekowisata. Selain menemukan factor kekuatan dan kelemahan internal, penelitian ini juga telah menemukan factor eksternal dengan mengidentifikasi dan menentukan peluang khususnya adanya perbaikan ekonomi masyarakat setempat dan differensiasi atau menciptaan usaha baru bagi masyarakat local dan ancaman yang mungkin akan terjadi jika ekowisata  dikembangkan.</p>
<p>Selain melakukan analisis SWOT, penelitian ini juga melakukan analisis kelayakan wilayah dan sekaligus melakukan prediksi terhadap beberapa kelompok pulau (21 pulau) yang tersebar di wilayah pesisir teluk Mannar, dan hasil analisis disajikan dalam bentuk tabular dan matrik yang cukup lengkap dan dapat dijadikan informasi yang sangat penting bagi pelaksana pembangunan ekowisata Teluk Mannar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hasil Analisis  SWOT pembangunan ekowisata secara umum pada 21 pulau di kawasan Teluk Mannar</strong></p>
<p><strong>Kekuatan/Strengths, yang meliputi:</strong></p>
<ul>
<li>Keindahan Alam yang mampu menarik minat wisatawan</li>
<li>Daya Tarik Agama</li>
<li>Nilai keilmuan tentang studi biologi</li>
<li>Keberadaan Usaha kecil yang telah berkembang secara informal</li>
<li>Fasilitas sebelumnya yang masih sangat mudah untuk direnovasi</li>
</ul>
<p><strong>Kelemahan/Weaknesses yang meliputi:</strong></p>
<ul>
<li>Sulitnya melibatkan masyarakat miskin</li>
<li>Tinggi biaya untuk melibatkan beberapa usaha kecil.</li>
<li>Kurangnya jaminan keamanan terhadap para wisatawan</li>
<li>Kurangnya fasilitas pendukung seperti jalan raya, air bersih, system pembungan sampah, dan sebagainya.</li>
<li>Kurangnya akan pengetahuan pemasaran</li>
</ul>
<p><strong>Peluang/Opportunities umumnya meliputi:</strong></p>
<ul>
<li>Peningkatan pengetahuan tentang kehidupan biota laut untuk masyarakat setempat</li>
<li>Mempetahankan ketrampilan dan pengehatuan yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat khususnya tentang kehidupan laut.</li>
<li>Mobilitas Sosial yang semakin dinamis</li>
<li>Fasilitas Kredit untuk usaha kecil</li>
<li>Ketersediaan tenaga pendukung yang ahli.</li>
</ul>
<p><strong>Ancaman/Threats meliputi:</strong></p>
<ul>
<li>Berpotensi berdampak negative terhadap kerusakan lingkungan khususnya berhubungan dengan karang laut, polusi, dan sampah dan sebagainya</li>
<li>Berpotensi adanya kurangnya perijinan pemerintah yang berwenang untuk peluang pembangunan wilayah.</li>
<li>Berpotensi terjadinya Pemanfaatan kaum miskin</li>
<li>Berpotensi mendatangkan banyak wisatawan sehingga akan melebih daya dukung wilayah.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditemukan ada tiga jenis pariwisata yang mungkin dapat dikembangkan  di kawasan Teluk Manar, yakni wisata pendidikan, wisata religious, dan wisata alam atau wisata leisure. Ketiga jenis  wisata tersebut dapat dikemas dalam beberapa bentuk yakni:</p>
<ul>
<li>Wisata pendidikan yang menawarkan CD atau website interaktif, Pusat interpretasi, studi lapangan di pulau Krusadai, oceanarium (aquarium for showing marine life), student conservation volunteer holidays, improvements in CMFRI&#8217;s aquarium and museum, snronelling and diving school.</li>
<li>Wisata Religius yang menawarkan package tour of religious site, Yoga ashram development with village tourism, pilgrimage to Muniya Swami shrine on Nallathanni island, renovation of temples and tanks.</li>
<li>Wisata Alam atau Leisure Tourism yang menawarkan boat trips for snorkelling, diving or viewing through glass-bottomed boat; ecobeach resorts for village tourism.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara Usaha pendukung pariwisata yang mungkin dikembangkan dalah sebagai berikut: Fasilitas Warnet atau Internet, Penyewaan Sepeda dan bengkelnya, pramuwisata perempuan khususnya bagi wisatawan bepergian seorang diri, koperasi nelayan yang menangani dan menampung ikan kering, kerajinan untuk souvenir, penjualan sesajen,  keranjang palma, tas, dan produk lain yang terkait pariwisata.</p>
<p>Walaupun penelitian ini sudah dapat memberikan gambaran dan informasi cukup lengkap namun masih menyisakan beberapa kelemahan yang sangat mungkin menjadi permasalahan baru bagi pengembangan ekowisata di masa yang akan datang. Kelemahan-kelemahan tersebut diantaranya adalah; penelitian ini belum didukung oleh data sekunder tentang dampak aktifitas para nelayan terhadap kerusakan biota laut dan sumber daya alam di wilayah tersebut. Penelitian ini juga belum didukung informasi tentang kelompok nelayan dari luar GOM teluk Mannar yang juga ikut menangkap ikan di wilayah tersebut sehingga hipotesis yang dibangun oleh peneliti sangat mungkin tidak benar. Adapun hipotesis yang dibangun adalah kerusakan biota laut dan sumberdaya hayati pada cagar alam “marine” Teluk Mannar diakibatkan oleh aktifitas nelayan local baik yang tradisional dan yang bermotor sehingga masyarakat harus diberdayakan.</p>
<p>Sementara jenis pariwisata yang ditawarkan yakni ekowisata juga sangat rentan terhadap perusakan alam yang lebih luas, khususnya yang berhubungan kapasitas wilayah dan daya dukung lainnya. Hipotesis tentang tawaran ekowisata dan usaha-eko mungkin akan paradox dengan idealisme konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan yang dicita-citakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>5.     </strong><strong>Simpulan dan Saran</strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pembangunan ekonomi di beberapa kasus menimbulkan paradok terhadap kelestarian sumberdaya alam, baik sumberdaya alam yang dapat diperbaharui maupun yang tak dapat diperbaharui. Pembangunan ekonomi tanpa kendali hanya melahirkan hasrat exploitasi yang pastinya akan menguras sumberdaya alam khususnya yang tak dapat diperbaharui dan merusak sumberdaya hayati seperti hutan, binatang, dan biota laut. Dari tiga  studi kasus yang ditampilkan dalam laporan ini, nampak bahwa <strong><em>eco-tourism</em></strong> adalah pilihan terakhir yang dianggap dapat menyelamatkan perusakan sumberdaya hayati yang berupa satwa liar, kehidupan alam liar <strong><em>wildlife</em></strong>, biota laut, flora fauna dan sumberdaya hayati lain.</p>
<p>Pada awalnya, penawaran <strong><em>eco-tourism</em></strong> sebagai alternatif pada ketiga kasus tersebut, mendapat penolakan dari masyarakat lokal karena kurangnya informasi tentang maksud dan tujuan alternatif ditawarkan. Penolakan juga dapat dipicu karena masyarakat belum siap untuk terlibat dalam sektor pariwisata yang biasanya mengharuskan seseorang memiliki ketrampilan khusus.</p>
<p>Analisis <strong><em>Tourist Area lifecyle, Indext of Irritation</em></strong>, dan SWOT digunakan untuk menempatkan posisi masing-masing destinasi pada phase daur hidup destinasi, dimana penawaran <strong><em>wildlife tourism</em></strong> di Zimbabwe menempatkan destinasi tersebut pada phase <strong><em>involment </em></strong>atau pelibatan dan phase <strong><em>antagonism</em></strong> jika menggunakan analisis <strong><em>index of irritation.</em></strong>  Sedangkan pengembangan <strong><em>alternative Photo Safari Tourism</em></strong> di Kenya, menempatkan destinasi tersebut pada phase <strong><em>Development</em></strong> atau pengembangan, dan pada phase <strong><em>antagonism</em></strong> karena mengalami penolakan secara terbuka oleh masyarakat lokal sehingga pemerintah mungkin harus lebih keras melakukan negosiasi agar <strong><em>alternative tourism</em></strong> dapat diterima oleh masyarakat lokal dan tujuan konservasi alam dapat dilaksanakan tanpa harus mengabaikan jeritan masyarakat lokal yang hidup di sekitarnya.</p>
<p>Analisis SWOT digunakan untuk menguraikan kekuatan dan kelemahan masing-masing destinasi, dan ketiga destinasi tersebut memiliki kekuatan berupa alam dan sumberdaya yang tersimpan didalamnya, sementara kelemahannya hampir merata terjadi pada kelemahan sumberdaya manusia khususnya SDM local. Sedangkan tantangan dan ancaman terbesar terjadi justru pengembangan pariwisata berbasis alam itu sendiri dapat menghancurkan dirinya sendiri jika tidak dikelola sesuai carrying capacity.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pusaka</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>A Door is Reopened to the Ivory Trade. (2011) U.S. News and World Report. 122: June 30, 1997 p4.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alder, Joseph. (2011) &#8220;Should Heads Keep Rolling in Africa?.&#8221; Science 255/6 March, p1206-1207.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Butler, R. W. 1980. &#8220;The Concept of a Tourism Area Life Cycle of Evolution:  Implications  for Management of Resources.&#8221; The Canadian Geographer 24(1), p. 8.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>MSSRF 1998.  Gulf of Mannar Marine Biosphere Reserve Programme. In: &#8220;Biodiversity of Gulf of Mannar Marine Biosphere Reserve.&#8221; pp. 1- 22. MSSRF Proceeding no. 24.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>MSSRF 1999.  Gulf of Mannar: Project for promotion of  alternative livelihood options for the poor in `the vicinity of the biosphere reserve. Project document submitted to Ministry of Rural Development,  Govt. of India and UNDP.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Panoramic photo of elephants is courtesy of Paul MacKenzie&#8217;s webcite: Elephant Information Repository</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Photo of ivory tusks is copyright of World Wide Fund for Nature published in &#8220;Conserving Africa&#8217;s Elephants: Current Issues and Priorities for Action&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sapta Nirwandar (2011) Pembangunan Sektor Pariwisata: Di Era Otonomi Daerah, di unduh pada 21 Maret 2011 pada <a href="http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1">http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Still in Business: The Ivory Trade in Asia, Seven Years After the CITES Ban (2011) http://www.trafic.org/publications/summaries/summary_ivorytrade.htm</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sugal, Cheri, &#8220;Elephants of southern Africa must now pay their way.&#8221; (2011) WorldWatch. Vol. 10, (September 1997) pp. 9.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tourism Vision 2020 – UNWTO: <strong>pada </strong>http://pandeputusetiawan.wordpress.com<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>United Nation-World Tourism Organization (2005),<strong> </strong>Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1"><em><strong>[1]</strong></em></a><em> Magnitude of the problem</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Predominantly Poor people living in rural or in forested areas</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Nomadic Farm</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <em>illegal logging</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <em>IUOTO (International Union of Official Travel Organization)</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6"><em><strong>[6]</strong></em></a><em>Tourism Highlight 2005</em><em>, UN-WTO, Madrid</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a><strong><em>Tourism Vision 2020 – UNWTO</em></strong><strong><em>.</em></strong><strong> </strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <strong><em>Poverty Alleviation</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> <strong><em>Sustainable Development</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> <strong><em>Culture Preservation</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> <strong><em>Sustainable Development</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> <strong><em>Un-renewable resources</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> <strong><em>Tourist Area Life Cycle</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> <strong><em>Irritation Index</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> <strong><em>Tourist Area Life Cycle (TLC)</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17"><em><strong>[17]</strong></em></a><em> </em><em>Butler, R. W. 1980. &#8220;The Concept of a Tourism Area Life Cycle of Evolution:  Implications for Management of Resources.&#8221; </em><em>The Canadian Geographer </em><em>24(1), p. 8. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> <em>Multinational company: Hotel Chain, Franchising, Tour agency, etc</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a> repeater guest adalah mereka  yang tergolong wisatawan yang loyal dengan berbagai alasan</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a> <strong><em>Index of Irritation: Euphoria, Apathy, annoyance, dan antagonism</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a> <strong><em>SWOT: Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats</em></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a> Wildlife management in Zimbabwe pada http://povertyenvironment.net/files/CASE%20Zimbabwe.pdf</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref23">[23]</a> TED Case Studies CAMPFIRE pada http://www1.american.edu/ted/campfire.htm</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref24">[24]</a> Safari Handbook from http://www.safaripics.co.uk/safaris/Kenyan-safaris-handbook.pdf</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref25">[25]</a> KWS is Kenya Wildlife Service dibentuk pada tahun 1990 untuk melindungi satwa liar, flora dan geologi negeri Kenya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref26">[26]</a> TED Case Studies CAMPFIRE pada http://www1.american.edu/ted/campfire.htm</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/272/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=272&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/pengembangan-eco-tourism-untuk-konservasi-sumber-daya-alamiah-di-negara-sedang-berkembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GLOBAL TOURISM: TREND, PERILAKU WISATAWAN USIA LANJUT DALAM MEMILIH AKTIVITAS WISATA</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/global-tourism-trend-perilaku-wisatawan-usia-lanjut-dalam-memilih-aktivitas-wisata/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/global-tourism-trend-perilaku-wisatawan-usia-lanjut-dalam-memilih-aktivitas-wisata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 07:40:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leisure]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[GLOBAL TOURISM: TREND, PERILAKU WISATAWAN USIA LANJUT DALAM MEMILIH AKTIVITAS WISATA Oleh I Gusti Bagus Rai Utama Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana Abstrak Saat ini, dengan adanya perbaikan pendidikan, kesehatan, dan perbaikan pendapatan telah mendorong perubahan untuk lebih menyukai kegiatan bersenang-senang atau berwisata dibandingkan generasi sebelumnya. Fenomena pesatnya pertumbuhan penduduk usia lanjut telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=268&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><em>GLOBAL TOURISM</em>: TREND, PERILAKU WISATAWAN USIA LANJUT DALAM MEMILIH AKTIVITAS WISATA</p>
<p align="center">Oleh</p>
<p align="center"><strong>I Gusti Bagus Rai Utama</strong></p>
<p align="center">Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p>
<p>Saat ini, dengan adanya perbaikan pendidikan, kesehatan, dan perbaikan pendapatan telah mendorong perubahan untuk lebih menyukai kegiatan bersenang-senang atau berwisata dibandingkan generasi sebelumnya. Fenomena pesatnya pertumbuhan penduduk usia lanjut telah dirasakan pada beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, bahkan merambah di kawasan Asia yakni di Jepang, Taiwan, dan Korea. Beberapa kaum usia lanjut tersebut bahkan berharap jika mereka pension, mereka akan melakukan perjalanan wisata ke luar negeri dalam kurun waktu yang cukup panjang.  Untuk dapat menangkap peluang pertumbuhan segmen pasar usia lanjut ini, diperlukan kreasi dan inovasi dalam mengelola bisnis dan kemasan produk yang sesuai dengan preferensi wisatawan usia lanjut, pengelolaan destinasi yang diarahkan ramah terhadap golongan usia lanjut dengan menyediakan infrastruktur dan fasilitas yang dapat dinikmati oleh wisatawan usia lanjut. Untuk melakukan kreasi dan inovasi yang tepat, maka sudah dianggap penting untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan perilaku wisatawan usia lanjut dalam memilih aktivitas wisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keyword: usia lanjut, wisata, preferensi, wisatawan, perilaku, aktivitas</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>1.     </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p>Paket wisata usia lanjut mempunyai pasar cukup besar, hal itu terlihat dari 219,7 juta wisatawan nusantara (wisnus), yang mengadakan perjalanan sekitar 7%. Dilihat dari segi usia wisatawan yang beragam, pasar orang tua  atau senior market merupakan kelompok penting karena besarnya pasar dan potensialnya  untuk  berkembang.  Dengan  kemajuan  teknologi,  sistem kesehatan  dan  semakin  panjang  jangka  waktu  hidup  seseorang  secara langsung meningkatkan jumlah penduduk lanjut usia. Pada fase ini orang tua telah ditinggalkan oleh anak-anaknya untuk hidup mandiri. Kelompok usia ini dikenal dengan istilah DINK (<strong><em>Double Income No Kids</em></strong>). Waktu luang yang dimiliki sangat besar sehingga memungkinkan mereka untuk tinggal di suatu destinasi lebih lama.</p>
<p>Pada umumnya dengan sistem pensiun yang   baik  mereka   mapan   secara  finansial.   Untuk   mengantisipasi kecenderungan pasar di masa depan yaitu semakin banyaknya konsumen wisatawan  usia lanjut  yang  berlibur  di  Bali  maka  Pemerintah  Republik Indonesia sebenarnya telah menetapkan  suatu  kebijakan    bagi  wisatawan  lanjut  usia  yaitu  dengan mengijinkan wisatawan usia lanjut untuk tinggal lebih lama di Indonesia. Kelompok wisatawan ini dijinkan untuk tinggal di Indonesia selama  satu tahun. Kebijakan tersebut telah dituangkan dalam SK Menteri Kehakiman No.M-04-12.01.02/1998.   Surat   keputusan   ini   dibuat   berdasarkan Keputusan Presiden /Keppres No. 31/1998. SK Menteri Kehakiman di atas kemudian ditindaklanjuti dengan keluarnya Ketetapan Dirjen Imigrasi No. F.256-12.02/2000. Ketetapan ini menyatakan bahwa wisatawan usia lanjut dapat diberikan <strong><em>Temporary Visa</em></strong> sebagai penduduk sementara selama  satu tahun dan dapat diperpanjang sampai lima tahun. Artinya saat ini, pemerintah telah memberikan beberapa kemudahan bagi wisatawam usia lanjut untuk berwisata di Indonesia termasuk juga ke Bali sehingga dengan kemudahan ini, beberapa tahun ke depan kedatangan wisatawan usia lanjut dari mancanegara dan wisatawan domestik untuk melakukan perjalanan wisata akan meningkat. Seiring dengan pemberian kemudahan dan potensi kedatangan wisatawan usia lanjut tersebut, perlu dilakukan kajian untuk menggali lebih dalam tentang perilaku wisatawan usia lanjut khususnya yang berhubungan perilaku mereka yang akan berimplikasi pada aktivitas wisata.</p>
<h2>2.      Metode Penelitian</h2>
<p>Penelitian ini menggunakan metode <strong><em>desk research</em></strong> dengan teknik penelusuran data dan informasi secara online, sumber data sekunder, dan sumber publikasi ilmiah lainnya. Sementara teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif, analogi, dan komparasi beberapa hasil penelitian dan publikasi ilmiah lainnya yang terkait dengan permasalahan wisatawan usia lanjut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3.      </strong><strong>Hasil Penelitian dan Pembahasan</strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>3.1.</strong><strong>Wisatawan Usia Lanjut</strong></p>
<p>Menurut Foret dan Keller, (1992:2 dalam Patterson, 2006), harapan hidup manusia saat ini semakin panjang tercatat sejak abad 20 khususnya masyarakat pada negara-negara maju, sebagai contohnya harapan hidup di Inggris meningkat  22 tahun untuk laki-laki dan 23,5 tahun untuk perempuan bagi mereka yang lahir antara tahun 1910 sampai dengan 1992. Harapan hidup juga meningkat di beberapa negara lainnya seperti di Jepang harapan hidup manusia menjadi 79,5 tahun, di Swedia harapan hidupnya 78,1 tahun, di negara-negara Eropa harapan hidup menjadi 76,7 tahun, dan di Amerika Utara harapan hidup menjadi 76,2 tahun (Smith dan Jenner, 1997:47)</p>
<p>Badan dunia PBB mencatat dan memperkirakan bahwa generasi usia lanjut mengalami peningkatan yang berarti dan diperkirakan ada dua milyar manusia di dunia ini akan berumur 60 atau lebih pada tahun 2050. Angka tersebut adalah 22% dari total penduduk dunia, dan angka ini  diperkuat oleh catatan kependuduka Eropa, Jepang dan Cina (United Nations, 2000). Sementara MacNeil (1991) mengatakan bahwa angka tersebut adalah kejutan bagi orang-orang Amerika yang lahir antara tahun 1946 sampai dengan 1964. Bagi orang Australia diperkirakan akan terjadi peningkatan usia lanjut yang lebih besar yakni antara 24% hingga 26% orang Australia yang berada golongan usia lanjut pada tahun 2051 (BPS Australia, 1999)</p>
<p>Pada tahun 1999 telah dideklarasikan sebagai tahun usia lanjut internasional, dan deklarasi ini didukung oleh badan dunia PBB dengan mengadakan konferensi tentang isu dan masalah yang mungkin akan dihadapi oleh para manusia usia lanjut, isu dan permasalahan tersebut berhubungan dengan, pengasingan golongan usia lanjut, kesehatan, pelayanan gizi dan nutrisi, kurangnya perhatian anggota keluarga lainnya terhadap golongan usia lanjut ini (Foret and Keller, 1993). Sementara (Veal and Lynch, 2001) mengatakan bahwa, terjadinya peningkatan angka harapan hidup manusia lebih disebabkan oleh faktor semakin membaiknya sarana kesehatan dan kedokteran, perbaikan kesehatan diri dan lingkungan.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan oleh (Ing, 1993) menemukan bahwa pilihan berwisata bagi golongan usia lanjut, dimana faktor usia ini dihubungkan dengan pemilihan paket wisata dan pada penelitian ini ditemukan bahwa wisatawan usia lanjut lebih menyukai tujuan wisata ke daerah pedesaan atau <em>countryside</em>, dan dikatakan bahwa industri pariwisata jangan sampai mengabaikan potensi wisatawan usia lanjut ini di masa yang akan datang karena dari tahun ke tahun jumlah penduduk usia lanjut semakin meningkat yang berarti akan terjadi peningkatan pada segmen pasar ini di masa yang akan datang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.2.</strong><strong> Pemilihan Aktivitas Leisure Wisatawan Usia Lanjut</strong></p>
<p>Hasil penelitian menemukan bahwa penduduk usia lanjut lebih banyak memiliki waktu luang untuk melakukan aktivitas leisure di sekitar rumahnya dan mereka biasanya melakukan aktivitas yang berhubungan dengan passive leisure (Lawton, 1993). Aktivitas leisure yang sering dilakukan adalah menonton televisi dan mendengarkan radio dan aktivitas ini paling popular diantara penduduk golongan usia lanjut. Sementara aktivitas yang berhubungan dengan olahraga program latihan jasmani lebih jarang dilakukan (Amstrong dan Morgan, 1998).  Sementara hasil penelitian lainnya menemukan bahwa telah terjadi perubahan pilihan aktivitas leisure pada golongan usia lanjut dimana mereka lebih cenderung menghabiskan waktu untuk kegiatan leisure yang bersifat individu, ingin merasakan kebebasan, dan bahkan memilih kegiatan yang beresiko sepanjang mereka dapat lakukan (MacNeil dan Teague, 1987; Leitner<br />
dan Leitner, 1996;  McGuire et al., 2004)</p>
<p>Cohen (2000) memberikan alternative agar pelaku pariwisata lebih kreatif membuat paket-paket wisata yang berhubungan dengan usia lanjut, dan menyarankan untuk lebih melihat factor inner dari manusia usia lanjut khususnya kegiatan yang bersifat pengisi waktu luang. Dicontohkan kegiatan-kegiatan leisure yang bisa ditawarkan adalah kegiatan yang berhubungan dengan hobby, seni dan kerajinan, pertemanan “<em>relationship</em>”, penggalian potensi diri, dan kegiatan sosial yang bersifat volunteer.</p>
<p>Stebbins (1982, 1992, 1998) mencatat bahwa beberapa wisatawan usia lanjut lebih puas melakukan kegiatan yang berhubungan dengan hobby, pekerjaan volunteer, melakukan kegiatan untuk menyibukkan diri, dan mencari teman-teman baru diantara sesama usia lanjut. Sementara Kelly (1992) mengatakan bahwa, golongan  usia lanjut melakukan aktivitas yang dipusatkan pada keluarga dan biasanya mengambil tempat di sekitar rumah mereka. Kegiatan tersebut termasuk kegiatan shopping, berkebun, berjalan santai, menonton televise, melakukan sosialisasi bersama teman-teman dan keluarga mereka, dan membaca (Kelly and Kelly, 1994). Wei dan Milman (2002), aktivitas paling popular yang dilakukan oleh wisatawan usia lanjut pada saat mereka melakukan perjalanan wisata dan berkeliling kota (89,3%), mengunjungi tempat-tempat bersejarah (88,1%), makan-makan di restoran (85,7%), dan shopping (77,4%). Sementara kegiatan yang kurang diminati adalah berburu dan memancing (1,2%), olahraga air dan berjemur di pantai (1,2%), kamping dan mendaki (3,6%). Lebih lanjut ditemukan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara keterlibatan wisatawan usia lanjut pilihan jenis aktivitas leisure.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tabel 1. Jenis Aktivitas Leisue di Kalangan Usia Lanjut</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="194"><strong><em>Passive</em></strong></td>
<td valign="top" width="194"><strong><em>Active</em></strong></td>
<td valign="top" width="194"><strong><em>Un-interested Activities</em></strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="194">
<ul>
<li>Nonton Televisi</li>
<li>Mendengar Radio</li>
<li>Kegiatan Sosial</li>
<li>Kegiatan yang berhubungan dengan Hobby</li>
<li>Penyaluran bakat yang berhubungan dengan kerajinan</li>
<li>Penyaluran bakat yang berhubungan dengan seni.</li>
<li>Shopping, berbelanja di mall, atau supermarket.</li>
<li>City Tour, berkeliling kota.</li>
<li>Mengunjungi tempat bersejarah, meseum, heritage</li>
<li>Makan-makan di Restoran</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="194">&nbsp;</td>
<td valign="top" width="194">
<ul>
<li>Berburu di alam liar</li>
<li>Memancing</li>
<li>Mendaki gunung</li>
<li>Kamping</li>
<li>Tracking</li>
<li>Berselancar air</li>
<li>Berjemur di Pantai</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: Data Sekunder (diolah)</p>
<p>Berdasarkan paparan hasil penelitian di atas, menurut Milman (2002) pemasaran paket wisata yang berhubungan dengan wisatawan usia lanjut sebaiknya jenis dan kegiatan leisure atau wisata bisa difokuskan pada kegiatan yang lebih disukai oleh golongan usia lanjut di atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3.3.Teori Terkait</p>
<p>Pada bagian ini akan dijelaskan beberapa teori yang mendukung dan mendapat perhatian dalam penelitian ini. Teori-teori ini dikumpulkan dari bermacam-macam sumber, dan disusun menjadi sebuah bangunan teori yang akan menjadi tumpuan analisis dalam penelitian ini.</p>
<h3>3.3.1.      Definisi Leisure</h3>
<p><a title="" href="#_ftn1">[1]</a>Menurut Cross (1990), leisure dipelajari pertama kali di Amerika Utara pada pertengahan abad 19, sebagai usaha untuk melakukan usaha rasionalisasi rekreasi yang ditujukan meningkatkan kualitas hidup bagi kaum pekerja pendatang.  Program rekreasi pada awalnya di pelopori oleh orang-orang pemeluk Kristen, kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas sosail seperti rekeasi outdoor dan kamping, olahraga massal, dan mengajak anak-anak bermain. Kegiatan-kegiatan rekreasi sering dilakukan di taman kota dan pada lapangan terbuka, dan juga sering di lakukan pada fasilitas olahraga dan tempat rekreasi yang telah tersedia yang biasanya dilakukan pada waktu-waktu luang. Kegiatan lainnya yang sering dilakukan seperti permainan anak-anak muda untuk penyaluran keinginannya, minum-minum, dan juga judi. Leisure juga berhubungan kebebasan diri, kreativitas dan kebebasan diri yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan dan merupakan hal penting dalam kehidupan bermasyarakat.</p>
<p>Pengertian lain tentang leisure menurut Jackson dan Burton (1999) adalah sebagai berikut: (1)<strong><em>Free time</em></strong>: leisure adalah waktu yang terbebas, terbebas dari beban kerja, terbebas dari kewajiban, dan terbebas dari segala kegiatan yang tidak menyenangkan. (2)<strong><em>Unobligatory</em></strong>: Leisure juga dikaitkan bahwa aktivitas yang dilakukan bukan karma keharusan yang harus dikerjakan. Jika dikerjakan akan mendapatkan kesenangan dan jika tidak dikerjakan juga tidak apa-apa. (3)<strong><em>Celebration</em></strong>: Leisure bukanlah sebuah perayaan, atau kegiatan yang dipenuhi ketegangan, tidak ada liturgi yang mengaturnya, tidak ada MC yang memandunya atau sejenis kegiatan protokoler lainnya. (4)<strong><em>No monetary gain</em></strong>: leisure juga kegiatan yang tidak berhubungan dengan mencari namkah atau bekerja untuk mendapat uang atau imbalan jasa. (5)<strong><em>Ideal state of mind</em></strong>: Leisure adalah pencarian sebuah ketenangan pikiran dan kedamaian. (6)<strong><em>Activity</em></strong>: Leisure juga merupakan sebuah aktivitas atau sebuah kegiatan baik fisik ataupun mental. (7)<strong><em>Experience</em></strong>: Leisure juga merupakan sebuah aktivitas untuk pencarian atau ekspedisi tempat-tempat yang menyenangkan. (8)<strong><em>Perceived freedom</em></strong>: leisure adalah sebuah kebebasan. (9)<strong><em>Enjoyable</em></strong>: Leisure adalah segala kegiatan untuk pemenuhan kesenangan. (10)<strong><em>Timeless</em></strong>: Leisure adalah waktu yang tersisa, waktu luang diluar jam kerja, tidak ada istilah terlambat atau terlalu awal seperti pada orang-orang yang sedang masuk kerja.</p>
<p>Sementara aktivitas leisure dapat dilakukan dalam bentuk (1)<strong><em>Active leisure</em></strong>: adalah aktivitas yang memerlukan energi fisik atau energi mental. Jalan santai dan yoga adalah sebuah dari aktivitas aktif leisure yang memerlukan sedikit eneergi. Sedangkan aktif leisure yang memerlukan banyak energi seperti misalnya sepakbola, kick-boxing. Kadang-kadang aktif leisure juga sering dikaitkan dengan kegiatan rekreasi; indoor maupun outdoor. (2)<strong><em>Passive Leisure</em></strong> adalah aktivitas yang tidak memerlukan energi fisik atau energi mental yang berarti seperti menonton film di sebuah bioskop, menonton televise, main game computer adalah sebuah contoh dari passive leisure (Jackson dan Burton, 1999)</p>
<h3>3.3.2.      Definisi Pariwisata</h3>
<p>Pengertian pariwisata menurut (bukart dan medlik, 1990; Soekadijo 1997) menyatakan bahwa: pariwisata adalah perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan–tujuan di luar tempat dimana mereka biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan–kegiatan mereka selama tinggal di tempat–tempat tujuan itu.</p>
<p>Menurut Wahab (1995, dalam Pitana, 2005), pariwisata didifinisikan sebagai aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar, yang mendapat pelayanan secara bergantian diantara orang–orang dalam suatu negara itu sendiri, meliputi tempat tinggal orang–orang dari daerah lain untuk sementara mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialami dimana ia memperoleh pekerjaan tetap.</p>
<p>Menurut Suwantoro (1997), memberikan pengertian pariwisata sebagai  suatu proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar tempat tinggalnya. Dorongan kepergiannya adalah karena berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain seperti seperti sekedar ingin tahu, menambah pengalaman atau pun untuk belajar.</p>
<p>Menurut Freuler dalam (Pendit, 1994), merumuskan pariwisata ini sebagai berikut: pariwisata dalam arti modern adalah merupakan gejala jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar terhadap keindahan alam, kesenangan dan kenikmatan alam semesta, dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas dalam masyarakat manusia sebagai hasil perkembangan perniagaan, industri dan perdagangan serta penyempurnaan alat–alat pengangkutan.</p>
<p>Dari beberapa pendapat di atas, maka pariwisata dapat katakan suatu kegiatan atau aktivitas untuk sementara waktu dalam rangka menambah wawasan bidang sosial kemasyarakatan, sistem perilaku dari manusia itu sendiri dengan berbagai dorongan kepentingan sesuai dengan budaya yang berbeda–beda yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha yang terkait di bidang tersebut.</p>
<h3>3.3.3.      Definisi Wisatawan</h3>
<p>Wisatawan adalah orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungannya itu. (Spillane, 1993). Sedangkan UU RI Nomor 9 tahun 1990 dalam Yoeti (1997), mendifinisikan wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata. Pada kontek penelitian ini, bukan definisi yang harus diperdebatkan tetapi ingin dicari apa hubungannya dengan konsep penelitian yang akan dilakukan.</p>
<p>Aspek sosiologis wisatawan justru akan menjadi bahasan yang penting karena pada penelitian ini akan meneliti persepsi wisatawan terhadap suatu objek wisata dalam konteks sosiologis wisatawan perubahan persepsi serta motivasi wisatawan dalam melakukakan perjalanan wisata terus menerus mengalami perubahan.</p>
<p>Menurut Plog, 1972 dalam Pitana (2005), menjelaskan konsep sosiologi tentang wisatawan menjadi sangat penting, kemudian Plog mengelompokkan tipologi wisatawan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><em>Allocentris, </em>yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum diketahui, bersifat petualangan, dan mau memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat local.</li>
<li><em>Psycocentris, </em>yaitu wisatawan yang hanya ingin mengunjungi daerah tujuan wisata sudah mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan di negaranya.</li>
<li><em>Mid-Centris,</em> yaitu terletak diantara tipologi <em>Allocentris </em>dan <em>Psycocentris</em></li>
</ol>
<p>Menurut Pitana (2005), tipologi wisatawan perlu diketahui untuk tujuan perencanaan, termasuk dalam pengembangan kepariwisataan, tipologi yang lebih sesuai adalah tipologi berdasarkan atas kebutuhan riil wisatawan sehingga pengelola dalam melakukan pengembangan objek wisata sesuai dengan segmentasi wisatawan. Pada umumnya kelompok wisatawan yang datang ke Indonesia terdiri dari kelompok wisatawan psikosentris (<em>Psycocentris)</em>. Kelompok ini sangat peka pada keadaan yang dipandang tidak aman dan sangsi akan keselamatan dirinya, sehingga wisatawan tersebut enggan datang atau membatalkan kunjungannya yang sudah dijadualkan (Darsoprayitno, 2001)</p>
<h3>3.3.4.      Definisi Wisatawan Usia Lanjut</h3>
<p>Definisi tentang usia lanjut memang masih menjadi perdebatan dari beberapa kalangan di masyarakan, khususnya yang berhubungan dengan umur seseorang yang disebut usia lanjut namun pada penelitian ini, akan diambil dua definisi usia lanjut yakni senior older adults.</p>
<p><a title="" href="#_ftn2">[2]</a>Menurut <em>Muller and O’Cass, </em><em>2001, </em><em>Shoemaker, (1989</em><em>)</em>, yang tergolong golongan senior adalah mereka yang telah mencapai umur 65 tahun atau lebih. Lebih lanjut dikatakan bahwa kelompok umur ini adalah target pasar pariwisata yang penting sejak awal tahun 1990. Kelompok ini dianggap memiliki segalanya, mereka memiliki umur yang matang, uang, dan kematangan diri, bahkan banyak diantara kaum senior ini merasakan  diri lebih muda daripada umur mereka.</p>
<p>Dalam konsep pemasaran, kelompok kaum senior adalah target penting sehingga dianggap perlu untuk melakukan penelitian lebih mendalam tentang sikap diri kaum senior, interest dan jenis aktivitas, kecenderungan mereka dalam berpartisipasi dalam kegiatan leisure, rekreasi, dan wisata. Pada beberapa hasil penelitian, kaum senior ini masih memiliki kemampuan fisik untuk melakukan perjalanan wisata dan berpartisipasi pada kegiatan yang ditawarkan oleh para pelaku pariwisata.</p>
<p><a title="" href="#_ftn3">[3]</a>Definisi tentang <strong><em>older adults</em></strong> atau dalam istilah Indonesia sering disebut usia lanjut (usila) adalah istilah yang cukup baru. Orang-orang yang tergolong pada <strong><em>older adults</em></strong> atau usila ini berumur 65 tahun atau lebih dan istilah ini popular di negara-negara maju yang biasanya diarahkan untuk merujuk para pensiunan. Menurut Gillon, (2004) golongan usia lebih popular dengan istilah <strong><em>baby boomers</em></strong>, sementara (Shoe-maker , 1989 dan Lazar, 1985) menyebut bahwa  golongan usia ini disebut juga <em>the senior market, young sengies, atau mature market, the grey market, young senior generation dan woopies atau well-off older people.</em></p>
<h3>3.3.5.      Faktor-faktor Pendorong dan Penarik Berwisata</h3>
<p>Faktor-faktor  pendorong dan penarik untuk melakukan aktivitas leisure atau berwisata sangatlah penting untuk diketahui oleh siapapun yang berkecimpung dalam industri pariwisata (Pitana, 2005)</p>
<p>Dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin melakukan perjalanan wisata, tetapi belum jelas mana daerah yang akan dituju. Berbagai faktor pendorong seseorang melakukan perjalanan wisata menurut Ryan, (1991) dalam Pitana (2005), menjelaskan sebagai berikut:</p>
<p>1)      <em>Escape: </em>aktivitas escape disebabkan keinginan melepaskan diri dari lingkungan yang dirasakan menjemukan, atau kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari.</p>
<p>2)      <em>Relaxtion: </em>keinginan untuk melakukan penyegaran, yang juga berhubungan dengan motivasi untuk <em>escape </em>di atas.</p>
<p>3)      <em>Play: </em>keinginan menikmati kegembiraan, melalui berbagai permainan, yang merupakan kemunculan kembali sifat kekanak-kanakan, dan melepaskan diri sejenak dari berbagai urusan yang serius.</p>
<p>4)      <em>Strengthening family bond: </em>keinginan untuk mempererat hubungan kekerabatan, khususnya dalam konteks (<em>visiting, friends and relatives)</em>. Biasanya wisata ini dilakukan bersama-sama <em>(Group tour)</em></p>
<p>5)      <em>Prestige: </em>keinginan menunjukkan gengsi, dengan mengunjungi destinasi yang menunjukkan kelas dan gaya hidup, yang juga merupakan dorongan untuk meningkatkan status atau <em>Social Standing.</em></p>
<p>6)      <em>Social interaction: </em>keinginan untuk melakukan interaksi sosial dengan teman sejawat, atau dengan masyarakat lokal yang dikunjungi.</p>
<p>7)      <em>Romance: </em>keinginan untuk bertemu dengan orang-orang yang bisa memberikan suasana romantis atau untuk memenuhi kebutuhan seksual.</p>
<p>8)      <em>Educational opportunity: </em>keinginan untuk melihat suatu yang baru, memperlajari orang lain dan/atau daerah lain atau mengetahui kebudayaan etnis lain. Ini merupakan pendorong dominan dalam pariwisata.</p>
<p>9)      <em>Self-fulfilment: </em>keinginan untuk menemukan diri sendiri, karena diri sendiri biasanya bisa ditemukan pada saat kita menemukan daerah atau orang yang baru.</p>
<p>10)  <em>Wish-fulfilment: </em>keinginan untuk merealisasikan mimpi-mimpi, yang lama dicita-citakan, sampai mengorbankan diri dalam bentuk penghematan, agar bisa melakukan perjalanan. Hal ini juga sangat jelas dalam perjalanan wisata religius, sebagai bagian dari keinginan atau dorongan yang kuat dari dalam diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>3.3.6.      Motivasi Berwisata</h3>
<p>Menurut (Sharpley, 1994 dan Wahab, 1975; Pitana, 2005) menekankan bahwa: Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan  pariwisata, karena motivasi merupakan “<em>Trigger”</em> dari proses perjalanan wisata, walau motivasi ini acapkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri.</p>
<p>Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal, motivasi-motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar sebagai berikut: (1) <em>Physical or physiological motivation</em> yaitu motivasi yang bersifat fisik atau fisologis, antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai dan sebagainya. (2) <em>Cultural Motivation </em>yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan akan berbagai objek tinggalan budaya. (3) <em>Social or interpersonal motivation </em>yaitu motivasi yang bersifat sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi (<em>Prestice)</em>, melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang membosankan dan seterusnya. (4) <em>Fantasy Motivation </em>yaitu adanya motivasi bahwa di daerah lain sesorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan dan yang memberikan kepuasan psikologis (McIntosh, 1977 dan Murphy, 1985; Pitana, 2005).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.4.</strong><strong> Faktor Penghambat Usia Lanjut untuk Melakukan Wisata</strong></p>
<p>Menurut penelitian yang dilakukan oleh (McGuire, 1984; Blazey, 1986) menyimpulkan ada beberapa factor yang dapat menghambat kaum usia lanjut tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan wisata dan kegiatan leisure.  Factor penghalang tersebut adalah tidak ada waktu luang untuk melakukan perjalanan wisata, sumber keuangan yang tidak mencukupi, buruknya kondisi kesehatan kaum usia lanjut, terlalu tua bahkan ada yang sangat tergantung hidupnya dari anggota keluarga lainnya, dan disimpulkan bahwa keinginan berwisata kaum usia lanjut lebih rendah dari kaum muda.</p>
<p><a title="" href="#_ftn4">[4]</a>Sementara McGuire (1984) mengidentifikasikan lima hal mendasar yang menyebabkan kaum usia lanjut tidak dapat melakukan kegiatan wisata lebih jarang disbanding kaum yang lebih muda. Alasannya adalah (1)kurangnya informasi, terlalu banyak rencana, kurangnya dana, kurangnya pakaian dan perlengkapan wisata; (2)factor waktu, tidak ada waktu luang, masih bekerja, terlalu sibuk mengerjakan banyak hal, (3) tidak mendapat ijin keluarga dan teman-teman dekat, takut membuat kesalahan pada destinasi; (4)factor social, tidak ada yang menemani, tidak suka keluar daerah; (5)factor fisik, kondisi badan lemah, sakit-sakitan, kuatir tentang transportasi, terlalu tua atau tidak mampu lagi bepergian jauh.</p>
<p>Sedangkan Shoemaker (2000) melakukan penelitian tentang factor penghambat kaum usia lanjut untuk melakukan wisata, dia menggunakan 234 responden yang berumur antara 55 tahun atau lebih yang tinggal di  Pennsylvania, USA , hasil penelitian tersebut ditampilkan pada Table 2,  ternyata factor penghambat terbesar karena alasan keuangan (48,3%), alasan kesehatan (43,3%), dan alasan tidak ada yang menemani (41,7%). Hasil penelitian ini tentu saja akan banyak berubah jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, dimana kondisi di atas adalah kondisi 10 tahun yang lalu dan yang menjadi responden tentu saja generasi usia lanjut yang terlahir 65 tahun yang lalu, di mana kondisi kesehatan pada era tersebut tidak lebih maju jika dibandingkan kondisi saat ini, walaupun demikian, factor-faktor penghambat tersebut sangat penting untuk diketahui khususnya bagi para pemasar produk wisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tabel 2. Faktor Penghambat untuk Melakukan Aktivitas Leisure atau Wisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<table width="457" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="211">Penghambat</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">Traveller (%)</p>
<p align="center">(Berwisata)</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">Non-Traveller (%)</p>
<p align="center">(Tidak Berwisata)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Tidak ada waktu</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">11</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Sulitnya Pemesanan/reservasi</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">2,3</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">2,7</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Umur/terlalu tua</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">5,1</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">20</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Jaga Rumah</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">6,1</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">28,6</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Lemah Fisik</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">7,9</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">37,9</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Tidak ada yang menemani</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">17,2</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">41,7</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Kesehatan</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">14,9</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">43,3</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Kurangnya Informasi tentang tujuan liburan</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">11,6</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">7,4</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Cari Waktu tepat</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">27,2</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">18,5</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Masih bekerja</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">32,3</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">28,6</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="211">
<ul>
<li>Keuangan</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="108">
<p align="center">32,7</p>
</td>
<td valign="top" width="138">
<p align="center">48,3</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Sumber: </strong>Shoemaker, ( 2000: 18)<strong></strong></p>
<p>Masalah keamanan juga menjadi faktor penghambat yang cukup berarti bagi kaum usia lanjut. Sehingga para pemasar paket wisata harus memperhatikan dan menambahkan adanya jaminan keamanan yang lebih pasti bagi wisatawan usia lanjut dalam melakukan perjalanan wisata (Penalta and Uysal, 1992).</p>
<p><strong>3.5.</strong><strong> Trend Wisatawan Usia Lanjut Internasional</strong></p>
<p>Pertumbuhan wisatawan usia lanjut pada segmen pasar pariwisata dari tahun ke tahun senantiasi mengalami peningkatan yang signifikan pada abad 21 ini. WTO (2001) memperkirakan pada tahun 2015 peningkatan wisatawan usia lanjut secara international akan mencapai 2 milyar orang. Pertumbuhan wisatawan usia lanjut secara nyata berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia karena di ketiga Negara tersebut mengalami peningkatan kelompok ‘baby boomer’ atau para pensiunan.</p>
<p><em>“The USA senior market is regarded as the fastest-growing segment of  travel demand. People who are older than 55 represent 41% of the total population and account for 28% of all overseas trips. Canadians have a higher propensity to travel than Americans and spend twice as much per  capita on foreign travel. It has been estimated that 25% of Canadian visitors are older than 55 years, of which 800,000 travelled overseas in 2000. In Japan, 12 million people are older than 65, and it has been estimated that 7.6% of Japanese who travelled overseas in 1990 were older than 60 years” (Clench, 1993). </em></p>
<p><a title="" href="#_ftn5">[5]</a>Di Amerika Serikat, pertumbuhan wisatawan usia lanjut mengalami perningkatan tertinggi dimana umur 55 tahun mencapai 41% dari total penduduk Amerika Serikat, dari 41% tersebut, 28% mereka berwisata ke luar negeri. Orang-orang Kanada lebih suka menghabiskan uangnya untuk dan mereka yang berumur 55 tahun ke atas melakukan perjalanan ke luar negeri sebesar 25% dari total penduduk Kanada pada tahun 2000. Sementara di Jepang, 12 juta orang yang berumur 65 tahun ke atas diperkirakan melakukan perjalanan ke luar negeri sebesar 7,6% pada tahun 1990 <em>(Clench, 1993).</em></p>
<p><a title="" href="#_ftn6">[6]</a>Wisatawan Usia Lanjut di Amerika Serikat: segmen wisatawan usia lanjut yakni mereka yang telah mencapai 65 tahun ke atas di Amerika Serikat adalah segmen wisatawan usia lanjut yang mengalami bertumbuhan tercepat dan diperkirakan akan mencapai 76% dari kaum usia lanjut tersebut melakukan aktivitas wisata paling tidak mereka suka melakukan kegiatan sunbathing dan berenang, menyewa hotel, shopping, hiburan malam, dan bersantai di taman kota.</p>
<p>Wisatawan Usia Lanjut di Kanada: orang-orang usia lanjut di Kanada terbagi menjadi dua group yang berbeda yakni kelompok umur 55-64 tahun, dan usia lanjut yang berumur lebih dari 65 tahun. Kaum usia lanjut Kanada lebih menyukai kegiatan mengunjungi taman nasional atau taman kota, berbelanja dan menginap di hotel, dan hanya sebagaian kecil dari mereka menyukai aktivitas hiburan malam.</p>
<p>Sementara Wisatawan Usia lanjut di Australia pada tahun 2002 diperkirakan mencapai 22% dari total wisatawan domestic di Australia dan diperkirakan membelanjakan uangnya $895 juta dolar pertahun dan mereka biasanya menginap dan berlibur hingga 5,5 hari. Hanya 9% dari wisatawan usia lanjut Australia yang memilih kegiatan mengunjungi taman nasional atau kamping dan menghabiskan liburan hingga 8,5 malam. Ditemukan juga, wisatawan usia lanjut Australia lebih menyukai mengunjungi daerah yang masih alami atau langka yang masih memiliki arti sejarah. Dari sekian kegiatan tersebut, hampir semua mengharapkan rasa aman, mendapatkan mengalaman baru, lingkungan yang baru, melakukan perjalanan bersama keluarga. Secara keseluruhan kaum usia lanjut di Australia menghabiskan 4 juta  dolar jika mereka berwisata ke luar negeri dan rata-rata pengeluaran perhari mencapai $6100 pada setiap liburannya. Angka tersebut lebih tinggi 21% jika dibandingkan kaum muda yang melakukan perjalanan ke luar negeri yang hanya $5024, dan kaum usia lanjut ini berlibur lebih lama yakni 25 hari, sedangkan kaum muda hanya 22 hari.</p>
<p>Wisata Usia Lanjut di Eropa: di Eropa Utara jumlah kaum usia lanjut 65 tahun ke atas mengalami peningkatan 16,2% jika dibandingkan tahun 1960. Untuk Eropa segmen pariwisatanya mengalami penurunan pada setiap tahunnya. Namun untuk wisatawn usia lanjut Jerman dan Inggris merupakan pasar wisatawan domestic dan internasional terbesar, sementara wisatawan usia lanjut di kawasan Skandinavia dan Spanyol memperlihatkan keinginan berwisata yang paling tinggi dibandingkan wisatawan senior lainnya di kawasan Eropa.  Sedangkan di Inggris jumlah penduduk yang berada pada kelompok usia lanjut antara 55 hingga 59 tahun mencapat 31% pada tahun 2005. Dari 31% kaum usia lanjut tersebut, 17,4% hnga 18,1% melakukan perjalanan wisata ke luar negeri. Dan sebagian besar kaum usia lanjut tersebut lebih peduli pada permasalahan keamanan jika melakukan perjalanan wisata. Penduduk Jerman yang akan mencapai usia lanjut 60 tahun keatas pada tahun 2050 diperkirakan mencapai 40% dari total penduduknya, dan mereka lebih mandiri dan lebih suka melakukan perjalanan wisata dengan cara mandiri tanpa harus diatur oleh biro perjalanan.</p>
<p>Penduduk Jepang yang tergolong usia lanjut atau yang berumur 50 tahun keaas pada tahun 2025 diperkirakan mendekati angka 15 juta atau 23% dari total penduduknya.  Kaum usia lanjut Jepang biasanya memiliki income yang lebih mapan dan memiliki waktu luang yang lebih banyak sehingga memungkinkan mereka berlibur lebih lama ke luar negeri jika dibandingkan kaum muda. Kaum Usia lanjut Jepang ingin lebih bebas dalam melakukan perjalanan wisata dan campur tangan biro perjalanan sangat sedikit. Dan yang menjadi prioritas isunya adalah masalah kesehatan dan keamanan, mereka lebih suka melakukan perkunjungan budaya, berbelanja sebagai aktivitas menarik bagi kaum usia lanjut Jepang.</p>
<p><a title="" href="#_ftn7">[7]</a>Saat ini penduduk usia lanjut  60 tahun ke atas Taiwan telah mencapai 12% dan diperkirakan akan naik menjadi 20% pada tahun 2033. Beberapa kaum usia lanjut di Taiwan  lebih suka melakukan perjalanan wisata yang telah dipaket oleh biro perjalanan wisata karena alas an lebih nyaman, lebih aman, dan alasan keterbatasan bahasa Inggris. Di Taiwan pertumbuhan biro perjalanan bertumbuh sangat cepat dan telah mencapai 2464 travel agencies pada tahun 2002, dan telah melayani perjalanan wisata untuk 23 juta orang. Wisatawan usia lanjut Taiwan lebih menyukai perkunjungan  sejarah dan mengunjungi tempat-tempat yang indah, makan-makan di restoran, dan menikmati fasilitas hotel, dan mereka lebih mempertimbangkan factor harga dan keamanan.</p>
<p>Berikut Tabel 3,  rangkuman potensi segmen pasar wisatawan usia lanjut berdasarkan persentase terhadap total penduduk nasional, potensi yang keluar negeri, dan isu serta harapan.</p>
<p>Tabel. 3. Potensi Pasar Usia Lanjut berdasarkan kawasan atau negara berdasarkan prediksi dan proyeksi sampai dengan 2050.</p>
<div align="center">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="148">Negara/kawasan</td>
<td valign="top" width="104">% Kaum Usia Lanjut</td>
<td valign="top" width="92">% yang ke luar negeri</td>
<td valign="top" width="173">Harapan (Isu)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="148">
<ul>
<li>Amerika Serikat</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="104">41%</td>
<td valign="top" width="92">28%</td>
<td valign="top" width="173">
<ul>
<li>Kenyamanan.</li>
<li>Kanada</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="148"></td>
<td valign="top" width="104">*</td>
<td valign="top" width="92">25%</td>
<td valign="top" width="173">
<ul>
<li>Hiburan.</li>
<li>Jepang</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="148"></td>
<td valign="top" width="104">23%</td>
<td valign="top" width="92">7,6%</td>
<td valign="top" width="173">
<ul>
<li>Kesehatan dan keamanan.</li>
<li>Australia</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="148"></td>
<td valign="top" width="104">22%</td>
<td valign="top" width="92">9%</td>
<td valign="top" width="173">
<ul>
<li>Rasa aman dan experiences.</li>
<li>Eropa Utara</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="148"></td>
<td valign="top" width="104">16,2%</td>
<td valign="top" width="92">*</td>
<td valign="top" width="173">
<ul>
<li>Keamanan.</li>
<li>Inggris</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="148"></td>
<td valign="top" width="104">31%</td>
<td valign="top" width="92">17,4%</td>
<td valign="top" width="173">
<ul>
<li>Keamanan.</li>
<li>Jerman</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="148"></td>
<td valign="top" width="104">40%</td>
<td valign="top" width="92">*</td>
<td valign="top" width="173">
<ul>
<li>Keamanan.</li>
<li>Taiwan</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="148"></td>
<td valign="top" width="104">20%</td>
<td valign="top" width="92">*</td>
<td valign="top" width="173">
<ul>
<li>Harga dan keamanan.</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>Sumber: Data sekunder (diolah), * data tidak tersedia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari seluruh data harapan wisatawan usia lanjut di atas, harapan yang paling mendapat prioritas konsumen wisatawan usia lanjut adalah masalah yang berhubungan dengan adanya jaminan keamanan, kemudian kenyamanan, hiburan, kesehatan, harga dan experiences. Informasi tersebut di atas berimplikasi pada kemasan paket wisata yang akan ditawarkan pada segmen wisatawan usia lanjut, dan yang diperkirakan paket-paket atau kemasan wisata yang mampu menjamin rasa aman, kenyaman, jenis hiburan, jaminan kesehatan, harga, dan penawaran tentang experiences akan menjadi preferensi wisatawan usia lanjut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>4.     </strong><strong>Kesimpulan dan Saran</strong></li>
</ol>
<p>Segmentasi wisatawan usia lanjut mengalami pertumbuhan yang cukup dinamis, dimana hampir semua negara memperkirakan wisatawan usia lanjut akan mengalami pertumbuhan yang cepat dibandingkan segmen pasar wisatawan lainnya. Beberapa wisatawan usia lanjut bahkan merasa mereka lebih muda dari umur mereka karena adanya perbaikan kesehatan, dan mereka lebih aktif. Mereka bahkan ingin mencari pengalaman baru yang menantang seperti ingin melihat kebudayaan bangsa lain sebelum mereka lebih tua dan sebelum kesehatannya semakin menurun.</p>
<p>Saat ini, dengan adanya perbaikan pendidikan, kesehatan, dan perbaikan pendapatan telah mendorong perubahan untuk lebih menyukai kegiatan bersenang-senang atau berwisata dibandingkan generasi sebelumnya. Beberapa kaum usia lanjut tersebut bahkan berharap jika mereka pension mereka akan melakukan perjalanan wisata ke luar negeri.</p>
<p>Untuk dapat menangkap peluang pertumbuhan segmen pasar usia lanjut ini, diperlukan kreasi dan inovasi dalam mengelola bisnis dan kemasan produk yang sesuai dengan preferensi wisatawan usia lanjut, pengelolaan destinasi yang diarahkan ramah terhadap golongan usia lanjut dengan menyediakan infrastruktur dan fasilitas yang dapat dinikmati oleh wisatawan usia lanjut. Untuk melakukan kreasi dan inovasi yang tepat, maka sudah dianggap penting untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan perilaku wisatawan usia lanjut dalam memilih aktivitas wisata.</p>
<p>Perilaku wisatawan usia lanjut tersebut dapat didasarkan pada analisis hubungan antara perbedaan budaya dan perilaku wisatawan dalam memilih aktivitas wisata, perilaku wisatawan usia lanjut dapat juga dilihat dari konsep diri wisatawan yang turut mempengaruhi pilihan aktivitas wisata, perilaku wisatawan usia lanjut juga dapat dilihat dari gaya hidup, dan perilaku wisatawan tersebut dapat dihubungkan berdasarkan dimensi perbedaan budaya, dimensi sikap diri, dan dimensi gaya hidup secara simultan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<h1>DAFTAR PUSTAKA</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>Armstrong, G.K. and Morgan, K. 1998. Stability and change in levels of habitual physical activity in later life. Age and Ageing 27, 17-23.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Blazey, M.A. 1986. Research breathes new life into senior travel program. Parks and Recreation October, 55-56.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cohen, G.D. 2000 The Creative Age: Awakening Human Potential in the Second Half of Life. HarperCollins, New York.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cross, G. 1990 A Social History of Leisure Since 1600. Venture, State College, Penn-sylvania.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gillon, S.M. 2004 Boomer Nation: the Largest and Richest Generation Ever, and How it  Changed. Free Press, New York.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ing, D. 1993 Potential for senior travel escalates. Hotel and Motel Management 208.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jackson and Burton 2005. Leisure Studies: Prospects for the Twenty First Centery. Pennsylvania: State College Venture Publishing Inc.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kelly, J.R. 1992 Leisure. In: Bogatta, E.F. ed. Encyclopedia of Sociology, Vol. 3. Macmillan, New York.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kelly, J.R. and Kelly, J.R. 1994 Multiple dimensions of meaning in the domains of work, family and leisure. Journal of Leisure Research.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawton, M.P. 1993 Meanings of activity. In: Kelly, J.R. ed. Activity and aging. Sage, Newbury Park, California.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>McGuire, F.A., Boyd, R.K. and Tedrick, R.E. 2004 Leisure and Aging: Ulyssean Living in Later Life, 3rd edn. Sagamore, Champaign, Illinois.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>McGuire, F.A. (1984) A factor analytic study of leisure constraints in advanced adult-hood.Leisure Sciences 6, 313-326.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Muller, T.E. and O’Cass, A. 2001 Targeting the young at heart: seeing senior vacationers the way they see themselves. Journal of Vacation Marketing 7.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Patterson, Ian. 2006. Growing Older: Tourism and Leisure Behaviour of Older Adults. School of Tourism and Leisure Management University of Queensland.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penalta, L.A. and Uysal, M. (1992) Aging and the future travel market. Parks and  Recreation 27, 96-99.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pitana, I Gde.  2005. <em>Sosiologi Pariwisata, Kajian sosiologis terhadap struktur, sistem, dan dampak-dampak pariwisata.</em> Yogyakarta: Andi Offset.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Publikasi Kem. Kebudayaan dan Pariwiata RI. 2011.  Ketetapan Dirjen Imigrasi No. F.256-12.02/2000. <strong><em>Temporary Visa: Ijin Tinggal Wisatawan Usia Lanjut.</em></strong> Jakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Publikasi Kem. Kebudayaan dan Pariwiata RI. 2011. Keputusan Presiden /Keppres No. 31/1998. <strong><em>Temporary Visa: Ijin Tinggal Wisatawan Usia Lanjut.</em></strong> Jakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Publikasi Kem. Kebudayaan dan Pariwiata RI. 2011. SK Menteri Kehakiman No.   M-04-12.01.02/1998. <strong><em>Temporary Visa: Ijin Tinggal Wisatawan Usia Lanjut.</em></strong> Jakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Shoemaker, S. 1989 Segmentation of the senior pleasure travel market. Journal of  Travel Research Winter 27.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Smith, C. and Jenner, P. 1997 The seniors travel market. Travel and Tourism Analyst.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Stebbins, R.A. 1998 After Work: The Search for an Optimal Leisure Lifestyle. Detselig  Enterprises, Calgary, Alberta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suradnya, I Made 2005. Analisis Faktor-Faktor Daya Tarik Wisata Bali dan Implikasinya Terhadap Perencanaan Pariwisata Daerah Bali: Soca Jurnal Sosial dan Ekonomi Udayana University Bali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Veal, A. and Lynch, R. 2001 Australian leisure. Longmans/Butterworth, French’s  Forest, New South Wales.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wei, S. and Millman, A. 2002 The impact of participation in activities while on  vacation on seniors’ psychological well-being: a path model analysis. Journal of Hospitality and Tourism Research 26.</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> <em> </em><em>“Leisure studies had its origins in North America in the mid-19th century, with what was termed the ‘Rational Recreation Movement’ that sought to improve the quality of life of the newly urbanized working class. Recreation programmes were encouraged by the Christian churches of the time, emphasizing wholesome and socially responsible activities such as outdoor  recreation and camping, community sport and supervised children’s play” (Cross, 1990). </em></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Seniors are defined as people aged 55 and older, and were one of the most </em><em>prominent targets for tourism marketeers in the 1990s. Seniors have been </em><em>described as everything from ‘empty nesters’ and ‘third agers’ to ‘woop-ies’ (well-off older people) and ‘zuppies’ (zestful, upscale people in their prime) (Shoemaker, 1989). These descriptions of seniors suggest that many people who are aged 55 and older perceive themselves as feeling consid-erably younger than their actual chronological age (Muller and O’Cass, 2001). </em><em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Definitions of Older Adults  </em><em>Not so long ago, people aged 65 and older who lived in developed coun</em><em>tries were referred to as ‘pensioners’ or the ‘elderly’, which were the only terms that were used to describe them. Recently, a review of the tourism and leisure literature has found a puzzling development &#8211; there has been </em><em>a lack of consistency in defining the age cohort and the specific name to describe older people’s tourist behaviour at different stages of the life cycle. Names such as ‘baby boomers’ (Gillon, 2004), ‘the senior market’ (Shoe-maker, 1989), ‘the mature market’ (Lazar, 1985), ‘the grey market’, ‘young sengies’ or young senior generation, and ‘woopies’ or well-off older people </em><em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <em>McGuire (1984) identified five major constraints in a  </em><em>more detailed examination of why older travellers do not travel as much as </em><em>younger travellers: (1)</em><em>external resources &#8211; lack of information, too much planning, insuf</em><em>ficient money, lack of appropriate clothing and luggage, and lack of transportation; (2)time factors &#8211; no time to travel, the need to work, tourism interrupting normal routine and being too busy doing other things; (3)approval &#8211; family and friends would not approve, feel guilty about going on trips and afraid to make a mistake by going to a disappointing place; (4) social &#8211; spouse dislikes travel, no companion and no interest in going away; and (5) physical well-being  &#8211; no energy, poor health, afraid to take certain modes of transportation and too old or disabled to travel.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Contemporary Trends in International Tourism and Travel for Older Adults</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Examine the tourism and leisure-related behaviour of older people in the following countries  &#8211; USA, Canada, Australia, Europe, UK,  Germany, Japan, Israel, Taiwan and Korea</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7"><em><strong>[7]</strong></em></a><em> </em><em>Taiwan is considered an elderly society. The elderly population has been </em><em>estimated to be 2.8 million people, or 12% who are older than 60. It has been projected that the elderly population will increase to 20% of the total population by 2033 (Ministry of Interior, 2001).</em></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/268/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=268&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/07/18/global-tourism-trend-perilaku-wisatawan-usia-lanjut-dalam-memilih-aktivitas-wisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>What Is Perception?</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/20/what-is-perception/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/20/what-is-perception/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 08:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[I can think of two types of perception: Physical, how we actually &#8220;see&#8221; or visualize something, or the angle from which we see something.  The second would be emotional: How we &#8220;see&#8221; or understand something, and it may differ from how another sees it, and both can be correct or not. Anonymous Menurut Simamora (2000), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=253&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">I can think of two types of perception: Physical, how we actually &#8220;see&#8221; or visualize something, or the angle from which we see something.  The second would be emotional: How we &#8220;see&#8221; or understand something, and it may differ from how another sees it, and both can be correct or not. Anonymous</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Menurut Simamora (2000), terdapat dua sumber persepsi, antara lain,  persepsi langsung dan tidak langsung. Persepsi tidak langsung terbentuk dari media yang dipergunakan oleh produsen dalam memperkenalkan produknya, dapat berupa suara manusia, kata-kata indah dan angka-angka cetakan di media massa. Sedangkan persepsi langsung terbentuk dari indera penglihatan, pendengaran, pembauan, pencicipan, dan perasa. Persepsi langsung dapat dibedakan menurut sumbernya menjadi tiga, antara lain.</p>
<p style="text-align:left;">1)      Persepsi pertama adalah persepsi tentang suatu produk yang diperoleh dari indikator-indikator yang berhubungan langsung dengan suatu produk. Indikator-indikator tersebut misalnya, ramainya pengunjung di suatu pusat perbelanjaan, banyaknya produk yang beredar di masyarakat.</p>
<p style="text-align:left;">2)      Persepsi kedua adalah persepsi yang diperoleh setelah melakukan preperensi atau perbandingan terhadap produk/objek/destinnasi wisata lain yang sejenis</p>
<p style="text-align:left;">3)      Persepsi yang ketiga adalah persepsi yang terbentuk dari pengamatan langsung dan ini paling penting karena hal ini merupakan latar belakang yang diperoleh seseorang dari pengamatan sebuah situasi secara langsung.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Menurut Rusmini (2001), persepsi merupakan pandangan seseorang terhadap sesuatu. Persepsi positif akan mendorong seseorang untuk membeli produk, sedangkan persepsi negatif akan mendorong seseorang untuk tidak membeli produk.</p>
<p style="text-align:left;">            Lebih lanjut, Heibing dan Cooper dalam Kasali (2001:526) menyatakan persepsi adalah bahan baku untuk melakukan posisioning sebuah produk dan selanjutnya untuk membangun persepsi sebuah produk di dalam pasar sasaran relatif terhadap produk sejenis atau pesaing. Lebih lanjut Mowen dalam Kasali (2001: 522) mendifinisikan persepsi sebagai suatu proses dimana individu-individu terekspose oleh innformasi, kemudian memproses dalam memorinya, dan selanjutnya menginterpretasikannya sebagai sebuah informasi.</p>
<h1 style="text-align:left;"><span style="font-size:large;">What is Perception?</span></h1>
<h2 style="text-align:left;"><span style="font-size:medium;">By<strong> </strong>Ihar V Babitski</span></h2>
<p style="text-align:left;" align="left">The role of the human perception is one of the most important questions. If we would be able to understand how the human brain perceives information and operate it, and how do we make our decisions, we could more precisely make the future forecasts and increase our efficiency.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">So what is perception? “Perception is the process of attaining awareness or understanding of sensory information”. In order to understand and describe process of perception we have to find all inputs and outputs of information. Find out how do we obtain information, and how do we use it?</p>
<p style="text-align:left;" align="left">We obtain information from the external world from our senses: taste, hearing, smell, touch, sight. Than we somehow integrate and analyze perceived information and make our decision. Decision is an “outcome of mental processes (cognitive process) leading to the selection of a course of action among several alternatives. Every decision making process produces a final choice”. How do we make a decision, or even better to ask what leads us to make a decision? All our decisions are directed by our instincts, unconsciously. The basic human instinct is self-preservation or, in other words, survival and reproduction. But the decisions, which we make according to our instincts, are different. That’s because of the upbringing, different moral values, and our ability to analyze behavior and learn. We always behave in order to maximize our instinct requirements, our ability to survive, preserve ourselves our family or our kind. This way we have three basic levels of perception. Obtaining information, integration and analysis of information, reaction. Our five senses is the input of information, while our actions and decisions are the output. The source for the input information is external world, while the output is our process of thinking based on our instincts. The understanding, which role instincts play in our life, is crucial. Instincts is the foundation of human society, is the only one thing that all human have in common.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">Going back to the analysis of the perception, we assume any particular human being can be defined as a function f(y(a,b,c,d,e,)), where a,b,c,d,e – variable, which represent five senses of the human being (here and then a,b,c,d,e, represent a unit of information flow over time); through our senses we obtain information from the external world. The variables a,b,c,d,e have characteristics of the physical world and change over time, so they can be defined as (x,y,z,t), where x,y,z,t ≠ 0.  y- represent understanding of ourselves as a human being, process of integration and analysis of information. The understanding take place, when at least one variable a,b,c,d,e, ≠ 0.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">Necessary condition for the existence of I is y≠0, means that we have ability to realize our existence as a human being (the only thing, which distinct us from animals);  and at least one variable a,b,c,d,e, ≠ 0, which means that there is at least one source of obtaining information. That relation can be expressed as I=f(y(a,b,c,d,e,)). Basically, if a,b,c,d,e ≠ 0, and y≠0, → y(a,b,c,d,e)≠0, → I≠0.  This conception simplifies our understanding how do we obtain information and how do we make our decisions and analyze information, and evolution of thoughts. This simple relation can be represented as following scheme:</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;" align="left">Big circle represent our entity, each segment is the information which we obtain through the life time, and small circle represent our thoughts, ideas, dreams, which we ever had. Let’s say first time in my life I hear Rachmaninoff Concerto #3. Music will cause new emotions, which are deriving from what I heard and felt, after I will realize it. This new experience will affect not only my hearing but also my imaginations, feelings and even smell and taste (of fresh air in concert hall), so even my heart will start beating faster. All these new feelings will go through my head and will stay in my memory. The whole my understanding of music will change, because I’ve never heard this kind of music before, never heard anybody playing piano so good.  In this case new experience can be defined as I=f(y(a+a(x),b+b(x),c+c(x),d+d(x),e+e(x))), where x – is a new experience of listening Concerto #3, which adds up to my previous experience. This equation shows us very clearly all the changes which are going on inside our brain. It’s very easy to see that the whole human entity is changing. I is not I anymore, it is a new quality of previous I. On the scheme this new experience is represented in red.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;" align="left">This way experience passes from individual to individual, from generation to generation, in all kinds and forms, creating a national culture ideas, and philosophy.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">But let’s go further. Every moment of our live we obtain new information, uninterrupted flow of information such as our location in space and its characteristics like smell, sound, appearance, this information is vital for us to exist. Suppose I get information first time in my life, which is (a1, b1, c1, d1, e1). Next flow of information than will be (a2, b2, c2, d2, e2), etc, (an, bn, cn, dn, en)→∞. When I get next flow of information, (ax, bx, cx, dx, ex) my brain compares new information to the information I already have in order to match them. If they match to the certain extent: (for example)</p>
<p style="text-align:left;" align="left">ax→a1</p>
<p style="text-align:left;" align="left">bx→b1</p>
<p style="text-align:left;" align="left">cx→c1</p>
<p style="text-align:left;" align="left">dx→d1</p>
<p style="text-align:left;" align="left">ex→e1</p>
<p style="text-align:left;" align="left">My brain replicates the former pattern and retranslates it in new circumstances. (a1x, b1x, c1x, d1x, e1x), creating a new pattern of behavior. The same happens when we trying to make a decision or make a plan of behavior. We take information from our experience and extrapolate it in future according to the previous experience and test every possible way of solution, creating a new pattern of behavior, which we follow, and adjust according to the changing information.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">Now if we add in the discussion the influence of our instincts, it becomes clear how the new information matches to our previous experience. Basically, we like to do anything that gives us satisfaction and do not like the opposite; we like to follow our instincts. Our experience gives us information what is good and what is bad for us. Once we touch a hot pot we are not willing to do it again. Our behavior is based on our instincts.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;" align="left">Following this logic any pattern of behavior can be explained from the point of view of personal gains and losses (which are different for all of us). In every particular moment of time we are right, and our decisions are right (otherwise we wouldn’t do what we are doing), as we do everything according to our instincts, which give us self-satisfaction, but, at the same time, we realize our mistakes after we’ve done them. This is happens because of our inability to track every possible pattern of behavior and take into account all the circumstances. At the same time our behavior is the source of new information. Our behavior can be imagined as a spiral, where every new coil is qualitative new information.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">In short-term our behavior is straightforward, and we do everything right, although it leads us to make mistakes. Long-term behavior is more complicated and difficult to control. Problem is caused by our inability to understand what we need, or what has to be done. The answer is obvious; in long run we should follow the same goals as in short-run. How do we know our goals? We all know our goals, at least our needs, which we want to satisfy. If we will fulfill our needs we will reach our goals.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">When we are using drugs, smoking, we get a short-run satisfaction, but destroying our brain in long-run, although we can get a short-run positive effect by doing so. We looking for the safe job and rely on 401K, while afraid run our own business and get higher profit, relying on our selves. What is safer in long-run? How many financial analysts, who explain where to invest, and write sophisticated books earn their money investing? Not many. Why?  Because we follow short-run behavioral strategy. We prefer to trust someone, who we think knows something better than we. But is there anyone? The answer is No. As it was said before, if our brain wouldn’t know what to do, we wouldn’t do anything.</p>
<p style="text-align:left;" align="left"> Now everything from the other hand: y – is a constant value, which is inherited from our parents, in this case our ability to reach our goals is completely depends on the amount of information we get from external world and track through our mind. In other words, suppose y – is a productive capacity of our brain. Let say my brain are able to analyze 20 per-cent of information, and Friend John‘s brain can analyze 25 per cent of the same information at the same time, it means I have to spend 5 per cent more time in order to understand the same thing as John. What should I do in this case? Productivity (P)=value (V)/time (t), it means I have to increase value of analyzed information and (or) decrease time of analyzing, in order to be as smart as my friend John. Each time increasing the amount of analyzed useful information (here it means quality of information, regarding any particular goal) I increase productivity of my brain. And one day I will reach John. On the scheme red line is John brain productivity and blue line is mine productivity. Y = P = V * 1/t, where 1/t – constant.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">But how can I avoid long-run mistakes and increase my own efficiency? In order to increase efficiency we have to increase the amount of useful information we analyze, because it quite difficult to make our brain wok faster. If “y” is constant and we know our needs, than all we have to do, is to find out missing information, which going to increase our brain performance and maximize our satisfaction. Basically, in order to fulfill our desires we have to get the knowledge, which will help us to do so.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">This pattern of behavior reflects in our speech. If I say I “like philosophy” and I know that it is true for me, I have an equation, which will describe my feelings about music:  I like philosophy = true. But it is not that easy as it seems. In this case each word has a value, for example I= True. Because I know that I am I, and I can test it. I can conduct myself and I have 5 senses, which are true for me (because I can see, hear, smell, taste, touch). So I=f(y(a,b,c,d,e)). In order to describe philosophy, my brain has to get all the information about philosophy, all that I’ve ever experienced and thought about philosophy, all the statistics. All of us have different world perception, and different understanding of the same thing, because we have different experience in terms of our senses. That’s why we say tastes are differs. But I don’t have to sit and try to write down all I know about philosophy my brain have already done it for me, because I know that I like philosophy, and it’s true for me. So in this case philosophy is a function of my understanding of my feelings I have ever experienced about philosophy and everything I was thinking about philosophy: Philosophy = f(y(a1,b1,c1,d1,e1.)), where a1,b1,c1,d1,e1.-  related to experience regarding philosophy. The word like is a coefficient, which describe, to which extent I like philosophy. Basically it is a ratio: like philosophy = (like philosophy – don’t like philosophy) / (all experience related to philosophy) = True.  And this is true. But such a way of thinking doesn’t reflect the reality, probably only our personal reality, our own perfect world and its laws. This is subjective way of thinking.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">In order to explain any phenomena we must get rid of any subjective factors, cancel them, so we can get objective ratio. When we say “treat others the way you want them treat you”, we give a ratio, which exclude any subjective influence and let us use our own experience in order to understand this ratio:</p>
<p style="text-align:left;" align="left">I treat others = Others treat me;</p>
<p style="text-align:left;" align="left">if I=a, and others=b, we will get</p>
<p style="text-align:left;" align="left">a(b) = b(a), or a = b.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">In this ratio we do not have any subjective influence, and it is equal for all of us. On this level of thinking we can create models and forecast behavior of any particular human being. Short-term behavior is an instinctive unconscious reaction of our brain on obtained information. It can be represented as: information → response. Long-term behavior is conscious analyzed reaction on obtained information in order to maximize our performance in the long-run, is represented as: information → evaluation → optimized response. In our example short-term behavior is:  treat me → I treat, long- term is: treat me → I treat = I treat → treat me =&gt; I treat →treat me. Both long-term and short-term behavior is governed by the instinct. In this case long term behavior has positive mathematical expectation (if calculated in terms of satisfied and unsatisfied needs), and a gain in a long run, comparing to sort-term behavior, where mathematical expectation is equal to zero. Short-term behavior can have a positive mathematical expectation only if it is governed by the long-term pattern of behavior.</p>
<p style="text-align:left;" align="left">These means, that any particular behavior and sum of different behaviors can be predicted and forecasted: I=limf(y(a,b,c,d,e))→F(i), where i – instinct.</p>
<p style="text-align:left;" align="left"><em> Ihar V Babitski can be reached at <a href="mailto:babitskyigor@gmail.com"> babitskyigor@gmail.com</a> or 804-503-6635; vist ivbabit@acs.bu.edu for more information.</em></p>
<p style="text-align:left;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong><br />
</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/253/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=253&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/20/what-is-perception/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pariwisata: Kualitatif atau Kuantitatif?</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/11/pariwisata-kualitatif-atau-kuantitatif/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/11/pariwisata-kualitatif-atau-kuantitatif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 00:11:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[QUALITATIVE OR QUANTITATIVE TOURISM INDUSTRY ANALYSIS (Data Analysis) Tourism Method Research &#160; Oleh I GUSTI BAGUS RAI UTAMA NIM:10907710010 MAHASISWA PROGRAM PASCA SARJANA s3 doktor pariwisata Universitas Udayana DENPASAR 2011 &#160; Pendahuluan &#160; 1.1 Paradigma Di tengah perdebatan tentang kemandirian pariwisata sebagai sebuah ilmu mandiri, banyak kalangan bertanya-tanya, paradigma mana yang dipakai oleh pariwisata dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=247&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>QUALITATIVE OR QUANTITATIVE </strong></p>
<p><strong>TOURISM INDUSTRY ANALYSIS</strong><strong> </strong></p>
<p>(Data Analysis)<br />
<strong>Tourism Method Research</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh</strong></p>
<p><strong>I GUSTI BAGUS RAI UTAMA</strong></p>
<p><strong>NIM:109077100</strong><strong>10</strong></p>
<p>MAHASISWA PROGRAM PASCA SARJANA</p>
<p>s3 doktor pariwisata</p>
<p>Universitas Udayana</p>
<p>DENPASAR</p>
<p>2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Pendahuluan</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.1 Paradigma</p>
<p>Di tengah perdebatan tentang kemandirian pariwisata sebagai sebuah ilmu mandiri, banyak kalangan bertanya-tanya, paradigma mana yang dipakai oleh pariwisata dalam memilih alat analisis untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi pada pariwisata. Ada yang berpendapat bahwa ilmu pariwisata menggunakan paradigma ilmu social dan ada pula yang menggunakan peradigma semi sain yakni ilmu ekonomi yang cenderung lebih mengarah kuantitatif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.2 Ontologi</p>
<p>Aspek ontologi dari ilmu pariwisata menguak hakekat perjalanan wisata, gejala-gejala pariwisata, karakteristik wisatawan, prasarana dan sarana wisata, tempat-tempat serta daya tarik destinasi yang dikunjungi, sistem dan organisasi, dan kegiatan bisnis terkait, serta komponen pendukung di daerah asal maupun di sebuah destinasi wisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.3  Aksiologi</p>
<p>Sementara aspek aksiologi dari ilmu pariwisata adalah memberikan manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Perjalanan dan pergerakan wisatawan adalah salah satu bentuk kegiatan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang beragam, baik dalam bentuk pengalaman, pencerahan, penyegaran fisik dan psikis maupun dalam bentuk aktualisasi diri.</p>
<p>Sementara kontribusi pariwisata untuk pembangunan ekonomi pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir.</p>
<p>Lebih lanjut, menurut UN-WTO, pariwisata telah menjadi industri terbesar dan memperlihatkan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun. Kontribusi pariwisata yang lebih konkret bagi kesejahteraan manusia dapat dilihat dari implikasi-implikasi pergerakan wisatawan, seperti meningkatnya kegiatan ekonomi, pemahaman terhadap budaya yang berbeda, pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.4  Epistimologi</p>
<p>Namun Aspek epistemologi ilmu pariwisata dapat ditunjukkan pada cara-cara pariwisata memperoleh kebenaran ilmiah, objek ilmu pariwisata  didasarkan pada logika berpikir yang rasional dan dapat diuji secara empirik. Dalam memperoleh kebenaran ilmiah dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan kualitatif atau kuantitatif dan atau sangat tergantung dengan permasalahan yang akan dipecahkan, tapi pada ilmu pariwisata itu sendiri, pendekatan pemecahan permasalahan pariwisata dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yakni:</p>
<p>(1)        Pendekatan system: Pendekatan ini menekankan bahwa pergerakan wisatawan, aktivitas masyarakat yang memfasilitasi serta implikasi kedua-duanya terhadap kehidupan masyarakat luas merupakan kesatuan yang saling berhubungan “<em>linked system</em>” dan saling mempengaruhi. Setiap terjadinya pergerakan wisatawan akan diikuti dengan penyediaan fasilitas wisata dan interaksi keduanya akan menimbulkan pengaruh logis di bidang ekonomi, social, budaya, ekologi, bahkan politik. Sehingga, pariwisata sebagai suatu system akan digerakkan oleh dinamika subsistemnya, seperti pasar, produk, dan pemasaran. Pendelatan yang kedua, yakni; (2)            Pendekatan Kelembagaan: Pendekatan kelembagaan adalah dimana setiap perjalanan wisata akan melibatkan wisatawan sebagai konsumen, penyedia sebagai supplier jasa transportasi, penyedia jasa akomodasi atau penginapan, serta kemasan atraksi atau daya tarik wisata. Kesemua komponen ini memiliki hubungan fungsional yang menyebabkan terjadinya kegiatan perjalanan wisata, dan jika salah satu dari komponen di atas tidak menjalankan fungsinya maka kegiatan perjalanan tidak akan berlangsung. Dan pendekatan yang terakhir adalah (3)        Pendekatan Produk: Pendekatan yang digunakan untuk mengkategorikan bahwa pariwisata sebagai suatu komoditas yang dapat dijelaskan aspek-aspeknya yang sengaja diciptakan untuk merespon kebutuhan masyarakat. Pariwisata adalah sebuah produk kesatuan totalitas dari empat aspek dasar yakni; Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus dipenuhi produk pariwisata sebagai sebuah totalitas produk, yakni: (1)<em>Attractions</em> (daya tarik); (2)<em>Accesability</em> (transportasi); (3)<em>Amenities</em> (fasilitas); (4)<em>Ancillary</em> (kelembagaan)</p>
<p>Sedangkan metode yang dapat digunakan untuk mencari kebenaran ilmiah ilmu pariwisata seperti (1) metode <em>eksploratif</em> dari jenis penelitian eksploratori (<em>exploratory research</em>) dan metode membangun teori (<em>theory-building research</em>) (2) kuantitatif (3) kualitatif (4) studi <em>komparatif</em> (5) <em>eksploratif</em> (6) <em>deskriptif</em> dan metode lainnya sesuai dengan permasalah dan tujuan penelitiannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Pembahasan: <em>Tourism, Qualitative or Quantitative?</em></li>
</ol>
<p>2.1 <em>Qualitative is Social Approach</em></p>
<p>2.1.1 Filosofis</p>
<p>Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan atau tidak mendalam. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas.</p>
<p>Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (creswell, 1998:15). Sementara menurut Bogdan dan taylor (moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.</p>
<p>Lebih lanjut, penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>2.1.2 Jenis-jenis Penelitian Kualitatif dan Analisis Datanya</p>
<p>Penelitian kualitatif saat ini dikelompokkan menjadi lima jenis penelitian, yaitu:</p>
<ol>
<li>Biografi</li>
</ol>
<p>Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap <em>turning point moment</em> atau <em>epipani</em> yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri. Sedangkan teknik analisis data jenis Biografi dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:</p>
<ol>
<li>Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.</li>
<li>Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.</li>
<li>Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.</li>
<li>Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.</li>
<li>Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.</li>
<li>Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Fenomenologi</li>
</ol>
<p>Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. Sedangkan teknik analisis data jenis Fenomenologi dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:</p>
<ol>
<li>Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.</li>
<li>Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.</li>
<li>Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).</li>
<li>Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.</li>
<li>Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan <em>textural description</em> (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan <em>structural description</em> (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).</li>
<li>Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.</li>
<li>Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Grounded theory</li>
</ol>
<p>Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan <em>grounded theory</em> adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari. Sedangkan teknik analisis data jenis <em>grounded theory</em> dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:</p>
<ol>
<li>Mengorganisir data</li>
<li>Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.</li>
<li><em>Open coding</em>, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.</li>
<li><em>Axial coding</em>, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.</li>
<li><em>Selective coding</em>, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam <em>model axial coding</em>.</li>
<li>Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Etnografi</li>
</ol>
<p><em>Etnografi</em> adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok. Sedangkan teknik analisis data jenis <em>Etnografi</em> dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:</p>
<ol>
<li>Mengorganisir file.</li>
<li>Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.</li>
<li>Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.</li>
<li>Menginterpretasi penemuan.</li>
<li>Menyajikan <em>presentasi baratif</em> berupa tabel, gambar, atau uraian.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Studi kasus</li>
</ol>
<p>Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu. Sedangkan teknik analisis data jenis Studi Kasus dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:</p>
<ol>
<li>Mengorganisir informasi.</li>
<li>Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.</li>
<li>Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.</li>
<li>Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.</li>
<li>Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.</li>
<li>Menyajikan secara naratif.</li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p>2.2 <em>Quantitative is Business Approach</em></p>
<p><strong>2.2.1 Pendekatan Analisis Ekonomi</strong></p>
<p>Sampai saat ini, pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara, tanpa terkecuali di Indonesia.</p>
<p>Seiring dengan hal di atas, menurut IUOTO (<em>International Union of Official Travel Organization</em>) yang dikutip oleh Spillane (1993), pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara karena delapan alasan utama seperti berikut ini: (1)Pariwisata sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3)Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinnasi. (5)Penghasil devisa. (6)Pemicu perdagangan international. (7)Pemicu pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal dan santun, dan (8)Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi.</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, masih banyak anggapan bahwa pariwisata hanya sebuah bagian dari spectrum pembangunan ekonomi, yang lebih cocok di pelajari dan dianalisis dengan pendekatan analisis yang sudah lazim digunakan pada ilmu ekonomi karena untuk mengukur posisi pariwisata sebagai sebuah industry relative masih sangat sulit (Hara, 2008:1)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>2.2.2 Quantitative Tourism Industry Analysis</p>
<p>Menurut (Bendesa, 2010), Metode Kuantitatif merupakan alat analisis yang dapat membantu pelaku usaha dalam dunia bisnis termasuk bisnis pariwisata dalam pengambilan keputusan karena keputusan dalam dunia bisnis dapat dalam bentuk atau berkaitan dengan, antara lain: optimasi, estimasi, identifikasi, maupun eksplorasi masalah yang dihadapi. Sedanghkan  alat analisis lebih bersifat terapan sehingga metode kuantitatif lebih merupakan unifikasi antara alat dengan teori ekonomi dan manajemen.</p>
<p>Sementara Hara (2008) telah membukukan beberapa teknik analisis yang semestinya, Berbagai teknik analisis kuantitatif, yaitu sering berkaitan dan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensia, yang terdiri dari statistik non parametrik, statistik parametrik, ekonometrika persamaan tunggal dan simultan, dan model-model makro regional, yaitu model  Input-Output Leontief regional dan Interregional atau sekarang dikenal dengan istilah Tourism Satellite Account (TSA), model Social Accounting Matrix regional dan interegional (SAM), dan sebagainya. Alat analisis yang popular digunakan untuk memecahkan masalah-masalah quantitative pariwisata, diantaranya adalah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Input-Output Analysis</li>
</ol>
<p>Heng dan Low (1990) menjelaskan bahwa pada tataran praktis, Input-Output Analysis  adalah alat analisis yang sangat baik untuk mengukur dampak pariwisata.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Heng and Low (1990) illustrates well the type of practical use which can be made of input-output analysis in considering the impact of tourism</em>”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Input-output sebenarnya  menangkap potret perekonomian suatu wilayah melalui aliran inter-industri pada periode waktu tertentu, dengan menggunakan prinsip keseimbangan umum (<strong><em>General Equilibrium</em></strong>) artinya jika terjadi ketidakseimbangan atau keseimbangan di satu sektor akan berpengaruh terhadap ketidakseimbangan atau keseimbangan sektor lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Social Accounting Matrix Model</li>
</ol>
<p>West (1993) berpendapat bahwa SAM atau <strong><em>social accounting matrix</em></strong> sangat tepat untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“West (1993) uses a Social Accounting Matrix (SAM) to overcome the first problem and an integrated model to allow for changes in the relationship with the passage of time”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dia mengganggap bahwa analisis <strong><em>input-output</em></strong> dianggap belum mampu memecahkan persoalan dampak pariwisata karena hanya mengukur hubungan produser dengan produser dan tidak menyertakan perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor publik lainnya. Sepintas Nampak bahwa SAM hanya sekedar perluasan alat analisis dari I-O namun sebenarnya tidak sesederhana itu. <em> </em></p>
<p><em>“The importance of SAM derives not only from the point that it is  a technical expansions of the I-O, but from point that additional wealth of data can be turned into highly useful information for development of national or regional economy” (Hara, 2008:116)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Menurut Hara (2008: 116) menjelaskan bahwa SAM memang menyertakan model I-O namun SAM bukan sekedar perluasan dari I-O namun lebih daripada sekedar perluasan, dimana SAM mampu memberikan gambaran yang lebih luas tentang analisis tingkat kesejahteraan sebuah Negara atau regional , dan menyertakan institusi, aktivitas produksi, dan factor-faktor produksi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Tourism Satellite Account</li>
</ol>
<p><em>“The purpose of a tourism satellite account is to analyze in detail all the aspects of demand for goods and services associated with the activity of visitors; to observe the operational interface with the supply of such goods and services within the economy; and to describe how this supply interacts with other economic activities”</em> (TSA: RMF 2008)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tujuan dari TSA adalah untuk menganalisis secara rinci terhadap semua variabel permintaan barang dan jasa yang berkaitan dengan aktivitas wisatawan  pada suatu destinasi. TSA juga untuk mengamati variabel lainnya seperti penyediaan sarana, barang dan jasa yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi lainnya.</p>
<p><em>“</em><em>Our team possesses particular experience developing Tourism Satellite Accounts (TSAs) as ratified by the UN as the global standard for measuring the economic value of tourism. Our staff has implemented Tourism Satellite Account research for over two-dozen clients over the past decade, significantly raising the profile and understanding of tourism&#8217;s role in the economy.”</em><strong> (</strong><strong>Tourism Economics, Inc</strong><cite>, 2011)</cite><em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut <strong> (</strong><strong>Tourism Economics, Inc</strong><cite>, 2011) bahwa TSA telah diratifikasi oleh United Nation sebagai alat analisis yang berstandar global untuk mengukur economic value dari pariwisata, TSA sampai saat ini telah banyak diterapkan pada dunia penelitian untuk mengukur peranan pariwisata dalam perekonomian. Model TSA yang telah diratifikasi oleh UN dapat dilihat pada gambar di bawah ini:</cite></p>
<p>Jadi pada prinsifnya TSA adalah alat analisis yang menganalisis terhadap variable-variabel permintaan dan penawaran pariwisata beserta dengan variable bisnis terkait langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas pariwisata dan kegiatan ekonomi di suatu destinasi (provinsi, atau Negara) pariwisata, dan telah diratifikasi oleh United Nation sebagai alat analisis resmi untuk mengukur peran pariwisata dalam pembangunan ekonomi negara atau regional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Social cost-benefit analysis</li>
</ol>
<p>Archer dan Cooper (1994), berpendapat bahwa: penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harus menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya.<em> </em></p>
<p><em>“Impact analysis can be extended to other dimensions as summarised by Archer and Cooper (1994) including social cost-benefit analysis”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan <strong><em>social cost-benefit</em></strong> <strong><em>analysis</em></strong> mestinya digunakan, menurutnya untuk mengukur manfaat dan dampak pariwisata bukanlah pekerjaan yang mudah karena tidak sekedar menghitung dampak ekonomi hanya dengan mencari multiplier efeknya saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>3. </em></strong><strong>Penutup<em> </em></strong></li>
</ol>
<p>Thomas D.Cook and Charles Reichardt (1978) menyatakan  “<em>to the conclusion that qualitative and quantitative methods themselves can never be used together. Since the methods are  linked to defferent paradigms and since one must choose between mutually exclusive and antagonistic world views, one must  also choose between the methods type”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sampai pada kesimpulan bahwa metode kualitatif dan kuantitatif sendiri tidak pernah dapat digunakan bersama-sama. Karena metode yang terkait dengan paradigma defferent dan karena kita harus memilih antara pandangan dunia yang saling eksklusif dan antagonis views, orang juga harus memilih antara jenis metode. Perbedaan yang paling menonjol adalah perbedaan aksioma, proses penelitian, dan karakteristik penelitiannya,</p>
<p>Pada konteks Pariwisata, kedua paradigma baik <strong><em>qualitative</em></strong> maupun <strong><em>quantitative</em></strong> dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan pariwisata dan pemilihan paradigma tersebut sangat tergantung dengan proposisi maupun hipotesisnya, sehingga ada keharusan untuk memilih satu diantara dua paradigma tersebut karena pada prinsifnya kedua paradigma tersebut tidak dapat digabung “<strong><em>mixing”</em></strong> namun hanya dapat digunakan secara bergantian khususnya yang berhubungan dengan teknik penelitiannya dan sifatnya saling melengkapi.</p>
<p>Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Peneliti akan membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15).</p>
<p>Sementara Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, dan pendekatan kualitatif sangat mungkin digunakan untuk memecahkan masalah pariwisata karena pada hakekatnya pariwisata mendalami hakekat perjalanan wisata yang  dilakukan oleh manusia.</p>
<p>Sementara, masih banyak anggapan bahwa masih relatif sulit memposisikan pariwisata sebagai entitas industri secara mandiri, karena masih terlalu banyak terkait dengan  entitas lainnya sehingga teknik analisis kuantitatif lebih sering dipakai untuk memecahkan masalah pariwisata. Analisis kuantitatif yang berkaitan sering menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensia, yang terdiri dari statistik non parametrik, statistik parametrik, ekonometrika persamaan tunggal dan simultan.</p>
<p>Acapkali masalah-masalah pariwisata sering dikaitkan dengan masalah makro ekonomi sehingga lahirlah model-model makro regional, seperti model  <strong><em>Input-Output Leontief regional</em></strong> dan <strong><em>Interregional</em></strong> atau sekarang dikenal dengan istilah <strong><em>Tourism Satellite Account (TSA)</em></strong>, model <strong><em>Social Accounting Matrix</em></strong> regional dan <strong><em>interegional (SAM)</em></strong>, dan sebagainya.</p>
<p>Bahkan  Hara (2008) menjelaskan bahwa masih sangat diperlukan adanya penemuan-penemuan baru yang berhubungan dengan analisis data kuantaitatif yang berhubungan dengan pemecahan masalah-masalah pariwisata dan peranannya untuk pembangunan. Dia mendiskripsikan bahwa perlu ada alat analisis yang mengukur dampak pariwisata terhadap pengentasan kemiskinan <strong><em>“poverty alleviation effects of tourism as an industry” </em> </strong>dan juga diperlukan model analisis dampak lingkungan dari pembangunan pariwisata “<strong><em>modeling environmental effect of industrial activities”</em>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Archer, B. and Cooper, C. (1994) “The Positive and Negative Impacts of Tourism”. Pp. 73-91 in W.F. Theobald (ed.) <em>Global Tourism: The Next Decade</em>, Butterworth-Heinemann, Oxford.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Archer, B.H. (1982) “The Value of Multipliers and the Policy Implications”, <em>Tourism</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bungin, B. 2007. <em>Penelitian Kualitatif</em>. Prenada Media Group: Jakarta.<br />
Bungin, B. 2003. <em>Analisis Data Penelitian Kualitatif</em>. PT Rajagrafindo Persada: Jakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Creswell, J. W. 1998. <em>Qualitatif Inquiry and Research Design</em>. Sage Publications, Inc: California.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fletcher, J.E. (1989) “Input-Output Analysis and Tourism Impact Studies”, <em>Annals of Tourism Research</em>, <strong>16</strong>, 514-529.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Heng, T.M. and Low, L. (1990) “Economic Impact of Tourism in Singapore”, <em>Annals of Tourism Research</em>, <strong>17, </strong>246-269<strong>. </strong><em>Management</em>, <strong>3</strong>(4), 236-241.<strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sinclair, M.T. (1991) “The Economics of Tourism”. Pp.1-27 in C.P. Cooper and A. Lockwood (Eds) <em>Progress in Tourism, Recreation and Hospitality Management</em>, <strong>3</strong>, John Wiley, Chichester, UK.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Spillane, James.1993. <em>Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.</em>Yogyakarta: Kanisius.</p>
<p>Tourism Vision 2020 – UNWTO: <strong>pada </strong>http://pandeputusetiawan.wordpress.com<strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tourism Economic Impact: Tourism Satellite Accounts (TSAs) as ratified by the UN as the global standard for measuring the economic value of tourism, retriave on 3<sup>rd</sup> April 2011 from http://www.tourismeconomics.com/services-economic-impact.php</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>United Nation-World Tourism Organization (2005),<strong> </strong><strong>Tourism Highlight 2005</strong>, UN-WTO, Madrid<strong> </strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/247/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=247&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/11/pariwisata-kualitatif-atau-kuantitatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimensi Ekonomi Pariwisata: Kajian terhadap dampak Ekonomi dan refleksi dampak pariwisata terhadap pembangunan ekonomi provinsi bali</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/10/dimensi-ekonomi-pariwisata-kajian-terhadap-dampak-ekonomi-dan-refleksi-dampak-pariwisata-terhadap-pembangunan-ekonomi-provinsi-bali/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/10/dimensi-ekonomi-pariwisata-kajian-terhadap-dampak-ekonomi-dan-refleksi-dampak-pariwisata-terhadap-pembangunan-ekonomi-provinsi-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 23:56:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Dimensi Ekonomi Pariwisata: Kajian terhadap dampak Ekonomi dan refleksi dampak pariwisata terhadap pembangunan ekonomi provinsi bali &#160; Oleh I GUSTI BAGUS RAI UTAMA NIM. 1090771010 PROGRAM PASCA SARJANA S3 Doktor Pariwisata Universitas Udayana DENPASAR 2011 &#160; &#160; &#160; AbstraCt Measuring the impact of tourism on the economy is still being debated by some of economists, especially for the tourism’s economist who has conducted study about economic impact   of [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=244&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Dimensi Ekonomi Pariwisata: Kajian terhadap dampak Ekonomi dan refleksi dampak pariwisata terhadap pembangunan ekonomi provinsi bali</strong><strong> </strong></h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh</p>
<p>I GUSTI BAGUS RAI UTAMA</p>
<p>NIM. 1090771010</p>
<p>PROGRAM PASCA SARJANA</p>
<p>S3 Doktor Pariwisata</p>
<p>Universitas Udayana</p>
<p>DENPASAR</p>
<p>2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1><strong> </strong></h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>AbstraCt</p>
<p>Measuring the impact of tourism on the economy is still being debated by some of economists, especially for the tourism’s economist who has conducted study about economic impact   of tourism development. While the UN-WTO stated that tourism sector is still as a leading sector of development in some countries in the world because it has a positive dynamics trends. This paper also describes some of the positive impact of tourism on the economy and criticized some of negative impact. On the other hand, this paper also presented a scientific reflection on the current condition of Bali tourism development; indeed its still can be debated.</p>
<p><strong><em>Keyword: economic impact, positive, negative, development.</em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Pendahuluan</strong><strong> </strong></h2>
<p>Pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu Negara, tanpa terkecuali di Indonesia. Namun demikian pada kenyataannya, pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara.</p>
<p>Seiring dengan hal di atas, menurut IUOTO (<em>International Union of Official Travel Organization</em>) yang dikutip oleh Spillane (1993), pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara karena delapan alasan utama seperti berikut ini: (1)Pariwisata sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3)Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinnasi. (5)Penghasil devisa. (6)Pemicu perdagangan international. (7)Pemicu pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal dan santun, dan (8)Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi.</p>
<p>Dari sisi kepentingan nasional, <a href="#_ftn1">[1]</a>Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005) dalam Sapta (2011:1) menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p><strong>a) </strong><strong>Persatuan dan Kesatuan Bangsa: </strong>Pariwisata dianggap mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.<strong> </strong></p>
<p><strong>b) </strong><strong>Penghapusan Kemiskinan (<em>Poverty Alleviation</em>): </strong>Pembangunan pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharpkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapannya adalah bahwa pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.<strong> </strong></p>
<p><strong>c) </strong><strong>Pembangunan Berkesinambungan (<em>Sustainable Development</em>): </strong>Dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Artinya penggunaan sumberdaya yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relative lama.<strong> </strong></p>
<p><strong>d) </strong><strong>Pelestarian Budaya (<em>Culture Preservation</em>): </strong>Pembangunan kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara ataudaerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan diberbagai daerah.<strong> </strong></p>
<p><strong>e) </strong><strong>Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia: </strong>Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema<em> paid holidays</em>.<strong> </strong></p>
<p><strong>f) </strong><strong>Peningkatan Ekonomi dan Industri: </strong>Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa..<strong> </strong></p>
<p><strong>g) </strong><strong>Pengembangan Teknologi: </strong>Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataanakan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sedangkan dari sisi kepentingan Internasional, <a href="#_ftn2">[2]</a>Pariwisata internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi tersebut meningkat 11% dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Seiring dengan hal tersebut, diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2020 akan menembus angka 1,6 miliar orang per tahun (UN-WTO, 2005)<strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada sisi yang berbeda, walaupun pariwisata telah diakui sebagai faktor penting stimulator penggerak perekonomian di beberapa negara di dunia, namun pariwisata juga menyembunyikan beberapa hal yang jarang diungkap dan dihitung sehingga sangat sulit untuk ditelusuri perannya atau kerugiannya. <a href="#_ftn3">[3]</a>Beberapa biaya tersembunyi atau <em>hidden cost</em> diantaranya adalah:  industri pariwisata bertumbuh dalam mekanisme pasar bebas sehingga seringkali destinasi pada negara berkembang hanya menjadi obyek saja, hal lainnya pengembangan pariwisata memang telah dapat menigkatkan kualitas pembangunan pada suatu destinasi namun akibat lainnya seperti peningkatan harga-harga pada sebuah destinasi terkadang kurang mendapat perhatian dan korbannya adalah penduduk lokal,  dan banyak hal akan di ungkap dalam paper ini.<strong><em> </em></strong></p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Pembahasan</strong></h2>
<p>Mengukur manfaat dan kerugian pembangunan pariwisata pada beberapa negara saat ini, masih menjadi perdebatan diantara para ahli ekonomi khususnya yang telah melakukan riset dan evalusi terhadap ekonomi pariwisata. Beberapa pandangan para fakar mewarnai pembahasan paper ini dari sudut pandangan yang berbeda-beda.</p>
<p><em>“Frechtling (1987a) considers alternative methods of collecting data about expenditure by tourists and the shortcomings of these. He also reviews methods such as impact multipliers and input-output analysis used to measure the economic impacts generated by tourism expenditure”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Frechtling (1987), menyatakan bahwa untuk mengukur manfaat pariwisata bagi perekonomian suatu Negara harus tersedia data yang cukup lengkap, Dia menawarkan metode alternative khususnya berhubungan dengan metode pengumpulan data tentang pengeluaran   wisatawan di saat yang akan datang, dan dia juga mereview beberapa metode yang telah digunakan oleh para ahli sebelumnya, dengan menggunakan impact multipliers dan input-output analysis untuk mengukur pengeluaran sector pariwisata.</p>
<p><em>“Impact analysis can be extended to other dimensions as summarised by Archer and Cooper (1994) including social cost-benefit analysis”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara Archer dan Cooper (1994), berpendapat bahwa: penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harus menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya, dan <strong><em>social cost-benefit</em></strong> <strong><em>analysis</em></strong> mestinya digunakan. Menurutnya, untuk mengukur manfaat dan dampak pariwisata tidak sekedar menghitung dampak ekonomi hanya dengan mencari multiplier efeknya saja.</p>
<p><em>“</em><em>Sinclair and Sutcliffe (1988) discuss the complexities of estimating Keynesian income multipliers for tourism at the sub-national level”</em><em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan, Sinclair dan Sutcliffe (1988), menjelaskan bahwa pengukuran <strong><em>multiplier income</em></strong> untuk sektor pariwisata pada tingkat sub nasional memerlukan pemikiran dan data yang lebih kompleks disebabkan sering terjadinya <em>“</em><em>leakages” </em>kebocoran sehingga analisis ini sebaiknya dilakukan pada tingkat local regional tertentu dan <strong><em>leakages</em></strong> inilah yang mestinya harus diukur dan dibandingkan dengan manfaat yang  diharapkan.</p>
<p><em>“Heng and Low (1990) illustrates well the type of practical use which can be made of input-output analysis in considering the impact of tourism</em>”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih tegas, Heng dan Low (1990) pada tataran praktis, mereka menjelaskan bahwa untuk mengukur dampak pariwisata akan lebih baik menggunakan analisis <strong><em>input-output</em></strong>.</p>
<p><em>“Johnson and Moore (1993) concentrate on measuring the economic impact of a particular tourist activity and tourism resource”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tapi, Johnson dan Moore (1993) justru menitikberatkan bahwa pengukuran dampak ekonomi pariwisata akan lebih tepat dilakukan focus pada aktifitas wisata tertentu yang sedang berkembang pesat dan sumberdaya pariwisata yang dipergunakannya serta segala dampak-dampaknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“West (1993) uses a Social Accounting Matrix (SAM) to overcome the first problem and an integrated model to allow for changes in the relationship with the passage of time”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sementara West (1993) menawarkan SAM atau <strong><em>social accounting matrix</em></strong> untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu. Dia mengganggap bahwa analisis <strong><em>input-output</em></strong> dianggap belum mampu memecahkan persoalan dampak pariwisata karena hanya mengukur hubungan produser dengan produser dan tidak menyertakan perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor publik lainnya.</p>
<p><em>“Harris and Harris (1994) argue that “the study of tourism at the macro level (nation, State, region) is hindered by the absence of any standard industry classification for this kind of activity”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan akhirnya, Harris dan Harris (1994) mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata yang telah dilakukan saat ini pada tingkat nasional, dan regional cenderung mengabaikan ketiadaan standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata padahal standarisasi pada industri pariwisata ini membawa konsekuensi tersendiri terhadap biaya tambahan <strong><em>“others cost” </em></strong>baik bagi pelaku industri pariwisata dan masyarakat lokal itu sendiri.<strong><em> </em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<h3><strong>a) </strong><strong>Dampak Pariwisata terhadap Perekonomian</strong><strong> </strong></h3>
<p><a href="#_ftn4"><strong></strong><strong>[4]</strong></a><strong>Positive Economic Impacts of Tourism</strong><strong></strong></p>
<ol>
<li><strong><em>1. </em></strong><strong><em>Foreign Exchange Earnings</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>Pengeluaran sektor pariwisata akan menyebabkan perekonomian masyarakat local menggeliat dan menjadi stimulus berinvestasi dan menyebabkan sektor keuangan bertumbuh seiring bertumbuhnya sektor ekonomi lainnya.</p>
<p>Pengalaman di beberapa negara bahwa kedatangan wisatawan ke sebuah destinasi wisata juga menyebabkan bertumbuhnya bisnis valuta asing untuk memberikan pelayanan dan kemudahan bagi wisatawan selama mereka berwisata. Tercatat juga bahwa di beberapa negara di dunia 83% dari lima besar pendapatan mereka, 38% pendapatannya adalah berasal dari “<em>Foreign Exchange Earnings</em>” perdagangan valuta asing.</p>
<p><em>“</em><em>New Delhi, Feb 26 : Highlighting the tremendous growth potential offered by the tourism sector, the Economic Survey 2010-11 has said the country&#8217;s foreign</em><em> </em><em>exchang eearnings</em><em> </em><em>(FEE) from tourist arrivals grew by 24.56 percent in 2010 at 14,193 million dolllars as compared to 11,394 dollars million in 2009”</em><em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai contoh, bahwa pariwisata mampu menyumbangkan pendapatan untuk Negara India, berdasarkan hasil survey ekonomi India pada tahun 2010-11, bahwa akibat kedatangan wisatawan asing ke India pada tahun 2010 terjadi peningkatan pendapatan dari perdangan Valas sebesar 34,56% atau sebesar 14,193 Juta US Dolar meningkat jika dibandingkan tahun 2009 yang hanya sebesar 11,394 Juta US Dolar.</p>
<p><em>“Latest statistics from National Tourism Administration show that China&#8217;s foreign-exchange earnings from tourism exceeded US$5.1 billion in the first four months this year, an increase of 18.7 percent over the same period last year, 2010”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara pemerintah China mencapat bahwa sumbangan pariwisata  akibat perdagangan Valas  telah mencapai 5,1 Juta US Dolar untuk kurun waktu <em> </em>hanya empat bulan saja pada tahun 2010.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari kedua contoh tersebut sudah dianggap cukup menguatkan pendapat bahwa pembangunan pariwisata dapat meningkatkan pendapatan suatu Negara khususnya dari aktifitas perdagangan valuta asing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>2. </em></strong><strong><em>Contributions To Government Revenues</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapat diuraikan menjadi dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung berasal dari pajak pendapatan yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi.</p>
<p>Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang di <strong><em>import</em></strong> dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung.</p>
<p>Dalam kedua konteks di atas, WTO memprediksi bahwa usaha perjalanan wisata dan bisnis pariwisata tersebut secara langsung dan tidak langsung termasuk juga pajak perorangan telah berkontribusi terhadap pariwisata dunia melampaui <strong><em>US$ 800 billion</em></strong> pada tahun 1998, dan pada tahun 2010 berlipat dua kali jika dibandingkan tahun 1998.</p>
<p><em>“According to the study, tourism generated $19.7 billion of revenue for all three levels of government combined in Canada in 2007. Spending by Canadians accounted for three out of every four dollars taken in, while one in four dollars came from international visitors to Canada”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut penelitian, pariwisata Kanada menghasilkan $ 19, 7 Juta pendapatan untuk ketiga tingkat pemerintahan gabungan di Kanada pada tahun 2007. Dan Belanja Kanada menyumbang tiga dari setiap empat dolar, sementara satu dari empat dolar berasal dari wisatawan asing yang berwisata di Kanada.</p>
<p>“Tourism  makes  significant  direct  contributions  to  Government  revenues  through  the  sale  of  tickets  to  the Angkor  Complex  ($US  1.2 million),  visa  fees  ($US  3 million),  and  departure  taxes  at the  airports”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara pemerintah Komboja mencatat bahwa sector pariwisata secara langsung dan nyata telah memberikan sumbangan pendapatan bagi pemerintah melalui aktifitas penjualan tiket masuk wisatawan yang mengunjungi obyek wisata Angkor sebesar 1,2 Juta US Dolar, dari Visa sebesar 3 juta US Dolar, dan aktifitas  taksi dan aktifitas pelayanan di bandara.</p>
<p>Pada kedua studi kasus di atas, tidak dapat disangkal lagi bahwa pariwisata memang benar dapat meningkatkan pendapatan bagi pemerintah di mana pariwisata tersebut dapat dikembangkan dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>3. </em></strong><strong><em>Employment Generation</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>Pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir.</p>
<p><em>“Tourism employment is a measure of employment in tourism and non-tourism industries. It is based on an estimate of jobs rather than “hours of work”. Thus, someone who works 10 hours a week counts for as much, by this measure, as someone who works 50 hours a week”.</em> (Government Revenue Attributable to Tourism, 2007)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Canada Government Revenue Attributable to Tourism, (2007), mendifinisikan bahwa yang dimaksud “<em>Tourism employment</em>” adalah ukuran yang dipakai untuk mengukur besarnya tenaga kerja yang terserap secara langsung pada sector pariwisata termasuk juga besarnya tenaga kerja yang terserap di luar bidang pariwisata akibat keberadaan pembangunan pariwisata.  Dan WTO mencatat kontribusi sector pariwisata terhadap penyediaan lahan pekerjaan sebesar 7% secara internasional.</p>
<p><em>“Tourism Industry employs     large number of people and provides a wide range of jobs which extend from the unskilled to the highly specialises. Tourism is also responsible for creating employment outside the industry such as furnishing and equipment industry, souvenir industry, textile and handicraft industry, farming and    food supply and also construction industry” </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hasil studi pada dampak pembangunan pariwisata di Tripura, India menunjukkan bahwa industry pariwisata adalah industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mampu menciptakan peluang kerja dari peluang kerja untuk tenaga yang tidak terdidik sampai dengan tenaga yang sangat terdidik. Pariwisata juga menyediakan peluang kerja diluar bidang pariwisata khususnya peluang kerja bagi mereka yang berusaha secara langsung pada bidang pariwisata dan termasuk juga bagi mereka yang bekerja secara tidak langsung terkait industri pariwisata seperti usaha-usaha pendukung pariwisata; misalnya pertanian sayur mayor, peternak daging, supplier bahan makanan, yang akan mendukung operasional industri perhotelan dan restoran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan menurut Mitchell dan Ashley 2010, mencatat bahwa sumbangan pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja jika dibandingkan dengan sector lainnya menunjukkan angka yang cukup berarti, dan indeks terbesar terjadi  di Negara New Zealand sebesar 1,15 disusul oleh Negara Philipines, kemudian Chile, Papua New Guinea, dan Thailand sebesar 0,93. Sementara di Indonesia indeks penyerapan tenaga kerja dari sector pariwisata sebesar 0,74, masih lebih rendah jika dibandingkan Negara Afrika Selatan yang mencapai 0,84.</p>
<p>Dalam dua kasus di atas, pariwisata memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja di hampir semua Negara yang mengembangkan pariwisata, walaupun harus diakui sector pertanian “agriculture” masih lebih besar indeks penyerapannya dan berada di atas indeks penyerapan tenaga kerja oleh sector pariwisata di hampir semua Negara pada table di atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li><strong><em>4. </em></strong><strong><em>Infrastructure Development</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>Berkembangnya sektor pariwisata juga dapat mendorong pemerintah lokal untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik, penyediaan air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi umum dan fasilitas pendukung lainnya sebagai konsekuensi logis dan kesemuanya itu dapat meningkatkan kualitas hidup baik wisatawan dan juga masyarakat local itu sendiri sebagai tuan rumah.</p>
<p>Sepakat membangun pariwisata berarti sepakat pula harus membangun yakni daya tarik wisata “<strong><em>attractions</em></strong>” khususnya daya tarik wisata <em>man-made</em>, sementara untuk daya tarik alamiah dan budaya hanya diperlukan penataan dan pengkemasan. Karena Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi “<strong><em>accesable</em></strong>” akhirnya akan mendorong pemerintah untuk membangun jalan raya yang layak untuk angkutan wisata, sementara fasilitas pendukung pariwisata “<strong><em>Amenities</em></strong>” seperti hotel, penginapan, restoran juga harus disiapkan.</p>
<p>Pembangunan infrastruktur pariwisata dapa dilakukan secara mandiri ataupun mengundang pihak swasta nasional bahkan pihak investor asing khususnya untuk pembangunan yang berskala besar seperti pembangunan Bandara Internasional, dan sebagainya. Perbaikan dan pembangunan insfrastruktur pariwisata tersebut juga akan dinikmati oleh penduduk local dalam menjalankan aktifitas bisnisnya, dalam konteks ini masyarakat local  akan mendapatkan pengaruh positif dari pembangunan pariwisata di daerahnya.</p>
<ol>
<li><strong><em>5. </em></strong><strong><em>Development of Local Economies</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>Pendapatan sektor pariwisata acapkali digunakan untuk mengukur nilai ekonomi pada suatu kawasan wisata.  Sementara ada beberapa pendapatan lokal sangat sulit untuk dihitung karena  tidak semua pengeluaran wisatawan dapat diketahui dengan jelas seperti misalnya penghasilan para pekerja informal seperti sopir taksi tidak resmi, pramuwisata tidak resmi, dan lain sebagainya.</p>
<p>WTO memprediksi bahwa pendapatan pariwisata secara tidak langsung disumbangkan 100% secara langsung dari pengeluaran wisatawan pada suatu kawasan.  Dalam kenyataannya masyarakat local lebih banyak berebut lahan penghidupan dari sector informal ini, artinya jika sector informal bertumbuh maka masyarakat local akan mendapat menfaat ekonomi yang lebih besar.</p>
<p>Sebagai contoh, peran pariwisata bagi Provinsi Bali terhadap perekonomian daerah “PDRB” sangat besar bahkan telah mengungguli sector pertanian yang pada tahun-tahun sebelumnya memegang peranan penting di Bali. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada table berikut ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tabel: PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali, Sumber: BPS, 2009</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="559" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="235"><strong>Lapangan Usaha</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>(milyar rupiah)</strong></td>
<td><strong>2003</strong></td>
<td><strong>2004</strong></td>
<td><strong>2005</strong></td>
<td><strong>2006</strong></td>
<td><strong>2007</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="235">1. Pertanian</td>
<td>5.666,84</td>
<td>6.011,43</td>
<td>6.887,17</td>
<td>7.463,26</td>
<td>8.216,47</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">a.   Tanaman Bahan Makanan</td>
<td>2.770,40</td>
<td>3.004,40</td>
<td>3.391,28</td>
<td>3.608,72</td>
<td>3.944,28</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">b.   Tanaman Perkebunan</td>
<td>498,81</td>
<td>516,61</td>
<td>592,10</td>
<td>651,84</td>
<td>707,44</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">c.   Peternakan dan Hasil-hasilnya</td>
<td>1.435,70</td>
<td>1.468,57</td>
<td>1.792,73</td>
<td>1.988,97</td>
<td>2.182,55</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">d.   Kehutanan</td>
<td>1,56</td>
<td>1,60</td>
<td>1,76</td>
<td>1,95</td>
<td>2,28</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">e.   Perikanan</td>
<td>960,38</td>
<td>1.020,23</td>
<td>1.109,30</td>
<td>1.211,79</td>
<td>1.379,92</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">2. Pertambangan &amp;   penggalian</td>
<td>176,90</td>
<td>196,47</td>
<td>225,49</td>
<td>257,16</td>
<td>281,09</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">3. Industri pengolahan</td>
<td>2.384,64</td>
<td>2.610,13</td>
<td>2.950,81</td>
<td>3.254,65</td>
<td>3.804,93</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">4. Listrik, gas &amp; air   bersih</td>
<td>411,01</td>
<td>522,55</td>
<td>627,99</td>
<td>725,86</td>
<td>846,07</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">5. Bangunan</td>
<td>1.051,15</td>
<td>1.132,72</td>
<td>1.368,31</td>
<td>1.600,86</td>
<td>1.877,52</td>
</tr>
<tr>
<td width="235"><strong>6. Perdag., hotel &amp;   restoran</strong></td>
<td><strong>7.439,35</strong></td>
<td><strong>8.452,94</strong></td>
<td><strong>9.968,55</strong></td>
<td><strong>10.797,66</strong></td>
<td><strong>12.269,74</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="235">7. Pengangkutan &amp;   komunikasi</td>
<td>2.930,52</td>
<td>3.275,45</td>
<td>4.022,67</td>
<td>4.435,85</td>
<td>5.219,10</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">8. Keu. Persewaan, &amp;   jasa perusahaan</td>
<td>1.725,22</td>
<td>1.969,62</td>
<td>2.399,26</td>
<td>2.788,35</td>
<td>3.108,10</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">9. Jasa-jasa</td>
<td>4.382,31</td>
<td>4.815,27</td>
<td>5.496,23</td>
<td>6.064,82</td>
<td>6.713,39</td>
</tr>
<tr>
<td width="235"><strong>PDRB</strong></td>
<td><strong>26.167,94</strong></td>
<td><strong>28.986,60</strong></td>
<td><strong>33.946,47</strong></td>
<td><strong>37.388,48</strong></td>
<td><strong>42.336,42</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="#_ftn5"><strong></strong><strong>[5]</strong></a><strong>Negative Economic Impacts of Tourism</strong></p>
<ol>
<li><strong><em>1. </em></strong><strong><em>Leakage</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p><strong><em>Leakage</em></strong> atau kebocoran dalam pembangunan pariwisata dikategorikan menjadi dua jenis kebocoran yaitu keboran <strong><em>import</em></strong> dan kebocoran <strong><em>export</em></strong>. Biasanya kebocoran <strong><em>import</em></strong> terjadi ketika terjadinya permintaan terhadap peralatan-peralatan yang berstandar internasional yang digunakan dalam industri pariwisata, bahan makanan dan minuman <strong><em>import</em></strong> yang tidak mampu disediakan oleh masyarakat lokal atau dalam negeri. Khususnya pada negara-negara berkembang, makanan dan minuman yang berstandar internasional harus di datangkan dari luar negeri dengan alasan standar yang tidak terpenuhi, dan akibatnya produk lokal dan masyarakat lokal sebagai produsennya tidak biasa memasarkan produknya untuk kepentingan pariwisata tersebut.</p>
<p>Besarnya pendapatan dari sektor pariwisata juga diiringi oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan <strong><em>import</em></strong> terhadap produk yang dianggap berstandar internasional. Penelitian dibeberapa destinasi pada negara berkembang, membuktikan bahwa tingkat kebocoran terjadi antara 40% hingga 50% terhadap pendapatan kotor dari sektor pariwisata, sedangkan pada skala perekonomian yang lebih kecil, kebocoran terjadi antara 10% hingga 20%.</p>
<p>Sedangkan kebocoran <strong><em>export</em></strong> seringkali terjadi pada pembangunan destinasi wisata khususnya pada negara miskin atau berkembang yang cenderung memerlukan modal dan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya. Kondisi  seperti ini, akan mengundang masuknya penanam modal asing yang memiliki modal yang kuat untuk membangun <strong><em>resort</em></strong> atau hotel serta fasilitas dan infrastruktur pariwisata, sebagai imbalannya, keuntungan usaha dan investasi mereka akan mendorong uang mereka kembali ke negara mereka tanpa bisa dihalangi, hal inilah yang disebut dengan <em>“leakage”</em> kebocoran <strong><em>export.</em></strong></p>
<p>Hal ini membenarkan pendapat dari Sinclair dan Sutcliffe (1988), yang menjelaskan bahwa pengukuran manfaat ekonomi dari sektor pariwisata pada tingkat sub nasional harunya menggunakan pemikiran dan data yang lebih kompleks untuk menghindari terjadinya <em>“</em><em>leakages” </em>kebocoran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>2. </em></strong><strong><em>Enclave Tourism</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>“<em>Enclave tourism</em>” sering diasosiasikan bahwa sebuah destinasi wisata dianggap hanya sebagai tempat persinggahan sebagai contohnya, sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar dimana mereka hanya singgah pada sebuah destinasi tanpa melewatkan malam atau menginap di hotel-hotel yang telah disediakan industri lokal sebagai akibatnya dalam kedatangan wisatawan kapal pesiar tersebut manfaatnya dianggap sangat rendah atau bahkan tidak memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat di sebuah destinasi yang dikunjunginya.</p>
<p>Kenyataan lain yang  menyebabkan <em>“enclave” </em> adalah kedatangan wisatawan yang melakukan perjalan wisata yang dikelola oleh biro perjalanan wisata asing dari “<em>origin country</em>”  sebagai  contohnya, mereka menggunakan maskapai penerbangan milik perusahaan mereka sendiri<em>, </em>kemudian mereka menginap di sebuah hotel yang di miliki oleh manajemen chain dari negara mereka sendiri, berwisata dengan armada dari perusahaan chain milik pengusaha mereka sendiri, dan dipramuwisatakan oleh pramuwisata dari negerinya sendiri, dan sebagai akibatnya masyarakat lokal tidak memperoleh manfaat ekonomi secara optimal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>3. </em></strong><strong><em>Infrastructure Cost</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>Tanpa disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang berstandar internasional dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi pemerintah dan akibatnya cenderung akan dibebankan pada sektor pajak dalam artian untuk membangun infratruktur tersebut, pendapatan sektor pajak harus ditingkatkan artinya pngutan pajak terhadap masyarakat harus dinaikkan.</p>
<p>Pembangunan pariwisata juga mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan kualitas bandara, jalan raya, dan infrastruktur pendukungnya, dan tentunya semua hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit dan sangat dimungkinkan pemerintah akan melakukan <strong><em>re-alokasi</em></strong> pada anggaran sektor lainnya seperti misalnya pengurangan terhadap anggaran pendidikan dan kesehatan.</p>
<p>Kenyataan di atas menguatkan pendapat Harris dan Harris (1994) yang mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata harusnya menyertakan faktor standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata yang sering dilupakan pada analisis dampak pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>4. </em></strong><strong><em>Increase in Prices (Inflation)</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan akan menyebabkan meningkatnya harga secara beruntun “<strong><em>inflalsi</em></strong>” yang pastinya akan berdampak negative bagi masyarakat lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami peningkatan pendapatan secara proporsional artinya jikalau pendapatan masyarakat lokal meningkat namun tidak sebanding dengan peningkatan harga-harga akan menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah.</p>
<p>Pembangunan pariwisata juga berhubungan dengan meningkatnya harga sewa rumah, harga tanah, dan harga-harga <strong><em>property</em></strong> lainnya sehingga sangat dimungkinkan masyarakat lokal tidak mampu membeli dan cenderung akan tergusur ke daerah pinggiran yang harganya masih dapat dijangkau.</p>
<p>Sebagai konsukuensi logiz, pembangunan pariwisata juga berdampak pada meningkatnya harga-harga barang konsumtif, biaya pendidikan, dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga pemenuhan akan kebutuhan pokok justru akan menjadi sulit bagi penduduk lokal. Hal ini juga sering dilupakan dalam setiap pengukuran manfaat pariwisata terhadap perekonomian pada sebuah Negara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>5. </em></strong><strong><em>Economic Dependence</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>Keanekaragaman industri dalam sebuah perekonomian menunjukkan sehatnya sebuah negara, jika ada sebuah negara yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor tertentu seperti pariwisata misalnya, akan menjadikan sebuah negara menjadi tergantung pada sektor pariwisata sebagai akibatnya ketahanan ekonomi menjadi sangat beresiko tinggi.</p>
<p>Di beberapa negara, khususnya negara berkembang yang memiliki sumberdaya yang terbatas memang sudah sepantasnya mengembangkan pariwisata yang dianggap tidak memerlukan sumberdaya yang besar namun pada negara yang memiliki sumberdaya yang beranekaragam harusnya dapat juga mengembangkan sektor lainnya secara proporsional.</p>
<p>Ketika sektor pariwisata dianggap sebagai anak emas, dan sektor lainnya dianggap sebagai anak diri, maka menurut Archer dan Cooper (1994), penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harusnya menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya. Ketergantungan pada sebuah sektor, dan ketergantungan pada kedatangan orang asing dapat diasosiasikan hilangnya sebuah kemerdekaan sosial dan pada tingkat nasional, sangat dimungkinkan sebuah negara akan kehilangan kemandirian dan sangat tergantung pada sektor pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>6. </em></strong><strong><em>Seasonal Characteristics</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p>Dalam Industri pariwisata, dikenal adanya musim-musim tertentu, seperti misalnya musim ramai <strong><em>“high season”</em></strong> dimana kedatangan  wisatawan akan mengalami puncaknya, tingkat hunian kamar akan mendekati tingkat hunian kamar maksimal dan kondisi ini akan berdampak meningkatnya pendapatan bisnis pariwisata. Sementara dikenal juga musim sepi “<strong><em>low season</em></strong>” di mana kondisi ini rata-rata tingkat hunian kamar tidak sesuai dengan harapan para pebisnis sebagai dampaknya pendapatan indutri pariwisata juga menurun hal ini yang sering disebut “<strong><em>problem seasonal</em></strong>”</p>
<p>Sementara ada kenyataan lain yang dihadapi oleh para pekerja, khususnya para pekerja informal seperti sopir taksi, para pemijat tradisional, para pedagang acung, mereka semua sangat tergantung pada kedatangan wisatawan, pada kondisi <strong><em>low season</em></strong> sangat dimungkinkan mereka tidak memiliki lahan pekerjaan yang pasti.</p>
<p>Kenyataan di  atas, menguatkan pendapat West (1993) yang menawarkan SAM atau <strong><em>social accounting matrix</em></strong> untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu, kebermanfaatan pariwisata terhadap ekonomi harusnya berlaku proporsional untuk semua musim, baik musim sepi maupun musim ramai wisatawan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<h3><strong>b) </strong><strong>Refleksi terhadap Pariwisata Bali</strong><strong></strong></h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Peran pariwisata bagi provinsi Bali dalam pembangunan menunjukkan<em> </em>kecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Jika dilihat peranan pariwisata dalam kontribusinya terhadap PDRB Bali, maka terlihat adanya peningkatan yang nyata. Pada tahun 2003, PDRB dari pariwisata sebesar 28,43 %,  kemudian meningkat menjadi 29,16% pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 meningkat lagi menjadi 29,37%. Sementara pada tahun 2006 kontribusi sector pariwisata terhadap PDRB Bali sedikit mengalami penurunan menjadi 28,88 sementara pada tahun 2007 meningkat kembali menjadi 28,98%.</p>
<p>Tabel perbandingan contributor (lapangan usaha) terhadap PDRB Bali, dapat dilihat seperti table dibawah ini:</p>
<p>Tabel: <a href="#_ftn6">[6]</a>Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="559" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="235"><strong>Lapangan Usaha</strong><strong> (%)</strong></td>
<td><strong>2003</strong></td>
<td><strong>2004</strong></td>
<td><strong>2005</strong></td>
<td><strong>2006</strong></td>
<td><strong>2007</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="235">1. Pertanian</td>
<td>21,66</td>
<td>20,74</td>
<td>20,29</td>
<td>19,96</td>
<td>19,41</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">a. Tanaman Bahan Makanan</td>
<td>10,59</td>
<td>10,36</td>
<td>9,99</td>
<td>9,65</td>
<td>9,32</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">b. Tanaman Perkebunan</td>
<td>1,91</td>
<td>1,78</td>
<td>1,74</td>
<td>1,74</td>
<td>1,67</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">c. Peternakan dan Hasil-hasilnya</td>
<td>5,49</td>
<td>5,07</td>
<td>5,28</td>
<td>5,32</td>
<td>5,16</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">d. Kehutanan</td>
<td>0,01</td>
<td>0,01</td>
<td>0,01</td>
<td>0,01</td>
<td>0,01</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">e. Perikanan</td>
<td>3,67</td>
<td>3,52</td>
<td>3,27</td>
<td>3,24</td>
<td>3,26</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">2. Pertambangan &amp; penggalian</td>
<td>0,68</td>
<td>0,68</td>
<td>0,66</td>
<td>0,69</td>
<td>0,66</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">3. Industri pengolahan</td>
<td>9,11</td>
<td>9,00</td>
<td>8,69</td>
<td>8,70</td>
<td>8,99</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">4. Listrik, gas &amp; air bersih</td>
<td>1,57</td>
<td>1,80</td>
<td>1,85</td>
<td>1,94</td>
<td>2,00</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">5. Bangunan</td>
<td>4,02</td>
<td>3,91</td>
<td>4,03</td>
<td>4,28</td>
<td>4,43</td>
</tr>
<tr>
<td width="235"><strong>6. <a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a>Perdag.,   hotel &amp; restoran</strong></td>
<td><strong>28,43</strong></td>
<td><strong>29,16</strong></td>
<td><strong>29,37</strong></td>
<td><strong>28,88</strong></td>
<td><strong>28,98</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="235">7. Pengangkutan &amp; komunikasi</td>
<td>11,20</td>
<td>11,30</td>
<td>11,85</td>
<td>11,86</td>
<td>12,33</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">8. Keu. Persewaan, &amp; jasa perusahaan</td>
<td>6,59</td>
<td>6,79</td>
<td>7,07</td>
<td>7,46</td>
<td>7,34</td>
</tr>
<tr>
<td width="235">9. Jasa-jasa</td>
<td>16,75</td>
<td>16,61</td>
<td>16,19</td>
<td>16,22</td>
<td>15,86</td>
</tr>
<tr>
<td width="235"><strong>PDRB</strong></td>
<td><strong>100,00</strong></td>
<td><strong>100,00</strong></td>
<td><strong>100,00</strong></td>
<td><strong>100,00</strong></td>
<td><strong>100,00</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: BPS, 2009</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara menurut Suarsana (2011) peningkatan  terjadi pada semua sektor ekonomi, di mana sektor perdagangan, hotel dan restoran masih tetap merupakan sektor andalan, karena mampu memberikan nilai tambah terbesar, yakni Rp 20,02 triliun. Selain itu sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang cukup besar yakni Rp 12,10 triliun serta sektor pengangkutan dan komunmikasi sebesar Rp 8,63 triliun.</p>
<p><a href="#_ftn8">[8]</a>Perkembangan terakhir, lebih lanjut dikatakan bahwa untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran  mengalami pertumbuhan sebesar 8,7 persen memberikan sumbangan terhadap sumber pertumbuhan terbesar terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan yang memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2 persen.7% (Nusa Bali, 2011)</p>
<p>Karena begitu pesatnya perkembangan pariwisata Bali khususnya dalam kontribusi terhadap PDRB bila  dibandingkan sector lainnya termasuk juga dengan sector Pertanian, seiring adanya otonomi daerah yang berada pada kendali kabupaten, ditengarahi factor inilah yang menyebabkan pemerintah daerah Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Bali ingin menggalakkan sector pariwisata sebagai penggerak  perekonomian di daerahnya masing-masing.</p>
<p>Berikut Check List Pra-Obervasi kelayakan Pengembangan dan pembangunan Pariwisata di masing-masing kabupaten dalam konteks refleksi Bali dari dimensi ekonomi, yang tersaji dalam tabel berikut ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tabel Check List Pra-Obervasi kelayakan Pengembangan dan pembangunan Pariwisata dikaitkan dengan konsep 4A “Tourism product” dan kemampuan daya dukung Kabupaten berhubungan dengan potensi pengembangan Pariwisata.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top">No</td>
<td rowspan="2" valign="top">Atribut</td>
<td colspan="9" valign="top">Kabupaten/Kota</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Dps</td>
<td valign="top">Bdg</td>
<td valign="top">Gyr</td>
<td valign="top">Klk</td>
<td valign="top">Bli</td>
<td valign="top">Krs</td>
<td valign="top">Bll</td>
<td valign="top">Tbn</td>
<td valign="top">Jbr</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">1</td>
<td valign="top">Keragaman Daya Tarik (<em>Attraction)</em></td>
<td valign="top">****</td>
<td valign="top">****</td>
<td valign="top">****</td>
<td valign="top">***</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">***</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">*</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">2</td>
<td valign="top">Jarak dan waktu Tempuh (<em>Accesable</em>)</td>
<td valign="top">****</td>
<td valign="top">****</td>
<td valign="top">***</td>
<td valign="top">***</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">*</td>
<td valign="top">***</td>
<td valign="top">*</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">3</td>
<td valign="top">Fasilitas (<em>Amenities</em>),</td>
<td valign="top">****</td>
<td valign="top">****</td>
<td valign="top">***</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">*</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">4</td>
<td valign="top">Lembaga   Pariwisata (<em>Ancillary</em>).</td>
<td valign="top">****</td>
<td valign="top">****</td>
<td valign="top">***</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">*</td>
<td valign="top">**</td>
<td valign="top">*</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Catatan: Dps: Denpasar, Bdg: Badung, Gyr: Gianyar, Klik: Klungkung, Bll: Buleleng, Tbn: Tabanan, Jbr: Jembrana</p>
<p>* : Kurang Layak, ** : Layak, *** : Sangat Layak, **** : Sangat layak dan telah populer</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam konteks pembangunan pariwisata, dihubungkan dengan konsep 4A, yakni daya tarik wisata “<strong><em>attractions</em></strong>”, Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi diukur dari bandara “<strong><em>accesable</em></strong>”, Adanya Fasilitas pendukung pariwisata “<strong><em>Amenities</em></strong>”, adanya lembaga pariwisata “a<strong><em>ncillary</em></strong>” maka Kodya Denpasar dan Kabupaten Badung paling layak mengandalkan sector pariwisata sebagai penggerak perekonomian daerah, kemudian disusul oleh Kabupaten Gianyar, Klungkung, dan Tabanan, sementara Kabupaten Buleleng dan Bangli cukup layak dikembangkan, sementara Kabupaten Jembrana masih belum layak mengandalkan pariwisata sebagai penggerak perekonomian daerah karena lemahnya empat atribut pariwisata tersebut.</p>
<p>Sementara untuk melakukan pemeratan pembangunan di semua kabupaten dan kota yang ada di Bali, sebaiknya pemerintah provinsi dapat membuat consensus bersama untuk penentuan skala prioritas pembangunan berdasarkan keunggulan daerah masing-masing; siapa yang menjadi pusat pariwisata, dan siapa sebagai pendukungnya, bagaimana system pemerataan yang ideal, serta penentuan komposisi alokasi kontribusi pariwisata terhadap pembangunan daerah di provinsi Bali. Sebaiknya pula, dalam setiap perencanaan pembangunan pariwisata harusnya menyertakan variable-variabel non ekonomi, baik yang <strong><em>tangible</em></strong> maupun <strong><em>intangible</em></strong>, dan dapat dievalusi setiap saat untuk mengurangi dampak <strong><em>negative</em></strong> dengan menerapkan konsep <strong><em>“</em></strong><strong><em>Managing Service Quality” one island in one management destination.</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Penutup</strong><strong></strong></h2>
<p>Pariwisata secara nyata berpengaruh positif terhadap perekonomian pada sebuah negara atau destinasi seperti (1)pendapatan devisa dan pemicu investasi “<em>foreign exchange earnings”, </em>(2)pendapatan untuk pemerintah “<em>contributions to government revenues”</em>, (3)penyediaan dan penciptaan lahan pekerjaan “<em>employment generation”</em>, (4)pembangunan dan perbaikan infrastruktur baik untuk host maupun tourist “<em>infrastructure development”</em>, (5)pemicu pembangunan perekonomian lokal “<em>development of local economies”. </em></p>
<p><em> </em>Namun pariwisata masih sangat disesalkan pula karena pariwisata juga menyisakan beberapa masalah seperti (1)<em> </em>terjadi kebocoran terhadap neraca perdagangan “<em>leakage”</em><em>, (2)</em>usaha tanpa manfaat “<em>enclave”, (3)</em>biaya tersembunyi “<em>hidden cost” </em> khususnya yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam, serta degradasi budaya dan sosial<em>, (4)</em>ketergantungan terhadap sector pariwisata “<em>depence”</em> padahal sector ini sangat rentan terhadap krisis politik, ekonomi dunia, bencana alam dan sejenisnya<em>, (5)</em>pemicu peningkatan harga-harga yang tidak dikehendaki oleh masyarakat local “<em>inflasi”, (6)</em>ketidak pastian penghasilan dan pekerjaan bagi sebagian besar pekerja pariwisata “<em>seasonal uncertenty”<strong></strong></em></p>
<p>Sebaiknya dalam setiap perencanaan pembangunan pariwisata harusnya menyertakan variable-variabel non ekonomi, baik yang <strong><em>tangible</em></strong> maupun <strong><em>intangible</em></strong>, dan dapat dievalusi setiap saat untuk mengurangi dampak <strong><em>negative</em></strong> dengan menerapkan konsep <strong><em>“</em></strong><strong><em>Managing Service Quality” one island in one management destination.</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Archer, B. and Cooper, C. (1994) “The Positive and Negative Impacts of Tourism”. Pp. 73-91 in W.F. Theobald (ed.) <em>Global Tourism: The Next Decade</em>, Butterworth-Heinemann, Oxford.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Archer, B.H. (1982) “The Value of Multipliers and the Policy Implications”, <em>Tourism</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Board, J., Sinclair, T. and Sutcliffe, C. (1987) “A Portfolio Approach to Regional Tourism”, <em>Built Environment</em>, <strong>13</strong>(2), 124-137.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Butler, R.W. (1980) “The Concept of a Tourist Area Cycle of Evolution: Implications for the Management of Resources”, <em>The Canadian Geographer</em>, <strong>24</strong>, 5-12.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Canada  Government Revenue Attributable to Tourism, 2007. Research Paper: <strong>Income and Expenditure Accounts Technical Series: </strong>Catalogue no. 13-604-M — No. 60</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005),<strong> Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 – 2009</strong>, Jakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fletcher, J.E. (1989) “Input-Output Analysis and Tourism Impact Studies”, <em>Annals of Tourism Research</em>, <strong>16</strong>, 514-529.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Government of India Ministry of Tourism And Culture Department of Tourism Market Research Division 20 Years Perspective Plan For The Sustainable Development of Tourism In The State Of Tripura (january 2003): ‘The designers’ ‘brindavan’, 227, raj mahal vilas extn. Ii first main road bangalore, karnataka – 560 094</p>
<p><em> </em></p>
<p>Heng, T.M. and Low, L. (1990) “Economic Impact of Tourism in Singapore”, <em>Annals of Tourism Research</em>, <strong>17, </strong>246-269<strong>. </strong><em>Management</em>, <strong>3</strong>(4), 236-241.<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>India: Infrastructure Development Investment Program  for Tourist: Project Number: 40648  August 2010, retrieve from <a href="http://www.adb.org/Documents/FAMs/IND/40648-01-ind-fam.pdf">http://www.adb.org/Documents/FAMs/IND/40648-01-ind-fam.pdf</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jay Kandampully, (2000) &#8220;The impact of demand fluctuation on the quality of service: a tourism industry example&#8221;, Managing Service Quality, Vol. 10 Iss: 1, pp.10 – 19</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NusaBali, Selasa 8 Pebruari 2011 Pertumbuhan Ekonomi Bali 5,83 Persen</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pitana, I Gde.  2005. <em>Sosiologi Pariwisata, Kajian sosiologis terhadap struktur, sistem, dan dampak-dampak pariwisata.</em> Yogyakarta: Andi Offset</p>
<p>Sapta Nirwandar (2011) Pembangunan Sektor Pariwisata: Di Era Otonomi Daerah, di unduh pada 21 Maret 2011 pada <a href="http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1">http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sinclair, M.T. (1991) “The Economics of Tourism”. Pp.1-27 in C.P. Cooper and A. Lockwood (Eds) <em>Progress in Tourism, Recreation and Hospitality Management</em>, <strong>3</strong>, John Wiley, Chichester, UK.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Spillane, James.1993. <em>Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.</em>Yogyakarta: Kanisius.</p>
<p>Tisdell, Clem, 1998. <em>Wider Dimensions of Tourism Economics – Impact Analysis, International Aspects, Tourism And Economic Development, And Sustainability And Environmental Aspects </em>Department of Economics: The University of Queensland, Brisbane 4072</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tourism Vision 2020 – UNWTO: <strong>pada </strong>http://pandeputusetiawan.wordpress.com<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>United Nation-World Tourism Organization (2005),<strong> </strong><strong>Tourism Highlight 2005</strong>, UN-WTO, Madrid<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 – 2009</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <strong>Tourism Highlight 2005</strong>, UN-WTO, Madrid</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Economic Impact of Tourism in Global Context</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Positive Economic Impacts of Tourism<strong></strong></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Negative Economic Impacts of Tourism<strong></strong></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Sektor Usaha Pariwisata meliputi: Perdag., hotel &amp; restoran</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> NusaBali, Selasa 8 Pebruari 2011 Pertumbuhan Ekonomi Bali 5,83 Persen</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=244&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/10/dimensi-ekonomi-pariwisata-kajian-terhadap-dampak-ekonomi-dan-refleksi-dampak-pariwisata-terhadap-pembangunan-ekonomi-provinsi-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Power Distance on Global Tourism</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/30/power-distance-on-global-tourism/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/30/power-distance-on-global-tourism/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 01:51:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[More Equal Than Others: Small vs. large power distance Oleh: I Gusti Bagus Rai Utama, MA Mahasiswa Program Doktor Pariwisata, Universitas Udayana Bali Inequality in Society Hofsede[1] (bapak dan anak) adalah seorang sosiolog yang sangat berpengaruh dan popular di kalangan sosiologi organisasi di Belanda, pokok studinya adalah tentang budaya dan organisasi, konsekuensi budaya terhadap organisasi, dimana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=236&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>More Equal Than Others: <em>Small vs. large power distance</em></strong></h2>
<div>
<div>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>Oleh: I Gusti Bagus Rai Utama, MA</strong></p>
<p><strong>Mahasiswa Program Doktor Pariwisata, Universitas Udayana Bali</strong></p>
<h2><strong>Inequality in Society</strong><strong> </strong></h2>
<p>Hofsede<a href="http://bahankuliah.wordpress.com/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester2/Pariwisata%20Global/Bendesa/ok-More%20Equal%20Than%20Others.doc#_ftn1">[1]</a> (bapak dan anak) adalah seorang sosiolog yang sangat berpengaruh dan popular di kalangan sosiologi organisasi di Belanda, pokok studinya adalah tentang budaya dan organisasi, konsekuensi budaya terhadap organisasi, dimana mereka menggambarkan bahwa terdapat bangsa dan budaya pada sebuah kawasan akan mempengaruhi perilaku masyarakat dan organisasi, dan cenderung bersifat permanen dalam waktu yang cukup panjang. Pusat perhatiannya, adalah mengukur inequality yang selanjutnya disebut power distance index yang dapat dipakai sebagai ukuran inequality dalam sebuah masyarakat.</p>
<p>Melihat kenyataan sehari-hari, pada suatu Negara, kelompok, maupun  kelas masyarakat tertentu, akan sangat mudah ditemukan adanya ketidaksamaan dalam beberapa hal yang cukup memberikan warna dalam keberlanjutan hidupnya.</p>
<p>Ada kelompok masyarakat yang minoritas berhadapan dengan kelompok mayoritas, ada kelompok masyarakat yang memiliki pengaruh yang kuat dihadapkan pada masyarakat yang lemah, ada kelompok masyarakat yang miskin dihadapkan pada kelompok masyarakat yang kaya, dan banyak lagi contoh <strong><em>inequality </em></strong>pada masyarakat. <strong><em>Small vs. large power distance</em></strong> akan menjadi perdebatan khusus pada bagian sub-bab more equal than others. Karakter budaya sebuah masyarakat akan dapat diukur berdasarkan kecil-besarnya power distance yang dimiliki oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat.<strong><br />
</strong><strong> </strong></p>
<p><strong></strong><strong>Measuring The Degree of Inequality in Society: The Power Distance Index (PDI</strong><strong>)</strong></p>
<p>Jika inequality dimaknai sebagai sebuah ketidakadilan, dalam konteks pengukuran PDI, ketidakadilan tersebut akan terukur dalam sebuah index, dan semakin kecil PDI berarti ketidakadilan semakin sedikit, dan semakin besar PDI<a href="http://bahankuliah.wordpress.com/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester2/Pariwisata%20Global/Bendesa/ok-More%20Equal%20Than%20Others.doc#_ftn2">[2]</a> maka ketidakadilan akan semakin banyak terjadi.</p>
<p>Pada sebuah Budaya yang memiliki PDI yang kecil seperti Australia, Costarika, Germany, Norwegia, Finlandia, Swedia; kehidupan masyarakat akan cenderung menerima hubungan dengan orang lain dengan cara lebih konsultatif atau demokratis dan cara pandang mereka terhadap anggota masyarakat lainnya cenderung sama pada posisi formal misalnya. Akan berbeda dengan kondisi pada masyarakat dengan PDI yang besar misalnya Malaysia dan Slovakia akan memandang hubungan dengan anggota masyarakat lainnya secara hirarki, misalnya ada Bos dan anak buahnya, ada tuan dan pembantunya, ada guru dan muridnya semua dipandang sebagai sebuah hirarki yang tidak dianggap sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Power Distance Defined</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika  PDI dilihat berdasarkan 3 pertanyaan mendasar yang sering terjadi di sebuah masyarakat, yakni: Adakah ketakutan karyawan kepada atasannya?, Bos yang yang autokratik atau paternalistic?, bagaimana seseorang memandang lingkungan pekerjaan sehari-harinya? Ketiganya akan menunjukkan lingkungan kerja seperti apakah yang mereka inginkan?</p>
<p>Dalam beberapa kasus pada tingkat lintas Negara, ketiga hal tersebut di atas menunjukkan adanya hubungan yang nyata dan cenderung membentuk anggapan dan kenyataan yang mirip. Artinya jika karyawan memandang atasannya tidak dengan rasa takut maka dapat diartikan bahwa atasannya bersifat autokratik,  begitu juga sebaliknya. Lebih lanjut, dapat ditentukan berdasarkan pengukuran PDI, bahwa PDI dapat memberikan informasi tentang Negara mana sajakah yang memiliki PDI yang kecil dan Negara yang mana memiliki PDI yang besar. Sehingga Power distance dapat dimaknai sebagai jarak kekuasaan dalam sebuah masyarakat yang nampak pada perilaku kelompok yang berkuasa dalam mendistribusikan kekuasaannya pada sebuah masyarakat. PDI dapat dilihat pada skala yang lebih kecil dalam masyarakat seperti keluarga, sekolah, komunitas, organisasi, yang merupakan tempat dimana mereka/manusia menghabiskan waktunya setiap harinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Power Distance in Replication Studies</h2>
<p>Enam penelitian yang telah dipublikasikan pada tahun 1990 sampai 2002, yang merupakan hasil penelitian pada 28 negara. Dengan menggunakan dua sampel data yaitu kelompok masyarakat yang berhubungan langsung dengan kekuasaan dan kelompok masyarakat yang tidak berhubungan secara langsung dengan kekuasaan seperti murid sekolah dan  ibu rumah tangga, walaupun mereka bekerja tetapi tidak mendapat bayaran seperti pekerja lainnya.</p>
<p>Hasil penelitian terhadap kelompok masyarakat yang berhubungan langsung dengan kekuasaan menunjukkan hasil bahwa IBM set menghasilkan korelasi yang signifikan antara PDI dan IBM score.</p>
<p>Sementara survey Bond’s Chinese pada 23 negara menunjukkan bahwa dimensi moral berkorelasi significan terhadap PDI. Murid-murid pada Negara-nagara yang memiliki PDI yang besar dalam praktek keseharian menunjukan bahwa mereka cenderung menikmati beberapa keinginan, cenderung memilih jalan tengah, lebih suka menyimpan keinginan dalam dirinya sendiri. Di lain pihak, dalam kondisi dimana terdapat ketidakadilan masyarakat kedua seperti mahasiswa cenderung tidak memiliki aspirasi, namun pada Negara-nagara dengan PDI yang kecil akan cenderung memilih perilaku adaptasi, berhati-hati dalam bertindak.</p>
<p>Pada masyarakat yang egaliter, jika terjadi permasalahan yang tidak dapat dipecahkan oleh seseorang yang memiliki kekuasaan, mahasiswa atau kelompok pelajar akan memegang peran penting.</p>
<h2><strong>Power Distance Differences Within Countries: Social Class, Educational Level, And Occupation</strong><strong></strong></h2>
<p>Untuk mengukur perbedaan power distance pada setiap Negara, digunakan tiga kelompok sumberdata yakni kelompok kelas social, kelompok strata pendidikan, dan kelompok pekerjaan. Ketidakadilan diantara masyarakat masih tetap ada pada kelompok kelas social, ada kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah, dan ketiga kelas social tersebut cukup bervariasi pada setiap Negara.</p>
<p>Masing-masing kelas dibedakan berdasarkan peluang untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, faktanya kelompok yang berasal minimal dari kelas menengah akan mendapatkan akses lebih untuk mendapatkan pendidikan dibandingkan kelompok kelas bawah. Karena pendidikan juga berhubungan dengan peluang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, maka pekerjaan yang lebih baik juga ditempati oleh kedua kelompok tersebut yang lebih mudah mendapatkan akses pendidikan. Pada hasil pengukuran PDI pada beberapa Negara, kelompok yang berada pada status terbawah dengan pendidikan terbawah cenderung memiliki PDI yang besar.</p>
<h2>Measures Associated With Power Distance: The Structure in This And Following Chapter</h2>
<p>Perbedaan power distance pada banyak Negara akan berhubungan dengan perbedaan pada sebuah keluarga, sekolah, dunia kerja atau perusahaan, Negara bagian atau provinsi, yang membentuk power distance pada sebuah Negara. Analisis kuantitatif akan mengacu pada hasil PDI, sedangkan masih banyak hal yang tidak dapat dijelaskan oleh PDI akan digunakan analisis kualitatif khususnya yang berhubungan dengan keluarga, sekolah, tempat bekerja dan sebagainya yang selanjutnya akan menjawab culture’s consequences atau konsekuensi dari sebuah budaya.</p>
<h2>Power Distance Difference between Countries: Roots in the Family</h2>
<p>Menurut Hofsede, hampir semua manusia dilahirkan pada sebuah keluarga, semua manusia memulai mental software-nya setelah dia lahir, kemudian dipengaruhi oleh orangtua mereka, melalui contoh dan keteladanan yang akhirnya membentuk karakter seseorang.</p>
<p>Dalam kasus dengan PDI yang besar, anak-anak diharapkan menjadi anak-anak yang patuh pada orangtua mereka, anak-anak yang lebih mudah diharapkan patuh dan menurut pada kakak-kakak mereka, kebebasan seorang anak dibatasi oleh aturan-aturan yang tidak tertulis tersebut.</p>
<p>Namun pada kasus dengan PDI yang kecil, semua anak-anak memiliki persamaan yang cukup merata dalam bertindak, pendidikan terhadap anak-anak diarahkan untuk menjadikan anak-anak menjadi mandiri dan dapat menjaga diri mereka sesegera mungkin. Anak-anak dan orang tua berbeda pendapatnya tidak akan dipermasalahkan, ketika anak-anak bertumbuh menjadi dewasa, hubungan anak-anak dan orang tua bagaikan hubungan antara sesama teman.</p>
<h2>Power Distance At School</h2>
<p>Hampir disemua masyarakat saat ini, anak-anak bersekolah dan mereka akan menghabiskan beberapa tahun untuk menyelesaikan sekolah sebelum mereka benar-benar bekerja mandiri, tentu saja pembentukan karakter seseorang juga akan dipengaruhi oleh lingkungan sekolah yang didalamnya terdapat guru-guru mereka, teman-teman mereka, dan juga lingkungan atau atmosphere sekolahnya.</p>
<p>Pada kasus dengan PDI besar, hubungan antara anak dan orangtua dibatasi oleh  skat power distance, hubungan murid dan guru memiliki jarak yang kental, dimana guru menjadi pusat perhatian dan guru harus diikuti, celah untuk mendebat dan berdebat dengan guru masih belum biasa dilakukan.</p>
<p>Namun pada kasus dengan PDI kecil, proses belajar dilakukan secara student centered, inisiatif lebih banyak dilakukan oleh para siswa atau problem base learning, guru hanya berfungsi sebagai expert, berdebatan dalam kelas sudah biasa terjadi, pola pengembangan pendidikan lebih menekankan pada sekolah lanjutan bukan Universitas seperti yang terjadi pada PDI besar.</p>
<h2>Power Distance in the Workplace</h2>
<p>Pembentukan budaya kerja dimulai setelah seseorang mendapatkan pengalaman yang mungkin berasal dari keluarga atau lingkungan saat mereka bersekolah. Sangat dimungkinkan jika seseorang meniru perilaku ayah mereka atau guru mereka yang pada akhirnya akan diproses dalam mental programming dalam dunia kerja, dan akhirnya juga tidak heran jika seseorang pegawai akan meniru perilaku bos mereka.</p>
<p>Pada kasus PDI yang besar, superioritas atasan terhadap bawahan akan sangat kentara, pemusatan kekuasaan sedapat mungkin hanya pada beberapa orang saja, gap upah atau gaji antara tingkat yang lebih tinggi dan pegawai biasa sangat besar. Banyak pekerja pada level bawah yang kurang terdidik.</p>
<p>Namun pada kasus PDI yang kecil, hubungan antara atasan dan bawahan relative merata, gap upah antara atasan dan bawahan relative kecil, pegawai pada semua lini relative tenaga terdidik, kekuasaan relative desentralistik dan cenderung menyebar pada beberapa lini, memungkinkan adanya budaya; saat ini jadi karyawan biasa dan besok mungkin menjadi bos atau saat ini menjadi bos, besok mungkin akan menjadi karyawan biasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Power Distance and the State</h2>
<p>Power Distance pada Negara dengan PDI besar, akan terlihat pada cara mereka memilih pemimpin pemerintahan atau Negara, biasanya mereka lebih tradisional dan biasanya seputar pemimpin agama mereka, legitimasi seorang pemimpin cenderung mengacu pada hal-hal yang kurang rasional. Pemusatan kekuasaan terjadi disekitar keluarga dan sahabatnya, karisma, dan kelompok yang memiliki kekuasaan seperti militer.</p>
<p>Sedangkan pada Negara-negara dengan PDI kecil, pemerintahan dan agama dipisahkan oleh sekularisme yang cukup berarti, urusan agama adalah urusan individu dengan tuhannya sedangkan urusan Negara “politik” adalah urusan warganya terhadap pemerintah, dan pemerintah terhadap para warganya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Power Distance And Corruption</h2>
<p>Di beberapa Negara atau di beberapa organisasi, ada saja orang-orang yang berkuasa terjebak dalam penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri secara sembunyi-sembunyi. Dimulai dari kebiasaan saling member hadiah yang semula dianggap legal atau layak dilakukan akhirnya berkembang menjadi kebiasaan memberi hadiah dengan tidak legal yang saat ini dikenal dengan korupsi. Sejak tahun 1995 telah dirumuskan sebuah alat analisis untuk mengukur indeks korupsi yang saat ini dikenal dengan CPI Corruption Perception Index. Dalam mengukuran CPI saat ini telah berkembang lebih dari 12 jenis disesuaikan dengan dimana CPI itu diterapkan, mulai dari perusahaan core business, sampai dengan jasa luar negeri. Skala pengukuran CPI dinyatakan dalam angka 10 s.d. 1, dimana 10 dipersepsikan tingkat terjadinya praktek korupsi relative rendah, sedangkan angka 1 menunjukkan tingkat terjadinya praktek korupsi sangat tinggi. Namun besarnya tingkat korupsi atau CPI tidak dapat diprediksi secara tepat dengan menggunakan PDI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Power Distance and Ideas</h2>
<p>Perilaku Para orangtua, guru, menejer, dan penerapan hukum melekat pada sebuah budaya dalam masyarakat itu sendiri. Jalan hidup seorang pengikut adalah menjadi pengikut, dan perilaku mereka sebagai pengikut hanya dapat dihargai jika ada yang mengerti tentang mental software. Mental software terbentuk sejak masa kanak-kanak dari apa yang pernah dipelajari ketika bertumbuh menjadi dewasa.</p>
<p>Dimulai sejak jaman kejayaan Kong Fu ze, yang menganggap bahwa stabilitas dalam masyarakat akan terjadi jika terdapat sedikitnya ketidakadilan, artinya semakin besar ketidakadilan maka semakin besar pula kemungkinan stabiltas akan terganggu. Selanjutnya, Plato berpendapat bahwa untuk mewujudkan stabilitas harus dimulai terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat bawah, dan juga tergantung pada cara kelompok elit memimpin.</p>
<p>Pada jaman perjanjian baru, pada abad permulaan, para pendeta hidup dalam kemiskinan, namun kondisi seperti tidak lama bertahan karena saat ini para pendetapun dimungkin untuk tidak miskin lagi.  Pada kelompok denominasi non hirarki seperti protestan cenderung memiliki PDI yang kecil jika dibandingkan dengan kelompok Katolik terlihat cenderung memiliki PDI yang lebih besar.</p>
<p>Lebih lanjur Karl Marx juga berpendapat bahwa, untuk memperkecil ketidakadilan harus diciptakan kelompok-kelompok dengan kekuasaan yang terbatas, namun sangat disayangkan prinsif yang diajarkan olehnya justru berada pada Negara-negara “dictator” yang memiliki PDI yang besar, artinya saat PDI besar disanalah angka ketidakadilan itu juga besar.</p>
<p>Perbaikan Power Distance adalah sebuah cita-cita dari kebanyakan masyarakat dunia, dimana pada saat kesenjangan kekuasaan terjadi sangat besar maka PDI juga besar, begitu juga sebaiknya, dan selalu akan terjadi tarik-menarik pada kedua kutub extreme antara PDI besar dan PDI kecil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Origin of Power Distance Differences</h2>
<p>Perbedaan power distance pada mulanya terlihat pada Negara-nagara yang memiliki sejarah bahasa yang berbeda; Negara-negara yang memiliki sejarah persamaan bahasa yakni Romance seperti Perancis, Italia, Potugis, Rumania, dan Spanyol, mereka memiliki PDI yang relative tinggi. Sementara Negara-negara yang memiliki sejarah bahasanya Jerman; sperti Danish, Belanda, Inggris, Jerman, Norwegia, dan Swedia cenderung memiliki PDI yang relative rendah. Sejarah dan bahasa adalah bagian dari unsure budaya yang merupakan unsure kuatn pembentu software of mind. Selain factor budaya, factor letak dan geografi, besaran jumlah penduduk, dan tingkat kemakmuran sebuah Negara juga berhubungan erat dengan besaran PDI. Negara-negara yang terletak pada higher latitudes cenderung memiliki PDI yang rendah, sementara Negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar cenderung memiliki PDI yang besar pulan, dan semakin kaya sebuah Negara maka semakin kecil PDI pada Negara tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>The Future of Power Distance Differences</h2>
<p>Menurut Hofsede, gambaran tentang perbedaan PDI pada Negara-negara saat ini cenderung statis, jika terjadi perubahan akan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan lebih dari 40 tahun. Pada kondisi ini, gambaran PDI juga akan menjadi sangat penting dalam hubungannya dengan komunikasi antar Negara sebagai gambaran awal atau persepsi awal tentang sebuah masyarakat pada sebuah Negara, beserta kecenderungan perilaku masyarakatnya.</p>
<p>Pada konteks Pariwisata Global, konsep Hofsede menjadi sangat penting, karena pada pariwisata global pasti terjadi interaksi masyarakat dunia yang kemungkinan berasal dari Negara-negara PDI yang berbeda pula, budaya, dan perilaku serta cara pengambilan keputusannya juga akan berbeda pula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah globalisasi tidak berdampak pada percepatan perubahan budaya pada sebuah masyarakat? Apakah PDI masih relevan untuk mengukur power distance masyarakat dunia? Apakah pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi tidak berpengaruh pada perubahan budaya pada masyarakat dunia?</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Daftar Pustaka</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hofsede, Geert and Jan. 2005. Cultures and Organizations Software of the Min: Intercultural Cooperation and Its Importance for Survival. New York: McGraw-Hill</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="http://bahankuliah.wordpress.com/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester2/Pariwisata%20Global/Bendesa/ok-More%20Equal%20Than%20Others.doc#_ftnref1">[1]</a> seorang sosiolog yang sangat berpengaruh dan popular di kalangan sosiologi organisasi di Belanda</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://bahankuliah.wordpress.com/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester2/Pariwisata%20Global/Bendesa/ok-More%20Equal%20Than%20Others.doc#_ftnref2">[2]</a> PDI: Power Distance Index</p>
</div>
</div>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=236&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/30/power-distance-on-global-tourism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Keadilan ala Plato dan Tujuan akhir dari hidup manusia</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/konsep-keadilan-ala-plato-dan-tujuan-akhir-dari-hidup-manusia/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/konsep-keadilan-ala-plato-dan-tujuan-akhir-dari-hidup-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 01:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Ujian Akhir Semester Filsafat Ilmu[1] [i]nAMa Karyasiswa: I GUSTI BAGUS RAI UTAMA [ii]Dosen Penilai: Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH., MS. NIM. 1090771010 PROGRAM: PPS S3 Pariwisata UNUD[2] 1. Plato (427-347 SM) a. Apakah keadilan itu? Menurut Plato, keadilan dimaknai sebagai seseorang membatasi dirinya pada kerja dan tempat dalam hidupnya disesuaikan dengan panggilan kecakapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=225&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="625" valign="top"><strong>Jawaban Ujian Akhir   Semester Filsafat Ilmu<a href="/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester1/1-UAS-1/OK-FILIL/Ok-Prof%20Sirtha%20Filsafat%20Ilmu.doc#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="245" valign="top"><a href="/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester1/1-UAS-1/OK-FILIL/Ok-Prof%20Sirtha%20Filsafat%20Ilmu.doc#_edn1">[i]</a>nAMa   Karyasiswa:</p>
<p><strong>I GUSTI BAGUS RAI UTAMA</strong></td>
<td width="380" valign="top"><a href="/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester1/1-UAS-1/OK-FILIL/Ok-Prof%20Sirtha%20Filsafat%20Ilmu.doc#_edn2">[ii]</a>Dosen   Penilai:</p>
<p><strong>Prof.   Dr. I Nyoman Sirtha, SH., MS.</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="245" valign="top"><strong>NIM. 1090771010</strong></td>
<td width="380" valign="top">PROGRAM: PPS S3 Pariwisata UNUD<a href="/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester1/1-UAS-1/OK-FILIL/Ok-Prof%20Sirtha%20Filsafat%20Ilmu.doc#_ftn2">[2]</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Plato (427-347 SM)</strong>
<ol>
<li><strong>a. </strong><strong>Apakah keadilan itu?</strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Menurut Plato, keadilan dimaknai sebagai seseorang membatasi dirinya pada kerja dan tempat dalam hidupnya disesuaikan dengan panggilan kecakapan “talenta” dan kesanggupan atau kemampuan. Sehingga keadilan diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dapat dikatakan adil adalah seseorang yang mampu mengendalikan diri dan perasaannya yang dikendalikan oleh akal.</p>
<ol>
<li><strong>b. </strong><strong>Bagaimana metode untuk mewujudkan keadilan?</strong></li>
</ol>
<p><strong>1) </strong><strong>Kembalikan Masyarakat pada Struktur aslinya</strong></p>
<p>Menurut Plato, metode untuk mewujudkan keadilan adalah dengan mengembalikan masyarakat pada struktur aslinya, misalnya jika seseorang sebagai guru baiklah tugasnya hanya mengajar saja, jika seseorang sebagai prajurit baiklah tugasnya hanya menjaga kedaulatan negara, jika seseorang sebagai pedagang baiklah tugasnya hanya dibidang perniagaan saja. Jika seseorang sebagai gubernur atau presiden baiklah tugasnya hanya untuk memimpin negara dengan adil dan bijaksana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2) </strong><strong>Negara melakukan Pengawasan terhadap Fungsi Struktur Masyarakat.</strong><strong> </strong></p>
<p>Metode berikutnya adalah tugas untuk mengembalikan masyarakat pada struktur aslinya adalah tugas Negara untuk menciptakan stabilitas  agar tidak terjadinya penyimpangan struktur masyarakat. Dengan demikian keadialan bukan mengenai hubungan antara individu, melainkan hubungan antara individu dan negaranya. Sehingga lahir juga motto “jangan tanyakan apa yang dapat diberikan Negara kepadamu, namun tanyakan! Apa yang dapat engkau berikan kepada negaramu?” artinya kekaryaan dan karya seseorang harusnya dapat dipersembahkan untuk Negara sesuai dengan karya kelasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3) </strong><strong>Memilih Pemimpin dari Putra Terbaik</strong></p>
<p>Metode yang lainnya adalah dengan memilih pemimpin dari putra terbaik dalam masyarakat tidak dilakukan melalui pemilihan langsung atau “voting” melainkan dengan kesepakatan tertentu sehingga dapat ditentukan pemimpin yang benar-benar manusia super dari masyarakat tersebut  artinya yang memimpin Negara seharusnya manusia super <strong><em>“the king of philosopher</em></strong>” karena keadilan juga dipahami secara metafiisis keberadaannya tidak dapat diamati oleh manusia, akibatnya adalah perwujudan keadilan digeser ke dunia lain di luar pengalaman manusia, dan akal manusia yang esensial bagi keadilan harus tunduk pada cara-cara Tuhan yang keputusanNya berlaku absolute atau tidak bisa diubah dan tidak bias diduga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>c. </strong><strong>Bagaimana keadaan kehidupan masyarakat yang adil?</strong></li>
</ol>
<p>Keadaan kehidupan masyarakat yang adil akan terlihat jika struktur yang ada dalam masyarakat dapat menjalankan fungsinya masing-masing, dan elemen-elemen principal dalam masyarakat tetap dapat dipertahankan, elemen-elemen dasar tersebut adalah:</p>
<p>1)    Adanya pemilahan kelas-kelas yang tegas dalam masyarakat, para pemimpin dalam masyarakat harus diisi oleh orang-orang yang memiliki kecakapan untuk menjadi pemimpin dan kesanggupan untuk memimpin dengan adil.</p>
<p>2)    Adanya pengawasan yang ketat atas dominasi serta kolektivitas kepentingan-kepentingan kelompok tertentu dalam masyarakat sehingga fungsi-fungsi masyarakat tetap berjalan sesuai struktur aslinya.</p>
<p>3)    Kelompok pada kelas penguasa tidak berpartisipasi atau turut campur dalam aktivitas perekonomian, terutama dalam mencari penghasilan, namun, penguasa tetap memiliki monopoli yang kuat atas semua hal seperti militer, pendidikan, sehingga  dalam hal ini Negara harus <strong><em>“self sufficient”</em></strong> atau mandiri jika tidak demikian, para penguasa akan bergantung pada para pedagang, atau justru para penguasa itu sendiri menjadi pedagang.</p>
<p>4)    Harus ada sensor terhadap semua aktivitas intelektual kelas penguasa, dan propaganda terus-menerus yang bertujuan untuk menyeragamkan pikiran-pikiran mereka sehingga kesatuan dalam masyarakat tetap dapat dipertahankan artinya kontrol sosial berjalan dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Arestoteles (384-322 BC)</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>a. </strong><strong>Apa yang dimaksud dengan tujuan akhir (utama) manusia?</strong></li>
</ol>
<p>Menurut Aristoteles, tujuan tertinggi sebagai makna terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan (<em>eudaimonia</em>). Karena apabila sudah bahagia, orang tidak memerlukan apa-apa lagi. Tidak masuk akal jika orang masih mencari sesuatu yang lain lagi apabila ia sudah bahagia. Kebahagiaan itu adalah baik pada dirinya sendiri. Kebahagiaan bernilai bukan karena demi nilai lain yang lebih tinggi, melainkan karena demi dirinya sendiri. Semua tujuan yang lain bermuara pada kebahagiaan sebagai tujuan terakhir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>b. </strong><strong>Bagaimana gambaran keadaan manusia yang telah mencapai tujuan akhir (utama)?</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1) </strong><strong>Hidup Bijaksana</strong></p>
<p>Keadaan manusia yang telah mencapai tujuan akhir adalah mereka telah memiliki kebijaksanaan, hidup sempurna dengan mencintai kebenaran-kebenaran abadi, mampu merasakan cukup dalam sagala hal atau tidak rakus dan tamak. Unsur kebijaksanaan adalah unsur tujuan akhir yang paling utama.</p>
<p><strong>2) </strong><strong>Hidup Kerkeutamaan </strong></p>
<p>Keadaan manusia yang hidup dalam berkeutamaan ”arete” mampu bertindak adil dan berani, melakukan tindakan yang telah dikontrakkan/dijanjikan atau <em>”satya wacana” </em> dan melaksanakan kewajiban sesuai dan berkaitan dengan kontrak, serta melakukan semua tindakan yang harus dapat dipertanggungjawabkan. Unsur berkeutamaan adalah unsur kedua dalam tujuan akhir manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3) </strong><strong>Selalu Merasa Senang</strong></p>
<p>Keadaan manusia yang hidup mampu merasakan kenikmatan atau rasa senang, menikmati rasa senang merupakan buah hasil hidup berkeutamaan artinya orang yang baik senang hidupnya. Unsur rasa senang adalah unsur ketiga dari tujuan akhir manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4) </strong><strong>Banyak Sahabat, Sehat, Kaya, dan bernasib baik</strong></p>
<p>Keadaan manusia yang hidup memiliki banyak sahabat, sehat jasmani dan rohani atau tidak sakit-sakitan, memiliki kekayaan (jika orang hidup kekurangan maka tidak bahagia), dan keadaan manusia yang telah mencapai tujuan akhir juga ditunjukkan bahwa manusia tersebut dipenuhi keberuntungan dan nasib baik dan selanjutnya unsur ini disebutkan sebagai unsur turunan atau tambahan dari tiga unsur lain  di atas yakni, kebijaksanaan, berkeutamaan, dan rasa senang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>c. </strong><strong>Mengapa ada manusia yang tidak mencapai tujuan akhir (utama)?</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p>1)      <strong>Ambisi yang berlebihan</strong></p>
<p>Karena tujuan akhir manusia adalah kebahagiaan, dan kebahagiaan tersebut terpusat pada diri sendiri dan sangat sebyektif dan bersifat relatif bagi setiap manusia, jika manusia tidak mampu mengontrol ambisi diri yang berlebeihan maka seseorang tidak mampu bersikap adil, selalu merasa kurang, tidak pernah merasa puas diri, dan akhirnya seseorang manjadi sangat rakus dan tamak dan pastinya dia tidak akan mendapatkan kebijaksanaan tersebut. Artinya jika penafsiran kebahagiaan bersifat subyektif maka manusia tidak mencapai tujuan akhir kebahagiaan karena mereka tidak pernah ”merasa” bahagia.</p>
<p><strong>2) </strong><strong>Terlalu Mementingkan diri sendiri</strong><strong> </strong></p>
<p>Kebahagiaan ala Arestoteles menurutnya dapat dicapai pada saat manusia masih hidup dan sifat dari kebahagiaan tersebut bersifat amanen atau duniawi. Kontemplasi dalam pemikiran Aristoteles tidak berarti pertemuan atau persatuan dengan sesuatu di luar atau di atas manusia, melainkan pemenuhan bakat/kemampuan manusia yang paling tinggi, kemampuannya untuk melakukan kegiatan yang sifatnya mencukupi pada dirinya sendiri (<em>self-sufficient</em>) artinya seseorang bisa terjebak pada hal-hal yang bersifat mementingkan diri sendiri untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut, jika manusia terjebak pada sifat mementingkan diri sendiri seseorang akan dengan mudah tidak memenuhi janji-janji yang pernah dikontrakkan atau  dikrarkan dan cenderung berpihak pada hal-hal yang dapat menguntungkan dirinya sendiri. Pada saat inilah seseorang tidak dapat merasakan kebahagiaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3) </strong><strong>Sakit-sakitan, kurang bisa bergaul, hidup miskin, kurang beruntung</strong></p>
<p>Ironis sekali, Arestoteles memandang kebahagiaan juga dapat digambarkan bahwa seseorang yang sakit-sakitan tidak akan merasa bahagia, orang yang tidak memiliki banyak teman akan merasa tidak bahagia, orang yang kehidupannya miskin tidak akan merasa bahagia, dan seseorang yang sering mendapat musibah atau bencana atau kurang beruntung dianggap tidak akan merasa bahagia. Artinya tujuan akhir manusia tidak akan tercapai jika mereka sakit-sakitan, tidak banyak teman, miskin, atau dikodratkan bernasib buruk karena dalam kondisi seperti ini tidak mungkin seseorang merasa bahagia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester1/1-UAS-1/OK-FILIL/Ok-Prof%20Sirtha%20Filsafat%20Ilmu.doc#_ftnref1">[1]</a> Ujian Akhir Semester Filsafat Ilmu</p>
</div>
<div>
<p><a href="/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester1/1-UAS-1/OK-FILIL/Ok-Prof%20Sirtha%20Filsafat%20Ilmu.doc#_ftnref2">[2]</a> Program Pascasarjana Doktor Pariwisata Universitas Udayana Bali</p>
</div>
</div>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester1/1-UAS-1/OK-FILIL/Ok-Prof%20Sirtha%20Filsafat%20Ilmu.doc#_ednref1">[i]</a> Karyasiswa: I GUSTI BAGUS RAI UTAMA</p>
</div>
<div>
<p><a href="/1-AGUS%20RAI/1-1S3/Semester1/1-UAS-1/OK-FILIL/Ok-Prof%20Sirtha%20Filsafat%20Ilmu.doc#_ednref2">[ii]</a> Dosen Pengasuh Matakuliah: Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH., MS.</p>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/news/'>News</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=225&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/konsep-keadilan-ala-plato-dan-tujuan-akhir-dari-hidup-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ilmu pariwisata dari segi ontology, epistemology, axiology apakah termasuk bidang ilmu tersendiri</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/lmu-pariwisata-dari-segi-ontology-epistemology-axiology-apakah-termasuk-bidang-ilmu-tersendiri/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/lmu-pariwisata-dari-segi-ontology-epistemology-axiology-apakah-termasuk-bidang-ilmu-tersendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 01:13:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Ujian Akhir Semester Filsafat Ilmu nAMa Karyasiswa:&#160; I GUSTI BAGUS RAI UTAMA Dosen Penilai:&#160; Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD. (KHOM) NIM. 1090771010 PROGRAM: PPS S3 Pariwisata UNUD Soal No.9&#160; Cobalah kaji ilmu pariwisata dari segi ontology, epistemology, axiology apakah termasuk bidang ilmu tersendiri, ataukah merupakan sub-bidang ilmu dibawah ilmu ekonomi. Tinjau juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=222&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="625" valign="top"><strong>Jawaban Ujian Akhir Semester Filsafat Ilmu</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="245" valign="top">nAMa Karyasiswa:&nbsp;</p>
<p><strong>I GUSTI BAGUS RAI UTAMA</strong></td>
<td width="380" valign="top">Dosen Penilai:&nbsp;</p>
<p><strong>Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD. (KHOM)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="245" valign="top">NIM. 1090771010</td>
<td width="380" valign="top">PROGRAM: PPS S3   Pariwisata UNUD</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="625" valign="top"><strong>Soal No.9</strong>&nbsp;</p>
<p><strong>Cobalah kaji ilmu pariwisata dari segi   ontology, epistemology, axiology apakah termasuk bidang ilmu tersendiri,   ataukah merupakan sub-bidang ilmu dibawah ilmu ekonomi. Tinjau juga dari   aspek obyek material dan obyek formal ilmu tersebut!</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<div>
<p>Ilmu Pariwisata adalam Ilmu tersendiri karena telah memenuhi ketiga segi (ontology, epistemology, dan axiology) sebagai ilmu mandiri dan unsur ini merupakan sifat yang melekat pada setiap  ilmu pengetahuan. Ilmu Pariwisata bukan sub-bidang ilmu ekonomi karena pariwisata telah memenuhi syarat sebagai ilmu tersendiri,</p>
</div>
<p><strong>Aspek Ontologi Pariwisata</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Aspek ontologi dari ilmu pariwisata dapat dilihat kemampuan ilmu ini dalam menyedikan informasi yang lengkap tentang hakekat perjalanan wisata, gejala-gejala pariwisata, karakteristik wisatawan, prasarana dan sarana wisata, tempat-tempat serta daya tarik destinasi yang dikunjungi, sistem dan organisasi, dan kegiatan bisnis terkait, serta komponen pendukung di daerah asal maupun di sebuah destinasi wisata.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Aspek Epistemologi Pariwisata</strong><strong> </strong></p>
<p>Aspek epistemology ilmu pariwisata dapat ditunjukkan pada cara-cara pariwisata memperoleh kebenaran ilmiah, objek ilmu pariwisata telah didasarkan pada logika berpikir yang rasional dan dapat diuji secara empirik. Dalam memperoleh kebenaran ilmiah dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, yakni:</p>
<p>(1)  Pendekatan system: Pendekatan ini menekankan bahwa pergerakan wisatawan, aktivitas masyarakat yang memfasilitasi serta implikasi kedua-duanya terhadap kehidupan masyarakat luas merupakan kesatuan yang saling berhubungan “linked system” dan saling mempengaruhi. Setiap terjadinya pergerakan wisatawan akan diikuti dengan penyediaan fasilitas wisata dan interaksi keduanya akan menimbulkan pengaruh logis di bidang ekonomi, social, budaya, ekologi, bahkan politik. Sehingga, pariwisata sebagai suatu system akan digerakkan oleh dinamika subsistemnya, seperti pasar, produk, dan pemasaran.</p>
<p>(2)  Pendekatan Kelembagaan: Pendekatan kelembagaan adalah dimana setiap perjalanan wisata akan melibatkan wisatawan sebagai konsumen, penyedia sebagai supplier jasa transportasi, penyedia jasa akomodasi atau penginapan, serta kemasan atraksi atau daya tarik wisata. Kesemua komponen ini memiliki hubungan fungsional yang menyebabkan terjadinya kegiatan perjalanan wisata, dan jika salah satu dari komponen di atas tidak menjalankan fungsinya maka kegiatan perjalanan tidak akan berlangsung.</p>
<p>(3)  Pendekatan Produk: Pendekatan yang digunakan untuk mengkategorikan bahwa pariwisata sebagai suatu komoditas yang dapat dijelaskan aspek-aspeknya yang sengaja diciptakan untuk merespon kebutuhan masyarakat. Pariwisata adalah sebuah produk kesatuan totalitas dari empat aspek dasar yakni; Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus dipenuhi produk pariwisata sebagai sebuah totalitas produk, yakni: (1)<em>Attractions </em>(daya tarik); (2)<em>Accesability</em> (transportasi); (3)<em>Amenities</em> (fasilitas); (4)<em>Ancillary</em> (kelembagaan)</p>
<p>Sedangkan metode yang dapat digunakan untuk mencari kebenaran ilmiah ilmu pariwisata seperti (1) metode eksploratif dari jenis penelitian eksploratori (<em>exploratory research</em>) dan metode membangun teori (<em>theory-building research</em>) (2) kuantitatif (3) kualitatif (4) studi komparatif (5) eksploratif (6) deskriptif dan metode lainnya sesuai dengan permasalah dan tujuan penelitiannya.</p>
<p><strong>Aspek Aksiologi Pariwisata</strong></p>
<p>Ilmu pariwisata telah memberikan manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Perjalanan dan pergerakan wisatawan adalah salah satu bentuk kegiatan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang beragam, baik dalam bentuk pengalaman, pencerahan, penyegaran fisik dan psikis maupun dalam bentuk aktualisasi diri. Menurut UN-WTO, pariwisata telah menjadi industri terbesar dan memperlihatkan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun. Kontribusi pariwisata yang lebih konkret bagi kesejahteraan manusia dapat dilihat dari implikasi-implikasi pergerakan wisatawan, seperti meningkatnya kegiatan ekonomi, pemahaman terhadap budaya yang berbeda, pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan manusia.</p>
<div>
<p><strong>Tinjauan terhadap obyek material dan obyek formal Ilmu Pariwisata</strong><strong> </strong></p>
</div>
<p><strong>Obyek Material Ilmu Pariwisata </strong></p>
<p>Obyek material pariwisata adalah sasaran atau hal yang menjadi kajian pada ilmu pariwisata, Ilmu pariwisata adalah ilmu yang mempelajari teori-teori dan praktik-praktik tentang perjalanan wisatawan, aktivitas masyarakat yang memfasilitasi perjalanan wisatawan, dengan berbagai implikasinya.</p>
<p>Implikasi dari adanya perjalanan wisata, telah menimbulkan respon terhadap penyediaan jasa layanan pariwisata, dimana (UN-WTO, 2000) mengelompokkannya menjadi tujuh, yakni: (1)Jasa Akomodasi <em>(Accomodation services)</em> (2)Jasa Penyediaan Makanan dan Minuman <em>(Food and beverage-serving services)</em>. (3)Jasa Transportasi Wisata <em>(Passenger transport services)</em>. (4)Jasa Pemanduan dan Biro Perjalanan Wisata <em>(Travel agency, tour operator and tourist guide services)</em>. (5)Jasa Pagelaran Budaya <em>(Cultural services)</em>. (6)Jasa Rekreasi dan Hiburan <em>(Recreation and other enter­tainment services)</em>. (7)Jasa Keuangan Pariwisata <em>(Miscellaneous tourism services)</em>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Obyek Formal Ilmu Pariwisata </strong></p>
<p>Obyek formal ilmu pariwisata adalah cara atau metode yang dipakai dalam mengkaji masalah-masalah pada obyek material pariwisata. Ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji masalah-masalah pada obyek material pariwisata, yakni; (1)pendekatan kelembagaan, (2) pendekatan system, dan (3) pendekatan produk. Sedangkan metode yang dipakai mencari kebenaran ilmiah ilmu pariwisata seperti (1) metode eksploratif (<em>exploratory research</em>) dan metode membangun teori (<em>theory-building research</em>) (2) kuantitatif (3) kualitatif (4) studi komparatif (5) eksploratif (6) deskriptif dan metode lainnya sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitiannya.</p>
<p>Sedangkan kajian bidang ilmu pariwisata, pada aspek formal ini dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni: (1)Kajian Pengembangan Jasa Wisata: dengan objek perhatiannya adalah aktivitas masyarakat dalam penyediaan jasa, seperti fasilitas akomodasi, atraksi, akses dan amenitas, serta jasa-jasa yang bersifat intangible lainnya. (2)Kajian Organisasi Perjalanan: dengan objek perhatiannya terfokus pada pemaketan perjalanan wisata, pengorganisasian dan pengelolaannya sesuai dengan prinsip-prinsip kerberlanjutan. (3)Kajian Kebijakan Pembangunan Pariwisata. Dengan menitik­beratkan perhatiannya pada upaya-upaya peningkatan manfaat sosial, ekonomi, budaya, psikologi perjalanan wisata bagi masyarakat dan wisatawan dan evaluasi perkembangan pariwisata melalui suatu tindakan yang terencana.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/news/'>News</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=222&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/lmu-pariwisata-dari-segi-ontology-epistemology-axiology-apakah-termasuk-bidang-ilmu-tersendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hubungan Gaya Hidup dan Perilaku Konsumen pariwisata bali</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/hubungan-gaya-hidup-dan-perilaku-konsumen-pariwisata-bali/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/hubungan-gaya-hidup-dan-perilaku-konsumen-pariwisata-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 01:08:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Gaya Hidup dan Perilaku Konsumen pariwisata bali Abstrak Gaya hidup adalah gambaran hidup seseorang yang tercermin pada ekspresi di setiap aktivitas, hasrat serta keingingan, dan pendapat-pendapat yang tercetus daripadanya. Gaya hidup atau lifestyle juga berdampak pada setiap aspek kehidupan manusia, nilai nilai hubungan sosial, kondisi ekonomi, bahkan juga berdampak pada faktor-faktor lingkungan. Pada konteks [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=219&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong>Hubungan Gaya Hidup dan Perilaku Konsumen pariwisata bali</strong></p>
</div>
<p>Abstrak</p>
<p>Gaya hidup adalah gambaran hidup seseorang yang tercermin pada ekspresi di setiap aktivitas, hasrat serta keingingan, dan pendapat-pendapat yang tercetus daripadanya. Gaya hidup atau <em>lifestyle </em>juga berdampak pada setiap aspek kehidupan manusia, nilai nilai hubungan sosial, kondisi ekonomi, bahkan juga berdampak pada faktor-faktor lingkungan.</p>
<p>Pada konteks pariwisata, gaya hidup juga berhubungan dengan aktivitas, hobi, pendapat, yang memainkan peranan penting pada perilaku konsumen. Perilaku konsumen pariwisata dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipologi sebagai dasar dari aspek sosilogi pengambilan keputusan oleh pelaku pariwisata untuk memilah konsumennya agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan harapan konsumen.</p>
<p>Informasi tentang kebutuhan riil wisatawan sangat berhubungan dengan perilaku konsumen, dan merupakan informasi penting bagi pengelola pariwisata dalam melakukan pengembangan pariwisata agar sesuai dengan segmentasi wisatawan.  Perilaku konsumen melekat pada tipologi konsumen pariwisata, dan juga adalah gambaran dari gaya hidup wisatawan yang berdampak pada aktivitas wisatawan pada daerah tujuan  wisata yang dikunjunginya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata Kunci: <em>gaya hidup, lifestyle, perilaku, konsumen, tipologi, kepuasan, wisatawan</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kecenderungan saat ini, manusia ingin hidup lebih mudah, tidak mau berpikir keras, dan ingin serba cepat. Kecenderungan tersebut didukung oleh cepatnya perkembangan industri pendukung, dan perkembangan teknologi sehingga teknologi dianggap sangat berperan mendorong manusia modern berpikir serba cepat atau instan. Sebagai akibatnya, indikator kecepatan dan kualitas menjadi sangat penting dalam kaitannya dengan gaya hidup atau <em>lifestyle” </em>(Kotler, 2000)<em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Lifestyle is pattern live expressed someone through activity, interest, and opinion. Some lifestyle type for example: self actualize, fulfilled, experiences, believers, and strugglers. It can determine to buy product which have brand or no brand. They usually have characteristic still enthusiastic and young tend to expend their money for the clothes, food fast, music, cinema, and video”. (Kotler, 2000)</em><em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kotler, 2000, juga berpendapat bahwa: gaya hidup adalah gambaran hidup seseorang yang terbawa pada ekspresi pada setiap aktivitas, hasrat serta keingingan, dan pendapat-pendapat yang tercetus daripadanya. Gaya hidup tercermin dalam berbagai perilaku, sebagai misalnya: gaya hidup dianggap berhubungan dengan aktualisasi diri, Inging mencari kepuasan diri, ingin mendapatkan pengalaman hidup yang berbeda, ingin  dipercaya, bahkan gaya hidup diwujudkan dalam bentuk ingin tampil beda. Kesemua hal tersebut juga akan menentukan perilaku pemilihan dan pembelian sebuah produk, pemilihan merek, bahkan menentuan tempat mendapatkan sebuah produk juga dianggap berhubungan dengan gaya hidup.</p>
<p><em>“In every aspect of human life, lifestyle has a great affect as the impact of values in social interaction, economic condition, and environmental factors. The activities, hobbies, and opinions reflected the pattern or style of a person living. Lifestyle</em><em> is </em><em>playing an increasingly important part in Costumer behaviours” (Crompton, 2004). </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara Crompton, 2004 memiliki pandangan yang sama tentang gaya hidup atau <em>lifestyle, </em>yang dianggap bahwa pada setiap aspek kehidupan manusia, gaya hidup berdampak pada nilai nilai hubungan social, kondisi ekonomi, bahkan juga berdampak pada faktor-faktor lingkungan. Gaya hidup juga berhubungan dengan aktivitas, hobi, pendapat, dan juga gaya hidup memainkan peranan penting pada perilaku konsummen.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Berwisata sebagai Gaya Hidup</strong></p>
<p>Pengertian pariwisata menurut Bukart dan Medlik, 1990 (dalam Soekadijo 2000), pariwisata adalah perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan–tujuan di luar tempat dimana mereka biasanya hidup dan bekerja.</p>
<p>Sementara Suwantoro (1997), memberikan pengertian pariwisata sebagai  suatu proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar tempat tinggalnya. Dorongan kepergiannya karena berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain seperti sekedar ingin tahu, menambah pengalaman atau untuk belajar.</p>
<p>Sedangkan Menurut Freuler, 1980 (dalam Pendit, 1999), merumuskan pariwisata dalam arti modern, merupakan gejala jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar terhadap keindahan alam, kesenangan dan kenikmatan alam semesta, dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas dalam masyarakat manusia sebagai hasil perkembangan perniagaan, industri dan perdagangan serta penyempurnaan alat–alat pengangkutan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Aspek Penawaran dan Permintaan Pariwisata</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus diperhatikan dalam penawaran pariwisata. Aspek-aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk totalitas dari sebuah produk wisata, keempat aspek tersebut terdiri dari; (1) <em>Attraction </em>(daya tarik); daerah tujuan wisata (selanjutnya disebut DTW) untuk menarik wisatawan pasti memiliki daya tarik, baik daya tarik berupa alam maupun masyarakat dan budayanya. (2) <em>Accesable</em> (transportasi); <em>accesable</em> dimaksudkan agar wisatawan domestik dan mancanegara dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata. (3) <em>Amenities</em> (fasilitas); <em>amenities</em> memang menjadi salah satu syarat daerah tujuan wisata agar wisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama di DTW. Dan (4)<em>Ancillary</em> (kelembagaan); adanya lembaga pariwisata wisatawan akan semakin sering mengunjungi dan mencari DTW apabila di daerah tersebut wisatawan dapat merasakan keamanan, (<em>protection of tourism</em>) dan terlindungi.</p>
<p>Sedangkan Jackson, 1989 (dalam Pitana, 2005) melihat bahwa faktor penting yang menentukan permintaan pariwisata berasal dari komponen daerah asal wisatawan antara lain, jumlah penduduk <em>(population size)</em>, kemampuan finansial masyarakat <em>(financial means),</em> waktu senggang yang dimiliki <em>(leisure time),</em> sistem transportasi, dan sistem pemasaran pariwisata yang ada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tipologi Wisatawan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wisatawan adalah orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungannya itu. (Spillane, 1993).  Tipologi wisatawan merupakan aspek sosiologis wisatawan yang menjadi bahasan yang penting pada studi pariwisata, Menurut Plog, 1972 (dalam Pitana, 2005) mengelompokkan tipologi wisatawan sebagai berikut: (1) <em>Allocentris, </em>yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum diketahui, bersifat petualangan, dan mau memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat lokal. (2) <em>Psycocentris, </em>yaitu wisatawan yang hanya ingin mengunjungi daerah tujuan wisata sudah mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan di negaranya. (3)<em>Mid-Centris,</em> yaitu terletak diantara tipologi <em>Allocentris </em>dan <em>Psycocentris</em>.</p>
<p>Menurut Pitana (2005), tipologi wisatawan perlu diketahui untuk tujuan perencanaan, termasuk dalam pengembangan kepariwisataan. Tipologi yang lebih sesuai adalah tipologi berdasarkan atas kebutuhan riil wisatawan sehingga pengelola dalam melakukan pengembangan objek wisata sesuai dengan segmentasi wisatawan.</p>
<p>Pada umumnya kelompok wisatawan yang datang ke Indonesia terdiri dari kelompok wisatawan psikosentris (<em>Psycocentris)</em>. Kelompok ini sangat peka pada keadaan yang dipandang tidak aman dan sangsi akan keselamatan dirinya, sehingga wisatawan tersebut enggan datang atau membatalkan kunjungannya yang sudah dijadualkan (Darsoprajitno, 2001).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Motivasi Wisatawan untuk Berwisata</strong></p>
<p>Menurut Sharpley, 1994 dan Wahab, 1975 (dalam Pitana, 2005) menekankan,  motivasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan  pariwisata, karena motivasi merupakan “<em>Trigger”</em> dari proses perjalanan wisata, walau motivasi ini acapkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri.</p>
<p>Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal, motivasi-motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar sebagai berikut: (1) <em>Physical or physiological motivation</em> yaitu motivasi yang bersifat fisik antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai dan sebagainya. (2) <em>Cultural motivation </em>yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain. (3)<em>Social or interpersonal motivation </em>yaitu motivasi yang bersifat sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi (<em>p</em><em>restice)</em>, melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang membosankan dan seterusnya. (4) <em>Fantasy motivation </em>yaitu adanya motivasi di daerah lain sesorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan dan yang memberikan kepuasan psikologis (McIntosh, 1977 dan Murphy, 1985; dalam Pitana, 2005).</p>
<p>Pearce, 1998 (dalam Pitana, 2005) berpendapat, wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata termotivasi oleh beberapa faktor yakni: Kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, prestise, dan aktualiasasi diri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Faktor-faktor Pendorong Wisatawan untuk Berwisata</strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Faktor-faktor  pendorong untuk berwisata sangatlah penting untuk diketahui oleh siapapun yang berkecimpung dalam industri pariwisata (Pitana, 2005). Dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin melakukan perjalanan wisata, tetapi belum jelas mana daerah yang akan dituju. Berbagai faktor pendorong seseorang melakukan perjalanan wisata menurut Ryan, 1991 (dalam Pitana, 2005), sebagai berikut:</p>
<p>1)     <em>Escape.</em> Ingin melepaskan diri dari lingkungan yang dirasakan menjemukan, atau kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari.</p>
<p>2)     <em>Relaxation. </em>Keinginan untuk penyegaran, yang juga berhubungan dengan motivasi untuk <em>escape </em>di atas.</p>
<p>3)     <em>Play. </em>Ingin menikmati kegembiraan, melalui berbagai permainan, yang merupakan kemunculan kembali sifat kekanak-kanakan, dan melepaskan diri sejenak dari berbagai urusan yang serius.</p>
<p>4)     <em>Strengthening family bond.</em> Ingin mempererat hubungan kekerabatan, khususnya dalam konteks (<em>visiting, friends and relatives)</em>. Biasanya wisata ini dilakukan bersama-sama <em>(group tour)</em></p>
<p>5)     <em>Prestige. </em>Ingin menunjukkan gengsi, dengan mengunjungi destinasi yang menunjukkan kelas dan gaya hidup, yang juga merupakan dorongan untuk meningkatkan status atau s<em>ocial standing.</em></p>
<p>6)     <em>Social interaction. </em>Untuk melakukan interaksi sosial dengan teman sejawat, atau dengan masyarakat lokal yang dikunjungi.</p>
<p>7)     <em>Romance.</em> Keinginan bertemu dengan orang-orang yang bisa memberikan suasana romantis atau untuk memenuhi kebutuhan seksual.</p>
<p>8)     <em>Educational opportunity.</em> Keinginan melihat suatu yang baru, memperlajari orang lain dan/atau daerah lain atau mengetahui kebudayaan etnis lain. Ini merupakan pendorong dominan dalam pariwisata.</p>
<p>9)     <em>Self-fulfilment.</em> Keinginan menemukan diri sendiri, karena diri sendiri biasanya bisa ditemukan pada saat kita menemukan daerah atau orang yang baru.</p>
<p>10)<em>Wish-fulfilment.</em> Keinginan merealisasikan mimpi-mimpi, yang lama dicita-citakan, sampai mengorbankan diri dalam bentuk penghematan, agar bisa melakukan perjalanan. Hal ini juga sangat jelas dalam perjalanan wisata religius, sebagai bagian dari keinginan atau dorongan yang kuat dari dalam diri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Karakteristik, Motivasi dan Persepsi Wisatawan yang Berkunjung ke Bali</strong></p>
<p>Berdasarkan survei yang dilakukan Disparda Bali, 2003 (dalam Pitana, 2005), ditemukan sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Bali dari kelompok umur muda (20-39 th), yaitu sebesar 64% wisman dan 65% untuk wisnus.  Dilihat dari jenis kelamin, ada kecenderungan wisatawan laki-laki lebih banyak daripada perempuan, walaupun dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, yaitu 54:45 untuk wisman dan 57:42 untuk wisnus. Begitu juga jika dilihat dari jenis pekerjaan wisatawan, sebagian besar wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali 43,66% mempunyai pekerjaan sebagai tenaga ahli atau profesional. Sedangkan 46,32%  wisatawan nusantara yang datang ke Bali mempunyai profesi sebagai pekerja kantor atau pegawai, dan 22,8% adalah pelajar atau mahasiswa.</p>
<p>Pada sisi lainnya, jika dilihat dari motivasi kedatangan wisatawan ke Bali, 93% datang untuk tujuan berlibur, 7% untuk tujuan lainnya. Dilihat dari sejumlah harapan yang terkait dengan <em>image/</em>citra tentang Bali, 48,54% kedatangan wisatawan ke Bali sesuai dengan harapannya. Bahkan 44,10% wisatawan mancanegara menyatakan, kenyataan lebih baik dari harapannya. Bagi wisatawan nusantara, 71,53% menyatakan kenyataan yang dialami di Bali selama berlibur memang sesuai dengan harapannya. Ada banyak hal yang dinilai positif oleh wisatawan mancanegara tentang Bali. Alam Bali dianggap masih asli sebesar 84%.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>“</strong><strong>Hipotesis” Ada Hubungan Gaya Hidup dengan Perilaku Konsumen</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Gaya Hidup Menentukan Aktivitas Wisata: </strong></li>
</ol>
<p>Kotler, 2000, berpendapat bahwa: gaya hidup adalah gambaran hidup seseorang yang terbawa pada ekspresi pada setiap aktivitas, hasrat serta keingingan, dan pendapat-pendapat yang tercetus daripadanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Pilihan Daerah Tujuan Wisata Berhubungan dengan keanekaragaman Aktivitas Wisata</strong></li>
</ol>
<p>Crompton, 2004 memiliki pandangan bahwa gaya hidup atau <em>lifestyle </em>berdampat pada setiap aspek kehidupan manusia, gaya hidup juga berdampak pada nilai nilai hubungan social, kondisi ekonomi, bahkan juga berdampak pada faktor-faktor lingkungan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Perilaku Konsumen berhubungan dengan Tipologi Wisatawan</strong></li>
</ol>
<p>Gaya hidup juga berhubungan dengan aktivitas, hobi, pendapat, dan juga gaya hidup memainkan peranan penting pada perilaku konsumen (Menurut Crompton, 2004)</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>4. </strong><strong>Tipologi Wisatawan dipengaruhi Gaya Hidup</strong></li>
</ol>
<p>Tipologi wisatawan merupakan aspek sosiologis wisatawan yang menjadi bahasan yang penting pada studi pariwisata, Menurut Pitana (2005), tipologi yang  sesuai adalah tipologi berdasarkan atas kebutuhan riil wisatawan sehingga pengelola dalam melakukan pengembangan objek wisata sesuai dengan segmentasi wisatawan.  Diasumsikan bahwa tipologi wisatawan adalah gambaran dari gaya hidup wisatawan yang berdampak pada perilakunya pada daerah tujuan  wisata yang dikunjunginya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p><strong>Daftar  Pustaka</strong></p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ariyanto. 2005. <em>Ekonomi Pariwisata </em>Jakarta: Pada <a href="http://www.geocities.com/ariyanto%20eks79/home.htm">http://www.geocities.com/ariyanto eks79/home.htm</a></p>
<p>Badan Pusat Statistik. 2005. ”Data Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Nusantara yang langsung datang ke Bali. (Laporan) BPS Prov Bali.</p>
<p>Darsoprajitno, H, Soewarno.2001.<em>Ekologi Pariwisata,Tata Laksana Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata.</em>Bandung:Angkasa</p>
<p>Kotler, Philip and Gary Armstrong, 1996, <em>Principles Of Marketing</em><strong>, </strong>Seventh Edition, International Editrion, Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kotler, Philip.2000. <em>Manajemen Pemasaran</em>. Jakarta: Prehallindo (Alih Bahasa)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pendit, I Nyoman, S. 1999. <em>Ilmu Pariwisata, Sebuah Pengantar Perdana.</em> Jakarta: PT Pradnya Paramita, cetakan ke-enam (edisi revisi)<em> </em></p>
<p>Pitana, I Gde.  2005. <em>Sosiologi Pariwisata, Kajian sosiologis terhadap struktur, sistem, dan dampak-dampak pariwisata.</em> Yogyakarta: Andi Offset</p>
<p>Sobel M. E. 1981. <em>Lifestyle and Social Structure: Concepts, Definitions, Analyses</em>. New York: Academic Press.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Soekadijo, RG. 1997. <em>Anatomi Pariwisata,Memahami pariwisata sebagai system lingkage.</em> Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama</p>
<p>Spillane, James.1993. <em>Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.</em>Yogyakarta: Kanisius.</p>
<p>Suwantoro, Gamal. 1997. <em>Dasar-dasar Pariwisata.</em> Yogyakarta:ANDI</p>
<p>Swarbrooke, J. 1998.<em> Sustainable Tourism Management.</em> New York: CABI Publishing is division of CAB International.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=219&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/hubungan-gaya-hidup-dan-perilaku-konsumen-pariwisata-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Health and Wellness Tourism  Jenis dan Potensi Pengembangannya di Bali</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/health-and-wellness-tourism-jenis-dan-potensi-pengembangannya-di-bali/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/health-and-wellness-tourism-jenis-dan-potensi-pengembangannya-di-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 01:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Health and Wellness Tourism Jenis dan Potensi Pengembangannya di Bali Oleh I Gusti Bagus Rai Utama ABSTRACT Internationally, individuals from developing countries have travelled to developed countries for high quality medical care. But now, a growing number of individuals from developed countries are travelling to regions, once characterised as third world, seeking high quality health [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=216&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><strong> <em>Health and Wellness Tourism</em> </strong></h1>
<h1><strong>Jenis dan Potensi Pengembangannya di Bali</strong></h1>
<p><strong>Oleh I Gusti Bagus Rai Utama</strong></p>
<p><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p>Internationally, individuals from developing countries have travelled to developed countries for high quality medical care. But now, a growing number of individuals from developed countries are travelling to regions, once characterised as third world, seeking high quality health and wellness products and services at affordable prices. The preference also as an opportunity for Indonesia and Bali as a tourist destination, and the name of Bali is popular having health and wellness tourism area for several times was known as one of the best spa destinations. The industry of health and wellness in Bali has been become a part of tourism sector,  indeed,  to win the competition, need a strategy for development in accordance to face the regional and world competitions. This paper tried to identify and describe the health and wellness tourism, the brief’s description of trend of health and wellness tourism in the world, Indonesia, and Bali as well as. The conclusion of this paper describe that health and wellness tourism are being an strength of comparativeness, and opportunity to innovate tourism product in Bali</p>
<p>Keyword: <em>Bali,</em> <em>Tourism</em><em>,</em> <em>Health and Wellness</em><em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p>Menurut teori kebutuhan Maslow, dimana kebutuhan menusia bukanlah hanya sekedar kebutuhan dasar saja namun lebih daripada itu, manusia juga membutuhkan rasa aman, pengakuan sosial, merindukan sebuah penghargaan, menginginkan sebuah prestasi dan akhirnya ingin melakukan aktualisasi diri.</p>
<p><em>I have travelled so much because travel has enabled me to arrive at </em><em>unknown places within my clouded self . </em>(Sir Laurens Van der Post, quoted in 1994:99) <em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika sebagian besar manusia tidak dapat mewujudkan pemenuhan kebutuhan psikologisnya, itu semua karena keterpaksaan semata, bukan dari hati nurani seorang manusia, artinya kebutuhan manusia itu memang menjadi hasrat semua manusia di dunia ini. Pada segmen kebutuhan psikologis ini, <em>leisure activities</em> memegang peranan pentingnya.</p>
<p>Sependapat dengan Cohen tentang tipologi pelaku <em>leisure</em> (dalam Pitana:2005) dimana pelaku <em>leisure</em> dapat dibedakan menjadi lima kelompok utama, yakni: (1)E<em>xistensial</em>: Mereka adalah pelarian dari rutinitas kehidupan sehari hari, mereka bergabung pada kelompok pencari aktivitas leisure yang bersifat spiritual. (2)<em>Experimental:</em> Mereka mencari gaya hidup yang berbeda, sangat extreme dari kehidupannya sehari-hari. (3)<em>Experiental:<strong> </strong></em>Mereka mencari makna hidupnya pada komunitas yang berbeda dan membandingkannya, pencarian sebuah pengalaman dari budaya yang berbeda. (4)<em>Diversionary:</em> Mereka yang berlari dari kehidupan rutin, mencari penyegaran tubuh maupun mental “<em>refress</em>”. (5)<em>Recreational: </em>Mereka yang melakukan kegiatan leisure sebagai bagian untuk menghibur diri atau relaksasi.</p>
<p>Pendapat yang hampir sama mengacu pada teori motivasi seseorang melakukan kegiatan <em>leisure</em>. Jika dilihat dari motivasi seseorang untuk melakukan kegiatan <em>leisure</em>, McIntosh dan Murphy (dalam Pitana:2005), mengelompokkannya kedalam empat kelompok, yang terdiri dari: (1)<em>Physical Motivation:<strong> </strong></em>Orang-orang “mereka” yang terdorong ber-leisure oleh karena alasan fisik; relaksasi, kesehatan, kenyamanan, olahraga, santai dan sebagainya. (2)<em>Cultural Motivation:</em> Mereka Ingin mengenang dan mengenal budaya lain, mereka seolah-olah akan berada di dunia lain dalam kontek waktu atau zaman. (3)<em>Social Motivation: </em>Mereka termotivasi oleh kegiatan sosial seperti mengunjungi keluarga di kampung “pulang kampung” mengunjungi teman, atau bahkan menjenguk orang sakit. (4)<em>Fantasy Motivation:<strong> </strong></em>Mereka yang berusaha mewujudkan sesuatu yang telah atau sedang mereka hayalkan, berusaha lepas dari rutinitas kesehariannya.</p>
<p>Sejalan dengan beberapa pendapat di atas, jenis pariwisata atau <em>leisure activites </em>telah dikemas menjadi peluang bisnis untuk menyediakan jasa layanan <em>health and wellness</em>. Pada konteks ini, pariwisata <em>health and Wellness</em> mengacu pada kegiatan perjalanan seseorang ke dan tinggal di tempat-tempat di luar lingkungan biasa mereka untuk tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk tujuan <em>health and Wellness</em> dan tidak berhubungan dengan suatu pekerjaan, dan tidak dibayar dari tempat yang dikunjungi. Hal ini juga berasosiasi dengan perjalanan ke <em>health </em><em>spa</em> atau destinasi-destinasi <em>resort</em> di mana tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kebugaran fisik melalui latihan fisik dan terapi, kontrol diet dan pelayanan medis yang relevan dengan pemeliharaan fisik. (Romulo, at all. 2007)</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong><em>Health and Wellness Tourism</em></strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p><em>Wellness</em> dapat  digambarkan sebagai sebuah proses di mana individu membuat pilihan dan terlibat dalam kegiatan dengan cara mempromosikan mengarahkan gaya hidup yang sehat, yang pada gilirannya berdampak positif bagi kesehatan individu itu sendiri (Barre, 2005).</p>
<p><strong>2.1 </strong><strong>Posisi <em>Health and Wellness</em> dalam Bisnis Pariwisata</strong></p>
<p>Menurut Kaspar (dalam Mueller dan  Kaufmann , 2007), <em>Wellness tourism</em> pada konsep bisnis pariwisata adalah sub bagian dari <em>health tourism</em> sederajat dengan bisnis pariwisata lainnya. <em>Health tourism</em> dikategorikan menjadi <em>illness prevention tourism</em> dan <em>spa/convalescence tourism</em>. <em>Health and wellness tourism</em> termasuk pada <em>illness prevention tourism</em> yang didalamnya dikategorikan menjadi jasa kesehatan dan jasa kebugaran, lebih jelasnya dapat dilihat pada figure dibawah ini,<strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Figure: Demarcation of wellness tourism in terms of demand, (sumber: Mueller, 2007)</em></p>
<p>Konsep di atas akan menjadi sangat penting jika <em>wellness tourism</em> dipahami sebagai sebuah konsep ilmiah yang akan digali untuk dipelajari dan  dikembangkan menjadi konsep baru yang lebih relevan dari sisi permintaan maupun penawaran. Jika dilihat dari sisi penawaran, <em>wellness tourism</em> adalah sebuah produk berupa jasa pariwisata yang dapat dikembangkan atau dikreasikan ragamnya sesuai dengan kondisi sebuah destinasi baik dari sisi sosial maupun lingkungan. Kaspar (dalam Mueller dan  Kaufmann , 2007)</p>
<p>Dari sisi permintaan, <em>health and wellness tourism</em> saat ini telah menjadi trend masyarakat dunia untuk mewujudkan kebugaran dan kesehatan “<em>health prevention</em>” dan mendapatkan kepuasan diri dan selanjutnya konsumen <em>health and wellness tourism </em>tidak terbatas pada wisatawan asing saja tetapi telah menjadi “<em>lifestyle</em>” khususnya masyarakat “konsumen” perkotaan dalam negeri (www.tpdco.org).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>2.2 </em></strong><strong>Perbedaan <em>Medical dan Health Tourism</em></strong></p>
<p><em>Health Tourism adalah</em> perjalanan dengan motivasi<strong> </strong>kesehatan ( <em>health tourism</em>) pada hakekatnya dilakukan sehubungan dengan kesehatan, seperti pemeriksaan kesehatan (<em>medical check-up</em>), pemeliharaan, seperti mandi uap, mandi lumpur, mandi air panas, pijat refleksi, pijat kebugaran dan spa yang dewasa ini sedang marak di Indonesia, pengobatan, pemulihan dan selanjutnya. (Rogayah, 2007)</p>
<p><em>health-tourism</em> dan <em>medical-tourism adalah dua hal yang berbeda</em>, dimana <em>health tourism </em>dapat diartikan sebagai pariwisata kesehatan berupa perjalanan untuk pemeliharaan dan atau pemulihan kesehatan yang pada hakekatnya dilakukan oleh orang yang sehat, tidak menderita suatu penyakit, atau orang yang baru sembuh dari perawatan. Sedangkan <em>medical tourism</em> lebih condong menyangkut tindakan medik pengobatan (<em>cure</em>), operasi dan atau tindakan medik lainnya, yang dilakukan terhadap penderita suatu penyakit atau kelainan kondisi kesehatannya.</p>
<p><em>“medical tourism, which focuses more on surgical procedures, health tourism is a much broader concept centered mainly around resorts designed to pamper or improve the body and relax the mind” </em><strong><em>Medical tourism</em></strong> <em>(also known as</em> <strong><em>Health Tourism</em></strong><em>) is the practice of traveling abroad to obtain healthcare services.</em> (discovermedicaltourism, 2010)</p>
<p>Menurut Discovermedicaltourism (2000), medical tourism lebih terfokus pada “<em>surgical procedures</em>” namun <em>health tourism</em> lebih banyak  dihubungkan dengan konsep sebuah resort yang dirancang untuk tujuan relaksasi, mencari ketenangan, serta peningkatan kebugaran tubuh. Namun antara istilah <em>medical</em> dan <em>health tourism</em> sebenarnya dianggap dua hal yang tidak jauh berbeda menurut anggapan para konsumen atau wisatawan.</p>
<p><strong><em>2.3 </em></strong><strong>Jenis dan Bentuk Produk <em>Health and Wellness Tourism</em></strong></p>
<p>Menurut Kaspar (dalam Mueller dan  Kaufmann , 2007), kebutuhan akan produk <em>health and wellness</em> akan terus berkembang dan menjadi beragam tergantung pada faktor sosial dan kepekaan lingkungan. Jika manusia masih memiliki rasa untuk memanjangan diri “<em>self responsibility”</em> maka pasti akan membutuhkan jasa <em>health  and wellness</em> tersebut. <em>Health and Wellness</em> produk dapat dikategorikan pada beberapa kelompok yakni; <em>(1) mind mental activity/education, (2) health nutrion/diet, (3) body physical fitness/beauty care, dan (4) relaxation rest/meditation</em>. Lebih jelasnya dapat digambarkan pada figure dibawah ini,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Figure: Expanded wellness model 3, Wellness tourism is regarded as a sub-category of health tourism (Kaspar, 2007)</em><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>2.4 </em></strong><strong><em>Trend Health and WellnessTourism di Dunia</em></strong></p>
<p><em>Trend</em> yang semakin meningkat bagi pertumbuhan dan perkembangan <em>Health and wellness Tourism</em> tidak dapat diragukan lagi. Pada tingkat global dan regional untuk <em>health and wellness</em> <em>(medical service, leisure and recreation Spas, medical surgical clinic, medical wellness centers or spa)</em> tourism menyebar hampir merata di beberapa kawasan seperti Eropa, Amerika, Asia, dan Australia serta Selandia Baru.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Figure </em></strong><em>International Analysis of Health and Wellness Assets. Source : Smith and     Puczk ó (2009)</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>Pada sisi lainnya, seperti nampak pada figure  di atas, kebutuhan atau permintaan akan destinasi yang alami dan mampu menjadi tempat untuk melakukan <em>“healing”</em> atau penyembuhan justru menjadi <em>trend</em> yang merata hampir di semua kawasan dunia.</p>
<p>Menurut Smith dan Puczk ó<strong>, </strong>(2009: p253)<strong> </strong><em>health and wellness tourism</em> dapat dikembangkan berdasarkan bahan-bahan atau asset yang telah tersedia pada suatu destinasi <em>(Existing assets for health and wellness tourism)</em> dan atau diadakan berdasarkan kebutuhan atau permintaan <em>(Use of existing assets).</em></p>
<p>Yang termasuk dalam <em>Existing assets for health and wellness tourism </em> adalah (1) <em>Natural healing assets, (2) Indigenous healing traditions, (3) medical service, (4) nature,</em>dan<em> (5) spiritual traditions. </em> Sedangkan yang termasuk pada <em>use existing assets </em>adalah <em>(1) leisure and recreation spas, (2) medical/</em> <em>therapeutic hotel/clinic spas, (3) medical/surgical clinic or hospital, (4) medical wellness center or spas, (5)holistic retreats, </em>dan <em>(6) Hotel and resort  spa.</em></p>
<p><strong><em>Natural healing</em></strong> asset tersebar hampir merata di beberaa kawasan seperti Eropa Utara, Barat dan tengah, Eropa Selatan. Sementara pada kawasan Amerika tersebar di dua kawasan yakni Amerika Tengah dan selatan. Begitu juga dengan kawasan Afrika dan kawasan fasifik juga kaya dengan natural healing assets, sementara di kawasan Timur tengah dan asia tenggara tidak termasuk dalam kawasan yang kaya dengan natural healing asset kecuali asia timur jauh, hal ini dimungkinkan karena pada saat penelitian ini dilakukan, ke dua kawasan tersebut belum mengeksplorasi hal tersebut sebagai asset yang bisa dijadikan <em>natural healing asset.</em></p>
<p><strong><em>Indegenous Healing tradition</em></strong> menyebar merata di kawasan Amerika, Afrika, Asia Tenggara dan timur jauh, dan kawasan fasifik. Kawasan Eropa justru dianggap tidak memiliki indigenous healing tradition yang berarti hal ini mungkin saja terjadi karena sebagaian besar kawasan ini telah tersentuh modernisasi yang hampir tidak meninggalkan lagi unsure-unsur ketradisonalannya, sangat berbeda dengan kawasan asia, fasifik, dan amerika yang masih sangat mudah ditemukan budaya indigenous healing tradiosional seperti misalnya di India, China, pengobatan alternative di Indonesia, dan sejenisnya.</p>
<p><strong><em>Medical services</em></strong> menyebar hampir di semua kawasan kecuali di kawasan fasifik, hal ini dimungkinkan karena kawasan fasifik terletak cukup jauh dari kawasan-kawasan yang lainnya sehingga secara internasional kawasan fasifik tidak sepopuler kawasan lainnya seperti eropa, amerika, dan asia.</p>
<p><strong><em>Nature </em></strong>menyebar merata di seluruh kawasan kecuali di kawasan asia tenggara dan eropa bagian tengah dan timur. khusus untuk kawasan asia tenggara belum dianggap kawasan yang populer dengan sumber nature untuk asset health and wellness tourism dimungkinkan belum dilakukan eksplorasi atau pengembangan sumber nature untuk peruntukan bisnis health and wellness tourism.</p>
<p><strong><em>Spritual Tradition </em></strong>hanya ditemukan pada kawasan asia tenggara dan asia timur jauh hal ini  dimungkinkan karena kawasan ini paling eksis dalam memelihara budaya spiritual yang masih original atau lebih dikenal dengan spiritual tradition seperti contohnya; penyembuhan dengan senam yoga, senam yang berbasis aliran Yin dan Yang di China, dan sebagainya.</p>
<p>Sangat mengherankan, sebaran untuk <em>use of existing asset</em>s justru menyebar pada kawasan Asia tenggara dan asia timur jauh untuk semua jenisnya seperti; <em>leisure and recreation spa, terapi hotel spa and clinic, medical clinic and hospital, medical wellness center  and spa, holistic retreats, dan hotel and resorts spa</em>.  Hal yang sama juga terdapat pada kawasan eropa selatan dan kawasan fasifik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.5 </strong><strong><em>Health  and Wellness</em></strong><strong> di Indonesia</strong></p>
<p>Sejauh ini, untuk perkembangan <em>health and wellness tourism</em> belum banyak disadari sebagai potensi bisnis yang sangat potensial di Indonesia, padahal Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk kedua jenis <em>asset</em> untuk pengembangan <em>health and wellness tourism</em> tersebut.</p>
<p>Menurut Rogayah, (2007) hampir di setiap wilayah Indonesia dapat ditemukan pariwisata kesehatan yang sudah dikembangkan; hal tersebut dapat dipahami mengingat Indonesia merupakan kepulauan yang kaya akan alam dan pegunungan yang tersebar baik di lima pulau terbesar di Indonesia maupun di beribu pulau kecil lainnya. Namun sayang sekali data tentang keberadaan pariwisata kesehatan yang belum dikembangkan dan masih sangat alami belum dapat diketahui dengan pasti.</p>
<p>Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, penggunaan rempah-rempah, bumbu-bumbuan dan tumbuh-tumbuhan seperti padi, kelapa, jahe dan lain-lainnya untuk digunakan sebagai bahan penyembuhan dan relaksasi (<em>rejuvenate</em>) yang bersifat holistik sudah merupakan kebiasaan turun temurun dan sebagian telah dikemas menjadi industri <em>spa</em> dan sepuluh tahun terakhir ini <em>spa and wellness</em> berkembang sangat cepat di Indonesia khususnya  di Bali, dan industri ini menghasilkan pendapatan yang tinggi (Widjaya, 2011).</p>
<p>Selama ini <em>health and wellness </em> khususnya <em>Spa</em>, lebih identik untuk kecantikan dan kebugaran tubuh, namun seiring dengan berkembangnya kreatifitas dan inovasi para penyedia jasa, dengan digabungkannya <em>Spa</em> dan <em>herbal teraphy</em> selain mendapat cantik, seseorang juga mendapat banyak manfaat untuk penyembuhan berbagai penyakit (Sugianto, 2010)</p>
<p>Seiring dengan hal di atas, kehidupan di kawasan perkotaan seperti Jakarta, Surabaya dan juga Denpasar  yang sarat dan padat dengan aktivitas berdampak pada badan dan raga menjadi lelah dan letih. Kondisi ini memunculkan bisnis <em>Spa</em> yang menawarkan pemulihan dan kebugaran sehingga seberat apa pun aktivitas sesesorang dengan<em> spa</em> akan kembali bugar dan siap untuk kembali melakukan aktivitas yang padat tersebut.</p>
<p>Bagi masyarakat modern, semua itu menjadi hal yang dihadapi setiap harinya. Pada saat-saat demikian terapi kesehatan dan juga sarana untuk memanjakan diri menjadi suatu kebutuhan bahkan telah menjadi <em>trend</em> saat ini, termasuk juga langganan datang ke Spa untuk memulihkan tubuh dari rasa lelah dan lambatlaun telah menjadi gaya hidup masyarakat dunia<em>. (</em><em>Everyday spa, 2010)</em><em> </em></p>
<p>Senada dengan hal di atas, adanya tuntutan kesehatan dan kebugaran telah berubah menjadi aktualiasi diri seiring dengan peningkatan kesejahteraan hidup manusia juga mendorong terciptanya gaya hidup modern. Keinginan tampil beda dengan tubuh yang senantiasa segar dan sehat, dan <em>health and wellness tourism</em> berkembang seiring dengan adanya permintaan dan terciptanya beragam jenis produk <em> health and wellness </em>mengiringi pesatnya tingkat persaingan antara<em> supplier</em> atau penyedia jasa.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>2.6 </strong><strong><em>Health  and Wellness</em></strong><strong> <em>Tourism </em>Bali</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sebagai daerah tujuan wisata, keberadaan <em>health</em><em> dan wellness tourism</em>, di Bali telah dikenal di dunia sebagai salah satu destinasi spa terbaik. The Jakarta Post (2009), memberitakan bahwa  Thermes Marins Bali, Indonesia mendapat penghargaan sebagai “<em>best Destination SPA in Asia</em>’ oleh  Asia SPA and Wellness, pada Asia <em>Spa and wellness festival Gold Awards</em> di hotel Landmark, Bangkok. Pada acara ini ada 28 <em>Spa and Wellness Centers</em> yang mendapat penghargaan dari 212 nominasi yang ada di Asia, dimana penilaian dilakukan dengan melihat indikator suasana (<em>ambience</em>), peralatan dan design, kualifkasi dan keterampilan <em>therapist</em>, <em>menu treatment</em> dan kualitas layanan (<em>service)</em>, selain itu di tahun 2009 juga Bali mendapat penghargaan sebagai the “<em>World’s Best Spa Destination</em>”. Penghargaan ini diberikan oleh Berlin-<em>based fitness magazine Senses</em> dan diterima pada acara <em>annual International Pariwisata Bourse</em> (ITB) in Berlin.</p>
<p>Untuk mempertahankan dan pengembangan <em>health and wellness tourism</em> tidak hanya sebatas produk <em>spa, </em>maka diperlukan sebuah strategi yang tepat dan jitu untuk membuat kreasi dan inovasi produk. <em>Caribbean Export Development Agency</em> (2008) mengusulkan bentuk strategi pengembangan pariwisata <em>health and Wellness di karibia</em>. Tidak jauh berbeda, mengingat kepulauan karibia dan Bali memiliki banyak persamaan dalam pengembangan pariwisatanya, maka adopsi konsep ini bagi pengembangan pariwisata <em>health and Wellness</em> di Bali juga dapat dilakukan. Ada 10 aspek yang perlu dilakukan dalam strategi pengembangan tersebut ke sepuluh strategi tersebut akan dijelaskan berikut ini. (1)Penentuan Posisi <em>health and Wellness</em><em> tourism</em> Bali dalam Pasar Global. (2) Penentuan Posisi Pariwisata <em>health and Wellness</em> Bali dalam Pasar Regional. (3) Identifikasi Produk dan/atau Pelayanan yang Ditawarkan. (4) Mengidentifikasi pasar Target. (5)Mengatasi Hambatan Potensial. (6)Mengetahui Apa yang Pesaing Bali. (7)Membedakan Bali dari Competitor. (8) Meluruskan Goals Industri health and wellness dengan Strategi Peluang. (9)Mengambil Kesempatan bermitra. (10) Menerapkan Strategi Promosi.</p>
<p>Khususnya di Bali, pasar pariwisata <em>health and Wellness</em> dapat dibagi menjadi empat segmen: (1) pariwisata medis, (2) Wellness dan spa, (3) keperawatan (nursing) dan perawatan lansia (elderly care), dan (4) jasa untuk penelitian dan diagnostik.  Layanan <em>health and Wellness</em> di banyak negara merupakan layanan yang ideal untuk mempromosikan peran ekspor jasa pariwisata sebagai bagian dari GDP. Menurut statistik <em>World Travel and Tourism Council</em> (WTTC), diperkiraan keseluruhan kontribusi pariwisata terhadap rata-rata GDP cukup tinggi.</p>
<p>Di Bali jumlah spa  berkembang melebihi 160% sejak tahun 2003. Teriden-tifikasi ada sekitar 390 spa yang sekarang sedang beroperasi dan selebihnya ada sekitar 21 spa yang sedang di bangun (Widjaya, 2011). Tingginya perkembangan tersebut membuka momentum bagi bisnis <em>health and Wellness</em> di Bali, walaupun disisi eksternalnya bisnis ini akan berkompetisi dengan lingkungan perdagangan internasional yang sangat kompetitif, tetap saja bisnis <em>Health and Wellness</em> ini merupakan kesempatan nyata untuk mengambil keuntungan, untuk menciptakan prospek pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini akan menjadi peluang bagi Bali sebagai destinasi <em>health and Wellness</em> dimasa yang akan datang.</p>
<p>Investasi asing langsung dan pembentukan perusahaan asing di Bali dalam konteks industri pariwisata <em>health and Wellness</em> beberapa tahun terakhir ini, khususnya pembangunan spa telah meningkat 160% bila diban-dingkan dengan tahun 2003. Dari 160% tersebut 52% berlokasi di Hotel, Resort, dan Retreat (<em>Destination Spas</em>), sisanya ada 42% adalah Day Spas (Widjaya, 2011). Tingginya minat melakukan investasi di bidang spa ini menunjukkan bahwa industri pariwisata <em>health and Wellness</em> di Bali dipandang menjanjikan secara bisnis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Kesimpulan dan Saran</strong></li>
</ol>
<p>Di Indonesia dan kawasan ASEAN Bali dikenal memiliki imprastruktur pariwisata yang cukup mapan. Perkembangan pariwisata <em>health and wellness</em> sebagai konsekuensi dari berkembangnya infrastuktur, permintaan wisatawan, industri perhotelan dan lingkungan bisnis yang telah teratur baik. Namun, keuntungan komparatif seperti ini, belum menjamin Bali mampu menghadapi persaingan global telah ditentukan oleh keinginan wisatawan.</p>
<p>Oleh karena itu fungsi pengelolaan pariwisata <em>health and Wellness</em> telah selayaknya dievaluasi kembali, khususnya bagaimana strategi yang paling tepat yang dapat dilakukan bagi pengembangan pariwisata <em>health and Wellness</em> di Bali, yang melibatkan tidak hanya pemerintah tetapi stakeholder pariwisata Bali. Dari evaluasi tersebut, diharapkan akan mendapatkan jawaban tentang: posisi <em>health and wellness</em><em> tourism</em> bali pada pasar global,  posisi pariwisata <em>health and wellness</em> Bali dalam pasar regional, jenis dan ragam produk dan/atau pelayanan yang ditawarkan, pasar target, mengetahui hambatan potensial, mengetahui pesaing Bali, perbedaan Bali dengan pesaing, goal industri <em>health and wellness</em> bali dengan strategi peluang yang tepat, melakukan kemitraan dengan pihak asing, dan melakukan strategi promosi tepat.</p>
<p>Keberadaan <em>Health and Wellness Tourism </em>adalah sebuah peluang dan kekuatan untuk menambahkan daya saing Bali sebagai sebuah destinasi pariwisata Internasional, namun jika keberadaan <em>health and wellness tourism </em>di Bali tidak dikelola sebagai bagian utuh dari pariwisata Bali, akibatnya akan berdampak pada kualiats destinasi secara keseluruhan.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Finn, Emanuel, 2002, <em>Health Tourism</em>, Volume No 1 Issue No 23, Friday, June 28, 2002</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gigi Starr 2010. “<em>10 Best Spas</em>”. http://www.travels.com/vacation-ideas/ leisure-activities/best-spas/</p>
<p>GMDC and The Hartman Group. 2009. <em>Consumer Shopping Habits for Wellness and Environmentally Conscious Lifestyles Study: Insights for Health, Beauty and Wellness</em>. <a href="http://www.pacific.edu/Documents/school-pharmacy/acrobat">http://www.pacific.edu/Documents/school-pharmacy/acrobat</a> /Consumer%20 Shopping%20Habits %20 for%20Wellness%20-%20Presentation.pdf.</p>
<p>Gonzales, Anthony, et.al. 2001. <em>Health Tourism and Related Services: Caribbean Development and International Trade</em>, Caribbean Regional Negotiating Machinery (CRNM).</p>
<p>Hadinoto, Kusudianto.1996. <em>Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata</em>. Jakarta; Penerbit Universitas Idonesia.</p>
<p>Health Tourism. 2010. Retrive from <a href="http://www.discovermedicaltourism.com/health-tourism/">http://www.discovermedicaltourism.com/health-tourism/</a></p>
<p>Karen (2005). Different kinds of leisure activities at the weekends in Bristol. Bristol Research Paper.</p>
<p>Mill, Robert Cristie.2000. Tourism, <em>The International Business.</em>Jakarta: PT Raya Grafindo Persada.</p>
<p>Mlesnita, Radu Adrian, 2002, <em>Health Tourism,</em> Volume No 1 Issue No 23, Friday, June 28, 2002</p>
<p>Mueller dan  Kaufmann.  2007. <em>Wellness Tourism: Market analysis of a special health tourism segment and implications for the hotel industry . Research Institute for Leisure and Tourism</em>, University of Berne, Engehaldenstrasse 4, CH-3012 Bern, Switzerland</p>
<p>Oka A. Yoeti, 1996, <em>Anatomi Pariwisata</em>, Bandung: PT Angkasa</p>
<p>Pendit, Nyoman S., 2002, <em>Ilmu Pariwisata</em>, Jakarta: Pt. Pradnya Paramita.</p>
<p>Pitana, I Gde, dan Gayatri. 2005. <em>Sosiologi Pariwisata</em>. Jogyakarta: Penerbit Andi</p>
<p>Rogayah, Iim D. 2007. Pariwisata Kesehatan di Jawa Barat, Retrieved on 02 November 2009 from <a href="http://irdanasputra.blogspot.com/2009/11/pariwisata-kesehatan.html">http://irdanasputra.blogspot.com/2009/11/pariwisata-kesehatan.html</a></p>
<p>Romulo A. Virola and Florande S. Polistico.  2007. <em>Measuring Pariwisata health and Wellness in the Philippines</em>. 10th National Convention on Statistics (NCS). EDSA Shangri-La Hotel.</p>
<p>Ross, K. (2001). “<em>Health Pariwisata: An overview.” HSMAI Marketing Review</em>, (December). Downloaded from: www.hospatality/net.org</p>
<p>Sanders, Sir Ronald. 2007. <em>Medical Tourism – The Impact</em>.  http://www.BBCCarib-bean.com</p>
<p>SpaFinder.2008. <em>Issues 5th Annual Spa Trends Report, 10 Spa Trends to Watch in 2008</em>. www.acybernews.com/spafinder-issues-5th-annual-spa-trends-report-10-spa-trends-to-watch-in-2008/</p>
<p>The Baxter Group (2003). “<em>The Canadian pariwisata Resource Guide 2003/04: A Directory of New Products and Services</em>.” Toronto, Ontario</p>
<p>The Jakarta Post. 2003. <em>Bali voted &#8216;best island&#8217;</em>.<strong> </strong>http://www.thejakartapost.com/ news/2003/07/29/Bali-voted-039best-island039.html</p>
<p>The Jakarta Post. 2005. ‘<em>Bali again named world&#8217;s favorite tourist island<strong>’</strong></em><strong>. </strong>http://www.the- jakartapost.com/news/2005/07/11/Bali-again-named-world039s-favorite-tourist-island.html</p>
<p>The Jakarta Post. 2009. ‘<em>Bali named world&#8217;s best spa destination</em>”.  http://www.thejakarta post.com/news/2009/03/25/Bali-named-world039s-best-spa-destination.html</p>
<p>United Nation World Tourism Organizaton (UNWTO). 2007.  <em>Tourism Highlights, edisi 2007</em>. https://pub.unwto.org/WebRoot/Store/Shops/Infoshop/4922/C788/D1 06/3080/CEEC/C0A8/0164/52FB/081118_tmt_world_2007_engl_excerpt.pdf</p>
<p>Widjaya, Lulu. 2011. <em>Spa Industry in Bali</em>. Guest Lecturer in Tourism Doctoral Program at Udayana University.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Smith, Melanie dan Puczkó, László. (2009).  <em>Health and Wellness Tourism</em>. Butterworth-Heinemann is an imprint of Elsevier, Linacre House, Jordan Hill, Oxford OX2 8DP, UK 30 Corporate Drive, Suite 400, Burlington, MA 01803, USA, Retrive   from http://www.download-it.org/learning-resources.php?promoCode=&amp;partnerID=&amp;content=story&amp;storyID=1719</p>
<p>Spillane, James J. 1987.<em>Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya</em>. Yogyakarta: Penerbit Kanisius</p>
<p>Stenden, University (2008<em>). Catalog of MAILTS</em> Program. Leeuwarden: Internal publisher.</p>
<p>Sugianto, Agy. 2010. Spa Jadi gaya hidup masyarakat kota. Retrive from <a href="http://bataviase.co.id/node/310818">http://bataviase.co.id/node/310818</a></p>
<h1><em><br />
</em></h1>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=216&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/03/08/health-and-wellness-tourism-jenis-dan-potensi-pengembangannya-di-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Plato&#8217;s Republic: Book V. GREAT DIALOGUES OF PLATO</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2011/01/03/platos-republic-book-v-great-dialogues-of-plato/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2011/01/03/platos-republic-book-v-great-dialogues-of-plato/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 04:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[GREAT DIALOGUES OF PLATO Plato&#8217;s Republic: Book V All Goods Held in Common Among Friends and Philosophers as the Rulers of the State &#160; Direview oleh &#160; Sidhi Bayu Turker, M.Par NIM. 1090771009 &#160; I Gusti Bagus Rai Utama, MA. NIM. 1090771010 Program Pascasarjana Doktor Pariwisata Universitas Udayana Bali &#160; &#160; &#160; Pada buku V [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=209&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>GREAT DIALOGUES OF PLATO</strong></p>
<p><strong><em>Plato&#8217;s Republic: Book V</em></strong></p>
<p><strong><em>All Goods Held in Common Among Friends and Philosophers as the Rulers of the State</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Direview oleh</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sidhi Bayu Turker, M.Par</strong></p>
<p>NIM. 1090771009</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>I Gusti Bagus Rai Utama, MA.</strong></p>
<p>NIM. 1090771010</p>
<div>
<h1><strong>Program Pascasarjana Doktor Pariwisata Universitas Udayana Bali</strong></h1>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada buku V dari Plato, Isu persamaan gendre dimulai dari sebuah dialog antara Polemarchus dan Adimantus yang mengangkat sebuah isu diantara mereka. Adimantus membawa isu ini pada prinsif dasar yang diajarkan oleh Socrates dan pada prinsif lainnya yang memiliki kemiripan isu. Pada dasarnya mereka menginginkan agar Socrates mendiskusikan tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan dan bagaimana seorang perempuan memelihara anak-anaknya dihadapan  teman-teman mereka, dan begitu juga tentang adanya perlawanan hati nurani tentang prinsif tradisional pada masa itu.</p>
<p>Socrates memulai dengan mengatakan bahwa dia tidak yakin apa yang akan dikatakannya menjadi sebuah kebenaran atau apa yang sebenarnya akan terjadi. Dia menganggap bahwa isu persamaan gendre adalah isu yang berbahaya, isu tentang sebuah perbudakan, dan isu-isu sejenisnya itu sangat sulit untuk didiskusikan.  Dia tidak ingin membuat sebuah kesalahpahaman diantara mereka, sehingga dia tidak yakin masalah ini bisa diselesaikan.  Namun seberapapun sulitnya masalah ini, tetap harus dapat ditemukan sebuah jawaban agar tidak terjadi pertentangan diantara mereka dan untuk itulah diskusi akhirnya dilanjutkan.</p>
<p>Sejak dulu Seorang lakik-laki memproteksi seorang perempuan bagaikan mengikat sekelompok anjing peliharaan. Sudah menjadi hukum alam bahwa seorang perempuan harus tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak mereka.  Hal ini membuat perempuan seolah lebih lemah dari laki-laki pada semua hal.  Pada buku The Republic, diungkapkan bahwa Plato atau Socrates menganggap seorang perempuan hanya berbeda dengan laki-laki secara pisik saja dan anggapan ini menjadi awal pandangan modern tentang konsep emansipasi perempuan. Perempuan dan laki-laki itu sama kedudukannya pada semua bidang, baik itu bidang seni, kerajinan atau bidang lainnya.</p>
<p>Oleh sebab itulah, laki-laki dan perempuan harusnya mendapatkan kesempatan yang sama dibidang pendidikan. Walaupun pada saat ini, banyak budaya atau tradisi belum dapat menerima sepenuhnya tetapi prinsip persamaan gendre ini adalah sebuah kebenaran yang perlu diperjuangkan terus menerus.</p>
<p>Pada kejadian ini, pertanyaan yang harus dijawab oleh Socrates adalah: Apakah kaum perempuan secara alami memiliki kemampuan atau kontribusi yang sama dengan kaum laki-laki? Jika ya, dimanakah perempuan itu akan mengungguli kaum laki-laki?</p>
<p>Pada awalnya Socrates menggunakan definisi tentang perlawanan terhadap kaum laki-laki, sejak itulah banyak sekali pemisahan-pemisahan terjadi, misalnya tentang: apa saja tugas kaum laki-laki secara alamiah yang dapat dibedakan, kapan seorang perempuan tidak harus merebut persamaan terhadap kaum laki-laki.</p>
<p>Socrates memberikan sebuah gambaran tentang terjadinya kebingunan di masyarakat tentang istilah alamiah, apakah jika ada laki-laki berambut panjang atau perempuan berambut pendek itu melawan hukum alam? Di sini Socrates menjawab, yang dimaksud alamiah adalah sesuatu yang berhubungan dengan hasrat atau sebuah kesenangan, atau bakat, misalnya: perempuan atau laki-laki yang memiliki bakat menjadi ilmuwan harusnya mereka menjadi ilmuwan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dia menolak bahwa perempuan dan laki-laki keinginannya harus dibedakan, sehingga Dia “Socrates” menjawab bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki hasrat dan keinginan yang sama dalam segala hal, tetapi dalam segala hal mungkin kaum perempuan lebih lemah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam sebuah masyarakat, Socrates menemukan istilah kelompok elit yakni kelompok yang mendapatkan pendidikan yang lebih layak dari kelompok lainnya. Ada Kelas-kelas dalam sebuah masyarakat misalnya adanya kelompok pengatur, prajurit, pengerajin. Pengatur dan prajurit mendapatkan pendidikan yang terbaik karena diharapkan mereka akan memiliki keturunan yang lebih baik pula. Selanjutnya mereka akan memiliki anak laki-laki yang terbaik juga. Namun jika kaum perempuan berada pada kelompok elit tersebut, maka sangat dimungkinkan juga akan menghasilkan kelompok perempuan yang terbaik juga. Jadi tidak dapat disimpulkan bahwa  generasi siapakah yang akan “laki-laki atau perempuankah yang menjadi terbaik”. Sehingga dalam kenyataan ini, yang menjadi terbaik adalah yang lebih berhubungan dengan kesempatan dalam sebuah pernikahan dan masalah ketersediaan makanan atau perbaikan gizi. Kenyataan di atas menghasilkan sebuah hukum bahwa  perempuan adalah sama dengan laki-laki, dan selanjutnya tentang anak-anak mereka sebagai orangtua, anak-anak bukanlah milik dari orangtua mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Socrates melanjutkan diskusinya dengan mengatakan bahwa hukum tersebut bukanlah hukum yang terbaik. Dia memulai dengan sebuah contoh perkawinan misalnya, pasangan untuk anak-anak mereka memang harus dipilih namun bukan orangtua mereka yang memilih.  Dia menolak bahwa manusia akan  diberlakukan sama dengan mengawinkan binatang yang bisa dipilih mana betinanya dan mana pejantannya?. Masalah perkawinan adalah sebuah rahasia bagaikan menarik sebuah loteri. Seperti seorang laki-laki yang sedang berperang pasti mengharapkan sebuah kemenangan dan pujian atau penghargaan dan cinta. Ada persoalan mendasar pada sebuah perkawinan, siapa yang mengikuti siapa dan kapan; misalnya laki-laki harusnya telah berumur antara 30-45 tahun, dan perempuan harusnya berumur 20-40 tahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebiasaan pada sebuah perkawinan dalam masyarakat,  anak-anak harus dilatih untuk hidup tanpa orangtua atau dipisahkan dari orangtua mereka sesegera mungkin. Kebiasaan ini menjadi sebuah kebiasaan dalam masyarakat untuk memisahkan anak-anak mereka yang berumur antara 7-10 bulan untuk dapat berpisah dari orangtua mereka, sehingga seolah-olah banyak anak laki-laki dan perempuan memiliki banyak orangtua dalam sebuah masyarakat, dalam konteks kekinian bahwa anak-anak adalah milik Negara bukan orangtua mereka.</p>
<p>Socrates beranggapan bahwa kejahatan dan krimininalitas akan rendah jika dalam sebuah masyarakat terdiri dari warga yang paham tentang mana miliknya “mine” dan mana yang bukan miliknya “not mine”.  Hal ini juga dapat mengacu tentang anak-anak dan orangtua mereka. Seorang istri dan anak-anak bukanlah milik suaminya tetapi mereka adalah sebuah sekutu atau anggota masyarakat yang sama-sama diberkati dalam sebuah masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam masyarakat, Scorates menerangkan bahwa tidak ada mengelompokan atau pembedaan sehingga keharmonisan dan kedamaian akan terwujud pada sebuah masyarakat dan akhirnya tercipta suasana yang lebih menyenangkan secara keseluruhan maupun secara individu. Ini sama artinya dengan; ada kelompok yang tidak bahagia karena mereka dapat memiliki apasaja pada sebuah kota atau masyarakat, tetapi mereka tidak merasakan apa-apa pada akhirnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada akhir diskusi, Socrates memulai diskusi tentang perang, menurutnya, anak-anak akan menjadi korban yang pertama yang akan menanggung  akibat darinya. Mereka  bagai akan mengendara kuda dengan cepat dan digiring masuk jurang, dan akhir dari perang hanyalah sebuah kesulitan bagi masyarakat.</p>
<p>Tentang masalah perlindungan diri sebuah kelompok, Socrates menawarkan beberapa hal yang bisa di diskusikan. Perlindungan yang tidak menggunakan alat pelindung diri berupa alat-alat perang. Kesemuanya diwujudkan dalam sebuah semangat tentang siapa yang akan mendapatkan penghargaan, pujian, dan cinta.<br />
Dengan menghormati lawan-lawannya, artinya, mereka akan aman pada sebuah benteng. Dan jika mereka melawan maka artinya mereka juga menjadi bangsa barbar yang justru akan menambah permasalahan lebih besar lagi.</p>
<p>Socrates juga menolak bahwa hanya laki-laki yang mampu melakukan sesuatu yang terbaik, laki-laki tidak harus sempurna.  Kesimpulan dari semua diskusi ini adalah sebuah pencarian bentuk menuju sebuah bentuk masyarakat yang ideal.  Seperti apakah seharusnya sebuah masyarakat yang baik itu seharusnya dibangun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Socrates, berdasarkan dari teori bentuk “theory of forms” langkah yang tepat dan akurat jauh lebih baik daripada kecepatan tindakan untuk mewujudkan masyarakat yang sebenarnya. Sehingga yang paling ideal untuk dijadikan pemimpin adalah seorang Pilosoper.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemudian Socrates mendifinisikan seperti siapakah seorang pilosoper tersebut; seorang pilosoper adalah seseorang yang memiliki kasih atau cinta akan kebijaksanaan, dan kebenaran.  Pada pencerahan ini, Socrates memberikan landasan skala ilmu pengetahuan. Yang berada pada puncak kebenaran sebuah ilmu atau pilosofis pengetahuan yang sempurna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<h2>Daftar Pustaka</h2>
</div>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Aristotle:</strong><strong> </strong><strong>Politics. Book V, 12, 8</strong><strong>;</strong> &#8220;He only says that nothing is abiding, but that all things change in a certain cycle: and that the origin of the change is a base of numbers which are in the ratio of 4:3 and this when combined with a figure of five gives two harmonies: he means when the number of this figure becomes solid.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>PLATO: The Collected Dialogues, Eds. Edith Hamilton &amp; Huntington Cairns, Princeton University Press, Princeton, N. J., 1961. Various Translators; includes the Epinomis &amp; Letters.</p>
<p>Plato’s Republic. 2004. Retrive from http://www.friesian.com/plato.htm on 1st Jan 2011.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rouse W.H.D.  1984. Great Dialogues of Plato: Translation, edited by Eric H. Warmington and Philip G. Rouse. A signet Clasic.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ryan, Matthew D. 2010. Plato&#8217;s Republic: Book V: All Goods Held in Common Among Friends and Philosophers as the Rulers of the State. Retrieve from http://www.associatedcontent.com/article/2503663/platos_republic_book_v.html on 1st Jan 2011.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>THE DIALOGUES OF PLATO. Vol II, Trans. B. Jowett, Clarendon Press, Oxford, 1871, 1953. The Republic. Geometrical/Nuptial Number &amp; The Number of the Tyrant/State with the following reference to Aristotle&#8217;s remark on this question</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=209&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2011/01/03/platos-republic-book-v-great-dialogues-of-plato/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pariwisata dalam pandangan Islam dan Muslim</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2010/11/09/pariwisata-dalam-pandangan-islam-dan-muslim/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2010/11/09/pariwisata-dalam-pandangan-islam-dan-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 04:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Pariwisata Menurut Pandangan Islam dan Muslim Pembimbing Kuliah: Prof. Dr. I Wayan Ardika, MA Working Paper  for Cultural Study Oleh: I Gusti Bagus Rai Utama, MA Abstract This paper describes the pattern of tourist arrival-in and departure-of Muslim which the religious factor has bearing on policy and development strategy affecting tourism. Drawing illustration from some [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=190&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Pariwisata Menurut Pandangan Islam dan Muslim</p>
</div>
<p>Pembimbing Kuliah: Prof. Dr. I Wayan Ardika, MA</p>
<p>Working Paper  for Cultural Study</p>
<p>Oleh: I Gusti Bagus Rai Utama, MA</p>
<h3>Abstract</h3>
<p>This paper describes the pattern of tourist arrival-in and departure-of Muslim which the religious factor has bearing on policy and development strategy affecting tourism. Drawing illustration from some countries that they have attractive tourist destinations where Islam is the state religion. This study also describes briefly history of tourism in Islam, and how the Muslim has accepted tourism. The most importance thing is there are resistances of Islam regarding negative impact of tourism as formulation of social control for regulations prohibit prostitution, gambling, and the consumption of alcoholic beverages in Muslim countries.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Keyword: Islam, Muslim, Tourism, acceptance, resistance, impact</em></p>
<h1>1.     Pengantar</h1>
<p>Pada karya tulis ini sengaja tidak menampilkan sosok Mohammad sebagai tokoh kunci Islam dan ke-Islaman itu, namun berusaha mencoba mencari jawaban tentang sejarah Islam yang berkaitan dengan pariwisata atau dunia perjalanan wisata. Tulisan ini disajikan secara bebas kepentingan “<em>independent”</em> berdasarkan pandangan ilmiah sebagai sebuah studi budaya yang boleh dipelajari oleh semua pihak.</p>
<p>Membahas tentang pariwisata dalam pandangan Islam tentu saja tidak bisa dilihat hanya dari pemaknaan pariwisata itu menurut agama Islam itu semata, akan lebih lengkap jika pandangan tentang pariwisata dilihat dari perspektif pemaknaan menurut doktrin “Islam” sebagai sebuah agama dan interpretasi pengikutnya “Muslim” tentang pariwisata baik dari sisi penerimaan dan juga dari sisi penolakannya.</p>
<p>Menurut Dallen <em>et al</em> (2006), kenyataannya bahwa tempat-tempat wisata terkenal dunia banyak berada pada Negara-negara dengan mayoritas berpenduduk muslim, sebut saja seperti; Morocco, Libya, Egypt, Tunisia, Turkey, Jordan, Syria, Oman, Qatar, Lebanon, Pakistan and Malaysia, apakah dengan alasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Negara-negara muslim tidak resisten atau menerima pariwisata? Tidak semudah itu dapat disimpulkan, dan untuk itulah karya tulis ini disajikan.</p>
<p>Namun tidak salah juga, berdasarkan pada alasan-alasan  di atas, tulisan ini beruasaha memaparkan secara singkat dan mencoba mencari jawaban bagaimanakah pandangan Islam terhadap pariwisata, bagaimakah sikap warga Muslim tentang perkembangan industri pariwisata saat ini, serta bagaimanakah pandangan Islam dan Muslim tentang pariwisata ke depan.</p>
<h1>2.     Pariwisata dan Islam</h1>
<p>Santoso (2007), berpendapat bahwa walaupun agama lebih mengarah pada hal-hal yang bersifat pemaknaan dan spiritual yang berada pada ranah kesadaran individu namun demikian agama juga kemudian bisa menjadi sebuah kesadaran kolektif, yang kemudian menimbulkan motivasi untuk belajar dan mempelajari sebuah agama secara pemaknaan dan juga sekaligus juga pembuktian secara empirik tentang kebesaran sebuah agama. Motivasi belajar melalui pembuktian inilah telah membawa kesadaran akan perkunjungan ke tempat-tempat bersejarah Islam, berziarah ke makam-makam para tokoh Islam yang mungkin berada pada wilayah yang jauh, yang mungkin berada di sebuah Negara di luar negaranya. Hal tersebut, secara langsung telah menimbulkan terjadinya permintaan terhadap pariwisata karena ketersediaan penawaran “ketersediaan” tempat bersejarah Islam sebagai sarana pembelajaran Islam itu sendiri.</p>
<p>Pada kenyataan yang lainnya, beberapa Negara yang berpenduduk mayoritas muslim terbukti memiliki banyak tempat-tempat wisata terkenal, dan itu dapat dilihat  di beberapa Negara di wilayah timur tengah, dan juga afrika utara.  Kenyataan lain juga dapat ditemukan bahwa di beberapa Negara yang berpenduduk mayoritas muslim telah memiliki perencanaan yang bagus dengan pengembangan pariwisata di negaranya, adanya manajemen industry pariwisata yang cukup rapid dan professional, sebagai contohnya; Malaysia, Turki, Qatar, dan sebagainya (Dallen, 2007).</p>
<p>Dalam pandangan Islam, Pariwisata diwujudkan dalam hal perjalanan spiritual, tentang pemaknaan dan pencapaian sebuah tuntutan ajaran agama itu sendiri “syahriah”, kenyataan ini telah membuat Negara Saudi Arabia memetik banyak keuntungan baik secara material mapun statusnya sebagai sebuah Negara yang memiliki tempat yang dianggap suci  oleh kaum muslim yakni Mekah dan Madinah (Dallen,  2007)</p>
<p>Paparan kenyataan di atas, cukup menjadi gambaran bahwa pariwisata yang “spiritual” memang direstui oleh Islam dan diyakini sebagai sarana untuk pemenuhan status sosial dan spiritual yang lebih tinggi oleh kaum Muslim.</p>
<h1>3.      Resistensi Islam terhadap Pariwisata</h1>
<p>Walaupun banyak kenyataan yang cenderung mengarahkan Islam itu menerima pariwisata sebagai sesuatu yang dapat diterima, namun dalam kenyataannya dalam pariwisata banyak hal yang sangat bertentangan dengan etika dan moralitas kaum muslim. Pariwisata banyak bertoleransi dengan pakaian minim atau tak senonoh jika berhubungan dengan wisata pantai, fasilitas Bar yang menyajikan minuman beralkohol, dan banyak lagi ke-“nazisan” atau hal-hal tidak sesuai dengan kaidah Islam (<a href="http://www.indonesiamatters.com/568/luthfi-assyaukanie/">Assyaukanie</a>, 2006)</p>
<p>Resistensi terhadap pariwisata akan sangat penting jika dihubungkan dengan jenis wisata apakah yang dikembangkan, jika kaum Muslim sebagai host,  dan juga akan sangat penting dalam memilih daerah tujuan wisata jika kaum muslim sebagai wisatawan.</p>
<p>Resistensi juga akan menjadi ranah pribadi dalam hal pemilihan  tujuan wisata dan akan sangat tergantung dari seberapa kuat mereka memaknai etika dan moralitas pada ke-Islamannya.</p>
<p>Menurut Dallen, (2007) sebagai host, kaum muslim sebaiknya haruslah bijaksana dalam merencanakan dan pengembangan pariwisata itu, apakah yang tidak sesuai, system apakah yang seharusnya diatur, sehingga resistensi akan menjadi krontol social bagi kelangsungan pariwisata itu sendiri, host atau kaum muslim, dan ke-Islaman itu sendiri.</p>
<h1>4.     Kesimpulan</h1>
<p>Interpretasi bahwa Islam menerima Pariwisata adalah dengan ditetapkannya tuntutan pemenuhan rukun “Haji” yakni kewajiban melakukan perjalanan spiritual ke tanah suci “Mekah” bagi kaum Muslim yang telah memenuhi syarat dan memenuhi ketentuan Al-Quran.</p>
<p>Pariwisata yang menjadi rekomendasi oleh Islam adalah pariwisata yang berhubungan dengan spritualitas, berziarah, dan perkunjungan ke tempat-tempat bersejarah Islam, perkunjungan tentang kebesaran ciptaan Tuhan, seperti pemandangan alam, gunung berapi, danau dan sejenisnya.</p>
<p>Islam dan kaum Muslim resisten terhadap segala jenis pariwisata yang bententangan dengan pelanggaran etika, dan moralitas Islam seperti misalnya; pariwisata pantai yang mengarah pada mempertontonkan pakaian minim dan lekuk badan, pariwisata pub atau café yang menjajakan minuman beralkohol yang kesemuanya itu di”naziskan” oleh etika Islam.</p>
<p>Pandangan Islam dan Muslim tentang pariwisata ke depan, merupakan sebuah teki-teki yang penuh dengan jebakan permasalahan yang harus dijawab oleh kaum muslim itu sendiri. Jika Kaum Muslim ingin mengambil bagian penuh pada pengembangan pariwisata di daerahnya, misalnya di Ternate, Tidore, Lombok, atau daerah lainnya yang mayoritas Muslim, harusnya dapat belajar dari Pulau Bali tentang sikap toleransi orang-orang bali yang dalam hal ini, kebetulan mayoritas penganut Hindu (<a href="http://www.indonesiamatters.com/568/luthfi-assyaukanie/">Assyaukanie</a>, 2006).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2><a href="http://www.indonesiamatters.com/568/luthfi-assyaukanie/">Assyaukanie</a>, Luthfi. 2006. <a title="Is Islam Bad for Tourism?" href="http://www.indonesiamatters.com/674/islam-tourism/">Is Islam Bad for Tourism?</a>. Indonesian Matter, retrieve form <a href="http://www.indonesiamatters.com/674/islam-tourism/">http://www.indonesiamatters.com/674/islam-tourism/</a> pada 4-11-2010</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hashim, et all. 2007. Tourism and Islam: Understanding and Embracing the Opportunity. Kualalumpur: University of Technology Malaysia, retrieve from <a href="http://web.biz.uwa.edu.au/staff/jmurphy/Touirsm_and_Islam.pdf%20pada%204-11-2010">http://web.biz.uwa.edu.au/staff/jmurphy/Touirsm_and_Islam.pdf pada 4-11-2010</a></p>
<p>Forum of Islam and tourism. 2009. <em>Final statement and recommendations (Forum of Islam and tourism)  12-13 / 10 / 2009 AD – Sana `a </em> retrieve  from <a href="http://www.yementourism.com/news/news-en/detail.php?ID=2736">http://www.yementourism.com/news/news-en/detail.php?ID=2736</a> pada 4-11-2010</p>
<p>Santoso, Fajar. 2007. Pariwisata Dalam Pandangan Islam. Padang: Majalah Online, Retrieve from <a href="http://tabloid_info.sumenep.go.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=337&amp;Itemid=32">http://tabloid_info.sumenep.go.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=337&amp;Itemid=32</a> pada 4-11-2010</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Timothy, J, Dallen. 2007. Tourism and Islam: Consideration of culture and duty. London and New York: Routledge Taylor &amp; Francis Group.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=190&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2010/11/09/pariwisata-dalam-pandangan-islam-dan-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengukur Dampak Perubahan Iklim pada Industri Pariwisata menggunakan Model Computable General Equilibrium</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2010/11/09/mengukur-dampak-perubahan-iklim-pada-industri-pariwisata-menggunakan-model-computable-general-equilibrium/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2010/11/09/mengukur-dampak-perubahan-iklim-pada-industri-pariwisata-menggunakan-model-computable-general-equilibrium/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 04:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Mengukur Dampak Perubahan Iklim pada Industri Pariwisata menggunakan Model Computable General Equilibrium (Presented for Working Paper of Tourism Method) [1]Dosen Pembimbing: Prof. Dr. I Made Antara, MS Oleh [2]I Gusti Bagus Rai Utama &#160; 1.   Computable Equilibrium Model 1.1 Model Pengambilan Keputusan Pariwisata (Tourism Policy Modeling) CGE Model adalah salah satu alat analisis yang dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=187&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Mengukur Dampak Perubahan Iklim pada Industri Pariwisata menggunakan Model <em>Computable General Equilibrium</em></p>
</div>
<p>(Presented for Working Paper of Tourism Method)</p>
<p><a href="/S3/Method%20for%20Tourism/Mengukur%20Impact%20of%20Climate%20Change%20pada%20Industri%20Pariwisata%20menggunakan%20Model%20Computable%20Equilibrium.docx#_ftn1">[1]</a>Dosen Pembimbing: Prof. Dr. I Made Antara, MS</p>
<p>Oleh</p>
<p><a href="/S3/Method%20for%20Tourism/Mengukur%20Impact%20of%20Climate%20Change%20pada%20Industri%20Pariwisata%20menggunakan%20Model%20Computable%20Equilibrium.docx#_ftn2">[2]</a>I Gusti Bagus Rai Utama</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1>1.   Computable Equilibrium Model</h1>
<h2><em>1.1 </em>Model Pengambilan Keputusan Pariwisata <em>(Tourism Policy Modeling)</em></h2>
<p>CGE Model adalah salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk model pengambilan keputusan atau kebijakan pariwisata (Gillham, 2009)</p>
<h2>1.2       Modeling the Tourism Sector</h2>
<p>Pemilihan alat analisis untuk merumuskan kebijakan pariwisata, sangat beragam jumlahnya dan ini sangat tergantung pada kemauan dan kemampuan kita untuk memilih dan menggunakannya, ketersediaan data, serta factor lainnya.  Jika kita ingin membuat prediksi permintaan, menghitung elastisitas, mencari trend sebuah data, dan mencari sebuah impact sebuah peristiwa atau membuat sebuah pemodelan impact, maka CGE adalah pilihannya (Gillham, 2009)</p>
<p>CGE model biasanya digunakan oleh institusi pemerintahan baik daerah, Negara maupun regional dengan mengukuran berbagai indicator ekonomi yang berhubungan dengan pariwisata serta pengaruhnya terhadap industri pariwisata di suatu daerah, Negara, ataupun region (Gillham, 2009)</p>
<h2>1.3       Policy Impact Models: Computable General Equilibrium</h2>
<p>Dibeberapa studi model CGE juga dikenal sebagai alat analisis numerical simulation model, karena harus ada number yang diukur untuk mengukur antara impact dan effect, pada kesempatan yang sama, alat ini juga dikenal dengan alat analisis meodel keseimbangan antara permintaan dan penawaran secara simultan. Harus tersedia data misalnya  GDP, welfare, output, employment , dan data yang lainnya yang dapat diukur (Gillham, 2009)</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>1.4       Where Does CGE Come From?</h2>
<p>CGE Model dikembangkan dan berkembang sejak tahun 1970-an oleh Jorgenson dan John Whalley, yang sebelumnya CGE berasal dari General equilibrium model dan Input_Output model yang lebih popular di ilmu ekonomi dan penerapannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Case Study<strong>: scenarios using a computable general equilibrium model of the new zealand economy, </strong>(<em><strong>Departement of labour. 2009)</strong></em><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selanjutanya pada tahun 1980-an, model ini dipakai oleh WTO “world Trade Organisation” sebagai sebuah model baru di kalangan periset ekonomi, dan akhirnya pada saat ini, model ini telah diterapkan dibidang pariwisata oleh Adams dan Parmenter sejak tahun 1995</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>1.5       Computable General Equilibrium Models and TSAs</h2>
<p>CGE adalah sebuah model sedangkan TSA adalah sebuah alat control, CGE Model dapat menghasilkan keduanya baik untuk control dan juga sebuah model yang dapat diaplikasikan ditingkat nasional bahkan lebih luas dari itu (Gillham, 2009)</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>1.6       CGE Models: Principles and Processes</h2>
<p>Prinsif kerja dari CGE model adalah membangun sebuah matematis ekonomi model atau analisis matematis untuk menghasilkan model baru ekonomi impact model (Gillham, 2009)</p>
<p>Proses kerjanya diawali dengan pengumpulan data yang dapat diolah secara matematis, kemudian mengolahnya kedalam analisis matematis untuk menghasilkan model.</p>
<p>Sedangkan hasil  yang diharapkan adalah agar model yang dihasilkan dapat menggambarkan keadaan sebelum dan sesudah terjadinya sebuah effect “shock” sebuah peristiwa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>1.7       CGE Models and Tourism Expenditure</h2>
<p>Di banyak case study, CGE model berhasil menggambarkan effect dari pengeluaran wisatawan di sebuah destinasi atau Negara tujuan dan impactnya terhadap sector lain yang berkembang secara simultan dinegara yang sedang dipelajari. Di beberaoa kasus penelitian dengan CGE, dihasilkan tiga jenis effect dari pengeluran wisatawan, diantaranya adalah sebagai berikut: (1) direct effect; peningkatan pendapatan secara langsung disebabkan oleh pengeluaran wisatawan secara langsung. (2) Indirect effect, yakni peningkatan pendapatan yang disebabkan peningkatan terhadap permintaan akan barang dan jasa oleh industry terkait pariwisata. (3) induced effect, yakni;  Pendapatan yang diterima dari sector pariwisata akan mengakibatkan atau memperkuat daya beli “spending” (Gillham, 2009)</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>1.8       Tourism and CGE Models</h2>
<p>CGE Model dapat menggambarkan secara detail pengaruh pariwisata terhadap sector lain secara simultan berkembang pada sebuah kawasan. Misalnya menganalisis akibat sebuah krisis yang disebabkan oleh peristiwa “shock” missal peristiwa Bomb Bali atau Bomb WTC karena CGE dapat menggambarkan data sebelum dan sesudah peristiwa, serta akibatnya terhadap sector lainnya. Jadi CGE sangat layak diterapkan di sector pariwisata yang dianggap paling rentan dibandingkan sector lainnya (Gillham, 2009).</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>1.9       Strengths of the CGE Approach</h2>
<p>Kekuatan CGE Model adalah dapat mengetahui perilaku konsumen, produsen,  pemerintah secara tidak langsung dapat digambarkan. Kekuatan lainnya adalah; dapat mengukur effect dari peningkatan atau penurunan pendapatan masyarakat terhadap sector lainnya. Dapat menggambarkan sebab dan akibat sebuah peristiwa yang telah dan akan berlangsung (Gillham, 2009)</p>
<h2>1.10  Weaknesses of the CGE Approach</h2>
<p>Walaupu CGE Model memiliki banyak keunggulan namun masih tetap ada kelemahannya, yakni; model CGE dianggap terlalu sederhana, Data harus numeric “parametric” dan kalibrasi, terlalu banyak asumsi yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh sebuah wilayah kajian atau peristiwa, hasil analisis akan menjadi sangat mungkin hanya menjadi “kotak hitam” yang harus dipelajari dengan seksama lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1>2         Mengukur Dampak Perubahan Iklim pada Industri Pariwisata sebuah kajian oleh Andrea Bigano, Roberto Roson, dan Ricard S.J. Tol.</h1>
<p>&nbsp;</p>
<h2>2.1       Pengantar</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Laporan Penelitian ini adalah sebuah evaluasi dan simulasi dampak ekonomi pada perubahan iklim terhadap permintaan pariwisata menggunakan <em>computable general equilibrium model</em>. Tahapan pertama, model CGE  disesuaikan untuk beberapa tahun ke depan, untuk merumuskan hipotesis <em>benchmark equilibria</em>, berdasarkan pada perubahan-perubahan drastis “<em>shocks</em>”, dan simulasi dampak perubahan iklim.</p>
<p>Laporan ini pada intinya adalah hasil evaluasi dan simulasi dampak perubahan iklim pada pariwisata berdasarkan rata-rata dua set data “<em>shock</em>” yang terjadi secara simultan.</p>
<p>Data peristiwa <em>shock</em> yang pertama diperkirakan berasal dari data komsumsi wisatawan terhadap produk yang dihasilkan oleh sebuah kawasan atau domestik, Data kedua merupakan simulasi pengeluaran wisatawan di kawasan tertentu.</p>
<p>Analisis yang dilakukan menitikberatkan pada sejumlah arus pengeluaran wisatawan yang berpengaruh pada ekonomi regional secara langsung dihubungkan dengan sejumlah arus pengeluran wisatawan.</p>
<p>Pada skala global, perubahan iklim membawa pengaruh pada penurunan kesejahteraan, dan akan menimbulkan kesenjangan di beberapa kawasan.</p>
<p>Ketiga peneliti tersebut percaya bahwa 10% dari GDP dunia dipengaruhi oleh sektor pariwisata khususnya pada pengeluaran untuk rekreasi dan perjalanan wisata itu sendiri.  Berdasarkan alas an di atas maka evaluasi dan simulasi ini dianggap penting untuk diadakan. Pada kesempatan ini, ketiga peneliti ini meneliti tentang dampak ekonomi akibat perubahan iklim terhadap sector pariwisata. Hasil penelitian disajikan menjadi 7 seksi, yakni; (1) Pengantar,  (2) Estimasi arus perubahan wisatawan dunia, (3) Outline GE model, (4) Gambaran keterlibatan  wisatawan dalam model CGE, (5) Diskusi tentang Data data penting di Pariwisata, (6) Hasil Analisis dampak perubahan Iklim, (7)Kesimpulan. Sajian tersebut  dipaparkan sebagai berikut:</p>
<h2>2.2       Prediksi Perubahan Arus Wisatawan Dunia (Estimates of Changes in international tourist flows).</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Figure  The change in arrivals and departures due to climate change, as a percentage of arrivals and departures without climate change; countries are ranked to their average annual temperature in 1961-1990.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada studi ini diprediksi bahwa, perkembangan jumlah wisatawan dunia dipengaruhi oleh (1) pertumbuhan jumlah penduduk, (2) pendapatan perkapita, dan (3) iklim. Sedangkan attractiveness dari daerah tujuan wisata dipengaruhi oleh pendapatan perkapita, iklim, kemiripan destinasi terhadap asal daerah wisatawan, dan jarak geografis dari asal wisatawan itu sendiri.</p>
<p>Pada figure di atas dapat digambarkan bahwa preferensi wisatawan terhadap perjalanan wisata, namun sangat disayangkan, dampak dari perubahan iklim tidak dengan jelas dapat dilihat, ini disebabkan ada dua dampak perubahan iklim itu, yakni  sisi positif dan juga dampak negative. Dari sisi positif, perubahan iklim menyebabkan daerah tujuan wisata semakin atraktif dalam ber-inovasi untuk pengembangan destinasinya,  di sisi negative, terdapat kecenderungan bahwa wisatawan cenderung memilih berlibur di wilayahnya sendiri dibandingkan berlibur ke wilayah lain yang jauh wilayah tempat tinggalnya. Sebagai  contohnya, di Inggris terjadi perubahan preferensi pilihan berlibur yang cenderung memilih berlibur di dalam negerinya atau di negara sekitarnya. Sedangkan di Zimbabwe justru terjadi kebalikannya, namun gap kedua kenyataan antara arrival dan departure belum begitu jelas dapat diterangkan atau diprediksi pada model CGE.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>2.3       Evaluasi menggunakan GE dan Strategi Simulasi Struktur. (Assessing the general equilibrium effects: model structure and simulation strategy)</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Model GE effects kali ini mengacu pada data histori pada pelenelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Dixon and Rimmer (2002), dengan menambahkan model kalibrasi data, dan model prediksi berdasarkan beberapa variable ekonomi, untuk merumuskan hipotesis yang akan diuji, untuk membuat dugaan dimasa yang akan datang.</p>
<p>Pada saat penelitian ini dilakukan dan beberapa tahun ke depan, penelitian ini lebih difokuskan pada sisi penawaran untuk memprediksi perubahan terhadap kontribusi penyerapan tenaga kerja, penyerapan modal asing, penggunaan lahan, pemanfaatan sumberdaya alam, dan juga beberapa faktor lain yang mempengaruhi produktifitas yang semuanya itu disebut dengan “<em>naturally exogenous</em>” pada CGE models.</p>
<p>Dengan menambahkan IMAGE model yang fokus pada variabel pemanfaatan lahan pertanian, dan produktivitas lahan, didapatkan model prediksi minimalisasi dampak peningkatan suhu untuk memperlambat perubahan iklim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>2.4       Model Analisis Dampak pada GE Model. (Impact modeling in the CGE Framework)</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk dapat menggunakan model ini, dilakukan eksperimen simulasi dengan melibatkan beberapa variabel dengan asumsi bahwa GTAP Database berpusat pada GDP (<em>Gross Domestic Product</em>). Model ini mensimulasikan pengeluaran wisatawan selama berada pada suatu destinasi atau negara tujuan, dan perubahan pendapatan transfer internasional yang terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Harus ada asumsi bahwa (1) pengeluaran wisatawan secara <em>agregat proporsional</em> terhadap  jumlah wisatawan berlaku baik wisatawan domestik maupun mancanegara, (2) Pengeluaran wisatawan dibatasi pada pengeluaran yang dapat dihitung seperti; hotel, restoran, dan aktivitas rekreasi, sedangkan pengeluran yang tidak nampak jelas seperti biaya transportasi tidak ikut dihitung pada model ini.</p>
<p>Pada model ini, diprediksi bahwa dampak perubahan iklim berdasarkan  perubahan kedatangan dan  keberangkatan wisatawan domestik dengan atau tanpa perubahan iklim pada setiap tahunnya. Prediksi ini juga dengan asumsi bahwa di destinasi yang lainnya tidak terjadi perubahan iklim seperti keadaan dalam negeri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>2.5       Baseline estimates for domestic tourism volumes</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk dapat menghitung dan menentukan variasi estimasi  jumlah wisatawan, harus dapat diketahui terlebih dahulu data dasarnya sebagai baseline, dalam studi ini pada banyak kasus, diguanakan data sejak tahun 1997, dan data tahun 2002 sebagai Euromonitor database.</p>
<p>Penelitian ini dilakukan pada Negara-negara yang memiliki sumber data yang jelas, jika data tidak tersedia maka data akan disamakan dengan negara pada kawasan yang sama dan jika pada kawasan yang kecil seperti sebuah kota misalnya, jika tidak tersedia data, maka dianggap nol (<em>zero</em>).</p>
<p>Sebenarnya estimasi volume wisatawan domestic ini didasarkan pada data time series kemudian diregresi untuk mendapatkan slope penduga/estimator koefisien. Estimasi ini juga mengasumsikan bahwa pola pengeluaran pada wisatawan domestik tidak berbeda dengan wisatawan mancanegara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>2.6       Simulasi Hasil (Simulation Results)</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hasil simulasi dari model ini menunjukkan bahwa, dampak ekonomi sangat ditentukan oleh waktu, sebab kenaikan suhu akan terus terjadi dari waktu ke waktu. Waktu memegang peranan penting pada distribusi biaya, keuntungan, yang akan membawa beberapa perubahan secara kualitatif atau <em>non-numerical</em>. Pada simulasi ini, akan difokuskan pada pembahasan hasil tahun 2050 sebagai bahan diskusi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>2.6.1       Variabel Kejutan/Perubahan <em>(Shocked variables)</em></h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tabel di atas menunjukan bahwa perubahan iklim berdampak pada permintaan swasta dan pendapatan rumahtangga dalam negeri. Pada Negara Uni Eropa akan terjadi <em>shocks</em> pada tahun 2010 dan 2030, tetapi akan menjadi negatif pada tahun 2050. Namun pada tingkat global, beberapa  <em>shock</em> tidak nampak jelas baik positif maupun negatif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perubahan perubahan terhadap permintaan dan pendapatan yang terlihat berbeda sebelum dan sesudah simulasi dilakukan, karena terjadi <em>imposed swing</em> didasarkan oleh <em>partial equilibrium assumption</em> dari harga yang tak tergantikan dan pendapatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perbedaan antara <em>shocks</em> dan <em>equilibrium level</em> akan relatif besar terjadi pada <em>shocks </em>permintaan dibandingkan <em>shocks</em> pendapatan.</p>
<h3><em>2.6.2 </em>Perdagangan <em>(Trade)</em></h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Figure di atas menunjukkan pengaruh pada neraca perdagangan regional. Terdapat peningkatan dan juga penurunan pada pengeluaran  pariwisata secara keseluruhan jika dihubungkan terhadap peningkatan ataupun penurunan <em>net import</em>.</p>
<p>Tergambar terjadi <em>overlapping effect</em>, yang pertama; pendapatan mempengaruhi lebih tingginya <em>import</em>. Pada model GE membutuhkan keseimbangan neraca pembayaran, tetapi neraca perdagangan mungkin akan <em>defisit,</em> jika hal ini terjadi maka akan digantikan oleh <em>capital inflow</em> atau masuknya modal asing.</p>
<p>Penanaman modal asing digerakkan oleh harapan pengembalian modal yang berhubungan dengan kondisi tingkat pengembalian saat ini. Tingginya permintaan dalam negeri memicu peningkatan harga-harga bahan pokok, tingginya tingkat pengembalian modal akan menarik minat penanaman modal asing.</p>
<p>Dengan alasan identitas keuangan, dapat diketahui keseimbangan atau ketidakseimbangan neraca perdagangan, apakah sedang berada pada kondisi surplus atau defisit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>2.6.3       GDP (Gross Domestic Product)</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>GDP percentage changes with respect to the baseline in 2050.</p>
<p>Pada figure di atas terlihat bahwa pada umumnya GDP juga mengikuti <em>shock</em> yang terjadi, sehingga pada analisis ini diasumsikan, jika perdagangan dan terjadi efek barang pengganti, maka akan cenderung menimbulan <em>initial shocks</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>2.6.4       Faktor Primer dan Output Industri (Primary factors and industrial output)</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Figure di atas menunjukkan bahwa, permintaan terhadap faktor pokok berhubungan dengan permintaan akhir. Pada pasar jasa tidak menggunakan faktor lahan dan juga tidak menggunakan faktor sumber daya alam tetapi menggunakan indikator modal dan penyerapan tenaga kerja. Pada beberapa kasus di beberapa kawasan terjadi <em>positive shock dan vice versa.</em></p>
<p>Penawaran terhadap faktor pokok akan tetap terjadi pada waktu singkat jika permintaan terhadap jasa meningkat, ongkos buruh meningkat dan modal juga meningkat. Namun di lain pihak, harga sumber daya pokok menurun, walaupun secara faktual terjadi <em>positive shocks</em> yang berhubungan dengan peningkatan pengeluran wisatawan asing. Pada kasus ini, jika peningkatan tingkat pengembalian modal terjadi maka akan berdampak pada peningkatan penanaman modal asing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>2.6.5        CO2 emissions</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>CO2 emissions. Changes with respect to the baselines in 2010 (wide, light bars; left axis) and in 2050 (narrow, dark bars; right axis).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Figure di atas menjelaskan bahwa dampak <em>CO</em><em>2 </em><em>emission</em> terjadi setiap tahunnya, pada simulasi yang telah dilakukan pada model ini, variasi pada CO2 emission relatif terjadi sangat kecil, sehingga mengharuskan melibatkan industri transportasi pada aktivitas pariwisata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menariknya bahwa, emisi bertolak belakang dengan arah GDP dan <em>shocks</em> permintaan. Diartikan bahwa jika pariwisata meningkat maka cenderung konsumsi meningkat seiring dengan kesadaran akan industri  yang ramah lingkungan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>2.6.6       Kesejahteraan (Welfare)</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Equivalent variation in 2010 (wide, light bars; left axis) and in 2050 (narrow, dark bars; right axis).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Figure di atas menggambarkan pengaruh dari pendapatan sejalan dengan variasi kesejahteraan, di mana kesejahteraan menurun selama tiga periode. Pada tingkat regional, dampak dari kesejahteraan memiliki ciri yang sama dengan pendapatan dan <em>shock</em> permintaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada simulasi ini, pemenangnya adalah negara-negara yang berada pada iklim saat ini dingin seperti Rusia dan Kanada. Uni Eropa mengalami hanya sedikit peningkatan kesejahteraan namun menjadi tidak berarti apa-apa pada tahun 2050. Yang paling mengalami dampak dari perubahan iklim akan sangat terasa oleh Negara-negara miskin yang bertumpu pada industri pariwisata, seperti terjadinya peningkatan ketinggian air laut yang mungkin akan menenggelamkan beberapa kawasan kepulauan yang berada pada dataran rendah (Bosello <em>et al.</em>, 2004a).</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>2.7       Kesimpulan (Conclusion)</h2>
<p>Perubahan Iklim akan berdampak pada beberapa aspek kehidupan, perubahan kebiasaan berlibur yang disebabkan oleh variasi perubahan iklim. Dampaknya akan sangat terasa pada sektor jasa, sektor pariwisata, dan secara langsung membawa akibat pada perubahan ekonomi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hasil penelitian ini adalah evaluasi tentang dampak dengan menggunakan GE Model yang menunjukan dua hal penting sedang terjadi. Kedua hal itu adalah; (1) Pariwisata berdampak pada ekonomi, (2) diprediksi bahwa, dampak ekonomi secara keseluruhan akan merubah pariwisata dunia yang disebabkan oleh perubahan iklim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dampak pada permintaan domestik dan pendapatan rumah tangga berujung pada kegiatan ekonomi khususnya berhubungan dengan barang dan jasa dan juga berpengaruh pada permintaan fackor primer, dan harga. Begitu juga terjadinya perubahan <em>rate of return of capital</em> akan mempengaruhi arus modal yang juga akan mempengaruhi pendapatan dan kesejahteraan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada hasil analisis ini, juga dapat digambarkan bahwa perubahan iklim membawa dampak yang luas terhadap perubahan <em>preferensi</em> pemilihan daerah tujuan berlibur atau destinasi, kisaran dampaknya terhadap GDP -0,3% s.d. +0,5% pada tahun 2050.  Dampak perubahan iklim sangat terasa pada  sebuah kawasan, namun dampak pada ekonomi global sangat kecil yakni mendekati nol pada tahun 2010.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedikit terasa dampak pada kawasan eropa barat, negara <em>exporter energy,</em> dan kawasan <em>The </em><em>rest of the world</em>. Namun akan sangat nyata dampaknya bagi Negara-negara yang berada pada kawasan mediterania yang saat ini mengandalkan kawasan wisata dan akan mengalami penurunan kunjungan  wisatawan. kawasan <em>The </em><em>rest of the world</em> juga akan mengalami peningkatan suhu yang sangat panas dan juga kawasan tropis lainnya. Namun ada beberapa kawasan yang tidak popular saat ini akan menjadi lebih dikenal oleh karena pemanasan global. Bebarapa Negara exporter energy akan mengalami  dampaknya pemanasan global secara nyata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Walau bagaimanapun, karya tulis ini masih memiliki banyak kelemahan yang harus disempurnakan lagi, kelemahan tersebut adalah sebagai berikut: (1) evaluasi ini dilakukan secara global namun tidak penyeluruh, seharusnya dilakukan pada tiap kawasan sehingga perubahan yang sebenarnya terjadi pada setiap kawasan, dapat digambarkan secara lengkap. (2) Evaluasi ini hanya mengukur dampak pemanasan global terhadap sektor pariwisata, yang mungkin akan mempengaruhi lebih besar terhadap sektor lainnya. (3) Evaluasi ini juga tidak menyertakan peningkatan ketinggian air laut akibat pemanasan global yang mungkin beberapa pulau akan tenggelam oleh karenanya. (4) Secara keseluruhan, model ini tidak dapat menjawab berapakah biaya dari perubahan iklim tersebut jika dilakukan kuantifikasi. (5) yang terakhir, evaluasi ini juga tidak dapat memprediksi kawasan-kawasan wisata bahari atau perairan  manakah yang akan menjadi popular.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h1>3         Daftar Pustaka</h1>
<p><strong>Berrittella, Maria at al. .2004. </strong>A GENERAL EQUILIBRIUM ANALYSIS OF CLIMATE CHANGE IMPACTS ON TOURISM: <strong>EEE WORKING PAPERS SERIES &#8211; N. 17, Online Publication, and retrieve from http://www.</strong><cite>users.ictp.it/~eee/files/wp17.pdf</cite> <strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Departement of labour. 2009. Scenarios using a computable general equilibrium model of the New Zealand economy</strong></em>: Economic Impacts of Immigration Working Paper. Published: October 2009, retrieve from  www.dol.govt.nz › <a href="http://www.google.co.id/url?q=http://www.dol.govt.nz/publications/&amp;sa=X&amp;ei=xzbRTLG1J5L5cd3AreQL&amp;ved=0CBUQ6QUoAA&amp;usg=AFQjCNERVgHi-7Y5pODjxZ0zUSiQP39gXg">Publications</a> › <a href="http://www.google.co.id/url?q=http://www.dol.govt.nz/browse-dol.asp&amp;sa=X&amp;ei=xzbRTLG1J5L5cd3AreQL&amp;ved=0CBYQ6QUoAQ&amp;usg=AFQjCNHm3wahp3svwFo2uA0cA_lbIhCR5w">Research</a>.</p>
<p>Gillham, Jonathan. .2009. <a href="http://www.culture.gov.uk/images/research/32TourismPolicyModelling1.pdf"><em>Tourism Policy Modelling</em></a><strong>: </strong> Department for Culture, Media and Sport. <em><strong>Tourism Policy Modelling</strong></em>. <em><strong>Jonathan Gillham</strong></em>. Economist. Department for Culture Media and Sport. London, Online Publication Retrieve from <cite>www.culture.gov.uk/&#8230;/32<strong>TourismPolicyModelling</strong>1.pdf</cite></p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="/S3/Method%20for%20Tourism/Mengukur%20Impact%20of%20Climate%20Change%20pada%20Industri%20Pariwisata%20menggunakan%20Model%20Computable%20Equilibrium.docx#_ftnref1">[1]</a> Dosen Method for Tourism PPS S3 Pariwisata Udayana</p>
</div>
<div>
<p><a href="/S3/Method%20for%20Tourism/Mengukur%20Impact%20of%20Climate%20Change%20pada%20Industri%20Pariwisata%20menggunakan%20Model%20Computable%20Equilibrium.docx#_ftnref2">[2]</a> Mahasiswa Program Pasca Sarjana Doktor  Pariwisata Universitas Udayana Bali</p>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=187&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2010/11/09/mengukur-dampak-perubahan-iklim-pada-industri-pariwisata-menggunakan-model-computable-general-equilibrium/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PARIWISATA KESEHATAN DI JAWA BARAT</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2010/10/22/pariwisata-kesehatan-di-jawa-barat/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2010/10/22/pariwisata-kesehatan-di-jawa-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 15:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Leisure]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[PARIWISATA KESEHATAN DI JAWA BARAT Oleh: Iim Rogayah D. PENGANTAR Era globalisasi memberikan dua jenis pengaruh yang saling bertolak belakang dan sama kuat. Negara yang terlibat di dalamnya akan memperoleh berbagai keuntungan materi yang luar biasa. Dunia bisnis import-export akan berkembang dengan pesat karena tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu; transaksi berharga jutaan dollar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=171&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>PARIWISATA KESEHATAN </strong><strong>DI JAWA BARAT</strong></p>
<p style="text-align:center;">Oleh:</p>
<p style="text-align:center;">Iim Rogayah D.</p>
<ol>
<li><strong>PENGANTAR</strong></li>
</ol>
<p>Era globalisasi memberikan dua jenis pengaruh yang saling bertolak belakang dan sama kuat. Negara yang terlibat di dalamnya akan memperoleh berbagai keuntungan materi yang luar biasa. Dunia bisnis import-export akan berkembang dengan pesat karena tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu; transaksi berharga jutaan dollar bisa dilakukan dengan siapa saja, kapan saja tanpa harus mempertimbangkan lokasi dan situasi. Berbagai informasi tentang politik, sosial dan budaya negara lain dapat dengan mudah diakses di mana saja dan kapan saja. Apa yang sedang berlangsung di suatu Negara dapat dilihat dan didengar pada waktu yang sama dengan akurat kalaupun ada perbedaan waktu bias diatasi dengan penyesuaian waktu.</p>
<p>Kondisi ini membantu masyarakat yang hidup di Negara yang bersangkutan untuk lebih maju, lebih berwawasan, lebih kompetitif dalam segala hal. Secara duniawi mereka yang kuat dan berkualitas akan mampu bersaing dan mungkin malah menguasai dunia. Kalangan elite Indonesia dapat menikmati kehidupan dunia yang <em>glamour</em> sebagaimana mereka yang berasal dari Negara maju. Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa kalangan atas Indonesia menyekolahkan anaknya di luar negeri, memiliki<em>apartment</em> di USA, Australia, dan negera Negara maju lainnya. Pesawat terbang menjadi sarana angkutan pribadi yang sangat efesien dan berbagai jenis mobil mewah lalu lalang di kota-kota besar Indonesia.</p>
<p>Di lain pihak anggota masyarakat yang tidak cukup kuat dan kurang mampu bersaing semakin lama semakin tersisih dari peredaraan globalisasi. Hukum rimba mulai menerpa masyarakat yang terlibat secara aktif sehingga mereka yang kuat semakin kuat dan yang menengah atau kalangan bawah semakin lemah. Kondisi ini dapat memicu munculnya berbagai kendala dan ketegangan yang pada akhirnya menimbulkan berbagai penyakit baik fisik maupun psikis, mulai dari yang ringan dan dapat disembuhkan dengan mudah sampai penyakit yang tidak ada obatnya.</p>
<p>Berkenaan dengan fenomena di atas pemerintah melalui undang-undang perburuhan telah merumuskan hak-hak sosial termasuk hak berlibur dan beristirahat dalam upaya memelihara supaya orang merasa selalu sehat dan segar baik fisik maupun mentalnya. Berlibur dan beristirahat hendaknya tidak ditafsirkan istirahat diwaktu senggang saja melainkan hak berlibur dan beristirahat ditujukan untuk memberi arti yang wajar pada hari-hari libur atau cuti guna kesehatan dan kesegaran fisik dan mental seseorang dengan berwisata.</p>
<p>Di masa lampau berlibur atau beristirahat merupakan sesuatu yang mewah namun setelah kemajuan berpikir masyarakat lebih mendalam dan ilmiah terjadi pergeseran nilai dan khusus bagi masyarakat kaum pekerja, tani, pelajar dan golongan kecil lainnya libur dan istirahat adalah rekreasi dan relaksasi yang sepenuhnya ditujukan untuk kesehatan mental dan fisik mereka.</p>
<p>Ilmu kedokteran berkembang dengan pesat begitu pula berbagai jenis pengobatan alternatif baik yang dilakukan oleh seorang profesional maupun amatir. Bertolak dari fakta-fakta tersebut, makalah ini akan mencoba membahas peranan pariwisata kesehatan dalam memajukan kepariwisataan di Indonesiakhususnya di Jawa Barat.</p>
<p>Selengkapnya! Kunjungi</p>
<p><strong>Url: </strong><a href="http://irdanasputra.blogspot.com/2009/11/pariwisata-kesehatan.html">http://irdanasputra.blogspot.com/2009/11/pariwisata-kesehatan.html</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/news/'>News</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=171&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2010/10/22/pariwisata-kesehatan-di-jawa-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGENAL MOTIVASI PERJALANAN WISATA Seri Pengetahuan Istilah Pariwisata</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2010/10/22/mengenal-motivasi-perjalanan-wisata-seri-pengetahuan-istilah-pariwisata/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2010/10/22/mengenal-motivasi-perjalanan-wisata-seri-pengetahuan-istilah-pariwisata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 12:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leisure]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[MENGENAL MOTIVASI PERJALANAN WISATA Seri Pengetahuan Istilah Pariwisata &#160; Dalam pengelolaan kepariwisataan dikenal adanya beberapa motivasi yang mendorong seseorang melakukan perjalanan wisata, yang pada garis besarnya lazim dikelompkkan dalam dua Kelompok Besar, yaitu: 1.  Pariwisata Bisnis (Business Tourism); dan 2.  Pariwisata Pesiar (Pleasure atau Leisure Tourism). Kita mengenal pada awal pergerakan manusia, perjalanan semula dilakukan untuk maksud-maksud mencari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=158&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MENGENAL MOTIVASI PERJALANAN WISATA </strong></p>
<p><strong>Seri Pengetahuan Istilah Pariwisata</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam pengelolaan kepariwisataan dikenal adanya beberapa motivasi yang mendorong seseorang melakukan perjalanan wisata, yang pada garis besarnya lazim dikelompkkan dalam dua Kelompok Besar, yaitu:</p>
<p>1.  <strong>Pariwisata Bisnis</strong> (<em>Business Tourism</em>); dan</p>
<p>2.  <strong>Pariwisata Pesiar</strong> (<em>Pleasure</em> atau <em>Leisure Tourism</em>).</p>
<p>Kita mengenal pada awal pergerakan manusia, perjalanan semula dilakukan untuk maksud-maksud mencari nafkah, – seperti berburu, menangkap/memancing ikan dsb. -, di samping untuk maksud perdagangan, – yaitu dalam rangka menjual atau menukarkan hasil buruan atau tangkapannya serta hasil bercocok tanam.</p>
<p>Kisah perjalanan pada masa-masa Colombus, Marco Polo, Vasco de Gama, Magelan, Amerigo Vespucci, dsb., menunjukkan bahwa perjalanan dilandasi juga atas kepentingan pengetahuan (<em>science</em>), dalam hubungannya dengan upaya membuktikan keyakinan tentang belahan bumi yang lain, selain yang mereka huni, yang kemudian disusul dengan motivasi perdagangan dan kunjungan resmi (<em>official visit</em>) juga. Pada akhirnya, motivasi perjalanan semakin berkembang sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan serta didukung pula oleh kemajuan teknologi, -  sebagai aplikasi dari  pada perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri -. dalam berbagai bidang antara lain bidang industri dan manajemen.</p>
<p>Dalam hal pengelolaan kepariwisataan, pengelompokkan motivasi perjalanan, – baik nusantara maupun mancanegara -, berperan sangat penting dalam hubungannya dengan penentuan kebijakan pengembangan produk pariwisata, – atraksi dan obyek wisata beserta fasilitas dan pelayanan yang diperlukannya -, agar dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan selera pasar pariwisata, seiring dengan kecenderungan pasar <em>(market trend</em>) baik pasar pariwisata nusantara maupun mancanegara, serta untuk kepentingan “penyesuaian” kebijakan pemasarannya terkait dengan perubahan perilaku pasar akibat dari pengaruh berbagai faktor yang terjadi di dunia pada umumnya, khususnya di negara pasar yang bersangkutan, maupun berbagai peristiwa yang terjadi di dalam negeri.</p>
<p>Dalam kenyataan, acapkali perjalanan dilakukan dengan lebih dari satu motivasi. Kombinasi dua motivasi, – atau lebih -, seringkali  dijumpai, seperti antara maksud<em>convention</em> dengan budaya; antara <em>incentive</em> dengan <em>meeting</em>; antara <em>adventure</em>dengan <em>sport</em>; <em>convention</em> dengan <em>official visit</em>; <em>education</em> dengan <em>special interest</em><em> </em>dan<em>agro</em>; <em>family visit</em> dengan <em>health</em> dan <em>historical</em>, atau sebaliknya <em>historical</em> dengan<em>health</em> dan <em>family visit</em>, dsb.</p>
<p>Motivasi perjalanan bisa dikelompokkan berdasarkan berbagai sudut pandang, seperti jenis obyek atau atraksi yang dikunjungi maupun jenis serta sifat kegiatan yang dilakukan selama kunjungan.</p>
<p><strong>1. PARIWISATA BISNIS</strong> (<em>Business Tourism</em>), yaitu TICO (<em>Trade, Industrial, Commercial, Official</em>) dan MICE (<em>Meeting, Incentive, Convention, Exhibition</em>).</p>
<p>Dua kelompok pariwisata di bawah ini termasuk ke dalam motivasi <strong>Kunjungan Bisnis</strong>, yaitu:</p>
<p><strong>a) TICO</strong> (<em>Trade, Industrial, Commercial, Official</em>)</p>
<p><em><strong>Trade Visit</strong></em><strong>:</strong> Kunjungan oleh kelompok ini lazimnya dilatar-belakangi kepentingan perdagangan (export, import), baik barang maupun jasa termasuk jasa angkutan, telekomunikasi, pariwisata dll.</p>
<p><em><strong>Industrial Visit</strong></em><strong>:</strong> Latar belakang motivasi kelompok  berkaitan dengan kepentingan perusahaan industri, seperti ban, farmasi, tekstil, semen, otomotif, elektronik, dsb.;</p>
<p><em><strong>Commercial Visit</strong></em><strong>:</strong> kunjungannya bermotifkan kepentingan yang berhubungan dengan bidang-bidang komersial seperti perbankan, asuransi, dan sejenisnya;</p>
<p><em><strong>Official Visit</strong></em><strong>:</strong> Dilakukan dalam hubungannya dengan pertemuan atau kunjungan resmi, baik antar pemerintah, antar organisasi internasional maupun antara organisasi internasional dengan pemerintah, dsb.</p>
<p><strong>b) MICE</strong> (<em>Meeting, Incentive, Convention, Exhibition</em>).</p>
<p><em><strong>Meeting:</strong></em> Kunjungannya untuk maksud-maksud pertemuan, yang diselenggarakan secara terorganisir dan bersifat bilateral, unilateral atau internal suatu lembaga, baik pemerintah, swasta maupun organisasi kemasyarakatan;</p>
<p><em><strong>Incentive:</strong></em> Perjalanan jenis ini pada hakekatnya diselenggarakan oleh suatu perusahaan atau organisasi, yang dilakukan sebagai insentif bagi karyawan atau anggotanya dalam rangka apresiasi atas kinerja mereka berkaitan dengan pencapaian suatu prestasi atau performa perusahaan atau organisasi tersebut.</p>
<p><em><strong>Convention:</strong></em> Berbeda dengan <em>Meeting</em>, kunjungan kelompok ini dengan maksud pertemuan yang lazimnya lebih bersifat global, internasional, regional yang melibatkan peserta dari berbagai negara, antara lain dalam bentuk <em>conference</em>,<em>workshop</em>, <em>seminar</em> dan sejenisnya serta diselenggarakan secara terorganisir.</p>
<p><em><strong>Exhibition:</strong></em> Kunjungan yang dilakukan dalam hubungannya dengan maksud-maksud penyelenggaraan dan/atau peranserta suatu pameran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2) PARIWISATA PESIAR</strong> (<em>Pleasure</em> atau <em>Leisure Tourism</em>)</p>
<p>Dalam artikelBagian-1 telah diuraikan tentang jenis-jenis <strong>Pariwisata Bisnis</strong>(<em>Business Tourism</em>).</p>
<p>Demikian pula Pariwisata Pesiar, terbagi atas dua kelompok lebih lanjut, yaitu:</p>
<p><strong>a) PARIWISATA BUDAYA</strong> (<em>Cultural Tourism</em>, yang antara lain meliputi: <em>Historical, Educational, Family, Religious, Sport</em> dll.);</p>
<p><em><strong>Historical:</strong></em> Pada dasarnya kelompok motivasi ini mengutamakan kunjungan ke situs-situs sejarah atau dengan maksud mendalami sejarah negara yang dikunjunginya;</p>
<p><em><strong>Educational:</strong></em> Dalam hal ini, maksud kunjungan kelompok ini dengan minat pada pengembangan pengetahuan pribadi secara sistematis pragmatis, baik formal maupun informal.</p>
<p><em><strong>Family Visit:</strong></em> Motivasi kunjungan ini paling banyak dilakukan oleh wisatawan nusantara (wisnus) tanpa menutup kemungkinan dilakukan juga oleh wisatawan mancanegara (wisman) yang mempunyai keluarga di suatu negara. Pada awal dikenalnya motivasi ini, di pertengahan tahun 1950-an, disebut dengan istilah VFR (<em>Visiting Family and Relatives</em>) yang digunakan sampai awal tahun 1970-an.</p>
<p><em><strong>Religious:</strong></em> Motivasi kunjungan bernuansa keagamaan, termasuk di dalamnya perjalanan ziarah ke berbagai situs sejarah keagamaan, atau napak tilas sejarah suatu agama atau peristiwa yang berkaitan dengan agama, atau dalam rangka melaksanakan ritual keagamaan, seperti umroh dan naik haji.</p>
<p><em><strong>Sport:</strong></em> Motivasi sport suatu perjalanan dapat dibagi atas beberapa sifatnya antara lain sport untuk <strong>prestasi</strong>, untuk <strong>rekreasi</strong>, untuk <strong>kebugaran</strong> atau sebagai <strong>manifestasi petualangan</strong>. Berbagai sifat sport itu juga dapat dilakukan secara terorganisir atau dilakukan oleh perorangan. Di samping itu motivasi sport meliputi juga kunjungan<em>supporter</em> dan penonton (pasif) selain para olehragawan itu sendiri (aktif).</p>
<p><strong>b) PARIWISATA ALAM</strong> (<em>Natural Tourism</em>, antara lain mencakup: <em>Adventure, Agro, Marine, Special Interest, Health,</em> dsb.).</p>
<p><em><strong>Adventure</strong></em><strong>:</strong> Kunjungan dengan motivasi adventure pada umumnya dilakukan ke tempat-tempat yang belum pernah atau jarang mendapat kunjungan orang, serta bersifat penuh tantangan dan rintangan. Tidak jarang motivasi perjalanan jenis ini dibarengi dengan motivasi sport dan rekreasi seperti panjat tebing, ski, mendaki gunung, arung jeram (<em>rafting</em>), <em>cross country, hiking</em>, dan sejenisnya. Dalam hal tertentu, kunjungan ke daerah atau wilayah terpencil ditandai dengan tingkat kesukaran pencapaian yang tinggi berkenaan dengan kekurangan atau ketiadaan fasilitas aksesibilitas yang nyaman, namun banyak diminati, baik oleh wisnus maupun wisman.</p>
<p><em><strong>Agro (agricultural):</strong></em> Pariwisata Agro (<em>Agro Tourism</em>) dipandang dari sisi permintaan (<em>demand</em>), pada hakekatnya didasari oleh minat terhadap kehidupan dan lingkungan pertanian dalam arti luas, – termasuk di dalamnya adalah minat terhadap budaya cocok tanam, perikanan (air tawar), peternakan, perkebunan, kehutanan dan sejenisnya.</p>
<p>Kemudian dari sudut pandang penawaran (<em>supply</em>) tumbuh berbagai kawasan wisata (<em>tourism resort</em>) yang bersifat khusus, bernuansa alami seperti pertanian, taman bunga, kebun buah-buahan, peternakan ikan hias, peternakan sapi perah, taman margasatwa, kebun raya dsb. Dalam hubungannya dengan pariwisata agro, motivasi<em>special interest</em> banyak dijumpai, seperti dalam hubungannya dengan kehidupan dan keberadaan tumbuhan atau satwa langka dan/atau tumbuhan atau satwa spesifik.</p>
<p><em><strong>Marine:</strong></em> <em>Marine Tourism</em> di Indonesia dikenal sebagai Pariwisata Bahari, yaitu perjalanan wisata yang berkaitan dengan kehidupan bahari, baik hanya dalam rangka menikmati suasana pantai, pulau dan laut, maupun melakukan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di pantai, pulau dan laut. Pada kenyataannya, pariwisata bahari banyak juga digabungkan dengan kegiatan olahraga, antara lain ski air, berlayar, selancar air, selancar angin, volley pantai dll. Seperti juga halnya dengan pariwisata agro, pariwisata bahari pun banyak dilakukan berkaitan dengan special interest terutama kegiatan selam, misalnya dalam hubungannya dengan keragaman biota laut dan/atau penelitian dan pengendalian kualitas lingkungan kelautan.</p>
<p><em><strong>Special Interest:</strong></em> Kunjungan dengan motivasi minat khusus (<em>Special Interest</em>) pada umumnya dilakukan para peminat ilmu pengetahuan, seperti peneliti, pengamat, dozen dan guru, mahasiswa dsb. dalam hubungan dengan pencarian informasi atau mempelajari lebih dalam dan luas tentang bidang ilmu pengetahuan yang diminatinya. Kegiatan perjalanan ini seringkali berhubungan dengan motivasi pendidikan (<em>education</em>), antara lain berkaitan dengan pertanian, kehutanan, ilmu hewan, ilmu tumbuhan, kelautan, arsitektur, seni budaya (tari, lukis, musik tradisional, adat istiadat, dsb), sejarah, ekonomi dll.</p>
<p><em><strong>Health:</strong></em><em> </em>Adapun perjalanan dengan motivasi<strong> </strong>kesehatan ( <em>health tourism</em>) pada hakekatnya dilakukan sehubungan dengan kesehatan, seperti pemeriksaan kesehatan (<em>medical check-up</em>), pemeliharaan, – seperti mandi uap, mandi lumpur, mandi air panas, pijat refleksi, pijat kebugaran dan spa (yang dewasa ini sedang marak di Indonesia) -, pengobatan, pemulihan dan selanjutnya.</p>
<p>Antara<strong> </strong><strong>Medical Tourism</strong><strong> </strong>dan<strong> </strong><strong>Health Tourism</strong>. Perlu kiranya dicatat bahwa perlu dibedakan antara <em>health-tourism</em> dengan <em>medical-tourism</em>, di mana <em>health tourism</em>dapat diartikan sebagai pariwisata kesehatan berupa perjalanan untuk pemeliharaan dan/atau pemulihan kesehatan (dulu disebut sebagai <strong>tetirah</strong>) yang pada hakekatnya dilakukan oleh orang yang sehat, – tidak menderita suatu penyakit -, atau orang yang baru sembuh dari perawatan. Sedangkan <em>medical tourism</em> lebih condong menyangkut tindakan medik pengobatan (<em>cure</em>), operasi dan/atau tindakan medik lainnya, yang dilakukan terhadap penderita suatu penyakit atau kelainan kondisi kesehatannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Site Partner: http://caretourism.wordpress.com/</p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/leisure/'>Leisure</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=158&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2010/10/22/mengenal-motivasi-perjalanan-wisata-seri-pengetahuan-istilah-pariwisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekonomi Pariwisata: Hukum permintaan dan Penawaran</title>
		<link>http://tourismbali.wordpress.com/2010/09/30/ekonomi-pariwisata-hukum-permintaan-dan-penawaran/</link>
		<comments>http://tourismbali.wordpress.com/2010/09/30/ekonomi-pariwisata-hukum-permintaan-dan-penawaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 00:45:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raiutama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Penawaran]]></category>
		<category><![CDATA[permintaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tourismbali.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[*) I Gusti Bagus Rai Utama, SE,. MMA., MA.ILTS 1. Aspek Penawaran Pariwisata Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus diperhatikan dalam penawaran pariwisata. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut. a)      Attraction (daya tarik); daerah tujuan wisata (selanjutnya disebut DTW) untuk menarik wisatawan pasti memiliki daya tarik, baik daya tarik berupa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=149&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bahankuliah.blogsome.com/category/pariwisata/#_ftn1">*)</a> I Gusti Bagus Rai Utama, SE,. MMA., MA.ILTS</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Aspek Penawaran Pariwisata</strong></li>
</ol>
<p>Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus diperhatikan dalam penawaran pariwisata. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut.</p>
<p>a)      <em>Attraction </em>(daya tarik); daerah tujuan wisata (selanjutnya disebut DTW) untuk menarik wisatawan pasti memiliki daya tarik, baik daya tarik berupa alam maupun masyarakat dan budayanya.</p>
<p>b)      <em>Accesable</em> (transportasi); <em>accesable</em> dimaksudkan agar wisatawan domestik dan mancanegara dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata</p>
<p>c)      <em>Amenities</em> (fasilitas); <em>amenities</em> memang menjadi salah satu syarat daerah tujuan wisata agar wisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama di DTW.</p>
<p>d)      <em>Ancillary</em> (kelembagaan); adanya lembaga pariwisata wisatawan akan semakin sering mengunjungi dan mencari DTW apabila di daerah tersebut wisatawan dapat merasakan keamanan, (<em>protection of tourism</em>) dan terlindungi.</p>
<p>Selanjutnya Smith, 1988 (dalam Pitana, 2005) mengklasifikasikan berbagai barang dan jasa yang harus disediakan oleh DTW menjadi enam kelompok besar, yaitu: (1)<em>Transportation, (2)Travel services, (3)Accommodation, (4)Food services, (5)Activities and attractions (recreation culture/entertainment), </em>dan <em>(6) Retail goods.</em></p>
<p>Inti dari kedua pernyataan di atas adalah, aspek penawaran harus dapat menjelaskan apa yang akan ditawarkan, atraksinya apa saja, jenis transportasi yang dapat digunakan apa saja, fasilitas apa saja yang tersedia di DTW, siapa saja yang bisa dihubungi sebagai perantara pembelian paket wisata yang kan dibeli.<em></em></p>
<ol>
<li><strong>Aspek Permintaan Pariwisata</strong></li>
</ol>
<p>Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto, 2005), faktor-faktor utama dan faktor lain yang mempengaruhi permintaan pariwisata dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p>a)      Harga; harga yang tinggi pada suatu daerah tujuan wisata akan memberikan imbas atau timbal balik pada wisatawan yang akan bepergian, sehingga permintaan wisatapun akan berkurang begitu pula sebaliknya.</p>
<p>b)      Pendapatan; apabila pendapatan suatu negara tinggi, kecendrungan untuk memilih daerah tujuan wisata sebagai tempat berlibur akan semakin tinggi dan bisa jadi calon wisatawan membuat sebuah usaha pada Daerah Tujuan Wisata jika dianggap menguntungkan.</p>
<p>c)      Sosial Budaya; dengan adanya sosial budaya yang unik dan bercirikan atau berbeda dari apa yang ada di negara calon wisata berasal maka, peningkatan permintaan terhadap wisata akan tinggi hal ini akan membuat sebuah keingintahuan dan penggalian pengetahuan sebagai khasanah kekayaan pola pikir budaya wisatawan.</p>
<p>d)      Sospol (Sosial Politik); dampak sosial politik belum terlihat apabila keadaan Daerah Tujuan Wisata dalam situasi aman dan tenteram, tetapi apabila hal tersebut berseberangan dengan kenyataan, maka sospol akan sangat terasa dampak dan pengaruhnya dalam terjadinya permintaan.</p>
<p>e)      Intensitas keluarga; banyak atau sedikitnya keluarga juga berperan serta dalam permintaan wisata hal ini dapat diratifikasi, jumlah keluarga yang banyak maka keinginan untuk berlibur dari salah satu keluarga tersebut akan semakin besar, hal ini dapat dilihat dari kepentingan wisata itu sendiri.</p>
<p>f)        Harga barang substitusi; disamping kelima aspek di atas, harga barang pengganti juga termasuk dalam aspek permintaan, dimana barang-barang pengganti dimisalkan sebagai pengganti DTW yang dijadikan cadangan dalam berwisata seperti: Bali sebagai tujuan wisata utama di Indonesia, akibat suatu dan lain hal Bali tidak dapat memberikan kemampuan dalam memenuhi syarat-syarat Daerah Tujuan Wisata sehingga secara tidak langsung wisatawan akan mengubah tujuannya ke daerah terdekat seperti Malaysia dan Singapura.</p>
<p>g)      Harga barang komplementer; merupakan sebuah barang yang saling membantu atau dengan kata lain barang komplementer adalah barang yang saling melengkapi, dimana apabila dikaitkan dengan pariwisata barang komplementer ini sebagai objek wisata yang saling melengkapi dengan objek wisata lainnya.</p>
<p>Sedangkan Jackson, 1989 (dalam Pitana, 2005) melihat bahwa faktor penting yang menentukan permintaan pariwisata berasal dari komponen daerah asal wisatawan antara lain, <strong>jumlah penduduk <em>(population size)</em>, kemampuan finansial masyarakat <em>(financial means),</em> waktu senggang yang dimiliki <em>(leisure time),</em> sistem transportasi, dan sistem pemasaran pariwisata yang ada.</strong></p>
<p>Dari kedua pendapat di atas, aspek permintaan pariwisata dapat diprediksi dari <strong>jumlah penduduk dari suatu negara asal wisatawan, pendapatan perkapitanya, lamanya waktu senggang yang dimiliki yang berhubungan dengan musim di suatu negara, kemajuan teknologi informasi dan transportasi, sistem pemasaran yang berkembang, keamanan dunia, sosial dan politik serta aspek lain yang berhubungan dengan fisik dan non fisik wisatawan.</strong></p>
<p><a href="http://bahankuliah.blogsome.com/category/pariwisata/#_ftn1">*)</a> Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen &#8220;Pariwisata&#8221; Dhyana Pura Bali, Kandidat Doktor Kepariwisataan</p>
<br />Filed under: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/category/journal/'>Journal</a> Tagged: <a href='http://tourismbali.wordpress.com/tag/ekonomi/'>Ekonomi</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/tag/hukum/'>Hukum</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/tag/pariwisata/'>Pariwisata</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/tag/penawaran/'>Penawaran</a>, <a href='http://tourismbali.wordpress.com/tag/permintaan/'>permintaan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tourismbali.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tourismbali.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tourismbali.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tourismbali.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tourismbali.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tourismbali.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tourismbali.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tourismbali.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tourismbali.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tourismbali.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tourismbali.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tourismbali.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tourismbali.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tourismbali.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tourismbali.wordpress.com&amp;blog=1612466&amp;post=149&amp;subd=tourismbali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tourismbali.wordpress.com/2010/09/30/ekonomi-pariwisata-hukum-permintaan-dan-penawaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.409518 115.188916</georss:point>
		<geo:lat>-8.409518</geo:lat>
		<geo:long>115.188916</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/17a3c63424375c4d72eb0a4c94498fc5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raiutama</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
