GLOBAL TOURISM: TREND, PERILAKU WISATAWAN USIA LANJUT DALAM MEMILIH AKTIVITAS WISATA

GLOBAL TOURISM: TREND, PERILAKU WISATAWAN USIA LANJUT DALAM MEMILIH AKTIVITAS WISATA

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

Mahasiswa Program S3 (Doktor) Pariwisata Universitas Udayana

Abstrak

Saat ini, dengan adanya perbaikan pendidikan, kesehatan, dan perbaikan pendapatan telah mendorong perubahan untuk lebih menyukai kegiatan bersenang-senang atau berwisata dibandingkan generasi sebelumnya. Fenomena pesatnya pertumbuhan penduduk usia lanjut telah dirasakan pada beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, bahkan merambah di kawasan Asia yakni di Jepang, Taiwan, dan Korea. Beberapa kaum usia lanjut tersebut bahkan berharap jika mereka pension, mereka akan melakukan perjalanan wisata ke luar negeri dalam kurun waktu yang cukup panjang.  Untuk dapat menangkap peluang pertumbuhan segmen pasar usia lanjut ini, diperlukan kreasi dan inovasi dalam mengelola bisnis dan kemasan produk yang sesuai dengan preferensi wisatawan usia lanjut, pengelolaan destinasi yang diarahkan ramah terhadap golongan usia lanjut dengan menyediakan infrastruktur dan fasilitas yang dapat dinikmati oleh wisatawan usia lanjut. Untuk melakukan kreasi dan inovasi yang tepat, maka sudah dianggap penting untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan perilaku wisatawan usia lanjut dalam memilih aktivitas wisata.

 

Keyword: usia lanjut, wisata, preferensi, wisatawan, perilaku, aktivitas

 

 

  1. 1.     Pendahuluan

Paket wisata usia lanjut mempunyai pasar cukup besar, hal itu terlihat dari 219,7 juta wisatawan nusantara (wisnus), yang mengadakan perjalanan sekitar 7%. Dilihat dari segi usia wisatawan yang beragam, pasar orang tua  atau senior market merupakan kelompok penting karena besarnya pasar dan potensialnya  untuk  berkembang.  Dengan  kemajuan  teknologi,  sistem kesehatan  dan  semakin  panjang  jangka  waktu  hidup  seseorang  secara langsung meningkatkan jumlah penduduk lanjut usia. Pada fase ini orang tua telah ditinggalkan oleh anak-anaknya untuk hidup mandiri. Kelompok usia ini dikenal dengan istilah DINK (Double Income No Kids). Waktu luang yang dimiliki sangat besar sehingga memungkinkan mereka untuk tinggal di suatu destinasi lebih lama.

Pada umumnya dengan sistem pensiun yang   baik  mereka   mapan   secara  finansial.   Untuk   mengantisipasi kecenderungan pasar di masa depan yaitu semakin banyaknya konsumen wisatawan  usia lanjut  yang  berlibur  di  Bali  maka  Pemerintah  Republik Indonesia sebenarnya telah menetapkan  suatu  kebijakan    bagi  wisatawan  lanjut  usia  yaitu  dengan mengijinkan wisatawan usia lanjut untuk tinggal lebih lama di Indonesia. Kelompok wisatawan ini dijinkan untuk tinggal di Indonesia selama  satu tahun. Kebijakan tersebut telah dituangkan dalam SK Menteri Kehakiman No.M-04-12.01.02/1998.   Surat   keputusan   ini   dibuat   berdasarkan Keputusan Presiden /Keppres No. 31/1998. SK Menteri Kehakiman di atas kemudian ditindaklanjuti dengan keluarnya Ketetapan Dirjen Imigrasi No. F.256-12.02/2000. Ketetapan ini menyatakan bahwa wisatawan usia lanjut dapat diberikan Temporary Visa sebagai penduduk sementara selama  satu tahun dan dapat diperpanjang sampai lima tahun. Artinya saat ini, pemerintah telah memberikan beberapa kemudahan bagi wisatawam usia lanjut untuk berwisata di Indonesia termasuk juga ke Bali sehingga dengan kemudahan ini, beberapa tahun ke depan kedatangan wisatawan usia lanjut dari mancanegara dan wisatawan domestik untuk melakukan perjalanan wisata akan meningkat. Seiring dengan pemberian kemudahan dan potensi kedatangan wisatawan usia lanjut tersebut, perlu dilakukan kajian untuk menggali lebih dalam tentang perilaku wisatawan usia lanjut khususnya yang berhubungan perilaku mereka yang akan berimplikasi pada aktivitas wisata.

2.      Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode desk research dengan teknik penelusuran data dan informasi secara online, sumber data sekunder, dan sumber publikasi ilmiah lainnya. Sementara teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif, analogi, dan komparasi beberapa hasil penelitian dan publikasi ilmiah lainnya yang terkait dengan permasalahan wisatawan usia lanjut.

 

  1. 3.      Hasil Penelitian dan Pembahasan

3.1.Wisatawan Usia Lanjut

Menurut Foret dan Keller, (1992:2 dalam Patterson, 2006), harapan hidup manusia saat ini semakin panjang tercatat sejak abad 20 khususnya masyarakat pada negara-negara maju, sebagai contohnya harapan hidup di Inggris meningkat  22 tahun untuk laki-laki dan 23,5 tahun untuk perempuan bagi mereka yang lahir antara tahun 1910 sampai dengan 1992. Harapan hidup juga meningkat di beberapa negara lainnya seperti di Jepang harapan hidup manusia menjadi 79,5 tahun, di Swedia harapan hidupnya 78,1 tahun, di negara-negara Eropa harapan hidup menjadi 76,7 tahun, dan di Amerika Utara harapan hidup menjadi 76,2 tahun (Smith dan Jenner, 1997:47)

Badan dunia PBB mencatat dan memperkirakan bahwa generasi usia lanjut mengalami peningkatan yang berarti dan diperkirakan ada dua milyar manusia di dunia ini akan berumur 60 atau lebih pada tahun 2050. Angka tersebut adalah 22% dari total penduduk dunia, dan angka ini  diperkuat oleh catatan kependuduka Eropa, Jepang dan Cina (United Nations, 2000). Sementara MacNeil (1991) mengatakan bahwa angka tersebut adalah kejutan bagi orang-orang Amerika yang lahir antara tahun 1946 sampai dengan 1964. Bagi orang Australia diperkirakan akan terjadi peningkatan usia lanjut yang lebih besar yakni antara 24% hingga 26% orang Australia yang berada golongan usia lanjut pada tahun 2051 (BPS Australia, 1999)

Pada tahun 1999 telah dideklarasikan sebagai tahun usia lanjut internasional, dan deklarasi ini didukung oleh badan dunia PBB dengan mengadakan konferensi tentang isu dan masalah yang mungkin akan dihadapi oleh para manusia usia lanjut, isu dan permasalahan tersebut berhubungan dengan, pengasingan golongan usia lanjut, kesehatan, pelayanan gizi dan nutrisi, kurangnya perhatian anggota keluarga lainnya terhadap golongan usia lanjut ini (Foret and Keller, 1993). Sementara (Veal and Lynch, 2001) mengatakan bahwa, terjadinya peningkatan angka harapan hidup manusia lebih disebabkan oleh faktor semakin membaiknya sarana kesehatan dan kedokteran, perbaikan kesehatan diri dan lingkungan.

Penelitian yang dilakukan oleh (Ing, 1993) menemukan bahwa pilihan berwisata bagi golongan usia lanjut, dimana faktor usia ini dihubungkan dengan pemilihan paket wisata dan pada penelitian ini ditemukan bahwa wisatawan usia lanjut lebih menyukai tujuan wisata ke daerah pedesaan atau countryside, dan dikatakan bahwa industri pariwisata jangan sampai mengabaikan potensi wisatawan usia lanjut ini di masa yang akan datang karena dari tahun ke tahun jumlah penduduk usia lanjut semakin meningkat yang berarti akan terjadi peningkatan pada segmen pasar ini di masa yang akan datang.

 

3.2. Pemilihan Aktivitas Leisure Wisatawan Usia Lanjut

Hasil penelitian menemukan bahwa penduduk usia lanjut lebih banyak memiliki waktu luang untuk melakukan aktivitas leisure di sekitar rumahnya dan mereka biasanya melakukan aktivitas yang berhubungan dengan passive leisure (Lawton, 1993). Aktivitas leisure yang sering dilakukan adalah menonton televisi dan mendengarkan radio dan aktivitas ini paling popular diantara penduduk golongan usia lanjut. Sementara aktivitas yang berhubungan dengan olahraga program latihan jasmani lebih jarang dilakukan (Amstrong dan Morgan, 1998).  Sementara hasil penelitian lainnya menemukan bahwa telah terjadi perubahan pilihan aktivitas leisure pada golongan usia lanjut dimana mereka lebih cenderung menghabiskan waktu untuk kegiatan leisure yang bersifat individu, ingin merasakan kebebasan, dan bahkan memilih kegiatan yang beresiko sepanjang mereka dapat lakukan (MacNeil dan Teague, 1987; Leitner
dan Leitner, 1996;  McGuire et al., 2004)

Cohen (2000) memberikan alternative agar pelaku pariwisata lebih kreatif membuat paket-paket wisata yang berhubungan dengan usia lanjut, dan menyarankan untuk lebih melihat factor inner dari manusia usia lanjut khususnya kegiatan yang bersifat pengisi waktu luang. Dicontohkan kegiatan-kegiatan leisure yang bisa ditawarkan adalah kegiatan yang berhubungan dengan hobby, seni dan kerajinan, pertemanan “relationship”, penggalian potensi diri, dan kegiatan sosial yang bersifat volunteer.

Stebbins (1982, 1992, 1998) mencatat bahwa beberapa wisatawan usia lanjut lebih puas melakukan kegiatan yang berhubungan dengan hobby, pekerjaan volunteer, melakukan kegiatan untuk menyibukkan diri, dan mencari teman-teman baru diantara sesama usia lanjut. Sementara Kelly (1992) mengatakan bahwa, golongan  usia lanjut melakukan aktivitas yang dipusatkan pada keluarga dan biasanya mengambil tempat di sekitar rumah mereka. Kegiatan tersebut termasuk kegiatan shopping, berkebun, berjalan santai, menonton televise, melakukan sosialisasi bersama teman-teman dan keluarga mereka, dan membaca (Kelly and Kelly, 1994). Wei dan Milman (2002), aktivitas paling popular yang dilakukan oleh wisatawan usia lanjut pada saat mereka melakukan perjalanan wisata dan berkeliling kota (89,3%), mengunjungi tempat-tempat bersejarah (88,1%), makan-makan di restoran (85,7%), dan shopping (77,4%). Sementara kegiatan yang kurang diminati adalah berburu dan memancing (1,2%), olahraga air dan berjemur di pantai (1,2%), kamping dan mendaki (3,6%). Lebih lanjut ditemukan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara keterlibatan wisatawan usia lanjut pilihan jenis aktivitas leisure.

 

Tabel 1. Jenis Aktivitas Leisue di Kalangan Usia Lanjut

Passive Active Un-interested Activities
  • Nonton Televisi
  • Mendengar Radio
  • Kegiatan Sosial
  • Kegiatan yang berhubungan dengan Hobby
  • Penyaluran bakat yang berhubungan dengan kerajinan
  • Penyaluran bakat yang berhubungan dengan seni.
  • Shopping, berbelanja di mall, atau supermarket.
  • City Tour, berkeliling kota.
  • Mengunjungi tempat bersejarah, meseum, heritage
  • Makan-makan di Restoran
 
  • Berburu di alam liar
  • Memancing
  • Mendaki gunung
  • Kamping
  • Tracking
  • Berselancar air
  • Berjemur di Pantai

Sumber: Data Sekunder (diolah)

Berdasarkan paparan hasil penelitian di atas, menurut Milman (2002) pemasaran paket wisata yang berhubungan dengan wisatawan usia lanjut sebaiknya jenis dan kegiatan leisure atau wisata bisa difokuskan pada kegiatan yang lebih disukai oleh golongan usia lanjut di atas.

 

3.3.Teori Terkait

Pada bagian ini akan dijelaskan beberapa teori yang mendukung dan mendapat perhatian dalam penelitian ini. Teori-teori ini dikumpulkan dari bermacam-macam sumber, dan disusun menjadi sebuah bangunan teori yang akan menjadi tumpuan analisis dalam penelitian ini.

3.3.1.      Definisi Leisure

[1]Menurut Cross (1990), leisure dipelajari pertama kali di Amerika Utara pada pertengahan abad 19, sebagai usaha untuk melakukan usaha rasionalisasi rekreasi yang ditujukan meningkatkan kualitas hidup bagi kaum pekerja pendatang.  Program rekreasi pada awalnya di pelopori oleh orang-orang pemeluk Kristen, kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas sosail seperti rekeasi outdoor dan kamping, olahraga massal, dan mengajak anak-anak bermain. Kegiatan-kegiatan rekreasi sering dilakukan di taman kota dan pada lapangan terbuka, dan juga sering di lakukan pada fasilitas olahraga dan tempat rekreasi yang telah tersedia yang biasanya dilakukan pada waktu-waktu luang. Kegiatan lainnya yang sering dilakukan seperti permainan anak-anak muda untuk penyaluran keinginannya, minum-minum, dan juga judi. Leisure juga berhubungan kebebasan diri, kreativitas dan kebebasan diri yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan dan merupakan hal penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Pengertian lain tentang leisure menurut Jackson dan Burton (1999) adalah sebagai berikut: (1)Free time: leisure adalah waktu yang terbebas, terbebas dari beban kerja, terbebas dari kewajiban, dan terbebas dari segala kegiatan yang tidak menyenangkan. (2)Unobligatory: Leisure juga dikaitkan bahwa aktivitas yang dilakukan bukan karma keharusan yang harus dikerjakan. Jika dikerjakan akan mendapatkan kesenangan dan jika tidak dikerjakan juga tidak apa-apa. (3)Celebration: Leisure bukanlah sebuah perayaan, atau kegiatan yang dipenuhi ketegangan, tidak ada liturgi yang mengaturnya, tidak ada MC yang memandunya atau sejenis kegiatan protokoler lainnya. (4)No monetary gain: leisure juga kegiatan yang tidak berhubungan dengan mencari namkah atau bekerja untuk mendapat uang atau imbalan jasa. (5)Ideal state of mind: Leisure adalah pencarian sebuah ketenangan pikiran dan kedamaian. (6)Activity: Leisure juga merupakan sebuah aktivitas atau sebuah kegiatan baik fisik ataupun mental. (7)Experience: Leisure juga merupakan sebuah aktivitas untuk pencarian atau ekspedisi tempat-tempat yang menyenangkan. (8)Perceived freedom: leisure adalah sebuah kebebasan. (9)Enjoyable: Leisure adalah segala kegiatan untuk pemenuhan kesenangan. (10)Timeless: Leisure adalah waktu yang tersisa, waktu luang diluar jam kerja, tidak ada istilah terlambat atau terlalu awal seperti pada orang-orang yang sedang masuk kerja.

Sementara aktivitas leisure dapat dilakukan dalam bentuk (1)Active leisure: adalah aktivitas yang memerlukan energi fisik atau energi mental. Jalan santai dan yoga adalah sebuah dari aktivitas aktif leisure yang memerlukan sedikit eneergi. Sedangkan aktif leisure yang memerlukan banyak energi seperti misalnya sepakbola, kick-boxing. Kadang-kadang aktif leisure juga sering dikaitkan dengan kegiatan rekreasi; indoor maupun outdoor. (2)Passive Leisure adalah aktivitas yang tidak memerlukan energi fisik atau energi mental yang berarti seperti menonton film di sebuah bioskop, menonton televise, main game computer adalah sebuah contoh dari passive leisure (Jackson dan Burton, 1999)

3.3.2.      Definisi Pariwisata

Pengertian pariwisata menurut (bukart dan medlik, 1990; Soekadijo 1997) menyatakan bahwa: pariwisata adalah perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan–tujuan di luar tempat dimana mereka biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan–kegiatan mereka selama tinggal di tempat–tempat tujuan itu.

Menurut Wahab (1995, dalam Pitana, 2005), pariwisata didifinisikan sebagai aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar, yang mendapat pelayanan secara bergantian diantara orang–orang dalam suatu negara itu sendiri, meliputi tempat tinggal orang–orang dari daerah lain untuk sementara mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialami dimana ia memperoleh pekerjaan tetap.

Menurut Suwantoro (1997), memberikan pengertian pariwisata sebagai  suatu proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar tempat tinggalnya. Dorongan kepergiannya adalah karena berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain seperti seperti sekedar ingin tahu, menambah pengalaman atau pun untuk belajar.

Menurut Freuler dalam (Pendit, 1994), merumuskan pariwisata ini sebagai berikut: pariwisata dalam arti modern adalah merupakan gejala jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar terhadap keindahan alam, kesenangan dan kenikmatan alam semesta, dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas dalam masyarakat manusia sebagai hasil perkembangan perniagaan, industri dan perdagangan serta penyempurnaan alat–alat pengangkutan.

Dari beberapa pendapat di atas, maka pariwisata dapat katakan suatu kegiatan atau aktivitas untuk sementara waktu dalam rangka menambah wawasan bidang sosial kemasyarakatan, sistem perilaku dari manusia itu sendiri dengan berbagai dorongan kepentingan sesuai dengan budaya yang berbeda–beda yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha yang terkait di bidang tersebut.

3.3.3.      Definisi Wisatawan

Wisatawan adalah orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungannya itu. (Spillane, 1993). Sedangkan UU RI Nomor 9 tahun 1990 dalam Yoeti (1997), mendifinisikan wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata. Pada kontek penelitian ini, bukan definisi yang harus diperdebatkan tetapi ingin dicari apa hubungannya dengan konsep penelitian yang akan dilakukan.

Aspek sosiologis wisatawan justru akan menjadi bahasan yang penting karena pada penelitian ini akan meneliti persepsi wisatawan terhadap suatu objek wisata dalam konteks sosiologis wisatawan perubahan persepsi serta motivasi wisatawan dalam melakukakan perjalanan wisata terus menerus mengalami perubahan.

Menurut Plog, 1972 dalam Pitana (2005), menjelaskan konsep sosiologi tentang wisatawan menjadi sangat penting, kemudian Plog mengelompokkan tipologi wisatawan sebagai berikut:

  1. Allocentris, yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum diketahui, bersifat petualangan, dan mau memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat local.
  2. Psycocentris, yaitu wisatawan yang hanya ingin mengunjungi daerah tujuan wisata sudah mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan di negaranya.
  3. Mid-Centris, yaitu terletak diantara tipologi Allocentris dan Psycocentris

Menurut Pitana (2005), tipologi wisatawan perlu diketahui untuk tujuan perencanaan, termasuk dalam pengembangan kepariwisataan, tipologi yang lebih sesuai adalah tipologi berdasarkan atas kebutuhan riil wisatawan sehingga pengelola dalam melakukan pengembangan objek wisata sesuai dengan segmentasi wisatawan. Pada umumnya kelompok wisatawan yang datang ke Indonesia terdiri dari kelompok wisatawan psikosentris (Psycocentris). Kelompok ini sangat peka pada keadaan yang dipandang tidak aman dan sangsi akan keselamatan dirinya, sehingga wisatawan tersebut enggan datang atau membatalkan kunjungannya yang sudah dijadualkan (Darsoprayitno, 2001)

3.3.4.      Definisi Wisatawan Usia Lanjut

Definisi tentang usia lanjut memang masih menjadi perdebatan dari beberapa kalangan di masyarakan, khususnya yang berhubungan dengan umur seseorang yang disebut usia lanjut namun pada penelitian ini, akan diambil dua definisi usia lanjut yakni senior older adults.

[2]Menurut Muller and O’Cass, 2001, Shoemaker, (1989), yang tergolong golongan senior adalah mereka yang telah mencapai umur 65 tahun atau lebih. Lebih lanjut dikatakan bahwa kelompok umur ini adalah target pasar pariwisata yang penting sejak awal tahun 1990. Kelompok ini dianggap memiliki segalanya, mereka memiliki umur yang matang, uang, dan kematangan diri, bahkan banyak diantara kaum senior ini merasakan  diri lebih muda daripada umur mereka.

Dalam konsep pemasaran, kelompok kaum senior adalah target penting sehingga dianggap perlu untuk melakukan penelitian lebih mendalam tentang sikap diri kaum senior, interest dan jenis aktivitas, kecenderungan mereka dalam berpartisipasi dalam kegiatan leisure, rekreasi, dan wisata. Pada beberapa hasil penelitian, kaum senior ini masih memiliki kemampuan fisik untuk melakukan perjalanan wisata dan berpartisipasi pada kegiatan yang ditawarkan oleh para pelaku pariwisata.

[3]Definisi tentang older adults atau dalam istilah Indonesia sering disebut usia lanjut (usila) adalah istilah yang cukup baru. Orang-orang yang tergolong pada older adults atau usila ini berumur 65 tahun atau lebih dan istilah ini popular di negara-negara maju yang biasanya diarahkan untuk merujuk para pensiunan. Menurut Gillon, (2004) golongan usia lebih popular dengan istilah baby boomers, sementara (Shoe-maker , 1989 dan Lazar, 1985) menyebut bahwa  golongan usia ini disebut juga the senior market, young sengies, atau mature market, the grey market, young senior generation dan woopies atau well-off older people.

3.3.5.      Faktor-faktor Pendorong dan Penarik Berwisata

Faktor-faktor  pendorong dan penarik untuk melakukan aktivitas leisure atau berwisata sangatlah penting untuk diketahui oleh siapapun yang berkecimpung dalam industri pariwisata (Pitana, 2005)

Dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin melakukan perjalanan wisata, tetapi belum jelas mana daerah yang akan dituju. Berbagai faktor pendorong seseorang melakukan perjalanan wisata menurut Ryan, (1991) dalam Pitana (2005), menjelaskan sebagai berikut:

1)      Escape: aktivitas escape disebabkan keinginan melepaskan diri dari lingkungan yang dirasakan menjemukan, atau kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari.

2)      Relaxtion: keinginan untuk melakukan penyegaran, yang juga berhubungan dengan motivasi untuk escape di atas.

3)      Play: keinginan menikmati kegembiraan, melalui berbagai permainan, yang merupakan kemunculan kembali sifat kekanak-kanakan, dan melepaskan diri sejenak dari berbagai urusan yang serius.

4)      Strengthening family bond: keinginan untuk mempererat hubungan kekerabatan, khususnya dalam konteks (visiting, friends and relatives). Biasanya wisata ini dilakukan bersama-sama (Group tour)

5)      Prestige: keinginan menunjukkan gengsi, dengan mengunjungi destinasi yang menunjukkan kelas dan gaya hidup, yang juga merupakan dorongan untuk meningkatkan status atau Social Standing.

6)      Social interaction: keinginan untuk melakukan interaksi sosial dengan teman sejawat, atau dengan masyarakat lokal yang dikunjungi.

7)      Romance: keinginan untuk bertemu dengan orang-orang yang bisa memberikan suasana romantis atau untuk memenuhi kebutuhan seksual.

8)      Educational opportunity: keinginan untuk melihat suatu yang baru, memperlajari orang lain dan/atau daerah lain atau mengetahui kebudayaan etnis lain. Ini merupakan pendorong dominan dalam pariwisata.

9)      Self-fulfilment: keinginan untuk menemukan diri sendiri, karena diri sendiri biasanya bisa ditemukan pada saat kita menemukan daerah atau orang yang baru.

10)  Wish-fulfilment: keinginan untuk merealisasikan mimpi-mimpi, yang lama dicita-citakan, sampai mengorbankan diri dalam bentuk penghematan, agar bisa melakukan perjalanan. Hal ini juga sangat jelas dalam perjalanan wisata religius, sebagai bagian dari keinginan atau dorongan yang kuat dari dalam diri.

 

3.3.6.      Motivasi Berwisata

Menurut (Sharpley, 1994 dan Wahab, 1975; Pitana, 2005) menekankan bahwa: Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan  pariwisata, karena motivasi merupakan “Trigger” dari proses perjalanan wisata, walau motivasi ini acapkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri.

Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal, motivasi-motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar sebagai berikut: (1) Physical or physiological motivation yaitu motivasi yang bersifat fisik atau fisologis, antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai dan sebagainya. (2) Cultural Motivation yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan akan berbagai objek tinggalan budaya. (3) Social or interpersonal motivation yaitu motivasi yang bersifat sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi (Prestice), melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang membosankan dan seterusnya. (4) Fantasy Motivation yaitu adanya motivasi bahwa di daerah lain sesorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan dan yang memberikan kepuasan psikologis (McIntosh, 1977 dan Murphy, 1985; Pitana, 2005).

 

3.4. Faktor Penghambat Usia Lanjut untuk Melakukan Wisata

Menurut penelitian yang dilakukan oleh (McGuire, 1984; Blazey, 1986) menyimpulkan ada beberapa factor yang dapat menghambat kaum usia lanjut tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan wisata dan kegiatan leisure.  Factor penghalang tersebut adalah tidak ada waktu luang untuk melakukan perjalanan wisata, sumber keuangan yang tidak mencukupi, buruknya kondisi kesehatan kaum usia lanjut, terlalu tua bahkan ada yang sangat tergantung hidupnya dari anggota keluarga lainnya, dan disimpulkan bahwa keinginan berwisata kaum usia lanjut lebih rendah dari kaum muda.

[4]Sementara McGuire (1984) mengidentifikasikan lima hal mendasar yang menyebabkan kaum usia lanjut tidak dapat melakukan kegiatan wisata lebih jarang disbanding kaum yang lebih muda. Alasannya adalah (1)kurangnya informasi, terlalu banyak rencana, kurangnya dana, kurangnya pakaian dan perlengkapan wisata; (2)factor waktu, tidak ada waktu luang, masih bekerja, terlalu sibuk mengerjakan banyak hal, (3) tidak mendapat ijin keluarga dan teman-teman dekat, takut membuat kesalahan pada destinasi; (4)factor social, tidak ada yang menemani, tidak suka keluar daerah; (5)factor fisik, kondisi badan lemah, sakit-sakitan, kuatir tentang transportasi, terlalu tua atau tidak mampu lagi bepergian jauh.

Sedangkan Shoemaker (2000) melakukan penelitian tentang factor penghambat kaum usia lanjut untuk melakukan wisata, dia menggunakan 234 responden yang berumur antara 55 tahun atau lebih yang tinggal di  Pennsylvania, USA , hasil penelitian tersebut ditampilkan pada Table 2,  ternyata factor penghambat terbesar karena alasan keuangan (48,3%), alasan kesehatan (43,3%), dan alasan tidak ada yang menemani (41,7%). Hasil penelitian ini tentu saja akan banyak berubah jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, dimana kondisi di atas adalah kondisi 10 tahun yang lalu dan yang menjadi responden tentu saja generasi usia lanjut yang terlahir 65 tahun yang lalu, di mana kondisi kesehatan pada era tersebut tidak lebih maju jika dibandingkan kondisi saat ini, walaupun demikian, factor-faktor penghambat tersebut sangat penting untuk diketahui khususnya bagi para pemasar produk wisata.

 

 

Tabel 2. Faktor Penghambat untuk Melakukan Aktivitas Leisure atau Wisata.

 

Penghambat

Traveller (%)

(Berwisata)

Non-Traveller (%)

(Tidak Berwisata)

  • Tidak ada waktu

7

11

  • Sulitnya Pemesanan/reservasi

2,3

2,7

  • Umur/terlalu tua

5,1

20

  • Jaga Rumah

6,1

28,6

  • Lemah Fisik

7,9

37,9

  • Tidak ada yang menemani

17,2

41,7

  • Kesehatan

14,9

43,3

  • Kurangnya Informasi tentang tujuan liburan

11,6

7,4

  • Cari Waktu tepat

27,2

18,5

  • Masih bekerja

32,3

28,6

  • Keuangan

32,7

48,3

Sumber: Shoemaker, ( 2000: 18)

Masalah keamanan juga menjadi faktor penghambat yang cukup berarti bagi kaum usia lanjut. Sehingga para pemasar paket wisata harus memperhatikan dan menambahkan adanya jaminan keamanan yang lebih pasti bagi wisatawan usia lanjut dalam melakukan perjalanan wisata (Penalta and Uysal, 1992).

3.5. Trend Wisatawan Usia Lanjut Internasional

Pertumbuhan wisatawan usia lanjut pada segmen pasar pariwisata dari tahun ke tahun senantiasi mengalami peningkatan yang signifikan pada abad 21 ini. WTO (2001) memperkirakan pada tahun 2015 peningkatan wisatawan usia lanjut secara international akan mencapai 2 milyar orang. Pertumbuhan wisatawan usia lanjut secara nyata berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia karena di ketiga Negara tersebut mengalami peningkatan kelompok ‘baby boomer’ atau para pensiunan.

“The USA senior market is regarded as the fastest-growing segment of  travel demand. People who are older than 55 represent 41% of the total population and account for 28% of all overseas trips. Canadians have a higher propensity to travel than Americans and spend twice as much per  capita on foreign travel. It has been estimated that 25% of Canadian visitors are older than 55 years, of which 800,000 travelled overseas in 2000. In Japan, 12 million people are older than 65, and it has been estimated that 7.6% of Japanese who travelled overseas in 1990 were older than 60 years” (Clench, 1993).

[5]Di Amerika Serikat, pertumbuhan wisatawan usia lanjut mengalami perningkatan tertinggi dimana umur 55 tahun mencapai 41% dari total penduduk Amerika Serikat, dari 41% tersebut, 28% mereka berwisata ke luar negeri. Orang-orang Kanada lebih suka menghabiskan uangnya untuk dan mereka yang berumur 55 tahun ke atas melakukan perjalanan ke luar negeri sebesar 25% dari total penduduk Kanada pada tahun 2000. Sementara di Jepang, 12 juta orang yang berumur 65 tahun ke atas diperkirakan melakukan perjalanan ke luar negeri sebesar 7,6% pada tahun 1990 (Clench, 1993).

[6]Wisatawan Usia Lanjut di Amerika Serikat: segmen wisatawan usia lanjut yakni mereka yang telah mencapai 65 tahun ke atas di Amerika Serikat adalah segmen wisatawan usia lanjut yang mengalami bertumbuhan tercepat dan diperkirakan akan mencapai 76% dari kaum usia lanjut tersebut melakukan aktivitas wisata paling tidak mereka suka melakukan kegiatan sunbathing dan berenang, menyewa hotel, shopping, hiburan malam, dan bersantai di taman kota.

Wisatawan Usia Lanjut di Kanada: orang-orang usia lanjut di Kanada terbagi menjadi dua group yang berbeda yakni kelompok umur 55-64 tahun, dan usia lanjut yang berumur lebih dari 65 tahun. Kaum usia lanjut Kanada lebih menyukai kegiatan mengunjungi taman nasional atau taman kota, berbelanja dan menginap di hotel, dan hanya sebagaian kecil dari mereka menyukai aktivitas hiburan malam.

Sementara Wisatawan Usia lanjut di Australia pada tahun 2002 diperkirakan mencapai 22% dari total wisatawan domestic di Australia dan diperkirakan membelanjakan uangnya $895 juta dolar pertahun dan mereka biasanya menginap dan berlibur hingga 5,5 hari. Hanya 9% dari wisatawan usia lanjut Australia yang memilih kegiatan mengunjungi taman nasional atau kamping dan menghabiskan liburan hingga 8,5 malam. Ditemukan juga, wisatawan usia lanjut Australia lebih menyukai mengunjungi daerah yang masih alami atau langka yang masih memiliki arti sejarah. Dari sekian kegiatan tersebut, hampir semua mengharapkan rasa aman, mendapatkan mengalaman baru, lingkungan yang baru, melakukan perjalanan bersama keluarga. Secara keseluruhan kaum usia lanjut di Australia menghabiskan 4 juta  dolar jika mereka berwisata ke luar negeri dan rata-rata pengeluaran perhari mencapai $6100 pada setiap liburannya. Angka tersebut lebih tinggi 21% jika dibandingkan kaum muda yang melakukan perjalanan ke luar negeri yang hanya $5024, dan kaum usia lanjut ini berlibur lebih lama yakni 25 hari, sedangkan kaum muda hanya 22 hari.

Wisata Usia Lanjut di Eropa: di Eropa Utara jumlah kaum usia lanjut 65 tahun ke atas mengalami peningkatan 16,2% jika dibandingkan tahun 1960. Untuk Eropa segmen pariwisatanya mengalami penurunan pada setiap tahunnya. Namun untuk wisatawn usia lanjut Jerman dan Inggris merupakan pasar wisatawan domestic dan internasional terbesar, sementara wisatawan usia lanjut di kawasan Skandinavia dan Spanyol memperlihatkan keinginan berwisata yang paling tinggi dibandingkan wisatawan senior lainnya di kawasan Eropa.  Sedangkan di Inggris jumlah penduduk yang berada pada kelompok usia lanjut antara 55 hingga 59 tahun mencapat 31% pada tahun 2005. Dari 31% kaum usia lanjut tersebut, 17,4% hnga 18,1% melakukan perjalanan wisata ke luar negeri. Dan sebagian besar kaum usia lanjut tersebut lebih peduli pada permasalahan keamanan jika melakukan perjalanan wisata. Penduduk Jerman yang akan mencapai usia lanjut 60 tahun keatas pada tahun 2050 diperkirakan mencapai 40% dari total penduduknya, dan mereka lebih mandiri dan lebih suka melakukan perjalanan wisata dengan cara mandiri tanpa harus diatur oleh biro perjalanan.

Penduduk Jepang yang tergolong usia lanjut atau yang berumur 50 tahun keaas pada tahun 2025 diperkirakan mendekati angka 15 juta atau 23% dari total penduduknya.  Kaum usia lanjut Jepang biasanya memiliki income yang lebih mapan dan memiliki waktu luang yang lebih banyak sehingga memungkinkan mereka berlibur lebih lama ke luar negeri jika dibandingkan kaum muda. Kaum Usia lanjut Jepang ingin lebih bebas dalam melakukan perjalanan wisata dan campur tangan biro perjalanan sangat sedikit. Dan yang menjadi prioritas isunya adalah masalah kesehatan dan keamanan, mereka lebih suka melakukan perkunjungan budaya, berbelanja sebagai aktivitas menarik bagi kaum usia lanjut Jepang.

[7]Saat ini penduduk usia lanjut  60 tahun ke atas Taiwan telah mencapai 12% dan diperkirakan akan naik menjadi 20% pada tahun 2033. Beberapa kaum usia lanjut di Taiwan  lebih suka melakukan perjalanan wisata yang telah dipaket oleh biro perjalanan wisata karena alas an lebih nyaman, lebih aman, dan alasan keterbatasan bahasa Inggris. Di Taiwan pertumbuhan biro perjalanan bertumbuh sangat cepat dan telah mencapai 2464 travel agencies pada tahun 2002, dan telah melayani perjalanan wisata untuk 23 juta orang. Wisatawan usia lanjut Taiwan lebih menyukai perkunjungan  sejarah dan mengunjungi tempat-tempat yang indah, makan-makan di restoran, dan menikmati fasilitas hotel, dan mereka lebih mempertimbangkan factor harga dan keamanan.

Berikut Tabel 3,  rangkuman potensi segmen pasar wisatawan usia lanjut berdasarkan persentase terhadap total penduduk nasional, potensi yang keluar negeri, dan isu serta harapan.

Tabel. 3. Potensi Pasar Usia Lanjut berdasarkan kawasan atau negara berdasarkan prediksi dan proyeksi sampai dengan 2050.

Negara/kawasan % Kaum Usia Lanjut % yang ke luar negeri Harapan (Isu)
  • Amerika Serikat
41% 28%
  • Kenyamanan.
  • Kanada
* 25%
  • Hiburan.
  • Jepang
23% 7,6%
  • Kesehatan dan keamanan.
  • Australia
22% 9%
  • Rasa aman dan experiences.
  • Eropa Utara
16,2% *
  • Keamanan.
  • Inggris
31% 17,4%
  • Keamanan.
  • Jerman
40% *
  • Keamanan.
  • Taiwan
20% *
  • Harga dan keamanan.

Sumber: Data sekunder (diolah), * data tidak tersedia

 

Dari seluruh data harapan wisatawan usia lanjut di atas, harapan yang paling mendapat prioritas konsumen wisatawan usia lanjut adalah masalah yang berhubungan dengan adanya jaminan keamanan, kemudian kenyamanan, hiburan, kesehatan, harga dan experiences. Informasi tersebut di atas berimplikasi pada kemasan paket wisata yang akan ditawarkan pada segmen wisatawan usia lanjut, dan yang diperkirakan paket-paket atau kemasan wisata yang mampu menjamin rasa aman, kenyaman, jenis hiburan, jaminan kesehatan, harga, dan penawaran tentang experiences akan menjadi preferensi wisatawan usia lanjut.

 

  1. 4.     Kesimpulan dan Saran

Segmentasi wisatawan usia lanjut mengalami pertumbuhan yang cukup dinamis, dimana hampir semua negara memperkirakan wisatawan usia lanjut akan mengalami pertumbuhan yang cepat dibandingkan segmen pasar wisatawan lainnya. Beberapa wisatawan usia lanjut bahkan merasa mereka lebih muda dari umur mereka karena adanya perbaikan kesehatan, dan mereka lebih aktif. Mereka bahkan ingin mencari pengalaman baru yang menantang seperti ingin melihat kebudayaan bangsa lain sebelum mereka lebih tua dan sebelum kesehatannya semakin menurun.

Saat ini, dengan adanya perbaikan pendidikan, kesehatan, dan perbaikan pendapatan telah mendorong perubahan untuk lebih menyukai kegiatan bersenang-senang atau berwisata dibandingkan generasi sebelumnya. Beberapa kaum usia lanjut tersebut bahkan berharap jika mereka pension mereka akan melakukan perjalanan wisata ke luar negeri.

Untuk dapat menangkap peluang pertumbuhan segmen pasar usia lanjut ini, diperlukan kreasi dan inovasi dalam mengelola bisnis dan kemasan produk yang sesuai dengan preferensi wisatawan usia lanjut, pengelolaan destinasi yang diarahkan ramah terhadap golongan usia lanjut dengan menyediakan infrastruktur dan fasilitas yang dapat dinikmati oleh wisatawan usia lanjut. Untuk melakukan kreasi dan inovasi yang tepat, maka sudah dianggap penting untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan perilaku wisatawan usia lanjut dalam memilih aktivitas wisata.

Perilaku wisatawan usia lanjut tersebut dapat didasarkan pada analisis hubungan antara perbedaan budaya dan perilaku wisatawan dalam memilih aktivitas wisata, perilaku wisatawan usia lanjut dapat juga dilihat dari konsep diri wisatawan yang turut mempengaruhi pilihan aktivitas wisata, perilaku wisatawan usia lanjut juga dapat dilihat dari gaya hidup, dan perilaku wisatawan tersebut dapat dihubungkan berdasarkan dimensi perbedaan budaya, dimensi sikap diri, dan dimensi gaya hidup secara simultan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Armstrong, G.K. and Morgan, K. 1998. Stability and change in levels of habitual physical activity in later life. Age and Ageing 27, 17-23.

 

Blazey, M.A. 1986. Research breathes new life into senior travel program. Parks and Recreation October, 55-56.

 

Cohen, G.D. 2000 The Creative Age: Awakening Human Potential in the Second Half of Life. HarperCollins, New York.

 

Cross, G. 1990 A Social History of Leisure Since 1600. Venture, State College, Penn-sylvania.

 

Gillon, S.M. 2004 Boomer Nation: the Largest and Richest Generation Ever, and How it  Changed. Free Press, New York.

 

Ing, D. 1993 Potential for senior travel escalates. Hotel and Motel Management 208.

 

Jackson and Burton 2005. Leisure Studies: Prospects for the Twenty First Centery. Pennsylvania: State College Venture Publishing Inc.

 

Kelly, J.R. 1992 Leisure. In: Bogatta, E.F. ed. Encyclopedia of Sociology, Vol. 3. Macmillan, New York.

 

Kelly, J.R. and Kelly, J.R. 1994 Multiple dimensions of meaning in the domains of work, family and leisure. Journal of Leisure Research.

 

Lawton, M.P. 1993 Meanings of activity. In: Kelly, J.R. ed. Activity and aging. Sage, Newbury Park, California.

 

McGuire, F.A., Boyd, R.K. and Tedrick, R.E. 2004 Leisure and Aging: Ulyssean Living in Later Life, 3rd edn. Sagamore, Champaign, Illinois.

 

McGuire, F.A. (1984) A factor analytic study of leisure constraints in advanced adult-hood.Leisure Sciences 6, 313-326.

 

Muller, T.E. and O’Cass, A. 2001 Targeting the young at heart: seeing senior vacationers the way they see themselves. Journal of Vacation Marketing 7.

 

Patterson, Ian. 2006. Growing Older: Tourism and Leisure Behaviour of Older Adults. School of Tourism and Leisure Management University of Queensland.

 

Penalta, L.A. and Uysal, M. (1992) Aging and the future travel market. Parks and  Recreation 27, 96-99.

 

Pitana, I Gde.  2005. Sosiologi Pariwisata, Kajian sosiologis terhadap struktur, sistem, dan dampak-dampak pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset.

 

Publikasi Kem. Kebudayaan dan Pariwiata RI. 2011.  Ketetapan Dirjen Imigrasi No. F.256-12.02/2000. Temporary Visa: Ijin Tinggal Wisatawan Usia Lanjut. Jakarta.

 

Publikasi Kem. Kebudayaan dan Pariwiata RI. 2011. Keputusan Presiden /Keppres No. 31/1998. Temporary Visa: Ijin Tinggal Wisatawan Usia Lanjut. Jakarta.

 

Publikasi Kem. Kebudayaan dan Pariwiata RI. 2011. SK Menteri Kehakiman No.   M-04-12.01.02/1998. Temporary Visa: Ijin Tinggal Wisatawan Usia Lanjut. Jakarta.

 

Shoemaker, S. 1989 Segmentation of the senior pleasure travel market. Journal of  Travel Research Winter 27.

 

Smith, C. and Jenner, P. 1997 The seniors travel market. Travel and Tourism Analyst.

 

Stebbins, R.A. 1998 After Work: The Search for an Optimal Leisure Lifestyle. Detselig  Enterprises, Calgary, Alberta.

 

Suradnya, I Made 2005. Analisis Faktor-Faktor Daya Tarik Wisata Bali dan Implikasinya Terhadap Perencanaan Pariwisata Daerah Bali: Soca Jurnal Sosial dan Ekonomi Udayana University Bali.

 

Veal, A. and Lynch, R. 2001 Australian leisure. Longmans/Butterworth, French’s  Forest, New South Wales.

 

Wei, S. and Millman, A. 2002 The impact of participation in activities while on  vacation on seniors’ psychological well-being: a path model analysis. Journal of Hospitality and Tourism Research 26.


[1]  “Leisure studies had its origins in North America in the mid-19th century, with what was termed the ‘Rational Recreation Movement’ that sought to improve the quality of life of the newly urbanized working class. Recreation programmes were encouraged by the Christian churches of the time, emphasizing wholesome and socially responsible activities such as outdoor  recreation and camping, community sport and supervised children’s play” (Cross, 1990).

 

[2] Seniors are defined as people aged 55 and older, and were one of the most prominent targets for tourism marketeers in the 1990s. Seniors have been described as everything from ‘empty nesters’ and ‘third agers’ to ‘woop-ies’ (well-off older people) and ‘zuppies’ (zestful, upscale people in their prime) (Shoemaker, 1989). These descriptions of seniors suggest that many people who are aged 55 and older perceive themselves as feeling consid-erably younger than their actual chronological age (Muller and O’Cass, 2001).

 

[3] Definitions of Older Adults  Not so long ago, people aged 65 and older who lived in developed countries were referred to as ‘pensioners’ or the ‘elderly’, which were the only terms that were used to describe them. Recently, a review of the tourism and leisure literature has found a puzzling development – there has been a lack of consistency in defining the age cohort and the specific name to describe older people’s tourist behaviour at different stages of the life cycle. Names such as ‘baby boomers’ (Gillon, 2004), ‘the senior market’ (Shoe-maker, 1989), ‘the mature market’ (Lazar, 1985), ‘the grey market’, ‘young sengies’ or young senior generation, and ‘woopies’ or well-off older people

 

[4] McGuire (1984) identified five major constraints in a  more detailed examination of why older travellers do not travel as much as younger travellers: (1)external resources – lack of information, too much planning, insufficient money, lack of appropriate clothing and luggage, and lack of transportation; (2)time factors – no time to travel, the need to work, tourism interrupting normal routine and being too busy doing other things; (3)approval – family and friends would not approve, feel guilty about going on trips and afraid to make a mistake by going to a disappointing place; (4) social – spouse dislikes travel, no companion and no interest in going away; and (5) physical well-being  – no energy, poor health, afraid to take certain modes of transportation and too old or disabled to travel.

 

[5] Contemporary Trends in International Tourism and Travel for Older Adults

[6] Examine the tourism and leisure-related behaviour of older people in the following countries  – USA, Canada, Australia, Europe, UK,  Germany, Japan, Israel, Taiwan and Korea

[7] Taiwan is considered an elderly society. The elderly population has been estimated to be 2.8 million people, or 12% who are older than 60. It has been projected that the elderly population will increase to 20% of the total population by 2033 (Ministry of Interior, 2001).

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Leisure. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s