Fungsi dan Perencanaan Visitor Center Pariwisata Daerah

Fungsi dan Perencanaan Visitor Center Pariwisata Daerah

Dan Rekomendasi bagi Pariwisata Bali

Kritikal Review terhadap karya: Philip L. Pearce

 

Oleh:

I Gusti Bagus Rai Utama

Program Doktor, Studi Ilmu Pariwisata, Universitas Udayana. Bali

 

Abstract

Visitor centers can be as instruments for Sustainability, Visitor center will be the instrument of the seriousness of tourism development to apply international standard. Bali has hundreds of tourist attraction but lack of information to obtain data and information due to lack of visitor centers.  Tourism agenda as tourist activities without adequate publicity is also a weakness of marketing tourism in Bali. Based on the reason the visitor centers will play an important role in the context of internal marketing to increase the experiences of tourists or visitors. Visitor centers are expected to provide valuable experience and take an impression of the readiness of the management of destinations. Visitor center can act as a community facility for a variety of local social and cultural activities, especially where space contains a theater or a meeting. Furthermore, it can be said that its function is more symbolic of a visitor center and the significance of a city or a site for tourism is the main reason for the existence of the visitor center.

Keyword: visitor center, tourist, visitor, service, publicity, information

1. Pendahuluan

 

Nilai-nilai setiap masyarakat tertentu dapat ditafsirkan dari fungsi prasarana fisik yang berkembang. Budaya yang berorientasi pada olahraga akan mendukung dibangunnya stadion besar, mereka dengan kekhawatiran spiritual akan menjaga tempat-tempat ibadah seperti misalnya katedral besar, masjid dan kuil-kuil, dan mereka dengan masalah lingkungan akan  menciptakan struktur fisik untuk mendukung dan melindungi tempat-tempat yang mereka anggap bernilai (Pearce, 2004).

Dalam dunia pariwisata, dapat dikatakan bahwa Visitor Center adalah produk baru dengan multi-fungsi yang mengekspresikan nilai-nilai yang tercermin dalam infrastruktur fisik dan masyarakat setempat yang mencoba untuk menggunakan dan mengelolanya sebagai sumber daya tarik wisata. Tidak seperti hotel, jalan raya dan titik transportasi,  pusat wisatawan, biasanya tujuan dibangunnya atau setidaknya diperbaharui hanya untuk pariwisata (Knudson, Cable & Beck, 1999). Ada banyak pusat/biro di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Selandia Baru dan Australia dan mereka tampaknya dibentuk untuk warga Eropa dan Asia (Asia Travel Guide, 2004; Tan-Collis, 1999). Pengunjung  pusat penting sepanjang jalan raya dan di kota-kota kecil dan komunitas tertentu, dan sering menjadi fokus utama bagi promosi pariwisata daerah dan manajemen destinasi (Fesenmaier & Vogt, 1993a, b; Hobbin, 1999). Makalah ini akan mengarahkan perhatian untuk menyediakan kerangka kerja untuk melakukan fungsi Visitor Center di bidang pariwisata daerah dan selanjutnya, mencoba untuk menguraikan beberapa praktek yang diinginkan untuk memenuhi fungsi tersebut.

Arti dari [1]Visitor Center (Visitor Center ) perlu didefinisikan dengan hati-hati dalam konteks internasional atau forum. Jenis fasilitas yang dimaksud dalam makalah ini dapat didefinisikan di sini sebagai: fasilitas yang jelas berlabel akses publik, ruang fisik dengan personil memberikan informasi yang bebas biaya untuk memfasilitasi wisatawan. Dalam hal ini, pembentukan sebuah Visitor Center berbeda dengan agen perjalanan karena penekanan komersial yang lebih dominan. Visitor Center juga tidak boleh disamakan dengan sebuah museum daerah atau kabupaten di mana penekanannya adalah pada tampilan dan suguhan artefak daripada pengalaman sebuah perjalanan. Selanjutnya, Visitor Center membutuhkan kehadiran manusia, sehingga harus tersedia outlet informasi, bahkan harus menyediakan fasilitas komputer interaktif yang bersifat gratis (Fesenmaier & Vogt, 1993a, 1993b; Moscardo & Hughes , 1991; Stewart, Fesenmaier & Anderson, 1993). Namun ada kalanya juga, fasilitas yang tersedia mungkin memiliki komponen komersial yang bertujuan untuk kegiatan social dalam masyarakat local.

Dalam kasus terakhir nilai simbolis dari Visitor Center sebagai sinyal komunitas bahwa kawasan ini serius mengelola pariwisata mungkin menjadi cukup penting. [2]Visitor Center tidak hanya ada di pusat kota namun menjadi sebuah fenomena yang muncul dalam titik/pusat transportasi seperti bandara dan stasiun kereta api, di dalam atau di pinggiran kota-kota kecil dan dekat dengan  pusat wisata. Hal ini terutama menjadi  Visitor Center yang berbasis regional, tujuan dan perencanaannya  merupakan perhatian dalam pembentukan Visitor Center tersebut. Penekanan dalam diskusi ini adalah pada tujuan dibentuknya Visitor Center daripada masalah sumber daya dan manusia, atau  manajemen keuangannya. (Barrow, 1996; Bath, 1996).

1.1.”Empat Plus” Model Fungsi Visitor Center

Dalam upaya memberikan pemahaman yang sistematis untuk topik Visitor Center, tujuan fasilitas tersebut dan orang-orang yang melayani di dalamnya perlu dipertimbangkan. Dalam tulisan sebelumnya Pearce (1991) dan Moscardo (1999) mengidentifikasi terdapat empat fitur yang saling terkait dengan Visitor Center. Analisis yang disajikan dalam makalah ini memperluas tulisan sebelumnya dengan yang baru berjudul “Four Plus” sebagai model fungsi Visitor Center . Model diperpanjang (fungsi ditambah) mengacu secara khusus pada tulisan Fallon dan Kriwoken (2003) dan Simpson (2001) yang menekankan fungsi masyarakat dan penerimaan Visitor Center .

1.1.1.      Beberapa Fungsi Yang Saling Menunjang

Hal ini disampaikan bahwa seluruh Visitor Center memiliki fungsi ganda, dilakukan untuk tingkat yang berbeda. Fungsinya mungkin adalah promosi bahwa  Visitor Center seperti yang didefinisikan sebelumnya dalam makalah ini yang lazim di sejumlah negara-negara barat. Menurut “Four Plus” model yang diusulkan di sini adalah yang paling berlaku untuk destinasi pariwisatauntuk dijadikan dan dikembangkan  sistem promosi dan manajerial. Penerapan yang lebih luas dari model yang diusulkan Empat Plus untuk konteks lain akan dipertimbangkan dalam bagian penutup dari makalah ini.

1.1.2.      Fungsi Promosi

Peran ini mengacu pada promosi aktif dari daerah, kota atau wilayah. Ini melibatkan agenda yang kuat yang harus dilakukan di daerah. Pada dasarnya peran ini untuk merangsang permintaan wisata dan sering berusaha untuk meningkatkan pengeluaran pengunjung di suatu kawasan tertentu (Gitelson & Perdue, 1987). Kegiatan komersial terkait dengan fungsi ini adalah umum dan meliputi penyediaan jasa pemesanan dan ritel terhadap produk daerah. Fol dalam Gartner (1993) menerangkan bahwa fungsi ini dapat dilihat untuk menyediakan sumber  informasi yang nyata yang dapat dipercaya diinduksi dan tidak berlebihan untuk mementingkan diri sendiri. Upaya menuju akreditasi Visitor Center dan menjamin kualitas layanan adalah hal penting untuk mempertahankan jaminan representasi dari informasi yang diberikan (Fodness & Murphy, 1999; Hobbin, 1999).

1.1.3.      Fungsi Orientasi dan Peningkatan Kunjungan

Fungsi kedua dari Visitor Center dapat dilihat konsentrasinya pada kualitas pengalaman bagi pengunjung. Visitor center mencoba untuk memberikan tampilan, yang menunjukkan lokasi baru dan umumnya menginformasikan pengunjung tentang fitur dari wilayah untuk mempromosikan perilaku yang bertanggung jawab. Ha ini adalah sebuah kesungguhan yang bukanlah hanya sekedar merangsang permintaan dan melibatkan apresiasi bahwa permintaan adalah sensitif terhadap prinsip-prinsip perilaku pariwisata yang berkelanjutan. Fungsi ini konsisten dengan prinsip-prinsip perencanaan dasar untuk praktek peramalan tingkat kunjungan (Benson & Baird, 1979; Carter, 1997; Hobbin, 1999).

1.1.4.      Fungsi Kontrol dan Penyaringan

Dalam perannya ini, Visitor Center berusaha untuk mengontrol aliran pengunjung sehingga sumber daya dan pengaturannya tetap berada di bawah kendali sebuah wilayah. Biasanya  Visitor Center bertindak sebagai pintu masuk dan menjadi pusat untuk melakukan kendali terhadap pengunjung di daerah. Fungsi ini mungkin menjadi penyaringan terhadap pengunjung untuk mengunjungi lokasi yang ditetapkan, dan memberikan alternatif lokasi yang kurang ramai dan penggunaan pusat secara merata dalam hubungannya dengan kegiatan lain seperti tur yang menerapkan manajemen kapasitas pada situs tertentu. Staf Visitor Center bekerja di sebuah pusat dimana fungsi ini sering dominan dan akan memiliki peran pelayanan yang kuat dalam kaitannya dengan sumber daya. Pada kesempatan ini, desain Visitor Center dan perilaku staf yang mengadopsi peran yang lebih kuat dan berpotensi kontroversial dalam membatasi perilaku publik (Hardy & Beeton, 2001; Sugden & Saunders, 1991).

1.1.5.      Fungsi Substitusi

Sebuah fungsi keempat dari Visitor Center  adalah untuk menjadi pengganti objek wisata atau setidaknya menjadi daya tarik besar dalam dirinya sendiri. Visitor Center menekankan fungsi ini sering disebut sebagai pusat penafsiran atau lebih sederhananya diberi label sebagai tempat wisata seperti layaknya Pusat Margasatwa.  Pergantian fungsi sangat penting ketika sejumlah besar pengunjung yang lemah, sakit fisik atau kurang pengetahuan untuk mengakses dan memahami sumber daya (Ballantyne, 1995; Scheyvens, 1999; Simpson, 2001; Stewart, Hayward, Devlin, & Kirby, 1998; Uzzell & Ballantyne , 1998).

1.1.6. Fungsi Tambahan

 

Visitor Center dapat bertindak sebagai fasilitas masyarakat untuk berbagai kegiatan budaya dan sosial lokal, terutama dimana ruangnya berisi ruang teater atau pertemuan. Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa fungsinya lebih simbolis dari sebuah Visitor Center dan makna dari suatu kota atau situs untuk pariwisata adalah alasan utama untuk keberadaan Visitor Center tersebut. Ketika penampilan fisik dari Visitor Center menantang dan tidak konvensional, dan menjadi perhatian politik yang kuat, akan ada reaksi dari masyarakat (Fallon & Kriwoken, 2003; Flanagan, 1996). Upaya-upaya luas untuk menggabungkan pandangan dalam komunitas adalah penting dan jelas untuk mengelola elemen substitusi dan fungsi tambahan dari Visitor Center tersebut (bdk. Bramwell & Lane, 2000; de Araujo & Bramwell, 2000; Jamal & Getz, 1999; Robinson, 2000 ). Tentu saja, fungsi yang ditambahkan tidak dapat diabaikan untuk mencoba meningkatkan fungsi Visitor Center karena merupakan kekuatan politik yang kuat yang mempengaruhi fungsi utama. Ini adalah tentang merancang pusat untuk mencapai tujuan administrasi dan kemasyarakatan bagi seluruh masyarakat (bdk. Fallon & Kriwoken, 2003; Simpson, 2001).

1.2. Meningkatkan fungsi Visitor Center

Empat tahap dapat dipertimbangkan dalam desain dan penggunaan Visitor Center, ada prinsip-prinsip praktis yang baik dan kadang-kadang substansial sebagai bukti penelitian untuk mendukung saran agar dalam pelaksanaannya dapat bejalan dengan baik (Blahna & Roggenbuck, 1979; Field & Wagner, 1973; Knudson et al, 1999;. Mack & Thompson, 1991; Moscardo, 1998, 1999; Roggenbuck, 1992; Serrell, 1996; Tilden, 1977).

1.2.1. Kepastian rambu-rambu dan memastikan kemudahan akses.

 

Pusat Peramalan yang efektif adalah mudah diakses oleh pengunjung (Fodness & Murphy, 1999). Salah satu cara untuk memastikan pengunjung dapat menemukan dan menggunakan Visitor Center adalah danya perencanaan rambu-rambu yang dapat dimengerti oleh masyarakat internasional (Serrell, 1996).

 

1.2.2. Identifikasi semua pengguna dan menggunakan mereka

Sebuah pertimbangan kebutuhan semua pengguna adalah penting bagi desain Visitor Center yang baik (Bitgood, Benefield, Patterson & Nabors, 1986). Inventarisasi semua fungsi kemudian dapat memandu keputusan tentang apa yang akan dimasukkan di visitor center dan bagaimana desain tersebut berfungsi secara efektive dan  maksimal (Blahna & Roggenbuck, 1979; Knudson, Cable & Beck, 1999). Tiga kelompok khas pengguna untuk dipertimbangkan adalah:

  1. Pengunjung: Siapa pengunjung cenderung ke Visitor Center tersebut? Apa jenis segmen pasar harus dipertimbangkan? Pengunjung akan memerlukan akses ke informasi atau fasilitas di luar jam? Apakah kafe menjadi tambahan yang layak atau berguna? Atau ini pilihan untuk bisnis lokal atau dewan lokal?
  2. Staf: Staf perlu ruang untuk tugas-tugas non publik. Menampilkan penafsiran dan kegiatan membutuhkan ruang untuk persiapan dan penyimpanan. Dalam beberapa tempat staf mungkin perlu ruang darurat untuk koordinasi.
  3. Masyarakat Lokal; Penggunaan fungsional dari Visitor Center oleh kelompok-kelompok masyarakat serta simbol dan nilai semiotik juga harus dipertimbangkan.

 

1.2.3. Desain untuk masa depan

Visitor Center  sering berupa bangunan besar yang digunakan dalam jangka waktu yang lama. Memperluas dan meningkatkan Visitor Center untuk mengatasi  jumlah pengunjung yang semakin meningkat dan kebutuhan pengguna berubah dan  tujuan penafsiran bisa sangat sulit. Sebuah pertimbangan untuk mengubah ruang yang tersedia bagi pengguna akan lebih dihargai oleh mereka yang bertanggung jawab untuk Visitor Center dalam tahun-tahun mendatang.  (Gunn, 1994; Poon, 1993).

1.2.4. Menjadi model bagi keberlanjutan ekologis

 

Visitor Center  memiliki gaya arsitektur yang baik sesuai dengan daerah setempat atau sesuai dengan cirri khas sebuah daerah. Selain harus baik, pengaturannya harus menggabungkan fitur kunci dari lingkungan seperti pemandangan atau akses ke situs khusus. Mereka juga pro pada penggunaan energi yang efisien dan sistem pembuangan limbah, menggunakan bahan-bahan lokal dan dan merangsang lapangan kerja bagi masyarakat setempat dan menjadi kebanggaan sebuah destinasi (Lane, 1991; Moscardo, 1998).

1.2.5. Memiliki sistem orientasi yang baik fisik

 

Beberapa fitur dapat membantu pengunjung untuk menemukan jalan mereka di sekitar visitor center dengan mudah (Bitgood, Patterson & Benefield, 1988). Penempatan rambu-rambu khususnya pada jalur-jalur khusus harus dibuat sejelas mungkin agar tidak menyesatkan. Rambu arah untuk pintu masuk, dan pintu keluar harus jelas agar pengunjung tidak berputar-putar dan merasa bingung. Rambu-rambu juga harus dibuat standar yang dapat dipahami secara internasional.
1.2.6. Desain untuk berbagai fungsi

Cara termudah agar tidak kehilangan perhatian pengunjung adalah melakukan repetasi. Interpretasi Efektif untuk menawarkan berbagai pengalaman. Jenisnya dapat dibangun menjadi sebuah tampilan penafsiran dalam beberapa cara:

  1. Gunakan berbagai media seperti teks, grafis, model statis, dinamis,  Model audio visual, interaktif dan penampilan berbasis komputer (Serrell, 1996).
  2. Mendorong pengunjung untuk menggunakan semua indra mereka melalui kegiatan partisipatif yang berbeda.
  3. Gunakan berbagai warna dan efek pencahayaan untuk menciptakan suasana hati yang berbeda di daerah yang berbeda.
  4. Informasi harus mencangkup berbagai topik sesuai harapan pengunjung dan pengelola.

1.2.7. Mengunakan tema tertentu

Penggunaan tema tunggal sebagai konsep yang menghubungkan ide besar dengan seperangkat fakta, topik atau contoh pertama kali diusulkan oleh Tilden (1977). Tema adalah pesan tunggal yang dapat digambarkan dalam kalimat aktif:

Contoh: topiknya adalah cacing, temanya adalah “Sebuah komunitas cacing yang sehat memberikan manfaat mengejutkan banyak manusia” dan menampilkan semua fungsi tanah berbasis koloni cacing.

Contoh lainnya: topiknya adalah ekologi semut, temanya adalah “Sebuah koloni semut adalah seperti kota besar” dan informasi dan contoh serangkaian analogi pencocokan peran semut dan pekerjaan mereka untuk interaksi di sebuah kota.

1.2.8. Membuat koneksi pribadi untuk para pengunjung

Pengalaman pribadi sering mengarahkan perhatian pengunjung (Moscardo, 1999). ada sejumlah cara dimana penafsir dapat membuat koneksi yang menghubungkan pribadi pengunjung. Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan contoh yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari pengunjung. Selain itu, menggunakan gaya percakapan dalam teks dan menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan fakta-fakta dalam istilah sehari-hari dengan menambahkan dimensi manusia untuk penafsiran.

Cara lainnya adalah dengan penyampaian tema secara berlapis. Sebuah pesan inti (yang berhubungan dengan tema) adalah lapisan pertama dan pengunjung dengan waktu yang terbatas. Lapisan kedua yang sifatnya memperluas pesan inti untuk  pengunjung pada ketertarikan yang lebih tinggi atau lebih banyak waktu. Sebuah lapisan ketiga dari informasi yang cukup rinci juga sering disertakan dan pengunjung dengan minat khusus dapat mengaksesnya. Kuncinya adalah mengingat bahwa masing-maisng lapisan harus menawarkan penjelasan yang lebih rinci, dan tidak lebih sulit (Mack & Thompson, 1991).

1.2.9. Pengelolaan dan pemeliharaan

 

Tantangan terakhir pada Visitor Center adalah manajemen fasilitas, termasuk staf dan kondisi fisik. Terdapat masalah sumber daya penting dan substansial manusia dalam mengelola staf, pemberian penghargaan bagi relawan dan mempertahankan jasa (bdk. Deery & Iverson, 1996). Sebuah komponen penting dari manajemen ini termasuk anggaran pengamanan untuk menjaga kualitas dan daya tarik serta kualitas eksternal dan fasilitas internal serta mampu merenovasi dan memperbaiki bagian yang rusak.  Selanjutnya, pelatihan staf untuk mempertahankan tingkat perhatian yang tinggi kepada pelanggan adalah kebutuhan yang konsisten di semua sektor jasa. Pada Visitor Center, akan menjadi pusat pemasaran jasa dan mungkin diperlukan untuk mempengaruhi sumber dana dan para pemangku kepentingan politik lokal (Kandampully, 2002).

Prinsip-prinsip rinci dan saran untuk praktek yang baik ditinjau dalam pembahasan sebelumnya dapat dikembangkan menjadi sebuah sistem penilaian manajer regional untuk pariwisata. Prosedur seperti itu dapat melibatkan langkah-langkah berikut. Mengidentifikasi dan mempertimbangkan setiap segmen pasar yang penting dengan menggunakan visitor center. Selanjutnya mengidentifikasi kepentingan relatif dari Empat fungsi Plus untuk pasar ini. Nilai khusus dari model Four Plus dalam konteks ini adalah bahwa hal itu secara eksplisit mengakui bahwa visitor center tidak bisa menjadi segalanya bagi semua orang tetapi kinerjanya adalah terkait dengan satu kesatuan yang didefinisikan dengan baik dan mendapat  prioritas dan difungsikan untuk pasar tertentu.

1.2.10. Selanjutnya pertimbangan untuk pariwisata daerah

 

Asumsi yang mendasari pembahasan sebelumnya adalah bahwa vistor center cenderung memainkan peranan yang semakin penting dalam pariwisata regional. Pernyataan ini dapat dibuktikan dalam tiga cara.

 

Pertama, tampak bahwa ada kecenderungan wisatawan menjadi lebih mandiri dan lebih mencari peluang kontak langsung secara pribadi dengan penduduk lokal dan lingkungan (Poon, 2000). Visitir Center juga menyediakan sumber informasi langsung yang dipercaya pribadi untuk mendukung pencarian informasi yang relevan untuk independen dan mengulangi perilaku perjalanan (Fodness & Murphy, 1999).

Kedua, sebuah kekuatan ketiga membentuk potensi pengembangan atau peningkatan Visitor Center adalah adanya kebutuhan langsung dari pengunjung, dan banyak studi yang sudah dikutip dalam laporan ini bahwa terdapat kepuasan yang tinggi dari pengunjung yang menggunakan fasilitas tersebut.

Yang ketiga, lebih penting lagi menjadikan visitor center sebagai media penilaian yang terkini dan dapat menjadi sumber saran yang produktif berbasis penelitian untuk melakukan perbaikan sebuah wilayah atau destinasi.

 

 

2.     Apakah Pariwisata Bali membutuhkan Visitor Center?

 

2.1.           Rasionalitas Bahwa Pariwisata Bali memerlukan Visitor Centers

Peran pariwisata bagi provinsi Bali dalam pembangunan menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.Jika dilihat peranan pariwisata dalam kontribusinya terhadap PDRB Bali, maka terlihat adanya peningkatan yang nyata. Pada tahun 2003, PDRB dari pariwisata sebesar 28,43%,  kemudian meningkat menjadi 29,16% pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 meningkat lagi menjadi 29,37%. Sementara pada tahun 2006 kontribusi sector pariwisata terhadap PDRB Bali sedikit mengalami penurunan menjadi 28,88 sementara pada tahun 2007 meningkat kembali menjadi 28,98%. Tabel perbandingan contributor (lapangan usaha) terhadap PDRB Bali, dapat dilihat seperti table dibawah ini:

Tabel: [3]Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali

Lapangan Usaha (%)

2003

2004

2005

2006

2007

1. Pertanian

21,66

20,74

20,29

19,96

19,41

a. Tanaman Bahan Makanan

10,59

10,36

9,99

9,65

9,32

b. Tanaman Perkebunan

1,91

1,78

1,74

1,74

1,67

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya

5,49

5,07

5,28

5,32

5,16

d. Kehutanan

0,01

0,01

0,01

0,01

0,01

e. Perikanan

3,67

3,52

3,27

3,24

3,26

2. Pertambangan & penggalian

0,68

0,68

0,66

0,69

0,66

3. Industri pengolahan

9,11

9,00

8,69

8,70

8,99

4. Listrik, gas & air bersih

1,57

1,80

1,85

1,94

2,00

5. Bangunan

4,02

3,91

4,03

4,28

4,43

6. [4]Perdag., hotel & restoran

28,43

29,16

29,37

28,88

28,98

7. Pengangkutan & komunikasi

11,20

11,30

11,85

11,86

12,33

8. Keu. Persewaan, & jasa perusahaan

6,59

6,79

7,07

7,46

7,34

9. Jasa-jasa

16,75

16,61

16,19

16,22

15,86

PDRB

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

Sumber: BPS, 2009

 

Sementara menurut Suarsana (2011) peningkatan  terjadi pada semua sektor ekonomi, di mana sektor perdagangan, hotel dan restoran masih tetap merupakan sektor andalan, karena mampu memberikan nilai tambah terbesar, yakni Rp 20,02 triliun. Selain itu sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang cukup besar yakni Rp 12,10 triliun serta sektor pengangkutan dan komunmikasi sebesar Rp 8,63 triliun.

[5]Perkembangan terakhir, lebih lanjut dikatakan bahwa untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran  mengalami pertumbuhan sebesar 8,7 persen memberikan sumbangan terhadap sumber pertumbuhan terbesar terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan yang memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2 persen.7% (Nusa Bali, 2011)

Karena begitu pesatnya perkembangan pariwisata Bali khususnya dalam kontribusi terhadap PDRB bila  dibandingkan sector lainnya termasuk juga dengan sector Pertanian, seiring adanya otonomi daerah yang berada pada kendali kabupaten, ditengarahi factor inilah yang menyebabkan pemerintah daerah Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Bali ingin menggalakkan sector pariwisata sebagai penggerak  perekonomian di daerahnya masing-masing.

 

2.2.           Pembangunan Pariwisata Bali saat ini

 

Dalam konteks pembangunan pariwisata, dihubungkan dengan konsep 4A, yakni daya tarik wisata “attractions”, Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi diukur dari bandara “accesable”, Adanya Fasilitas pendukung pariwisata “Amenities”, adanya lembaga pariwisata “ancillary”.  Jika dilihat dari jumlah akomodasi yang telah ada, maka Kabupaten (++) Gianyar, Kabupaten Badung, Kodya Denpasar, Kabupaten Buleleng,  dan Kabupaten Karangasem layak mengandalkan sector pariwisata sebagai penggerak perekonomian daerah, seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini:

 

 

Tabel Banyaknya Hotel Non Bintang dan Akomodasi Lainnya di Bali Menurut Kabupaten/Kota dan Kelompok Kamar Tahun 2009

Kabupaten / Kota

Kelompok Kamar

Jumlah

< 10

24-Oct

25 – 40

41 – 100

> 100

1

Gianyar  ++

292

81

10

3

386

2

Badung  ++

95

152

59

50

5

361

3

Denpasar  ++

49

102

44

26

221

4

Buleleng  ++

109

55

14

5

183

5

Karangasem + +

115

54

5

2

176

6

Tabanan

41

20

2

63

7

Jembrana

27

26

3

56

8

Klungkung

19

21

40

9

Bangli

21

6

2

29

Sumber: Bali Dalam Angka 2010

 

Sementara jika, dilihat dari jumlah hotel bintang 4 dan 5 yang telah ada pada kabupaten dan kota di Bali, serta jika diasumsikan bahwa keberanian investor membangun hotel berbintang dihubungkan popularitas pariwisata daerah, maka Kabupaten Badung paling popular (**), kemudian disusul Kota Denpasar, dan Gianyar. Sementara Kabupaten Buleleng, Karangasem, dan Tabanan belum sepopuler (*) Badung-Denpasar-Gianyar.Sedangkan  Kabupaten Jembrana, Klungkung, dan Bangli belum menunjukkan sebagai kabupaten yang memiliki popularitas di sector Pariwisata. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table di bawah ini.

 

 

Tabel Banyaknya Hotel Berbintang di Bali Menurut Lokasi dan Kelas Hotel Tahun 2009

Kabupaten / Kota

Kelas Hotel

Jumlah

Bintang 5

Bintang 4

Bintang 3

Bintang 2

Bintang 1

1

Badung **

26

28

19

15

2

90

2

Denpasar**

3

4

9

7

5

28

3

Gianyar **

5

5

1

11

4

Buleleng *

1

2

2

3

1

9

5

Karangasem *

1

2

1

1

5

6

Jembrana

1

1

2

7

Tabanan *

1

1

2

8

Klungkung

1

1

2

9

B a n g l i

Sumber: Bali Dalam Angka 2010

 

Jika dari atraktivitas maisng-masing kabupaten/kota untuk menjadikan pariwisata sebagai sector unggulan  dilihat dari obyek wisata popular dimiliki saat ini, justru menempatkan kabupaten Karangasem sebagai kabupaten paling menarik dan layak untuk pariwisata, seperti Nampak pada table di bawah ini

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Karangasem

Kab/Kota No Obyek Wisata
Karangasem

(6 obyek wisata populer)

 

 

 

 

 

1 Taman Tirta Gangga Karangasem (*)
2 Pelabuhan Padangbai
3 Pantai Tulamben Karangasem (*)
4 Agrowisata Kebun Salak Sibetan Karangasem
5 Candi Dasa Karangasem (*)
6 Pura Sulayukti Karangasem
7 Tenun Ikat Gringsing Tenganan (*)
8 Pura Besakih Karangasem (*)
9 Desa Wisata Tenganan (*)

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Sementara posisi kedua, menempatkan Kabupaten Badung dan Gianyar dengan 5 obyek wisata yang telah popular dan menjadi andalan kabupaten, seperti Nampak pada table di bawah ini:

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Badung dan Gianyar

Kab/Kota No Obyek Wisata
Badung 1 Pantai Kuta (*)
(5 obyek wisata telah populer) 2 Sangeh
  3 Pantai & Kawasan Wisata Nusa Dua & Tanjung Benoa (*)
  4 Pantai Jimbaran
  5 Pura Uluwatu (*)
  6 Pura Taman Ayun (*)
  7 Pura Keluarga Kerajaan MengwiPura Bukit Sari Sangeh
  8 Pura Dalem Sakenan Pulau Serangan
  9 Garuda Wisnu Kencana (*)
Kab/Kota No Obyek Wisata
Gianyar 1 Pulau SeranganKeindahan Alam Ubud Gianyar
(5 obyek wisata telah populer) 2 Air Terjun & Bungy Jumping Blahbatuh Gianyar
  3 Arung Jeram Sungai Ayung Payangan Gianyar
  4 Wisata Safari Naik Gajah Taro Gianyar (Bali Zoo Park)
  5 Air Terjun Tegenungan Gianyar
  6 Pasar Seni Sukawati (*)
  7 Pura Tirta Empul Tampak Siring (*)
  8 Pusat Lukisan & Kerajinan Topeng Batuan Gianyar
  9 Pusat Ukir Kayu Mas, Kemenuh, Tengkulak, Pujung Batuan Gianyar
  10 Pusat Geleri Lukisan Ubud-Peliatan (*)
  11 Goa Gajah, Ukiran Relief Yeh Pulu, Kompleks Samuan Tiga, Patung Kebo Edan, Pusering Jagat, Bulan Pejeng, Kerajinan Ukir Tempurung Kelapa Bedulu-Pejeng Gianyar (*)
  12 Pertunjukan Tari Barong, Tari Kecak, Tari Keris (*)
  13 Istana Presiden Tampak Siring
  14 Monumen Gunung Kawi Tampak Siring

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Sedangkan Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung, dan Bangli, walaupun mereka memiliki obyek wisata yang cukup banyak dan beragam namun belum sepopuler Kabupaten Karangasem, Badung, dan Gianyar. Untuk Kota Denpasar, walaupun sangat berdekatan dengan  kabupaten Badung, namun tidak terlalu atraktif untuk mengandalkan sector pariwisata sebagai sector unggulan, tentu saja pendapat ini masih bisa diperdebatkan dengan realitas PAD kota Denpasar saat ini.

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung dan Bangli

Kab/Kota No Obyek Wisata
Denpasar 1 Pantai Sanur (*)
(3 obyek wisata telah populer) 2 Werdi Budaya Art Centre Abian Kapas Denpasar (*)
  3 Pasar Tradisional Jalan Gajah Mada Denpasar
  4 Museum Bali Denpasar (*)
  5 Patung “Catur Muka” Denpasar
  6 Museum Seni Lukis Le Mayeur Denpasar
Kab/Kota No Obyek Wisata
Klungkung

(3 obyek wisata telah populer)

 

 

 

1 Pura & Goa Lawah Klungkung (*)
2 Pulau Nusa Penida Klungkung (*)
3 Pusat Seni Lukis Tradisional, Seni Ukir Emas & Perak, Seni Ukir Peluru Desa Kamasan Klungkung
4 Taman Gili Kerta Gosa Kraton Semarapura Klungkung (*)

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Bangli

(3 obyek wisata telah populer)

 

 

 

 

 

1 Danau Batur, Gunung Batur, Kawah Batur, Sumber Mata Air Panas Toya Bungkah (*)
2 Penelokan Kintamani (*)
3 Pura Kehen Bangli
4 Desa Trunyan (*)
5 Pura Batur & Pura Tegeh KoripanDesa Adat Penglipuran Bangli
6 Pura Pucaksari Desa Peninjoan Bangli

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Sementara untuk Kabupaten Tabanan, Buleleng, dan Jembrana, jika dilihat popularitas andalan obyek wisata, sebenarnya ketiga Kabupaten ini belum layak menjadikan sector Pariwisata sebagai leading sector pembangunan daerahnya, dan sangat dimungkinkkan ada sector lainnya yang lebih unggul daripada sector pariwisata. Menurut pengamatan, sebenarnya Kabupaten Tabanan masih layak mengandalkan sector pertanian khususnya produk padi dan peternakan, sementara Kabupaten Buleleng dan Jembrana belum menunjukkan kekuatan sector pariwisata secara maksimal dan sangat mungkin disebabkan oleh jarak atau akses yang relative jauh dari pusat bisnis pariwisata Badung dan Gianyar.

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Tabanan, Buleleng dan Jembrana

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Tabanan 1 Pantai & Pura Tanah Lot (*)
(2 obyek wisata telah populer) 2 Pemandangan Alam Jati Luwih & Pura Petali Tabanan
  3 Pantai Dreamland Alas Kedaton Tabanan
  4 Danau Beratan, Pura Ulun Danu Beratan, Desa Kembang Merta, Pasar Bukit Mungsu, Pasar Pancasari Bedugul Tabanan (*)
  5 Puri Agung Kerambitan Tabanan
  6 Pusat Ukir-Ukiran Penarukan, Pusat Keramik & Gentang Pejaten, Pembuatan Kain Tenun Blayu Tabanan
  7 Taman Makam Pahlawan Margarana Tabanan
  8 Museum Subak Tabanan

 

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Buleleng 1 Bukit & Pura Puncak Penulisan BangliAir Terjun Gitgit Buleleng
(2 obyek wisata telah populer) 2 Sumber Mata Air Panas Banjar Buleleng
  3 Pemandian Air Sanih Buleleng
  4 Danau Buyan & Danau Tamblingan Buleleng
  5 Laut Gili Menjangan Buleleng (*)
  6 Pantai Lovina Buleleng (*)
  7 Brahma Vihara Arama – Banjar Buleleng
  8 Patung Singa Ambara Raja Buleleng
Kab/Kota No Obyek Wisata
Jembrana

(1 obyek wisata telah populer)

 

 

 

1 Pantai Medewi Jembrana
2 Taman Nasional Bali Barat Jembrana (*)
3 Pantai Purancak Jembrana
4 Pelabuhan Gilimanuk
5 Pura Rambut Siwi Jembrana

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Melihat kenyataan di atas, solusi  untuk melakukan pemeratan pembangunan di semua kabupaten dan kota yang ada di Bali, sebaiknya pemerintah provinsi dapat membuat konsensus bersama untuk penentuan skala prioritas pembangunan berdasarkan keunggulan daerah masing-masing; siapa yang menjadi pusat pariwisata, dan siapa sebagai pendukungnya, bagaimana sistem pemerataan yang ideal, serta penentuan komposisi alokasi kontribusi pariwisata terhadap pembangunan daerah di provinsi Bali.

 

3.     Pembangunan Visitor Centers sebagai Instrumen untuk Keberlanjutan, Sudahkan diterapkan  di Bali?

 

Pembangunan Visitor Centers sebagai instrumen untuk Keberlanjutan, Sudahkan diterapkan  di Bali? Pembangunan visitor center yang disediakan untuk pengunjung pada tempat-tempat atau obyek wisata yang menjadi daya tarik wisata di Bali akan menjadi instrument kesungguhan pembangunan pariwisata yang berstandar internasional. Bali yang memiliki ratusan daya tarik wisata nyaris belum banyak diketahui oleh wisatawan karena minimnya informasi untuk mendapatkan data dan informasi yang disebabkan ketiadaan visitor centers. Pelayanan dan informasi yang tidak berstandar internasional juga memberikan persepsi buruk bagi wisatawan tentang kesiapan Bali dalam pengembangan pariwisata. Agenda aktivitas wisata yang nyaris tanpa publikasi yang memadai juga menjadi kelemahan pemasaran pariwisata Bali. Berdasarkan alasan tersebut maka visitor centers akan memainkan peran penting dalam konteks pemasaran internal untuk menambah loyalitas wisatawan atau pengunjung karena dengan layanan visitor centers diharapkan memberikan pengalaman yang berharga dan membawa kesan tentang kesiapan pengelolaan destinasi.

 

3.1.           Bagaimanakah prediksi pariwisata Bali kedepan?

 

Tiga kelompok pengguna untuk dipertimbangkan akan diuntungkan jika visitor center dapat diterapkan di provinsi Bali, dan jika perlu setiap obyek wisata memiliki visitor centers dengan program, system, dan fasilitas yang memadai. Siapa sajakah tiga kelompok pengguna tersebut adalah:

  1. Pengunjung atau wisatawan: wisatawan sebenarnya memerlukan informasi yang dapat mengantarkan pengalamannnya sebelum mereka benar-benar menikmati produk aslinya dan visitor center dapat menyediakan koneksi untuk hal tersebut.
  2. Pengelola obyek: Ada kalanya pengelola obyek wisata memerlukan data-data dan feedback atau guest comment yang dapat dijadikan masukan untuk perbaikan pelayanan dan pengelolaan obyek wisata, namun jika visitor center tidak tersedia maka feedback akan menjadi sangat sulit untuk diperoleh. Preferensi wisatawan tentang pemilihan aktivitas wisata akan menjadi mudah diketahui jika visitor centers dapat mengambil peran didalamnya.
  3. Masyarakat Lokal; Penggunaan fungsional dari Visitor Center oleh kelompok-kelompok masyarakat serta simbol dan nilai semiotik juga akan menjadi pertimbangan penting, di mana visitor center menjadi pintu masuk pertama untuk penyampaian pesan, ide, tema, visi, misi, pembangunan sebuah wilayah atau provinsi khususnya yang berhubungan dengan pariwisata.

 

3.2.Apa Fungsi Visitor Center Bagi Pariwisata Bali?  Beberapa Fungsi Yang Saling Menunjang bagi Pariwisata Bali

 

3.2.1.      Fungsi Pemasaran Internal

Visitor Center memiliki fungsi ganda, dilakukan untuk tingkat yang berbeda. Fungsi yang paling mungkin untuk dirasionalisasi adalah fungsi promosi. Peran ini mengacu pada promosi aktif dari daerah, kota atau wilayah. Ini akan melibatkan agenda yang kuat dari apa yang harus dilakukan di daerah. Pada dasarnya peran ini akan  merangsang permintaan wisata dan berusaha untuk meningkatkan pengeluaran pengunjung di suatu area tertentu (Gitelson & Perdue, 1987). Kegiatan komersial terkait dengan fungsi ini meliputi penyediaan jasa pemesanan dan ritel terhadap produk local. Visitor Centers fungsinya dapat dilihat untuk menyediakan sumber  informasi yang nyata yang dapat dipercaya sesuai fakta dilapangan. Visitor center juga menjadi upaya menuju akreditasi untuk menjamin kualitas layanan dan penting untuk mempertahankan jaminan representasi dari informasi yang diberikan pada kawasan wisata di daerah.

3.2.2. Fungsi Orientasi dan Peningkatan Kunjungan

Fungsi kedua dari Visitor Center dapat dilihat pada konsentrasi pada kualitas pengalaman bagi pengunjung. Pada hakekatnya setiap pengunjung memerlukan penjelasan yang lebih rinci dengan filosofis, historis, dan visitor center akan berperan penting sebagai media wisatawan melakukan orientasi dan jika wisatawan dapat dipuaskan akan diharapkan mereka akan menjadi pemasar yang jitu untuk dapat meningkatkan kunjungan ke kawasan wisata daerah khususnya kawasan wisata yang telah ada di seluruh pulau Bali.

3.2.3. Fungsi Kontrol dan Penyaringan

Visitor Center akan menjadi program dan media yang dapat mengontrol aliran pengunjung sehingga sumber daya dan pengaturan berada di bawah kendali sebuah wilayah. Fungsi ini akan menjadi penyaringan terhadap pengunjung untuk mengunjungi lokasi yang ditetapkan, memberikan alternatif lokasi yang kurang ramai dan penggunaan visitor center dapat  dihubungankan dengan kegiatan lain seperti tur yang menerapkan manajemen kapasitas pada situs tertentu. Fungsi pengelolaan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat local, fungs konservasi, dan reservasi dapat dilakukan dan dikontrol oleh program dari visitor centers.

3.2.4. Fungsi Substitusi

Sebuah fungsi keempat dari Visitor Center  adalah untuk menjadi pengganti objek wisata atau setidaknya menjadi daya tarik besar dalam dirinya sendiri. Visitor Center menekankan fungsi ini sering disebut pusat penafsiran atau lebih sederhananya diberi label sebagai tempat wisata seperti Pusat Margasatwa. Visitor Center juga dapat mengemban peran lain sebagai pusat pertolongan pertama bagi pengunjung atau wisatawan yang mengalami masalah seperti misalnya yang menjadi korban tindak criminal, sakit, kehilangan dokumen, dan juga menjadi pusat pengaduan pengunjung untuk berbagaim masalah yang dihadapi wisatawan selama mereka berlibur.

3.2.5. Fungsi Plus

 

Visitor Center dapat bertindak sebagai fasilitas masyarakat untuk berbagai kegiatan budaya dan sosial lokal, terutama di mana ruangnya berisi ruang teater atau pertemuan. Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa fungsinya lebih simbolis dari sebuah Visitor Center dan makna dari suatu kota atau situs untuk pariwisata adalah alasan utama untuk keberadaan Visitor Center tersebut.

 

4.     Kesimpulan

 

Satu kata kunci untuk dapat menerapkan konsep Visitor Centers melalui program-program pendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan tersebut adalah kata kesungguhan. (Font, 2001).  Idealnya ada pertemuan antara sisi penawaran yang telah disepakai secara sungguh-sungguh oleh semua pemangku kebijakan termasuk didalamnya masyarakat local dan  industri bersinggungan harmonis dengan sisi permintaan yang didalamnya melibatkan unsur  wisatawan sebagai penikmat produk destinasi.

Kata kunci berikutnya adalah disiplin untuk mematuhi semua aturan dan peraturan yang telah disepakati, kelompok industri mestinya digerakkan oleh sikap  disiplin untuk mematuhi aturan yang ada pada sebuah destinasi. Para pemangku kebijakan yang taat pada aturan, tidak ada lagi istilah “pagar makan tanaman” sangat diperlukan untuk mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan melalui semua program yang telah ditawarkan di atas. Masyarakat local yang senantiasa bersungguh-sungguh dalam memberikan pelayanan dan sambutan bagi semua wisatawan yang datang sehingga citra dan pencitraan keramahan penduduk local dapat memperkuat citra dan branding destinasi pariwisata Bali.

 

 

Daftar Pustaka

 

Asia Travel Guide (2004). Travel Info Asia. S o u r c e : h t t p : / / w w w . a s i a v o y a g e 2 4 . c o m / – t r a v e l – g u i d e / i n d e x . h t m l .Accessed: 31 March 2004.

Badan Pusat Statistik. 2005. ”Data Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Nusantara yang langsung datang ke Bali. (Laporan) BPS Prov Bali.

Butler, R. W. 1980. “The Concept of a Tourism Area Life Cycle of Evolution:  Implications  for Management of Resources.” The Canadian Geographer 24(1), p. 8.

 

Ballantyne, R. (1995). Interpreters’ conceptions of Australian aboriginal culture and heritage: Implications for interpretive practise. Journal of Environmental Education, 26(4), 11-17.

 

Barrow, G. (1996). Visitor centres: Financial planning and management issues. Interpretation, 1(3), 20-21.

 

Bath, B. (1996). Centres fit for visitors. Interpretation, 1(3), 14-17.

 

Benson, D., & Baird, R. (1979). Park techniques: Designing good basic visitor centres. Park, 4(3), 16-20.

 

Bitgood, S., Benefield, A., Patterson, D., & Nabors, A. (1986). Understanding your visitors: Ten factors that influence their behaviour. Technical Report No. 87.30. Psychology Institute, Jacksonville State University.

 

Bitgood, S., Patterson, D., & Benefield, A. (1988). Exhibit design and visitor behavior. Environment and Behavior, 20(4), 474-491.

 

Blahna, D., & Roggenbuck, J.W. (1979). Planning interpretation which is ‘ in tune’ wi th visitor expectat ions. Journal of Interpretation, 4(2), 16-19.

 

Bramwell, B., & Lane, B. (2000). Collaboration and partnerships in tourism planning. In B. Bramwell & B. Lane (Eds), T o u r i s m collaboration and partnerships: Pol it ics, pract ise and s u s t a i n a b i l i t y (pp. 1-19) . Clevedon, UK: Channel View Publications.

 

Carter, J. (1997). A sense of place: An interpretive planning handbook. Scotland, UK: Tourism and Environment Initiative.

 

Christiansen, J. (1994). Capture your entire audience. Legacy, 5(4), 17-19.

 

de Araujo, L.M., & Bramwell, B. (2000). Stakeholder assessment and collaborative tourism planning: The case of Brazil’s Costa Dourada Project. In B. Bramwell & B. Lane (Eds), T o u r i s m collaboration and partnerships: Pol it ics, pract ise and s u s t a i n a b i l i t y (pp. 272-294). Clevedon, UK: Channel View Publications.

 

Disparda. 2003a. Data Objek dan Daya Tarik Wisata tahun 2003. Denpasar: Disparda Provinsi Bali.

Disparda. 2003b. BALI, Objek dan Daya Tarik Wisata tahun 2003. (Buku panduan pramuwisata). Denpasar: Disparda Provinsi Bali.

 

Deery, M., & Iverson, R. (1996) . Enhancing product ivity: Intervention strategies for employee turnover. In N. Johns (Ed.), Productivity management in hospitality and tourism (pp. 68-95). London: Cassell.

 

Fallon, L.D., & Kriwoken, L.K. (2003). Community involvement in tourism infrastructure – the case of the Strahan Visitor Centre, Tasmania. Tourism Management, 24, 289-308.

 

Fesenmaier, D., & Vogt, C. (1993a). Evaluating the economic impact of travel information provided at Indiana welcome centres. Journal of Travel Research, 31(3), 33-39.

 

Fesenmaier, D., & Vogt, C. (1993b). Investigating the influence of the welcome centre on travel behaviour. Journal of Travel Research, 31(3), 47-52.

 

Field, D.R., & Wagner, J.A. (1973). Visitor groups and interpretation in parks and other outdoor leisure settings. Journal of Environmental Education, 5(1), 12-17.

 

Flanagan, R. (1996). Anti-museum: The case of the Strahan Visitor Centre. In S. Hunt (Ed. ) , Si tes – Nail ing the debate: Archaeology and interpretation in museums (pp. 181-197). Sydney, Australia: Historic Trust of NSW, Lyndhurst.

 

Fodness, D., & Murphy, B. (1999). A model of tourist information search behaviour. Journal of Travel Research, 37, 220-230.

 

Gartner, W. (1993) Image formation process. Journal of Travel and Tourism Marketing 2(2/3), 191-216.

 

Gitelson, R.J., & Perdue, R.R. (1987). Evaluating the role of state welcome centres in discriminating travel related information in North Carolina. Journal of Travel Research, 25(1), 15-19.

 

Grenier, D., Kaae, B., Miller, M., & Mobley, R. (1993). Ecotourism, landscape architecture and urban planning. Landscape and Urban Planning, 25, 1-16.

 

Gunn, C. (1994). Tourism planning (3rd ed.). New York: Taylor and Francis.

 

Hardy, A., & Beeton, R. (2001). Sustainable tourism or maintainable tourism: Managing resources for more than average outcomes. Journal of Sustainable Tourism, 9(3), 168-192.

 

Hobbin, S. (1999). Accreditation of Queensland visitor information centres: A consumer-based perspective. Journal of Vacation Marketing, 5(4), 387-399.

 

Jamal, T.B., & Getz, D. (1999). Community roundtables for tourismrelated conflicts: The dialectics of consensus and process structures. Journal of Sustainable Tourism, 7(3&4), 290-313.

 

Kandampully, J. (2002). Services management: The new paradigm in hospitality. French’s Forest, NSW: Pearson Education.

 

Knudson, D.M., Cable, T.T., & Beck, L. (1999). Interpretation of cultural and natural resources. Pennsylvania: Venture Publishing.

 

Lane, B. (1991) , Sustainable tourism: A new concept for the interpreter. Interpretation Journal, 49, 1-4.

 

Lew, A.A., Yu, L., Ap, J., & Guangrui, Z. (Eds.) (2003). Tourism in China. New York: Haworth Hospitality Press.

 

Lue, C., Crompton, J.L., & Fesenmaier, D. (1993). Conceptualisation of multi -destination pleasure trips. Annals of Tourism Research, 20(2), 289-301.

 

Mack, J.A., & Thompson, J.A. (1991). Visitor centre planning: Using visitor interests and available time. In G. Moscardo & K. Hughes (Eds.) , Visitor centres: Exploring new territory. Townsville: James Cook University of North Queensland.

 

Moscardo, G. (1998). Interpretation and sustainable tourism: Functions, examples and principles. Journal of Tourism Studies, 9(1), 2-13.

 

Moscardo, G. (1999). Making visitors mindful: Principles for creating sustainable visitor experiences through effective communication. Champaign, Illinois: Sagamore Publishing.

 

Moscardo, G., & Hughes, K. (Eds.) (1991). Visitor Centres: Exploring New Territory. Proceedings of the National Conference on Visitor Centres, Townsville, April 28th-May 1st, 1991. Townsville: Department of Tourism, James Cook University of North Queensland.

 

Parolin, B. (2001). Structure of day trips in the Illawarra tourism region of New South Wales. Journal of Tourism Studies, 12(1), 11-27.

 

Pearce, P.L. (1991). Visitor centres and their functions in the landscape of tourism. In G. Moscardo & K. Hughes (Eds), Visitor centres: Exploring New Territory. Townsville: James Cook University.

 

Pearce, P.L., Moscardo, G., & Ross, G.F. (1996). Tourism community relationships. Oxford: Elsevier.

 

Poon, A. (1993). Tourism technology and competitive strategies. Wallingford, Oxon: CAB International.

 

Poon, A. (2000). How the U.K. Travel market will operate 2005. Source: www.tourism-intelligence.com/PDF/british-TOC.pdf

 

Robinson, M. (2000). Collaboration and cultural consent: Refocusing sustainable tourism. In B. Bramwell & B. Lane (Eds), Tourism collaboration and partnerships: Pol it ics, pract ice and sustainability (pp. 295-313). Clevedon, U.K.: Channel View Publications.

 

Roggenbuck, J.W. (1992). Use of persuasion to reduce resource impacts and visi tor conflicts. In M.J. Manfredo (Ed.), Influencing human behavior (pp. 149-208. Champaign, Illinois: Sagamore. Scheyvens, R. (1999). Ecotourism and the empowerment of local communities. Tourism Management, 20, 245-249.

 

Serrell, B. (1996). Exhibit labels: An interpretive approach. Walnut Creek, California: Sage.

 

Simpson, K. (2001). Strategic planning and community involvement as contributors to sustainable tourism development. C u r r e n t Issues in Tourism, 4(1), 3-41.

 

Stewart, E., Hayward, B., Devlin, P., & Kirby, V. (1998). The “place” of interpretation: A new approach to the evaluat ion of interpretation. Tourism Management, 19, 257-266.

 

Stewart, W., Lue, C., Feisenmaier. D., & Anderson, B. (1993). A comparison between welcome center visitors and general highway auto travellers. Journal of Travel Research, 31(3), 40- 45.

 

Sugden, F., & Saunders, R. (1991). Not just a whim: Visitor centres as a part of strategic planning. In G. Moscardo & K. Hughes (Eds), Visitor centres: Exploring new territory (pp. 66-77). Townsville, Australia: James Cook University.

 

Tan-Coll is, J. (1999, Dec. 3). Singapore: One-stop shop for information. Travel Trade Gazette Asia, Singapore.

 

Teo, P., Chang, T.C., & Ho, K.C. (Eds.) (2001). Interconnected worlds: Tourism in Southeast Asia. Oxford, U.K.: Elsevier.

 

Tilden, F. (1977). Interpreting our heritage. Chapel Hill, NC: University of North Carolina Press. Uzzell, D., & Ballantyne, R. (1998). Contemporary issues in heritage and environmental interpretation: Problems and prospects. London, UK: The Stationery Office.

 

Toth, R. 2000. Implementing a Worldwide Sustainable Tourism Certification System. Alexandria, Va.: R.B. Toth Associates.

Tourism Vision 2020 – UNWTO: pada http://pandeputusetiawan.wordpress.com

 

World Tourism Organization. 1999. <http://www.world-tourism.org/&gt;. Accessed September 16, 2003.

World Travel and Tourism. Council. 1996. Travel and Tourism. Press Release. Brussels, Belgium: WTTC.

United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid.


[1] A clearly labelled, publicly accessible, physical space with personnel providing pre-dominantly free of charge information to facilitate travellers’ experiences.

[2] Visitor centres are not just central city or downtown phenomena but appear in transport nodes such as airports and railway stations, in or on the outskirts of small towns and near major at tract ions and environmental sites. It is especially the regionally based visitor centres, their purposes and planning which are the focus of the present concern.

[3]Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali

[4] Sektor Usaha Pariwisata meliputi: Perdag., hotel & restoran

[5] NusaBali, Selasa 8 Pebruari 2011 Pertumbuhan Ekonomi Bali 5,83 Persen

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Journal, News. Bookmark the permalink.

2 Responses to Fungsi dan Perencanaan Visitor Center Pariwisata Daerah

  1. terima kasih, sangat bermanfaat untuk tugas akhir arsitektur saya ‘Pusat Pelayanan Wisatawan Terpadu Provinsi D.I.Yogyakarta’

  2. sangat bermanfaat…menambah literatur TA sya ‘Komodo national park visitor centre….
    thank you pak….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s