TINGKATKAN CITRA INDONESIA SEBAGAI NEGARA AGRARIS

I GUSTI BAGUS RAI UTAMA, SE., MMA., MA.

AGROWISATA SEBAGAI PARIWISATA ALTERNATIF DI INDONESIA

Solusi Masif Pengentasan Kemiskinan

 

TINGKATKAN CITRA INDONESIA SEBAGAI NEGARA AGRARIS

 

 

3.1. Pertanian adalah Citra Indonesia

Sebelum krisis ekonomi tahun 1998, Indonesia pernah menjadi Negara dengan kekuatan ekonomi baru barada bersama-sama dengan Malaysia dan Thailand. Indonesia sempat menjadi model pembangunan ekonomi yang bekelanjutan khususnya untuk Negara sedang berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik (Tambunan, 2006).

Saat ini sector pertanian masih memegang peranan penting karena hampir 45% (41 juta) penduduk Indonesia bekerja pada sector ini dari 100 juta angkatan kerja yang ada. Rata-rata berkontribusi 17% terhadap GDP (DepTan Indonesia, 2005). Menurut ADB, masyrakat miskin mayoritas bekerja sebagai petani, dan jika 45% penduduk Indonesia adalah petani, berarti penduduk miskin Indonesia masih cukup tinggi.

Pernyataan di atas  dikuatkan oleh BPS, data Biro Pusat Statistik Indonesia juga menunjukkan bahwa sampai Agustus 2010, jumlah tenaga kerja Indonesia di bidang pertanian, kehutanan dan perikanan adalah 41,4 juta dari total angkatan kerja sebanyak 108,2 juta, sedangkan sisanya terdistribusi dalam delapan bidang pekerjaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa bidang pertanian sesungguhnya paling potensial dalam menyerap tenaga kerja. Persoalannya adalah bagaimana membuat pasar tenaga kerja pertanian tersebut diisi oleh orang-orang yang benar-benar potensial, mempunyai visi dan instink bisnis yang kuat sehingga dapat menggerakkan investasi besar di bidang pertanian.

Menurut Yuwono (2011) membangun pertanian adalah membangun citra dan kedaulatan Indonesia menuju kejayaan yang pernah disandang oleh Indonesia sebagai Negara agraris yang kuat, kaya dengan sumber daya dan hasil pertanian yang berkualitas tinggi di mata internasional. Sekarang yang menjadi persoalannya adalah, bagaimana cara membangun dan membangkitkan gairah untuk membangun sector pertanian tersebut? Berikut fakta-fakta yang ditulis oleh Prof. Yuwono seperti yang tertulis di Majalah Time, Amerika Serikat, dalam edisi 11 Juli 2011, menulis sebuah laporan yang sangat menarik mengenai kecenderungan yang sekarang berlangsung di Amerika Serikat mengenai pertanian.

Dalam artikel berjudul Want to Make More than a Banker? Become a Farmer!, Stephen Gandel menulis bahwa di Amerika Serikat saat ini mulai timbul kesadaran bahwa menjadi petani adalah pekerjaan paling bagus pada abad ke-21. Penghasilan petani meningkat tajam karena kenaikan harga pangan. Meskipun ada keraguan di beberapa pihak, namun Jim Rogers, seorang penulis terkenal mengenai investasi merasa sangat yakin bahwa pertanian akan meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade ke depan, lebih cepat dibanding dengan industri-industri yang lain, bahkan termasuk Wall Street sebagai kiblat investasi.

Dilaporkan juga bahwa selama beberapa tahun terakhir, karena adanya kenaikan bisnis biofuel, bisnis pertanian telah tumbuh sangat meyakinkan. Pada saat ekonomi secara keseluruhan hanya tumbuh pada laju 1,9%, penghasilan dari bidang pertanian telah meningkat sebesar 27% tahun sebelumnya dan diramalkan akan meningkat lagi sebesar 20% pada tahun 2011. Sementara itu, harga-harga real estate telah jatuh lagi tahun ini. Saat ini bisnis pertanian telah menjadi salah satu investasi paling panas di Wall Street.

Setengah agak heran, Prof. Yuwono menuliskan kenapa selama ini bidang pertanian di Indonesia dianggap sebagai bidang usaha yang tidak terlalu seksi untuk investasi besar, kecuali pada komoditas tertentu pada skala perkebunan besar, misalnya kelapa sawit?  Dicurigai factor utamanya  adalah kurangnya  pencitraan dan perhatian terhadap pertanian oleh pemerintah dan masyarakat selama ini dan akhirnya berdampak negatif terhadap minat terhadap bidang pertanian. Pernyataan tersebut nampaknya tidak dapat kita tolak, data dari hasil penerimaan mahasiswa baru melalui Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) menegaskan hal ini. Tidak perlu ditutupi atau diingkari kenyataan bahwa banyak calon mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi pertanian berasal dari kalangan yang secara akademis bukan yang terbaik.

Prof Yuwono, terus bertanya-tanya dan pertanyaan kemudian mengiang tak habis-habis seputar apa sebenarnya yang salah dengan pertanian di negara kita sehingga pertanian menjadi bidang pendidikan dan usaha yang tidak cukup kuat menggiring investasi maupun minat calon mahasiswa? Beberapa faktor yang mungkin dapat menjelaskan fenomena ini antara lain adalah kebijakan yang belum sepenuhnya pro petani dan pertanian. Memang harus diakui bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk pertanian, termasuk pembangunan infrastruktur yang diperlukan.

Meskipun demikian, harus disadari bahwa pertanian bukan hanya persoalan ketersediaan lahan dan infrastruktur. Kebijakan atas harga komoditas pertanian yang lebih menjanjikan untuk perbaikan kehidupan petani, kebijakan subsidi dan permodalan pertanian, penghapusan impor produk pertanian yang bersaing head-to-head dengan produk pertanian lokal, kebijakan yang tegas terhadap kecenderungan alih fungsi lahan, penindakan tegas terhadap penimbunan bahan pangan, adalah beberapa contoh kebijakan yang harus menjadi perhatian penuh penentu kebijakan agar pertanian menjadi lahan bisnis yang menarik. Minat terhadap bidang pertanian, baik dalam konteks usaha maupun pendidikan, diyakini akan meningkat dengan tajam jika ada kebijakan yang menjadikan pertanian sebagai bisnis yang menarik, seperti halnya bisnis kertas berharga di pasar saham.

 

Sebenarnya ada jalan keluar untuk membangkitkan sector pertaian Indonesia, yakni mereka yang akan berkecimpung dalam bidang pertanian, sebagai mahasiswa maupun pengusaha pertanian, tentu memerlukan jaminan masa depan pertanian dan pemerintah mesti memberikan dukungannya. Seperti contoh yang terjadi di Amerika Serikat, booming bisnis pertanian telah memengaruhi juga pasaran kerja, baik yang terkait dengan pertanian secara langsung maupun industri lain, misalnya industri perangkat penyimpanan hasil pertanian dan industri perumahan di daerah-daerah pertanian.

Tantangan yang harus dihadapi di Indonesia untuk membuat pertanian menjadi ladang investasi dan jaminan masa depan yang menarik memang cukup berat. Persoalannya cukup kompleks, meskipun banyak di antaranya lebih disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang setengah hati, misalnya kebijakan impor produk pertanian yang bersaing langsung dengan produk lokal. Sungguh ironis bahwa sekarang ini lebih mudah untuk menemukan apel Washington, jeruk dari China, beras dari Vietnam, dan lain-lain di pasar tradisional dibanding dengan menemukan produk buah eksotis lokal, misalnya sawo.

 

Tidak ada yang dapat memungkiri peranan pertanian bagi tegaknya suatu negara. Kemampuan suatu negara untuk mencukupi kebutuhan pangan bagi warganya merupakan faktor kritis yang menentukan apakah suatu negara dapat menegakkan kedaulatannya khususnya kedaulatan pangan. Oleh karena itu menempatkan pertanian dalam posisi yang setara dengan bidang-bidang keilmuan dan usaha yang lain, keteknikan, kedokteran, manajemen dan lain-lain, menjadi suatu keharusan. Persoalannya adalah, seperti telah disampaikan di depan, apakah negara mampu meyakinkan masyarakat bahwa belajar ilmu pertanian, atau berinvestasi di bidang pertanian, dapat memberikan jaminan masa depan yang menjanjikan? Meskipun demikian, masyarakat juga perlu membuka kesadaran diri untuk memberikan penghargaan yang layak bagi petani dan usaha tani dan tidak menempatkannya dalam posisi yang inferior dibanding dengan bidang lain.

Dari pernyataan di atas, para akademisi dan praktisi pariwisata mencoba menolong sector pertanian yang nyaris mati  suri ini dengan mengembangkan agrowisata. Jika agrowisata dapat dikembangkan secara masif di Indonesia, maka jalan untuk mengentaskan masyarakat miskin dari kubangan kemiskinan tersebut semakin menemui jalan terang setidaknya pariwisata dapat menjadi penolong bagi program pengentasan kemiskinan tersebut dan lambat laun sector pertanian dapat dibangkitkan kembali seperti yang terjadi di Amerika saat ini.

 

 

 

3.2. Membangun Citra Pertanian melalui Agrowisata Indonesia

 

Menurut Pitana (2005), membangun pariwisata adalah membangun sebuah citra suatu destinasi, harusnya wilayah yang akan dikembangkan menjadi agrowisata mempunyai citra (image) tertentu, yang akan menjadi “mental maps” seseorang terhadap suatu destinasi. Citra harus mengandung keyakinan, kesan, dan persepsi. Citra yang terbentuk di pasar merupakan kombinasi antara berbagai faktor yang ada pada destinasi yang bersangkutan (seperti cuaca, pemandangan alam, keamanan, kesehatan dan sanitasi, keramahtamahan, dan lain-lain) di satu pihak, dan informasi yang diterima oleh calon wisatawan dari berbagai sumber di pihak lain, atau dari fantasinya sendiri.

Fantasi, walaupun tidak real, sangat penting di dalam mempengaruhi calon wisatawan (Nurhayati, 1996; Pitana, 2005). Citra sangat penting dalam industri pariwisata, sehingga Buck, (1993) dan Pitana (2005) menganggap, pariwisata adalah industri yang berbasiskan citra, karena citra akan mampu membawa calon wisatawan ke dunia simbol dan makna. Citra agrowisata adalah citra pertanian, sebuah keharusan penguatan citra pertanian tersebut  adalah citra agrowisata yang akan ditawarkan kepada calon wisatawan. Dinamika sosial yang berhubungan dengan citra agrowisata sebaiknya juga menjadi perhatian bagi pengelola agrowisata, apakah citra yang ada tentang agrowisata yang sedang dikelola meningkat, masih tetap ajeg, atau justru telah mengalami penurunan citra.

Citra harusnya merupakan core product dari agrowisata yang akan dikembangkan, dan citra dapat dibentuk dan dipengaruhi oleh cuaca, pemandangan alam, keamanan, budaya, kesehatan, dan apa saja bentuknya yang penting citra tersebut menjadi factor penarik dan pendorong wisatawan untuk datang ke sebuah agrowisata. Sebagai contoh, kabupaten Sleman kuat citranya tentang salak pondoh maka maka agrowisatanya akan bercitrakan agrowisata salak pondoh. Contoh lainnya, di kabupaten Malang kuat citranya tentang Apel maka agrowisata akan menjadi agrowisata apel Malang, begitu seterusnya.

 

 

3.3. Membangun Persepsi Wisatawan

 

Menurut Simamora (2000), terdapat dua sumber persepsi, antara lain,  persepsi langsung dan tidak langsung. Persepsi tidak langsung terbentuk dari media yang dipergunakan oleh produsen dalam memperkenalkan produknya, dapat berupa suara manusia, kata-kata indah dan angka-angka cetakan di media massa.

Sedangkan persepsi langsung terbentuk dari indera penglihatan, pendengaran, pembauan, pencicipan, dan perasa. Persepsi langsung dapat dibedakan menurut sumbernya menjadi tiga, antara lain.

1)            Persepsi tentang suatu produk yang diperoleh dari indikator-indikator yang berhubungan langsung dengan suatu produk. Indikator-indikator tersebut misalnya, ramainya pengunjung di suatu pusat perbelanjaan, banyaknya produk yang beredar di masyarakat.

2)            Persepsi yang diperoleh setelah melakukan preperensi atau perbandingan terhadap produk/objek wisata lain yang sejenis, misalnya Kebun Raya Cibodas Bandung dianggap lebih baik dari pada Kebun Raya Eka Karya Bali.

3)            Persepsi yang terbentuk dari pengamatan langsung dan ini paling penting karena hal ini merupakan latar belakang yang diperoleh seseorang dari pengamatan sebuah situasi secara langsung.

Dalam konteks pembangunan agrowisata, persepsi harapkan terbentuk dari pengamatan atas atribut yang dimiliki oleh sebuah agrowisata atau wilayah secara langsung melalui kelima indera wisatawan, yaitu penglihatan, penciuman, peraba, perasa, dan pendengaran wisatawan yang berkunjung.

Persepsi wisatawan terhadap atribut objek wisata agro merupakan pandangan wisatawan  berdasarkan atribut-atribut yang ditawarkan oleh suatu objek wisata agro. Persepsi positif akan mendorong wisatawan untuk mengunjungi suatu objek wisata agro, sedangkan persepsi negatif akan mendorong wisatawan  untuk tidak mengunjungi suatu objek wisata agro tersebut.

 

 

3.4. Motivasi Wisatawan untuk Berwisata

Menurut Sharpley, 1994 dan Wahab, 1975 (dalam Pitana, 2005) menekankan,  motivasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan  pariwisata, karena motivasi merupakan “Trigger” dari proses perjalanan wisata, walau motivasi ini acapkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri.

Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal, motivasi-motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar sebagai berikut: (1) Physical or physiological motivation yaitu motivasi yang bersifat fisik antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai dan sebagainya. (2) Cultural motivation yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain. (3)Social or interpersonal motivation yaitu motivasi yang bersifat sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi (prestice), melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang membosankan dan seterusnya. (4) Fantasy motivation yaitu adanya motivasi di daerah lain sesorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan dan yang memberikan kepuasan psikologis (McIntosh, 1977 dan Murphy, 1985; dalam Pitana, 2005). Pearce, 1998 (dalam Pitana, 2005) berpendapat, wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata termotivasi oleh beberapa faktor yakni: Kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, prestise, dan aktualiasasi diri.

 

 

 

3.5. Faktor-faktor Pendorong Wisatawan untuk Berwisata

 

Faktor-faktor  pendorong untuk berwisata sangatlah penting untuk diketahui oleh siapapun yang berkecimpung dalam industri pariwisata termasuk agrowisata (Pitana, 2005). Dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin melakukan perjalanan wisata, tetapi belum jelas mana daerah yang akan dituju. Berbagai faktor pendorong seseorang melakukan perjalanan wisata menurut Ryan, 1991 (dalam Pitana, 2005), sebagai berikut:

1)            Escape. Ingin melepaskan diri dari lingkungan yang dirasakan menjemukan, atau kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari.

2)            Relaxation. Keinginan untuk penyegaran, yang juga berhubungan dengan motivasi untuk escape di atas.

3)            Play. Ingin menikmati kegembiraan, melalui berbagai permainan, yang merupakan kemunculan kembali sifat kekanak-kanakan, dan melepaskan diri sejenak dari berbagai urusan yang serius.

4)            Strengthening family bond. Ingin mempererat hubungan kekerabatan, khususnya dalam konteks (visiting, friends and relatives). Biasanya wisata ini dilakukan bersama-sama (group tour)

5)            Prestige. Ingin menunjukkan gengsi, dengan mengunjungi destinasi yang menunjukkan kelas dan gaya hidup, yang juga merupakan dorongan untuk meningkatkan status atau social standing.

6)            Social interaction. Untuk melakukan interaksi sosial dengan teman sejawat, atau dengan masyarakat lokal yang dikunjungi.

7)            Romance. Keinginan bertemu dengan orang-orang yang bisa memberikan suasana romantis atau untuk memenuhi kebutuhan seksual.

8)            Educational opportunity. Keinginan melihat suatu yang baru, memperlajari orang lain dan/atau daerah lain atau mengetahui kebudayaan etnis lain. Ini merupakan pendorong dominan dalam pariwisata.

9)            Self-fulfilment. Keinginan menemukan diri sendiri, karena diri sendiri biasanya bisa ditemukan pada saat kita menemukan daerah atau orang yang baru.

10)          Wish-fulfilment. Keinginan merealisasikan mimpi-mimpi, yang lama dicita-citakan, sampai mengorbankan diri dalam bentuk penghematan, agar bisa melakukan perjalanan. Hal ini juga sangat jelas dalam perjalanan wisata religius, sebagai bagian dari keinginan atau dorongan yang kuat dari dalam diri.

 

 

3.6. Faktor-faktor Penarik (Daya Tarik Objek Wisata)

 

Menurut Jackson, 1989 (dalam Pitana, 2005) terdapat 11 faktor yang menjadi faktor penarik, yaitu: (1) location climate, (2) national promotion, (3) retail advertising, (4) wholesale, (5) special events, (6) incentive schemes, (7) visiting friends, (8) visiting relations, (9) tourist attractions, (10) culture, dan (11) natural environment and  man-made environment.

Dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang menentukan wisatawan untuk membeli atau mengunjungi objek wisata. Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), menyatakan ada lima faktor yang menentukan seseorang untuk membeli jasa atau mengunjungi objek wisata, yaitu: (1) lokasi, (2) fasilitas, (3) citra atau image, (4) harga atau tarif, dan (5) pelayanan.

Membangun agrowisata tidak cukup hanya mengembangkan sector pertanian saja namun harus juga mampu membawa sector pertanian tersebut menjadi kemasan produk yang memiliki  citra yang kuat. Citra yang kuat tentang wilayah agrowisata harus dapat dikomunikasikan kepada calon wisatawan sehingga citra tersebut dapat menjadi factor penarik dan pendorong yang akan disesuaikan dengan motivasi masing-masing wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata.

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Journal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s