Wisata Kota sebagai Pariwisata Persembahan untuk Generasi Emas

Wisata Kota sebagai Pariwisata Persembahan untuk Generasi Emas

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

 

Kenapa Wisata Kota?

Pengembangan Kota Wisata akan menjadi propek yang menjanjikan dimasa yang akan datang untuk dikembangkan di Indonesia dengan berbagai alasan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun non ilmiah. Tidak dapat disangkallagi bahwa kota selalu menjadi pusat perhatian pembangunan termasuk juga pembangunan sektor pariwisata.

Dari faktor sosial demografi penduduk kota jauh lebih mudah menerima isu-isu terkini yang terkait modernisasi dan pemberdayaan ekonomi karena memang kaum terpelajar lebih  dominan berada di daerah perkotaan. Sementara jika trend pertumbuhan wilayah, ada kecenderungan jumlah kota semakin meningkat dari masa ke masa, dan sementara perdesaan semakin menyempit karena arus modernisasi dan konversi perdesaan menjadi daerah perkotaan baru.

Laporan dari The Comparative Urban Studies Project di Woldrow Wilson tahun 2006 menjelaskan bahwa telah terjadi pertumbuhan penduduk perkotaan di dunia dengan sangat berarti sejak tahun 2000an, 41% dari penduduk dunia tinggal di perkotaan, dan pada tahun 2005 ada 50% penduduk dunia tinggal di perkotaan, sementara laporan terakhir dari World Bank menjelaskan bahwa perkembangan jumlah penduduk perkotaan relatif tinggi, dan bahkan diprediksi pada tahun 2050, terdapat 85% penduduk dunia akan hidup di daerah perkotaan.

Pada tahun 1980 persentase jumlah penduduk kota di Indonesia adalah 27,29% dari jumlah penduduk seluruh Indonesia. Pada tahun 1990 persentase tersebut bertambah menjadi 30,93%. Diperkirakan pada tahun 2020 persentase jurnlah penduduk kota di Indonesia mencapai 50% dari jumlah penduduk seluruh Indonesia (Nawir, 2008), persentasi ini adalah prediksi yang sangat menarik bagi pengembangan wisata kota di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2011, jumlah penduduk Indonesia 2010 usia muda lebih banyak dibandingkan dengan usia tua. Jumlah anak kelompok usia 0-9 tahun sebanyak 45,93 juta, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Artinya perencanaan  wisata kota Indonesia adalah persembahan untuk generasi emas Indonesia.

Dari paparan empiris tersebut di atas, pengembangan wisata kota nyaris di seluruh dunia akan menjadi trend yang relatif penting untuk dipikirkan dalam tujuan pemberdayaan masyarakat.

 

Daya Tarik daerah Perkotaan?

Coba kita rinci dari beberapa unsur, misalnya unsur aksesibiltas, di mana bandara, infrastruktur jalan rasa, fasilitas publik selalu kita temukan lebih baik daripada daerah perdesaan. Sementara jika kita lihat dari unsur atraksi atau daya tarik, hampir sebagaian besar objek dan atraksi wisata berada di daerah perkotaan. Lalu jika kita lihat dari unsur amenitas, sangat jarang seorang pebisnis atau investor mau membangun hotel atau restoran di daerrah perdesaan. Dan pada akhirnya jika kita lihat dari unsur ensileri atau kelembagaan kepariwisataan, nyaris sebagaian besar berpusat di daerah perkotaan.

Berikut Sumberdaya yang melekat pada sebuah kota yang dapat dikemas menjadi daya tarik wisata, yakni:

  1. Balai Kota: hampir setiap kota memiliki Balai Kota yang sengaja dibangun untuk di gunakan sebagai jantung pemerintahan kota. Bangunan ini biasanya dibangun dengan arsitektur yang sangat indahnya dan memiliki karakteristik tertentu sesuai ciri khas sebuah kota.
  2. Kawasan Jalan tertentu yang biasanya memiliki mitologi tertentu seperti horor, nostalgia, historis, heroik, dan sebagainya yang biasanya melekat dan menjadi ciri khas tersendiri bagi setiap kota.
  3. Monumen Kota, yang memiliki pesan edukasi historis atau sosial atau religius yang biasanya juga dimiliki oleh kota-kota di Indonesia.
  4. Kuliner juga menjadi daya tarik tersendiri yang dapat dikemas oleh setiap kota di Indoonesia untuk menjadi daya tarik wisata yang menarik.
  5. Kampus atau Universitas yang memang dirancang dan citrakan sebagai aset kota yang dapat dijadikan daya tarik wisata edukasi, dan ciri ini juga dimiliki hampir sebagian besar kota-kota di Indonesia.
  6. Mall atau Pusat perbelanjaan atau Pasar Tradisional juga menjadi ciri khas bagi setiap kota dan akan menjadi daya tarik yang amat penting untuk dikemas menjadi daya tarik wisata kota.
  7. Alun-alun dan Taman Kota adalah ruang terbuka yang biasanya menjadi daya tarik wisata kota dan juga melekat pada identitas sebuah kota.
  8. Museum Kota juga dimiliki sebagian besar kota-kota didunia yang biasanya dikelola sebagai bagian dari wujud pelestarian terhadap benda-benda purbakala warisan sebuah kota yang mungkin bernilai mitos, atau warisan budaya.
  9. Pasar Malam juga menjadi ciri khas sebuah kota dan pasar malam merupakan denyut jantung perekonomian sebuah kota, dan jika dapat dikelola secara profesional akan dapat menjadi daya tarik wisata kota. Dan banyak lagi potensi daya tarik wisata kota yang dapat dikembangkan seperti misalnya taman rekreasi dan sebagainya mengikuti kreatifitas dan daya inovasi pemerintah kota setempat.

 

Integrasi Unsur terkait

Pengembangan Wisata Kota akan menjadi trends menarik dimasa depan berdasarkan banyak alasan yang rasional, namun demikian potensi yang bagus akan lebih berhasil jika dapat dikembangkan dan dikelola dengan manajemen kota yang terintegrasi dalam konsep totalitas produk  wisata yang saling terkait dengan yang lainnya. Minimal ada empat unsur yang harus diintegrasikan yakni unsur atraksi atau daya tarik wisata, unsur amenitas atau infrastruktur dan fasilitas pendukung, unsur aksesibilitas berupa publik transportasi yang baik, manajemen transportasi yang efesien dan efektif. Dan integrasi yang tidak kalah pentingnya adalah unsur ensileri yang merupakan software dari totalitas produk wisata kota sebagai pengendali, pengeoperasi, dan evaluator. Unsur ensilari dapat dibentuk dalam sebuah badan khusus atau komite atau apalah namanya yang penting ada yang merencanakan, ada yang menjalankan, dan harus ada yang mengontrolnya agar apa yang diharapkan dari pengembangan wisata kota dapat berhasil sebagai Persembahan Untuk Generasi Emas Indonesia yang cerdas, cermat, dan bijak dalam pengelolaannya.

 

 

Penulis: Dekan Fakultas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura Bali, Kandidat Doktor Pariwisata Universitas Udayana Bali.

 

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Leisure. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s