Health and Wellness Tourism Jenis dan Potensi Pengembangannya di Bali

Health and Wellness Tourism

Jenis dan Potensi Pengembangannya di Bali

Oleh I Gusti Bagus Rai Utama

ABSTRACT

Internationally, individuals from developing countries have travelled to developed countries for high quality medical care. But now, a growing number of individuals from developed countries are travelling to regions, once characterised as third world, seeking high quality health and wellness products and services at affordable prices. The preference also as an opportunity for Indonesia and Bali as a tourist destination, and the name of Bali is popular having health and wellness tourism area for several times was known as one of the best spa destinations. The industry of health and wellness in Bali has been become a part of tourism sector,  indeed,  to win the competition, need a strategy for development in accordance to face the regional and world competitions. This paper tried to identify and describe the health and wellness tourism, the brief’s description of trend of health and wellness tourism in the world, Indonesia, and Bali as well as. The conclusion of this paper describe that health and wellness tourism are being an strength of comparativeness, and opportunity to innovate tourism product in Bali

Keyword: Bali, Tourism, Health and Wellness

 

  1. 1. Pendahuluan

Menurut teori kebutuhan Maslow, dimana kebutuhan menusia bukanlah hanya sekedar kebutuhan dasar saja namun lebih daripada itu, manusia juga membutuhkan rasa aman, pengakuan sosial, merindukan sebuah penghargaan, menginginkan sebuah prestasi dan akhirnya ingin melakukan aktualisasi diri.

I have travelled so much because travel has enabled me to arrive at unknown places within my clouded self . (Sir Laurens Van der Post, quoted in 1994:99)

 

Jika sebagian besar manusia tidak dapat mewujudkan pemenuhan kebutuhan psikologisnya, itu semua karena keterpaksaan semata, bukan dari hati nurani seorang manusia, artinya kebutuhan manusia itu memang menjadi hasrat semua manusia di dunia ini. Pada segmen kebutuhan psikologis ini, leisure activities memegang peranan pentingnya.

Sependapat dengan Cohen tentang tipologi pelaku leisure (dalam Pitana:2005) dimana pelaku leisure dapat dibedakan menjadi lima kelompok utama, yakni: (1)Existensial: Mereka adalah pelarian dari rutinitas kehidupan sehari hari, mereka bergabung pada kelompok pencari aktivitas leisure yang bersifat spiritual. (2)Experimental: Mereka mencari gaya hidup yang berbeda, sangat extreme dari kehidupannya sehari-hari. (3)Experiental: Mereka mencari makna hidupnya pada komunitas yang berbeda dan membandingkannya, pencarian sebuah pengalaman dari budaya yang berbeda. (4)Diversionary: Mereka yang berlari dari kehidupan rutin, mencari penyegaran tubuh maupun mental “refress”. (5)Recreational: Mereka yang melakukan kegiatan leisure sebagai bagian untuk menghibur diri atau relaksasi.

Pendapat yang hampir sama mengacu pada teori motivasi seseorang melakukan kegiatan leisure. Jika dilihat dari motivasi seseorang untuk melakukan kegiatan leisure, McIntosh dan Murphy (dalam Pitana:2005), mengelompokkannya kedalam empat kelompok, yang terdiri dari: (1)Physical Motivation: Orang-orang “mereka” yang terdorong ber-leisure oleh karena alasan fisik; relaksasi, kesehatan, kenyamanan, olahraga, santai dan sebagainya. (2)Cultural Motivation: Mereka Ingin mengenang dan mengenal budaya lain, mereka seolah-olah akan berada di dunia lain dalam kontek waktu atau zaman. (3)Social Motivation: Mereka termotivasi oleh kegiatan sosial seperti mengunjungi keluarga di kampung “pulang kampung” mengunjungi teman, atau bahkan menjenguk orang sakit. (4)Fantasy Motivation: Mereka yang berusaha mewujudkan sesuatu yang telah atau sedang mereka hayalkan, berusaha lepas dari rutinitas kesehariannya.

Sejalan dengan beberapa pendapat di atas, jenis pariwisata atau leisure activites telah dikemas menjadi peluang bisnis untuk menyediakan jasa layanan health and wellness. Pada konteks ini, pariwisata health and Wellness mengacu pada kegiatan perjalanan seseorang ke dan tinggal di tempat-tempat di luar lingkungan biasa mereka untuk tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk tujuan health and Wellness dan tidak berhubungan dengan suatu pekerjaan, dan tidak dibayar dari tempat yang dikunjungi. Hal ini juga berasosiasi dengan perjalanan ke health spa atau destinasi-destinasi resort di mana tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kebugaran fisik melalui latihan fisik dan terapi, kontrol diet dan pelayanan medis yang relevan dengan pemeliharaan fisik. (Romulo, at all. 2007)

 

  1. 2. Health and Wellness Tourism

Wellness dapat  digambarkan sebagai sebuah proses di mana individu membuat pilihan dan terlibat dalam kegiatan dengan cara mempromosikan mengarahkan gaya hidup yang sehat, yang pada gilirannya berdampak positif bagi kesehatan individu itu sendiri (Barre, 2005).

2.1 Posisi Health and Wellness dalam Bisnis Pariwisata

Menurut Kaspar (dalam Mueller dan  Kaufmann , 2007), Wellness tourism pada konsep bisnis pariwisata adalah sub bagian dari health tourism sederajat dengan bisnis pariwisata lainnya. Health tourism dikategorikan menjadi illness prevention tourism dan spa/convalescence tourism. Health and wellness tourism termasuk pada illness prevention tourism yang didalamnya dikategorikan menjadi jasa kesehatan dan jasa kebugaran, lebih jelasnya dapat dilihat pada figure dibawah ini,

 

Figure: Demarcation of wellness tourism in terms of demand, (sumber: Mueller, 2007)

Konsep di atas akan menjadi sangat penting jika wellness tourism dipahami sebagai sebuah konsep ilmiah yang akan digali untuk dipelajari dan  dikembangkan menjadi konsep baru yang lebih relevan dari sisi permintaan maupun penawaran. Jika dilihat dari sisi penawaran, wellness tourism adalah sebuah produk berupa jasa pariwisata yang dapat dikembangkan atau dikreasikan ragamnya sesuai dengan kondisi sebuah destinasi baik dari sisi sosial maupun lingkungan. Kaspar (dalam Mueller dan  Kaufmann , 2007)

Dari sisi permintaan, health and wellness tourism saat ini telah menjadi trend masyarakat dunia untuk mewujudkan kebugaran dan kesehatan “health prevention” dan mendapatkan kepuasan diri dan selanjutnya konsumen health and wellness tourism tidak terbatas pada wisatawan asing saja tetapi telah menjadi “lifestyle” khususnya masyarakat “konsumen” perkotaan dalam negeri (www.tpdco.org).

2.2 Perbedaan Medical dan Health Tourism

Health Tourism adalah perjalanan dengan motivasi kesehatan ( health tourism) pada hakekatnya dilakukan sehubungan dengan kesehatan, seperti pemeriksaan kesehatan (medical check-up), pemeliharaan, seperti mandi uap, mandi lumpur, mandi air panas, pijat refleksi, pijat kebugaran dan spa yang dewasa ini sedang marak di Indonesia, pengobatan, pemulihan dan selanjutnya. (Rogayah, 2007)

health-tourism dan medical-tourism adalah dua hal yang berbeda, dimana health tourism dapat diartikan sebagai pariwisata kesehatan berupa perjalanan untuk pemeliharaan dan atau pemulihan kesehatan yang pada hakekatnya dilakukan oleh orang yang sehat, tidak menderita suatu penyakit, atau orang yang baru sembuh dari perawatan. Sedangkan medical tourism lebih condong menyangkut tindakan medik pengobatan (cure), operasi dan atau tindakan medik lainnya, yang dilakukan terhadap penderita suatu penyakit atau kelainan kondisi kesehatannya.

“medical tourism, which focuses more on surgical procedures, health tourism is a much broader concept centered mainly around resorts designed to pamper or improve the body and relax the mind” Medical tourism (also known as Health Tourism) is the practice of traveling abroad to obtain healthcare services. (discovermedicaltourism, 2010)

Menurut Discovermedicaltourism (2000), medical tourism lebih terfokus pada “surgical procedures” namun health tourism lebih banyak  dihubungkan dengan konsep sebuah resort yang dirancang untuk tujuan relaksasi, mencari ketenangan, serta peningkatan kebugaran tubuh. Namun antara istilah medical dan health tourism sebenarnya dianggap dua hal yang tidak jauh berbeda menurut anggapan para konsumen atau wisatawan.

2.3 Jenis dan Bentuk Produk Health and Wellness Tourism

Menurut Kaspar (dalam Mueller dan  Kaufmann , 2007), kebutuhan akan produk health and wellness akan terus berkembang dan menjadi beragam tergantung pada faktor sosial dan kepekaan lingkungan. Jika manusia masih memiliki rasa untuk memanjangan diri “self responsibility” maka pasti akan membutuhkan jasa health  and wellness tersebut. Health and Wellness produk dapat dikategorikan pada beberapa kelompok yakni; (1) mind mental activity/education, (2) health nutrion/diet, (3) body physical fitness/beauty care, dan (4) relaxation rest/meditation. Lebih jelasnya dapat digambarkan pada figure dibawah ini,

 

Figure: Expanded wellness model 3, Wellness tourism is regarded as a sub-category of health tourism (Kaspar, 2007)

2.4 Trend Health and WellnessTourism di Dunia

Trend yang semakin meningkat bagi pertumbuhan dan perkembangan Health and wellness Tourism tidak dapat diragukan lagi. Pada tingkat global dan regional untuk health and wellness (medical service, leisure and recreation Spas, medical surgical clinic, medical wellness centers or spa) tourism menyebar hampir merata di beberapa kawasan seperti Eropa, Amerika, Asia, dan Australia serta Selandia Baru.

Figure International Analysis of Health and Wellness Assets. Source : Smith and     Puczk ó (2009)

Pada sisi lainnya, seperti nampak pada figure  di atas, kebutuhan atau permintaan akan destinasi yang alami dan mampu menjadi tempat untuk melakukan “healing” atau penyembuhan justru menjadi trend yang merata hampir di semua kawasan dunia.

Menurut Smith dan Puczk ó, (2009: p253) health and wellness tourism dapat dikembangkan berdasarkan bahan-bahan atau asset yang telah tersedia pada suatu destinasi (Existing assets for health and wellness tourism) dan atau diadakan berdasarkan kebutuhan atau permintaan (Use of existing assets).

Yang termasuk dalam Existing assets for health and wellness tourism adalah (1) Natural healing assets, (2) Indigenous healing traditions, (3) medical service, (4) nature,dan (5) spiritual traditions. Sedangkan yang termasuk pada use existing assets adalah (1) leisure and recreation spas, (2) medical/ therapeutic hotel/clinic spas, (3) medical/surgical clinic or hospital, (4) medical wellness center or spas, (5)holistic retreats, dan (6) Hotel and resort  spa.

Natural healing asset tersebar hampir merata di beberaa kawasan seperti Eropa Utara, Barat dan tengah, Eropa Selatan. Sementara pada kawasan Amerika tersebar di dua kawasan yakni Amerika Tengah dan selatan. Begitu juga dengan kawasan Afrika dan kawasan fasifik juga kaya dengan natural healing assets, sementara di kawasan Timur tengah dan asia tenggara tidak termasuk dalam kawasan yang kaya dengan natural healing asset kecuali asia timur jauh, hal ini dimungkinkan karena pada saat penelitian ini dilakukan, ke dua kawasan tersebut belum mengeksplorasi hal tersebut sebagai asset yang bisa dijadikan natural healing asset.

Indegenous Healing tradition menyebar merata di kawasan Amerika, Afrika, Asia Tenggara dan timur jauh, dan kawasan fasifik. Kawasan Eropa justru dianggap tidak memiliki indigenous healing tradition yang berarti hal ini mungkin saja terjadi karena sebagaian besar kawasan ini telah tersentuh modernisasi yang hampir tidak meninggalkan lagi unsure-unsur ketradisonalannya, sangat berbeda dengan kawasan asia, fasifik, dan amerika yang masih sangat mudah ditemukan budaya indigenous healing tradiosional seperti misalnya di India, China, pengobatan alternative di Indonesia, dan sejenisnya.

Medical services menyebar hampir di semua kawasan kecuali di kawasan fasifik, hal ini dimungkinkan karena kawasan fasifik terletak cukup jauh dari kawasan-kawasan yang lainnya sehingga secara internasional kawasan fasifik tidak sepopuler kawasan lainnya seperti eropa, amerika, dan asia.

Nature menyebar merata di seluruh kawasan kecuali di kawasan asia tenggara dan eropa bagian tengah dan timur. khusus untuk kawasan asia tenggara belum dianggap kawasan yang populer dengan sumber nature untuk asset health and wellness tourism dimungkinkan belum dilakukan eksplorasi atau pengembangan sumber nature untuk peruntukan bisnis health and wellness tourism.

Spritual Tradition hanya ditemukan pada kawasan asia tenggara dan asia timur jauh hal ini  dimungkinkan karena kawasan ini paling eksis dalam memelihara budaya spiritual yang masih original atau lebih dikenal dengan spiritual tradition seperti contohnya; penyembuhan dengan senam yoga, senam yang berbasis aliran Yin dan Yang di China, dan sebagainya.

Sangat mengherankan, sebaran untuk use of existing assets justru menyebar pada kawasan Asia tenggara dan asia timur jauh untuk semua jenisnya seperti; leisure and recreation spa, terapi hotel spa and clinic, medical clinic and hospital, medical wellness center  and spa, holistic retreats, dan hotel and resorts spa.  Hal yang sama juga terdapat pada kawasan eropa selatan dan kawasan fasifik.

 

2.5 Health  and Wellness di Indonesia

Sejauh ini, untuk perkembangan health and wellness tourism belum banyak disadari sebagai potensi bisnis yang sangat potensial di Indonesia, padahal Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk kedua jenis asset untuk pengembangan health and wellness tourism tersebut.

Menurut Rogayah, (2007) hampir di setiap wilayah Indonesia dapat ditemukan pariwisata kesehatan yang sudah dikembangkan; hal tersebut dapat dipahami mengingat Indonesia merupakan kepulauan yang kaya akan alam dan pegunungan yang tersebar baik di lima pulau terbesar di Indonesia maupun di beribu pulau kecil lainnya. Namun sayang sekali data tentang keberadaan pariwisata kesehatan yang belum dikembangkan dan masih sangat alami belum dapat diketahui dengan pasti.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, penggunaan rempah-rempah, bumbu-bumbuan dan tumbuh-tumbuhan seperti padi, kelapa, jahe dan lain-lainnya untuk digunakan sebagai bahan penyembuhan dan relaksasi (rejuvenate) yang bersifat holistik sudah merupakan kebiasaan turun temurun dan sebagian telah dikemas menjadi industri spa dan sepuluh tahun terakhir ini spa and wellness berkembang sangat cepat di Indonesia khususnya  di Bali, dan industri ini menghasilkan pendapatan yang tinggi (Widjaya, 2011).

Selama ini health and wellness khususnya Spa, lebih identik untuk kecantikan dan kebugaran tubuh, namun seiring dengan berkembangnya kreatifitas dan inovasi para penyedia jasa, dengan digabungkannya Spa dan herbal teraphy selain mendapat cantik, seseorang juga mendapat banyak manfaat untuk penyembuhan berbagai penyakit (Sugianto, 2010)

Seiring dengan hal di atas, kehidupan di kawasan perkotaan seperti Jakarta, Surabaya dan juga Denpasar  yang sarat dan padat dengan aktivitas berdampak pada badan dan raga menjadi lelah dan letih. Kondisi ini memunculkan bisnis Spa yang menawarkan pemulihan dan kebugaran sehingga seberat apa pun aktivitas sesesorang dengan spa akan kembali bugar dan siap untuk kembali melakukan aktivitas yang padat tersebut.

Bagi masyarakat modern, semua itu menjadi hal yang dihadapi setiap harinya. Pada saat-saat demikian terapi kesehatan dan juga sarana untuk memanjakan diri menjadi suatu kebutuhan bahkan telah menjadi trend saat ini, termasuk juga langganan datang ke Spa untuk memulihkan tubuh dari rasa lelah dan lambatlaun telah menjadi gaya hidup masyarakat dunia. (Everyday spa, 2010)

Senada dengan hal di atas, adanya tuntutan kesehatan dan kebugaran telah berubah menjadi aktualiasi diri seiring dengan peningkatan kesejahteraan hidup manusia juga mendorong terciptanya gaya hidup modern. Keinginan tampil beda dengan tubuh yang senantiasa segar dan sehat, dan health and wellness tourism berkembang seiring dengan adanya permintaan dan terciptanya beragam jenis produk health and wellness mengiringi pesatnya tingkat persaingan antara supplier atau penyedia jasa.

2.6 Health  and Wellness Tourism Bali

Sebagai daerah tujuan wisata, keberadaan health dan wellness tourism, di Bali telah dikenal di dunia sebagai salah satu destinasi spa terbaik. The Jakarta Post (2009), memberitakan bahwa  Thermes Marins Bali, Indonesia mendapat penghargaan sebagai “best Destination SPA in Asia’ oleh  Asia SPA and Wellness, pada Asia Spa and wellness festival Gold Awards di hotel Landmark, Bangkok. Pada acara ini ada 28 Spa and Wellness Centers yang mendapat penghargaan dari 212 nominasi yang ada di Asia, dimana penilaian dilakukan dengan melihat indikator suasana (ambience), peralatan dan design, kualifkasi dan keterampilan therapist, menu treatment dan kualitas layanan (service), selain itu di tahun 2009 juga Bali mendapat penghargaan sebagai the “World’s Best Spa Destination”. Penghargaan ini diberikan oleh Berlin-based fitness magazine Senses dan diterima pada acara annual International Pariwisata Bourse (ITB) in Berlin.

Untuk mempertahankan dan pengembangan health and wellness tourism tidak hanya sebatas produk spa, maka diperlukan sebuah strategi yang tepat dan jitu untuk membuat kreasi dan inovasi produk. Caribbean Export Development Agency (2008) mengusulkan bentuk strategi pengembangan pariwisata health and Wellness di karibia. Tidak jauh berbeda, mengingat kepulauan karibia dan Bali memiliki banyak persamaan dalam pengembangan pariwisatanya, maka adopsi konsep ini bagi pengembangan pariwisata health and Wellness di Bali juga dapat dilakukan. Ada 10 aspek yang perlu dilakukan dalam strategi pengembangan tersebut ke sepuluh strategi tersebut akan dijelaskan berikut ini. (1)Penentuan Posisi health and Wellness tourism Bali dalam Pasar Global. (2) Penentuan Posisi Pariwisata health and Wellness Bali dalam Pasar Regional. (3) Identifikasi Produk dan/atau Pelayanan yang Ditawarkan. (4) Mengidentifikasi pasar Target. (5)Mengatasi Hambatan Potensial. (6)Mengetahui Apa yang Pesaing Bali. (7)Membedakan Bali dari Competitor. (8) Meluruskan Goals Industri health and wellness dengan Strategi Peluang. (9)Mengambil Kesempatan bermitra. (10) Menerapkan Strategi Promosi.

Khususnya di Bali, pasar pariwisata health and Wellness dapat dibagi menjadi empat segmen: (1) pariwisata medis, (2) Wellness dan spa, (3) keperawatan (nursing) dan perawatan lansia (elderly care), dan (4) jasa untuk penelitian dan diagnostik.  Layanan health and Wellness di banyak negara merupakan layanan yang ideal untuk mempromosikan peran ekspor jasa pariwisata sebagai bagian dari GDP. Menurut statistik World Travel and Tourism Council (WTTC), diperkiraan keseluruhan kontribusi pariwisata terhadap rata-rata GDP cukup tinggi.

Di Bali jumlah spa  berkembang melebihi 160% sejak tahun 2003. Teriden-tifikasi ada sekitar 390 spa yang sekarang sedang beroperasi dan selebihnya ada sekitar 21 spa yang sedang di bangun (Widjaya, 2011). Tingginya perkembangan tersebut membuka momentum bagi bisnis health and Wellness di Bali, walaupun disisi eksternalnya bisnis ini akan berkompetisi dengan lingkungan perdagangan internasional yang sangat kompetitif, tetap saja bisnis Health and Wellness ini merupakan kesempatan nyata untuk mengambil keuntungan, untuk menciptakan prospek pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini akan menjadi peluang bagi Bali sebagai destinasi health and Wellness dimasa yang akan datang.

Investasi asing langsung dan pembentukan perusahaan asing di Bali dalam konteks industri pariwisata health and Wellness beberapa tahun terakhir ini, khususnya pembangunan spa telah meningkat 160% bila diban-dingkan dengan tahun 2003. Dari 160% tersebut 52% berlokasi di Hotel, Resort, dan Retreat (Destination Spas), sisanya ada 42% adalah Day Spas (Widjaya, 2011). Tingginya minat melakukan investasi di bidang spa ini menunjukkan bahwa industri pariwisata health and Wellness di Bali dipandang menjanjikan secara bisnis.

 

  1. 3. Kesimpulan dan Saran

Di Indonesia dan kawasan ASEAN Bali dikenal memiliki imprastruktur pariwisata yang cukup mapan. Perkembangan pariwisata health and wellness sebagai konsekuensi dari berkembangnya infrastuktur, permintaan wisatawan, industri perhotelan dan lingkungan bisnis yang telah teratur baik. Namun, keuntungan komparatif seperti ini, belum menjamin Bali mampu menghadapi persaingan global telah ditentukan oleh keinginan wisatawan.

Oleh karena itu fungsi pengelolaan pariwisata health and Wellness telah selayaknya dievaluasi kembali, khususnya bagaimana strategi yang paling tepat yang dapat dilakukan bagi pengembangan pariwisata health and Wellness di Bali, yang melibatkan tidak hanya pemerintah tetapi stakeholder pariwisata Bali. Dari evaluasi tersebut, diharapkan akan mendapatkan jawaban tentang: posisi health and wellness tourism bali pada pasar global,  posisi pariwisata health and wellness Bali dalam pasar regional, jenis dan ragam produk dan/atau pelayanan yang ditawarkan, pasar target, mengetahui hambatan potensial, mengetahui pesaing Bali, perbedaan Bali dengan pesaing, goal industri health and wellness bali dengan strategi peluang yang tepat, melakukan kemitraan dengan pihak asing, dan melakukan strategi promosi tepat.

Keberadaan Health and Wellness Tourism adalah sebuah peluang dan kekuatan untuk menambahkan daya saing Bali sebagai sebuah destinasi pariwisata Internasional, namun jika keberadaan health and wellness tourism di Bali tidak dikelola sebagai bagian utuh dari pariwisata Bali, akibatnya akan berdampak pada kualiats destinasi secara keseluruhan.


Daftar Pustaka

Finn, Emanuel, 2002, Health Tourism, Volume No 1 Issue No 23, Friday, June 28, 2002

 

Gigi Starr 2010. “10 Best Spas”. http://www.travels.com/vacation-ideas/ leisure-activities/best-spas/

GMDC and The Hartman Group. 2009. Consumer Shopping Habits for Wellness and Environmentally Conscious Lifestyles Study: Insights for Health, Beauty and Wellness. http://www.pacific.edu/Documents/school-pharmacy/acrobat /Consumer%20 Shopping%20Habits %20 for%20Wellness%20-%20Presentation.pdf.

Gonzales, Anthony, et.al. 2001. Health Tourism and Related Services: Caribbean Development and International Trade, Caribbean Regional Negotiating Machinery (CRNM).

Hadinoto, Kusudianto.1996. Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata. Jakarta; Penerbit Universitas Idonesia.

Health Tourism. 2010. Retrive from http://www.discovermedicaltourism.com/health-tourism/

Karen (2005). Different kinds of leisure activities at the weekends in Bristol. Bristol Research Paper.

Mill, Robert Cristie.2000. Tourism, The International Business.Jakarta: PT Raya Grafindo Persada.

Mlesnita, Radu Adrian, 2002, Health Tourism, Volume No 1 Issue No 23, Friday, June 28, 2002

Mueller dan  Kaufmann.  2007. Wellness Tourism: Market analysis of a special health tourism segment and implications for the hotel industry . Research Institute for Leisure and Tourism, University of Berne, Engehaldenstrasse 4, CH-3012 Bern, Switzerland

Oka A. Yoeti, 1996, Anatomi Pariwisata, Bandung: PT Angkasa

Pendit, Nyoman S., 2002, Ilmu Pariwisata, Jakarta: Pt. Pradnya Paramita.

Pitana, I Gde, dan Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Jogyakarta: Penerbit Andi

Rogayah, Iim D. 2007. Pariwisata Kesehatan di Jawa Barat, Retrieved on 02 November 2009 from http://irdanasputra.blogspot.com/2009/11/pariwisata-kesehatan.html

Romulo A. Virola and Florande S. Polistico.  2007. Measuring Pariwisata health and Wellness in the Philippines. 10th National Convention on Statistics (NCS). EDSA Shangri-La Hotel.

Ross, K. (2001). “Health Pariwisata: An overview.” HSMAI Marketing Review, (December). Downloaded from: http://www.hospatality/net.org

Sanders, Sir Ronald. 2007. Medical Tourism – The Impacthttp://www.BBCCarib-bean.com

SpaFinder.2008. Issues 5th Annual Spa Trends Report, 10 Spa Trends to Watch in 2008. http://www.acybernews.com/spafinder-issues-5th-annual-spa-trends-report-10-spa-trends-to-watch-in-2008/

The Baxter Group (2003). “The Canadian pariwisata Resource Guide 2003/04: A Directory of New Products and Services.” Toronto, Ontario

The Jakarta Post. 2003. Bali voted ‘best island’. http://www.thejakartapost.com/ news/2003/07/29/Bali-voted-039best-island039.html

The Jakarta Post. 2005. ‘Bali again named world’s favorite tourist island. http://www.the- jakartapost.com/news/2005/07/11/Bali-again-named-world039s-favorite-tourist-island.html

The Jakarta Post. 2009. ‘Bali named world’s best spa destination”.  http://www.thejakarta post.com/news/2009/03/25/Bali-named-world039s-best-spa-destination.html

United Nation World Tourism Organizaton (UNWTO). 2007.  Tourism Highlights, edisi 2007. https://pub.unwto.org/WebRoot/Store/Shops/Infoshop/4922/C788/D1 06/3080/CEEC/C0A8/0164/52FB/081118_tmt_world_2007_engl_excerpt.pdf

Widjaya, Lulu. 2011. Spa Industry in Bali. Guest Lecturer in Tourism Doctoral Program at Udayana University.

 

Smith, Melanie dan Puczkó, László. (2009).  Health and Wellness Tourism. Butterworth-Heinemann is an imprint of Elsevier, Linacre House, Jordan Hill, Oxford OX2 8DP, UK 30 Corporate Drive, Suite 400, Burlington, MA 01803, USA, Retrive   from http://www.download-it.org/learning-resources.php?promoCode=&partnerID=&content=story&storyID=1719

Spillane, James J. 1987.Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Stenden, University (2008). Catalog of MAILTS Program. Leeuwarden: Internal publisher.

Sugianto, Agy. 2010. Spa Jadi gaya hidup masyarakat kota. Retrive from http://bataviase.co.id/node/310818


About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Journal, Leisure. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s