“WORLD” HERITAGE MANAGEMENT MANFAAT DAN KERUGIAN BAGI MASYARAKAT LOKAL

“WORLD” HERITAGE MANAGEMENT

MANFAAT DAN KERUGIAN BAGI MASYARAKAT LOKAL

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana

Abstract

Membandingkan situs yang terdaftar di WHS atau world heritage Situs yakni The Tower of London dengan situs Pura Tanah Lot Bali dapat memberikan informasi bahwa mereka memiliki kekuatan yang hampir mirip yakni unsur keunikan, namun memiliki perbedaan universalitas, dimana The Tower of London memiliki universalitas yang dapat diterima oleh dunia sementara Pura Tanah Lot belum mampu menunjukkannya. Keduanya dikunjungi oleh wisatawan dalam jumlah besar sehingga memiliki ancaman terhadap usaha mitigasi atau konservasi baik konservasi  fisik maupun nilai yang terkandung dalam kedua situs tersebut. Keduanya telah dikomodifikasi untuk tujuan publik bahkan telah memasuki babak komersialisasi yang cukup berarti, pada situs Pura Tanah Lot telah menimbulkan konflik pengelolaan karena belum memiliki perencanaan jangka panjang sedangkan situs The Tower of London belum terjadi konflik pengelolaan karena telah dikelola sacara nasional dan professional. Eksistensi The Tower of London telah mendapat dukungan UNESCO-WHS sedangkan Pura Tanah Lot belum. Interpretasi terhadap situs The Tower of London telah diakui secara nasional oleh public Inggris sebagai situs wajib untuk kajian sejarah bagi para pelajar di sana, sementara Situs Pura Tanah Lot belum terintegrasi secara nasional.

Keyword: Kekuatan, tantangan, World Heritage Situs, The Tower of London

  1. 1.    Pendahuluan

 

Saat ini pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara, tanpa terkecuali di Afrika. Namun demikian pada kenyataannya, pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. [1]Pariwisata internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi tersebut meningkat 11% dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Seiring dengan hal tersebut, diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2020 akan menembus angka 1,6 miliar orang per tahun (UN-WTO, 2005).

Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2005, dalam Sapta, 2011:1) menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang sangat mulia dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

a)         Tujuan pemersatu dan mempererat kesatuan Bangsa karena pariwisata dianggap mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.

b)         Tujuan penghapusan kemiskinan [2](Poverty Alleviation) karena pembangunan pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharapkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapannya adalah bahwa pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.[3]

c)         Tujuan pembangunan berkesinambungan (Sustainable Development) karena dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Artinya penggunaan sumberdaya yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relative lama.

d)         Tujuan pelestarian budaya [4](Culture Preservation) dengan pembangunan kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara ataudaerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan diberbagai daerah.

e)         Tujuan pemenuhan [5]Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia: Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema paid holidays.

f)          Tujuan Peningkatan Ekonomi dan Industri; Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa.

g)         Tujuan Pengembangan Teknologi; Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataan akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

 


 

  1. 2.      Kajian Teoritis

2.1. Paradoks Komodifikasi terhadap Pelestarian Warisan Budaya

Diskusi dan perdebatan tentang  budaya saat ini sudah tidak lagi berdebat tentang ekspresi, imajinasi, atau kreativitas, namun sudah membahas tentang budaya sebagai  sebuah produk wisata. Menurut Hewison, (1988: 240, dikutip oleh Ho dan Bob McKercher, 2010) mengatakan, budaya dikonsumsi sebagai sebuah komoditas karena didalamnya terkandung nilai experiences.

Pada masyarakat modern, heritage seringkali dijadikan komoditas yang bernilai ekonomis khususnya untuk kepentingan industri pariwisata (Graham at al, 2000) padahal nilai yang terkandung pada heritage sebenarnya lebih dari pada anggapan heritage sebagai sebuah barang dan jasa, akibatnya terjadilah eksploitasi heritage sebagai sebuah produk pariwisata, dan jika tidak dikelola secara bijaksana akhirnya heritage akan diperjualbelikan, distandarkan seperti layaknya sebuah barang yang berwujud padahal heritage itu juga, mengandung elemen tak berwujud “intangible” dan juga mengandung nilai yang tidak pernah dapat distandarkan dan  di hitung secara ekonomi.

Senada dengan hal di atas, Graham at al, (2000) mengatakan, ketika heritage dan budaya “culture” dianggap sebagai sumber daya ekonomi dan kapital, akhirnya alasan inilah yang dijadikan sebagai legitimasi untuk menjadikan budaya dan heritage sebagai sebuah produk dalam industri pariwisata. Sementara Shackley (2001) membenarkan bahwa perjalanan yang mempersembahkan heritage dan budaya sebagai produk  akan berbau komersialisasi mendekati kebenaran.

Pemanfaatan “cultural heritage” atau warisan budaya sebagai sebuah produk yang siap dikonsumsi pada industri pariwisata relatif masih baru, khususnya oleh kalangan profesional pariwisata dan kalangan ilmiah, hal ini dimulai sekitar tahun 1990 (Ashworth at al, 1994). Ide pemanfaatan warisan budaya sebagai sebuah produk juga diawali adanya sebuah tujuan utama untuk memberikan kepuasan pada wisatawan, mempersembahan experiens yang menjadi kebutuhan wisatawan. Pola pendekatan yang digunakan adalah pendekatan produk dan pemasaran yang berimbang dengan memadukan tujuan antara pelestarian dan pengelolaan heritage sebagai sebuah komoditas pariwisata.

Dalam konsep pengelolaannya, ada dua perbedaan mendasar yang sangat sulit untuk menemukan sebuah keseimbangan yakni antara prinsip pengelolaan heritage yang lebih cenderung berdekatan dengan konservasi sedangkan pariwisata lebih cenderung mengarah pada industri pariwisata dan lebih cenderung mengarah komersialisasi. Kesulitan yang nyata terjadi ketika harus ditentukan berapa harga yang harus ditentukan untuk sebuah produk heritage.  Sementara Gunn (1998: 10) menyatakan, sering terjadi kesalahan tentang pengertian produk pariwisata pada sebuah system pariwisata, dan sering didasarkan pada konsep bahwa produk adalah sesuatu yang beruwujud. sehingga perlu ada definisi yang jelas apa yang dimaksud dengan produk?, bagaimana produk tersebut dapat difungsikan?, dan sangat mungkin bahwa produk heritage mungkin hanya sebatas hayalan para wisatawan saja.

Seringkali terjadi konsep yang berbeda antara pengelola produk pariwisata budaya dengan konsep konsumsi para wisatawan terhadap produk warisan budaya tersebut karena adanya perbedaan cara mengkonsumsinya, acapkali ada beberapa wisatawan yang memang benar-benar perduli dengan nilai yang terkadung pada sebuah heritage yang dikunjunginya, namun tidak sedikit pula wisatawan yang tidak acuh dengan nilai yang termanifestasi pada sebuah heritage. Untuk menyatukan konsep yang berbeda inilah  diperlukan manajemen yang mampu memadukan antara tujuan konservasi dan pemanfataan dapat bertemu dalam keseimbangan

 

2.2.Heritage Tourism sebagai Industri

Christou 2005, (dikutip oleh Sigala and Leslie, 2005:8) berpendapat Heritage tourism adalah sebuah industry di mana pendapatnya mengacu kepada aktifitas modern yang dapat direncanakan, dikontrol dan mempunyai tujuan untuk menghasilkan produk di pasar atau market. Heritage dan tourism merupakan perpaduan dua industri, dimana ‘heritage’ yang berperan untuk merubah sebuah lokasi menjadi destinasi dan ‘tourism’ yang merupakan pewujudan dari aktifitas ekonomi (Kirschenblatt-Gimblett,1998:151; dikutip oleh Urry, 1990:90; dan Smith,2006:13).  Pada bagan dibawah ini merupakan interelasi dan komponen pada ‘heritage industry’, gambaran tersebut dapat dijelaskan pada bagan 1 berikut ini,

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagan 1: Component of the Heritage Industry (Ashworth, 1994;Cited in Sigala et al. 2005:9)

Menurut bagan 1, Heritage dapat berwujud bagunan kuno, candi, museum, atau artefac lainnya yang dijadikan dan disajikan serta ditawarkan kepada visitor atau wisatawan. Dengan segala kreatifitas pengelolaan, situs-situs heritage tersebut kemudian dikemas sedimikian rupa pada sebuah iklan atau brosur atau presentasi audio visual, bahkan mungkin pada UNESCO HERITAGE LISTING,  sehingga target visitor diharapkan berkunjung akan meningkat. Selanjutnya heritage yang telah dikemas tersebut disebut produk yang siap dikonsumsi oleh wisatawan.

Sebenarnya ada dua tujuan yang diharapkan pada konsepsi bagan di atas, pertama dari sisi pengelolaan heritage itu sendiri bertujuan untuk kelestarian “Conservation agencies” sementara pada sisi pengelolaan produk lebih mengacu pada kepentingan pelaku industry pariwisata “User Industries” yang lebih economy oriented. Untuk dapat menyeimbangkan keduanya diperlukan kebijaksanaan agar tujuan ekonomi tidak mengabaikan tujuan konservasi, begitu juga tujuan konservasi dapat berkelanjutan jika ada dukunggan pendanaan untuk maintenance dan pengelolaan secara berkala, pada konteks ini, pengelolaan harusnya menggunakan konsepsi “carrying capacity management”

 


 

2.3.Index of Irritation dan SWOT

Untuk menentukan perkembangan sebuah destinasi dapat digunakan analisis [6]Index of Irritation yang terdiri dari empat tahapan atau fase yakni: Euphoria, Apathy, annoyance, dan antagonism. Metode ini lebih mengarah pada analisis sosial yang mengukur dampak pariwisata dari sisi sosial. Hasil dari analisis ini dapat mengukur perubahan perilaku masyarakat lokal terhadap kehadiran pariwisata di daerahnya.

(1)   Phase Euphoria ditandai dengan temukannya potensi pariwisata kemudian pembangunan dilakukan, para investor datang menanamkan modal dengan membangun berbagai fasilitas bisnis pendukung pariwisata, sementara wisatawan mulai berdatangan ke sebuah destinasi yang sedang dibangun, namun perencanaan dan kontrol belum sepenuhnya berjalan dengan baik.

(2)   Phase Apathy ditandai dengan adanya perencanaan terhadap destinasi khususnya berhubungan dengan aspek pemasaran termasuk promosi pariwisata. Terjadinya hubungan antara penduduk local dengan penduduk luar dengan tujuan bisnis, sementara wisatawan yang datang berusaha menemukan keistimewaan yang dimiki oleh destinasi namun tidak menemukannya.

(3)   Phase berikutnya adalah Phase Annoyance dengan ditandai terjadinya kelesuan pada pengelolaan destinasi mulai terasa atau dapat dikatakan mendekati titik jenuh. Para pemegang kebijakan mencari solusi dengan meningkatkan pembangunan infrastruktur tanpa berusaha mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke destinasi sehingga kedatangan wisatawan dianggap sudah mengganggu masyarakat local.

(4)   Phase yang terakhir dalam analisis Index of Irriatation adalah Antagonism dimana masyarakat local merasa telah terjadi gesekan social secara terbuka akibat kehadiran para wisatawan dan wisatawan dianggap sebagai penyebab dari segala permasalahan yang terjadi pada sebuah destinasi. Perencanaan pada destinasi dilakukan dengan melakukan promosi untuk mengimbangi menurunnya citra destinasi.

Sedangkan Teknik yang umum dilakukan pada tahap awal pembangunan sebuah destinasi adalah [7]SWOT: Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats   sebuah analisis yang didasarkan pada evaluasi terhadap factor internal untuk melakukan identifikasi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh sebuah destinasi, kemudian analisis dilanjutkan pada evaluasi terhadap factor external untuk menentukan peluang dan ancaman yang mungkin terjadi saat ini dan saat yang akan datang. Dan sebuah Destinasi sudah berkembang, analisis SWOT dilakukan untuk merumuskan strategi baru khususnya yang berhubungan dengan strategi bersaing.

 

2.4.Tujuan dari penelitian ini adalah:

(1)   Melakukan [8]Analisis Irritation Index untuk mengidentifikasi adanya gesekan terhadap masyarakat lokal sebagai tuan rumah pada masing-masing kawasan.

(2)   Melakukan Analisis SWOT untuk menentukan kekuatan dan kelemahan setiap situs (Unesco World Heritage) dan menentukan peluang dan tantangan saat ini dan yang akan datang khususnya terhadap kelestarian situs.

(3)   Menentukan Perbedaan antara Situs yang terlisting di world heritage (The Tower of London) dan Situs non world heritage (Pura Tanah Lot, Bali).

 

  1. 3.     Metode Analisis

 

Data sekunder yang tersedia di sejumlah publikasi dan laporan penelitian, menjadi sumber data utama yang akan dianalisis. Sedangkan data dan informasi yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan 2 (dua) alat analisis yakni Irritation Index, dan SWOT. Hasil analisis selanjutnya dibandingkan dengan teori pendukung dan hasil penelitian sebelumnya yang memiliki kesamaan dan kemiripan serta analisis dibatasi pada framework kajian pariwisata budaya.

 

  1. 4.      Hasil Analisis dan Pembahasan

 

Pembahasan pada analisis ini menggunakan dua sampel situs yang terlisting di world heritage dan yang belum terlisting.  Sampel terlisting adalah The Tower of London berada di Inggris dan sampel non world heritage listing  di Indonesia yakni Pura Tanah Lot Tabanan Bali.

 

4.1.         The Tower of London di Inggris

 

The Massive White Tower adalah contoh arsitektur khas Militer Norman, yang pengaruhnya masih dirasakan di seluruh kerajaan Inggris. Kompleks tersebut  dirancang oleh William yang disebut Sang Penakluk untuk melindungi London dan menyatakan kekuasaannya. Tower of London  adalah sebuah benteng megah dengan penuh nilai sejarah, yang telah menjadi salah satu simbol kerajaan,  dibangun sekitar  white tower. Tower of London, didirikan oleh William Sang Penakluk pada tahun 1066, memiliki Nilai Universal  untuk menyatakan kualitas budaya.

Menara ini dulunya digunakan untuk melakukan kendali atas kota London dan sekitarnya, fungsi yang lainnya adalah sebagai pintu gerbang memasuki ibukota. Menara tersebut berlokasi strategis di sebuah tikungan di sebuah sungai yang telah menjadi titik demarkasi penting antara kekuatan Kota London, dan juga kekuatan monarki. Hal ini memiliki peran ganda memberikan perlindungan bagi Kota London melalui struktur pertahanan dan penyediaan logistik, dan juga mengontrol warga  kota.

[9]Gambar 1. Kompleks The Tower of London

Sumber: Tower of London World Heritage Site Management Plan. 2007

 

Tower of London  adalah contoh sebuah model benteng istana abad pertengahan yang berkembang sejak  abad 11 sampai dengan  abad 16. Setelahnya, ada penambahan dari Henry III dan Edward I, namun sangat inovatif sehingga membuat Menara menjadi salah satu yang paling inovatif dan menjadikan benteng berpengaruh di Eropa pada abad 14 dan awal 13 yang masih bertahan sampai saat ini.

 

Gambar 2. Perkunjungan di Kompleks Tower of London

Sumber: Observasi, 2006

 

Bangunan istana yang ditambahkan ke kanan kompleks kerajaan pada  abad ke-16, Kelangsungan hidup bangunan istana di Tower memungkinkan pengunjung membayangkan tentang  kehidupan seorang raja abad pertengahan di dalam tembok benteng mereka. Kelestarian komplek menara of London memberikan makna yang berarti bagi Negara Inggris dan beradaban dunia.

Tower of London menjadi begitu penting karena dapat menunjukkan peranan dari beberapa lembaga Negara dari masa lampau sampai abad ini. Di kompleks tersebut tersimpan catatan-catatan sejarah tentang lembaga pertahanan Negara, catatan mata uang yang pernah digunakan sejak abad 13. Dokumen-dokuneb resmi dan barang-barang yang memiliki nilai sejarah juga tersimpan di bagunan tersebut sehingga bagunan menara tersebut seperti lemari sejarah bagi Negara Inggris.

 

4.1.1. Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Tantangan

 

  1. 1.      Kekuatan dan Kelemahan

Menara “tower of London” memiliki karakteristik unik sehingga dapat memberikan peluang untuk dikembangkan di masa yang akan datang. Namun keunikan tersebut juga memiliki masalah-masalah yang cukup rumit yang dapat mempengaruhi kelestarian dan pengelolaan situs. Keunikan menara tersebut berpeluang mengundang pengunjung dalam jumlah besar yang dapat mengancam kelestarian keunikan tersebut jika pengelolaan tidak dapat berjalan dengan baik. Pengelolaan sebaiknya diarahkan untuk melakukan mitigasi agar menara tersebut dapat dikelola lebih lama sehingga dapat memberikan secara ekonomi, sosial, dan sejarah. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah semua pengunjung memiliki persepsi yang sama dengan pengelola situs?

Tower of London juga berlokasi sangat strategis di jantung kota London dan di dukung oleh beberapa hotel berkualitas di sekitarnya. Di sekita Situs tersebut juga tersedia berbagai cinderamata dan fasilitas rekreasi bagi warga kota dan juga bagi wisatawan mancanegara dengan harga yang cukup bersaing. Situs ini juga memilki aksesibiltas yang sangat mudah, dapat dijangkau oleh kendaraan umum, bus, kereta api bawah tanah, kendaraan pribadi, dan bahkan sangat mudah dijangkau oleh perahu (boat), kapal, karena sungai yang melintasi situs tersebut cukup luas dan dalam. Sebenarnya kemudahan akses menuju situs juga dapat menjadi kelemahan terhadap tujuan mitigasi atau kelestarian situs karena memiliki kecenderungan mengundang pengunjung yang lebih banyak serta bersifat massal.

Tower of London adalah Icon kota London dan manjadi tujuan wisata utama di Inggris baik bagi wisatawan domestic maupun mancanegara. Situs ini dikunjungi lebih dari satu juta pada setiap tahunnya.  Usaha pelestarian situ ini didukung oleh pendapatan yang diterima dari pengunjung dan juga dari sponsor  yang menaruh simpati terhadap kelestarian situs tersebut. Tower of London juga menjadi Icon promosi bagi Inggris dalam promosi pariwisata yang memikili nilai sejarah, social, dan politik pemersatu bagi kerajaan “monarchi” Inggris. Karena begitu menariknya situs tersebut, maka hal tersebut juga dapat menjadi kelemahan bagi pengelolaannya yang dapat menggiring kea rah komersialisasi yang lebih besar sehingga tujuan mitigasi akan terabaikan.

 

  1. 2.      Peluang dan Tantangan

Situs Tower of London juga menawarkan pemahaman tentang sejarah yang memiliki nilai pendidikan yang cukup penting. Situs tersebut mengajarkan makna perjuangan yang kuat sehingga pengunjung setelah mengunjungi situs tersebut, akan terinspirasi olehnya betapa pentingnya menghargai leluhur. Situs ini dikunjungi lebih dari 70.000 pelajar tiap tahunnya yang khusus ingin mendapatkan pendidikan tentang sejarah Inggris masa lalu. Kesempatan ini menjadi peluang yang sangat penting bagi pendidikan bahkan pemerintah inggris menuangkannya dalam kurikulum pendidikan sejarah untuk menjadikan Tower of London sebagai objek kajian utama pelajaran sejarah para pelajar. Di berbagai literatur, sejarah Inggris adalah sejarah imperalisme sejak masa revolusi industri di eropa, artinya nilai pendidikan sejarah yang terkandung dalam situs tersebut juga membawa pengaruh yang  cukup nyata terhadap kelestarian isme-isme imperalisme dan ego superioritas Inggris yang sudah tidak relevan lagi dengan masa kini dan itulah yang menjadi tantangan terbesar bagi situs tersebut dan gererasi saat ini.

 

4.1.2 Kepemilikan dan Pengelolaan Situs

 

Kepemilikan Komplek Tower of London adalah oleh satu organsasi yang khusus mengelola warisan budaya berupa komplek istana. Tujuan dari pengelolaan adalah untuk melakukan perawatan dan konservasi  dan situs ini memang diperuntukkan untuk konsumsi public.  Perencanaan tentang situs ini adalah melakukan integrasi dengan kegiatan istana yang khususnya berhubungan dengan bidang kurasi, konservasi, interpretasi, pendidikan, dan melibatkan masyarakat secara kolektif, dimana mereka bertanggungjawab untuk mewujudkan tujuan bersama yakni kelestarian situs.

Setiap tahun, Tower of London dikunjungi sekitar lebih dari dua juta wisatawan, dimana angka ini hampir menyamai angka kunjungan wisatawan ke Pulau Bali. Sangat sulit menentukan apakah situs tersebut telah menerapkan carrying capacity management atau belum, namun demikian dapatlah diperkirakan dengan kunjungan begitu banyaknya kemungkinan besar telah terjadi gangguan terhadap para penduduk disekitar kompleks karena pengelolaan telah memiliki perencanaan jangka panjang yang baik, maka konflik tidak kelihatan secara nyata pada kasus pengelolaan World Heritage Situs (WHS) The Tower of London. Kesimpulannya adalah pengelolaan World Heritage Situs (WHS) The Tower of London berada pada phase Apathy yang ditandai dengan adanya perencanaan terhadap destinasi khususnya berhubungan dengan aspek pemasaran termasuk promosi pariwisata.

 

4.2.         Pura Tanah Lot di  Desa Adat Beraban Kediri Tabanan Bali

 

4.2.1.  Pendahuluan         

 

Pura Tanah Lot terletak di Pantai Selatan Pulau Bali tepatnya di wilayah  Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Keberadaan Pura Tanah Lot pada mulanya berhubungan erat dengan perjalanan Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra di Pulau Bali. Pura Tanah Lot didirikan pada abad ke XV masehi oleh Danghyang Nirartha atau yang dikenal sebagai Empu Bawu Rawuh yang berasal dari Kerajaan Majapahit di pulau Jawa. Saat ini, Pura Tanah Lot merupakan daya tarik utama bagi obyek wisata Tanah Lot, selain itu pula Tanah Lot memiliki daya tarik matahari tenggelam (SunSet), dan Aktivitas upacara keagamaan pada hari-hari tertentu.

Gambar 2. Aktivitas Upacara pada Pura Tanah Lot

Sumber: http://www.balineseindonesia.blogspot.com

Sejak tanggal 1 Juli 2000 pengelolaan obyek wisata Tanah Lot ditangani oleh Desa Adat Beraban dengan membentuk Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot (BPOWTL). Distribusi hasil pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot, berdasarkan surat perjanjian No. 01/HK/2000 tentang kerjasama pengelolaan obyek wisata Tanah Lot yang ditandatangani oleh Nyoman Adiwiryatama selaku Bupati Tabanan, I Made Deka selaku Bendesa Adat Beraban, I Gusti Gede Aryadi selaku pihak CV. Ary Jasa Wisata. Persentase yang disepakati bersama adalah sebesar (55%) diserahkan kepada Pemda, CV. Ari Jasa Wisata memperoleh sebesar (15%), Desa Adat Beraban sebesar (20%), Pura Tanah Lot dan Pura sekitarnya memperoleh sebesar (5%) dan sisanya (5%) dibagikan kepada Desa-Desa Adat se-Kecamatan Kediri. Persentase ini disepakati (diberlakukan) sampai tahun 2011 (Desa Adat Beraban, 2010)

Retribusi dikenakan untuk setiap pengunjung adalah sebesar Rp. 5000 untuk anak-anak Lokal, dan sebesar Rp.7500 untuk Dewasa Lokal. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan satu tariff yaitu Rp. 10.000 baik untuk wisatawan anak-anak ataupun dewasa yang sudah termasuk asuransi. Retribusi parkir untuk kendaraan roda dua dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 2000 sedangkan kendaraan roda empat dikenakan biaya sebesar Rp.5000,  serta kendaraan roda enam sebesar Rp.10.000. Setiap pedagang yang memiliki kios dikenakan biaya sebesar Rp. 1.200/hari dan untuk pedagang yang hanya menggunakan lapak, dikenakan biaya Rp. 750/hari (Observasi, 2010)

 

4.2.2.      Kontribusi Objek Wisata Tanah Lot Terhadap Desa Adat Beraban

 

1)      Kontribusi terhadap Pendapatan Desa

Saat ini Obyek Wisata Tanah Lot memiliki peranan yang sangat penting dalam kontribusinya terhadap pendapatan Desa Adat Beraban. Kontribusi Obyek Wisata Tanah Lot untuk Desa Adat Beraban digunakan untuk pembangunan dan perawatan pura yang ada di Desa Beraban, sehingga dapat meringankan beban masyarakat dalam dalam melaksanakan upacara agama. Perincian sumber-sumber pendapatan Desa Adat Beraban dari sejak tahun 2005 sampai dengan 2009 dapat dilihat dalam table 1 berikut:

 


 

Tabel 1. Data Pendapatan Desa Adat Beraban Tahun 2005 – 2009

 

No

Sumber

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

1

Pendapatan Asli Desa  Pakraman

577.181.249

1.145.427.071

1.473.695.623

1.903.580.558

2.475.818.395

2

Pendapatan Punia + Lainnya

106.599.400

84.909.491

152.550.000

225.347.110

70.250.000

3

Bantuan Pemerintah Atasan

28.000.000

45.000.000

45.000.000

73.400.000

55.000.000

Jumlah

711.780.649

1.275.336.562

1.671.245.623

2.202.327.668

2.601.068.395

Sumber : Kantor Bendesa Beraban

 

Dari table 1 di atas, memperlihatkan pendapatan dari hasil pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot sebesar 20% merupakan Pendapatan Asli desa Pekraman Beraban dan merupakan komposisi terbesar pada beberapa sumber pendapatan desa adat Beraban.

Adapun Jumlah retribusi yang diperoleh obyek wisata Tanah Lot dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 disajikan dalam table 2. berikut:

 

Tabel 2. Hasil Pungutan Retribusi Obyek Wisata Tanah Lot Tahun 2005 – 2009

 

Keterangan

 TAHUN

 

2005

2006

2007

2008

2009

     Penghasilan Kotor

 4.387.139.700

 9.547.884.950

 12.143.674.400

 14.676.335.150

 17.333.327.100

Premi Asuransi

 442.554.300

 397.712.500

 495.389.700

 600.050.300

 714.068.600

Penghasilan Bersih

 3.944.585.400

 9.150.172.450

 11.648.284.700

 14.076.284.850

 16.619.258.500

Biaya Operasional

 1.479.920.000

 2.665.000.000

 3.939.075.153

 3.939.075.153

 4.082.528.507

Pendapatan Bersih

 2.464.665.400

 6.485.172.450

 7.709.209.547

 10.137.209.697

 12.536.729.993

Biaya Promosi/ Pengembangan (15%)  –

 972.775.868

 1.156.381.432

 1.520.581.455

 1.880.509.499

Pendapatan Bersih  –

 5.512.396.583

 6.552.828.115

 8.616.628.242

 10.656.220.494

Distibusi:      

 –

 –

Pemda Kabupaten Tabanan (55%)

 1.355.565.970

 3.031.818.120

 3.604.055.463

 4.739.145.533

 5.860.921.272

CV. Arya Jasa (15%)

 369.699.810

 826.859.487

 982.924.217

 1.292.494.236

 1.598.433.074

Desa Adat Beraban (20%)

 492.933.080

 1.102.479.317

 1.310.565.623

 1.723.325.648

 2.131.244.099

Desa-Desa Adat Se Kec. Kediri (5%)

 123.233.270

 275.619.829

 327.641.406

 430.831.412

 532.811.025

Pura Luhur Tanah Lot dan Sekitarnya (5%)

 123.233.270

 275.619.829

 327.641.406

 430.831.412

 532.811.025

Sumber : Badan Operasional Obyek Wisata Tanah Lot

 

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa setiap tahun pendapatan retribusi yang didapat oleh Obyek Wisata Tanah Lot dan yang akhirnya diterima oleh Desa Adat Beraban semakin meningkat dan retribusi dari Obyek Wisata Tanah Lot  merupakan kontribusi sumber pendapatan terbesar Desa Adat Beraban.

Analisisnya, jika dilihat dari konsepsi carrying capacity dengan asumsi tidak ada kenaikan harga tiket masuk dan retribusi lainnya, maka jika dibandingkan dengan terjadinya peningkatan pendapatan asli Desa Beraban, maka dapat diperkirakan bahwa pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot belum memperlihatkan adanya pengaturan jumlah pengunjung dan sangat dimungkinkkan pengelolaannya tanpa konsep carrying capacity.

 

2)      Kontribusi terhadap Penyerapan Tenaga Kerja

Tabel 3 dibawah, menunjukkan Jumlah penduduk Desa Beraban (Desa Dinas) sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 memperlihatkan adanya peningkatan yang sangat berarti pada tahun 2009, hal ini sangat dimungkinkan adanya kaum pendatang dari sekitas Pulau Bali atau kaum pendatang dari luar Bali untuk berusaha dan bekerja di sekitar Wilayah Desa Beraban.

Tabel 3. Jumlah Penduduk Desa Beraban Tahun 2005 – 2009

        No

Tahun

Jumlah

Keluarga

Laki

Perempuan

Jumlah

Perubahan (%)

1

2

3

4

5

2005

2006

2007

2008

2009

1.449

1.456

1.460

1.465

1.625

2.726

2.763

2.823

2.845

2.938

2.735

2.771

2.781

2.805

3.034

5.461

5.534

5.604

5.650

5.972

1,34

1,26

0.82

5.70

Sumber : BPS Kabupaten Tabanan

 

Pekerja badan operasional yang langsung diserap oleh obyek wisata Tanah Lot adalah sebanyak 167 orang. Jadi secara sederhana dapat disimpulkan bahwa obyek wisata Tanah Lot telah memberikan kontribusi terhadap penciptaan lapangan pekerjaan bagi Desa Beraban. Dan jumlah tenaga kerja yang diserap dari keseluruhan pedagang tetap dan pedagang tidak tetap adalah 645 orang. Dapat diketahui bahwa obyek wisata Tanah Lot secara langsung telah menyerap 812 orang tenaga kerja (Kantor Bendesa Beraban, 2010).  Sementara pedagang yang ada di Obyek Wisata Tanah Lot  sebanyak 528 pedagang (pedagang tetap dan pedagang tidak tetap). Persentase jumlah penduduk yang bekerja di sektor wiraswasta/pedagang adalah 24% dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 607 orang.

Analisisnya, keberadaan Obyek Wisata Tanah Lot telah mampu melibatkan sebagian besar penduduk Desa Beraban dalam pengelolaan Obyek Wisata baik secara langsung maupun tidak langsung.

 

3)      Kontribusi terhadap pembangunan fasilitas

Pengembangan objek Wisata Tanah Lot juga berdampak terhadap kondisi kepariwisataan di sekitar Obyek Wisata Tanah Lot itu sendiri. Oleh karena fenomena itu,  munculah beberapa hotel berbintang, villa, art shop, dan restoran di sekitar objek Wisata Tanah Lot yang tentunya berada pada wilayah Desa Adat Beraban. Berikut disajikan pertambahan  hotel, villa, pondok wisata, dan restoran yang ada di kawasan Desa Beraban dari tahun 2005 sampai dengan 2009.

 

Tabel 4. Data Jumlah Hotel, Villa, Pondok Wisata, Restoran dan Artshop di Desa Braban Tahun 2005-2009

 

No

Tahun

Jumlah

Hotel

Villa

Pondok Wisata

Restoran

Art Shop

1

2005

1

2

3

341

2

2006

1

4

3

341

3

2007

2

4

4

3

341

4

2008

3

4

4

4

341

5

2009

3

4

4

4

341

Sumber : Kantor Desa Beraban

 

Jumlah art shop sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 menunjukkan jumlah yang tetap karena letak art shop telah diatur dengan baik pada komplek tertentu dan diatur dalam bentuk lapak (stand). Sementara pembangunan restoran juga terkesan telah diatur dan dibatasi pembangunanannya. Begitu juga dengan pembangunan hotel dan villa juga telah diatur dengan baik oleh pemda dan penguasa desa di wilayah Desa Adat Beraban.

Analisisnya, berdasarkan data di atas, dapat diperkirakan bahwa pembangunan di Desa Beraban telah menerapkan tata wilayah dengan baik minimal dengan pembatasan jumlah fasilitas pendukung yang sangat mungkin berdampak pada lingkungan fisik dan social.

 

4.2.3.  Pragmatisme Pengelolaan dan Keberlanjutan

 

Paradoksi antara kepentingan ekonomi dan pelestarian heritage khususnya terhadap asset warisan budaya Pura Tanah Lot, benar-benat telah terjadi pada beberapa bulan terakhir dan menunjukkan intensitas ketegangan yang semakin meningkat.  Ketegangan berawal dari berakhirnya masa kontrak kerjasama pengelolaan Tanah Lot antara Pemerintah Kabupaten Tabanan, CV Ari Jasa Wisata, dan Desa Adat Beraban yang masa kontraknya berakhir pada 1 April 2011 (Bali Post, Juni 2011)

Sebagian besar warga Desa Adat beraban menginginkan pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot  ditangani oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan dan Warga Desa Adat Beraban saja, sementara Pemerintah Kabupaten Tabanan tetap menginginkan komposisi pengelolaan yang telah berjalan pada kontrak yang telah berakhir tetap berjalan untuk pengelolaan saat ini artinya tidak perlu ada perubahan, hanya dibuatkan kontrak baru saja.

Usulan Warga Desa Adat Beraban yang berada pada tim perjuangan warga Beraban adalah,  pengelolaan Tanah Lot hanya dikelola oleh Pemda dan warga Desa Adat Beraban. Dengan komposisi pembagian hasil masing-masing Pemkab 50 persen, sisanya 50 persen bagi Desa Pekraman Beraban. Khusus jatah Desa Beraban akan dibagi lagi dengan rincian, 70 persen Desa Pekraman Beraban dan pura Tanah Lot 30 persen. Jatah 70 persen bagi Desa Pakraman Beraban akan dibagi lagi ke sejumlah pura dan desa adat dengan komposisi, Desa Pekraman Beraban 80 persen, Pura Dangin Bingin 2,50 persen, Pura Bomo 1 persen dan Desa Adat se Kecamatan Kediri 16,5 persen. Sementara, jatah bagi Pura Tanah Lot 30 persen akan dibagi lagi ke 8 lokasi pura, seperti Pura Tanah Lot, Pura Pakendungan, Pura Batu Bolong, Pura Jro Kandang, Pura Penataran, Pura Enjung Galuh, Pura Batu Mejan dan Pura Hyang Api (Bali Post, Juni 2011).

Sementara, dari pihak Pemilik CV Ari Jasa Wisata, justru berpendapat lain, karena telah berjasa, harusnya tetap mendapat jatah dari Tanah Lot karena. CV Ari Jasa Wisata merasa telah berjasa dengan dipercayainya, pihaknya mendapat bantuan dari Duta Besar Jerman dan Pemprov Bali senilai Rp 81 juta untuk membangun wisata Tanah Lot. Setelah berjuang sendirian bertahun-tahun, Tanah Lot bisa dikenal dan mendulang pendapatan bersih hingga Rp 12 miliar per tahun (Bali Post, Juni 2011).

Analisisnya, pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot telah membangkitkan hasrat bisnis warga Desa Beraban dan telah menimbulkan rasa percaya diri bahwa mereka telah mampu untuk mengelola heritage tersebut secara mandiri tanpa campur tangan pihak swasta, sementara pihak swasta (CV Ary Jasa Wisata) yang memang sejak berdirinya sudah bermotifkan bisnis, cenderung ingin melanjutkan klaim keberhasilannya walaupun kontrak kerjasamanya telah berakhir. Implikasinya adalah, timbulnya gesekan dalam masyarakat yang mengarah pada munculnya egoism kelompok, termasuk juga egoism kelompok masyarakat Desa Adat Beraban.

Pragmatisme Warga Desa Beraban cenderung mengarah pada hal-hal yang berbau material semata, sementara pertimbangan atas kepentingan pelestarian Heritage serta Value atau nilai yang tersimpan Pura Tanah Lot tersebut masih sangat diragukan karena secara historis Pura Tanah Lot adalah milik Masyarakat Bali bukan milik masyarakat Desa Adat Beraban Saja.

 

4.2.4.  Posisi Permasalahan Obyek Wisata “Pura Tanah Lot” sebagai Heritage

 

Pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot telah berada pada phase Annoyance dengan ditandai terjadinya kelesuan pada pengelolaan destinasi, mulai terasa atau dapat dikatakan mendekati titik jenuh, bahkan dapat dikatakan telah mendekati batas atas carrying capacity. Pengelolaan Pura Tanah Lot sebagai Heritage telah mengalami perubahan atau komodifikasi fungsi yang berarti. Secara fisik keberadaan Pura Tanah Lot sebagai daya tarik wisata telah mampu menggerakkan pembangunan fisik Desa Berabad secara keseluruhan namun perubahan perilaku masyarakat yang diharapkan  sebagai conserver (Pelestari) telah berubah menjadi Consumer (pengkonsumsi) dalam hal ini, mereka mengkemas Pura Tanah Lot sebagai “komoditas” Obyek Wisata untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya. Aspek Pelestarian fisik telah berjalan dengan baik namun aspek pelestarian budaya beserta nilai yang terkandung pada Pura Tanah Lot sebagai heritage yang merupakan milik warga Bali telah disabotase oleh Masyarakat Desa Adat Beraban hanya dengan alasan ekonomi semata.

 

4.2.5 Kondisi Obyek Wisata Tanah Lot Saat ini.

1)      Kekuatan Obyek Wisata Tanah

 

Obyek Wisata Tanah memiliki kekuatan yang cukup berarti karena memiliki daya tarik sumber daya alam yang tidak pernah habis yakni pemandangan matahari tenggelam “SunSet”, pemandangan deburan ombak yang menawan, serta aktivitas upacara keagamaan yang secara loyal dilakukan oleh masyarakat Bali tetap berlangsung sampai saat ini.

Kekuatan lainnya, Obyek Wisata Tanah Lot telah memiliki pengelola yang cukup professional sehingga masih mampu memberikan kontribusi ekonomi bagi Desa Adat Beraban dan bagi Pemda Kabupaten Tabanan. Obyek Wisata Tanah Lot sebagai Heritage yang hidup, juga memiliki masyarakat sebagai penyokong dan pelestari Haritage Tanah Lot yang selama ini telah merasakan dampak positif keberadaan Heritage Tanah Lot.

 

2)      Kelemahan

 

Walaupun pengelola Obyek Wisata Tanah Lot telah memiliki profesionalime yang baik, namun sebenarnya pelestarian Obyek Wisata Tanah Lot belum memiliki perencanaan jangka panjang dan hal ini merupakan kelemahan bagi Obyek Wisata Tanah Lot. Pengelolaan Obyek wisata Tanah lot belum menerapkan konsep Carrying Capacity hal ini tercermin dari peningkatan pendapatan retribusi pengunjung (yang dihitung berdasarkan besaran jumlah pengunjung) dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.

 

 

3)      Peluang

 

Sebenarnya Peluang dengan popularitas yang dimiliki oleh Obyek Wisata Tanah adalah penciptaan usaha baru yang terkait dengan aktifitas wisata, pencitraan pariwisata bagi Kabupaten Tabanan. Kemungkinan pencitraan dan penciptaan usaha baru bagi masyarakat di sekitas obyek wisata (tidak hanya Desa Adat Beraban) akan dapat ditingkatkan sehingga kontribusi keberadaan Obyek Wisata Tanah dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.

 

4)      Tantangan

 

Pengelolan obyek Wisata Tanah Lot belum menerapkan manajemen Carrying Capacity sehingga gesekan sangat mungkin terjadi pada wisatawan terhadap wisatawan yang lainnya untuk memperebutkan tempat-tempat tertentu agar dapat menikmati atraksi utama dari Obyek Wisata Tanah Lot seperti pemandangan matahari tenggelam “sunset” (Observasi, 2011). Peningkatan jumlah pengunjung tanpa memperhitungkan daya dukung akan cenderung memicu terjadinya kerusakan bagi lingkungan di sekitar obyek dan mungkin juga bagi kerusakan  aspek fisik dan non fisik Heritage Tanah Lot.

 

  1. 5.     Simpulan dan Saran

 

Membandingkan kedua situs yang terdaftar di WHS atau world heritage Situs yakni The Tower of London dengan situs Pura Tanah lot Bali dapat memberikan informasi sebagai berikut: (1) kedua situs tersebut memiliki kekuatan yang hampir mirip yakni keduanya memiliki unsur keunikan, namun memiliki perbedaan tentang universalitas, dimana The Tower of London memiliki universalitas yang dapat diterima oleh kajian WHS-UNESCO sementara Pura Tanah Lot belum mampu menunjukkannya. (2) Keduanya dikunjungi wisatawan dalam jumlah besar sehingga keduanya memiliki ancaman terhadap usaha mitigasi atau konservasi baik konservasi  fisik maupun nilai yang terkandung dalam kedua situs tersebut. (3) Keduanya telah dikomodifikasi untuk tujuan publik bahkan telah memasuki babak komersialisasi yang cukup berarti, namun pada kasus situs Pura Tanah Lot telah menimbulkan konflik pengelolaan karena belum memiliki perencanaan jangka panjang namun situs The Tower of London belum menimbulkan konflik pengelolaan karena situs tersebut telah dikelola sacara nasional dan professional bahkan eksistensinya telah mendapat dukungan UNESCO-WHS. (4) Interpretasi terhadap situs The Tower of London telah diakui secara nasional sebagai situs wajib untuk kajian sejarah Inggris bagi para pelajar di sana, sementara Situs Pura Tanah Lot belum terintegrasi secara nasional.

Sepintas dapat dikemukakan, jika sebuah situs diusulkan menjadi WHS World Heritage List UNESCO sebaiknya dapat ditunjukkan unsur keunikannya, tentang daya dukung situs terhadap kemungkinan serbuan para pengunjung, kesiapan fasilitas pendukung situs, kesiapan penerimaan penduduk local serta segala keterlibatannya, pemaknaan situs secara universal, perencanaan pengelolaan dan tujuan mitigasi atau konservasi dari sebuah situs dalam jangka panjang.

 

Daftar Pusaka

 

Dharmayuda dan I Made Suasthawa. 2001. Desa Adat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Bali. Denpasar: Upada Sastra.

 

Dharmayudha, I Made Suasthawa dan I Wayan Koti Cantika.1991. Filsafat Adat    Bali. Denpasar: Upada Sastra.

 

Pamela S. Y. Ho ; Bob McKercher. (2010) Managing heritage resources as tourism products: School of Hotel and Tourism Management, The Hong Kong Polytechnic University, Hong Kong SAR, China

 

Paradise lost? Bali becoming a victim of its own success. (2011). Retrieve from http://www.smh.com.au/travel/travel-news/paradise-lost-bali-becoming-a-victim-of-its-own-success-20110210-1aocc.html

 

Pitana, I Gde, 1994b. Pariwisata, Budaya, dan Lembaga Tradisional. Apresiasi Kritis Terhadap Kepariwisataan Bali, Denpasar : The Works.

 

Pitana, I Gde, 1999. Pelangi Pariwisata Bali. Kajian Aspek Sosial Budaya Kepariwisataan Bali di Penghujung Abad, Denpasar: BP.

 

Pitana, I Gde. 1994a. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Denpasar: BP.

 

Pura Tanah Lot is considered as Dang Kahyangan -“One of the six main Bali temple, http://balineseindonesia.blogspot.com/2009/08/bali-travel-to-puratanah-lot-temple.html

 

Sapta Nirwandar (2011) Pembangunan Sektor Pariwisata: Di Era Otonomi Daerah, di unduh pada 21 Maret 2011 pada http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1

 

Shackley, M. (2001).Managing Sacred Sites.Continuum, London.

 

Tower of London World Heritage Site Management Plan. 2007. Historic Royal Palaces, Hampton Court Palace, Surrey

 

The World Heritage List. 2011. The World Heritage List includes 911 properties forming part of the cultural and natural heritage which the World Heritage Committee considers as having outstanding universal value. At http://whc.unesco.org/en/list on  May 2011

 

United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid

 

 


[1]Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid

[2] Poverty Alleviation

[3] Sustainable Development

[4] Culture Preservation

[5] Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia

[6] Index of Irritation: Euphoria, Apathy, annoyance, dan antagonism

[7] SWOT: Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats

[8] Irritation Index

[9] Tower of London  World Heritage Site Management Plan, Published by Historic Royal Palaces © Historic Royal Palaces 2007, Historic Royal Palaces, Hampton Court Palace, Surrey, KT8 9AU. June 2007

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Journal, Leisure, News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s