Keunikan Budaya dan Keindahan Alam sebagai Citra Destinasi Bali menurut Wisatawan Australia Lanjut Usia

Keunikan Budaya dan Keindahan Alam sebagai Citra Destinasi Bali menurut Wisatawan Australia Lanjut Usia

I Gusti Bagus Rai Utama

 

Abstract

Abstract

In recent years, many has begun to doubt the continued existence of Bali’s nature and culture in shaping its destination image. The current research was conducted to confirm the existence of culture and nature as the determining factors of Bali’s image as a tourism destination by selecting elderly Australian tourists as respondents, because this group tends to be more loyal and have longer average length of stay compared to other groups of tourists. This research aims to confirmatively answer the existence of Bali’s culture and nature as the destination’s identity and tourism image. The two main research questions are (1) what is the relationship between motivation, destination creation, and destination identity in forming the destination image of Bali? (2) how is the structural model of Bali’s destination image according to elderly Australian tourists? This research was conducting using survey method and quantitative analysis technique, involving 160 elderly Australian tourists. Findings from SEM analysis indicate that internal motivation influences destination image, while destination identity influences destination image, and destination creation also influences destination image. The research concludes that according to elderly Australian tourists, Bali’s culture and nature are remain strong factors in forming the island’s destination image.

Keywords

natural existence; Balinese culture; destination image; travel motivation; destination creation; destination identity

Full Text: PDF

Sejarah Bali

Sejarah Bali

Hasil Kompilasi dari Berbagai Sumber

 

Asal Usul Sejarah Bali Lengkap

Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.

Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

ASAL USUL SEJARAH PULAU BALI
MASA PRASEJARAH
Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali, yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita.

Berkat penelitian yang tekun dan terampil dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia maka perkembangan masa prasejarah di Bali semakin terang. Perhatian terhadap kekunaan di Bali pertama-tama diberikan oleh seorang naturalis bernama Georg Eberhard Rumpf, pada tahun 1705 yang dimuat dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. Sebagai pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali adalah W.O.J. Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. Dia mengadakan perjalanan menjelajahi Bali. Dan memberikan beberapa catatan antara lain tentang nekara Pejeng, Trunyan, dan Pura Bukit Penulisan. Perhatian terhadap nekara Pejeng ini dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba, Tegallalang.

Penelitian prasejarah di Bali dilanjutkan oleh Dr. H.A.R. van Heekeren dengan hasil tulisan yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. Pada tahun 1963 ahli prasejarah putra Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu tahun 1973, 1974, 1984, 1985. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Situs Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali. Di tempat ini sekarang berdiri sebuah museum.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :

Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Masa bercocok tanam
Masa perundagian

MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN TINGKAT SEDERHANA
Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di Sambiran (Buleleng bagian timur), serta di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di Museum Gedong Arca di Bedulu, Gianyar.

Kehidupan penduduk pada masa ini adalah sederhana sekali, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya. Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya (nomaden). Daerah-daerah yang dipilihnya ialah daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Hidup berburu dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi. Perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya. Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti apakah manusia pada masa itu telah mengenal bahasa sebagai alat bertutur satu sama lainnya.

Walaupun bukti-bukti yang terdapat di Bali kurang lengkap, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di Pacitan (Jawa Timur) dapatlah kiranya dijadikan pedoman. Para ahli memperkirakan bahwa alat-alat batu dari Pacitan yang sezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia. Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.

MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN TINGKAT LANJUT
Pada masa ini corak hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat dialam sekitar dilanjutkan terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Gua ini terletak di pegunungan gamping di Semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah Gua Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. Dalam penggalian Gua Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.

Alat-alat semacam ini ditemukan pula di sejumlah gua Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur. Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding gua, yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya. Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga di antaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di Pulau Seram dan Papua, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.

MASA BERCOCOK TANAM
Masa bercocok tanam lahir melalui proses yang panjang dan tak mungkin dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya. Masa neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Penghidupan mengumpulkan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing). Perubahan ini sesungguhnya sangat besar artinya mengingat akibatnya yang sangat mendalam serta meluas kedalam perekonomian dan kebudayaan.

Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon. Dari teori Kern dan teori Von Heine-Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik. Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita. Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter) yang diperlukan. Dalam hal ini sebagai alat berhubungan diperlukan adanya bahasa. Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal dengan sebagai bahasa Austronesia.

MASA PERUNDAGIAN
Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan). Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting di antaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Banten), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian di antaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap. Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyar (Banten), Sabbang (Sulawesi Selatan), Selayar, Rote dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.

Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

MASUKNYA AGAMA HINDU
Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan). Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting di antaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Banten), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian di antaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap. Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyar (Banten), Sabbang (Sulawesi Selatan), Selayar, Rote dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.

Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

MASA 1343-1846
KEDATANGAN EKSPEDISI GAJAH MADA
Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh Kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan Kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah, terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. Dari sinilah berawal wangsa Kepakisan.

PERIODE GELGEL
Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel (dibaca /gɛl’gɛl/). Pada saat inilah dimulai Periode Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460—1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga ia dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan Kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat ia digantikan oleh Dalem Bekung (1550—1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605—1686).

ZAMAN KERAJAAN KLUNGKUNG
Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri Periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura.

Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

KERAJAAN – KERAJAAN PECAHAN KLUNGKUNG
Kerajaan Badung, yang kemudian menjadi Kabupaten Badung.
Kerajaan Mengwi, yang kemudian menjadi Kecamatan Mengwi.
Kerajaan Bangli, yang kemudian menjadi Kabupaten Bangli.
Kerajaan Buleleng, yang kemudian menjadi Kabupaten Buleleng.
Kerajaan Gianyar, yang kemudian menjadi Kabupaten Gianyar.
Kerajaan Karangasem, yang kemudian menjadi Kabupaten Karangasem.
Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi Kabupaten Klungkung.
Kerajaan Tabanan, yang kemudian menjadi Kabupaten Tabanan.
Kerajaan Denpasar,yang kemudian menjadi Kota Madya Denpasar

MASA 1846 – 1949
Pada periode ini mulai masuk intervensi Belanda ke Bali dalam rangka “pasifikasi” terhadap seluruh wilayah Kepulauan Nusantara. Dalam proses yang secara tidak disengaja membangkitkan sentimen nasionalisme Indonesia ini, wilayah-wilayah yang belum ditangani oleh administrasi Batavia dicoba untuk dikuasai dan disatukan di bawah administrasi. Belanda masuk ke Bali disebabkan beberapa hal: beberapa aturan kerajaan di Bali yang dianggap mengganggu kepentingan dagang Belanda, penolakan Bali untuk menerima monopoli yang ditawarkan Batavia, dan permintaan bantuan dari warga Pulau Lombok yang merasa diperlakukan tidak adil oleh penguasanya (dari Bali).

PERLAWANAN TERHADAP ORANG – ORANG BELANDA
Masa ini merupakan masa perlawanan terhadap kedatangan bangsa Belanda di Bali. Perlawanan-perlawanan ini ditandai dengan meletusnya berbagai perang di wilayah Bali. Perlawanan-perlawanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Perang Buleleng (1846)
Perang Jagaraga (1848–1849)
Perang Kusamba (1849)
Perang Banjar (1868)
Puputan Badung (1906)
Puputan Klungkung (1908)

Dengan kemenangan Belanda dalam seluruh perang dan jatuhnya kerajaan Klungkung ke tangan Belanda, berarti secara keseluruhan Bali telah jatuh ke tangan Belanda.

ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA
Sejak kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda mulailah pemerintah Belanda ikut campur mengurus soal pemerintahan di Bali. Hal ini dilaksanakan dengan mengubah nama raja sebagai penguasa daerah dengan nama regent untuk daerah Buleleng dan Jembrana serta menempatkan P.L. Van Bloemen Waanders sebagai controleur yang pertama di Bali.

Struktur pemerintahan di Bali masih berakar pada struktur pemerintahan tradisional, yaitu tetap mengaktifkan kepemimpinan tradisional dalam melaksanakan pemerintahan di daerah-daerah. Untuk di daerah Bali, kedudukan raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, yang pada waktu pemerintahan kolonial didampingi oleh seorang controleur. Di dalam bidang pertanggungjawaban, raja langsung bertanggung jawab kepada Residen Bali dan Lombok yang berkedudukan di Singaraja, sedangkan untuk Bali Selatan, raja-rajanya betanggung jawab kepada Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi, pemerintah Belanda telah membuka sebuah sekolah rendah yang pertama di Bali, yakni di Singaraja (1875) yang dikenal dengan nama Tweede Klasse School. Pada tahun 1913 dibuka sebuah sekolah dengan nama Erste Inlandsche School dan kemudian disusul dengan sebuah sekolah Belanda dengan nama Hollands Inlandshe School (HIS) yang muridnya kebanyakan berasal dari anak-anak bangsawan dan golongan kaya.

LAHIRNYA ORGANISASI PERGERAKAN
Akibat pengaruh pendidikan yang didapat, para pemuda pelajar dan beberapa orang yang telah mendapatkan pekerjaan di kota Singaraja berinisiatif untuk mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama “Suita Gama Tirta” yang bertujuan untuk memajukan masyarakat Bali dalam dunia ilmu pengetahuan melalui ajaran agama. Sayang perkumpulan ini tidak burumur panjang. Kemudian beberapa guru yang masih haus dengan pendidikan agama mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama “Shanti” pada tahun 1923. Perkumpulan ini memiliki sebuah majalah yang bernama “Shanti Adnyana” yang kemudian berubah menjadi “Bali Adnyana”.

Pada tahun 1925 di Singaraja juga didirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama “Suryakanta” dan memiliki sebuah majalah yang diberi nama “Suryakanta”. Seperti perkumpulan Shanti, Suryakanta menginginkan agar masyarakat Bali mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan menghapuskan adat istiadat yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara itu, di Karangasem lahir suatu perhimpunan yang bernama “Satya Samudaya Baudanda Bali Lombok” yang anggotanya terdiri atas pegawai negeri dan masyarakat umum dengan tujuan menyimpan dan mengumpulkan uang untuk kepentingan studiefonds.

ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG
Setelah melalui beberapa pertempuran, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur pada tanggal 18 dan 19 Februari 1942. Dari arah Sanur ini tentara Jepang memasuki kota Denpasar dengan tidak mengalami perlawanan apa-apa. Kemudian, dari Denpasar inilah Jepang menguasai seluruh Bali. Mula-mula yang meletakkan dasar kekuasaan Jepang di Bali adalah pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Kemudian, ketika suasana sudah stabil penguasaan pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan sipil.

Karena selama pendudukan Jepang suasana berada dalam keadaan perang, seluruh kegiatan diarahkan pada kebutuhan perang. Para pemuda dididik untuk menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA). Untuk daerah Bali, PETA dibentuk pada bulan Januari tahun 1944 yang program dan syarat-syarat pendidikannya disesuaikan dengan PETA di Jawa.

ZAMAN KEMERDEKAAN
Menyusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 23 Agustus 1945, Mr. I Gusti Ketut Puja tiba di Bali dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Sejak kedatangan beliau inilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bali mulai disebarluaskan sampai ke desa-desa. Pada saat itulah mulai diadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja.

Sejak pendaratan NICA di Bali, Bali selalu menjadi arena pertempuran. Dalam pertempuran itu pasukan RI menggunakan sistem gerilya. Oleh karena itu, MBO sebagai induk pasukan selalu berpindah-pindah. Untuk memperkuat pertahanan di Bali, didatangkan bantuan ALRI dari Jawa yang kemudian menggabungkan diri ke dalam pasukan yang ada di Bali. Karena seringnya terjadi pertempuran, pihak Belanda pernah mengirim surat kepada Rai untuk mengadakan perundingan. Akan tetapi, pihak pejuang Bali tidak bersedia, bahkan terus memperkuat pertahanan dengan mengikutsertakan seluruh rakyat.

Untuk memudahkan kontak dengan Jawa, Rai pernah mengambil siasat untuk memindahkan perhatian Belanda ke bagian timur Pulau Bali. Pada 28 Mei 1946 Rai mengerahkan pasukannya menuju ke timur dan ini terkenal dengan sebutan “Long March”. Selama diadakan “Long March” itu pasukan gerilya sering dihadang oleh tentara Belanda sehingga sering terjadi pertempuran. Pertempuran yang membawa kemenangan di pihak pejuang ialah pertempuran Tanah Arun, yaitu pertempuran yang terjadi di sebuah desa kecil di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem. Dalam pertempuran Tanah Arun yang terjadi 9 Juli 1946 itu pihak Belanda banyak menjadi korban. Setelah pertempuran itu pasukan Ngurah Rai kembali menuju arah barat yang kemudian sampai di Desa Marga (Tabanan). Untuk lebih menghemat tenaga karena terbatasnya persenjataan, ada beberapa anggota pasukan terpaksa disuruh berjuang bersama-sama dengan masyarakat.

PUPUTAN MARGARANA
Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 18 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi NICA ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai. Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar. Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan “Puputan” atau perang habis-habisan di desa margarana sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut pada tanggal 20 november 1946 di kenal dengan perang puputan margarana, dan kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.

KONFERENSI DENPASAR
Pada tanggal 7 sampai 24 Desember 1946, Konferensi Denpasar berlangsung di pendopo Bali Hotel. Konferensi itu dibuka oleh Hubertus Johannes van Mook yang bertujuan untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dengan ibu kota Makassar (Ujung Pandang).

Dengan terbentuknya Negara Indonesia Timur itu susunan pemerintahan di Bali dihidupkan kembali seperti pada zaman raja-raja dulu, yaitu pemerintahan dipegang oleh raja yang dibantu oleh patih, punggawa, perbekel, dan pemerintahan yang paling bawah adalah kelian. Di samping itu, masih ada lagi suatu dewan yang berkedudukan di atas raja, yaitu dewan raja-raja.

PENYERAHAN KEDULATAN
Agresi militer yang pertama terhadap pasukan pemeritahan Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta dilancarakan oleh Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Belanda melancarkan lagi agresinya yang kedua 18 Desember 1948. Pada masa agresi yang kedua itu di Bali terus-menerus diusahakan berdirinya badan-badan perjuangan bersifat gerilya yang lebih efektif. Sehubungan dengan hal itu, pada Juli 1948 dapat dibentuk organisasi perjuangan dengan nama Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GRIM). Selanjutnya, tanggal 27 November 1949, GRIM menggabungkan diri dengan organisasi perjuangan lainnya dengan nama Lanjutan Perjuangan. Nama itu kemudian diubah lagi menjadi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sunda Kecil.

Sementara itu, Konferensi Meja Bundar (KMB) mengenai persetujuan tentang pembentukan Uni Indonesia – Belanda dimulai sejak akhir Agustus 1949. Akhirnya, 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan RIS. Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

DAFTAR KABUPATEN DAN KOTA DI BALI
No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupate Badung Mangupura
2 Kabupaten Bangli Bangli
3 Kabupaten Buleleng Singaraja
4 Kabupaten Gianyar Gianyar
5 Kabupaten Jembrana Negara
6 Kabupaten Karangasem Amlapura
7 Kabupaten Klungkung Semarapura
8 Kabupaten Tabanan Tabanan
9 Kota Denpasar

DAFTAR GUBERNUR BALI
1. Anak agung bagus sutedja : tahun 1950 – 1958
2. I Gusti Bagus Oka : tahun 1958 – 1959
3. Anak agung bagus sutedja : tahun 1959 – 1965
4. I Gusti putu martha : tahun 1965 – 1967
5. Soekarmen : tahun 1967 – 1978
6. Prof. Dr. Ida Bagus mantra : tahun 1978 – 1988
7. Prof. Dr. Ida bagus oka : tahun 1988 – 1998
8. Drs. Dewa made beratha : tahun 1998 – 2008
9. I made mangku pastika : tahun 2008 – 2018

BIODATA PULAU BALI :
Batas Wilayah :
– Utara : Laut Bali
– Selatan : Samudera Indonesia
– Barat : Provinsi Jawa Timur
– Timur : Provinsi Nusa Tenggara Barat

Hari Jadi Bali : 14 Agustus 1959
Ibukota : Denpasar (Dahulu Singaraja)
Koordinat : 9º 0′ – 7º 50′ LS
114º 0′ – 116º 0′ BT
Luas : 5.634 KM2

Sumber: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.901447666545232.1073741832.100000400212348&type=3

Materi Kuliah Metodologi Penelitian Pariwisata dan Perhotelan

Materi Kuliah Metodologi Penelitian Pariwisata dan Perhotelan

  • BAB I 1
    HAKEKAT ILMU DAN PENELITIAN 1
  • BAB II 9
    HAKEKAT ILMU PARIWISATA 9
  • BAB III 23
    RUANG LINGKUP JASA PARIWISATA DAN PERHOTELAN 23
  • BAB IV 37
    PENDEKATAN PENELITIAN PARIWISATA 37
  • BAB V 57
    PERUMUSAN PERMASALAHAN PENELITIAN 57
  • BAB VI 61
    SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN 61
  • BAB VII 68
    TEKNIK SAMPLING 68
  • BAB VIII 76
    PEMILIHAN TEKNIK ANALISIS PENELITIAN 76
  • BAB IX 82
    ANALISIS SWOT DESKRIPTIF KUALITATIF UNTUK PARIWISATA
  • BAB X 98
    THE SERVICE PROFIT CHAIN ALAT ANALISIS KINERJA USAHA
    JASA PERHOTELAN DAN PARIWISATA 98
  • BAB XI 111
    ANALISIS FAKTOR UNTUK PENELITIAN PARIWISATA 111
  • BAB XII 124
    MULTIDIMENSIONAL SCALING ANALYSIS 124
  • BAB XIII 133
    ANALISIS STRUCTURAL EQUATION MODELLING (SEM) 133
  • BAB XIV 154
    ANALISIS DESKRIPTIF UNTUK SEGMENTASI PASAR WISATAWAN
    REGRESI DAN KORELASI PADA JASA PARIWISATA DAN
    PERHOTELAN 184
  • BAB XVI 199
    BALANCED SCORECARD SEBAGAI PENILAIAN KINERJA USAHA
    PARIWISATA 199
  • BAB XVII 226
    TATA CARA PENULISAN PROPOSAL DAN LAPORAN 226
  • BAB XVIII 234
    TEKNIK MERUJUK DAN MENGUTIP 234

 

Links download di bawah ini, sewaktu-waktu (temporary) dapat dihapus………

  1. https://www.researchgate.net/publication/289649097_Hakekat_Ilmu_Pariwisata?ev=prf_pub
  2. https://www.researchgate.net/publication/289649100_Ruang_Lingkup_Penelitian_Pariwisata_dan_Perhotelan?ev=prf_pub
  3. https://www.researchgate.net/publication/289649283_Hakekat_Ilmu_dan_Penelitian?ev=prf_pub
  4. https://www.researchgate.net/publication/289649420_Pendekatan_penelitian_bidang_pariwisata_dan_perhotelan?ev=prf_pub
  5. https://www.researchgate.net/publication/289649626_Perumusan_Masalah_Penelitian_Pariwisata_dan_Perhotelan?ev=prf_pub
  6. https://www.researchgate.net/publication/289653300_Skala_Pengukuran_dan_INstrumen_penelitian_pariwisata?ev=prf_pub
  7. https://www.researchgate.net/publication/289657773_Teknik_Sampling_dan_Penentuan_Jumlah_sampel?ev=prf_pub
  8. https://www.researchgate.net/publication/289658477_Teknik_Analisis_Penelitian_Pariwisata?ev=prf_pub
  9. https://www.researchgate.net/publication/289658938_Analisis_SWOT?ev=prf_pub
  10. https://www.researchgate.net/publication/289659227_Analisis_The_Service_Profit_Chain?ev=prf_pub
  11. https://www.researchgate.net/publication/289659702_Kapan_menggunakan_Multidimensional_Scaling_Analysis?ev=prf_pub
  12. https://www.researchgate.net/publication/289659706_Kapan_memilih_analisis_SEM-AMOS?ev=prf_pub
  13. https://www.researchgate.net/publication/289659711_Tata_Cara_Penulisan_Proposal_dan_Laporan?ev=prf_pub
  14. https://www.researchgate.net/publication/289659872_ANALISIS_DESKRIPTIF_SEGMENTASI_PASAR?ev=prf_pub
  15. https://www.researchgate.net/publication/289659874_Analisis_Regresi_dan_Kolerasi?ev=prf_pub
  16. https://www.researchgate.net/publication/289659943_Mengapa_memilih_analisis_faktor?ev=prf_pub
  17. https://www.researchgate.net/publication/289659950_Analisis_Balanced_Scorecard?ev=prf_pub
  18. https://www.researchgate.net/publication/289659956_Teknik_Merujuk_dan_Mengutip?ev=prf_pub

Semoga berguna!

Dhyana Pura University, Bali: Economics and Business Statistic

  • Dhyana Pura University, Bali
  • Modul: Economics and Business Statistic
  • Learning Outcome: Able to analyze and use Statistics for Decision Making in business

Mata Kuliah E-commerce dan Multi Level Marketing

Mata Kuliah E-commerce dan Multi Level Marketing adalah matakuliah pilihan pada program studi manajemen Universitas Dhyana Pura.

 

Market Value Creation (Manajemen Pemasaran Universitas Dhyana Pura)

Market Value Creation (Manajemen Pemasaran Universitas Dhyana Pura)

Market Value Creations (Kreasi Pemasaran)

https://www.researchgate.net/publication/292251419_Market_Value_Creations_Kreasi_Pemasaran?ev=prf_pub

MVC dengan Fokus Pada Pelanggan

https://www.researchgate.net/publication/292251185_MVC_dengan_Fokus_Pada_Pelanggan?ev=prf_pub

MVC dengan Mengukur Kepuasan Pelanggan

https://www.researchgate.net/publication/292251343_MVC_dengan_Mengukur_Kepuasan_Pelanggan?ev=prf_pub

MVC dengan the Service Profit Chain

https://www.researchgate.net/publication/292251422_MVC_dengan_the_Service_Profit_Chain?ev=prf_pub

MVC dengan BALANCED SCORECARD (BSC)

https://www.researchgate.net/publication/292251260_MVC_dengan_BALANCED_SCORECARDBSC?ev=prf_pub

MVC dengan Experience Marketing

https://www.researchgate.net/publication/292251346_MVC_dengan_Experience_Marketing?ev=prf_pub

Life Style dan Social Class

https://www.researchgate.net/publication/292251313_Life_Style_dan_Social_Class?ev=prf_pub

Entrepreneurial Marketing

https://www.researchgate.net/publication/292251490_Entrepreneurial_Marketing?ev=prf_pub

Pemanfaatan Analitik pada Aktivitas Pemasaran

https://www.researchgate.net/publication/292251492_Pemanfaatan_Analitik_pada_Aktivitas_Pemasaran?ev=prf_pub

Pemasaran Viral (Viral Marketing)

https://www.researchgate.net/publication/292251617_Pemasaran_Viral_Viral_Marketing?ev=prf_pub

Segmentasi Targeting Posisioning

https://www.researchgate.net/publication/292251619_Segmentasi_Targeting_Posisioning?ev=prf_pub

Industri kreatif

https://www.researchgate.net/publication/292251620_Industri_kreatif?ev=prf_pub

HUBUNGAN CSR DAN MARKETING

https://www.researchgate.net/publication/292251621_HUBUNGAN_CSR_DAN_MARKETING?ev=prf_pub

Jurnal Kajian Bali Journal of Bali Studies, ISSN 2088-4443 (Print)

Jurnal Kajian Bali

Journal of Bali Studies2088-4443 (Print)

Homepage

Publisher: Universitas Udayana

Society/Institution: Pusat Kajian Bali

Country of publisher: Indonesia

Platform/Host/Aggregator: OJS

Date added to DOAJ: 11 Jan 2016

LCC Subject Category: Geography. Anthropology. Recreation: Geography (General)

Publisher’s keywords: Bali studies

Language of fulltext: Indonesian, English

Full-text formats available: PDF

PUBLICATION CHARGES

Article Processing Charges (APCs): No.

Submission Charges: No.

Waiver policy for charges? No.

EDITORIAL INFORMATION

Peer review

Editorial Board

Aims and scope

Instructions for authors

Time From Submission to Publication: 24 weeks

Volume 3, Issues 2

Melihat Kembali Merosotnya Wacana ‘Ajeg Bali’
Agung Wardana
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15691
(abstract)
The Balinese Subak as World Cultural Heritage: In the Context of Tourism
Shinji Yamashita
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15674
(abstract)
From Food Producer to Landscape Preserver: A Swiss Perspective on the Future of the Balinese Subak
Rachel P. Lorenzen
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15676
(abstract)
Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian Subak, dan Budaya Subak Sebagai Modal Dasar dalam Pariwisata
I Gde Pitana, I Gede Setiawan Adi Putra
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15679
(abstract)
Bali Membangun kembali Industri Pariwisata: 1950-an
Adrian Vickers
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15673
(abstract)
Localizing the Global and Globalizing the Local: Opportunities and Challenges in Bali Island Tourism Development
I Nyoman Darma Putra
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15677
(abstract)
Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani
Wayan Windia
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15678
(abstract)
Konservasi Pusaka Budaya Istana Taman Ujung Karangasem
I Wayan Tagel Eddy
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15690
(abstract)
Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas
I Gusti Bagus Rai Utama
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15675
(abstract)
Pembelajaran Lintas Budaya: Penggunaan Subak sebagai Model “Ecopedagogy”
Sang Putu Kaler Surata
http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/15687
(abstract)

Agrotourism as an Alternative form of tourism in Bali Indonesia

Agrotourism as an Alternative form of tourism in Bali Indonesia

Agrotourism as an Alternative form of tourism in Bali Indonesia

https://www.scholars-press.com/catalog/details/store/gb/book/978-3-639-66712-7/agrotourism-as-an-alternative-form-of-tourism-in-bali-indonesia?search=rai%20utama

Scholar’s Press ( 2014-10-22 )

This study discusses the general preview of tourism and agriculture in Bali, the opportunities and barriers of agrotourism development in Bali, stakeholders’ opinions concerning the development of agrotourism in Bali, agrotourism contributions toward economy and social situation improvements of the local communities, and contributions of agrotourism toward contribute for sustainable tourism development. This data collected through survey method using questionnaires distributed to 60 respondents from four groups of farmers comprise: Bayung Gede, Candikuning, Blimbingsari, and Pelaga Villages as samples. This study also used 35 expert respondents who come from each local community, universities, NGOs, and local governments.

Book Details:

ISBN-13: 978-3-639-66712-7
ISBN-10: 3639667123
EAN: 9783639667127
Book language: English
By (author) : I Gusti Bagus Rai Utama
Number of pages: 108
Published on: 2014-10-22
Category: Agriculture, horticulture, forestry, fishery, nutrition

Destination Loyalty Model of Senior Foreign Tourists Visiting Bali Tourism Destination

Abstract

In the recent years, the senior foreign tourist segment has become increasingly important for the tourism industry. The strength of this market segment lies in its two characteristics: the purchasing power and the time available for travel. This research was conducted based on these two considerations. This research is confirmatory to the loyalty model developed by previous research, but specifically studied foreign senior tourists. The 400 respondents for this research were determined purposively. The criteria were senior tourists aged 55 or over and tourists vacationing in one of Bali’s tourism destinations. Descriptive statistical analysis and the SEM-AMOS structural model analysis tools were utilized. Meanwhile, the qualitative analysis is descriptive to complement the quantitative analysis. The demographic profiles of the respondents composed of 57 % male travelers and 43 % female. Tourists in the age group of 55–65 are 73 and 27 % over 65 years. Repeat visitors are 81 and 19 % first time visitors. The findings of this research indicated that (1) internal motivation does not have a significant effect on destination image, (2) external motivation has a significant effect on destination image and loyalty, but does not have a significant effect on tourist’s satisfaction, (3) destination image has a significant effect on tourist’s satisfaction, and (4) tourist’s satisfaction has a significant effect on destination loyalty. Two loyalty models were formed: (1) Destination loyalty is directly influenced by tourist’s satisfaction and indirectly influenced by destination image and external motivation. (2) Destination loyalty is directly influenced by external motivation, but the influence is not as significant as the influence of tourist’s satisfaction on loyalty. Theoretically, the research suggests maintaining the joint approach because this approach is able to answer various questions that quantitative approach alone cannot answer completely. From a practical perspective, the preservation of Bali’s destination image was found to be adequate. The image of Bali includes: (1) a destination that has cultural uniqueness, (2) welcoming local inhabitants, (3) comprehensive tourism infrastructure, and (4) comfortable tourism atmosphere.

Keywords

Senior foreign tourists Internal motivation External motivation Destination image Tourist’s satisfaction Tourist’s loyalty

ChapterDevelopment of Tourism and the Hospitality Industry in Southeast Asia. Part of the series Managing the Asian Century pp 37-49

See more http://link.springer.com/chapter/10.1007%2F978-981-287-606-5_3

Cara Search Jurnal Internasional Terindex Scopus di Suatu Negara

Scopus

Cara Search Jurnal Internasional Terindex Scopus di Suatu Negara

1. Buka Scopus Journal List yang terbaru yaitu November 2015
Scopus journal title listNovember 2015
http://www.elsevier.com/__data/assets/excel_doc/0015/91122/title_list.xlsx

2. Dekatkan kusor ke laman bawah, klik di tanda segitiga kecil yang mengarah ke kanan, sampai di Menu Source Type, klik di select all untuk clear kotak2 kecil, baru klik di Jurnal dan klik OK

3. Kusor bergeser terus ke kanan sampai ketemu Menu Publisher’s Country, klik kotak segitiga, klik select all untuk kosongkan kotak-kotak, baru klik Indonesia, klik OK akan tampil semua jurnal Indonesia yang terindex scopus (termasuk yang aktif dan nonaktif), klik segitiga di bawah yang mengarah ke kiri akan nampak nama jurnal, ISSN, Status Active/Inactive, Prestasi selama 3 tahun 2012-2014 (SNP, IPP, dan SJR). Open Access Status, Nama Penerbit dll.

4. Nampak Jurnal Indonesia yang pernah terindex Scopus berjumlah 22, diantaranya:

18 Jurnal masih aktif hingga kini, November 2015

4  Jurnal sudah dinyatakan Inactive (atau Nonaktif yaitu 1 dari UGMd dengan kode 13983 berhenti operasi, 3 dari ITB dengan kode 16390, 16391 dan 16392 ganti nama)

– See more at: http://www.kopertis12.or.id/2015/12/18/cara-search-jurnal-internasional-terindex-scopus-di-suatu-negara.html#sthash.Gx4ithRc.dpuf

PEMILU UNTUK MEMILIH PEJABAT ATAU PEMIMPIN?

Pejabat atau Pemimpin

Putra putri terbaik Bali, pada hari Rabu, 9 Desember 2015 akan menentukan nasib mereka sebagai bupati/walikota, dan lima tahun kemudian akan membuktikan diri bahwa mereka adalah hanya seorang bupati ataukah seorang pemimpin. Jika hanya menjadi bupati, maka mereka cenderung akan berbangga dengan jabatannya, dan mungkin akan menindas siapapun yang mengkritisinya, namun jika mereka seorang pemimpin, maka mereka akan selalu hadir sebagai orang pertama yang akan merasakan penderitaan rakyatnya.

Fakta di lapangan, gebrakan para calon justru terjadi hanya menjelang pilkada, bukan setelah pilkada. Sebab, budaya kepemimpinan kita memang telah berubah bukan lagi tulus dan ikhlas namun penuh dengan maksud dan pamrih tertentu. Sepintas nampak nyata, ada beberapa calon bupati terlalu ambisius dan terlihat cenderung menghalalkan segala cara untuk memenangkan persaingan, entah apa yang ingin dicapainya, padahal pemerintah dalam hal ini penyelenggara pemilu telah menyediakan sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan pemilu tersebut. Masih amat nyata, terjadi pelanggaran yang cukup nyata dan hampir merata dilakukan oleh setiap calon bupati/walikota. Sebut saja misalnya, pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK) yang tidak sesuai tempat, aturan, dan ketentuan yang telah ditetapkan. Masih terindikasi terjadi politik uang, politik pengerahan massa melalui “social power” seperti adat, struktur sosial lainnya, dan organisasi informal lainnnya.

Melihat kondisi tersebut, apa yang dapat kita harapkan jika kelak mereka menang? Hampir sebagian besar pejabat kita bangga dengan pakaian kebesarannya, empuk kursi kerjanya, dan cenderung tidak peduli pada realita di masyarakat. Jika ada kegagalan yang dibuatnya, selalu melakukan pembelaan yang seharusnya dapat diakui secara kesatria.

Jika pejabat berjiwa makelar (broker) mereka akan cenderung menuntaskan persoalaan secara matematis, bukan secara holistik. Artinya, pejabat ala manajer bukan pahlawan, padahal yang kita perlukan bukan pejabat ala manajer saja namun lebih daripada itu, bila perlu menjadi pemimpin sebagai pahlawan-pahlawan baru.

Kalau dilihat dari persoalan yang ada, hampir merata di setiap kabupaten di Bali, yakni persoalan kesejahteraan masyarakat, kesehatan, pendidikan, juga persoalan kerohanian hendaknya selalu menjadi agenda pokok setiap pemimpin baru hasil pilkada. Namun persoalan-persoalan tersebut haruslah dituntaskan secara multidimensional. Misalnya, kenapa masyarakat tidak sejahtera? Mungkin saja karena kesempatan kerja sangat kurang, mungkin saja upah buruh yang sangat rendah, mungkin saja hasil pertanian yang rendah dan tidak stabil. Kenapa masih terjadi banyak penyakit mewabah di masyarakat? Mungkin saja faktor lingkungan yang tidak layak, air yang telah tercemar, lingkungan yang sudah tidak bersahabat.

Ada program dasar atau inti dan ada juga program opsi yang seharusnya juga menjadi prioritas semua pejabat, baik pejabat politik maupun pejabat karier yang menjabat di semua dinas di lembaga pemerintahan. Masih banyak persoalan yang berhubungan dengan pelayanan masyarakat yang sangat lambat dan cenderung menunjukkan ketidakpedulian para pejabat. pelayanan Puskesmas yang tidak layak, pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak cepat dan tanggap, pelayanan pajak yang seringkali bertolak belakang antara moto yang di iklankan dengan realitas yang sebenarnya di masyarakat. Upah buruh yang tidak cocok lagi dengan realitas pemenuhan kebutuhan minimum keluarga yang sebenarnya.

Semua yang disebutkan tersebut, sangat memerlukan regulasi pemerintah setelah pilkada secara berkesinambungan, tersistem serta melembaga dan membudaya sehingga siapa pun yang menjadi pemimpin akan dapat memecahkan permasalahan dengan cepat, tepat serta akurasinya dapat dipertanggungjawabkan.

Akhirnya, untuk dapat mewujudkan pembangunan masyarakat secara holistik atau menyeluruh diperlukan pemimpin yang bukan berjiwa makelar (broker) agar tidak terjadi habis jabatan habis juga tanggung jawabnya. Kita memerlukan pemimpin yang memiliki karakter integritas yang takut akan Tuhan sehingga mereka tidak berani korupsi, tidak berani menyalahgunakan kekuasaan yang dipercayakan masyarakat kepadanya, memimpin dengan jiwa melayani secara horizontal atau masyarakat dan melayani secara vertikal, takut berbuat curang karena Tuhan selalu dapat melihat perbuatan kita yang tersembunyi sekalipun.

Semoga proses demokrasi ini menyadarkan kita semua akan pentingnya masa depan Bali yang lebih baik. Nafsu keserakahan akan menjadikan Bali menjadi neraka bagi rakyatnya. Sedangkan keikhlasan akan membuat Bali sebagai surga bagi rakyatnya.

 

Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Ekonomika dan Humaniora, Universitas Dhyana Pura, Badung.

Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas

Abstract

JURNAL KAJIAN BALI Volume 03, Nomor 02, Oktober 2013

Terakreditasi Peringkat B Berdasarkan SK Menristek DiktiNo. 12/M/KP/II/2015 tanggal 11 Februari 2015

The nature and culture of Bali with all their manifestations have yet to be able to attract tourists of high quality, even though the Balinese culture is undoubtedly popular in the international tourism arena. This article offers quality tourism management strategies in order to realize tourists’ satisfaction, which in turn is hoped to increase the visit of quality and loyal tourists in the future. This study utilizes desk research method with online data collection and information gathering technique, using secondary sources and other published scientific sources. Analytical techniques utilized include quantitative and qualitative descriptive analysis, and comparative analysis of previous research and scientific publications related to the economic and business dimensions of tourism. This research recommends that the implementation of quality tourism management for Bali is of urgent importance because Bali’s development has been relying on the tourism sector. There are five dimensions of quality offered to Bali’s tourism operators, ordered based on the important values for tourism customers: (1) tangible proof, (2) reliability, (3) responsiveness, (4) assurance, (5) empathy, which includes the ease of building relationships, good communication, attentiveness, and understanding the needs of customers where the hospitality and politeness of the Balinese people is a form of empathy that is considered to be fading and needs to be improved.

see more
http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=349210

CONFIRMATION ON THE MOTIVATION AND SATISFACTION MODEL OF FOREIGN SENIOR TOURISTS

CONFIRMATION ON THE MOTIVATION AND SATISFACTION MODEL OF FOREIGN SENIOR TOURISTS

 

Foreign senior tourists are overseas travelers aged 55 and above. The core problem explored in the current research is whether there is a relationship between the motivation and satisfaction of foreign senior tourists vacationing in Bali. This is a confirmatory study built on the tourist loyalty model developed by Yoon and Uysal (2003) and Chi (2005), based on the theory of consumer behavior and its application for tourism. The current study is an in-depth confirmation on the effects of travel motivation of the senior tourism segment on the segment’s satisfaction because satisfaction, in turn, affects tourist loyalty as the basis for repeat visits and recommendations for friends and relatives. A survey of 400 respondents was conducted, using field survey method, combining quantitative and qualitative data. The analytical tools utilized were descriptive statistical analysis, multivariate analysis (Structural Equation Modeling), and qualitative descriptive analysis. The tests on confirmation model revealed a relationship model between motivation and satisfaction of foreign senior tourists vacationing in Bali. The goodness of fit tests revealed that the model is replicable for similar research settings. Motivational push factors affect the satisfaction of foreign senior tourists vacationing in Bali, comprising of: (1) the push to visit new places, (2) the push to gain new knowledge and experience, and (3) the push to get out of the daily routine. In addition, motivational pull factors also affect the satisfaction of senior foreign tourists vacationing in Bali, comprising of: (1) health facilities, the quality of travel agency services, and (3) the quality of tour guides. The study also revealed that the opinions of senior tourists on Bali are not all positive; several respondents criticized the various problems that threaten the sustainability of Bali’s tourism. Crowded streets and traffic congestions are seen to be detrimental to Bali’s reputation as island paradise.
Keywords: foreign tourists, senior tourism, motivation, push factors, pull factors, tourist satisfaction

Fulltext http://www.ijser.org/onlineResearchPaperViewer.aspx?CONFIRMATION-ON-THE-MOTIVATION-AND-SATISFACTION-MODEL.pdf

Botanical Garden as a Recreational Park: Balancing Economic Interest with Conservation

Botanical Garden as a Recreational Park: Balancing Economic Interest with Conservation

I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura, Badung, Bali, Indonesia
raiutama@undhirabali.ac.id

Abstract— Bali Botanic Garden (Kebun Raya Bali) was originally established for botanical research and conservation, but has subsequently grown as an attractive tourism attraction. To attain information on the development of Bali Botanic Garden, this study examines several research questions as follows: (1) what are the characteristics of visitors?; (2) what is
the perception of visitors on Bali Botanic Garden?; (3) which factors push and motivate visitors to come?; (4) which factors affect the visitors of Bali Botanic Garden?. This study utilized survey method with 88 respondents as the sample. The instrument used was in the form of questionnaire, which was then analyzed with descriptive statistical tools, and factor
analysis to determine factors that affect visitors to visit Bali Botanic Garden. The results are as follows: (1) visitors of Bali Botanic Garden is dominated by domestic tourists, students and private employees, 20 to 40 age group, repeat visitors, and male visitors; (2) visitors of Bali Botanic Garden are pushed and motivated by the needs for relaxation, escape, strengthening family bond and play as very strong push factors. Secondary push factors include the needs for interaction, prestige, educational opportunity, and wish fulfillment as strong push factors. Meanwhile, romance and self-fulfillment are weak push factors; (3) five factors affect Bali Botanic Garden as a destination, including fees and service, natural attraction, accessibility, atmosphere, and facilities. Several recommendations for the management of Bali Botanic Garden include: (1) consider to visitor characteristics when diversifying the botanical garden; (2) pay attention to push factors deemed important by visitors to better match their expectations; (3) consider the five factors that were formed in managing, conserving, and utilizing the botanical garden so that this garden remain a viable tourism destination for locals and visitors.
Index Terms— accessibility, attractiveness, attraction, facility, motivation, recreation

Fulltext: http://www.ijser.org/researchpaper%5CBotanical-Garden-as-a-Recreational-Park-Balancing-Economic-Interest-with-Conservation.pdf

Travel Motivation and Destination Image of Bali Indonesia in the Perspective of Senior Foreign Tourists

Travel Motivation and Destination Image of Bali Indonesia in the Perspective of Senior Foreign Tourists
I Gusti Bagus Rai Utama, Komalawati
Abstract— The strength of the senior traveler segment is the high purchasing power the length of stay in a destination, making this market segment increasingly important in present and future. Consequently, this research aims to establish a model of motivation and its relationship with the image of Bali as an international tourism destination, especially from the perspective of senior tourists. This research employed survey method and utilized a combination of quantitative and qualitative analytical techniques. Factor analysis condensed various indicators into several key indicators to form a model with goodness of fit. Indicators representing push motivation variable include the improvement of health/fitness and the drive to perform physical exercise. Indicators representing destination identity variable include the culture and nature of Bali. Indicators representing destination creation variable include the service quality of travel agencies and service quality of travel guides. Indicators representing destination image variable include the image of cultural uniqueness and holiday atmosphere of Bali. The survey in this study involved 400 respondents of senior tourists, exclusively only foreign nationals. Goodness of fit is affirmed on the results of the analysis model, which answered the hypothesis that push motivation and destination creation affect destination image
Index Terms— destination creation, destination identity, destination image, motivational push factor, senior tourism.

Fulltex http://www.ijser.org/researchpaper%5CTravel-Motivation-and-Destination-Image-of-Bali-Indonesia-in-the-Perspective-of-Senior-Foreign-Tourists.pdf

SUDAH TERBIT: AGROWISATA SEBAGAI PARIWISATA ALTERNATIF INDONESIA

Judul AGROWISATA SEBAGAI PARIWISATA ALTERNATIF INDONESIA
Pengarang I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA
Institusi Universitas Dhyana Pura
Kategori Buku Referensi
Bidang Ilmu Ekonomi
ISBN 978-602-280-886-2
Ukuran 14×20 cm
Halaman 146 hlm.
Harga Rp.55.300
Ketersediaan Pesan Dulu
Sinopsis Sinopsis Agrowisata Indonesia adalah negara agraris yang memiliki potensi besar untuk dikembangkannya agrowisata. Pariwisata berbasis pertanian akan memberikan suatu angin segar bagi para petani dan masyarakat umum untuk dapat memperluas sektor pertanian yang selama ini mereka geluti menjadi objek pariwisata bagi para wisatawan minat khusus. Pembudidayaan dan perluasan peran dari sektor pertanian ini diharapkan dapat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya,dan para petani pada khususnya. Hal ini tentu diperlukan berbagai upaya dan kolaborasi dari sektor lain untuk mencapainya, dengan memperhatikan asas berkelanjutan dan kerja sama berbagai pihak terkait untuk mengentaskan kemiskinan, khususnya bagi para petani dan masyarakat umum. Buku ini mengedepankan tentang kondisi agrowisata di Indonesia dan pengembangannya, juga potensi agrowisata sebagai bentuk pariwisata yang berkualitas dalam penerapan asas berkelanjutan. Hadirnya buku ini dapat dijadikan sebagai referensi bagi para pemerhati agrowisata dan pelaksana bisnis agrowisata, khususnya para petani untuk dapat meningkatkan potensi pertanian yang mereka geluti untuk demi tercapainya kesejahteraan dari para petani itu sendiri.

– See more at: http://www.deepublish.co.id/penerbit/buku/717/AGROWISATA-SEBAGAI-PARIWISATA-ALTERNATIF-INDONESIA#sthash.PCPHUL4P.dpuf

Leisure, Tourism, Recreation: SSRN eLibrary Database Search Results Scholarship Articles

1 Incl. Electronic Paper Agrotourism as an Alternative Form of Tourism in Bali Indonesia
The International Conference on Sustainable Development March 6, 2012, Inna Bali Beach Hotel Sanur Bali Indonesia
I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 21
2 Incl. Electronic Paper Botanical Garden as a Recreational Park: Balancing Economic Interest with Conservation
International Journal of Scientific & Engineering Research, Volume 6, Issue 4, April- 2015, I SSN 2229-5518
I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 5
3 Incl. Electronic Paper Confirmation on the Motivation and Satisfaction Model of Foreign Senior Tourists
International Journal of Scientific & Engineering Research, Volume 5, Issue 8,August-2014 1206 ISSN 2229-5518
I Gusti Bagus Rai Utama , I. Nyoman Darma Putra and I Made Suradnya
Universitas DhyanaPura ,Udayana University and Bali Tourism InstituteNumber of Pages in PDF File: 10
4 Incl. Electronic Paper Destination Image of Bali Indonesia in the Perspective of Senior Foreign Tourists
I Gusti Bagus Rai Utama and Komalawati
Universitas Dhyana Pura and Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 11
5 Incl. Electronic Paper Destination Loyalty Model of Elderly Foreign Tourists Visiting Bali Tourism Destination
I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 16
6 Incl. Electronic Paper Experience Marketing at Eka Karya Botanical Garden Bali
I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 5
7 Incl. Electronic Paper Increasing the Interest of Forestry Education Through Collaboration with Tourism
I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 9
8 Incl. Electronic Paper Landscape and Leisure Outdoor Recreation in Gieten-Drenthe, Netherlands
I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 20
9 Incl. Electronic Paper Landscape as an Outdoor Recreation Form (Case Study the Netherlands and Bali, Indonesia )
I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 21
10 Incl. Electronic Paper Leisure and Tourism on Quality of Life
I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 12
11 Incl. Electronic Paper Positioning of Eco Tourism Objects in Bali Indonesia
I Gusti Bagus Rai Utama
Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 10
12 Incl. Electronic Paper The Contradiction of Managing Tourism Objects Based on Culture and Its Heritage
I Gusti Bagus Rai Utama and Ni Made Eka Mahadewi
Universitas Dhyana Pura and Udayana University
Number of Pages in PDF File: 6
13 Incl. Electronic Paper Travelling Motivation and Satisfaction Visiting Bali Indonesia in the Perspective of Senior Tourist
I Gusti Bagus Rai Utama and Komalawati
Universitas Dhyana Pura and Universitas Dhyana Pura
Number of Pages in PDF File: 33

 

Are you searching for publications (High Quality and Free)

 

 

Dosen Undhira dipercaya Sebagai Keynote Speaker International Workshop

UPM WorkshopDr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA, Dosen Undhira, yang merupakan salah seorang doktor pariwisata, dipercaya sebagai keynote speaker pada International Workshop yang diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan Universitas terbaik di Malaysia yakni Universiti Putra Malaysia pada tanggal 25 – 26 Mei 2015. Materi yang disampaikan pada workshop tersebut adalah tentang Forest Recreation and Tourism Education di Indonesia khususnya berhubungan dengan Ecotourism. Keynote spaker yang lainnya adalah Prof. Dr. Juan Pulhin dari Philipina untuk materi Forest Management, dan Prof. Dr. Songlod Jarusombuti dari Thailand untuk membawakan materi Wood Science and Technology.

Ada fenomena menarik yang terjadi pada negara-negara di ASEAN, bahwa minat generasi muda untuk melanjutkan studinya pada fakultas kehutanan semakin menurun dari tahun ke tahun. Pada diskusi yang melibatkan ratusan mahasiswa fakultas kehutanan tersebut, terkuak bahwa program studi atau fakultas kehutanan dianggap kurang dapat memberikan peluang kerja yang menarik minat generasi muda.

Rai Utama pada materi yang disajikannya, menjelaskan bahwa untuk meningkatkan minat generasi muda untuk melanjutkan studi di fakultas kehutanan, diperlukan inovasi dan kreatifitas untuk senantiasa mengetahui kebutuhan pasar kerja saat ini dan mendatang. Kolaborasi dengan sektor lain seperti pariwisata adalah salah satu jawabannya. Ecotourism adalah bentuk kolaborasi antara sektor kehutanan dengan pariwisata. Begitu juga Agrotourism adalah kolabrorasi antara pertanian dengan Pariwisata. Menurutnya, Sektor pariwisata adalah sektor yang paling seksi untuk dikolaborasikan dengan sektor manapun.

Undangan menjadi keynote speaker pada event international tersebut merupakan salah satu jawaban atas pergumulan Universitas Dhyana Pura yang kini telah memilih 13 program studi yang terakterditasi yakni S1 Manajemen, S1, Sastra Inggris, S1 Psikologi, S1 PG Paud, S1 PG PKK, D3. Pemasaran, S1, Perekam Medis dan Informasi Kesehatan, S1 Fisioterapi, S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat, S1 Ilmu Gizi, S1 Biologi, S1 Sistem Informasi, S1 Tehnik Informatika dan Pusat Pendidikan dan Latihan Pariwisata (PPLP) dengan program pelatihan 1 tahun, 2 tahun dan 3 tahun, dalam mengimplementasikan karakater ke-7 dari 7 Karakter Undhira yang senantiasa ditanamkan bagi seluruh civitas akademika yakni Global Outlook yang mengarahkan mahasiswa dan para dosennya dapat berkontribusi pada dunia international. Untuk mencapai visi menjadi Universitas Teladan dan Unggulan, Undhira senantiasa berinovasi dan memberikan kesempatan bagi para dosen dan juga mahasiswa untuk berkreatifitas sesuai dengan bidang ilmunya masing-masing.

Sumber: http://undhirabali.ac.id/dosen-undhira-dipercaya-sebagai-keynote-speaker-international-workshop/#more-803

I Gusti Bagus Rai Utama (ORCID:0000-0002-1962-0707)

I Gusti Bagus Rai Utama (ORCID:0000-0002-1962-0707)
Vice Rector of Universitas Dhyana Pura, Bali, Indonesia
Agrowisata Sebagai Pariwisata Alternatif

IGBRAI UTAMA
KARYA ILMIAH MAHASISWA
2 2011

Perception and Factors Influencing Tourists Visiting Eka Karya Botanical Garden Bali

I Utama Rai, G Bagus
Thesis, Udayana University, Bali
2 2005

Pengaruh Sektor Pariwisata terhadap Kinerja Keuangan Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten/Kota di Provinsi Bali

NK Widiastuti
E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 2 (05)
1 2013

EXTENDED MARKETING MIX SEBAGAI STRATEGI MEMENANGKAN CERUK PASAR WISATAWAN SENIOR BAGI DESTINASI PARIWISATA BALI

IGBR Utama
1 2008

Agrotourism as an alternative form of tourism in Bali

IGBR Utama, STIMD Pura
Paper for the Global Development
1 2007

Increasing the Interest of Forestry Education Through Collaboration with Tourism

IGBR Utama
Humanities 619, 118,037
  2015

Positioning of Eco Tourism Objects in Bali Indonesia

IGBR Utama, IWR Junaedi
Available at SSRN 2595139
  2015

Botanical Garden as a Recreational Park: Balancing Economic Interest with Conservation

IGBR Utama
Available at SSRN 2595134
  2015

Destination Image of Bali Indonesia in the Perspective of Senior Foreign Tourists

R Utama
Destination Image of Bali Indonesia in the Perspective of Senior Foreign …
  2015

Pengembangan Eco-Tourism Untuk Konservasi Sumber Daya Alamiah Di Negara Sedang Berkembang (Analisis Tourist Area Life Cycle, Index of Irritation, Dan Swot)

IGBR Utama, IG Bagus
Available at SSRN 2544612
  2015

Pariwisata Bali: Antara Pelestarian Budaya Dan Pembangunan Ekonomi

R Utama, IG Bagus
Available at SSRN 2544613
  2015

Pariwisata Menurut Pandangan Islam Dan Muslim

IGBRAI UTAMA, IG Bagus
Available at SSRN 2544617
  2015

Mengukur Dampak Perubahan Iklim Pada Industri Pariwisata Menggunakan Model Computable General Equilibrium

R Utama, IG Bagus
Available at SSRN 2544611
  2015

Analisis Siklus Hidup Destinasi Pariwisata Bali: Kajian Ekonomi Pariwisata Terhadap Destinasi

R Utama, IG Bagus
Available at SSRN
  2015

Destination Loyalty Model of Elderly Foreign Tourists Visiting Bali Tourism Destination

IGBR Utama, IG Bagus
Available at SSRN 2531529
  2014

Destination Image of Bali in the Perspective of Senior Foreign Tourists

R Utama
Available at SSRN 2510755
  2014

Confirmation on the Motivation and Satisfaction Model of Foreign Senior Tourists

R Utama, D Putra, I Nyoman, I Suradnya
International Journal of Scientific & Engineering Research 5 (8), 1206
  2014

The Contradiction of Managing Tourism Objects Based on Culture and Its Heritage

R Utama
Summited for Conference, 24-27
  2014

The Motivation and Satisfaction of Elderly Tourists Visiting Bali Tourism Destination Indonesia

IGBR Utama
Journal of Economics and Sustainable Development 5 (18), 10-16
  2014

Motivation and Satisfaction of Senior Tourists for Traveling Overseas

IG Bagus, R Utama
International Conference on Academy and Business
  2012
AGROWISATA SEBAGAI PARIWISATA ALTERNATIF

AW FEBRIANTO
KARYA ILMIAH MAHASISWA
  2011
Landscape as an Outdoor Recreation Form (Case Study the Netherlands and Bali, Indonesia)

R Utama, IG Bagus
Available at SSRN 2553138
  2007
Analisis Hubungan Sapta Pesona Dengan Kepuasan Wisatawan Dalam Rangka Pengelolaan Lingkungan Hidup..

I Utama
  2007
SERVICE SOCIETY ESSAY

IGBR Utama
  2006
Experience Marketing at Eka Karya Botanical Garden Bali

IGBR Utama, J Schulp
  2006
PENGEMBANGAN WISATA KOTA SEBAGAI PARIWISATA MASA DEPAN INDONESIA

IGBR Utama
 
DIMENSI EKONOMI DAN BISNIS: DESAIN MANAJEMEN KUALITAS PELAYANAN PARIWISATA BALI

IGBR Utama, IPO Mahendra
 
STRATEGI MEMINIMALKAN “ECONOMIC LEAKAGES” PADA SEKTOR PARIWISATA

IGBR Utama
 
DIMENSI EKONOMI PARIWISATA KAJIAN DAMPAK EKONOMI DAN KEUNGGULAN PARIWISATA KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BALI

IGBR Utama
 
PEMANFAATAN KEBUN RAYA SEBAGAI TAMAN REKREASI: ANTARA KEPENTINGAN EKONOMI DAN PELESTARIAN ALAM

IGBR Utama
 
Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas

IGBR Utama
 
DHYANA PURA BADUNG EDISI 2013

IGBRAI UTAMA
 
Model Pencitraan Destinasi Pariwisata Bali Menurut Wisatawan Usia Lanjut Australia

IGBR Utama
 
Category Archives: News

IGBR Utama
 
Ucapan Terima Kasih

A Suryani, A Febransyah, A Sukmawati, BN Polii, B Haryanto, E Noor, …
 
Daftar Peserta Seminar Usulan Penelitian Desentralisasi Tahun 2014 Wilayah Bali

IW KANDI, WSEAK MM, MDAN KEPEMIMPINAN, KAM TAWUR, …
Universitas 1, 081002
 
Academic Paper: MOTIVATION AND SATISFACTION OF SENIOR TOURISTS FOR TRAVELING OVERSEAS

IG Bagus, R Utama
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.