News

Destination Loyalty Model of Senior Foreign Tourists Visiting Bali Tourism Destination

Posted on

Abstract

In the recent years, the senior foreign tourist segment has become increasingly important for the tourism industry. The strength of this market segment lies in its two characteristics: the purchasing power and the time available for travel. This research was conducted based on these two considerations. This research is confirmatory to the loyalty model developed by previous research, but specifically studied foreign senior tourists. The 400 respondents for this research were determined purposively. The criteria were senior tourists aged 55 or over and tourists vacationing in one of Bali’s tourism destinations. Descriptive statistical analysis and the SEM-AMOS structural model analysis tools were utilized. Meanwhile, the qualitative analysis is descriptive to complement the quantitative analysis. The demographic profiles of the respondents composed of 57 % male travelers and 43 % female. Tourists in the age group of 55–65 are 73 and 27 % over 65 years. Repeat visitors are 81 and 19 % first time visitors. The findings of this research indicated that (1) internal motivation does not have a significant effect on destination image, (2) external motivation has a significant effect on destination image and loyalty, but does not have a significant effect on tourist’s satisfaction, (3) destination image has a significant effect on tourist’s satisfaction, and (4) tourist’s satisfaction has a significant effect on destination loyalty. Two loyalty models were formed: (1) Destination loyalty is directly influenced by tourist’s satisfaction and indirectly influenced by destination image and external motivation. (2) Destination loyalty is directly influenced by external motivation, but the influence is not as significant as the influence of tourist’s satisfaction on loyalty. Theoretically, the research suggests maintaining the joint approach because this approach is able to answer various questions that quantitative approach alone cannot answer completely. From a practical perspective, the preservation of Bali’s destination image was found to be adequate. The image of Bali includes: (1) a destination that has cultural uniqueness, (2) welcoming local inhabitants, (3) comprehensive tourism infrastructure, and (4) comfortable tourism atmosphere.

Keywords

Senior foreign tourists Internal motivation External motivation Destination image Tourist’s satisfaction Tourist’s loyalty

ChapterDevelopment of Tourism and the Hospitality Industry in Southeast Asia. Part of the series Managing the Asian Century pp 37-49

See more http://link.springer.com/chapter/10.1007%2F978-981-287-606-5_3

Cara Search Jurnal Internasional Terindex Scopus di Suatu Negara

Posted on

Scopus

Cara Search Jurnal Internasional Terindex Scopus di Suatu Negara

1. Buka Scopus Journal List yang terbaru yaitu November 2015
Scopus journal title listNovember 2015
http://www.elsevier.com/__data/assets/excel_doc/0015/91122/title_list.xlsx

2. Dekatkan kusor ke laman bawah, klik di tanda segitiga kecil yang mengarah ke kanan, sampai di Menu Source Type, klik di select all untuk clear kotak2 kecil, baru klik di Jurnal dan klik OK

3. Kusor bergeser terus ke kanan sampai ketemu Menu Publisher’s Country, klik kotak segitiga, klik select all untuk kosongkan kotak-kotak, baru klik Indonesia, klik OK akan tampil semua jurnal Indonesia yang terindex scopus (termasuk yang aktif dan nonaktif), klik segitiga di bawah yang mengarah ke kiri akan nampak nama jurnal, ISSN, Status Active/Inactive, Prestasi selama 3 tahun 2012-2014 (SNP, IPP, dan SJR). Open Access Status, Nama Penerbit dll.

4. Nampak Jurnal Indonesia yang pernah terindex Scopus berjumlah 22, diantaranya:

18 Jurnal masih aktif hingga kini, November 2015

4  Jurnal sudah dinyatakan Inactive (atau Nonaktif yaitu 1 dari UGMd dengan kode 13983 berhenti operasi, 3 dari ITB dengan kode 16390, 16391 dan 16392 ganti nama)

– See more at: http://www.kopertis12.or.id/2015/12/18/cara-search-jurnal-internasional-terindex-scopus-di-suatu-negara.html#sthash.Gx4ithRc.dpuf

Saatnya Melirik Wisatawan Senior

Posted on

Published On: Mon, Apr 30th, 2012

Saatnya Melirik Wisatawan Senior

Oleh I Gusti Bagus Rai Utama

Wisatawan senior adalah wisatawan lanjut usia yang berumur 55 tahun atau lebih. Kriteria umur yang digunakan mengacu pada kriteria istilah senior atau older tourist di Amerika Serikat (Clench, dalam Petterson, 2006).  Pemerintah Indonesia mengganggap wisatawan senior adalah pangsa pasar yang cukup penting karena beberapa alasan, di antaranya adalah: Ilmu pengetahuan kesehatan yang berkembang pesat menjadikan semakin besar peluang hidup lebih lama bagi para lansia yang menyebabkan jumlah kaum ini bertambah besar. Sebab lainnya adanya tunjangan penghasilan dari sistem pensiun yang baik akan dapat menyebabkan kelompok usia ini memiliki daya beli yang lebih baik. Kelompok ini biasa dikenal dengan istilah DINKS (Double Income No Kids) dan pada fase usia ini, pola berwisata biasanya dilakukan dalam waktu panjang karena waktu luang yang dimilikinya cukup panjang (News Letter Pemasaran Pariwisata Indonesia, 2011)

Membaca potensi tersebut, pemerintah telah memberikan kemudahan izin tinggal bagi para lansia sebagai antisipasi untuk memperhatikan kebutuhan wisatawan lanjut usia dari luar negeri yang dewasa ini jumlahnya semakin bertambah sehingga diharapkan mereka akan tinggal lebih lama di Indonesia. Saat ini, sebagian perusahaan bidang pariwisata Indonesia mulai lebih serius melirik potensi pasar ini. Untuk mengantisipasi kecenderungan pasar di masa depan, yakni semakin banyaknya konsumen wisatawan lanjut usia yang berlibur di Indonesia, maka Pemerintah RI menetapkan kebijakan bagi wisatawan lanjut usia yaitu dengan mengijinkan mereka untuk bisa tinggal lebih lama di Indonesia. Kebijakan pemerintah tersebut memungkinkan kelompok wisatawan ini diijinkan untuk tinggal di Indonesia selama satu tahun. Kebijakan tersebut telah dituangkan dalam SK Menteri Kehakiman No. M-04-12.01.02/1998.

Kesungguhan pemerintah dalam menyambut wisatawan senior mancanegara tersebut, mestinya juga didukung oleh semua pihak, termasuk kalangan akademisi dalam bentuk penelitian empiris terhadap keberadaan wisatawaan senior saat ini. Fakta lain yang mendukung bahwa segmentasi wisatawan senior merupakan segmen pasar yang baik, dapat dipaparkan fakta-fakta sebagai berikut: pertumbuhan wisatawan senior yang berkebangsaan Amerika Serikat, Kanada, dan Australia mengalami peningkatan khususnya dari kelompok pensiunan. Di Amerika Serikat, pertumbuhan wisatawan senior mengalami perningkatan  tertinggi, dimana wisatawan yang berumur 55 tahun telah mencapai 41% dari total penduduk Amerika Serikat, dari 41% tersebut, 28% mereka berwisata ke luar negeri. Sementara yang berkebangsaan Kanada yang berumur 55 tahun ke atas telah melakukan perjalanan wisata ke luar negeri sebesar 25% dari total penduduknya pada tahun 2000. Sementara di Jepang, 12 juta orang telah yang berumur 65 tahun ke atas, dan diperkirakan melakukan perjalanan ke luar negeri sebesar 7,6% pada tahun 1990 (Clench, dalam Petterson, 2006).

Sementara, wisatawan senior di Australia pada tahun 2002 diperkirakan mencapai 22% dari total wisatawan domestik di Australia dan diperkirakan membelanjakan uangnya 895 juta dolar per tahun dan mereka biasanya berlibur rata-rata selama 5,5 hari. Ditemukan juga, wisatawan senior Australia lebih menyukai daerah yang masih alami dan yang masih memiliki arti sejarah, kemungkinan Bali salah satunya. (Petterson, 2006).

Jika melihat di kawasan lainnya, di Eropa Utara jumlah kaum senior yakni yang berumur 65 tahun ke atas, telah mengalami peningkatan 16,2% jika dibandingkan tahun 1960. Wisatawan senior Jerman dan Inggris merupakan pangsa pasar wisatawan domestik dan internasional terbesar. Sementara wisatawan senior di kawasan Skandinavia dan Spanyol, memperlihatkan kecenderungan berwisata yang paling tinggi dibandingkan wisatawan senior di kawasan Eropa lainnya.  Sedangkan di Inggris jumlah penduduk yang berada pada kelompok senior antara 55 hingga 59 tahun mencapai 31% pada tahun 2005 dan dari 31% kaum senior tersebut, 17,4% hingga 18,1% melakukan perjalanan wisata ke luar negeri (Petterson, 2006).

Di kawasan Asia, penduduk Jepang yang tergolong senior berumur 50 tahun keatas pada tahun 2025 diperkirakan mendekati angka 15 juta atau 23% dari total penduduknya.  Kaum senior Jepang biasanya memiliki pendapatan yang lebih mapan dan memiliki waktu luang yang lebih banyak sehingga memungkinkan mereka berlibur lebih lama ke luar negeri jika dibandingkan kaum mudanya (Petterson, 2006). Lain halnya di Taiwan, saat ini penduduk senior  60 tahun ke atas telah mencapai 12% dan diperkirakan akan naik menjadi 20% pada tahun 2033 (Petterson, 2006). Secara rinci, potensi pertumbuhan wisatawan senior secara internasional dapat ditampilkan pada tabel berikut ini:

Tabel Trend Potensi Wisatawan Senior Internasional

 

Negara Jumlah Senior Prediksi Berwisata ke Luar Negeri
Tiongkok 101.238.124 20%
Amerika Serikat (USA) 37.305.527 41%
Jepang 25.551.282 23%
Rusia 20.576.670 16,2%
Jerman 16.044.262 16,2%
Belanda 2.341.787 16,2%
Australia 2.654.595 22%

Catatan: Umur lebih dari 64 Tahun, kondisi tahun 2006

Sumber:  http://www.statistik.ptkpt.net dan Petterson.

Bagi Bali, negara pemasok wisatawan terbesar saat ini ternyata memiliki komposisi kaum senior yang cukup besar seperti nampak pada tabel di atas dengan rata-rata 27% pada setiap komposisi penduduknya.

Berbekal sejarah pariwisata yang cukup panjang, destinasi pariwisata Bali telah dinyatakan sebagai destinasi pariwisata budaya dan hal tersebut  berkaitan dengan preferensi wisatawan senior, biasanya kaum tersebut menyukai perjalanan wisata budaya.  Potensi besar namun kesiapan destinasi masih sangat diragukan, jika ingin memenangkan persaingan, hal-hal yang berkaitan dengan preferensi wisatawan senior mestinya dipersiapkan sebaik mungkin. edisi 1624

 

I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA, Dekan FE Universitas Dhyana Pura Badung, Mahasiswa S3 Pariwisata Unud

Sumber: http://koranbalitribune.com/2012/04/30/saatnya-melirik-wisatawan-senior/

Sinopsis Buku: AGROWISATA SEBAGAI PARIWISATA ALTERNATIF INDONESIA

Posted on Updated on

Rp.55.200

Judul Agrowisata sebagai Pariwisata Alternatif Indonesia
Pengarang DR. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA.
Institusi
Kategori Buku Referensi
Bidang Ilmu Pariwisata
ISBN 9786022808862
Ukuran A5
Halaman 156
Harga Rp.55.200
Ketersediaan Pesan Dulu http://www.deepublish.co.id/penerbit/buku/936/Agrowisata-sebagai-Pariwisata-Alternatif-Indonesia
Sinopsis

 

Indonesia adalah negara agraris yang memiliki potensi besar untuk dikembangkannya agrowista. Pariwisata berbasis pertanian akan memberikan suatu angin segar bagi para petani dan masyarakat umum untuk dapat memperluas sektor pertanian yang selama ini mereka geluti menjadi objek pariwisata bagi para wisatawan minat khusus. Pembudidayaan dan perluasan peran dari sektor pertanian ini diharapkan dapat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnyadan para petani pada khususnya. Hal ini tentu diperlukan berbagai upaya dan kolaborasi dari sektor lain untuk mencapainya dengan memperhatikan asas berkelanjutan dan kerja sama berbagai pihak terkait untuk mengentaskan kemiskinan, khususnya bagi para petani dan masyarakat umum.

Sinopsis: Metodologi Penelitian Pariwisata dan Perhotelan, dilengkapi kasus dan pembahasannya

Posted on Updated on

Metodologi Penelitian Pariwisata dan Perhotelan

Spesifikasi Buku

 

Kategori          : Ilmiah (Non Fiksi)

Tema/ Seri      : Metodologi Penelitian Pariwisata dan Perhotelan

Tingkat                        : Pemula

Pola                 : Buku Teks

Format                        : 14 x 21

Tebal               : ± 248 halaman

Cetakan           : hitam putih

File                  : *.DOCX

 

Sinopsis

 

Di tengah kegalauan dalam proses belajar dan mengajar pada bidang pariwisata dan perhotelan akhirnya tercetus keinginan untuk membuat buku yang  dianggap boleh membantu para mahasiswa khususnya pada tingkatan strata satu (sarjana), dan untuk para praktisi pariwisata dan perhotelan agar dapat melakukan penelitian sebagai sebuah budaya kerja yang harus dilakukan setiap saat untuk dapat melakukan inovasi dan menumbuhkan kreatifitas khususnya pada bidang pariwisata dan perhotelan.

Buku metodologi penelitian pariwisata dan perhotelan ini memberikan pemahaman tentang konsep-konsep hakekat penelitian pariwisata dan perhotelan, tipe atau jenis penelitian, proses penelitian, pengukuran variabel, sampling, pengumpulan, pengolahan, dan analisis data, penyusunan rencana penelitian, serta penyusunan laporan penelitian di bidang perhotelan dan pariwisata.

Tujuan yang diharapkan pada matakuliah metodologi penelitian ini, yaitu agar mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan penelitian, serta mampu melakukan penelitian untuk pemecahan masalah sesuai bidang pariwisata dan perhotelan. Setelah membaca  buku ini, diharapkan  mahasiswa dapat menyusun proposal penelitian pariwisata dan perhotelan.

Outline

PRAKATA

Sambutan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali

 

BAB.I HAKEKAT ILMU DAN PENELITIAN

1.1. Dasar-Dasar  Pengetahuan

1.2. Filsafat Kebenaran Ilmu

1.3. Kriteria  Kebenaran

1.4.Terminologi

BAB.II BANGUNAN ILMU PARIWISATA

1.1.      Rasionale

1.2.      Sejarah Perjuangan Kemandirin Ilmu Pariwisata

1.3.      Kajian Tentang Ilmu Pariwisata sebagai sebuah Ilmu yang Mandiri

1.4.      Obyek Material dan Formal Ilmu Pariwisata

BAB.III BIDANG PARIWISATA DAN PERHOTELAN

3.1. Pengertian  Jasa Pariwisata

3.1.2. Asal Definisi Pariwisata

3.2. Definisi Pariwisata Berbagai Sudut Pandang

3.3. Ruang Lingkup Penelitian Pariwisata dan Perhotelan

BAB.IV PENDEKATAN PENELITIAN PARIWISATA

KUALITATIF ATAU KUANTITATIF

4.1. Pengertian Penelitian

4.2. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif dan Analisis Datanya

4.3. Jenis-jenis Penelitian Kuanlitatif dan Analisis Datanya

4.4. Penggabungan Kualitatif dan Kuantitaif

BAB.V DATA STATISTIK DAN SKALA PENGUKURAN

5.1. Data Kuantitatif dan Data Kualitatif

5.2. Prosedur Penelitian Dengan Data Statistik

5.3.  Cara Pengumpulan Data Statistik

5.4. Skala Pengukuruan

5.5. Validitas dan Reliabilitas

5.5.2.   Reliabilitas

5.5.3.   Uji Validitas dan Reliabilitas

BAB.VI PEMILIHAN TEKNIK ANALISIS PENELITIAN 

6.1. Teknik Analisis Data

6.2.      Statistik Deskriptif

6.3.      Statistik Inferensia

BAB.VII ANALISIS SWOT DESKRIPTIF KUALITATIF UNTUK PARIWISATA

7.1. Analisis S-W-O-T

7.2. Analisis Matriks I-F-A-S

7.3. Analisis Matriks EFAS

7.4. Analisis Q-S-P-M

Studi Kasus: Penelitian Strategi Pengembangan Objek dan Daya Tarik Wisata pada Taman Kupu-kupu Mutiara  Kabupaten Jembrana  Bali

BAB.VIII THE SERVICE PROFIT CHAIN ALAT ANALISIS UNTUK PENELITIAN USAHA JASA PERHOTELAN DAN PARIWISATA

8.1. Logika Kerja SPC

8.2. Kualitas layanan internal (internal service quality)

8.3. Kepuasan karyawan (employee satisfaction)

8.4. Loyalitas karyawan (employee loyalty)

8.5. Nilai layanan eksternal (external service value)

8.6. Kepuasan pelanggan (customer satisfaction)

8.7. Loyalitas pelanggan (customer loyalty)

8.8. Pertumbuhan pendapatan (revenue growth)

8.9. Profitabilitas (Profitability)

8.10. Hipotesis: Penerapan Analisis SPC pada Jasa Perhotelan

 

BAB.IX ANALISIS FAKTOR UNTUK PENELITIAN PARIWISATA

9.1. Filosofis Analisis Faktor

9.2. Penelitian Menggunakan Analisis Factor

Studi Kasus pada Obyek Wisata: FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI WISATAWAN BERKUNJUNG KE KEBUN RAYA EKAKARYA BEDUGUL BALI

BAB.X MULTIDIMENSIONAL SCALING ANALYSIS

10.1.    Filososfi MDS

10.2. Konsep Positioning

Studi Kasus: Mapping Obyek Wisata EcoTourism di Bali

BAB.XI ANALISIS INPUT-OUTPUT MENGUKUR DAMPAK PARIWISATA

11.1. Definisi Istilah Input Output

11.2. Model Input Output

11.3     Perencanaan Pembangunan Ekonomi

11.4    Perencanaan Ekonomi Dalam Model I-O

11.5    Ketekaitan Antar Sektor Dalam Perekonomian

BAB.XII TEKNIK ANALISIS TINGKAT KEPENTINGAN-KINERJA

UNTUK MENGUKUR KEPUASAN WISATAWAN TERHADAP DESTINASI PARIWISATA

12.1. Filosofis Analisis Kepuasan Wisatawan

12.2. Analisis diagram kartesius

12.3. Hipotesis Penelitian

12.4.    Variabel Penelitian

12.5.    Instrumen Penelitian

BAB.XIII ANALISIS DESKRIPTIF: SEGMENTASI PASAR WISATAWAN

13.1. Filosofi Segmen Pasar

14.2. Alat Analisis Segmentasi Pasar

13.3. Penentuan Variabel Segmentasi Pasar

13.4. Output Hasil Penelitian Segmentasi Pasar

BAB.XIV REGRESI DAN KOLERASI PADA JASA PARIWISATA DAN PERHOTELAN

14.1. Pengertian Tentang Hubungan Linier Antara dua Variabel

14.2. Cara Penerapan Garis Regresi

14.3. Koefisien Kolerasi

14.4. Uji Hipotesi T-test

Contoh Kasus Penggunaan Analisis Regresi dan Korelasi Pada Sebuah Hotel untuk menganalisis efektivitas Advertising dan Biaya Personal Selling terhadap Total Pendapatan pada Sebuah Hotel.

BAB.XIV BALANCED SCORECARD SEBAGAI PENILAIAN KINERJA USAHA JASA RESTORAN

14.1. Balanced Scorecard Untuk Pengukuran Kinerja Perusahaan Jasa Restoran

Contoh Kasus: BALANCED SCORECARD SEBAGAI PENILAIAN KINERJA RESTORAN SEDAP BALI

BAB.XV TATA CARA PENULSAN PROPOSAL DAN LAPORAN

15.1. Tata Cara Penulisan Usulan

15.2. Tata Cara Penulisan Skripsi

BAB.XVI TEKNIK MERUJUK DAN MENGUTIP

16.1. Kegunaan Merujuk

16.2. Tujuan Merujuk

16.3. Sumber-Sumber Rujukan

16.4. Cara Pencarian

16.5. Kaitan Rujukan Pustaka dengan Daftar Pustaka

LAMPIRAN: MATERI TAMBAHAN CONTOH PROPOSAL

DAFTAR PUSTAKA

Biodata Penulis

Tujuan dan Manfaat Buku bagi Pembaca

 

Buku ini diperuntukkan pada para mahasiswa khususnya pada tingkatan strata satu (sarjana), dan untuk para praktisi pariwisata dan perhotelan agar dapat melakukan penelitian sebagai sebuah budaya kerja yang harus dilakukan setiap saat untuk dapat melakukan inovasi dan menumbuhkan kreatifitas khususnya pada bidang pariwisata dan perhotelan.

Buku metodologi penelitian pariwisata dan perhotelan ini memberikan pemahaman tentang konsep-konsep hakekat penelitian pariwisata dan perhotelan, tipe atau jenis penelitian, proses penelitian, pengukuran variabel, sampling, pengumpulan, pengolahan, dan analisis data, penyusunan rencana penelitian, serta penyusunan laporan penelitian di bidang perhotelan dan pariwisata. Buku ini juga Dilengkapi Alat Analisis Untuk Usaha Jasa Perhotelan dan Pariwisata, contoh penelitian bidang pariwisata dan perhotelan, dan beberapa contoh abstrak penelitian bidang pariwisata dan perhotelan.

Sasaran Pembaca

  • Buku ini ditujukan kepada siapa saja yang tertarik untuk mempelajari metodologi penelitian bidang pariwisata dan perhotelan.
  • Buku ini diperuntukkan pada para mahasiswa khususnya pada tingkatan strata satu (sarjana), dan untuk para praktisi pariwisata dan perhotelan agar dapat melakukan penelitian sebagai sebuah budaya kerja yang harus dilakukan setiap saat untuk dapat melakukan inovasi dan menumbuhkan kreatifitas khususnya pada bidang pariwisata dan perhotelan.


 

Prospek Pasar

  • Ilmu pariwisata telah diakui sebagai ilmu mandiri oleh pemerintah, bidang pariwisata telah menjadi industri baru yang sangat berpotensi menggeser leading sector lainnya karena tidak memerlukan sumberdaya alam yang besar, dan bahkan pembangunan sector pariwisata relative dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan sector pembangunan lainnya.
  • Pembukaan program studi pariwisata di beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia akan berimplikasi terhadap kebutuhan buku ini.
  • Dengan pembahasan yang sederhana, praktis, lengkap, disertai juga dengan Alat Analisis Untuk Usaha Jasa Perhotelan dan Pariwisata, contoh penelitian bidang pariwisata dan perhotelan, dan beberapa contoh abstrak penelitian bidang pariwisata dan perhotelan maka penulis sangat optimis akan disambut oleh para pembaca pada bidang pariwisata dan perhotelan.

 

Keunggulan Buku

  • Setiap pokok bahasan buku ini berisi ulasan praktis dari materi dalam bentuk studi kasus penelitian yang pernah dilakukan.
  • Singkat, jelas, menuntun, dan mudah dipahami serta dipraktikkan.
  • Layak di sebut sebagai template penelitian ilmiah dan bisnis pariwisata terkini.

Fungsi dan Perencanaan Visitor Center Pariwisata Daerah

Posted on

Fungsi dan Perencanaan Visitor Center Pariwisata Daerah

Dan Rekomendasi bagi Pariwisata Bali

Kritikal Review terhadap karya: Philip L. Pearce

 

Oleh:

I Gusti Bagus Rai Utama

Program Doktor, Studi Ilmu Pariwisata, Universitas Udayana. Bali

 

Abstract

Visitor centers can be as instruments for Sustainability, Visitor center will be the instrument of the seriousness of tourism development to apply international standard. Bali has hundreds of tourist attraction but lack of information to obtain data and information due to lack of visitor centers.  Tourism agenda as tourist activities without adequate publicity is also a weakness of marketing tourism in Bali. Based on the reason the visitor centers will play an important role in the context of internal marketing to increase the experiences of tourists or visitors. Visitor centers are expected to provide valuable experience and take an impression of the readiness of the management of destinations. Visitor center can act as a community facility for a variety of local social and cultural activities, especially where space contains a theater or a meeting. Furthermore, it can be said that its function is more symbolic of a visitor center and the significance of a city or a site for tourism is the main reason for the existence of the visitor center.

Keyword: visitor center, tourist, visitor, service, publicity, information

1. Pendahuluan

 

Nilai-nilai setiap masyarakat tertentu dapat ditafsirkan dari fungsi prasarana fisik yang berkembang. Budaya yang berorientasi pada olahraga akan mendukung dibangunnya stadion besar, mereka dengan kekhawatiran spiritual akan menjaga tempat-tempat ibadah seperti misalnya katedral besar, masjid dan kuil-kuil, dan mereka dengan masalah lingkungan akan  menciptakan struktur fisik untuk mendukung dan melindungi tempat-tempat yang mereka anggap bernilai (Pearce, 2004).

Dalam dunia pariwisata, dapat dikatakan bahwa Visitor Center adalah produk baru dengan multi-fungsi yang mengekspresikan nilai-nilai yang tercermin dalam infrastruktur fisik dan masyarakat setempat yang mencoba untuk menggunakan dan mengelolanya sebagai sumber daya tarik wisata. Tidak seperti hotel, jalan raya dan titik transportasi,  pusat wisatawan, biasanya tujuan dibangunnya atau setidaknya diperbaharui hanya untuk pariwisata (Knudson, Cable & Beck, 1999). Ada banyak pusat/biro di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Selandia Baru dan Australia dan mereka tampaknya dibentuk untuk warga Eropa dan Asia (Asia Travel Guide, 2004; Tan-Collis, 1999). Pengunjung  pusat penting sepanjang jalan raya dan di kota-kota kecil dan komunitas tertentu, dan sering menjadi fokus utama bagi promosi pariwisata daerah dan manajemen destinasi (Fesenmaier & Vogt, 1993a, b; Hobbin, 1999). Makalah ini akan mengarahkan perhatian untuk menyediakan kerangka kerja untuk melakukan fungsi Visitor Center di bidang pariwisata daerah dan selanjutnya, mencoba untuk menguraikan beberapa praktek yang diinginkan untuk memenuhi fungsi tersebut.

Arti dari [1]Visitor Center (Visitor Center ) perlu didefinisikan dengan hati-hati dalam konteks internasional atau forum. Jenis fasilitas yang dimaksud dalam makalah ini dapat didefinisikan di sini sebagai: fasilitas yang jelas berlabel akses publik, ruang fisik dengan personil memberikan informasi yang bebas biaya untuk memfasilitasi wisatawan. Dalam hal ini, pembentukan sebuah Visitor Center berbeda dengan agen perjalanan karena penekanan komersial yang lebih dominan. Visitor Center juga tidak boleh disamakan dengan sebuah museum daerah atau kabupaten di mana penekanannya adalah pada tampilan dan suguhan artefak daripada pengalaman sebuah perjalanan. Selanjutnya, Visitor Center membutuhkan kehadiran manusia, sehingga harus tersedia outlet informasi, bahkan harus menyediakan fasilitas komputer interaktif yang bersifat gratis (Fesenmaier & Vogt, 1993a, 1993b; Moscardo & Hughes , 1991; Stewart, Fesenmaier & Anderson, 1993). Namun ada kalanya juga, fasilitas yang tersedia mungkin memiliki komponen komersial yang bertujuan untuk kegiatan social dalam masyarakat local.

Dalam kasus terakhir nilai simbolis dari Visitor Center sebagai sinyal komunitas bahwa kawasan ini serius mengelola pariwisata mungkin menjadi cukup penting. [2]Visitor Center tidak hanya ada di pusat kota namun menjadi sebuah fenomena yang muncul dalam titik/pusat transportasi seperti bandara dan stasiun kereta api, di dalam atau di pinggiran kota-kota kecil dan dekat dengan  pusat wisata. Hal ini terutama menjadi  Visitor Center yang berbasis regional, tujuan dan perencanaannya  merupakan perhatian dalam pembentukan Visitor Center tersebut. Penekanan dalam diskusi ini adalah pada tujuan dibentuknya Visitor Center daripada masalah sumber daya dan manusia, atau  manajemen keuangannya. (Barrow, 1996; Bath, 1996).

1.1.”Empat Plus” Model Fungsi Visitor Center

Dalam upaya memberikan pemahaman yang sistematis untuk topik Visitor Center, tujuan fasilitas tersebut dan orang-orang yang melayani di dalamnya perlu dipertimbangkan. Dalam tulisan sebelumnya Pearce (1991) dan Moscardo (1999) mengidentifikasi terdapat empat fitur yang saling terkait dengan Visitor Center. Analisis yang disajikan dalam makalah ini memperluas tulisan sebelumnya dengan yang baru berjudul “Four Plus” sebagai model fungsi Visitor Center . Model diperpanjang (fungsi ditambah) mengacu secara khusus pada tulisan Fallon dan Kriwoken (2003) dan Simpson (2001) yang menekankan fungsi masyarakat dan penerimaan Visitor Center .

1.1.1.      Beberapa Fungsi Yang Saling Menunjang

Hal ini disampaikan bahwa seluruh Visitor Center memiliki fungsi ganda, dilakukan untuk tingkat yang berbeda. Fungsinya mungkin adalah promosi bahwa  Visitor Center seperti yang didefinisikan sebelumnya dalam makalah ini yang lazim di sejumlah negara-negara barat. Menurut “Four Plus” model yang diusulkan di sini adalah yang paling berlaku untuk destinasi pariwisatauntuk dijadikan dan dikembangkan  sistem promosi dan manajerial. Penerapan yang lebih luas dari model yang diusulkan Empat Plus untuk konteks lain akan dipertimbangkan dalam bagian penutup dari makalah ini.

1.1.2.      Fungsi Promosi

Peran ini mengacu pada promosi aktif dari daerah, kota atau wilayah. Ini melibatkan agenda yang kuat yang harus dilakukan di daerah. Pada dasarnya peran ini untuk merangsang permintaan wisata dan sering berusaha untuk meningkatkan pengeluaran pengunjung di suatu kawasan tertentu (Gitelson & Perdue, 1987). Kegiatan komersial terkait dengan fungsi ini adalah umum dan meliputi penyediaan jasa pemesanan dan ritel terhadap produk daerah. Fol dalam Gartner (1993) menerangkan bahwa fungsi ini dapat dilihat untuk menyediakan sumber  informasi yang nyata yang dapat dipercaya diinduksi dan tidak berlebihan untuk mementingkan diri sendiri. Upaya menuju akreditasi Visitor Center dan menjamin kualitas layanan adalah hal penting untuk mempertahankan jaminan representasi dari informasi yang diberikan (Fodness & Murphy, 1999; Hobbin, 1999).

1.1.3.      Fungsi Orientasi dan Peningkatan Kunjungan

Fungsi kedua dari Visitor Center dapat dilihat konsentrasinya pada kualitas pengalaman bagi pengunjung. Visitor center mencoba untuk memberikan tampilan, yang menunjukkan lokasi baru dan umumnya menginformasikan pengunjung tentang fitur dari wilayah untuk mempromosikan perilaku yang bertanggung jawab. Ha ini adalah sebuah kesungguhan yang bukanlah hanya sekedar merangsang permintaan dan melibatkan apresiasi bahwa permintaan adalah sensitif terhadap prinsip-prinsip perilaku pariwisata yang berkelanjutan. Fungsi ini konsisten dengan prinsip-prinsip perencanaan dasar untuk praktek peramalan tingkat kunjungan (Benson & Baird, 1979; Carter, 1997; Hobbin, 1999).

1.1.4.      Fungsi Kontrol dan Penyaringan

Dalam perannya ini, Visitor Center berusaha untuk mengontrol aliran pengunjung sehingga sumber daya dan pengaturannya tetap berada di bawah kendali sebuah wilayah. Biasanya  Visitor Center bertindak sebagai pintu masuk dan menjadi pusat untuk melakukan kendali terhadap pengunjung di daerah. Fungsi ini mungkin menjadi penyaringan terhadap pengunjung untuk mengunjungi lokasi yang ditetapkan, dan memberikan alternatif lokasi yang kurang ramai dan penggunaan pusat secara merata dalam hubungannya dengan kegiatan lain seperti tur yang menerapkan manajemen kapasitas pada situs tertentu. Staf Visitor Center bekerja di sebuah pusat dimana fungsi ini sering dominan dan akan memiliki peran pelayanan yang kuat dalam kaitannya dengan sumber daya. Pada kesempatan ini, desain Visitor Center dan perilaku staf yang mengadopsi peran yang lebih kuat dan berpotensi kontroversial dalam membatasi perilaku publik (Hardy & Beeton, 2001; Sugden & Saunders, 1991).

1.1.5.      Fungsi Substitusi

Sebuah fungsi keempat dari Visitor Center  adalah untuk menjadi pengganti objek wisata atau setidaknya menjadi daya tarik besar dalam dirinya sendiri. Visitor Center menekankan fungsi ini sering disebut sebagai pusat penafsiran atau lebih sederhananya diberi label sebagai tempat wisata seperti layaknya Pusat Margasatwa.  Pergantian fungsi sangat penting ketika sejumlah besar pengunjung yang lemah, sakit fisik atau kurang pengetahuan untuk mengakses dan memahami sumber daya (Ballantyne, 1995; Scheyvens, 1999; Simpson, 2001; Stewart, Hayward, Devlin, & Kirby, 1998; Uzzell & Ballantyne , 1998).

1.1.6. Fungsi Tambahan

 

Visitor Center dapat bertindak sebagai fasilitas masyarakat untuk berbagai kegiatan budaya dan sosial lokal, terutama dimana ruangnya berisi ruang teater atau pertemuan. Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa fungsinya lebih simbolis dari sebuah Visitor Center dan makna dari suatu kota atau situs untuk pariwisata adalah alasan utama untuk keberadaan Visitor Center tersebut. Ketika penampilan fisik dari Visitor Center menantang dan tidak konvensional, dan menjadi perhatian politik yang kuat, akan ada reaksi dari masyarakat (Fallon & Kriwoken, 2003; Flanagan, 1996). Upaya-upaya luas untuk menggabungkan pandangan dalam komunitas adalah penting dan jelas untuk mengelola elemen substitusi dan fungsi tambahan dari Visitor Center tersebut (bdk. Bramwell & Lane, 2000; de Araujo & Bramwell, 2000; Jamal & Getz, 1999; Robinson, 2000 ). Tentu saja, fungsi yang ditambahkan tidak dapat diabaikan untuk mencoba meningkatkan fungsi Visitor Center karena merupakan kekuatan politik yang kuat yang mempengaruhi fungsi utama. Ini adalah tentang merancang pusat untuk mencapai tujuan administrasi dan kemasyarakatan bagi seluruh masyarakat (bdk. Fallon & Kriwoken, 2003; Simpson, 2001).

1.2. Meningkatkan fungsi Visitor Center

Empat tahap dapat dipertimbangkan dalam desain dan penggunaan Visitor Center, ada prinsip-prinsip praktis yang baik dan kadang-kadang substansial sebagai bukti penelitian untuk mendukung saran agar dalam pelaksanaannya dapat bejalan dengan baik (Blahna & Roggenbuck, 1979; Field & Wagner, 1973; Knudson et al, 1999;. Mack & Thompson, 1991; Moscardo, 1998, 1999; Roggenbuck, 1992; Serrell, 1996; Tilden, 1977).

1.2.1. Kepastian rambu-rambu dan memastikan kemudahan akses.

 

Pusat Peramalan yang efektif adalah mudah diakses oleh pengunjung (Fodness & Murphy, 1999). Salah satu cara untuk memastikan pengunjung dapat menemukan dan menggunakan Visitor Center adalah danya perencanaan rambu-rambu yang dapat dimengerti oleh masyarakat internasional (Serrell, 1996).

 

1.2.2. Identifikasi semua pengguna dan menggunakan mereka

Sebuah pertimbangan kebutuhan semua pengguna adalah penting bagi desain Visitor Center yang baik (Bitgood, Benefield, Patterson & Nabors, 1986). Inventarisasi semua fungsi kemudian dapat memandu keputusan tentang apa yang akan dimasukkan di visitor center dan bagaimana desain tersebut berfungsi secara efektive dan  maksimal (Blahna & Roggenbuck, 1979; Knudson, Cable & Beck, 1999). Tiga kelompok khas pengguna untuk dipertimbangkan adalah:

  1. Pengunjung: Siapa pengunjung cenderung ke Visitor Center tersebut? Apa jenis segmen pasar harus dipertimbangkan? Pengunjung akan memerlukan akses ke informasi atau fasilitas di luar jam? Apakah kafe menjadi tambahan yang layak atau berguna? Atau ini pilihan untuk bisnis lokal atau dewan lokal?
  2. Staf: Staf perlu ruang untuk tugas-tugas non publik. Menampilkan penafsiran dan kegiatan membutuhkan ruang untuk persiapan dan penyimpanan. Dalam beberapa tempat staf mungkin perlu ruang darurat untuk koordinasi.
  3. Masyarakat Lokal; Penggunaan fungsional dari Visitor Center oleh kelompok-kelompok masyarakat serta simbol dan nilai semiotik juga harus dipertimbangkan.

 

1.2.3. Desain untuk masa depan

Visitor Center  sering berupa bangunan besar yang digunakan dalam jangka waktu yang lama. Memperluas dan meningkatkan Visitor Center untuk mengatasi  jumlah pengunjung yang semakin meningkat dan kebutuhan pengguna berubah dan  tujuan penafsiran bisa sangat sulit. Sebuah pertimbangan untuk mengubah ruang yang tersedia bagi pengguna akan lebih dihargai oleh mereka yang bertanggung jawab untuk Visitor Center dalam tahun-tahun mendatang.  (Gunn, 1994; Poon, 1993).

1.2.4. Menjadi model bagi keberlanjutan ekologis

 

Visitor Center  memiliki gaya arsitektur yang baik sesuai dengan daerah setempat atau sesuai dengan cirri khas sebuah daerah. Selain harus baik, pengaturannya harus menggabungkan fitur kunci dari lingkungan seperti pemandangan atau akses ke situs khusus. Mereka juga pro pada penggunaan energi yang efisien dan sistem pembuangan limbah, menggunakan bahan-bahan lokal dan dan merangsang lapangan kerja bagi masyarakat setempat dan menjadi kebanggaan sebuah destinasi (Lane, 1991; Moscardo, 1998).

1.2.5. Memiliki sistem orientasi yang baik fisik

 

Beberapa fitur dapat membantu pengunjung untuk menemukan jalan mereka di sekitar visitor center dengan mudah (Bitgood, Patterson & Benefield, 1988). Penempatan rambu-rambu khususnya pada jalur-jalur khusus harus dibuat sejelas mungkin agar tidak menyesatkan. Rambu arah untuk pintu masuk, dan pintu keluar harus jelas agar pengunjung tidak berputar-putar dan merasa bingung. Rambu-rambu juga harus dibuat standar yang dapat dipahami secara internasional.
1.2.6. Desain untuk berbagai fungsi

Cara termudah agar tidak kehilangan perhatian pengunjung adalah melakukan repetasi. Interpretasi Efektif untuk menawarkan berbagai pengalaman. Jenisnya dapat dibangun menjadi sebuah tampilan penafsiran dalam beberapa cara:

  1. Gunakan berbagai media seperti teks, grafis, model statis, dinamis,  Model audio visual, interaktif dan penampilan berbasis komputer (Serrell, 1996).
  2. Mendorong pengunjung untuk menggunakan semua indra mereka melalui kegiatan partisipatif yang berbeda.
  3. Gunakan berbagai warna dan efek pencahayaan untuk menciptakan suasana hati yang berbeda di daerah yang berbeda.
  4. Informasi harus mencangkup berbagai topik sesuai harapan pengunjung dan pengelola.

1.2.7. Mengunakan tema tertentu

Penggunaan tema tunggal sebagai konsep yang menghubungkan ide besar dengan seperangkat fakta, topik atau contoh pertama kali diusulkan oleh Tilden (1977). Tema adalah pesan tunggal yang dapat digambarkan dalam kalimat aktif:

Contoh: topiknya adalah cacing, temanya adalah “Sebuah komunitas cacing yang sehat memberikan manfaat mengejutkan banyak manusia” dan menampilkan semua fungsi tanah berbasis koloni cacing.

Contoh lainnya: topiknya adalah ekologi semut, temanya adalah “Sebuah koloni semut adalah seperti kota besar” dan informasi dan contoh serangkaian analogi pencocokan peran semut dan pekerjaan mereka untuk interaksi di sebuah kota.

1.2.8. Membuat koneksi pribadi untuk para pengunjung

Pengalaman pribadi sering mengarahkan perhatian pengunjung (Moscardo, 1999). ada sejumlah cara dimana penafsir dapat membuat koneksi yang menghubungkan pribadi pengunjung. Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan contoh yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari pengunjung. Selain itu, menggunakan gaya percakapan dalam teks dan menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan fakta-fakta dalam istilah sehari-hari dengan menambahkan dimensi manusia untuk penafsiran.

Cara lainnya adalah dengan penyampaian tema secara berlapis. Sebuah pesan inti (yang berhubungan dengan tema) adalah lapisan pertama dan pengunjung dengan waktu yang terbatas. Lapisan kedua yang sifatnya memperluas pesan inti untuk  pengunjung pada ketertarikan yang lebih tinggi atau lebih banyak waktu. Sebuah lapisan ketiga dari informasi yang cukup rinci juga sering disertakan dan pengunjung dengan minat khusus dapat mengaksesnya. Kuncinya adalah mengingat bahwa masing-maisng lapisan harus menawarkan penjelasan yang lebih rinci, dan tidak lebih sulit (Mack & Thompson, 1991).

1.2.9. Pengelolaan dan pemeliharaan

 

Tantangan terakhir pada Visitor Center adalah manajemen fasilitas, termasuk staf dan kondisi fisik. Terdapat masalah sumber daya penting dan substansial manusia dalam mengelola staf, pemberian penghargaan bagi relawan dan mempertahankan jasa (bdk. Deery & Iverson, 1996). Sebuah komponen penting dari manajemen ini termasuk anggaran pengamanan untuk menjaga kualitas dan daya tarik serta kualitas eksternal dan fasilitas internal serta mampu merenovasi dan memperbaiki bagian yang rusak.  Selanjutnya, pelatihan staf untuk mempertahankan tingkat perhatian yang tinggi kepada pelanggan adalah kebutuhan yang konsisten di semua sektor jasa. Pada Visitor Center, akan menjadi pusat pemasaran jasa dan mungkin diperlukan untuk mempengaruhi sumber dana dan para pemangku kepentingan politik lokal (Kandampully, 2002).

Prinsip-prinsip rinci dan saran untuk praktek yang baik ditinjau dalam pembahasan sebelumnya dapat dikembangkan menjadi sebuah sistem penilaian manajer regional untuk pariwisata. Prosedur seperti itu dapat melibatkan langkah-langkah berikut. Mengidentifikasi dan mempertimbangkan setiap segmen pasar yang penting dengan menggunakan visitor center. Selanjutnya mengidentifikasi kepentingan relatif dari Empat fungsi Plus untuk pasar ini. Nilai khusus dari model Four Plus dalam konteks ini adalah bahwa hal itu secara eksplisit mengakui bahwa visitor center tidak bisa menjadi segalanya bagi semua orang tetapi kinerjanya adalah terkait dengan satu kesatuan yang didefinisikan dengan baik dan mendapat  prioritas dan difungsikan untuk pasar tertentu.

1.2.10. Selanjutnya pertimbangan untuk pariwisata daerah

 

Asumsi yang mendasari pembahasan sebelumnya adalah bahwa vistor center cenderung memainkan peranan yang semakin penting dalam pariwisata regional. Pernyataan ini dapat dibuktikan dalam tiga cara.

 

Pertama, tampak bahwa ada kecenderungan wisatawan menjadi lebih mandiri dan lebih mencari peluang kontak langsung secara pribadi dengan penduduk lokal dan lingkungan (Poon, 2000). Visitir Center juga menyediakan sumber informasi langsung yang dipercaya pribadi untuk mendukung pencarian informasi yang relevan untuk independen dan mengulangi perilaku perjalanan (Fodness & Murphy, 1999).

Kedua, sebuah kekuatan ketiga membentuk potensi pengembangan atau peningkatan Visitor Center adalah adanya kebutuhan langsung dari pengunjung, dan banyak studi yang sudah dikutip dalam laporan ini bahwa terdapat kepuasan yang tinggi dari pengunjung yang menggunakan fasilitas tersebut.

Yang ketiga, lebih penting lagi menjadikan visitor center sebagai media penilaian yang terkini dan dapat menjadi sumber saran yang produktif berbasis penelitian untuk melakukan perbaikan sebuah wilayah atau destinasi.

 

 

2.     Apakah Pariwisata Bali membutuhkan Visitor Center?

 

2.1.           Rasionalitas Bahwa Pariwisata Bali memerlukan Visitor Centers

Peran pariwisata bagi provinsi Bali dalam pembangunan menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.Jika dilihat peranan pariwisata dalam kontribusinya terhadap PDRB Bali, maka terlihat adanya peningkatan yang nyata. Pada tahun 2003, PDRB dari pariwisata sebesar 28,43%,  kemudian meningkat menjadi 29,16% pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 meningkat lagi menjadi 29,37%. Sementara pada tahun 2006 kontribusi sector pariwisata terhadap PDRB Bali sedikit mengalami penurunan menjadi 28,88 sementara pada tahun 2007 meningkat kembali menjadi 28,98%. Tabel perbandingan contributor (lapangan usaha) terhadap PDRB Bali, dapat dilihat seperti table dibawah ini:

Tabel: [3]Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali

Lapangan Usaha (%)

2003

2004

2005

2006

2007

1. Pertanian

21,66

20,74

20,29

19,96

19,41

a. Tanaman Bahan Makanan

10,59

10,36

9,99

9,65

9,32

b. Tanaman Perkebunan

1,91

1,78

1,74

1,74

1,67

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya

5,49

5,07

5,28

5,32

5,16

d. Kehutanan

0,01

0,01

0,01

0,01

0,01

e. Perikanan

3,67

3,52

3,27

3,24

3,26

2. Pertambangan & penggalian

0,68

0,68

0,66

0,69

0,66

3. Industri pengolahan

9,11

9,00

8,69

8,70

8,99

4. Listrik, gas & air bersih

1,57

1,80

1,85

1,94

2,00

5. Bangunan

4,02

3,91

4,03

4,28

4,43

6. [4]Perdag., hotel & restoran

28,43

29,16

29,37

28,88

28,98

7. Pengangkutan & komunikasi

11,20

11,30

11,85

11,86

12,33

8. Keu. Persewaan, & jasa perusahaan

6,59

6,79

7,07

7,46

7,34

9. Jasa-jasa

16,75

16,61

16,19

16,22

15,86

PDRB

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

Sumber: BPS, 2009

 

Sementara menurut Suarsana (2011) peningkatan  terjadi pada semua sektor ekonomi, di mana sektor perdagangan, hotel dan restoran masih tetap merupakan sektor andalan, karena mampu memberikan nilai tambah terbesar, yakni Rp 20,02 triliun. Selain itu sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang cukup besar yakni Rp 12,10 triliun serta sektor pengangkutan dan komunmikasi sebesar Rp 8,63 triliun.

[5]Perkembangan terakhir, lebih lanjut dikatakan bahwa untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran  mengalami pertumbuhan sebesar 8,7 persen memberikan sumbangan terhadap sumber pertumbuhan terbesar terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan yang memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2 persen.7% (Nusa Bali, 2011)

Karena begitu pesatnya perkembangan pariwisata Bali khususnya dalam kontribusi terhadap PDRB bila  dibandingkan sector lainnya termasuk juga dengan sector Pertanian, seiring adanya otonomi daerah yang berada pada kendali kabupaten, ditengarahi factor inilah yang menyebabkan pemerintah daerah Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Bali ingin menggalakkan sector pariwisata sebagai penggerak  perekonomian di daerahnya masing-masing.

 

2.2.           Pembangunan Pariwisata Bali saat ini

 

Dalam konteks pembangunan pariwisata, dihubungkan dengan konsep 4A, yakni daya tarik wisata “attractions”, Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi diukur dari bandara “accesable”, Adanya Fasilitas pendukung pariwisata “Amenities”, adanya lembaga pariwisata “ancillary”.  Jika dilihat dari jumlah akomodasi yang telah ada, maka Kabupaten (++) Gianyar, Kabupaten Badung, Kodya Denpasar, Kabupaten Buleleng,  dan Kabupaten Karangasem layak mengandalkan sector pariwisata sebagai penggerak perekonomian daerah, seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini:

 

 

Tabel Banyaknya Hotel Non Bintang dan Akomodasi Lainnya di Bali Menurut Kabupaten/Kota dan Kelompok Kamar Tahun 2009

Kabupaten / Kota

Kelompok Kamar

Jumlah

< 10

24-Oct

25 – 40

41 – 100

> 100

1

Gianyar  ++

292

81

10

3

386

2

Badung  ++

95

152

59

50

5

361

3

Denpasar  ++

49

102

44

26

221

4

Buleleng  ++

109

55

14

5

183

5

Karangasem + +

115

54

5

2

176

6

Tabanan

41

20

2

63

7

Jembrana

27

26

3

56

8

Klungkung

19

21

40

9

Bangli

21

6

2

29

Sumber: Bali Dalam Angka 2010

 

Sementara jika, dilihat dari jumlah hotel bintang 4 dan 5 yang telah ada pada kabupaten dan kota di Bali, serta jika diasumsikan bahwa keberanian investor membangun hotel berbintang dihubungkan popularitas pariwisata daerah, maka Kabupaten Badung paling popular (**), kemudian disusul Kota Denpasar, dan Gianyar. Sementara Kabupaten Buleleng, Karangasem, dan Tabanan belum sepopuler (*) Badung-Denpasar-Gianyar.Sedangkan  Kabupaten Jembrana, Klungkung, dan Bangli belum menunjukkan sebagai kabupaten yang memiliki popularitas di sector Pariwisata. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table di bawah ini.

 

 

Tabel Banyaknya Hotel Berbintang di Bali Menurut Lokasi dan Kelas Hotel Tahun 2009

Kabupaten / Kota

Kelas Hotel

Jumlah

Bintang 5

Bintang 4

Bintang 3

Bintang 2

Bintang 1

1

Badung **

26

28

19

15

2

90

2

Denpasar**

3

4

9

7

5

28

3

Gianyar **

5

5

1

11

4

Buleleng *

1

2

2

3

1

9

5

Karangasem *

1

2

1

1

5

6

Jembrana

1

1

2

7

Tabanan *

1

1

2

8

Klungkung

1

1

2

9

B a n g l i

Sumber: Bali Dalam Angka 2010

 

Jika dari atraktivitas maisng-masing kabupaten/kota untuk menjadikan pariwisata sebagai sector unggulan  dilihat dari obyek wisata popular dimiliki saat ini, justru menempatkan kabupaten Karangasem sebagai kabupaten paling menarik dan layak untuk pariwisata, seperti Nampak pada table di bawah ini

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Karangasem

Kab/Kota No Obyek Wisata
Karangasem

(6 obyek wisata populer)

 

 

 

 

 

1 Taman Tirta Gangga Karangasem (*)
2 Pelabuhan Padangbai
3 Pantai Tulamben Karangasem (*)
4 Agrowisata Kebun Salak Sibetan Karangasem
5 Candi Dasa Karangasem (*)
6 Pura Sulayukti Karangasem
7 Tenun Ikat Gringsing Tenganan (*)
8 Pura Besakih Karangasem (*)
9 Desa Wisata Tenganan (*)

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Sementara posisi kedua, menempatkan Kabupaten Badung dan Gianyar dengan 5 obyek wisata yang telah popular dan menjadi andalan kabupaten, seperti Nampak pada table di bawah ini:

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Badung dan Gianyar

Kab/Kota No Obyek Wisata
Badung 1 Pantai Kuta (*)
(5 obyek wisata telah populer) 2 Sangeh
  3 Pantai & Kawasan Wisata Nusa Dua & Tanjung Benoa (*)
  4 Pantai Jimbaran
  5 Pura Uluwatu (*)
  6 Pura Taman Ayun (*)
  7 Pura Keluarga Kerajaan MengwiPura Bukit Sari Sangeh
  8 Pura Dalem Sakenan Pulau Serangan
  9 Garuda Wisnu Kencana (*)
Kab/Kota No Obyek Wisata
Gianyar 1 Pulau SeranganKeindahan Alam Ubud Gianyar
(5 obyek wisata telah populer) 2 Air Terjun & Bungy Jumping Blahbatuh Gianyar
  3 Arung Jeram Sungai Ayung Payangan Gianyar
  4 Wisata Safari Naik Gajah Taro Gianyar (Bali Zoo Park)
  5 Air Terjun Tegenungan Gianyar
  6 Pasar Seni Sukawati (*)
  7 Pura Tirta Empul Tampak Siring (*)
  8 Pusat Lukisan & Kerajinan Topeng Batuan Gianyar
  9 Pusat Ukir Kayu Mas, Kemenuh, Tengkulak, Pujung Batuan Gianyar
  10 Pusat Geleri Lukisan Ubud-Peliatan (*)
  11 Goa Gajah, Ukiran Relief Yeh Pulu, Kompleks Samuan Tiga, Patung Kebo Edan, Pusering Jagat, Bulan Pejeng, Kerajinan Ukir Tempurung Kelapa Bedulu-Pejeng Gianyar (*)
  12 Pertunjukan Tari Barong, Tari Kecak, Tari Keris (*)
  13 Istana Presiden Tampak Siring
  14 Monumen Gunung Kawi Tampak Siring

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Sedangkan Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung, dan Bangli, walaupun mereka memiliki obyek wisata yang cukup banyak dan beragam namun belum sepopuler Kabupaten Karangasem, Badung, dan Gianyar. Untuk Kota Denpasar, walaupun sangat berdekatan dengan  kabupaten Badung, namun tidak terlalu atraktif untuk mengandalkan sector pariwisata sebagai sector unggulan, tentu saja pendapat ini masih bisa diperdebatkan dengan realitas PAD kota Denpasar saat ini.

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung dan Bangli

Kab/Kota No Obyek Wisata
Denpasar 1 Pantai Sanur (*)
(3 obyek wisata telah populer) 2 Werdi Budaya Art Centre Abian Kapas Denpasar (*)
  3 Pasar Tradisional Jalan Gajah Mada Denpasar
  4 Museum Bali Denpasar (*)
  5 Patung “Catur Muka” Denpasar
  6 Museum Seni Lukis Le Mayeur Denpasar
Kab/Kota No Obyek Wisata
Klungkung

(3 obyek wisata telah populer)

 

 

 

1 Pura & Goa Lawah Klungkung (*)
2 Pulau Nusa Penida Klungkung (*)
3 Pusat Seni Lukis Tradisional, Seni Ukir Emas & Perak, Seni Ukir Peluru Desa Kamasan Klungkung
4 Taman Gili Kerta Gosa Kraton Semarapura Klungkung (*)

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Bangli

(3 obyek wisata telah populer)

 

 

 

 

 

1 Danau Batur, Gunung Batur, Kawah Batur, Sumber Mata Air Panas Toya Bungkah (*)
2 Penelokan Kintamani (*)
3 Pura Kehen Bangli
4 Desa Trunyan (*)
5 Pura Batur & Pura Tegeh KoripanDesa Adat Penglipuran Bangli
6 Pura Pucaksari Desa Peninjoan Bangli

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Sementara untuk Kabupaten Tabanan, Buleleng, dan Jembrana, jika dilihat popularitas andalan obyek wisata, sebenarnya ketiga Kabupaten ini belum layak menjadikan sector Pariwisata sebagai leading sector pembangunan daerahnya, dan sangat dimungkinkkan ada sector lainnya yang lebih unggul daripada sector pariwisata. Menurut pengamatan, sebenarnya Kabupaten Tabanan masih layak mengandalkan sector pertanian khususnya produk padi dan peternakan, sementara Kabupaten Buleleng dan Jembrana belum menunjukkan kekuatan sector pariwisata secara maksimal dan sangat mungkin disebabkan oleh jarak atau akses yang relative jauh dari pusat bisnis pariwisata Badung dan Gianyar.

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Tabanan, Buleleng dan Jembrana

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Tabanan 1 Pantai & Pura Tanah Lot (*)
(2 obyek wisata telah populer) 2 Pemandangan Alam Jati Luwih & Pura Petali Tabanan
  3 Pantai Dreamland Alas Kedaton Tabanan
  4 Danau Beratan, Pura Ulun Danu Beratan, Desa Kembang Merta, Pasar Bukit Mungsu, Pasar Pancasari Bedugul Tabanan (*)
  5 Puri Agung Kerambitan Tabanan
  6 Pusat Ukir-Ukiran Penarukan, Pusat Keramik & Gentang Pejaten, Pembuatan Kain Tenun Blayu Tabanan
  7 Taman Makam Pahlawan Margarana Tabanan
  8 Museum Subak Tabanan

 

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Buleleng 1 Bukit & Pura Puncak Penulisan BangliAir Terjun Gitgit Buleleng
(2 obyek wisata telah populer) 2 Sumber Mata Air Panas Banjar Buleleng
  3 Pemandian Air Sanih Buleleng
  4 Danau Buyan & Danau Tamblingan Buleleng
  5 Laut Gili Menjangan Buleleng (*)
  6 Pantai Lovina Buleleng (*)
  7 Brahma Vihara Arama – Banjar Buleleng
  8 Patung Singa Ambara Raja Buleleng
Kab/Kota No Obyek Wisata
Jembrana

(1 obyek wisata telah populer)

 

 

 

1 Pantai Medewi Jembrana
2 Taman Nasional Bali Barat Jembrana (*)
3 Pantai Purancak Jembrana
4 Pelabuhan Gilimanuk
5 Pura Rambut Siwi Jembrana

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Melihat kenyataan di atas, solusi  untuk melakukan pemeratan pembangunan di semua kabupaten dan kota yang ada di Bali, sebaiknya pemerintah provinsi dapat membuat konsensus bersama untuk penentuan skala prioritas pembangunan berdasarkan keunggulan daerah masing-masing; siapa yang menjadi pusat pariwisata, dan siapa sebagai pendukungnya, bagaimana sistem pemerataan yang ideal, serta penentuan komposisi alokasi kontribusi pariwisata terhadap pembangunan daerah di provinsi Bali.

 

3.     Pembangunan Visitor Centers sebagai Instrumen untuk Keberlanjutan, Sudahkan diterapkan  di Bali?

 

Pembangunan Visitor Centers sebagai instrumen untuk Keberlanjutan, Sudahkan diterapkan  di Bali? Pembangunan visitor center yang disediakan untuk pengunjung pada tempat-tempat atau obyek wisata yang menjadi daya tarik wisata di Bali akan menjadi instrument kesungguhan pembangunan pariwisata yang berstandar internasional. Bali yang memiliki ratusan daya tarik wisata nyaris belum banyak diketahui oleh wisatawan karena minimnya informasi untuk mendapatkan data dan informasi yang disebabkan ketiadaan visitor centers. Pelayanan dan informasi yang tidak berstandar internasional juga memberikan persepsi buruk bagi wisatawan tentang kesiapan Bali dalam pengembangan pariwisata. Agenda aktivitas wisata yang nyaris tanpa publikasi yang memadai juga menjadi kelemahan pemasaran pariwisata Bali. Berdasarkan alasan tersebut maka visitor centers akan memainkan peran penting dalam konteks pemasaran internal untuk menambah loyalitas wisatawan atau pengunjung karena dengan layanan visitor centers diharapkan memberikan pengalaman yang berharga dan membawa kesan tentang kesiapan pengelolaan destinasi.

 

3.1.           Bagaimanakah prediksi pariwisata Bali kedepan?

 

Tiga kelompok pengguna untuk dipertimbangkan akan diuntungkan jika visitor center dapat diterapkan di provinsi Bali, dan jika perlu setiap obyek wisata memiliki visitor centers dengan program, system, dan fasilitas yang memadai. Siapa sajakah tiga kelompok pengguna tersebut adalah:

  1. Pengunjung atau wisatawan: wisatawan sebenarnya memerlukan informasi yang dapat mengantarkan pengalamannnya sebelum mereka benar-benar menikmati produk aslinya dan visitor center dapat menyediakan koneksi untuk hal tersebut.
  2. Pengelola obyek: Ada kalanya pengelola obyek wisata memerlukan data-data dan feedback atau guest comment yang dapat dijadikan masukan untuk perbaikan pelayanan dan pengelolaan obyek wisata, namun jika visitor center tidak tersedia maka feedback akan menjadi sangat sulit untuk diperoleh. Preferensi wisatawan tentang pemilihan aktivitas wisata akan menjadi mudah diketahui jika visitor centers dapat mengambil peran didalamnya.
  3. Masyarakat Lokal; Penggunaan fungsional dari Visitor Center oleh kelompok-kelompok masyarakat serta simbol dan nilai semiotik juga akan menjadi pertimbangan penting, di mana visitor center menjadi pintu masuk pertama untuk penyampaian pesan, ide, tema, visi, misi, pembangunan sebuah wilayah atau provinsi khususnya yang berhubungan dengan pariwisata.

 

3.2.Apa Fungsi Visitor Center Bagi Pariwisata Bali?  Beberapa Fungsi Yang Saling Menunjang bagi Pariwisata Bali

 

3.2.1.      Fungsi Pemasaran Internal

Visitor Center memiliki fungsi ganda, dilakukan untuk tingkat yang berbeda. Fungsi yang paling mungkin untuk dirasionalisasi adalah fungsi promosi. Peran ini mengacu pada promosi aktif dari daerah, kota atau wilayah. Ini akan melibatkan agenda yang kuat dari apa yang harus dilakukan di daerah. Pada dasarnya peran ini akan  merangsang permintaan wisata dan berusaha untuk meningkatkan pengeluaran pengunjung di suatu area tertentu (Gitelson & Perdue, 1987). Kegiatan komersial terkait dengan fungsi ini meliputi penyediaan jasa pemesanan dan ritel terhadap produk local. Visitor Centers fungsinya dapat dilihat untuk menyediakan sumber  informasi yang nyata yang dapat dipercaya sesuai fakta dilapangan. Visitor center juga menjadi upaya menuju akreditasi untuk menjamin kualitas layanan dan penting untuk mempertahankan jaminan representasi dari informasi yang diberikan pada kawasan wisata di daerah.

3.2.2. Fungsi Orientasi dan Peningkatan Kunjungan

Fungsi kedua dari Visitor Center dapat dilihat pada konsentrasi pada kualitas pengalaman bagi pengunjung. Pada hakekatnya setiap pengunjung memerlukan penjelasan yang lebih rinci dengan filosofis, historis, dan visitor center akan berperan penting sebagai media wisatawan melakukan orientasi dan jika wisatawan dapat dipuaskan akan diharapkan mereka akan menjadi pemasar yang jitu untuk dapat meningkatkan kunjungan ke kawasan wisata daerah khususnya kawasan wisata yang telah ada di seluruh pulau Bali.

3.2.3. Fungsi Kontrol dan Penyaringan

Visitor Center akan menjadi program dan media yang dapat mengontrol aliran pengunjung sehingga sumber daya dan pengaturan berada di bawah kendali sebuah wilayah. Fungsi ini akan menjadi penyaringan terhadap pengunjung untuk mengunjungi lokasi yang ditetapkan, memberikan alternatif lokasi yang kurang ramai dan penggunaan visitor center dapat  dihubungankan dengan kegiatan lain seperti tur yang menerapkan manajemen kapasitas pada situs tertentu. Fungsi pengelolaan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat local, fungs konservasi, dan reservasi dapat dilakukan dan dikontrol oleh program dari visitor centers.

3.2.4. Fungsi Substitusi

Sebuah fungsi keempat dari Visitor Center  adalah untuk menjadi pengganti objek wisata atau setidaknya menjadi daya tarik besar dalam dirinya sendiri. Visitor Center menekankan fungsi ini sering disebut pusat penafsiran atau lebih sederhananya diberi label sebagai tempat wisata seperti Pusat Margasatwa. Visitor Center juga dapat mengemban peran lain sebagai pusat pertolongan pertama bagi pengunjung atau wisatawan yang mengalami masalah seperti misalnya yang menjadi korban tindak criminal, sakit, kehilangan dokumen, dan juga menjadi pusat pengaduan pengunjung untuk berbagaim masalah yang dihadapi wisatawan selama mereka berlibur.

3.2.5. Fungsi Plus

 

Visitor Center dapat bertindak sebagai fasilitas masyarakat untuk berbagai kegiatan budaya dan sosial lokal, terutama di mana ruangnya berisi ruang teater atau pertemuan. Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa fungsinya lebih simbolis dari sebuah Visitor Center dan makna dari suatu kota atau situs untuk pariwisata adalah alasan utama untuk keberadaan Visitor Center tersebut.

 

4.     Kesimpulan

 

Satu kata kunci untuk dapat menerapkan konsep Visitor Centers melalui program-program pendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan tersebut adalah kata kesungguhan. (Font, 2001).  Idealnya ada pertemuan antara sisi penawaran yang telah disepakai secara sungguh-sungguh oleh semua pemangku kebijakan termasuk didalamnya masyarakat local dan  industri bersinggungan harmonis dengan sisi permintaan yang didalamnya melibatkan unsur  wisatawan sebagai penikmat produk destinasi.

Kata kunci berikutnya adalah disiplin untuk mematuhi semua aturan dan peraturan yang telah disepakati, kelompok industri mestinya digerakkan oleh sikap  disiplin untuk mematuhi aturan yang ada pada sebuah destinasi. Para pemangku kebijakan yang taat pada aturan, tidak ada lagi istilah “pagar makan tanaman” sangat diperlukan untuk mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan melalui semua program yang telah ditawarkan di atas. Masyarakat local yang senantiasa bersungguh-sungguh dalam memberikan pelayanan dan sambutan bagi semua wisatawan yang datang sehingga citra dan pencitraan keramahan penduduk local dapat memperkuat citra dan branding destinasi pariwisata Bali.

 

 

Daftar Pustaka

 

Asia Travel Guide (2004). Travel Info Asia. S o u r c e : h t t p : / / w w w . a s i a v o y a g e 2 4 . c o m / – t r a v e l – g u i d e / i n d e x . h t m l .Accessed: 31 March 2004.

Badan Pusat Statistik. 2005. ”Data Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Nusantara yang langsung datang ke Bali. (Laporan) BPS Prov Bali.

Butler, R. W. 1980. “The Concept of a Tourism Area Life Cycle of Evolution:  Implications  for Management of Resources.” The Canadian Geographer 24(1), p. 8.

 

Ballantyne, R. (1995). Interpreters’ conceptions of Australian aboriginal culture and heritage: Implications for interpretive practise. Journal of Environmental Education, 26(4), 11-17.

 

Barrow, G. (1996). Visitor centres: Financial planning and management issues. Interpretation, 1(3), 20-21.

 

Bath, B. (1996). Centres fit for visitors. Interpretation, 1(3), 14-17.

 

Benson, D., & Baird, R. (1979). Park techniques: Designing good basic visitor centres. Park, 4(3), 16-20.

 

Bitgood, S., Benefield, A., Patterson, D., & Nabors, A. (1986). Understanding your visitors: Ten factors that influence their behaviour. Technical Report No. 87.30. Psychology Institute, Jacksonville State University.

 

Bitgood, S., Patterson, D., & Benefield, A. (1988). Exhibit design and visitor behavior. Environment and Behavior, 20(4), 474-491.

 

Blahna, D., & Roggenbuck, J.W. (1979). Planning interpretation which is ‘ in tune’ wi th visitor expectat ions. Journal of Interpretation, 4(2), 16-19.

 

Bramwell, B., & Lane, B. (2000). Collaboration and partnerships in tourism planning. In B. Bramwell & B. Lane (Eds), T o u r i s m collaboration and partnerships: Pol it ics, pract ise and s u s t a i n a b i l i t y (pp. 1-19) . Clevedon, UK: Channel View Publications.

 

Carter, J. (1997). A sense of place: An interpretive planning handbook. Scotland, UK: Tourism and Environment Initiative.

 

Christiansen, J. (1994). Capture your entire audience. Legacy, 5(4), 17-19.

 

de Araujo, L.M., & Bramwell, B. (2000). Stakeholder assessment and collaborative tourism planning: The case of Brazil’s Costa Dourada Project. In B. Bramwell & B. Lane (Eds), T o u r i s m collaboration and partnerships: Pol it ics, pract ise and s u s t a i n a b i l i t y (pp. 272-294). Clevedon, UK: Channel View Publications.

 

Disparda. 2003a. Data Objek dan Daya Tarik Wisata tahun 2003. Denpasar: Disparda Provinsi Bali.

Disparda. 2003b. BALI, Objek dan Daya Tarik Wisata tahun 2003. (Buku panduan pramuwisata). Denpasar: Disparda Provinsi Bali.

 

Deery, M., & Iverson, R. (1996) . Enhancing product ivity: Intervention strategies for employee turnover. In N. Johns (Ed.), Productivity management in hospitality and tourism (pp. 68-95). London: Cassell.

 

Fallon, L.D., & Kriwoken, L.K. (2003). Community involvement in tourism infrastructure – the case of the Strahan Visitor Centre, Tasmania. Tourism Management, 24, 289-308.

 

Fesenmaier, D., & Vogt, C. (1993a). Evaluating the economic impact of travel information provided at Indiana welcome centres. Journal of Travel Research, 31(3), 33-39.

 

Fesenmaier, D., & Vogt, C. (1993b). Investigating the influence of the welcome centre on travel behaviour. Journal of Travel Research, 31(3), 47-52.

 

Field, D.R., & Wagner, J.A. (1973). Visitor groups and interpretation in parks and other outdoor leisure settings. Journal of Environmental Education, 5(1), 12-17.

 

Flanagan, R. (1996). Anti-museum: The case of the Strahan Visitor Centre. In S. Hunt (Ed. ) , Si tes – Nail ing the debate: Archaeology and interpretation in museums (pp. 181-197). Sydney, Australia: Historic Trust of NSW, Lyndhurst.

 

Fodness, D., & Murphy, B. (1999). A model of tourist information search behaviour. Journal of Travel Research, 37, 220-230.

 

Gartner, W. (1993) Image formation process. Journal of Travel and Tourism Marketing 2(2/3), 191-216.

 

Gitelson, R.J., & Perdue, R.R. (1987). Evaluating the role of state welcome centres in discriminating travel related information in North Carolina. Journal of Travel Research, 25(1), 15-19.

 

Grenier, D., Kaae, B., Miller, M., & Mobley, R. (1993). Ecotourism, landscape architecture and urban planning. Landscape and Urban Planning, 25, 1-16.

 

Gunn, C. (1994). Tourism planning (3rd ed.). New York: Taylor and Francis.

 

Hardy, A., & Beeton, R. (2001). Sustainable tourism or maintainable tourism: Managing resources for more than average outcomes. Journal of Sustainable Tourism, 9(3), 168-192.

 

Hobbin, S. (1999). Accreditation of Queensland visitor information centres: A consumer-based perspective. Journal of Vacation Marketing, 5(4), 387-399.

 

Jamal, T.B., & Getz, D. (1999). Community roundtables for tourismrelated conflicts: The dialectics of consensus and process structures. Journal of Sustainable Tourism, 7(3&4), 290-313.

 

Kandampully, J. (2002). Services management: The new paradigm in hospitality. French’s Forest, NSW: Pearson Education.

 

Knudson, D.M., Cable, T.T., & Beck, L. (1999). Interpretation of cultural and natural resources. Pennsylvania: Venture Publishing.

 

Lane, B. (1991) , Sustainable tourism: A new concept for the interpreter. Interpretation Journal, 49, 1-4.

 

Lew, A.A., Yu, L., Ap, J., & Guangrui, Z. (Eds.) (2003). Tourism in China. New York: Haworth Hospitality Press.

 

Lue, C., Crompton, J.L., & Fesenmaier, D. (1993). Conceptualisation of multi -destination pleasure trips. Annals of Tourism Research, 20(2), 289-301.

 

Mack, J.A., & Thompson, J.A. (1991). Visitor centre planning: Using visitor interests and available time. In G. Moscardo & K. Hughes (Eds.) , Visitor centres: Exploring new territory. Townsville: James Cook University of North Queensland.

 

Moscardo, G. (1998). Interpretation and sustainable tourism: Functions, examples and principles. Journal of Tourism Studies, 9(1), 2-13.

 

Moscardo, G. (1999). Making visitors mindful: Principles for creating sustainable visitor experiences through effective communication. Champaign, Illinois: Sagamore Publishing.

 

Moscardo, G., & Hughes, K. (Eds.) (1991). Visitor Centres: Exploring New Territory. Proceedings of the National Conference on Visitor Centres, Townsville, April 28th-May 1st, 1991. Townsville: Department of Tourism, James Cook University of North Queensland.

 

Parolin, B. (2001). Structure of day trips in the Illawarra tourism region of New South Wales. Journal of Tourism Studies, 12(1), 11-27.

 

Pearce, P.L. (1991). Visitor centres and their functions in the landscape of tourism. In G. Moscardo & K. Hughes (Eds), Visitor centres: Exploring New Territory. Townsville: James Cook University.

 

Pearce, P.L., Moscardo, G., & Ross, G.F. (1996). Tourism community relationships. Oxford: Elsevier.

 

Poon, A. (1993). Tourism technology and competitive strategies. Wallingford, Oxon: CAB International.

 

Poon, A. (2000). How the U.K. Travel market will operate 2005. Source: www.tourism-intelligence.com/PDF/british-TOC.pdf

 

Robinson, M. (2000). Collaboration and cultural consent: Refocusing sustainable tourism. In B. Bramwell & B. Lane (Eds), Tourism collaboration and partnerships: Pol it ics, pract ice and sustainability (pp. 295-313). Clevedon, U.K.: Channel View Publications.

 

Roggenbuck, J.W. (1992). Use of persuasion to reduce resource impacts and visi tor conflicts. In M.J. Manfredo (Ed.), Influencing human behavior (pp. 149-208. Champaign, Illinois: Sagamore. Scheyvens, R. (1999). Ecotourism and the empowerment of local communities. Tourism Management, 20, 245-249.

 

Serrell, B. (1996). Exhibit labels: An interpretive approach. Walnut Creek, California: Sage.

 

Simpson, K. (2001). Strategic planning and community involvement as contributors to sustainable tourism development. C u r r e n t Issues in Tourism, 4(1), 3-41.

 

Stewart, E., Hayward, B., Devlin, P., & Kirby, V. (1998). The “place” of interpretation: A new approach to the evaluat ion of interpretation. Tourism Management, 19, 257-266.

 

Stewart, W., Lue, C., Feisenmaier. D., & Anderson, B. (1993). A comparison between welcome center visitors and general highway auto travellers. Journal of Travel Research, 31(3), 40- 45.

 

Sugden, F., & Saunders, R. (1991). Not just a whim: Visitor centres as a part of strategic planning. In G. Moscardo & K. Hughes (Eds), Visitor centres: Exploring new territory (pp. 66-77). Townsville, Australia: James Cook University.

 

Tan-Coll is, J. (1999, Dec. 3). Singapore: One-stop shop for information. Travel Trade Gazette Asia, Singapore.

 

Teo, P., Chang, T.C., & Ho, K.C. (Eds.) (2001). Interconnected worlds: Tourism in Southeast Asia. Oxford, U.K.: Elsevier.

 

Tilden, F. (1977). Interpreting our heritage. Chapel Hill, NC: University of North Carolina Press. Uzzell, D., & Ballantyne, R. (1998). Contemporary issues in heritage and environmental interpretation: Problems and prospects. London, UK: The Stationery Office.

 

Toth, R. 2000. Implementing a Worldwide Sustainable Tourism Certification System. Alexandria, Va.: R.B. Toth Associates.

Tourism Vision 2020 – UNWTO: pada http://pandeputusetiawan.wordpress.com

 

World Tourism Organization. 1999. <http://www.world-tourism.org/&gt;. Accessed September 16, 2003.

World Travel and Tourism. Council. 1996. Travel and Tourism. Press Release. Brussels, Belgium: WTTC.

United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid.


[1] A clearly labelled, publicly accessible, physical space with personnel providing pre-dominantly free of charge information to facilitate travellers’ experiences.

[2] Visitor centres are not just central city or downtown phenomena but appear in transport nodes such as airports and railway stations, in or on the outskirts of small towns and near major at tract ions and environmental sites. It is especially the regionally based visitor centres, their purposes and planning which are the focus of the present concern.

[3]Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali

[4] Sektor Usaha Pariwisata meliputi: Perdag., hotel & restoran

[5] NusaBali, Selasa 8 Pebruari 2011 Pertumbuhan Ekonomi Bali 5,83 Persen

KAJIAN DAMPAK EKONOMI DAN KEUNGGULAN PARIWISATA KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BALI

Posted on

DIMENSI EKONOMI PARIWISATA

KAJIAN DAMPAK EKONOMI DAN KEUNGGULAN PARIWISATA KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BALI

I Gusti Bagus Rai Utama

Mahasiswa Program Pascasarjana S3 (Doktor) Pariwisata

Universitas Udayana

AbstraCt

Measuring the impact of tourism on the economy is still being debated by some of economists, especially for the tourism’s economist who has conducted study about economic impact   of tourism development. While the UN-WTO stated that tourism sector is still as a leading sector of development in some countries in the world because it has a positive dynamics trends. This paper also describes some of the positive impact of tourism on the economy and criticized some of negative impact. On the other hand, this paper also presented a scientific reflection on the current condition of Bali tourism development; indeed its still can be debated.

Keyword: economic impact, positive, negative, development.

1.   Pendahuluan

Pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu Negara, tanpa terkecuali di Indonesia. Namun demikian pada kenyataannya, pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara.

Seiring dengan hal di atas, menurut IUOTO (International Union of Official Travel Organization) yang dikutip oleh Spillane (1993), pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara karena delapan alasan utama seperti berikut ini: (1)Pariwisata sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3)Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinnasi. (5)Penghasil devisa. (6)Pemicu perdagangan international. (7)Pemicu pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal dan santun, dan (8)Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi.

Dari sisi kepentingan nasional, [1]Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005) dalam Sapta (2011:1) menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

a)   Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Pariwisata dianggap mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.

b)   Penghapusan Kemiskinan (Poverty Alleviation): Pembangunan pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharpkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapannya adalah bahwa pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.

c)    Pembangunan Berkesinambungan (Sustainable Development): Dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Artinya penggunaan sumberdaya yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relative lama.

d)   Pelestarian Budaya (Culture Preservation): Pembangunan kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara ataudaerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan diberbagai daerah.

e)   Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia: Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema paid holidays.

f)    Peningkatan Ekonomi dan Industri: Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa..

g)   Pengembangan Teknologi: Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataanakan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Sedangkan dari sisi kepentingan Internasional, [2]Pariwisata internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi tersebut meningkat 11% dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Seiring dengan hal tersebut, diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2020 akan menembus angka 1,6 miliar orang per tahun (UN-WTO, 2005) seperti Nampak pada grafik di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Graph 1, [3]Tourism Vision 2020 – UNWTO. Source: http://pandeputusetiawan.wordpress.com

Pada sisi yang berbeda, walaupun pariwisata telah diakui sebagai faktor penting stimulator penggerak perekonomian di beberapa negara di dunia, namun pariwisata juga menyembunyikan beberapa hal yang jarang diungkap dan dihitung sehingga sangat sulit untuk ditelusuri perannya atau kerugiannya.[4]Beberapa biaya tersembunyi atau hidden cost diantaranya adalah:  industri pariwisata bertumbuh dalam mekanisme pasar bebas sehingga seringkali destinasi pada negara berkembang hanya menjadi obyek saja, hal lainnya pengembangan pariwisata memang telah dapat menigkatkan kualitas pembangunan pada suatu destinasi namun akibat lainnya seperti peningkatan harga-harga pada sebuah destinasi terkadang kurang mendapat perhatian dan korbannya adalah penduduk lokal,  dan banyak hal akan di ungkap dalam paper ini.

2.    Metode

Kajian ini menggunakan metode desk research dengan teknik penelusuran data dan informasi secara online, sumber sekunder, dan sumber publikasi ilmiah lainnya.

Sementara teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuanlitatif, analogi, dan komparasi beberapa hasil penelitian dan publikasi ilmiah lainnya yang terkait dengan permasalahan dimensi ekonomi pariwisata.

3.   Hasil Kajian dan Pembahasan

Mengukur manfaat dan kerugian pembangunan pariwisata pada beberapa negara saat ini, masih menjadi perdebatan diantara para ahli ekonomi khususnya yang telah melakukan riset dan evalusi terhadap ekonomi pariwisata. Beberapa pandangan para fakar mewarnai pembahasan paper ini dari sudut pandangan yang berbeda-beda.

“Frechtling (1987a) considers alternative methods of collecting data about expenditure by tourists and the shortcomings of these. He also reviews methods such as impact multipliers and input-output analysis used to measure the economic impacts generated by tourism expenditure”

Frechtling (1987), menyatakan bahwa untuk mengukur manfaat pariwisata bagi perekonomian suatu Negara harus tersedia data yang cukup lengkap, Dia menawarkan metode alternative khususnya berhubungan dengan metode pengumpulan data tentang pengeluaran   wisatawan di saat yang akan datang, dan dia juga mereview beberapa metode yang telah digunakan oleh para ahli sebelumnya, dengan menggunakan impact multipliers dan input-output analysis untuk mengukur pengeluaran sector pariwisata.

“Impact analysis can be extended to other dimensions as summarised by Archer and Cooper (1994) including social cost-benefit analysis”

Sementara Archer dan Cooper (1994), berpendapat bahwa: penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harus menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya, dan social cost-benefitanalysis mestinya digunakan. Menurutnya, untuk mengukur manfaat dan dampak pariwisata tidak sekedar menghitung dampak ekonomi hanya dengan mencari multiplier efeknya saja.

Sinclair and Sutcliffe (1988) discuss the complexities of estimating Keynesian income multipliers for tourism at the sub-national level”

Sedangkan, Sinclair dan Sutcliffe (1988), menjelaskan bahwa pengukuran multiplier income untuk sektor pariwisata pada tingkat sub nasional memerlukan pemikiran dan data yang lebih kompleks disebabkan sering terjadinya leakages” kebocoran sehingga analisis ini sebaiknya dilakukan pada tingkat local regional tertentu dan leakages inilah yang mestinya harus diukur dan dibandingkan dengan manfaat yang  diharapkan.

“Heng and Low (1990) illustrates well the type of practical use which can be made of input-output analysis in considering the impact of tourism

Lebih tegas, Heng dan Low (1990) pada tataran praktis, mereka menjelaskan bahwa untuk mengukur dampak pariwisata akan lebih baik menggunakan analisis input-output.

“Johnson and Moore (1993) concentrate on measuring the economic impact of a particular tourist activity and tourism resource”

Tapi, Johnson dan Moore (1993) justru menitikberatkan bahwa pengukuran dampak ekonomi pariwisata akan lebih tepat dilakukan focus pada aktifitas wisata tertentu yang sedang berkembang pesat dan sumberdaya pariwisata yang dipergunakannya serta segala dampak-dampaknya.

“West (1993) uses a Social Accounting Matrix (SAM) to overcome the first problem and an integrated model to allow for changes in the relationship with the passage of time”

Sementara West (1993) menawarkan SAM atau social accounting matrix untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu.Dia mengganggap bahwa analisis input-output dianggap belum mampu memecahkan persoalan dampak pariwisata karena hanya mengukur hubungan produser dengan produser dan tidak menyertakan perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor publik lainnya.

“Harris and Harris (1994) argue that “the study of tourism at the macro level (nation, State, region) is hindered by the absence of any standard industry classification for this kind of activity”

Dan akhirnya, Harris dan Harris (1994) mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata yang telah dilakukan saat ini pada tingkat nasional, dan regional cenderung mengabaikan ketiadaan standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata padahal standarisasi pada industri pariwisata ini membawa konsekuensi tersendiri terhadap biaya tambahan “others cost” baik bagi pelaku industri pariwisata dan masyarakat lokal itu sendiri.

 

3.1. Dampak Positip Pariwisata terhadap Perekonomian ([5]positive economic impacts of tourism)

3.1.1          Pendapatan dari Nilai Tukar Valuta Asing

Pengeluaran sektor pariwisata akan menyebabkan perekonomian masyarakat local menggeliat dan menjadi stimulus berinvestasi dan menyebabkan sektor keuangan bertumbuh seiring bertumbuhnya sektor ekonomi lainnya.

Pengalaman di beberapa negara bahwa kedatangan wisatawan ke sebuah destinasi wisata juga menyebabkan bertumbuhnya bisnis valuta asing untuk memberikan pelayanan dan kemudahan bagi wisatawan selama mereka berwisata. Tercatat juga bahwa di beberapa negara di dunia 83% dari lima besar pendapatan mereka, 38% pendapatannya adalah berasal dari “Foreign Exchange Earnings” perdagangan valuta asing.

New Delhi, Feb 26 : Highlighting the tremendous growth potential offered by the tourism sector, the Economic Survey 2010-11 has said the country’s foreign exchang eearnings (FEE) from tourist arrivals grew by 24.56 percent in 2010 at 14,193 million dolllars as compared to 11,394 dollars million in 2009”

Sebagai contoh, bahwa pariwisata mampu menyumbangkan pendapatan untuk Negara India, berdasarkan hasil survey ekonomi India pada tahun 2010-11, bahwa akibat kedatangan wisatawan asing ke India pada tahun 2010 terjadi peningkatan pendapatan dari perdangan Valas sebesar 34,56% atau sebesar 14,193 Juta US Dolar meningkat jika dibandingkan tahun 2009 yang hanya sebesar 11,394 Juta US Dolar.

“Latest statistics from National Tourism Administration show that China’s foreign-exchange earnings from tourism exceeded US$5.1 billion in the first four months this year, an increase of 18.7 percent over the same period last year, 2010”

Sementara pemerintah China mencapat bahwa sumbangan pariwisata  akibat perdagangan Valas  telah mencapai 5,1 Juta US Dolar untuk kurun waktu  hanya empat bulan saja pada tahun 2010. Dari kedua contoh tersebut sudah dianggap cukup menguatkan pendapat bahwa pembangunan pariwisata dapat meningkatkan pendapatan suatu Negara khususnya dari aktifitas perdagangan valuta asing.

 

3.1.2          Penerimaan Devisa

Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapat diuraikan menjadi dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung berasal dari pajak pendapatan yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi.

Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang di import dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung.

Dalam kedua konteks di atas, WTO memprediksi bahwa usaha perjalanan wisata dan bisnis pariwisata tersebut secara langsung dan tidak langsung termasuk juga pajak perorangan telah berkontribusi terhadap pariwisata dunia melampaui US$ 800 billion pada tahun 1998, dan pada tahun 2010 berlipat dua kali jika dibandingkan tahun 1998.

“According to the study, tourism generated $19.7 billion of revenue for all three levels of government combined in Canada in 2007. Spending by Canadians accounted for three out of every four dollars taken in, while one in four dollars came from international visitors to Canada”

Menurut penelitian, pariwisata Kanada menghasilkan $ 19, 7 Juta pendapatan untuk ketiga tingkat pemerintahan gabungan di Kanada pada tahun 2007.Dan Belanja Kanada menyumbang tiga dari setiap empat dolar, sementara satu dari empat dolar berasal dari wisatawan asing yang berwisata di Kanada.

“Tourism  makes  significant  direct  contributions  to  Government  revenues  through  the  sale  of  tickets  to  the Angkor  Complex  ($US  1.2 million),  visa  fees  ($US  3 million),  and  departure  taxes  at the  airports”

Sementara pemerintah Kamboja mencatat bahwa sector pariwisata secara langsung dan nyata telah memberikan sumbangan pendapatan bagi pemerintah melalui aktifitas penjualan tiket masuk wisatawan yang mengunjungi obyek wisata Angkor sebesar 1,2 Juta US Dolar, dari Visa sebesar 3 juta US Dolar, dan aktifitas  taksi dan aktifitas pelayanan di bandara.

Pada kedua studi kasus di atas, tidak dapat disangkal lagi bahwa pariwisata memang benar dapat meningkatkan pendapatan bagi pemerintah di mana pariwisata tersebut dapat dikembangkan dengan baik.

 

3.1.3    Penyerapan Tenaga Kerja

Pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir dan sebagainya.

“Tourism employment is a measure of employment in tourism and non-tourism industries. It is based on an estimate of jobs rather than “hours of work”. Thus, someone who works 10 hours a week counts for as much, by this measure, as someone who works 50 hours a week”. (Government Revenue Attributable to Tourism, 2007)

Menurut Canada Government Revenue Attributable to Tourism, (2007), mendifinisikan bahwa yang dimaksud “Tourism employment” adalah ukuran yang dipakai untuk mengukur besarnya tenaga kerja yang terserap secara langsung pada sector pariwisata termasuk juga besarnya tenaga kerja yang terserap di luar bidang pariwisata akibat keberadaan pembangunan pariwisata.  Dan WTO mencatat kontribusi sector pariwisata terhadap penyediaan lahan pekerjaan sebesar 7% secara internasional.

“Tourism Industry employs          large number of people and provides a wide range of jobs which extend from the unskilled to the highly specialises. Tourism is also responsible for creating employment outside the industry such as furnishing and equipment industry, souvenir industry, textile and handicraft industry, farming and food supply and also construction industry”

Hasil studi pada dampak pembangunan pariwisata di Tripura, India menunjukkan bahwa industry pariwisata adalah industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mampu menciptakan peluang kerja dari peluang kerja untuk tenaga yang tidak terdidik sampai dengan tenaga yang sangat terdidik. Pariwisata juga menyediakan peluang kerja diluar bidang pariwisata khususnya peluang kerja bagi mereka yang berusaha secara langsung pada bidang pariwisata dan termasuk juga bagi mereka yang bekerja secara tidak langsung terkait industri pariwisata seperti usaha-usaha pendukung pariwisata; misalnya pertanian sayur mayor, peternak daging, supplier bahan makanan, yang akan mendukung operasional industri perhotelan dan restoran.

Sedangkan menurut Mitchell dan Ashley 2010, mencatat bahwa sumbangan pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja jika dibandingkan dengan sector lainnya menunjukkan angka yang cukup berarti, dan indeks terbesar terjadi  di Negara New Zealand sebesar 1,15 disusul oleh Negara Philipines, kemudian Chile, Papua New Guinea, dan Thailand sebesar 0,93. Sementara di Indonesia indeks penyerapan tenaga kerja dari sector pariwisata sebesar 0,74, masih lebih rendah jika dibandingkan Negara Afrika Selatan yang mencapai 0,84.

Dalam dua kasus di atas, pariwisata memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja di hampir semua Negara yang mengembangkan pariwisata, walaupun harus diakui sector pertanian “agriculture” masih lebih besar indeks penyerapannya dan berada di atas indeks penyerapan tenaga kerja oleh sector pariwisata di hampir semua Negara pada table di atas.

 

3.1.4          Pembangunan Infrastruktur

Berkembangnya sektor pariwisata juga dapat mendorong pemerintah lokal untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik, penyediaan air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi umum dan fasilitas pendukung lainnya sebagai konsekuensi logis dan kesemuanya itu dapat meningkatkan kualitas hidup baik wisatawan dan juga masyarakat local itu sendiri sebagai tuan rumah.

Sepakat membangun pariwisata berarti sepakat pula harus membangun yakni daya tarik wisata “attractions” khususnya daya tarik wisata man-made, sementara untuk daya tarik alamiah dan budaya hanya diperlukan penataan dan pengkemasan. Karena Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi “accesable” akhirnya akan mendorong pemerintah untuk membangun jalan raya yang layak untuk angkutan wisata, sementara fasilitas pendukung pariwisata “Amenities” seperti hotel, penginapan, restoran juga harus disiapkan.

Pembangunan infrastruktur pariwisata dapa dilakukan secara mandiri ataupun mengundang pihak swasta nasional bahkan pihak investor asing khususnya untuk pembangunan yang berskala besar seperti pembangunan Bandara Internasional, dan sebagainya. Perbaikan dan pembangunan insfrastruktur pariwisata tersebut juga akan dinikmati oleh penduduk local dalam menjalankan aktifitas bisnisnya, dalam konteks ini masyarakat local  akan mendapatkan pengaruh positif dari pembangunan pariwisata di daerahnya.

 

3.1.5          Pemberdayaan Perekonomian Masyarakat Lokal

Pendapatan sektor pariwisata acapkali digunakan untuk mengukur nilai ekonomi pada suatu kawasan wisata.  Sementara ada beberapa pendapatan lokal sangat sulit untuk dihitung karena  tidak semua pengeluaran wisatawan dapat diketahui dengan jelas seperti misalnya penghasilan para pekerja informal seperti sopir taksi tidak resmi, pramuwisata tidak resmi, dan lain sebagainya.

WTO memprediksi bahwa pendapatan pariwisata secara tidak langsung disumbangkan 100% secara langsung dari pengeluaran wisatawan pada suatu kawasan.  Dalam kenyataannya masyarakat local lebih banyak berebut lahan penghidupan dari sector informal ini, artinya jika sector informal bertumbuh maka masyarakat local akan mendapat menfaat ekonomi yang lebih besar.

Sebagai contoh, peran pariwisata bagi Provinsi Bali terhadap perekonomian daerah “PDRB” sangat besar bahkan telah mengungguli sector pertanian yang pada tahun-tahun sebelumnya memegang peranan penting di Bali. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada table berikut ini:

 

 

 

Lapangan Usaha

(milyar rupiah)

2003

2004

2005

2006

2007

1. Pertanian

5.666,84

6.011,43

6.887,17

7.463,26

8.216,47

a. Tanaman Bahan Makanan

2.770,40

3.004,40

3.391,28

3.608,72

3.944,28

b. Tanaman Perkebunan

498,81

516,61

592,10

651,84

707,44

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya

1.435,70

1.468,57

1.792,73

1.988,97

2.182,55

d. Kehutanan

1,56

1,60

1,76

1,95

2,28

e. Perikanan

960,38

1.020,23

1.109,30

1.211,79

1.379,92

2. Pertambangan & penggalian

176,90

196,47

225,49

257,16

281,09

3. Industri pengolahan

2.384,64

2.610,13

2.950,81

3.254,65

3.804,93

4. Listrik, gas & air bersih

411,01

522,55

627,99

725,86

846,07

5. Bangunan

1.051,15

1.132,72

1.368,31

1.600,86

1.877,52

6. Perdag., hotel & restoran

7.439,35

8.452,94

9.968,55

10.797,66

12.269,74

7. Pengangkutan & komunikasi

2.930,52

3.275,45

4.022,67

4.435,85

5.219,10

8. Keu. Persewaan, & jasa perusahaan

1.725,22

1.969,62

2.399,26

2.788,35

3.108,10

9. Jasa-jasa

4.382,31

4.815,27

5.496,23

6.064,82

6.713,39

PDRB

26.167,94

28.986,60

33.946,47

37.388,48

42.336,42

Tabel: PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali,

Sumber: BPS, 2009

3.2. [6]Pengaruh Negatif Pariwisata (Negative Economic Impacts of Tourism)

3.2.1          Kebocoran (Leakage)

Leakage atau kebocoran dalam pembangunan pariwisata dikategorikan menjadi dua jenis kebocoran yaitu keboran import dan kebocoran export. Biasanya kebocoran import terjadi ketika terjadinya permintaan terhadap peralatan-peralatan yang berstandar internasional yang digunakan dalam industri pariwisata, bahan makanan dan minuman import yang tidak mampu disediakan oleh masyarakat lokal atau dalam negeri. Khususnya pada negara-negara berkembang, makanan dan minuman yang berstandar internasional harus di datangkan dari luar negeri dengan alasan standar yang tidak terpenuhi, dan akibatnya produk lokal dan masyarakat lokal sebagai produsennya tidak biasa memasarkan produknya untuk kepentingan pariwisata tersebut.

Besarnya pendapatan dari sektor pariwisata juga diiringi oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan import terhadap produk yang dianggap berstandar internasional. Penelitian dibeberapa destinasi pada negara berkembang, membuktikan bahwa tingkat kebocoran terjadi antara 40% hingga 50% terhadap pendapatan kotor dari sektor pariwisata, sedangkan pada skala perekonomian yang lebih kecil, kebocoran terjadi antara 10% hingga 20%.

Sedangkan kebocoran export seringkali terjadi pada pembangunan destinasi wisata khususnya pada negara miskin atau berkembang yang cenderung memerlukan modal dan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya. Kondisi  seperti ini, akan mengundang masuknya penanam modal asing yang memiliki modal yang kuat untuk membangun resort atau hotel serta fasilitas dan infrastruktur pariwisata, sebagai imbalannya, keuntungan usaha dan investasi mereka akan mendorong uang mereka kembali ke negara mereka tanpa bisa dihalangi, hal inilah yang disebut dengan “leakage” kebocoran export.

Hal ini membenarkan pendapat dari Sinclair dan Sutcliffe (1988), yang menjelaskan bahwa pengukuran manfaat ekonomi dari sektor pariwisata pada tingkat sub nasional harunya menggunakan pemikiran dan data yang lebih kompleks untuk menghindari terjadinya leakages” kebocoran.

 

3.2.2          Kebobolan (Enclave Tourism)

Enclave tourism” sering diasosiasikan bahwa sebuah destinasi wisata dianggap hanya sebagai tempat persinggahan sebagai contohnya, sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar dimana mereka hanya singgah pada sebuah destinasi tanpa melewatkan malam atau menginap di hotel-hotel yang telah disediakan industri lokal sebagai akibatnya dalam kedatangan wisatawan kapal pesiar tersebut manfaatnya dianggap sangat rendah atau bahkan tidak memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat di sebuah destinasi yang dikunjunginya.

Kenyataan lain yang  menyebabkan “enclave”  adalah kedatangan wisatawan yang melakukan perjalanan wisata yang dikelola oleh biro perjalanan wisata asing dari “origin country”  sebagai  contohnya, mereka menggunakan maskapai penerbangan milik perusahaan mereka sendiri, kemudian mereka menginap di sebuah hotel yang di miliki oleh manajemen chain dari negara mereka sendiri, berwisata dengan armada dari perusahaan chain milik pengusaha mereka sendiri, dan dipramuwisatakan oleh pramuwisata dari negerinya sendiri, dan sebagai akibatnya masyarakat lokal tidak memperoleh manfaat ekonomi secara optimal.

 

3.2.3          Pembiayaan Infrastruktur (Infrastructure Cost)

Tanpa disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang berstandar internasional dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi pemerintah dan akibatnya cenderung akan dibebankan pada sektor pajak dalam artian untuk membangun infratruktur tersebut, pendapatan sektor pajak harus ditingkatkan artinya pngutan pajak terhadap masyarakat harus dinaikkan.

Pembangunan pariwisata juga mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan kualitas bandara, jalan raya, dan infrastruktur pendukungnya, dan tentunya semua hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit dan sangat dimungkinkan pemerintah akan melakukan re-alokasi pada anggaran sektor lainnya seperti misalnya pengurangan terhadap anggaran pendidikan dan kesehatan.

Kenyataan di atas menguatkan pendapat Harris dan Harris (1994) yang mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata harusnya menyertakan faktor standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata yang sering dilupakan pada analisis dampak pariwisata.

 

3.2.4          Meningkatnya Harga-harga secara Dramatis (Increase in Prices or Inflation)

Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan akan menyebabkan meningkatnya harga secara beruntun “inflalsi” yang pastinya akan berdampak negative bagi masyarakat lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami peningkatan pendapatan secara proporsional artinya jikalau pendapatan masyarakat lokal meningkat namun tidak sebanding dengan peningkatan harga-harga akan menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah.

Pembangunan pariwisata juga berhubungan dengan meningkatnya harga sewa rumah, harga tanah, dan harga-harga property lainnya sehingga sangat dimungkinkan masyarakat lokal tidak mampu membeli dan cenderung akan tergusur ke daerah pinggiran yang harganya masih dapat dijangkau.

Sebagai konsukuensi logiz, pembangunan pariwisata juga berdampak pada meningkatnya harga-harga barang konsumtif, biaya pendidikan, dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga pemenuhan akan kebutuhan pokok justru akan menjadi sulit bagi penduduk lokal. Hal ini juga sering dilupakan dalam setiap pengukuran manfaat pariwisata terhadap perekonomian pada sebuah Negara.

 

3.3.5          Ketergantungan Sektoral (Economic Dependence)

Keanekaragaman industri dalam sebuah perekonomian menunjukkan sehatnya sebuah negara, jika ada sebuah negara yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor tertentu seperti pariwisata misalnya, akan menjadikan sebuah negara menjadi tergantung pada sektor pariwisata sebagai akibatnya ketahanan ekonomi menjadi sangat beresiko tinggi.

Di beberapa negara, khususnya negara berkembang yang memiliki sumberdaya yang terbatas memang sudah sepantasnya mengembangkan pariwisata yang dianggap tidak memerlukan sumberdaya yang besar namun pada negara yang memiliki sumberdaya yang beranekaragam harusnya dapat juga mengembangkan sektor lainnya secara proporsional.

Ketika sektor pariwisata dianggap sebagai anak emas, dan sektor lainnya dianggap sebagai anak diri, maka menurut Archer dan Cooper (1994), penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harusnya menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya. Ketergantungan pada sebuah sektor, dan ketergantungan pada kedatangan orang asing dapat diasosiasikan hilangnya sebuah kemerdekaan sosial dan pada tingkat nasional, sangat dimungkinkan sebuah negara akan kehilangan kemandirian dan sangat tergantung pada sektor pariwisata.

 

3.3.6          Masalah Musiman (Seasonal Characteristics)

Dalam Industri pariwisata, dikenal adanya musim-musim tertentu, seperti misalnya musim ramai “high season” dimana kedatangan  wisatawan akan mengalami puncaknya, tingkat hunian kamar akan mendekati tingkat hunian kamar maksimal dan kondisi ini akan berdampak meningkatnya pendapatan bisnis pariwisata. Sementara dikenal juga musim sepi “low season” di mana kondisi ini rata-rata tingkat hunian kamar tidak sesuai dengan harapan para pebisnis sebagai dampaknya pendapatan indutri pariwisata juga menurun hal ini yang sering disebut “problem seasonal

Sementara ada kenyataan lain yang dihadapi oleh para pekerja, khususnya para pekerja informal seperti sopir taksi, para pemijat tradisional, para pedagang acung, mereka semua sangat tergantung pada kedatangan wisatawan, pada kondisi low season sangat dimungkinkan mereka tidak memiliki lahan pekerjaan yang pasti.

Kenyataan di  atas, menguatkan pendapat West (1993) yang menawarkan SAM atau social accounting matrix untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu, kebermanfaatan pariwisata terhadap ekonomi harusnya berlaku proporsional untuk semua musim, baik musim sepi maupun musim ramai wisatawan.

3.3. Refleksi terhadap Pariwisata Bali

 

3.3.1 Peran Pariwisata Bagi Perekonomian Bali

Peran pariwisata bagi provinsi Bali dalam pembangunan menunjukkankecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.Jika dilihat peranan pariwisata dalam kontribusinya terhadap PDRB Bali, maka terlihat adanya peningkatan yang nyata. Pada tahun 2003, PDRB dari pariwisata sebesar 28,43%,  kemudian meningkat menjadi 29,16% pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 meningkat lagi menjadi 29,37%. Sementara pada tahun 2006 kontribusi sector pariwisata terhadap PDRB Bali sedikit mengalami penurunan menjadi 28,88 sementara pada tahun 2007 meningkat kembali menjadi 28,98%.

Tabel perbandingan contributor (lapangan usaha) terhadap PDRB Bali, dapat dilihat seperti table dibawah ini:

Tabel: [7]Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali

Lapangan Usaha (%)

2003

2004

2005

2006

2007

1. Pertanian

21,66

20,74

20,29

19,96

19,41

a. Tanaman Bahan Makanan

10,59

10,36

9,99

9,65

9,32

b. Tanaman Perkebunan

1,91

1,78

1,74

1,74

1,67

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya

5,49

5,07

5,28

5,32

5,16

d. Kehutanan

0,01

0,01

0,01

0,01

0,01

e. Perikanan

3,67

3,52

3,27

3,24

3,26

2. Pertambangan & penggalian

0,68

0,68

0,66

0,69

0,66

3. Industri pengolahan

9,11

9,00

8,69

8,70

8,99

4. Listrik, gas & air bersih

1,57

1,80

1,85

1,94

2,00

5. Bangunan

4,02

3,91

4,03

4,28

4,43

6. [8]Perdag., hotel & restoran

28,43

29,16

29,37

28,88

28,98

7. Pengangkutan & komunikasi

11,20

11,30

11,85

11,86

12,33

8. Keu. Persewaan, & jasa perusahaan

6,59

6,79

7,07

7,46

7,34

9. Jasa-jasa

16,75

16,61

16,19

16,22

15,86

PDRB

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

Sumber: BPS, 2009

 

Sementara menurut Suarsana (2011) peningkatan  terjadi pada semua sektor ekonomi, di mana sektor perdagangan, hotel dan restoran masih tetap merupakan sektor andalan, karena mampu memberikan nilai tambah terbesar, yakni Rp 20,02 triliun. Selain itu sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang cukup besar yakni Rp 12,10 triliun serta sektor pengangkutan dan komunmikasi sebesar Rp 8,63 triliun.

[9]Perkembangan terakhir, lebih lanjut dikatakan bahwa untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran  mengalami pertumbuhan sebesar 8,7 persen memberikan sumbangan terhadap sumber pertumbuhan terbesar terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan yang memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2 persen.7% (Nusa Bali, 2011)

Karena begitu pesatnya perkembangan pariwisata Bali khususnya dalam kontribusi terhadap PDRB bila  dibandingkan sector lainnya termasuk juga dengan sector Pertanian, seiring adanya otonomi daerah yang berada pada kendali kabupaten, ditengarahi factor inilah yang menyebabkan pemerintah daerah Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Bali ingin menggalakkan sector pariwisata sebagai penggerak  perekonomian di daerahnya masing-masing.

 

3.3.2 Pembangunan Pariwisata Bali saat ini

Dalam konteks pembangunan pariwisata, dihubungkan dengan konsep 4A, yakni daya tarik wisata “attractions”, Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi diukur dari bandara “accesable”, Adanya Fasilitas pendukung pariwisata “Amenities”, adanya lembaga pariwisata “ancillary”.  Jika dilihat dari jumlah akomodasi yang telah ada, maka Kabupaten (++) Gianyar, Kabupaten Badung, Kodya Denpasar, Kabupaten Buleleng,  dan Kabupaten Karangasem layak mengandalkan sector pariwisata sebagai penggerak perekonomian daerah, seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini:

 

 

 

Tabel Banyaknya Hotel Non Bintang dan Akomodasi Lainnya di Bali Menurut Kabupaten/Kota dan Kelompok Kamar Tahun 2009

Kabupaten / Kota

Kelompok Kamar

Jumlah

< 10

24-Oct

25 – 40

41 – 100

> 100

1

Gianyar  ++

292

81

10

3

386

2

Badung  ++

95

152

59

50

5

361

3

Denpasar  ++

49

102

44

26

221

4

Buleleng  ++

109

55

14

5

183

5

Karangasem + +

115

54

5

2

176

6

Tabanan

41

20

2

63

7

Jembrana

27

26

3

56

8

Klungkung

19

21

40

9

Bangli

21

6

2

29

Sumber: Bali Dalam Angka 2010

 

Sementara jika, dilihat dari jumlah hotel bintang 4 dan 5 yang telah ada pada kabupaten dan kota di Bali, serta jika diasumsikan bahwa keberanian investor membangun hotel berbintang dihubungkan popularitas pariwisata daerah, maka Kabupaten Badung paling popular (**), kemudian disusul Kota Denpasar, dan Gianyar. Sementara Kabupaten Buleleng, Karangasem, dan Tabanan belum sepopuler (*) Badung-Denpasar-Gianyar.Sedangkan  Kabupaten Jembrana, Klungkung, dan Bangli belum menunjukkan sebagai kabupaten yang memiliki popularitas di sector Pariwisata. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table di bawah ini.

Tabel Banyaknya Hotel Berbintang di Bali Menurut Lokasi dan Kelas Hotel Tahun 2009

Kabupaten / Kota

Kelas Hotel

Jumlah

Bintang 5

Bintang 4

Bintang 3

Bintang 2

Bintang 1

1

Badung **

26

28

19

15

2

90

2

Denpasar**

3

4

9

7

5

28

3

Gianyar **

5

5

1

11

4

Buleleng *

1

2

2

3

1

9

5

Karangasem *

1

2

1

1

5

6

Jembrana

1

1

2

7

Tabanan *

1

1

2

8

Klungkung

1

1

2

9

B a n g l i

Sumber: Bali Dalam Angka 2010

 

Jika dari atraktivitas maisng-masing kabupaten/kota untuk menjadikan pariwisata sebagai sector unggulan  dilihat dari obyek wisata popular dimiliki saat ini, justru menempatkan kabupaten Karangasem sebagai kabupaten paling menarik dan layak untuk pariwisata, seperti Nampak pada table di bawah ini

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Karangasem

Kab/Kota No Obyek Wisata
Karangasem

(6 obyek wisata populer)

 

 

 

 

 

1 Taman Tirta Gangga Karangasem (*)
2 Pelabuhan Padangbai
3 Pantai Tulamben Karangasem (*)
4 Agrowisata Kebun Salak Sibetan Karangasem
5 Candi Dasa Karangasem (*)
6 Pura Sulayukti Karangasem
7 Tenun Ikat Gringsing Tenganan (*)
8 Pura Besakih Karangasem (*)
9 Desa Wisata Tenganan (*)

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Sementara posisi kedua, menempatkan Kabupaten Badung dan Gianyar dengan 5 obyek wisata yang telah popular dan menjadi andalan kabupaten, seperti Nampak pada table di bawah ini:

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Badung dan Gianyar

Kab/Kota No Obyek Wisata
Badung 1 Pantai Kuta (*)
(5 obyek wisata telah populer) 2 Sangeh
  3 Pantai & Kawasan Wisata Nusa Dua & Tanjung Benoa (*)
  4 Pantai Jimbaran
  5 Pura Uluwatu (*)
  6 Pura Taman Ayun (*)
  7 Pura Keluarga Kerajaan MengwiPura Bukit Sari Sangeh
  8 Pura Dalem Sakenan Pulau Serangan
  9 Garuda Wisnu Kencana (*)

 

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Gianyar 1 Pulau SeranganKeindahan Alam Ubud Gianyar
(5 obyek wisata telah populer) 2 Air Terjun & Bungy Jumping Blahbatuh Gianyar
  3 Arung Jeram Sungai Ayung Payangan Gianyar
  4 Wisata Safari Naik Gajah Taro Gianyar (Bali Zoo Park)
  5 Air Terjun Tegenungan Gianyar
  6 Pasar Seni Sukawati (*)
  7 Pura Tirta Empul Tampak Siring (*)
  8 Pusat Lukisan & Kerajinan Topeng Batuan Gianyar
  9 Pusat Ukir Kayu Mas, Kemenuh, Tengkulak, Pujung Batuan Gianyar
  10 Pusat Geleri Lukisan Ubud-Peliatan (*)
  11 Goa Gajah, Ukiran Relief Yeh Pulu, Kompleks Samuan Tiga, Patung Kebo Edan, Pusering Jagat, Bulan Pejeng, Kerajinan Ukir Tempurung Kelapa Bedulu-Pejeng Gianyar (*)
  12 Pertunjukan Tari Barong, Tari Kecak, Tari Keris (*)
  13 Istana Presiden Tampak Siring
  14 Monumen Gunung Kawi Tampak Siring

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Sedangkan Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung, dan Bangli, walaupun mereka memiliki obyek wisata yang cukup banyak dan beragam namun belum sepopuler Kabupaten Karangasem, Badung, dan Gianyar. Untuk Kota Denpasar, walaupun sangat berdekatan dengan  kabupaten Badung, namun tidak terlalu atraktif untuk mengandalkan sector pariwisata sebagai sector unggulan, tentu saja pendapat ini masih bisa diperdebatkan dengan realitas PAD kota Denpasar saat ini.

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung dan Bangli

Kab/Kota No Obyek Wisata
Denpasar 1 Pantai Sanur (*)
(3 obyek wisata telah populer) 2 Werdi Budaya Art Centre Abian Kapas Denpasar (*)
  3 Pasar Tradisional Jalan Gajah Mada Denpasar
  4 Museum Bali Denpasar (*)
  5 Patung “Catur Muka” Denpasar
  6 Museum Seni Lukis Le Mayeur Denpasar
Kab/Kota No Obyek Wisata
Klungkung

(3 obyek wisata telah populer)

 

 

 

1 Pura & Goa Lawah Klungkung (*)
2 Pulau Nusa Penida Klungkung (*)
3 Pusat Seni Lukis Tradisional, Seni Ukir Emas & Perak, Seni Ukir Peluru Desa Kamasan Klungkung
4 Taman Gili Kerta Gosa Kraton Semarapura Klungkung (*)

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Bangli

(3 obyek wisata telah populer)

 

 

 

 

 

1 Danau Batur, Gunung Batur, Kawah Batur, Sumber Mata Air Panas Toya Bungkah (*)
2 Penelokan Kintamani (*)
3 Pura Kehen Bangli
4 Desa Trunyan (*)
5 Pura Batur & Pura Tegeh KoripanDesa Adat Penglipuran Bangli
6 Pura Pucaksari Desa Peninjoan Bangli

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

Sementara untuk Kabupaten Tabanan, Buleleng, dan Jembrana, jika dilihat popularitas andalan obyek wisata, sebenarnya ketiga Kabupaten ini belum layak menjadikan sector Pariwisata sebagai leading sector pembangunan daerahnya, dan sangat dimungkinkkan ada sector lainnya yang lebih unggul daripada sector pariwisata. Menurut pengamatan, sebenarnya Kabupaten Tabanan masih layak mengandalkan sector pertanian khususnya produk padi dan peternakan, sementara Kabupaten Buleleng dan Jembrana belum menunjukkan kekuatan sector pariwisata secara maksimal dan sangat mungkin disebabkan oleh jarak atau akses yang relative jauh dari pusat bisnis pariwisata Badung dan Gianyar.

Tabel Daftar Obyek Wisata di Kabupaten Tabanan, Buleleng dan Jembrana

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Tabanan 1 Pantai & Pura Tanah Lot (*)
(2 obyek wisata telah populer) 2 Pemandangan Alam Jati Luwih & Pura Petali Tabanan
  3 Pantai Dreamland Alas Kedaton Tabanan
  4 Danau Beratan, Pura Ulun Danu Beratan, Desa Kembang Merta, Pasar Bukit Mungsu, Pasar Pancasari Bedugul Tabanan (*)
  5 Puri Agung Kerambitan Tabanan
  6 Pusat Ukir-Ukiran Penarukan, Pusat Keramik & Gentang Pejaten, Pembuatan Kain Tenun Blayu Tabanan
  7 Taman Makam Pahlawan Margarana Tabanan
  8 Museum Subak Tabanan

 

 

Kab/Kota No Obyek Wisata
Buleleng 1 Bukit & Pura Puncak Penulisan BangliAir Terjun Gitgit Buleleng
(2 obyek wisata telah populer) 2 Sumber Mata Air Panas Banjar Buleleng
  3 Pemandian Air Sanih Buleleng
  4 Danau Buyan & Danau Tamblingan Buleleng
  5 Laut Gili Menjangan Buleleng (*)
  6 Pantai Lovina Buleleng (*)
  7 Brahma Vihara Arama – Banjar Buleleng
  8 Patung Singa Ambara Raja Buleleng
Kab/Kota No Obyek Wisata
Jembrana

(1 obyek wisata telah populer)

 

 

 

1 Pantai Medewi Jembrana
2 Taman Nasional Bali Barat Jembrana (*)
3 Pantai Purancak Jembrana
4 Pelabuhan Gilimanuk
5 Pura Rambut Siwi Jembrana

Sumber: LA Tour dan Travel, Sragen, Jawa Tengah (*) telah populer

 

 

Melihat kenyataan di atas, solusi  untuk melakukan pemeratan pembangunan di semua kabupaten dan kota yang ada di Bali, sebaiknya pemerintah provinsi dapat membuat konsensus bersama untuk penentuan skala prioritas pembangunan berdasarkan keunggulan daerah masing-masing; siapa yang menjadi pusat pariwisata, dan siapa sebagai pendukungnya, bagaimana sistem pemerataan yang ideal, serta penentuan komposisi alokasi kontribusi pariwisata terhadap pembangunan daerah di provinsi Bali.

4.   Simpulan dan Saran

Pariwisata secara nyata berpengaruh positif terhadap perekonomian pada sebuah negara atau destinasi seperti (1)pendapatan devisa dan pemicu investasi “foreign exchange earnings”, (2)pendapatan untuk pemerintah “contributions to government revenues”, (3)penyediaan dan penciptaan lahan pekerjaan “employment generation”, (4)pembangunan dan perbaikan infrastruktur baik untuk host maupun tourist “infrastructure development”, (5)pemicu pembangunan perekonomian lokal “development of local economies”.

                Namun masih sangat disesalkan, pariwisata juga menyisakan beberapa masalah seperti (1)terjadi kebocoran terhadap neraca perdagangan “leakage”, (2)usaha tanpa manfaat “enclave”, (3)biaya tersembunyi “hidden cost”  khususnya yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam, serta degradasi budaya dan sosial, (4)ketergantungan terhadap sector pariwisata “depence” padahal sector ini sangat rentan terhadap krisis politik, ekonomi dunia, bencana alam dan sejenisnya, (5)pemicu peningkatan harga-harga yang tidak dikehendaki oleh masyarakat local “inflasi”, (6)ketidak pastian penghasilan dan pekerjaan bagi sebagian besar pekerja pariwisata “seasonal uncertenty”

Sebaiknya pula, dalam setiap perencanaan pembangunan pariwisata harusnya menyertakan variable-variabel non ekonomi, baik yang tangible maupun intangible, dan dapat dievalusi setiap saat untuk mengurangi dampak negative dengan menerapkan konsep “Managing Service Quality” one island in one management destinationuntuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan.

 

 

Daftar Pustaka

 

Archer, B. and Cooper, C. (1994) “The Positive and Negative Impacts of Tourism”. Pp. 73-91 in W.F. Theobald (ed.) Global Tourism: The Next Decade, Butterworth-Heinemann, Oxford.

 

Archer, B.H. (1982) “The Value of Multipliers and the Policy Implications”, Tourism

 

Board, J., Sinclair, T. and Sutcliffe, C. (1987) “A Portfolio Approach to Regional Tourism”, Built Environment, 13(2), 124-137.

 

Butler, R.W. (1980) “The Concept of a Tourist Area Cycle of Evolution: Implications for the Management of Resources”, The Canadian Geographer, 24, 5-12.

 

Canada Government Revenue Attributable to Tourism, 2007. Research Paper: Income and Expenditure Accounts Technical Series: Catalogue no. 13-604-M — No. 60

 

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005), Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 – 2009, Jakarta

 

Fletcher, J.E. (1989) “Input-Output Analysis and Tourism Impact Studies”, Annals of Tourism Research, 16, 514-529.

 

Heng, T.M. and Low, L. (1990) “Economic Impact of Tourism in Singapore”, Annals of Tourism Research, 17, 246-269. Management, 3(4), 236-241.

 

India: Infrastructure Development Investment Program  for Tourist: Project Number: 40648  August 2010, retrieve from http://www.adb.org/Documents/FAMs/IND/40648-01-ind-fam.pdf

 

Jay Kandampully, (2000) “The impact of demand fluctuation on the quality of service: a tourism industry example”, Managing Service Quality, Vol. 10 Iss: 1, pp.10 – 19

 

NusaBali, Selasa 8 Pebruari 2011 Pertumbuhan Ekonomi Bali 5,83 Persen

 

Pitana, I Gde.2005. Sosiologi Pariwisata, Kajian sosiologis terhadap struktur, sistem, dan dampak-dampak pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset

Sapta Nirwandar (2011) Pembangunan Sektor Pariwisata: Di Era Otonomi Daerah, di unduh pada 21 Maret 2011 pada http://www.scribd.com/doc/35092726/440-1257-PEMBANGUNANSEKTORPARIWISATA1

 

Sinclair, M.T. (1991) “The Economics of Tourism”. Pp.1-27 in C.P. Cooper and A. Lockwood (Eds) Progress in Tourism, Recreation and Hospitality Management, 3, John Wiley, Chichester, UK.

 

Spillane, James.1993. Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.Yogyakarta: Kanisius.

Tisdell, Clem, 1998. Wider Dimensions of Tourism Economics – Impact Analysis, International Aspects, Tourism And Economic Development, And Sustainability And Environmental Aspects Department of Economics: The University of Queensland, Brisbane 4072

 

Tourism Vision 2020 – UNWTO: pada http://pandeputusetiawan.wordpress.com

 

United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid


[1]Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 – 2009

[2]Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid

[3]Tourism Vision 2020 – UNWTO. From http://pandeputusetiawan.wordpress.com

[4]Economic Impact of Tourism in Global Context

[5]Positive Economic Impacts of Tourism

[6]Negative Economic Impacts of Tourism

[7]Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali

[8] Sektor Usaha Pariwisata meliputi: Perdag., hotel & restoran

[9] NusaBali, Selasa 8 Pebruari 2011 Pertumbuhan Ekonomi Bali 5,83 Persen