Ilmu pariwisata dari segi ontology, epistemology, axiology apakah termasuk bidang ilmu tersendiri

Jawaban Ujian Akhir Semester Filsafat Ilmu
nAMa Karyasiswa: 

I GUSTI BAGUS RAI UTAMA

Dosen Penilai: 

Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD. (KHOM)

NIM. 1090771010 PROGRAM: PPS S3 Pariwisata UNUD
Soal No.9 

Cobalah kaji ilmu pariwisata dari segi ontology, epistemology, axiology apakah termasuk bidang ilmu tersendiri, ataukah merupakan sub-bidang ilmu dibawah ilmu ekonomi. Tinjau juga dari aspek obyek material dan obyek formal ilmu tersebut!

Jawab:

Ilmu Pariwisata adalam Ilmu tersendiri karena telah memenuhi ketiga segi (ontology, epistemology, dan axiology) sebagai ilmu mandiri dan unsur ini merupakan sifat yang melekat pada setiap  ilmu pengetahuan. Ilmu Pariwisata bukan sub-bidang ilmu ekonomi karena pariwisata telah memenuhi syarat sebagai ilmu tersendiri,

Aspek Ontologi Pariwisata

Aspek ontologi dari ilmu pariwisata dapat dilihat kemampuan ilmu ini dalam menyedikan informasi yang lengkap tentang hakekat perjalanan wisata, gejala-gejala pariwisata, karakteristik wisatawan, prasarana dan sarana wisata, tempat-tempat serta daya tarik destinasi yang dikunjungi, sistem dan organisasi, dan kegiatan bisnis terkait, serta komponen pendukung di daerah asal maupun di sebuah destinasi wisata.

Aspek Epistemologi Pariwisata

Aspek epistemology ilmu pariwisata dapat ditunjukkan pada cara-cara pariwisata memperoleh kebenaran ilmiah, objek ilmu pariwisata telah didasarkan pada logika berpikir yang rasional dan dapat diuji secara empirik. Dalam memperoleh kebenaran ilmiah dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, yakni:

(1)  Pendekatan system: Pendekatan ini menekankan bahwa pergerakan wisatawan, aktivitas masyarakat yang memfasilitasi serta implikasi kedua-duanya terhadap kehidupan masyarakat luas merupakan kesatuan yang saling berhubungan “linked system” dan saling mempengaruhi. Setiap terjadinya pergerakan wisatawan akan diikuti dengan penyediaan fasilitas wisata dan interaksi keduanya akan menimbulkan pengaruh logis di bidang ekonomi, social, budaya, ekologi, bahkan politik. Sehingga, pariwisata sebagai suatu system akan digerakkan oleh dinamika subsistemnya, seperti pasar, produk, dan pemasaran.

(2)  Pendekatan Kelembagaan: Pendekatan kelembagaan adalah dimana setiap perjalanan wisata akan melibatkan wisatawan sebagai konsumen, penyedia sebagai supplier jasa transportasi, penyedia jasa akomodasi atau penginapan, serta kemasan atraksi atau daya tarik wisata. Kesemua komponen ini memiliki hubungan fungsional yang menyebabkan terjadinya kegiatan perjalanan wisata, dan jika salah satu dari komponen di atas tidak menjalankan fungsinya maka kegiatan perjalanan tidak akan berlangsung.

(3)  Pendekatan Produk: Pendekatan yang digunakan untuk mengkategorikan bahwa pariwisata sebagai suatu komoditas yang dapat dijelaskan aspek-aspeknya yang sengaja diciptakan untuk merespon kebutuhan masyarakat. Pariwisata adalah sebuah produk kesatuan totalitas dari empat aspek dasar yakni; Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus dipenuhi produk pariwisata sebagai sebuah totalitas produk, yakni: (1)Attractions (daya tarik); (2)Accesability (transportasi); (3)Amenities (fasilitas); (4)Ancillary (kelembagaan)

Sedangkan metode yang dapat digunakan untuk mencari kebenaran ilmiah ilmu pariwisata seperti (1) metode eksploratif dari jenis penelitian eksploratori (exploratory research) dan metode membangun teori (theory-building research) (2) kuantitatif (3) kualitatif (4) studi komparatif (5) eksploratif (6) deskriptif dan metode lainnya sesuai dengan permasalah dan tujuan penelitiannya.

Aspek Aksiologi Pariwisata

Ilmu pariwisata telah memberikan manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Perjalanan dan pergerakan wisatawan adalah salah satu bentuk kegiatan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang beragam, baik dalam bentuk pengalaman, pencerahan, penyegaran fisik dan psikis maupun dalam bentuk aktualisasi diri. Menurut UN-WTO, pariwisata telah menjadi industri terbesar dan memperlihatkan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun. Kontribusi pariwisata yang lebih konkret bagi kesejahteraan manusia dapat dilihat dari implikasi-implikasi pergerakan wisatawan, seperti meningkatnya kegiatan ekonomi, pemahaman terhadap budaya yang berbeda, pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan manusia.

Tinjauan terhadap obyek material dan obyek formal Ilmu Pariwisata

Obyek Material Ilmu Pariwisata

Obyek material pariwisata adalah sasaran atau hal yang menjadi kajian pada ilmu pariwisata, Ilmu pariwisata adalah ilmu yang mempelajari teori-teori dan praktik-praktik tentang perjalanan wisatawan, aktivitas masyarakat yang memfasilitasi perjalanan wisatawan, dengan berbagai implikasinya.

Implikasi dari adanya perjalanan wisata, telah menimbulkan respon terhadap penyediaan jasa layanan pariwisata, dimana (UN-WTO, 2000) mengelompokkannya menjadi tujuh, yakni: (1)Jasa Akomodasi (Accomodation services) (2)Jasa Penyediaan Makanan dan Minuman (Food and beverage-serving services). (3)Jasa Transportasi Wisata (Passenger transport services). (4)Jasa Pemanduan dan Biro Perjalanan Wisata (Travel agency, tour operator and tourist guide services). (5)Jasa Pagelaran Budaya (Cultural services). (6)Jasa Rekreasi dan Hiburan (Recreation and other enter­tainment services). (7)Jasa Keuangan Pariwisata (Miscellaneous tourism services).

Obyek Formal Ilmu Pariwisata

Obyek formal ilmu pariwisata adalah cara atau metode yang dipakai dalam mengkaji masalah-masalah pada obyek material pariwisata. Ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji masalah-masalah pada obyek material pariwisata, yakni; (1)pendekatan kelembagaan, (2) pendekatan system, dan (3) pendekatan produk. Sedangkan metode yang dipakai mencari kebenaran ilmiah ilmu pariwisata seperti (1) metode eksploratif (exploratory research) dan metode membangun teori (theory-building research) (2) kuantitatif (3) kualitatif (4) studi komparatif (5) eksploratif (6) deskriptif dan metode lainnya sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitiannya.

Sedangkan kajian bidang ilmu pariwisata, pada aspek formal ini dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni: (1)Kajian Pengembangan Jasa Wisata: dengan objek perhatiannya adalah aktivitas masyarakat dalam penyediaan jasa, seperti fasilitas akomodasi, atraksi, akses dan amenitas, serta jasa-jasa yang bersifat intangible lainnya. (2)Kajian Organisasi Perjalanan: dengan objek perhatiannya terfokus pada pemaketan perjalanan wisata, pengorganisasian dan pengelolaannya sesuai dengan prinsip-prinsip kerberlanjutan. (3)Kajian Kebijakan Pembangunan Pariwisata. Dengan menitik­beratkan perhatiannya pada upaya-upaya peningkatan manfaat sosial, ekonomi, budaya, psikologi perjalanan wisata bagi masyarakat dan wisatawan dan evaluasi perkembangan pariwisata melalui suatu tindakan yang terencana.

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Journal, Leisure, News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s